Top PDF Peran Pendeta dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilu Legislatif di Kabupaten Halmahera Barat 20141

Peran Pendeta dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilu Legislatif di Kabupaten Halmahera Barat 20141

Peran Pendeta dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilu Legislatif di Kabupaten Halmahera Barat 20141

Berdasarkan pendapat dan teori diatas dapat disimpulkan bahwa peran pendeta dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif di Kabupaten Halmahera Barat tahun 2014 lewat pendidikan politik dan sosialisasi politik merupakan proses penanaman nilai-nilai dibidang politik yang dilakukan secara sengaja, baik formal maupun informal, dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar warga negara memiliki kesadaran untuk melakukan hak dan kewajiban secara demokrasi dan bertanggung jawab. sosialisasi politik merupakan suatu proses yang memungkinkan seorang individu bisa mengenali sistem politik, yang kemudian menentukan sifat persepsi-persepsinya mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala politik, melalui sosialisasi politik individu-individu diharapkan mampu dan mau berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan politik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Optimaslisasi Peran Partai Politik dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat pada Pemilu Legislatif Berdasarkan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Studi di Kalimantan Barat)

Optimaslisasi Peran Partai Politik dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat pada Pemilu Legislatif Berdasarkan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Studi di Kalimantan Barat)

Pentingnya Partisipasi politik Masyarakat dalam Pemilu menjadi indikator yang paling mudah dalam menentukan sebuah Negara tersebut demokratis atau tidak, karena Pemilu memberikan sebuah momentum kepada masyarakat untuk menentukan arah perkembangan sebuah Negara. Pada Pemilu, masyarakat dapat memilih para wakilnya dan menentukan siapa yang akan memimpin sebuah Negara pada nantinya. Untuk itu, momentum Pemilu juga membutuhkan sebuah pemkasimalan keterlibatan masyarakat. Tanpa adanya pemaksimalan pelibatan masyarakat, maka Pemilu hanya akan menjadi instrumen formal dan indikator penilaian demorkasi saja, tanpa adanya substansi. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam proses penyelenggaran Pemilu harus terus ditingkatkan.Namun, kondisi yang terjadi tidaklah demikian, hasil evaluasi Pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Pemilu selalu menurun. Hal ini dapat diketahui dengan semakin meningkatnya angka pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya/menjadi golongan putih (golput) dalam Pemilu.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Partisipasi Politik Masyarakat Pada Pemilihan Legislatif Di Minahasa Tenggara Tahun 2014

Partisipasi Politik Masyarakat Pada Pemilihan Legislatif Di Minahasa Tenggara Tahun 2014

Sebuah negara yang menganut system demokrasi partisipasi masyarakat merupakan sebuah indikator penting. Demikian juga bagi Indonesia, ironisnya hal yang diharapkan tersebut belum dapat diwujudkan. Dalam rangka meningkatkan peran dan partisipasi politik masyarakat tersebut perlu dicari akar dari permasalahannya sehingga dapat dicarikan solusi untuk mengatasinya. Untuk itu riset tentang pemilu menjadi elemen strategis agar diperoleh data yang bisa digunakan sebagai tools untuk dijadikan solusi. Penelitian ini menggunakan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif dengan tujuan mencoba mendeskripsikan pelaksanaan pemilu di kabupaten Minahasa Tenggara, baik dari sisi penyelenggaraan hingga peran dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini juga berusaha mengidentifikasi berbagai persoalan yang terkait dengan partisipasi politik masyarakat. Harapannya diperoleh data yang konprehensif tentang penyelenggaraan pemilu di wilayah ini.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Partai Politik Dan Pemilu  (Suatu Studi Marketing Politik Terhadap Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif 2009)

Partai Politik Dan Pemilu (Suatu Studi Marketing Politik Terhadap Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif 2009)

Didunia barat, marketing politik diyakini sebagai metode dan instrumen yang dapat membantu politisi dan partai politik untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan. Secara konsep, marketing politik tidak jauh berbeda dengan marketing yang digunakan dalam dunia bisnis. Perbedaanya dalam dunia bisnis yang dijual adalah produk berupa barang, jasa sedang dalam dunia politik yang dijual adalah visi misi serta program kepada masyarakat luas dengan target dapat dipilih sebagai pemenang. Dan agar jualan laris manis maka dalam hal ini mereka (partai politik) harus memahami dan mengenal audiensnya. Sehingga bisa membidik target secara tepat dan cermat. Dalam domain politik marketing menawarkan perpspektif alternatif yang menawarkan penggunaan yang membantu untuk mengefisienkan serta efektif dalam membangun dalam hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Berkembangnya pusat perhatian partai politik terhadap pembangunan strategi marketing politik merupakan alternatif yang dapat membantu bersaing dalam iklim politik yang penuh persaingan terbuka dan transparan ketika berhadapan (vis avis) dengan konstituen yang berasal dari beragam idiologi, agama serta etnisitas.
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

Analisis Partisipasi Politik Saat Pemilu

Analisis Partisipasi Politik Saat Pemilu

Pasca disahkannya Undang-Undang tentang Partai Politik kala itu, tercatat terdapat 184 partai politik baru yang terbentuk. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah euforia dan harapan rakyat yang begitu besar untuk membentuk partai politik untuk kemudian membentuk pemerintahan, tanpa ada kejelasan dan pertimbangan dalam membentuk organisasi partai politik ini, seperti ideologi dan konsideran yang diangkat. Meskipun masih ada partai-partai besar dan pendahulu bahkan yang dengan status quo/kontra dengan demokrasi yang masih mencoba bertahan dalam kontestasi pemilu. Dari 184 partai yang ada, tercatat 148 partai politik yang kemudian mendaftar ke Departemen Kehakiman untuk menjadi peserta pemilu, dan dari 148 partai, kemudian hanya 48 partai yang dinyatakan memenuhi persyaratan untuk dapat ikut dalam kontestasi pemilu 1999.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

MODEL PENYELENGGARAAN PEMILU TERPADU (LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF) DAN EFEKNYA BAGI PENDIDIKAN POLITIK MASYARAKAT

MODEL PENYELENGGARAAN PEMILU TERPADU (LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF) DAN EFEKNYA BAGI PENDIDIKAN POLITIK MASYARAKAT

Dalam kehidupan bernegara- bangsa konsep “pendidikan politik” tertuang dalam GBHN tahun 1978, yang antara lain disebutkan: ”Pendidikan poltik rakyat ditingkatkan, agar makin sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, sehingga ikutserta secara aktif dalam kehidupan kenegaraan da n pembangunan”. Sementara itu, Alfian menyebutkan bahwa pendidikan politik dapat diartikan sebagai usaha yang sadar untuk merubah proses sosialisasi politik masyarakat, sehingga mereka memahami dan menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. Hasil dari penghayatan itu akan menghasilkan sikap dan tingkahlaku politik baru yang mendukung sistem politik yang ideal itu, dan bersamaan dengan itu akan lahir pulalah kebudayaan politik baru (Alfian, 1977).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Peran Penyelenggara Pemilu dalam Pemilihan Legislatif 2014 di Kabupaten Sidoarjo

Peran Penyelenggara Pemilu dalam Pemilihan Legislatif 2014 di Kabupaten Sidoarjo

e) Penetapan Peserta Pemilu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Partai politik peserta pemilu dan KPU sebagai penyelenggara pemilu kurang memahami kebijakan yang dibuat oleh Bawaslu RI tentang Panwaslu dalam mengawasi proses penyelenggaran pemilu. KPU dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selama menyelenggarakan pemilihan umum menganut pada aturan-aturan atau kebijakan yang dibuat oleh KPU RI. Panwaslu dan KPU pada saat menjalankan peran, tugas dan wewenang masing-masing lembaga dalam pemilihan umum legislatif 2014 di Kabupaten Sidoarjo kurang harmonis dan selalu debatable, tidak hanya pada saat proses tahapan verifikasi tetapi tahapan- tahapan lain seperti penetapan daftar pemilih, alat peraga kampanye bahkan pada tahapan proses logistik yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Sidoarjo yang menjadi ruang lingkup pengawasan oleh Panwaslu Kabupaten Sidoarjo. Yang artinya posisi panwaslu berkenaan dengan tugas dan wewenangnya maupun hal- hal yang bersifat seremonial kenegaraan, sebagai lembaga yang dibentuk oleh undang-undang belum sepenuhnya memiliki posisi (pengakuan) politik yang proporsional dari pihak KPU maupun parpol. Secara faktual proporsionalitas posisi kelembagaan secara politik sangat penting bagi Panwaslu karena hal itu berpengaruh pada upaya dalam membangun hubungan dan kerja sama dengan KPU sebagai penyelenggara pemilu yang memiliki kewenangan penuh secara teknis yang berpengaruh pada peningkatan kualitas penyelenggaraan pemilu.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Budaya Patriarki Terhadap Partisipasi Politik Perempuan di DPRD pada Pemilu Legislatif Kabupaten Nias Tahun 2014 I.IDENTITAS RESPONDEN

Pengaruh Budaya Patriarki Terhadap Partisipasi Politik Perempuan di DPRD pada Pemilu Legislatif Kabupaten Nias Tahun 2014 I.IDENTITAS RESPONDEN

Keterangan : SS = Sangat Setuju S = Setuju TS = Tidak setuju STS =Sangat tidak setuju Budaya Patriarki No PERTANYAAN SS S TS STS 1 Laki-laki dalam budaya nias ad[r]

22 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

Tujuan penelitian untuk menganalisis dan mengetahui seberapa besar tingkat pendidikan mempengaruhi intensitas partisipasi politik masyarakat pada pemilihan umum legislatif 2009. Rumusan masalah penelitian ini adalah seberapa besarkah pengaruh tingkat pendidikan terhadap intensitas partisipasi politik masyarakat dalam pemilu legislatif 2009 di Kelurahan Yosorejo. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data terdiri dari data primer yaitu beasal dari responden tingkat pendidikan dasar sejumlah 20 responden, pendidikan menengah 54 responden, pendidikan tinggi sejumlah 24 responden dan data sekunder. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah menurut Burhan Bungin dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 98 orang. Teknis analisis data yang digunakan adalah Analisis Korelasi Spearman (r s ), koefisien determinasi, dan uji
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

Hal ini menunjukan bahwa masyarakat memutuskan untuk memberikan patisipasi politik tentunya mempunyai tujuan tersendiri dan dengan cara mereka sendiri, sehingga menghasilkan sebuah keuntungan bagi mereka, yakni dengan cara memaksimalkan daya tawar mereka dalam menentukan calon yang mereka pilih yang memiliki muatan politik untuk memperjuangkan hak – hak yang mereka punya dan yang seharusnya mereka dapatkan. Namun partisipasi politik bukan hanya dilihat dari berapa jumlah warga yang memberikan suara dalam Pemilu Legislatif, namun kita lihat juga bagaimana antusias warga menghadapai Pemilu Legislatif, siapa saja yang bersedia untuk menjadi petugas TPS, dan siapa saja yang aktif sebagai anggota partai politik dan menjadi juru kampanye, sehingga dari sana dapat digolongkan untuk beberapa kelompok atau intensitas partisipasi politik yang ada di dalam masyarakat. Misalnya ada yang masuk dalam tingkatan aktivis, partisipan, pengamat bahkan orang-orang apolitis.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

PARTISIPASI POLITIK TUANKU TAREKAT SYATHARIYAH DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 DI PADANG PARIAMAN.

PARTISIPASI POLITIK TUANKU TAREKAT SYATHARIYAH DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 DI PADANG PARIAMAN.

Walaupun berbagai kalangan beranggapan bahwa kaum tarekat 6 merupakan kelompok yang zuhud dan cenderung menjauhi kehidupan dunia, namun di Padang Pariaman tuanku tarekat Syathariyah cenderung menafikan anggapan di atas. Keterlibatan tuanku tarekat Syathariyah dalam politik praktis, diantaranya dapat dilihat dari fenomena tuanku yang memainkan peranan sebagai pengurus partai politik, dan calon anggota legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Padang Pariaman pada pemilu legislatif tahun 2009. Di antara mereka ini misalnya: Rahmat Tuanku Sulaiman, Saamar Tuanku Sidi (Partai Golkar), Ali Basyar Tuanku Sutan Sinaro, Zulhelmi Tuanku Sidi, Amirudin Tuanku Majo Lelo (Partai Kebangkitan Bangsa).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP INTENSITAS PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 (Studi pada Kelurahan Yosorejo Kota Metro)

Tujuan penelitian untuk menganalisis dan mengetahui seberapa besar tingkat pendidikan mempengaruhi intensitas partisipasi politik masyarakat pada pemilihan umum legislatif 2009. Rumusan masalah penelitian ini adalah seberapa besarkah pengaruh tingkat pendidikan terhadap intensitas partisipasi politik masyarakat dalam pemilu legislatif 2009 di Kelurahan Yosorejo. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data terdiri dari data primer yaitu beasal dari responden tingkat pendidikan dasar sejumlah 20 responden, pendidikan menengah 54 responden, pendidikan tinggi sejumlah 24 responden dan data sekunder. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah menurut Burhan Bungin dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 98 orang. Teknis analisis data yang digunakan adalah Analisis Korelasi Spearman (r s ), koefisien determinasi, dan uji
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN POLITIK PADA PEMILU LEGISLATIF

STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN POLITIK PADA PEMILU LEGISLATIF

Dalam sistem demokrasi, pemilihan umum menjadi metode dimana setiap warga negara memiliki hak untuk bersaing secara terbuka dalam menduduki posisi politik serta dapat menjadi partisipan politik untuk memilih pejabat dalam pemerintahan dan kebijakan yang diusung oleh pemerintah (Sulaeman, 2017). Sejarah politik Indonesia terbagi dalam empat periode yaitu demokrasi liberal (1949-1958), demokrasi terpimpin (1959-1965), pancasila periode demokrasi (1966-1998), dan reformasi (1998-sekarang) (Pujono, 2016). Setelah rezim orde baru usai, pemilihan umum menjadi pesta demokrasi yang sesungguhnya bagi warga negara Indonesia.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

UPAYA PARTAI POLITIK DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK DAN PEMILU 2004 (Studi pada DPC PKB Kabupaten Bangkalan)

UPAYA PARTAI POLITIK DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK DAN PEMILU 2004 (Studi pada DPC PKB Kabupaten Bangkalan)

pengambilan keputusan terutama yang menyangkut perempuan dan anak-anak. Dari uraian di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: Upaya-upaya DPC PKB Kabupaten Bangkalan dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan dalam parpol dan pemilu 2004. Jenis atau tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Sedangkan analisa data yang digunakan adalah kualitatif. Sementara itu teknik pengumpulan data yang dipakai adalah metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan subyek dalam penelitian yang sekaligus menjadi informan dalam penelitian ini adalah: Ketua DPC PKB Kabupaten Bangkalan, Ketua PPKB Kabupaten Bangkalan, semua anggota petugas DPC PKB yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 3 (tiga) orang dan ketua tim penentu calon legislatif.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Partisipasi Politik Perempuan Kota Baubau  Dalam Pemilu Legislatif 2014  (Studi Di Kecamatan Murhum Kota Baubau)

Partisipasi Politik Perempuan Kota Baubau Dalam Pemilu Legislatif 2014 (Studi Di Kecamatan Murhum Kota Baubau)

Dalam pasal 65 ayat 1 UU no 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, menyebutkan bahwa Setiap parpol peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kuota untuk setuap daerah pemilihannya dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen “. Pasal ini dianggap sebagai pasal setengah hati, pasal karet, bersifat sukarela karena tidak bersifat mengharuskan parpol melaksanakan ketentuan tersebut dan tidak ada sanksi bagi parpol yang tidak melaksanakannya. Hal ini membuka peluang bagi parpol-parpol yang selama ini didominasi laki-laki untuk mengabaikan aturan itu, dan pada akhirnya, keterwakilan perempuan tetap tidak tercapai.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KINERJA KOMISI PEMILIHAN UMUM DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PEMILIH PEMULA PADA PEMILU LEGISLATIF 2014 DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN

KINERJA KOMISI PEMILIHAN UMUM DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PEMILIH PEMULA PADA PEMILU LEGISLATIF 2014 DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja KPU dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula pada Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Tapanuli Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan untuk kemudian data yang tekumpul diberi interpretasi sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Hasil penelitian ini diketahui bahwa KPU telah melakukan beberapa upaya dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula antara lain sosialisasi langsung dan juga melalui media cetak maupun elektronik serta membentuk tim relawan demokrasi KPU. Sosialisasi yang dilakukan KPU di Desa Muarat ais I hanya sosialisasi dengan mendatangi sekolah-sekolah SMU sederajat, melakukan karnaval keliling Batang Angkola, mencetak brosur, iklan, spanduk, dan buku sosialisasi. Faktor-faktor yang menghambat kinerja KPU dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula adalah karena keterbatasan waktu dan sulitnya menjumpai pemilih pemula yang tidak berada ditempat pada saat dilakukan sosialisasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Komunikasi Politik DPRD dalam Meningkatkan Peran Legislatif di Kota Bandung

Komunikasi Politik DPRD dalam Meningkatkan Peran Legislatif di Kota Bandung

Abstrak . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga legislatif yang sangat penting dalam sistem demokrasi sebagai jembatan antara masyarakat dengan eksekutif. Untuk menjalankan fungsinya, komunikasi politik menjadi strategi yang dilakukan untuk meningkatkan fungsi legislatif lembaga tersebut. Penelitian ini mengkaji tiga pokok persoalan dalam indentifikasi masalah, antara lain; (1) perencanaan komunikasi politik, (2) pesan komunikasi politik, dan (3) media komunikasi politik DPRD Kota Bandung dalam meningkatkan peran legislatif di Kota Bandung. Dengan menggunakan studi kasus, data penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber yang variatif. Perencanaan komunikasi politik DPRD Kota Bandung dilakukan berdasarkan pesan- pesan yang disaring dari berbagai sumber seperti kegiatan reses, informasi media massa, dan rutinitas rapat dewan. Pesan yang disampaikan dalam komunikasi politik dijalankan berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, namun sebagian besar pesan dijalankan berdasarkan mekanisme kerja yang baku. Sementara itu media yang digunakan dalam melakukan komunikasi politik sangat beragam, mulai dari komunikasi langsung dengan masyarakat yang dikunjungi, sampai pemanfaatan media sosial seperti website, twitter, Instagram, dan faceboook. Sementara itu media yang digunakan dalam melakukan komunikasi politik sangat beragam, mulai dari komunikasi langsung dengan masyarakat yang dikunjungi, sampai pemanfaatan media sosial seperti website, twitter, Instagram, dan faceboook.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Legislatif di Kabupaten Lanny Jaya Tahun 2014 ( suatu Studi Distrik Balingga)

Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Legislatif di Kabupaten Lanny Jaya Tahun 2014 ( suatu Studi Distrik Balingga)

Dalam sistem politik negara Indonesia, pemilu merupakan salah satu proses politik yang dilaksanakan setiap lima tahun, baik untuk memilih anggota legislatif, maupun untuk memilih anggota eksekutif. Anggota legislatif yang dipilih dalam pemulu lima tahun tersebut, terdiri dari anggota legislatif pusat/parlemen yang dalam ketatanegaraan Indonesia biasanya disebut sebagai DPR-RI, DPD kemudian DPRD Daerah Propinsi, dan DPR Kabupaten/Kota. Sementara dalam konteks pemilu untuk pemilihan eksekutif, rakyat telah diberi peluang untuk memilih Presiden, Gubernur dan Bupati/ Walikotanya. Besarnya hak rakyat untuk menentukan para pemimpin dalam lembaga eksekutif dan legislatif pada saat ini tidak terlepas dari perubahan dan reformasi politik yang telah bergulir di negara ini sejak tahun 1998, dimana pada masa- masa sebelumnya hak-hak politik masyarakat sering didiskriminasi dan digunakan untuk kepentingan politik penguasa saja dengan cara mobilisasi, namun rakyat sendiri tidak diberikan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Partisipasi Politik Perempuan Dalam Pemilu Di Kabupaten Sragen.

PENDAHULUAN Partisipasi Politik Perempuan Dalam Pemilu Di Kabupaten Sragen.

Dewasa ini, di negara-negara berkembang jumlah perempuan yang memiliki otoritas dalam struktur politik memang rendah dan tidak berimbang dengan jumlah laki-laki. Situasi seperti inilah yang disebut sebagai ketimpangan relasi gender dalam politik. Artinya, struktur politik yang didominasi laki-laki tersebut adalah artikulasi dari suatu hubungan kekuasaan antar gender yang sudah ada. Pembagian kerja dalam masyarakat yang berbasis pada gender telah membawa implikasi pada area publik dan arena politik. Arena publik dikuasai laki-laki sedangkan perempuan hanya berkutat pada wilayah domestik yang hampir tidak memiliki akses politik. Dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan konstruksi sosial telah menempatkan kodrat, nilai-nilai, adat istiadat sebagai sarana untuk membentuk suatu hubungan sosial yang sangat timpang. Ketimpangan itu terjadi karena dalam setiap aspek kehidupan, male value lebih dihargai dibanding dengan female value yang telah tersubordinasikan oleh kekuasaan. 3
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perilaku Politik Santri pada Pemilu Legislatif 2014

Perilaku Politik Santri pada Pemilu Legislatif 2014

Lebih lanjut Max Weber juga membedakan tindakan sosial menjadi empat kelompok (tipe), yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afeksi. Tindakan rasional instrumental dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya agar dapat segera lulus kuliah dan bekerja, Indra memutuskan untuk mengerjakan skripsi daripada bermain. Tindakan rasional berorientasi nilai bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Tindakan tradisional merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat. Tindakan afektif sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh. Jadi dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Contohnya tindakan melompat-lompat karena kegirangan, menangis karena orang tuanya meninggal dunia, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects