Top PDF PENERAPAN PEMBATASAN PENUNTUTAN PELAKSANAAN HAK ATAS TANAH UNTUK MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK

PENERAPAN PEMBATASAN PENUNTUTAN PELAKSANAAN HAK ATAS TANAH UNTUK MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK

PENERAPAN PEMBATASAN PENUNTUTAN PELAKSANAAN HAK ATAS TANAH UNTUK MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK

proses mediasi para pihak diwakili kuasa hukum, para pihak wajib menyatakan secara tertulis persetujuan atas kesepakatan yang dicapai. Dan sengketa keduabelah pihak berakhir dengan perdamaian. Sebaliknya jika mediator tidak berhasil mencapai kesepakatan damai bagi kedua belah pihak, maka dengan disertai Berita Acara tentang tidak tercapainya perdamaian, mediator melalui Panitera Pengganti mengembalikan dan menyerahkan kembali Berkas Perkara tersebut kepada Majelis Hakim. Selanjutnya Majelis Hakim memerintahkan para pihak atau Kuasa Hukumnya untuk hadir pada sidang berikutnya guna dilanjutkan pemeriksaan terhadap perkara yang bersangkutan dengan membacakan gugatan, jawaban, replik duplik, pembuktian, pemeriksaan obyek sengketa (pemeriksaan setempat) bilamana obyek sengketanya benda tetap dan dipandang perlu, kesimpulan dan putusan. Walaupun mediator tidak berhasil mendamaikan para pihak, dalam proses pemeriksaan perkara selanjutnya Majelis Hakim tetap memberikan kesempatan para pihak untuk menyelesaikan sengketanya secara damai sesuai ketentuan pasal 130 HIR.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum bagi Pemegang Sertipikat Hak Atas Tanah Dihubungkan dengan Gugatan Atas Kepemilikan Tanah.

Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum bagi Pemegang Sertipikat Hak Atas Tanah Dihubungkan dengan Gugatan Atas Kepemilikan Tanah.

Hasil penilitian menunjukan bahwa sistem publikasi yang dianut dalam pendaftaran tanah di Indonesia adalah system publikasi negatif yang mengandung unsur positif sebagaimana telah diatur sebagai pelaksananya dalam PP No.24 Tahun1997, dengan begitu sertipikat yang sudah diterbitkan memberikan kepastian hukum sebagai alat pembuktian dalam meneguhkan kepunyaan hak milik tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, Perlindungan hukum yang dapat diberikan yaitu dalam Pasal 32 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 yang berbunyi : “Dalam hal suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan tersebut apabila dalam waktu 5 tahun sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat tersebut dan berdasarkan kesimpulan diatas maka saran dari penulis PP nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah perlu dilakukan uji materi kembali karena ternyata masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam penerapannya terlihat dengan masih terdapatnya peluang seseorang untuk mengajukan gugatan atas sertipikat dan perlu dibentuk sarana penanganan yang khusus bagi permasalahan pertanahan di Indonesia serta bagi pejabat- pejabat Badan Pertanahan Nasional harus lebih teliti dalam mencatat buku kepemilikan seseorang dengan baik dan benar.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MADIUN DALAM PENERBITAN SERTIFIKAN HAK ATAS TANAH DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK ATAS TANAH.

TANGGUNG JAWAB KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MADIUN DALAM PENERBITAN SERTIFIKAN HAK ATAS TANAH DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK ATAS TANAH.

Selain itu dalam praktek sekarang ini tidak jarang terjadi telah terbit dua atau lebih sertipikat atas sebidang tanah yang sama. Dua atau lebih sertifikat atas sebidang tanah yang sama disebut tumpang tindih (overlapping) sertipikat, membawa ketidakpastian hukum bagi pemegang hak-hak atas tanah yang sangat tidak diharapkan dalam pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia 8 . Apakah permasalahan ini juga ada di kantor Pertanahan Kabupaten Madiun, kami tertarik untuk menelitinya. Kabupaten Madiun merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur, memiliki wilayah atau daerah yang luas serta memiliki kemajauan yang pesaat dalam bidang pembangunan, sehingga berdampak pada peningkatan layanan di bidang agraria, khususnya pendaftaran hak atas tanah. Penelitian yang dilakukan mencoba untuk mengetahui serta menganalisis permasalahan-permasalahan terkait dengan Tanggung Jawab Kantor Pertanahan Kabupaten Madiun terhadap produk sertipikat yang dihasilkan yang cacat hukum serta perlindungan hukum pemegang hak atas tanah.. Dengan demikian itu penerapan produk hukum yang benar, dalam hal ini peraturan terkait pendaftaran tanah, tentunya dapat menjamin kepastian hukum bagi para pemegang hak-hak atas tanah. Hal ini dapat diwujudkan sedini mungkin dengan mencoba menerapkan asas-asas pendaftaran tanah seperti yang tertuang dalam Pasal 2 Undang Undang Pokok Agraria secara tepat, sehingga permasalahan yang sekarang ini terjadi dapat diminimalisir seminimal mungkin.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

TATA CARA PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG MENJAMIN KEDUDUKAN HUKUM PEMEGANG HAK ATAS TANAH (BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMER 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM).

TATA CARA PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG MENJAMIN KEDUDUKAN HUKUM PEMEGANG HAK ATAS TANAH (BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMER 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM).

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum bertujuan menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, dengan tetap menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak. Bilapadatahapgantirugiadapihak yang keberatandapatmenempuhjalurhukummelaluiPengadilanNegerisetempatsampaide ngankasasi.Sedangkankelemahan yang terdapatdalamUndang-Undang No. 2

11 Baca lebih lajut

Menjamin Kepastian Hukum Atas Tanah Kasu

Menjamin Kepastian Hukum Atas Tanah Kasu

Pertama, Periode Pra Kadaster (1602-1837), periode Kadaster Lama (1837-1875) dan periode Kadaster Baru (setelah tahun 1875). Pada perioede pra kadaster, dasar dari pendaftaran hak atas tanah di Indonesia, dasar hukum dari pelaksanaan pendaftaran hak atas tanah adalah Nedherlandsch Indisch Plaakatboek (Buku Maklumat (india Belanda yang dikeluarkan pada jaman Vecenigde Oost-Indisch Compagnie (VOC) Persekutuan Dagang Kompeni Hindia Timur) yang didirikan pada tahun 1602, VOC selain menerima hak untuk berdagang sendiri di Indonesia dari pemerintah di Negeri Belanda (Staten Generaal) juga menerima pula hak menjalankan kekuasaan kedaulatan di daerah yang dikuasainya dengan kekuatan senjata. Kedua, Periode Kadaster Lama (1837-1875), periode ini dikeluarkannya keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Gouverneur General Nedherlands-Indie) Staatblats 1837 Nomor 3 (S.1837. Nomor 3) tanggal 18 Januari 1837 yang menetapkan suatu instruksi bagi ahli ukur (Gouvernements Landmeters) di Jakarta, Semarang dan Surabaya sebagai awal pelaksanaan kadaster yang lebih terperinci sesuai dengan pokok-pokok penyelenggaraan kadaster dalam arti modern dan Ketiga, Periode Kadaster Baru (1875-1960), periode ini dikeluarkannya peraturan untuk penyusunan kadaster baru diantaranya: Staatblats 1875 Nomor 183 juncto Staatblats 1879 Nomor 164) tentang Alagemene Voorschriffen de Kadasterale Metingen in Ned-Indie (ketentuan-ketentuan umum mengenai pengukuran-pengukuran kadaster di Indonesai).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM JUAL BELI HAK ATAS TANAH YA

AKIBAT HUKUM JUAL BELI HAK ATAS TANAH YA

berdasarkan pada Putusan Pengadilan Negeri Nomor : 19 /Pdt.G/2015/PN.Mgg tanggal 27 Agustus 2015, yang memutuskan bahwa : “Surat Pernyataan Jual Beli tanah pekarangan tertanggal 24 Juni 1968 antara Ngadijono – Martosarno di hadapan Kepala Desa Tidar adalah Sah dan Berharga. Akan tetapi peralihan hak atas tanah karena jual beli terhadap tanah yang belum didaftarkan juga menimbulkan akibat hukum lainnya yaitu kerugian bagi pihak pemegang hak atas tanah karena tidak adanya jaminan kepastian hukum sesuai dengan tujuan pendaftaran tanah yaitu untuk menjamin kepastian hukum dan kepastian hak atas tanah, yang mana hanya dapat menguasai secara fisik, akan tetapi tidak membuktikan kepemilikan tersebut secara yuridis sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan Pasal 19 UUPA serta sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK

sebagai bukti hak atas tanah yang tidak patut dibatalkan negara tanpa santunan, untuk itu perlu adanya aturan hukum administrasi negara dan pelaksanaannya yang sah, benar dan tepat sehingga perlindungan hukum patut diberikan kepada pemegang sertifikat hak atas tanah. Terwujudnya kepastian hukum dalam pendaftaran tanah tidak lepas dari faktor kekurangan dalam substansi aturan pertanahan, disinkronisasi peraturan yang ada. Secara normatif, kepastian hukum memerlukan tersedianya perangkat aturan perundang-undangan yang secara operasional mampu mendukung pelaksanaannya. Secara empiris, keberadaan peraturan-peraturan itu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh sumber daya pendukungnya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

URGENSI PENDAFTARAN TANAH DALAM MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM HAK MILIK ATAS TANAH DI KABUPATEN BULUKUMBA

URGENSI PENDAFTARAN TANAH DALAM MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM HAK MILIK ATAS TANAH DI KABUPATEN BULUKUMBA

(2) Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hakatas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat. 8 Ketentuan pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 merupakan penjabaran dari ketentuan pasal 19 ayat (2) huruf c, Pasal 23 ayat (2), pasal 32 ayat (2) UUPA, yang berisikan bahwa pendaftaran tanah menghasilakan surat tanda bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Berdasarkan ketentuan pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, maka system publikasi pendaftaran tanah yang dianut adalah system publikasi negative,yaitu sertifikat hanya merupakan surat tanda bukti hak yang bersifat kuat dan bukan merupakan surat tanda bukti hak yang bersifat mutlak. Hal ini berarti bahwa data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam sertifikat mempunyai kekuatan hukum dan
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

KEABSAHAN JUAL BELI HAK ATAS TANAH DIBAWAH TANGAN DI DESA PATIHAN KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN (Tinjauan Beberapa Kasus Terkait di Pengadilan Negeri di Surakarta).

KEABSAHAN JUAL BELI HAK ATAS TANAH DIBAWAH TANGAN DI DESA PATIHAN KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN (Tinjauan Beberapa Kasus Terkait di Pengadilan Negeri di Surakarta).

Tujuan kepastian hukum menurut Theo Huijibers bukan hanya menjamin keadilan, melainkan juga menciptakan ketentraman hidup dengan memelihara kepastian hukum. Peralihan hak sebagai akibat telah dilakukannya jual beli hak atas tanah dibawah tangan dalam pelaksanaannya biasanya hanya dibuat surat yang isinya menyatakan bahwa penjual telah menyerahkan tanahnya dan menerima uang pembayaran, tetapi tidak dibuktikan dengan adanya akta jual beli hak atas tanah yang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akta jual beli hak atas tanah yang dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah merupakan salah satu persyaratan untuk melakukan pendaftaran peralihan hak atas tanah di kantor pertanahan, hal ini akan berimplikasi pada kepastian hukum tentang status tanah tersebut. Dalam peristiwa jual beli hak atas tanah dibawah tangan tidak ada kepastian hukum terhadap status tanah bagi pemilik tanah, karena peralihan hak atas tanah tersebut belum di daftarkan ke Kantor Pertanahan untuk memperoleh sertifikat sebagai tanda bukti yang sah dan kuat.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Hak Atas Tanah Karena Jual Beli Dengan Lelang Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Di Surakarta (Studi Pada Kutipan Risalah Lelang No. 532 Tahun 2014 di Kantor Pertanahan Kota Surakarta).

PENDAHULUAN Tinjauan Yuridis Terhadap Peralihan Hak Atas Tanah Karena Jual Beli Dengan Lelang Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Di Surakarta (Studi Pada Kutipan Risalah Lelang No. 532 Tahun 2014 di Kantor Pertanahan Kota Surakarta).

Dalam rangka menjamin kepastian hak dan kepastian hukum atas tanah, UUPA telah menggariskan adanya keharusan untuk melaksanakan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia. Menurut Boedi Harsono pendaftaran tanah sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh negara atau pemerintah secara terus menerus dan diatur, berupa pengumpulan data tertentu, pengolahan penyimpanan, penyajian bagi kepentingan rakyat dalam memberikan kepastian hukum di bidang pertanahan termasuk bukti dan pemeliharaanya 4 . Kepastian hukum meliputi kepastian mengenai orang atau badan hukum yang menjadi pemegang hak yang disebut juga kepastian mengenai subyek hak dan kepastian mengenai letak, batas-batasnya serta luas bidang-bidang tanah yang disebut juga kepastian mengenai obyek hak. 5
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI STANDAR PROSEDUR OPERASI PENGATURAN DAN PELAYANAN PENDAFTARAN TANAH PERTAMA KALI BERDASARKAN KEPUTUSAN KEPALABADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 2005

IMPLEMENTASI STANDAR PROSEDUR OPERASI PENGATURAN DAN PELAYANAN PENDAFTARAN TANAH PERTAMA KALI BERDASARKAN KEPUTUSAN KEPALABADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 2005

Menurut hasil wawancara dengan Prawoto selaku Kepala Desa Kayutrejo,Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi bahwa pelaksanaan pendaftaran tanah tanah pertama kali di Kantor Pertanahan Kabupaten Ngawi cukup baik pelayanannya, namun untuk penyelesaian sertipikatnya masih membutuhkan waktu yang cukup lama.Hal ini bisa dimaklumi karena dengan Wilayah Kabupaten Ngawi yang luas dengan jumlah karyawan karyawati di Kantor Pertanahan Kabupaten Ngawi yang cukup terbatas, dengan permohonan pensertipikatan tanah yang cukup banyak sehingga terdapat adanya kesenjangan dalam pelayanannya.Desa Kayutrejo merupakan desa yang letaknya jauh dari pusat kota Ngawi, namun antusias dan kemauan dari masyarakat Kayutrejo untuk mendaftarkan tanahnya cukup tinggi, karena mereka menyadari akan arti pentingnya sertipikat hak atas tanah, selain sertipikat dapat menjamin kepastian hukum dan kepastian hak atas tanah, dengan sertipikat tanah nilai ekonomis tanah juga akan meningkat serta dapat diagunkan di lembaga perbankan untuk menambah modal usahanya sehingga diharapkan taraf hidup masyarakatnya akan meningkat.
Baca lebih lanjut

261 Baca lebih lajut

Problematika Yang Terjadi Dalam Mewujudkan  Perlindungan Dan Kepastian Hukum Terhadap  Pemegang Hak Atas Tanah (Studi Di Kantor  Pertanahan Kota Batam)

Problematika Yang Terjadi Dalam Mewujudkan Perlindungan Dan Kepastian Hukum Terhadap Pemegang Hak Atas Tanah (Studi Di Kantor Pertanahan Kota Batam)

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa problematika yang terjadi di Kota Batam disebabkan adanya tumpang tindih antara pemerintah Kota Batam dan Otorita Batam serta instusi lain di Batam dalam menerapkan kewenangan masing-masing khususnya dalam bidang pertanahan, dan tidak adanya penerapan prinsip KISS dalam penyelenggaraan pemerintahan Kota Batam, sehingga masyarakat yang mengalami dampak dari tidak adanya kesinkronan data dan peraturan-peraturan yang berlaku. Upaya yang dilakukan pemerintah Kota Batam dengan memeriksa secara mendetail data fisik dan data yuridis sampai kepada aspek kesejarahan terhadap objek untuk setiap permohonan hak yang diajukan dengan sasaran terwujudnya perlindungan hukum sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 24 Tahun 1997 Pasal 32 ayat 2. Meskipun pada kenyataannya belum dapat terwujud eksistensinya secara maksimal dimana penerapannya mempunyai sisi positif dan sisi negatif dalam menyelesaikan masalah sengketa pertanahan. Apabila pasal ini dapat diterapkan dengan catatan masyarakat mengetahui aturan ini, dan memperoleh sertifikat sebagai alat bukti haknya agar dikemudian hari tidak diganggu gugat oleh pihak lain maka kepastian akan pendaftaran tanah akan terwujud dengan baik.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Penerapan Asas Akuntabilitas dalam Kegia

Penerapan Asas Akuntabilitas dalam Kegia

PPAT merupakan pejabat umum. Menurut Boedi Harsono (2007), pejabat umum adalah seseorang yang diangkat oleh Pemerintah dengan tugas dan kewenangan memberikan pelayanan kepada umum dibidang tertentu. Sedangkan menurut Sri Winarsih (2002:186), pengertian pejabat umum memiliki sifat yuridis, yaitu selalu dalam kerangka hukum publik. Sifat publiknya tersebut dapat dilihat dari pengangkatan, pemberhentian, dan kewenangan PPAT. PPAT diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional, tugasnya adalah membantu Kepala Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota dalam melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah, dan kewenangannya adalah membuat akta atas perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. Pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 menyatakan bahwa:
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Atas Penerimaan Uang Ganti Rugi Dari Pembebasan Hak Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan

Tinjauan Yuridis Atas Penerimaan Uang Ganti Rugi Dari Pembebasan Hak Atas Tanah Yang Sedang Terikat Hak Tanggungan

Hak tanggungan sebagai hak jaminan diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1996 Tentang Pendaftaran Hak Tanggungan, Peraturan Kepala BPN Nomor 2 Tahun 2013 tetang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Hak Atas Tanah dan Kegiatan Pendaftaran Tanah. Ganti kerugian atas pembebasan hak atas tanah ditetapkan diatur pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT)

Kinerja BPN Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah Demi Menjamin Kepastian Hukum Dan Hak Atas Tanah (Studi Kasus : Kantor Wilayah BPN SUMUT)

Dalam Negara Kesatuan RI satu-satunya lembaga atau institusi yang sampai saat ini diberikan kewenangan (kepercayaan) untuk mengemban amanah dalam mengelola bidang pertanahan adalah Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN-RI). Pasal 2 Peraturan Presiden (Perpres) No 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional menyebutkan bahwa Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral. Oleh karena itu, maka BPN-RI ke depan harus mampu memegang kendali perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan, kebijakan teknis, perencanaan dan program, penyelenggaraan pelayanan administrasi pertanahan dalam rangka menjamin kepastian hukum hak atas tanah, penatagunaan tanah, reformasi agraria, penguasaan dan pemilikan hak atas tanah, termasuk pemberdayaan masyarakat. Bahkan Institusi/lembaga ini salah satu misi nya adalah melakukan pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENDAFTARAN PERALIHAN HAK MILIK KARENA JUAL BELI MELALUI ONE DAY SERVICE DALAM MEWUJUDKAN TERTIB ADMINISTRASI PERTANAHAN DI KABUPATEN BANTUL.

PELAKSANAAN PENDAFTARAN PERALIHAN HAK MILIK KARENA JUAL BELI MELALUI ONE DAY SERVICE DALAM MEWUJUDKAN TERTIB ADMINISTRASI PERTANAHAN DI KABUPATEN BANTUL.

f. Pemohon melakukan pembayaran sesuai dengan SPS tersebut dan diberikan bukti pembayaran yang digunakan untuk mengambil sertipikat. Dalam One Day Service pemohon harus datang secara lansung ke Kantor Pertanahan tanpa dikuasakan. Keterbatasan kuota yang disediakan oleh Kantor Pertanahan membuat pemohon (pemegang hak atas tanah) harus datang lebih awal untuk mendapatkan nomor antrian sebagai bukti pendaftaran untuk mengikuti One Day Service . Seluruh responden (15 orang/100%) mengatakan datang ke Kantor Pertanahan sebelum pukul 04.00 pagi untuk mendapatkan kuota. Loket dibuka mulai pukul 08.30 pagi kemudian para responden menunggu panggilan dari loket untuk maju menyerahkan berkas. Tujuan ini belum tercapai sepenuhnya karena ke 15 responden (100 %) tidak mengetahui sebelumnya mengenai One Day Service .
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum Dalam Proses Pendaftaran Tanah

Seiring dengan perkembangan dalam masyarakat, ternyata masih banyak ditemukan permasalahan mengenai sengketa dan konflik pertanahan sehingga membuat masyarakat menjadi kurang yakin untuk mendaftarkan tanahnya. Masyarakat menganggap bahwa perangkat peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai norma hukum dalam pengelolaan atas tanah belum dapat sepenuhnya menjamin kepastian hukum hak-hak tanah masyarakat. Oleh karena itu, penulis memilih judul Tinjauan Yuridis Terhadap Aspek Kepastian Hukum dalam Pendaftaran Tanah sebagai penulisan skripsi. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kepastian hukum dalam proses pendaftaran tanah.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN   Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Memutus Sengketa Jual Beli Tanah.

BAB 1 PENDAHULUAN Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Memutus Sengketa Jual Beli Tanah.

Hakim memegang peranan penting dari awal sampai akhir pemeriksaan di pengadilan. Berdasarkan Pasal 119 HIR atau 143 RBg hakim berwenang untuk memberikan petunjuk kepada pihak yang mengajukan gugatannya ke pengadilan dengan maksud agar sengketa tersebut menjadi jelas duduk sengketanya dan memudahkan hakim memeriksa sengketa itu. Dalam pemeriksaan sengketa, hakim betul-betul harus bersikap bebas dan tidak memihak siapapun. Di dalam persidangan, hakim juga harus mendengar keterangan kedua belah pihak dengan pembuktian masing- masing sehingga hakim dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN FLY OVER JOMBOR SETELAH BERLAKUNYA UU NOMOR 2 TAHUN 2012 DI KABUPATEN SLEMAN.

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN FLY OVER JOMBOR SETELAH BERLAKUNYA UU NOMOR 2 TAHUN 2012 DI KABUPATEN SLEMAN.

Pembangunan fly over jombor yang terletak di Kabupaten Sleman banyak mendapatkan tanggapan dari masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Tanggapan positif yang diberikan oleh masyrakat kelas menengah ke atas sedangkan tanggapan negatif dari kalangan masyarakat menengah ke bawah, terutama masyarakat yang tinggal di dekat daerah pembangunan fly over jombor. Munculnya rencana pembangunan fly over jombor ini dengan membutuhkan lahan yang luas seharusnya akan memakan lahan dari masyarakat yang tinggal di dekat daerah pembangunan fly over jombor tersebut. Mengingat terbatasnya tanah negara dalam mendukung pembangunan kepentingan umum, maka Pemerintah sebagai salah satu pihak yang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pembangunan kepentingan umum maka Pemerintah melaksanakan program pengadaan tanah untuk melaksanakan pembangunan fly over jombor tersebut.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Implementasi Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten Dairi

Implementasi Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten Dairi

Keterbukaan informasi publik telah menjadi isu sentral dalam pembahasan mengenai pembangunan nasional. Dimana transparansi atau keterbukaan informasi publik menjadi syarat bagi terwujudnya tata pemerintahan yang baik. Untuk menjamin kepastian hukum, serta jaminan pelaksanaan hak rakyat untuk mendapatkan informasi publik khususnya terhadap kinerja pemerintah dalam penyelenggaraan negara atau pemerintahannya, maka peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Keterbukaan Informasi Publik yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik yang diundangkan pada tahun 30 April Tahun 2008 dan berlaku 2 tahun sejak tanggal diundangkan, berarti tanggal mulai berlakunya adalah 30 April 2010.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...