Top PDF Pengaruh Kadar Air Dan Nilai Matric Suction Dalam Penentuan Parameter Teknis Tanah Jenuh Sebagian

Pengaruh Kadar Air Dan Nilai Matric Suction Dalam Penentuan Parameter Teknis Tanah Jenuh Sebagian

Pengaruh Kadar Air Dan Nilai Matric Suction Dalam Penentuan Parameter Teknis Tanah Jenuh Sebagian

According to the USCS , the soil including soil type MH with field water content in the soil subgrade 50.7 % did not meet highway subgrade . The relationship between water content and degree of saturation and matric suction can be described through the SWCC curve fitting and estimates contained in SoilVision 4.19. SWCC fitting is suitable for use while Brooks and Corey Fredlund and Wilson PTF suitable to represent the SWCC curve estimation . SWCC curve estimates are quite far from the experimental data to test the filter paper still needs to be done .SoilVision program is very useful for describing both the SWCC curve fitting and estimation methods . From the research , it was found that the water content contained in the soil will affect value of matric suction , shear strength parameters of the soil and its CBR value.The higher water content or degree saturation of the soil , the more value of matric suction , the soil shear strength parameters ( cohesion and angle of friction in )as well as its CBR value will fall.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penentuan Parameter Kuat Geser Tanah Tak Jenuh Air Secara Tidak Langsung Menggunakan Soil-Water Characteristic Curve (SWCC).

Penentuan Parameter Kuat Geser Tanah Tak Jenuh Air Secara Tidak Langsung Menggunakan Soil-Water Characteristic Curve (SWCC).

SWCC merupakan suatu metode yang mempelajari karakteristik dan tingkah laku tanah, gravimetric water content, volumetric water content, derajat kejenuhan dan matrics suction. SWCC ini digunakan sebagai alat untuk memprediksi parameter kuat geser tanah.Dari hasil analisa dan perhitungan data untuk parameter kuat geser tanah tak jenuh dengan SWCC, kemudian hasilnya digambarkan dalam suatu kurva keruntuhan lingkaran mohr-coulomb untuk tanah tak jenuh, sesuai dengan nilai matric suction yang diprediksikan. Didapat nilai rata-rata (Ø b ) untuk Danau Tua nilai matric suction 150 = 44.146° dengan kohesi rata-rata 151.052 kPa, untuk Haekrit rata-rata (Ø b ) nilai matric suction 150 = 40.002° dengan kohesi rata-rata 141.612 kPa, untuk Embung Pompong berdasrkan empris rata-rata (Ø b ) nilai matric suction 150 = 50.825° dengan kohesi rata-rata 190.083 kPa sedangkan berdasarkan pengujian rata-rata (Ø b ) nilai matric suction 141.6 = 39.499° dengan kohesi rata-rata 122.723 kPa.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Penentuan Sifat Teknis Tanah Jenuh Sebag

Penentuan Sifat Teknis Tanah Jenuh Sebag

Pemodelan rembesan (seepage) memerlukan penggunaan SWCC untuk menentukan jumlah kandungan air dalam tanah berdasarkan berbagai nilai suction tanah. SWCC biasanya diukur menggunakan pengujian pressure plate. Prosedur ini sangat memakan waktu dan biaya sehingga metode estimasi menjadi alternatif yang sering diinginkan. Umumnya, kebanyakan SWCC memerlukan deskripsi dari distribusi gradasi butiran dan 3 parameter volume-berat lapangan seperti porositas, berat volume kering dan berat spesifik. Berbagai pendekatan yang digunakan dalam estimasi SWCC ini (Fredlund, 2006) dibagi menjadi 3 kategori yaitu:. point regression method, functional parameter regression method dan physical model method.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Kadar Air Titik Jenuh Serat Beberapa Jenis Kayu Perdagangan Indonesia

Kadar Air Titik Jenuh Serat Beberapa Jenis Kayu Perdagangan Indonesia

Dari Tabel 2 diketahui bahwa KA-B bervariasi menurut jenis kayu, berkisar dari 38,34% pada kayu mangium sampai 112,78% pada kayu manii, sedangkan KA-KU relatif seragam, berkisar dari 13,65% pada kayu manii sampai 15,32% pada kayu sengon. Nilai KA-KU masuk dalam selang rata- rata nilai KA-KU untuk daerah Bogor dan sekitarnya sebagaimana Oey Djoen Seng (1964). Tingginya keragaman nilai KA-B dibandingkan keragaman KA- KU dapat dimaklumi mengingat KA-B dipengaruhi oleh berbagai faktor terkait kondisi tempat tumbuh dimana pohon berada seperti tingkat kesuburan tanah, persaingan dan iklim. Pohon yang tumbuh di tanah-tanah yang subur, dengan tingkat persaingan yang rendah dan iklim yang cocok akan menghasilkan kayu dengan nilai KA yang lebih tinggi karena porsi lumen atau rongga sel yang lebih banyak (Haygreen dan Bowyer 1996).
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU PADA B (1)

PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU PADA B (1)

Biskuit adalah sejenis makanan yang terbuat dari tepung terigu dengan penambahan bahan makanan lain, dengan proses pemanasan dan pencetakan. Dalam pembuatan biskuit terdapat standar mutu yang baik sehingga baik untuk dikonsumsi. Perlu kita ketahui kualitas mutu yang baik pada berbagai macam biskuit yang sering sekali kita konsumsi sehari hari. Dalam praktikum ini kami sebagai mahasiswi melakukan pengujian kadar air dan abu pada biskuit. Metode yang digunakan untuk penentuan kadar air yaitu dengan metode pengeringan. Pengeringan merupakan metode pengawetan dengan cara pengurangan kadar air dari bahan pangan sehingga daya simpan menjadi panjang. Perpanjangan daya simpan terjadi karena air yang dibutuhkan untuk aktivitasnya tidak cukup. Pengeringan selain bertujuan mengawetkan juga bertujuan mengurangi volume dan berat produk. Tingginya kadar air pada biskuit akan memudahkan bakteri berkembang biak pada biskuit sehingga memungkinkan biskuit tidak akan awet(exp). Adapun kadar abu kami menggunakan metode pengabuan kering. Kadar abu dapat menunjukkan total mineral dalam suatu bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak. Air yang digunakan harus memenuhi syarat jika tidak memenuhi persyaratan maka dapat meningkatkan kadar abu. Kadar abu ini bertujuan untuk mengetahui baik atau tidaknya pengelolaan, mengetahui jenis bahan yang digunakan, penentuan parameter nilai gizi suatu makanan dan memperkirakan kandungan dan keaslian bahan yang digunakan. Pengujian kadar air dan abu dari hasil praktikum didapat sebesar 5,8% dan 13,5%. Seharusnya untuk standar kualitas biskuit yang baik yaitu mempunyai kadar air dibawah 5% dan kadar abu di bawah 1,6%. Sehingga kita harus lebih bisa memilah dan memilih dalam membeli dan memakan biskuit.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

jurnal penentuan kadar air dan kadar abu (1)

jurnal penentuan kadar air dan kadar abu (1)

Telah dilakukan praktikum mengenai penentuan kadar air dan kadar abu yang terkandung didalam biskuit. Dalam hal ini biskuit yang digunakan adalah biskuit regal. Menurut SNI (1992), biskuit adalah sejenis makanan yang dibuat dari tepung terigu dengan penambahan bahan makanan lain, dengan proses pemanasan dan pencetakan. Di dalam biskuit terkandung bermacam-macam kandungan salah satunya yaitu air dan abu. Biskuit yang baik adalah biskuit yang mempunyai kadar air dan kadar abu sesuai dengan SNI. Menurut SNI (1992), syarat mutu kadar air pada biskuit yaitu maksimum 5%, sedangkan kadar abunya yaitu maksimum 1,6%. Kelebihan air pada biskuit akan menyebabkan biskuit mudah kadaluarsa, begitupun abu yang melebihi batas maksimum akan menyebabkan terlalu banyaknya zat pengotor yang tidak baik untuk di konsumsi. Dengan menggunakan analisis gravimetri metode penguapan (pemanasan di dalam oven) maka dapat ditentukan kadar air dan kadar abu pada berbagai macam biskuit. Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kadar air dan kadar abu dalam biskuit, serta menerapkan prinsip gravimetrik dalam melakukan penentuan kadarnya. Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan kadar air yang terkandung dalam biskuit regal yaitu sebesar 3,76%, sedangkan kadar abu sebesar 14,97%.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU DALAM BISKUIT

PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR ABU DALAM BISKUIT

Metode yang digunakan dalam menentukan kadar air dan kadar abu pada percobaan ini adalah metode gravimetric. Zat-zat yang diendapkan dan bentuk yang pada akhirnya ditimbang, dituliskan dalam daftar. Sebagai tambahan dari zat-zat anorganik, senyawa-senyawa organic telah dianalisa dengan teknik gravimetric. (Underwood, 1980).

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Proses Pembasahan Terhadap Parameter Kuat Geser c’, ϕ’ DAN ϕb Tanah Lanau Berpasir Tak Jenuh.

Pengaruh Proses Pembasahan Terhadap Parameter Kuat Geser c’, ϕ’ DAN ϕb Tanah Lanau Berpasir Tak Jenuh.

Frekuensi curah hujan yang cukup tinggi ini dapat menyebabkan banjir yang kemudian menjadi salah satu penyebab tanah longsor. Curah hujan yang tinggi menyebabkan kemampuan tanah akan jenuh terhadap air, sehingga air akan tetap di luar permukaan dan membuat sebuah wilayah menjadi terendam air. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi jenuh juga turut menentukan terjadinya longsor. Peningkatan air pori akibat pembasahan atau peningkatan kadar air akan meningkatkan muka air tanah serta menurunkan ketahanan tanah yang bersangkutan di sepanjang bidang gelincirnya. Ketika tanah jenuh maka tanah kehilangan semua tambahan kekuatan geser yang berasal dari tekanan air pori negatif sehingga tanah menjadi tidak stabil dan mudah longsor.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Penentuan Kandungan Nitrat Tanah Analisis Statistik HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Tanah Awal Kadar Air

Penentuan Kandungan Nitrat Tanah Analisis Statistik HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Tanah Awal Kadar Air

Penentuan kadar air dilakukan dengan metode gravimetri tidak langsung. Bobot air dihitung berdasarkan pada kehilangan bobot setelah penguapan pada suhu 105 ºC (Harjadi 1993). Suhu 105 ºC digunakan untuk menghilangkan air pada tanah yang terikat secara fisik. Penentuan kadar air sangat penting dalam menentukan kadar amonium dan nitrat dalam tanah. Kadar air tanah dapat mempengaruhi ekosistem yang terdapat pada tanah, oleh karena itu pada proses analisis dilakukan pengukuran kadar air sebagai faktor koreksi dari setiap kondisi tanah yang berbeda.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Proses Pembasahan Terhadap Parameter Kuat Geser c’, ϕ’ DAN ϕb Tanah Lanau Berpasir Tak Jenuh.

Pengaruh Proses Pembasahan Terhadap Parameter Kuat Geser c’, ϕ’ DAN ϕb Tanah Lanau Berpasir Tak Jenuh.

Frekuensi curah hujan yang cukup tinggi ini dapat menyebabkan banjir yang kemudian menjadi salah satu penyebab tanah longsor. Curah hujan yang tinggi menyebabkan kemampuan tanah akan jenuh terhadap air, sehingga air akan tetap di luar permukaan dan membuat sebuah wilayah menjadi terendam air. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi jenuh juga turut menentukan terjadinya longsor. Peningkatan air pori akibat pembasahan atau peningkatan kadar air akan meningkatkan muka air tanah serta menurunkan ketahanan tanah yang bersangkutan di sepanjang bidang gelincirnya. Ketika tanah jenuh maka tanah kehilangan semua tambahan kekuatan geser yang berasal dari tekanan air pori negatif sehingga tanah menjadi tidak stabil dan mudah longsor.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Menurut jenisnya lada ada dua macam yaitu lada putih dan lada hitam. Lada putih adalah buah lada yang dipetik saat buah lada itu sudah matang. Lantas dikupas kulitnya dengan cara merendamnya dalam air mengalir selama dua minggu, kemudian dijemur selama tiga hari. Sedang lada hitam ialah buah lada yang saat dipetik sudah matang tapi kulitnya masih hijau, dan langsung di jemur selama tiga hari tanpa direndam terlebih dahulu.

50 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang tiada hentinya memberikan nikmat amal, insan dan ihsan, serta semangat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Ilmiah ini sesuai dengan yang diharapkan dengan judul PENGARUH WAKTU DESTILASI MINYAK ATSIRI DAN PENENTUAN KADAR AIR PADA LADA HITAM.

14 Baca lebih lajut

STABILITAS HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN KEDELAI TOLERAN KONDISI TANAH JENUH AIR

STABILITAS HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN KEDELAI TOLERAN KONDISI TANAH JENUH AIR

Kedelai rentan terhadap kekurangan maupun kelebihan air. Kelebihan air di lapang yang menyebabkan kondisi tanah jenuh air umumnya sulit dikelola sehingga perlu diupayakan varietas kedelai yang toleran kondisi tanah jenuh air. Penelitian bertujuan untuk menilai keragaan dan stabilitas hasil galur-galur harapan kedelai toleran kondisi tanah jenuh air. Sebanyak 13 galur harapan kedelai toleran kondisi tanah jenuh air dan varietas pembanding Grobogan dan Kawi diuji di enam lokasi yaitu KP Kendalpayak, KP Jambegede, KP Genteng, Banyuwangi, dan Pasuruan (2 lokasi) pada MK II 2010. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, empat ulangan. Setiap galur ditanam pada petak berukuran 3,2 x 4,5 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Tanaman dipupuk 100 kg Urea + 75 kg SP 36 + 75 kg KCl/ha yang diberikan pada saat tanam. Pengendalian gulma, hama, dan penyakit dilakukan secara intensif. Kondisi tanah jenuh air dibuat dengan cara melakukan penggenangan dalam parit, dengan mengatur tinggi permukaan air di dalam saluran drainase tetap pada tingkat tertentu (3–5 cm di bawah permukaan bedengan). Penggenangan dilakukan mulai umur 14 hst sampai fase masak. Diantara galur kedelai toleran kondisi tanah jenuh air yang diuji, terdapat delapan galur berpenampilan stabil dan lima galur berpenampilan tidak stabil. Diantara galur yang stabil, galur Tgm/Anjs-T205-1-750 yang mempunyai rata-rata hasil tertinggi dan lebih tinggi dibanding rata-rata umum. Galur tersebut berpeluang untuk dilepas sebagai varietas unggul kedelai toleran kondisi tanah jenuh air. Grobogan sebagai varietas pembanding umur genjah berpenampilan stabil, sedangkan Kawi sebagai varietas pembanding toleran kondisi tanah jenuh air berpenampilan tidak stabil. Kedua varietas tersebut memiliki hasil biji lebih rendah dari galur Tgm/Anjs-T205-1-750, masing-masing 36,8% dan 7,3%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Higrometer Digital Untuk Penentuan Kadar Air Tanah Dalam Skala Lapangan. Indah Rini (051510301152)

Higrometer Digital Untuk Penentuan Kadar Air Tanah Dalam Skala Lapangan. Indah Rini (051510301152)

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sensor higrometer efektif digunakan pada kelas tekstur yang berbeda. Penelitian selanjutnya dapat dikembangkan ke arah pengurangan simpangan pengukuran di lapangan. Pengukuran lanjutan terhadap ordo tanah lainnya perlu dilakukan.

16 Baca lebih lajut

kadar arsen pada air tanah dan air permu

kadar arsen pada air tanah dan air permu

unsur arsen melebihi nilai ambang batas, yaitu bila kadarnya melebihi 100 ppb dalam air minum. Gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus, kerusakan syaraf dan sel, kelainan kulit atau melanoma serta kanker usus. Arsen inorganik telah dikenal sebagai racun manusia sejak lama, yang dapat mengakibatkan kematian. Dosis rendah akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Bila melalui mulut, pada umumnya efek yang timbul adalah iritasi saluran makanan, nyeri, mual, muntah dan diare. Selain itu mengakibatkan penurunan pembentukan sel darah merah dan putih, gangguan fungsi jantung, kerusakan pembuluh darah, luka di hati dan ginjal.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah - PENGARUH ENERGI PEMADATAN DAN KADAR AIR TERHADAP NILAI CBR TANAH LEMPUNG EKSPANSIF - POLSRI REPOSITORY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah - PENGARUH ENERGI PEMADATAN DAN KADAR AIR TERHADAP NILAI CBR TANAH LEMPUNG EKSPANSIF - POLSRI REPOSITORY

Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan material, bahan organik, dan endapan-endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak di atas batuan dasar (bedrock). Pembentukan tanah dari batuan induknya, dapat berupa proses fisik maupun kimia. Proses pembentukan tanah secara fisik yang mengubah batuan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil, terjadi akibat pengaruh erosi, angin, air, es, manusia, atau hancurnya pertikel tanah akibat perubahan suhu atau cuaca. Partikel-partikel tersebut mungkin berbentuk bulat, bergerigi maupun bentuk- bentuk diantaranya. Umumnya, pelapukan akibat proses kimia dapat terjadi oleh pengaruh oksigen, karbon dioksida, air (terutama yang mengandung asam atau alkali) dan proses-proses kimia lainnya. Jika hasil pelapukan masih berada di tempat asalnya, maka tanah ini disebut tanah residual (residual soil) dan apabila tanah berpindah tempatnya, disebut tanah terangkut (transported soil). (Hary Cristady Hardiyatmo : 2012)
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Bahkan kebanyakan minyak atsiri memiliki aroma sangat spesifik. Hal ini tidak lain karena setiap minyak atsiri memiliki komponen kimia yang berbeda. Komponen atau kandungan masing-masing komponen kimia tersebut adalah hal yang paling mendasar dalam menentukan aroma maupun kegunaannya. Jadi, penentuan komponen penyusun dan komposisi masing-masing komponen tersebut di dalam minyak atsiri merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan kegunaan, kualitas ataupun mutu dari suatu minyak atsiri (Agusta, 2000).

20 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Pengaruh Waktu Destilasi Terhadap Kadar Minyak Atsiri dan Penentuan Kadar Air pada Lada Hitam

Lada hitam adalah salah satu tanaman rempah-rempah yang juga merupakan penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar minyak atsiri berdasarkan variasi waktu yang didapat dari destilasi lada hitam dan menentukan kadar airnya. Sampel lada hitam didapat dari Pajak Sore Padang Bulan Medan. Minyak atsiri dan kadar air dari lada hitam didapat dengan menggunakan metode destilasi di laboratorium Minyak Nabati dan Rempah-Rempah UPTD. Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri yang diperiksa memiliki kadar minyak atsiri yang berbeda, dengan variasi waktu 4 jam memiliki kadar minyak atsiri 2,28%, 6 jam memiliki kadar minyak atsiri 2,57% dan 8 jam memiliki kadar minyak atsiri 2,85%. Sedangkan untuk kadar air lada hitam memiliki kadar 13,2%. Dari data yang diperoleh menunjukkan kadar minyak atsiri lada hitam berdasarkan variasi waktu 4,6,dan 8 jam tidak terlalu signifikan. Sehingga untuk efisiensi waktu dapat gunakan waktu 6 jam sesuai dengan prosedur SNI 01-0005-1995. Dari hasil analisa juga menunjukkan kadar air pada lada hitam masih memenuhi SNI 01-0005-1995.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects