Top PDF Pengaruh Jarak Lapis Geogrid Teratas Dan Jumlah Lapisan Perkuatan Dengan Rasio D/b = 1 Dan B = 8 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir Dengan Pondasi Menerus

Pengaruh Jarak Lapis Geogrid Teratas Dan Jumlah Lapisan Perkuatan Dengan Rasio D/b = 1 Dan B = 8 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir Dengan Pondasi Menerus

Pengaruh Jarak Lapis Geogrid Teratas Dan Jumlah Lapisan Perkuatan Dengan Rasio D/b = 1 Dan B = 8 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir Dengan Pondasi Menerus

Masalah yang sering kali muncul pada tanah berpasir ialah tingkat penurunan yang tidak merata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya perkuatan tanah menggunakan material geogrid. Sistem perkuatan tanah ini telah diaplikasikan pada berbagai konstruksi seperti jalan raya dan dinding penahan tanah. Dalam penelitian ini dilakukan permodelan tanah pasir yang diberi perkuatan berupa geogrid. Variasi yang diterapkan pada penelitian ini berupa rasio jarak lapis geogrid teratas (u/B) yaitu 0,25, 0,5 dan 0,75 serta variasi jumlah lapisan perkuatan (n) yaitu 1, 2 dan 3 lapisan perkuatan. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa variasi jarak lapis geogrid teratas mencapai daya dukung optimum pada rasio u/B = 0,5. Sedangkan pada variasi jumlah lapisan geogrid didapatkan hasil daya dukung terus meningkat seiring bertambahnya jumlah lapisan geogrid. Hasil analisis BCIu penelitian ini menunjukkan daya dukung terbesar pada tanah pasir yang diberi variasi jarak lapis geogrid teratas sebesar 0,5 B dan dengan 3 lapis perkuatan geogrid. Sehingga penelitian ini menunjukan hasil optimum pada variasi jarak lapis geogrid teratas yaitu dengan rasio u/B = 0,5
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Lebar Pondasi Dan Jumlah Lapisan Geogrid Terhadap Daya Dukung Pondasi Pada Pemodelan Fisik Lereng Tanah Pasir Pada Sudut Kemiringan Lereng 56°

Pengaruh Lebar Pondasi Dan Jumlah Lapisan Geogrid Terhadap Daya Dukung Pondasi Pada Pemodelan Fisik Lereng Tanah Pasir Pada Sudut Kemiringan Lereng 56°

Pada penelitian ini, dibuat 12 buah benda uji, dengan 3 variasi lebar pondasi dan 3 variasi jumlah lapisan geogrid. Pondasi yang digunakan merupakan pondasi menerus yang diletakkan di permukaan lereng dengan sudut 56° dan dengan RC 74%. Variasi lebar pondasi yang digunakan yaitu 4 cm, 6 cm dan 8 cm, serta variasi jumlah lapisan geogrid yang digunakan yaitu 1 lapis, 2 lapis dan 3 lapis perkuatan. Jarak dari tepi lereng ke pondasi adalah senilai dengan lebar pondasi yang digunakan. Jarak antar geogrid tiap lapisannya adalah 3 cm. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukan terjadinya peningkatan daya dukung pondasi dengan adanya perkuatan menggunakan geogrid. Dengan bertambahnya lebar pondasi yang digunakan, beban runtuh yang dapat ditahan oleh pondasi akan bertambah juga, namun daya dukung pondasi semakin menurun. Semakin bertambahnya jumlah lapisan geogrid yang digunakan, semakin besar pula daya dukung yang dimiliki oleh pondasi. Bila ditinjau berdasarkan analisis BCIqu dan BCIs yang dilakukan, lebar dan jumlah lapis geogrid dengan peningkatan q paling maksimum terjadi saat B = 4 cm dan n = 3 lapisan. Sedangkan berdasarkan analisis peningkatan dan kontribusi variabel, variasi jumlah lapisan geogrid lebih dominan daripada variasi lebar pondasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Kedalaman Pondasi (Df/b) Dan Jarak Lapis Pertama Geogrid (U/b) Terhadap Daya Dukung Pondasi Persegi Dengan Dimensi Pondasi (L/b) = 1,5 Dan Jarak Antar Geogrid (H/b) = 0,3

Pengaruh Kedalaman Pondasi (Df/b) Dan Jarak Lapis Pertama Geogrid (U/b) Terhadap Daya Dukung Pondasi Persegi Dengan Dimensi Pondasi (L/b) = 1,5 Dan Jarak Antar Geogrid (H/b) = 0,3

Tanah berpasir merupakan.salah satu tanah yang memiliki beberapa.masalah geoteknik dikarenakan sifat pasir yang memiliki ikatan antar partikel yang kecil.dan sudut gesek dalam yang besar, sehingga perlu dilakukan perbaikan pada tanah tersebut. Perbaikan yang dapat dilakukan.pada tanah berpasir adalah penggunaan geogrid. Geogrid merupakan salah satu jenis geosintetis dimana. dapat memberikan pengaruh interlocking pada tanah pasir sehingga dapat meningkatkan daya dukung tanah tersebut. Pemodelan fisik pada penelitian ini.menggunakan tanah pasir dengan perkuatan geogrid 3 lapis serta menerapkan variasi berupa. kedalaman.pondasi (3,6 cm; 5,4 cm; 7,2 cm) dan rasio jarak lapis pertama geogrid terhadap lebar pondasi (0,3; 0,4; 0,5). Dari hasil pengujian didapatkan bahwa penggunaan geogrid mempengaruhi peningkatan daya dukung.tanah pasir sebesar 30,532 %. Selain itu nilai daya dukung maksimum terjadi ketika semakin kecilnya variasi rasio jarak lapis pertama geogrid dengan prosentase peningkatan sebesar 11,154% serta saat semakin meningkatnya variasi rasio kedalaman pondasi dengan prosentase peningkatan 13,008%. Jika dilihat dari analisa BCR terlihat bahwa kenaikan daya dukung maksimum terletak pada kedalaman pondasi 3,6 cm dengan rasio u/B = 0,3.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN LERENG DAN LEBAR PONDASI MENERUS DENGAN d/B=1 TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI DENGAN RC PASIR 85% MENGGUNAKAN GEOGRID

PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN LERENG DAN LEBAR PONDASI MENERUS DENGAN d/B=1 TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI DENGAN RC PASIR 85% MENGGUNAKAN GEOGRID

Resiko terhadap bahaya longsor bagi pembangunan diatas tanah lereng sangatlah tinggi dan untuk menghindari bahaya tersebut, tanah lereng harus memiliki kekuatan yang cukup serta daya dukung pondasi yang cukup pula untuk menahan beban diatasnya. Salah satu metode perkuatan tanah yang dapat digunakan pada lereng adalah dengan pemasangan material geogrid pada lapisan lereng. Oleh sebab itu, dilakukan sebuah penelitian guna memperoleh parameter sudut kemiringan lereng dan lebar pondasi yang dapat menghasilkan daya dukung paling optimum pada sebuah lereng dengan perkuatan geogrid, sehingga resiko kelongsoran dapat diminamalisir.Pada penelitian ini dilakukan pengujian model fisik lereng dengan perkuatan geogrid. Variasi yang diterapkan pada sampel model lereng berupa sudut kemiringan lereng dan lebar pondasi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh terhadap daya dukung pada lereng dengan perkuatan geogrid dibandingkan dengan daya dukung pada lereng tanpa perkuatan geogrid. Berdasarkan penelitian ini, peningkatan daya dukung terbesar terletak pada sudut kemiringan 46° dan lebar pondasi 4 cm.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Sudut Kemiringan Dan Jumlah Lapisan Perkuatan Geogrid Pada Lereng Pasir Rc 85% Terhadap Daya Dukung Tanah Dengan Pondasi Menerus

Pengaruh Sudut Kemiringan Dan Jumlah Lapisan Perkuatan Geogrid Pada Lereng Pasir Rc 85% Terhadap Daya Dukung Tanah Dengan Pondasi Menerus

permukaan tanah tidak datar, komponen berat tanah yang sejajar dengan kemiringan lereng akan menyebabkan tanah bergerak ke arah bawah seperti pada Gambar 1. Bila komponen berat tanah tersebut cukup besar, kelongsoran lereng dapat terjadi, yaitu tanah dalam zona a b c d e a dapat menggelincir ke bawah. Dengan kata lain, gaya dorong lebih besar dari gaya berlawanan yang berasal dari kekuatan geser tanah sepanjang bidang longsor.

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Jarak Dan Jumlah Lapis Perkuatan Kombinasi Geotekstil Dan Anyaman Bambu Satu Arah Terhadap Daya Dukung Dan Penurunan Pondasi Menerus Pada Tanah Pasir Poorly Graded

Pengaruh Variasi Jarak Dan Jumlah Lapis Perkuatan Kombinasi Geotekstil Dan Anyaman Bambu Satu Arah Terhadap Daya Dukung Dan Penurunan Pondasi Menerus Pada Tanah Pasir Poorly Graded

Studi tentang model pondasi dangkal yang diperkuat dengan geosintetik ataupun bambu telah banyak dilakukan. Pontjo Utomo (2010) menyatakan bahwa peletakan perkuatan teratas dalam kisaran 0.25B - 0.5B dapat meningkatkan daya dukung timbunan tanah pasir, di mana B adalah lebar pondasi. Penelitian yang dilakukan Yusep Muslih Purwana (2002) menunjukkan penempatan lapisan anyaman kulit bambu sebagai perkuatan menyebabkan terjadinya peningkatan BCI (Bearing Capacity Improvement) maksimal sebesar 3,07 untuk perkuatan tunggal; 3,5 untuk perkuatan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH JUMLAH LAPISAN DAN SPASI PERKUATAN GEOTEKSTIL TERHADAP KUAT DUKUNG ULTIMIT DAN PENURUNAN TANAH LEMPUNG LUNAK

PENGARUH JUMLAH LAPISAN DAN SPASI PERKUATAN GEOTEKSTIL TERHADAP KUAT DUKUNG ULTIMIT DAN PENURUNAN TANAH LEMPUNG LUNAK

4 yang berada di dalam box baja berukuran 80x80x80 cm 3 . Kedalaman tanah pasir yang direncanakan untuk setiap uji beban adalah tidak kurang dari 2 kali lebar fondasi (B). Hal ini didasarkan pada pertimbangan guna menghindari perubahan (distorsi) kuat dukung tanah pasir. Uji beban dilakukan terhadap dua bentuk fondasi, yaitu fondasi bujur sangkar dengan sisi 10x10 cm 2 dan fondasi lajur 10x80 cm 2 (tebal 8 mm). Uji beban dilakukan dalam 4 variasi, yaitu fondasi dibebani tanpa perkuatan, fondasi dibebani dengan memvariasikan nilai banding letak lapisan teratas dari geogrid (u/B), fondasi dibebani dengan memvariasikan nilai banding spasi vertikal geogrid (z/B), serta fondasi dibebani dengan variasi nilai banding lapisan terbawah dari geogrid (d/B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pemasangan geogrid pada u/B sebesar 0,25 - 0,5 mampu menaikkan kuat dukung tanah fondasi hingga 2,5 - 3,5 kali dibanding tanah tanpa perkuatan. Nilai z/B optimal untuk pondasi bujur sangkar adalah 0,5, yang memberikan kenaikan daya dukung hingga 3, 5 kali, sedangkan pondasi lajur berkisar 0,25-0,5 yang memberikan kenaikan daya dukung hingga 2,5 kali. Nilai d/B optimal pada pondasi bujur sangkar dan lajur berkisar pada nilai 1,5 yang masing-masing memberikan kenaikan daya dukung 5 dan 3 kali dibandingkan tanah tanpa perkuatan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pengaruh Jumlah Lapis Geogrid Dan Kedalaman Dengan Lebar B = 10 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir Pada Pondasi Menerus Dengan Kepadatan Rc 70%

Pengaruh Jumlah Lapis Geogrid Dan Kedalaman Dengan Lebar B = 10 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir Pada Pondasi Menerus Dengan Kepadatan Rc 70%

In this research, the physical model of strip footing is tested with geogrid reinforcement. The variations used in the sample test are the number of layers of geogrid and the depth of the foundation. The main objective of this study was to compare the bearing capacity of strip footing on the sand soil without the reinforcement of geogrid and with geogrid reinforcement. This study was conducted by modeling the WF profile steel as a strip footing and using poorly graded sand soil with 70% relative compaction. For samples with geogrid reinforcement also used variation in depth d / B = 0; d / B = 0.5; And d / B = 1. The reinforcement is used by the number of geogrid n = 1, n = 2, and n = 3. The loading is using a hydraulic jack. Load readings and foundation decrement are seen through load cell and LVDT. Load and decrement is read every 50 kg load increase until the samples are set to collapse by 10%. All models vary the number of layers of geogrid and depth using the same foundation width by 10 cm. From the experiment is known that the highest value of ultimate bearing capacity is in d/B = 1. And for the variation of geogrid number the highest value is in n = 3. Key words: bearing capacity, strip footing, geogrid reinforcement, variation of the number of geogrid,
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Lebar Dan Jarak Pondasi Ke Tepi Lereng Terhadap Pemodelan Fisik Lereng Tanah Pasir Dengan Perkuatan Geogrid Pada Sudut Kemiringan 46°

Pengaruh Lebar Dan Jarak Pondasi Ke Tepi Lereng Terhadap Pemodelan Fisik Lereng Tanah Pasir Dengan Perkuatan Geogrid Pada Sudut Kemiringan 46°

Pembangunan suatu struktur diatas tanah yang tidak datar yang mempunyai sudut kemiringan yang besar mempunyai resiko kelongsoran yang cukup besar dikarenakan faktor gravitasi yang berpotensi untuk menggerakkan tanah. Pada penelitian ini digunakan pemodelan fisik lereng tanah pasir dengan dan tanpa perkuatan geogrid dengan Rc 74% dengan variabel tetap yaitu kemiringan sudut 46° dan jumla lapis perkuatan geogrid sebesar 3 lapis, sedangkan untuk variasi yang digunakan yaitu lebar pondasi dan variasi rasio jarak pondasi ke tepi lereng terhadap lebar pondasi. Bahan perkuatan yang digunakan yaitu geogrid biaxial miragrid 40/40 yang diproduksi oleh PT.Tetrasa Geosinindo. Setelah penelitian ini dilakukan maka didapatkan hasil yaitu semakin lebar pondasi maka daya dukung yang dihasilkan akan semakin kecil, sedangkan untuk variasi jarak pondasi ke tepi lereng, semakin jauh jarak pondasi ke tepi lereng maka daya dukung yang dihasilkan akan semakin besar. Kontribusi perkuatan geogrid sangat mempengaruhi terhadap daya dukung yang dihasilkan. Peningkatan daya dukung ultimit yang paling maksimal terjadi yaitu pada lebar pondasi = 4 cm dengan rasio jarak pondasi ke tepi lereng dengan lebar pondasi (d/B = 3).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Stabilisasi Tanah Manyawang untuk Meningkatkan Daya Dukung (Cbr) Sebagai Lapis Pondasi Pekerasan Jalan Lungkuh Layang - Buntok

Stabilisasi Tanah Manyawang untuk Meningkatkan Daya Dukung (Cbr) Sebagai Lapis Pondasi Pekerasan Jalan Lungkuh Layang - Buntok

Nilai CBR adalah perbandingan (dalam persen) antara tekanan yang diperlukan untuk menembus tanah dengan piston berpenampang bulat seluas 3 inch dengan kecepatan 0,05 inch/menit terhadap tekanan yang diperlukan untuk menembus bahan standard tertentu. Untuk menentukan kekuatan lapisan tanah dasar dengan cara percobaan CBR diperoleh nilai yang kemudian dipakai untuk menentukan tebal perkerasan yang diperlukan di atas lapisan yang nilai CBRnya tertentu. Dalam menguji nilai CBR tanah dapat dilakukan di laboratorium. Tanah dasar (Subgrade) pada kontruksi jalan baru merupakan tanah asli, tanah timbunan, atau tanah galian yang sudah dipadatkan sampai mencapai kepadatan 95% dari kepadatan maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah dasar tersebut merupakan nilai kemampuan lapisan tanah memikul beban setelah tersebut tanah dipadatkan. CBR ini disebut CBR rencana titik dan karena disiapkan di laboratorium, disebut CBR laborataorium. Makin tinggi nilai CBR tanah (subgrade) maka
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

1. Sampel tanah yang digunakan dalam penilitian ini berasal dari daerah Rawa Sragi, Desa Blimbing Sari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, berdasarkan sistem klasifikasi AASHTO digolongkan pada kelompok tanah A-7 (tanah berlempung) dan subkelompok A-7-5 yaitu tanah yang buruk dan kurang baik digunakan sebagai tanah dasar pondasi. Berdasarkan sistem klasifikasi USCS digolongkan tanah berbutir halus dan termasuk kedalam kelompok CH yaitu tanah lempung anorganik dengan plastisitas tinggi dan termasuk lempung “gemuk” ( fat clays).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

1. Sampel tanah yang digunakan dalam penilitian ini berasal dari daerah Rawa Sragi, Desa Blimbing Sari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, berdasarkan sistem klasifikasi AASHTO digolongkan pada kelompok tanah A-7 (tanah berlempung) dan subkelompok A-7-5 yaitu tanah yang buruk dan kurang baik digunakan sebagai tanah dasar pondasi. Berdasarkan sistem klasifikasi USCS digolongkan tanah berbutir halus dan termasuk kedalam kelompok CH yaitu tanah lempung anorganik dengan plastisitas tinggi dan termasuk lempung “gemuk” ( fat clays).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

STUDI DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LUNAK MENGGUNAKAN ISS 2500 (IONIC SOIL STABILIZER) SEBAGAI LAPIS PONDASI TANAH DASAR (SUBGRADE)

Kondisi tanah pada suatu daerah tidak akan memiliki sifat tanah yang sama dengan daerah lainnya, ada yang mempunyai daya dukung baik dan adapula yang buruk. Tanah dengan pengembangan yang cukup besar (plastisitas tinggi) dikenal sebagai tanah lunak. Ruas-ruas jalan yang dibangun diatas tanah dasar dengan daya dukung rendah (CBR < 6 %) umumnya lebih cepat mengalami kerusakan terutama pada musim penghujan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan alternatif penanganan yang tersedia antara lain dengan penambahan bahan kimia (stabilisasi secara kimiawi) dan salah satunya menggunakan ISS 2500 (Ionic Soil Stabilizer). Sampel tanah yang di uji pada penelitian ini yaitu tanah lunak yang berasal dari Rawa Sragi Desa Belimbing Sari, Kecamatan Jabung Lampung Timur. Variasi kadar larutan ISS 2500 yang digunakan yaitu 0.5 ml, 0.8 ml, 1.1 ml dan 1.4 ml dengan dilakukan waktu pemeraman yang sama selama 7 hari dan perendaman selama 4 hari. Berdasarkan pemeriksaan sifat fisik tanah asli, AASHTO mengklasifikasikan sampel tanah pada kelompok A-7 (tanah berlempung) dan subkelompok A-7-5, sedangkan USCS mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah berbutir halus dan termasuk kedalam kelompok CH.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

STUDI DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL DENGAN KOMBINASI PERKUATAN GEOTEKSTIL DAN SUSUNAN BAMBU

STUDI DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL DENGAN KOMBINASI PERKUATAN GEOTEKSTIL DAN SUSUNAN BAMBU

Pembangunan konstruksi di Tanah Gambut mempunyai banyak masalah, diantara Daya Dukung tanah yang rendah dan pe- nurunan yang besar. Perbaikan Tanah Gambut memerlukan biaya yang mahal. Pemilihan metode perbaikan yang sesuai sa- ngat diperlukan, untuk itu dilakukan penelitian mengenai perbaikan Tanah Gambut dengan menggunakan kombinasi Geo- tekstil dan Bambu pada konstruksi yang menggunakan Pondasi Dangkal. Bambu disusun secara paralel dengan spasi tertentu, kemudian lembaran Geotekstil dihamparkan di atas Bambu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Per- kuatan pada dimensi 2B, 3B dan 4B berturut-turut adalah 242,11%, 253,38%, dan 290,98%. Dengan merapatkan spasi ho- rizontal susunan Bambu pada dimensi perkuatan 4B akan meningkatkan Daya Dukung hingga 336,09%. Peningkatan Daya Dukung sebanding dengan penambahan dimensi Perkuatan dan berbanding terbalik dengan jarak Perkuatan dari permukaan. Kata-kata Kunci: tanah gambut, geotekstil, bambu, perkuatan, daya dukung, pondasi dangkal.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Simulasi Perhitungan Daya Dukung Pondasi Dangkal dengan Perkuatan Geotekstil Secara Numerik...

Simulasi Perhitungan Daya Dukung Pondasi Dangkal dengan Perkuatan Geotekstil Secara Numerik...

Kapasitas daya dukung suatu pondasi dangkal sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah tempat pondasi tersebut ditempatkan. Jika tanah tempat pondasi tersebut ditempatkan dianggap tidak mampu menahan beban yang dapat dilakukan antara lain dengan memperbaiki tanah tersebut atau dengan memberi perkuatan misalnya dengan menggunakan geotekstil.

3 Baca lebih lajut

DAYA DUKUNG PONDASI TELAPAK BERSELIMUT PADA TANAH BERLAPIS  Daya Dukung Pondasi Telapak Berselimut Pada Tanah Berlapis.

DAYA DUKUNG PONDASI TELAPAK BERSELIMUT PADA TANAH BERLAPIS Daya Dukung Pondasi Telapak Berselimut Pada Tanah Berlapis.

Kapasitas dukung adalah faktor terpenting dalam merencanakan sebuah pondasi. Diperlukan adanya sebuah upaya untuk meningkatkan nilai kapasitas dukung tersebut. Selimut yang dipasang dibagian bawah permukaaan pondasi dapat berguna sebagai salah satu solusi tersebut. Selimut digunakan untuk meningkatkan kapasitas dukung pada pondasi dangkal tanah berlapis. Penelitian ini penyuguhkan sembilan pengujian laboratorium pondasi bentuk lingkaran yang terbuat dari baja dengan panjang diameter dan panjang selimut yang berbeda-beda, pada media tanah berlapis dengan mempertahankan kesamaan kadar air dan metode pemadatannya. Dari keseluruhan pengujian laboratorium, diketahui bahwa selimut sangat efektif untuk meningkatkan nilai kapasitas dukung. Dengan adanya selimut, besarnya nilai kapasitas dukung bisa mencapai lebih besae dari nilai kapasitas dukung apabila tanpa selimut. Selimut juga dapat mengurangi penurunan. Secara umum penurunan semakin berkurang, saat ditinjau pada satu nilai beban yang sama, yaitu 1 kN. Pondasi telapak dengan selimut paling panjang menunjukan kondisi penurunan terbaik. Dan juga bila dibandingkan dengan media pasir, media pasir mempunyai nila kapasitas dukung yang lebih baik dibandingkan dengan media tanah berlapis.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

studi pengaruh perkuatan tanah model trapesium terhadap daya dukung tanah lempung

studi pengaruh perkuatan tanah model trapesium terhadap daya dukung tanah lempung

Abstract: As a result of rapid development, especially building the field of public works infrastructure, the need for land for construction will also continue to grow, Construction of roads in areas with soft soil types require special treatment in the form of proper soil reinforcement construction. This is because the carrying capacity of the area of clay soil is very small and does not meet the safety factor for highway construction. Carrying capacity of small land subsidence caused either vertically or horizontally sizeable. Clay is one of the problems in planning the foundation of a structure because it has a low bearing capacity. The soil must be able to support and sustain the burden of the construction placed on it without experiencing shear failure and excessive settlement. In the face of these soil conditions need to be planned to form a foundation to improve the carrying capacity of the land and the estimated maximum load that can be carried by the land, by because there is need for soil remediation efforts in order to avoid losses to come in the future. Soil reinforcement methods is growing rapidly which various methods of retrofitting done as mixing with chemicals and the use of materials fabrication such as geotextiles and geogrids as well as to modify the shape of soil reinforcement system with reference to the principle of force distribution. Soil reinforcement method is a modified model of the trapezium shape of the reinforcement soil that can reduce a decrease of 65.16% at a depth of 25 cm, and 73.22% at a depth of 35 cm, compared with the model without reinforcement trapezium.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Daya Dukung Pondasi Telapak Berselimut Pada Tanah Berlapis.

PENDAHULUAN Daya Dukung Pondasi Telapak Berselimut Pada Tanah Berlapis.

3. Beban vertikal diukur oleh Frame Load Testing machine dengan modifikasi piston dan penurunan vertikal pondasi yang diukur dengan alat pengukur dua dial yang terpasang vertikal pada permukaan atas pondasi. 4. Tempat uji berbentuk silinder yang terbuat dari besi berdiameter 60 cm,

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects