Top PDF Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansi Di Bojonegoro Dengan 15% Fly Ash Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Berpola Single Square Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansi Di Bojonegoro Dengan 15% Fly Ash Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Berpola Single Square Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansi Di Bojonegoro Dengan 15% Fly Ash Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Berpola Single Square Terhadap Daya Dukung Tanah

Tanah lempung ekspansif merupakan tanah yang memiliki daya dukung tanah yang rendah, oleh karena itu diperlukan suatu upaya stabilisasi agar nilai daya dukungnya meningkat sehingga dapat digunakan sebagai tanah dasar dalam suatu konstuksi. Dari hasil pengujian mekanis dan plastisitas tanah diketahui bahwa tanah di daerah Bojonegoro merupakan tanah lempung ekspansif. Maka dari itu, diperlukan adanya upaya stabilisasi agar daya dukung tanah tersebut meningkat. Upaya stabilisasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah pencampuran bahan aditif berupa fly ash dengan menggunakan metode deep soil mixing (DSM). Dalam penelitian ini digunakan kotak berukuran 50 x 50 x 50 cm dengan pelat pembebanan (B) seluas 5 x 5 cm serta menggunakan diameter kolom (D) sebesar 2 cm. Kadar fly ash yang digunakan sebesar 15%. Pengujian beban dilakukan pada tanah asli dan tanah yang sudah distabilisasi dengan variasi jarak antar kolom (1D, 2D, dan 3D) dan panjang kolom DSM (1B, 2B, dan 3B ) dengan waktu perawatan selama 4 hari. Dari hasil penelitian, didapatkan variasi jarak antar kolom dan panjang kolom memiliki pengaruh terhadap peningkatan daya dukung tanah. Jarak antar kolom yang semakin besar akan mengurangi peningkatan daya dukung tanah. Sedangkan, panjang kolom yang semakin besar akan meningkatkan daya dukung tanah. Variasi jarak antar kolom memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan daya dukung tanah dibandingkan variasi panjang kolom. Dari rasio volume tanah yang terstabilisasi, didapatkan bahwa nilai pengembangan pada tanah juga menurun.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perbaikan Tanah Ekspansif Dengan Metode Dsm Pola Single Square Menggunakan Penambahan Kapur Variasi Kedalaman Dan Jarak (D = 4 Cm) Terhadap Daya Dukung Dan Pengembangan

Perbaikan Tanah Ekspansif Dengan Metode Dsm Pola Single Square Menggunakan Penambahan Kapur Variasi Kedalaman Dan Jarak (D = 4 Cm) Terhadap Daya Dukung Dan Pengembangan

Tanah dengan kembang susut tinggi banyak ditemukan di Indonesia dan biasa disebut dengan tanah lempung ekspansif. Tingginya kadar air menyebabkan tanah ini mengembang dan rendahnya kadar air menyebabkan tanah ini menyusut. Konstruksi bangunan yang berada di atas tanah lempung ekspansif memiliki daya dukung rendah dan nilai swelling tinggi. Melihat banyaknya kasus serupa, maka diperlukan stabilisasi tanah lempung ekspansif untuk meningkatkan daya dukung dan mereduksi swelling. Penelitian dilakukan menggunakan metode DSM dengan variasi kedalaman dan jarak pola single square menggunakan 8% kadar kapur. Hasil dari analisis dan pembahasan pada penelitian yang dilakukan mampu meningkatkan nilai daya dukung dan mereduksi nilai swelling tanah. Variasi jarak dan kedalaman kolom memiliki pengaruh terhadap peningkatan nilai daya dukung tanah terhadap tanah asli. Semakin kecil jarak antar kolom dan semakin dalam kolom DSM, maka nilai daya dukung yang dihasilkan semakin mengingkat. Berdasarkan analisis BCI jarak (L) = 1D (4 cm) dan panjang kolom (Df) = 4B (20 cm) mengalami peningkatan daya dukung terbesar, yaitu 186,15% dari tanah asli. Semakin besar rasio perbaikan, maka semakin kecil nilai swelling yang didapatkan. Rasio terbesar dengan variasi jarak (L) = 1D (4 cm) dan panjang kolom (Df) = 4B (20 cm) memiliki nilai pengembangan 0,53% dan mereduksi 90,64% dari pengembangan tanah asli. Kata kunci : tanah lempung ekspansif, stabilisasi tanah, deep soil mixing, daya dukung, swelling
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Kapur Metode Deep Soil Mixing (Dsm) Berpola Panels Dengan Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Diameter 4 Cm

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Kapur Metode Deep Soil Mixing (Dsm) Berpola Panels Dengan Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Diameter 4 Cm

Penelitian mengenai penambahan kapur pada tanah lempung ekspansif terhadap swelling dan kekuatan tanah di Bojonegoro pernah dilakukan oleh (Ranggaesa, R. A. 2016). Penelitian tersebut menggunakan campuran kapur dengan kadar 6%, 8%, 9%, dan 10%. Hasil penelitian pencampuran dengan variasi kadar kapur tersebut menghasilkan penurunan pada swelling. Sedangkan dengan penambahan kapur dapat meningkatan nilai OMC dan CBR. Nilai CBR terbesar yaitu pada penambahan 8% kapur dalam kondisi terendam (soaked) maupun tanpa perendaman (unsoaked). Nilai CBR tanah asli tanpa perendaman yaitu 14,76% dan meningkat menjadi 22,52%. Sedangkan nilai CBR dengan perendaman yaitu 4,66% dan meningkat menjadi 12,04%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan kadar kapur yang terlalu besar akan menurunkan nilai CBR.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH JARAK DAN PANJANG DEEP SOIL MIXING BERPOLA TRIANGULAR TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH EKSPANSIF  (The Effect Spacing and Length of Deep Soil Mixing by Using Triangular Configuration on The Bearing Capacity of Expansive Soil)

PENGARUH JARAK DAN PANJANG DEEP SOIL MIXING BERPOLA TRIANGULAR TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH EKSPANSIF (The Effect Spacing and Length of Deep Soil Mixing by Using Triangular Configuration on The Bearing Capacity of Expansive Soil)

Tanah ekspansif adalah tanah yang mempunyai perilaku kembang susut akibat adanya perubahan kadar air. Dalam penelitian ini menggunakan metode deep soil mixing (DSM) berpola triangular. Metode deep soil mixing merupakan metode pencampuran dengan bahan additive untuk meningkatkan stabilitas tanah. Dari hasil uji klasifikasi tanah, tanah di Kabupaten Bojonegoro termasuk jenis tanah ekspansif. Variasi Jarak antar kolom yang digunakan yaitu 1D, 1,25D dan 1,5D, dimana D adalah diameter kolom 3cm. Sedangkan variasi panjang kolom adalah 2B, 3B dan 4B, dimana B adalah lebar plat pondasi. Hasil dari stabilisasi tanah ekspansif menggunakan metode deep soil mixing berpola triangular diameter kolom 3 cm menunjukkan bahwa jarak dan panjang kolom maksimum adalah jarak antar kolom 1D dan panjang kolom 4B dengan peningkatan nilai daya dukung tanah hingga 281%. Selain itu, persentase tanah yang distabilisasi sebesar 91,2% mampu menurunkan pengembangan dari tanah asli sebesar 3,36%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa stabilisasi 10% kapur dengan metode DSM berpola triangular dapat meningkatkan daya dukung tanah dan mampu mengurangi potensi pengembangan seiring dengan meningkatnya volume tanah yang distabilisasi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Metode Deep Soil Mix Tipe Panels Diameter 2 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Metode Deep Soil Mix Tipe Panels Diameter 2 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah

Gambar 16 Grafik Prosentase Stabilisasi Terhadap Nilai Swelling Sumber: Rahmawati (2015) Dari Gambar 16, dapat diketahui bahwa nilai swelling mengalami penurunan seiring dengan bertambahanya prosentase tanah yang distabilisasi kolom DSM. Hal ini terjadi karena adanya reakasi pozzolanic yang ditimbulkan oleh fly ash yang semakin memperkuat ikatan antar butiran tanah sehingga penyerapan air yang terjadi menjadi lebih sedikit. Tanah yang distabilisasi kolom DSM dengan panjang 15 cm memberikan nilai swelling yang paling kecil yaitu sebesar 3,127% dan menurun sebesar 24,326% dari tanah sebelum distabilisasi. Dengan demikian, panjang kolom yang paling besar memberikan pengaruh paling besar terhadap penurunan nilai swelling.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Dengan Dsm Berpola Triangular Dengan Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Diameter 4 Cm Menggunakan Kapur

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Dengan Dsm Berpola Triangular Dengan Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Diameter 4 Cm Menggunakan Kapur

Perilaku kembang susut ini disebut dengan swelling, nilai swelling yang tinggi menunjukan terjadi perubahan volume yang tinggi, semakin tinggi nilai swelling semakin tinggi kemungkina terjadi keruntuhan pada struktur yang berada diatas, hal ini yang menjadikan semakin nilai swelling yang tinggi semakin menyulitkan pada bidang konstruksi. Perilaku ini dimiliki oleh tanah lempung ekspansif yang memiliki nilai swelling yang tinggi namun memiliki nilai daya dukung yang kecil. Hal ini yang menjadi latar belakang penelitian tentang ³3HQJDUXK 9DULDVL -DUDN GDQ 3DQDMDQJ Kolom Stabilisasi Tanah Ekspansif dengan Kadar Kapur 8% Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Tipe Triangular Berdiameter 4 cm Terhadap Nilai Daya 'XNXQJ 7DQDK´ SHQHOLWLDQ LQL dimaksutkan sebagai penelitian lanjutan, tentang pengaruh stabilisasi tanah lempung ekspansif di daerah Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dengan campuran zat kapur menggunakan metode
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Deep Soil Mixing (Dsm) 10% Kapur Diameter 5 Cm Berpola Triangular Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif Di Bojonegoro

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Deep Soil Mixing (Dsm) 10% Kapur Diameter 5 Cm Berpola Triangular Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif Di Bojonegoro

Permasalahan pada tanah lempung ekspansif dapat diatasi dengan cara mengurangi sifat kembang susutnya, di antaranya dapat dilakukan dengan menggunakan metode stabilitas tanah mekanik dan kimiawi. Pada penelitian ini digunakan metode stabilitas kimiawi, yaitu dengan cara mencampurkan bahan additive pada tanah tersebut. Fungsinya adalah untuk mengurangi sifat kembang susut tanah dan untuk meningkatkan daya dukung tanah. Pada penelitian ini digunakan kapur sebagai bahan additive pada tanah lempung ekspansif. Mekanisme dasar stabilisasi tanah dengan penambahan kapur adalah adanya ikatan ion Ca, Mg, dan Na yang dapat menyebabkan bertambahnya ikatan antara partikel tanah, sehingga terjadi proses sementasi (antara kapur dan tanah serta meningktakan kekuatan geser atau daya dukung tanah). Sebagai contoh penelitian yang dilakukan oleh Warsiti (2009) tentang perbaikan tanah lempung di daerah Sendang Mulyo yang dicampur dengan 10% kapur terbukti
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Dengan Diameter 5cm Pada Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansif Menggunakanmetode Dsm Berpola Triangular Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Dengan Diameter 5cm Pada Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansif Menggunakanmetode Dsm Berpola Triangular Terhadap Daya Dukung Tanah

Pada penelitian ini dilakukan perbaikan tanah lempung ekspansif dengan menggunakan metode deep soil mixing berpola triangular dengan diameter kolom 5 cm yang bertujuan untuk meningkatkan nilai daya dukung. Metode deep soil mixing merupakan metode pencampuran dengan bahan aditif pada tanah untuk meningkatkan stabilitas tanah. Jenis aditif yang digunakan dalam penelitian ini adalah fly ash hal ini dikarenakan penambahan fly ash pada tanah ekspansif mampu meningkatkan daya dukung tanah. Pada penelitian ini digunakan 9 variasi jarak dan kedalaman kolom berupa variasi jarak antar kolom (5; 6,25; 7,5 cm) dan variasi kedalaman kolom (5; 10; 15 cm).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Menggunakan Kapur Dengan Deep Soil Mixing Berpola Triangular Pada Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Berdiameter 4,8 Cm

Perubahan Daya Dukung Dan Pengembangan Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Menggunakan Kapur Dengan Deep Soil Mixing Berpola Triangular Pada Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Berdiameter 4,8 Cm

Tanah sebagai pendukung struktur diatasnya harus memiliki kekuatan yang cukup sehingga dapat menghindari terjadinya kegagalan/ keruntuhan konstruksi khususnya pada fondasi. Daerah Jawa Timur khususnya Kabupaten Bojonegoro banyak dijumpai jenis tanah lempung ekspansif, dengan kondisi tanah yang mudah mengembang ataupun susut, pengaruh cuaca berperan besar dalam menentukan kondisi dan kekuatan tanah, akibatnya tanah tidak stabil dan kurang cocok untuk mendukung konstruksi dengan beban yang besar, misalnya jalan raya dan bangunan gedung.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Deep Soil Mixing (Dsm) Tipe Panels Dengan Campuran 10% Kapur Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Deep Soil Mixing (Dsm) Tipe Panels Dengan Campuran 10% Kapur Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif

Tanah ekspansif merupakan jenis tanah yang memiliki kembang susut tinggi dan daya dukung rendah. Untuk memperbaiki sifat buruk pada tanah ekspansif dilakukan upaya stabilisasi mekanik maupun kimiawi. Penelitian ini menggunakan stabilitas kimiawi, dengan cara mencampurkan bahan additive (kapur) pada tanah menggunakan metode deep soil mix (DSM). Metode ini merupakan upaya perbaikan tanah dalam yang dilakukan dengan cara membuat kolom-kolom tanah dengan campuran bahan kapur pada lokasi tanah yang diperbaiki. Dari hasil uji klasifikasi tanah dan uji kosistensi tanah, tanah dari Desa Jelu, Kec. Ngasem, Kab.Bojonegoro, tergolong tanah ekspansif sehingga diperlukan upaya stabilisasi tanah. Penelitian ini dilakukan dengan cara membuat sampel tanah asli di dalam box dengan volume tanah 30x30x20 cm3. Pada pengujian tanah Stabilisasi diberikan kolom berdiameter3cm dengan variasi jarak (3cm; 3,75cm dan 4,5cm) dan panjang (10cm, 15cm dan 20cm) berpola panels. Uji pembebanan dilakukan pada tanah asli dan tanah stabilisasi. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa semakin dekat jarak dan semakin panjang kedalaman kolom dapat meningkatkan daya dukung tanah. Berdasarkan Nilai Bearing Capacity Improvement (BCI), Hasil daya dukung maksimum terjadi pada jarak terdekat (L= 3cm) dan panjang terpanjang (Df= 20cm), daya dukung meningkat 200,301% dari tanah asli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh jarak terlihat lebih dominan dibanding pengaruh panjang, dibuktikan dengan rata- rata peningkatan BCI jarak lebih tinggi dibanding rata-rata peningkatan BCI panjang. Selain itu, kenaikan rasio volume DSM dalam tanah dapat mengurangi potensi pengembangan (swelling).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Dengan Diameter 4 Cm Pada Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansif Menggunakan Metode Dsm Berpola Single Square Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Dengan Diameter 4 Cm Pada Stabilisasi Tanah Lempung Ekspansif Menggunakan Metode Dsm Berpola Single Square Terhadap Daya Dukung Tanah

Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi jarak antar kolom dan panjang kolom stabilisasi tanah ekspansif dengan metode Deep Soil Mix (DSM) terhadap nilai daya dukung tanah. Berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan, yaitu pemodelan fisik tanah ekspansif yang distabilisasi dengan kolom DSM 15% fly ash dengan variabel bebas jarak antar kolom dan panjang kolom serta variabel terikat daya dukung dan penurunan tanah, didapatkan hasil bahwa variasi jarak antar kolom dan panjang kolom sangat berpengaruh terhadap nilai daya dukung tanah. Dalam penelitian ini tidak ditinjau lebih lanjut perhitungan secara numerik, sehingga hasil yang diperoleh adalah hasil pembacaan dari eksperimen di laboratorium.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Metode Deep Soil Mix Tipe Single Square Diameter 3 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah

Pengaruh Variasi Jarak Dan Panjang Kolom Stabilisasi Tanah Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Metode Deep Soil Mix Tipe Single Square Diameter 3 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah

Tanah lempung ekspansif merupakan tanah dengan sifat kembang susut yang tinggi akibat dari perubahan kadar air pada tanah. Jika kadar air pada tanah bertambah, tanah lempung ekspansif akan mengembang disertai dengan kenaikan tekanan air pori dan tekanan pengembangannya. Sebaliknya, jika kadar air turun tanah lempung ekspansif akan mengalami penyusutan yang cukup tinggi. Besarnya pengembangan dan penyusutan tidak merata dari satu titik ke titik lainnya sehingga menyebabkan timbul perbedaan ketinggian pada permukaan tanah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Deep Soil Mix Tipe Single Square Diameter 3 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif

Pengaruh Jarak Dan Panjang Kolom Deep Soil Mix Tipe Single Square Diameter 3 Cm Terhadap Daya Dukung Tanah Ekspansif

Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah yang terdeteksi mengandung tanah ekspansif. Tanah jenis ini memiliki daya dukung rendah serta potensi kembang susut yang sangat tinggi sehingga dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur di atasnya. Untuk itu perlu dilakukan stabilisasi tanah untuk memperbaiki sifat tanah dengan penambahan bahan stabilisasi berupa kapur. Kadar kapur yang digunakan sebesar 10% dengan metode Deep Soil Mix (DSM). DSM merupakan upaya perbaikan tanah dengan cara membuat kolom-kolom tanah yang dicampur dengan kapur. Pemodelan benda uji menggunakan kolom DSM berdiameter 3 cm berpola Single Square dilakukan di dalam
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERUBAHAN DAYA DUKUNG DAN PENGEMBANGAN TANAH EKSPANSIF AKIBAT STABILISASI MENGGUNAKAN KAPUR DENGAN DEEP SOIL MIXING BERPOLA TRIANGULAR

PERUBAHAN DAYA DUKUNG DAN PENGEMBANGAN TANAH EKSPANSIF AKIBAT STABILISASI MENGGUNAKAN KAPUR DENGAN DEEP SOIL MIXING BERPOLA TRIANGULAR

Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah di Indonesia dimana sering dijumpai tanah ekspansif. Tanah ekspansif merupakan jenis tanah lempung yang memiliki sifat kembang-susut yang tinggi, hal ini menyebabkan kekuatan dan stabilitas tanah ekspansif sangat bergantung pada kadar air dalam tanah yang dipengaruhi oleh cuaca. Sebagai pendukung konstruksi, terutama konstruksi jalan raya, tanah ekspansif memerlukan penanganan khusus, salah satunya stabilisasi kimia dengan bahan aditif kapur. Dalam penelitian ini, perbaikan tanah ekspansif berupa stabilisasi kimia akan dilakukan pada pemodelan laboratorium dengan metode deep soil mixing, pemilihan metode deep soil mixing didasarkan atas kondisi tanah ekspansif di Kabupaten Bojonegoro yang memiliki tebal lapisan lebih dari 1,5 m. Stabilisasi tanah ekspansif dilakukan dengan penambahan kapur sebesar 8% dan kolom stabilisasi dibuat pada beberapa variasi jarak dan panjang. Dengan metode deep soil mixing, hasil stabilisasi tanah ekspansif menunjukan bahwa penambahan kapur 8% cukup efektif untuk meningkatkan daya dukung tanah ekspansif hingga 192,56% serta mengurangi pengembangan tanah hingga 96,54%. Pada pola kolom triangular dengan diameter 4,8 cm, jarak kolom memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibanding panjang kolom, dengan stabilisasi kimia metode deep soil mixing, konfigurasi jarak kolom 1D (4,8 cm) dengan panjang kolom 15 cm cukup untuk memenuhi kriteria pengembangan (heave) yang diizinkan yaitu 0,8%. Kata kunci: tanah ekspansif, deep soil mixing, daya dukung, pengembangan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU PEMERAMAN TERHADAP DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LEMPUNG BERPASIR MENGGUNAKAN TX-300

PENGARUH WAKTU PEMERAMAN TERHADAP DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LEMPUNG BERPASIR MENGGUNAKAN TX-300

Fase air yang berada di dalam struktur tanah lempung adalah air yang tidak murni secara kimiawi. Pada pengujian di laboratorium untuk batas Atterberg, ASTM menentukan bahwa air suling ditambahkan sesuai dengan keperluan. Pemakaian air suling yang relatif bebas ion dapat membuat hasil yang cukup berbeda dari apa yang didapatkan dari tanah di lapangan dengan air yang telah terkontaminasi. Air berfungsi sebagai penentu sifat plastisitas dari lempung. Satu molekul air memiliki muatan positif dan muatan negatif pada ujung yang berbeda (dipolar).Fenomena hanya terjadi pada air yang molekulnya dipolar dan tidak terjadi pada cairan yang tidak dipolar seperti karbon tetrakolrida (CCl4) yang jika dicampur lempung tidak akan terjadi apapun.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK DARI Ds. JONO Kec. TANON Kab. SRAGEN MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGAN VARIASI  Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Dari Ds. Jono Kec. Tanon Kab. Sragen Menggunakan Kolom Kapur Dengan Variasi Jarak Pengambilan Sampel.

STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK DARI Ds. JONO Kec. TANON Kab. SRAGEN MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGAN VARIASI Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Dari Ds. Jono Kec. Tanon Kab. Sragen Menggunakan Kolom Kapur Dengan Variasi Jarak Pengambilan Sampel.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji dan syukur penulis selalu panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan segala berkah, nikmat, taufik, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK DARI Ds. JONO Kec. TANON Kab. SRAGEN MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGA VARIASI JARAK PENGAMBILAN SAMPEL”. Penyusunan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini pula dengan penuh kerendahan hati, ketulusan dan rasa hutang budi, penyusun ucapkan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang memberikan semangat untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Tidak lupa penyusun ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang sebesar – besarnya kepada :
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK DARI Ds. JONO Kec. TANON Kab. SRAGEN MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGAN VARIASI  Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Dari Ds. Jono Kec. Tanon Kab. Sragen Menggunakan Kolom Kapur Dengan Variasi Jarak Pengambilan Sampel.

STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK DARI Ds. JONO Kec. TANON Kab. SRAGEN MENGGUNAKAN KOLOM KAPUR DENGAN VARIASI Stabilisasi Tanah Lempung Lunak Dari Ds. Jono Kec. Tanon Kab. Sragen Menggunakan Kolom Kapur Dengan Variasi Jarak Pengambilan Sampel.

Tanah retak-retak, bergelombang serta badan jalan yang mengalami penurunan yang signifikan adalah merupakan beberapa contoh permasalahan yang muncul untuk kondisi tanah di Desa Jono Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen. Berdasarkan penelitian Amin (2010), tanah di desa Jono Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen diketahui memiliki batas cair sebesar 75,9%, Batas Plastis 22,5% serta batas susut 14,286% sehingga dapat disimpulkan tanah ini merupakan tanah lempung kohesif dengan plastisitas tinggi karena memiliki indek plastisitas sebesar 53,4%. Menurut penelitian Sulistio (2011), tanah Tanon memiliki Compression index (Cc) sebesar 0,2 dan Coefficient of Consolidation (Cv) 0,0064 cm 2 /dt serta Settelment of Consolidation (Sc) 0,44 cm.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK MENGGUNAKAN TX-300

PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP DAYA DUKUNG STABILISASI TANAH LEMPUNG LUNAK MENGGUNAKAN TX-300

Apabila mineral lempung terkontaminasi dengan substansi yang tidak mempunyai bentuk tertentu atau tidak berkristal (amophus) maka daya negatif, ion-ion H + di dalam air, gaya Van der Waals, dan partikel berukuran kecil akan bersama-sama tertarik dan bersinggungan atau bertabrakan di dalam larutan tanah dan air. Beberapa partikel yang tertarik akan membentuk flok (flock) yang berorientasi secara acak, atau struktur yang berukuran lebih besar akan turun dari larutan itu dengan cepatnya dan membentuk sendimen yang sangat lepas. Flokulasi larutan dapat dinetralisir dengan menambahkan bahan-bahan yang mengandung asam (ion H + ), sedangkan penambahan bahan-bahan alkali akan mempercepat flokulasi. Lempung yang baru saja berflokulasi dengan mudah tersebar kembali dalam larutan semula apabila digoncangkan, tetapi apabila telah lama terpisah penyebarannya menjadi lebih sukar karena adanya gejala thiksotropic, dimana kekuatan didapatkan dari lamanya waktu.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Perubahan Perilaku Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Pola Panels Dengan Kapur 8%

Perubahan Perilaku Tanah Ekspansif Akibat Stabilisasi Menggunakan Metode Deep Soil Mixing Pola Panels Dengan Kapur 8%

Setelah dilakukan stabilisasi menggunakan metode DSM berpola panels dengan kapur 8%, perilaku tanah ekpansif di Bojonegoro mengalami perubahan yang signifikan. Daya dukung terbesar mencapai 38,4 kg/cm 2 terjadi pada variasi kedalaman 20 cm dengan jarak kolom 4,8 cm dan nilai pengembangan terkecil mencapai 0,55% pada variasi kedalaman dengan jarak kolom yang sama, yaitu kedalaman 20 cm dengan jarak kolom 4,8 cm. Variasi jarak dan kedalaman kolom dengan pola panels berdiameter 4,8 cm memberikan nilai daya dukung yang memenuhi untuk struktur perkerasan jalan raya. Sedangkan variasi jarak kolom (L) = 4,8 cm dan (L) = 6 cm dengan variasi kedalaman kolom (Df) = 20 cm memberikan nilai izin swelling untuk struktur perkerasan jalan raya dengan nilai 0,55% dan 0,8%.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI JARAK KOLOM KAPUR DALAM STABILISASI LEMPUNG LUNAK PADA TINJAUAN NILAI INDEK PEMAMPATAN (Cc) TANAH

PENGARUH VARIASI JARAK KOLOM KAPUR DALAM STABILISASI LEMPUNG LUNAK PADA TINJAUAN NILAI INDEK PEMAMPATAN (Cc) TANAH

A lot of building that located in north area of Java Island got settlement problem. The settlement caused by a lot of soil in the area included in soft clay soil classification. The behaviors of this soil are having large value of coefficient compression (Cc) and small value of bearing capacity. This condition causes soft clay soil potentially got large consolidation settlement. In this research, limes column stabilization method will be applied to make soft clay soil better. Limes columns were expected reduce Cc value so consolidation settlement decreased too. This research was conducted through experimental in laboratory, with box that have 100 cm in lengths, 40 cm in wide, and this height is 40 cm. Three variations of diameters (5 cm, 10 cm, 15 cm) and three variations of distance of sample taking from outside of the limes column mould (10 cm, 20 cm, 30 cm) was applied in this research. Influence of limes column to the value of Cc would be examined. The result of this research shown that limes column could reduce of Cc in significant value. The Cc value will decrease within decreasing of the distance of sample taking place. The average of decreasing value of Cc on three variation distance of column (10 cm, 20 cm, 30 cm) respectively are 17.28%, 44.97%, 52.24%. The most efficient distance of the limes column is approximately 20 cm. Keyword : soft clay, index compression, limes column
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects