Top PDF PENGARUH PENAMBAHAN ASPAL TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL ASPAL BETON HASIL DAUR ULANG

PENGARUH PENAMBAHAN ASPAL TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL ASPAL BETON HASIL DAUR ULANG

PENGARUH PENAMBAHAN ASPAL TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL ASPAL BETON HASIL DAUR ULANG

Volume dan beban kendaraan cenderung terus bertambah sehingga diperlukan suatu inovasi dalam bidang pemeliharaan jalan guna mempertahankan atau menambah umur rencana jalan dalam melayanani beban lalu-lintas. Disadari bahwa dibutuhkan infrastruktur yang kuat untuk menyehatkan ekonomi dan jalan yang baik merupakan bagian yang sangat vital dari infrastruktur ini. Jika dana tidak mencukupi maka metode rehabilitasi jalan yang lebih efektif dan efisien harus didapatkan. Peningkatan jalan dengan cara penambahan lapis tambahan yang terus menerus akan mengakibatkan tebal lapis perkerasan semakin tebal dan bahan yang diperlukan semakin menipis.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KORELASI ANTARA PENAMBAHAN ASPAL MINYAK PADA CAMPURAN PERKERASAN ASPAL BETON HASIL DAUR ULANG TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL. Alik Ansyori Alamsyah

KORELASI ANTARA PENAMBAHAN ASPAL MINYAK PADA CAMPURAN PERKERASAN ASPAL BETON HASIL DAUR ULANG TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL. Alik Ansyori Alamsyah

Material bekas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari bahan garukan lapis permukaan di Jl. Kolonel Sugiono Malang. Aspal baru sebagai tambahan adalah aspal keras penetrasi 60/80. Pemeriksaan sisa kadar aspal pada campuran bekas dilakukan dengan menggunakan alat ekstraksi centrifugal dengan menggunakan bensin sebagai bahan pelarut nya. Sebelumnya sampel dibersihkan terlebih dahulu dari debu dan kotoran yang mungkin melekat. Setelah itu sampel di oven pada suhu 110ÚC hingga mencapai berat tetap, lalu ditimbang dan dimasukkan ke dalam alat ekstraktor. Agregat yang telah bersih dari aspal kemudian disaring dengan suatu set saringan sesuai dengan spesifikasi. Agregat hasil ekstraksi kemudian dilakukan pemeriksaan sifat-sifat fisiknya. Aspal baru juga diperiksa sifat-sifat fisiknya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Korelasi Antara Temperatur Pemadatan Pada Campuran Aspal Beton Hasil Daur Ulang Terhadap Stabilitas Marshall

Korelasi Antara Temperatur Pemadatan Pada Campuran Aspal Beton Hasil Daur Ulang Terhadap Stabilitas Marshall

Peningkatan jalan dengan cara penambahan lapis tambahan yang terus menerus akan mengakibatkan tebal lapis perkerasan semakin tebal dan bahan yang diperlukan semakin menipis. Disamping itu dengan banyaknya campuran perkerasan dari hasil pengerukan jalan yang sudah tidak terpakai menambah tumpukan limbah dibeberapa tempat. Dengan penanganan yang menggunakan teknologi daur ulang perkerasan (recycling) merupakan suatu alternatif untuk mengatasi masalah ini karena memiliki beberapa keuntungan seperti dapat mengembalikan kekuatan perkerasan dan mempertahankan geometrik jalan serta mengatasi ketergantungan akan material baru. Penambahan bahan baru dan atau bahan tambahan pada material bekas garukan perkerasan lama merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan daya dukung dari material bekas garukan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jalan Raya Universitas Muhammadiyah Malang. Kualitas campuran aspal beton hasil daur ulang dengan penambahan aspal baru dapat diketahui melalui hasil uji Marshall (stabilitas, kelelehan plastis, hasil bagi marshall, serta rongga dalam campuran). Aspal yang digunakan adalah aspal dengan penetrasi 80/100 sedang variasi temperatur yang akan digunakan adalah 130 °C, 120 °C, 110 °C, 100 °C, 90 °C dan 80 °C . Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa penurunan temperatur pemadatan akan berakibat turunnya stabilitas, Marshal Quotient untuk seluruh kadar aspal. Untuk nilai Flow pada temperatur pemadatan 130 °C – 80 °C menunjukkan peningkatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Studi Perbandingan Parameter Marshall Beton Aspal Standar Dengan Beton Aspal Hasil Pemanasan Ulang.

Studi Perbandingan Parameter Marshall Beton Aspal Standar Dengan Beton Aspal Hasil Pemanasan Ulang.

Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses pemanasan ulang campuran aspal (pemanasan kembali) terhadap stabilitas parameter Marshall yang disyaratkan, dengan melakukan pengujian Marshall pada benda uji dengan proses pendinginan dan yang telah dipanaskan kembali dan membandingkan stabilitas Marshall pada benda uji tersebut dengan stabilitas benda uji dalam kondisi normal.

17 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN HASIL PENGUPASAN ASPAL UNTUK DAUR ULANG CAMPURAN BETON ASPAL

PEMANFAATAN HASIL PENGUPASAN ASPAL UNTUK DAUR ULANG CAMPURAN BETON ASPAL

Salah satu untuk memelihara dan merehabilitasi jalan-jalan yang rusak adalah dengan memberi satu lapis perkerasan baru (overlay) di atas perkerasan lama. Namun cara ini memerlukan bahan jalan (agregat dan aspal) yang banyak sehingga perkerasan jalan lama menjadi tidak terpakai. Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan salah satu metode perbaikan perkerasan jalan yang memanfaatkan bahan perkerasan lama didaur ulang, untuk dipakai sebagai bahan perkerasan baru, untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik campuran beton aspal panas sebagai hasil daur ulang dari perkerasan lama dan untuk menentukan kadar aspal optimum pada campuran beton aspal panas hasil daur ulang dari perkerasan lama. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi kadar aspal 5,0; 5;5; 6,0; 6,5; dan 7% sedangkan variasi penambahan kadar aspal 0.0, 0.25, 0.50, 0.75 dan 1.0% terhadap bongkahan beton aspal. Hasil penelitian kinerja campuran beton aspal daur ulang (RAP) dan campuran standar menunjukkan bahwa Kepadatan, persentase rongga terhadap agregat (VMA), stabilitas, kelelehan, marshall quotient Persentase rongga terhadap campuran (VIM) dan Persentase rongga terisi aspal (VFB) memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010, dengan Kadar Aspal Optimum yang didapatkan dari uji Marshall RAP dan campuran standar masing-masing sebesar 6,79% dan 6,9%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN HASIL PENGUPASAN ASPAL UNTUK DAUR ULANG CAMPURAN BETON ASPAL

PEMANFAATAN HASIL PENGUPASAN ASPAL UNTUK DAUR ULANG CAMPURAN BETON ASPAL

Salah satu untuk memelihara dan merehabilitasi jalan-jalan yang rusak adalah dengan memberi satu lapis perkerasan baru (overlay) di atas perkerasan lama. Namun cara ini memerlukan bahan jalan (agregat dan aspal) yang banyak sehingga perkerasan jalan lama menjadi tidak terpakai. Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan salah satu metode perbaikan perkerasan jalan yang memanfaatkan bahan perkerasan lama didaur ulang, untuk dipakai sebagai bahan perkerasan baru, untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik campuran beton aspal panas sebagai hasil daur ulang dari perkerasan lama dan untuk menentukan kadar aspal optimum pada campuran beton aspal panas hasil daur ulang dari perkerasan lama. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi kadar aspal 5,0; 5;5; 6,0; 6,5; dan 7% sedangkan variasi penambahan kadar aspal 0.0, 0.25, 0.50, 0.75 dan 1.0% terhadap bongkahan beton aspal. Hasil penelitian kinerja campuran beton aspal daur ulang (RAP) dan campuran standar menunjukkan bahwa Kepadatan, persentase rongga terhadap agregat (VMA), stabilitas, kelelehan, marshall quotient Persentase rongga terhadap campuran (VIM) dan Persentase rongga terisi aspal (VFB) memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010, dengan Kadar Aspal Optimum yang didapatkan dari uji Marshall RAP dan campuran standar masing-masing sebesar 6,79% dan 6,9%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN BGA (BUTONITE GRANULARASPHALT) TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPAL BETON (LASTON)

PENGARUH PENAMBAHAN BGA (BUTONITE GRANULARASPHALT) TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPAL BETON (LASTON)

Penentuan kadar aspal optimum yaitu dengan menggunakan 5 variasi 4.7%, 5.7%, 6.7%, 7.7%, 8.7% dimana tiap variasi dibuat 3 sampel dengan berat masing masing 1200 gram. Kadar aspal optimum didapat sebesar 7.15%.benda uji untuk kadar aspal optimum dengan bahan tambah BGA 0.5%, 1%, 1.5%, 2% dan 3% kemudian dibuat benda uji sebanyak 21 buah dengan perincian 3 buah untuk masing-masing variasi.

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Stabilitas Dan Stabilitas Sisa Campuran Beton Aspal Daur Ulang

Karakteristik Stabilitas Dan Stabilitas Sisa Campuran Beton Aspal Daur Ulang

Untuk penelitian ini digunakan bahan peremaja yakni minyak solar. Minyak Solar (Automotive Diesel Oil), merupakan bahan bakar kendaraan bermotor bermesin diesel seperti bis, truk dan bahan bakar industri. Sama seperti jenis bensin, solar juga merupakan hasil pengolahan dari minyak bumi. Karakteristik solar antara lain berwarna gelap dan berbau khas, tidak terlalu mudah menguap dalam temperatur normal, titik bakar bila disulut api pada suhu 40 – 100 derajad celcius. Rentang rantai karbon C21-C30, titik didih 105-135 o C. Sementara flash point (temperatur menyala dengan sendirinya tanpa ada pengaruh api) sekitar 3500 o C. Bila dibandingkan dengan bensin, solar memiliki kandungan belerang yang lebih banyak. Solar pada dasarnya merupakan campuran dari hasil olahan minyak bumi yang disebut juga middle distillates (memiliki berat jenis lebih berat dari bensin namun lebih ringan dari minyak pelumas), dan umumnya tidak memiliki bahan additif tambahan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Polimer Elastomer Terhadap Indeks Penetrasi Aspal Yang Mengandung Aspal Daur Ulang

Pengaruh Penambahan Polimer Elastomer Terhadap Indeks Penetrasi Aspal Yang Mengandung Aspal Daur Ulang

Nilai Indeks Penetrasi (PI) pada aspal, menunjukkan ketahanan aspal tersebut terhadap perubahan temperatur. Penggunaan perkerasan daur ulang (RAP) dalam hal ini aspal daur ulang, tentunya akan menurunkan tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur. Makin rendah tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur, maka makin buruk mutu dari aspal tersebut. Untuk itulah diperlukan modifikasi terhadap aspal daur ulang sehingga dapat memperbaiki tingkat kepekaannya terhadap perubahan temperatur. Dalam penelitian ini digunakan modifikasi aspal dengan tambahan polimer elastomer yaitu polimer Styrene-Butadiene-Styrene (SBS) dengan persentase 2,5% dan 5% terhadap berat aspal. Dan bitumen daur ulang yang digunakan sebesar 30% dan 40% terhadap berat aspal. Dalam menentukan nilai Indeks Penetrasi digunakan berdasarkan persamaan Pfeiffer dan Van Doormall, yang merupakan hubungan antara nilai penetrasi dan titik lembek aspal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai indeks penetrasi tertinggi diberikan oleh campuran dengan kandungan RAP 0% dan SBS 5% yaitu sebesar -0,040. Dari hasil analisa terlihat bahwa penambahan polimer SBS dapat meningkatkan nilai indeks penetrasi (PI) yang berarti dapat menaikkan tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN SERABUT KELAPA TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL

PENGARUH PENAMBAHAN SERABUT KELAPA TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL

2. Roberto C, Sigit P. Hadiwardoyo dari Universitas Indonesia, Depok melakukan Penelitian Jurnal pada tahun 2013 dengan judul “ Pengaruh limbah serabut kelapa untuk ketahanan campuran aspal beton terhadap deformasi alur” Perkerasan lentur merupakan jenis perkerasan yang banyak dipakai di Indonesia. Salah satu kerusakan yang sering terjadi pada perkerasan lentur ialah kerusakan alur roda .Jenis deformasi ini berupa perubahan bentuk permukaan jaan akibat beban roda kendaraan yang melintasi permukaan perkerasan jalan terseut.Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternative campuran beton aspal yang dapat mengurangi terjadi nya deformasi tersebut.Limbah serabut kelapa ditambahkan pada aspal sehingga menjadi aspal berserat. bahan tambah ini berupa serat halus berukuran 0,5 mm – 1,25 mm dicampur dengan aspal pan 60/70 dengan persentase 0% ; 0,75 % dan 1,5% terhadap berat aspal. Aspal berserat ini kemudian dicampur dengan agregat menjadi campuran beton aspal AC-WC kemuadian dilakukan pengujian dengan Wheel Tracking Machine pada suhu 30 ℃ , 45℃ dan 60℃ . Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan limbah serabut kelapa lebih tahan terhadap pengaruh suhu dibandingkan dengan campuran aspal beton tanpa serat. Hasil pengujian marshall dan Wheel Tracking Machine memperlihatkan terjadi nya peningkatan stabilitas dan ketahanan terhadap nilai deformasi pada peresentase limbah serabut kelapa 0.75 % .
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN MATERIAL DAUR ULANG ASPAL BETON UNTUK MATERIAL ASPAL BETON CAMPURAN DINGIN MEMAKAI ASPAL EMULSI

PEMANFAATAN MATERIAL DAUR ULANG ASPAL BETON UNTUK MATERIAL ASPAL BETON CAMPURAN DINGIN MEMAKAI ASPAL EMULSI

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa karakteristik dan sifat-sifat struktural material dari bahan bongkaran aspal beton sesuai hasil pemeriksaan ekstraksi dan abrasi sudah mengalami degradasi dan perubahan konsistensi ukuran butir dan proporsi agregat tapi masih dapat digunakan sebagai material perkerasan jalan dengan menambah agregat baru sebagai peremaja. Sedang karakteristik Marshall perkerasan lentur dengan memakai bahan pokok RAP dengan metode campuran dingin memakai aspal emulsi relatif memenuhi persyaratan, tapi angka porositas terlalu tinggi sehingga perkerasan cenderung bersifat porous. Hasil pengujian menunjukan bahwa kekuatan awal benda uji recycling Gradasi RAP ekstraksi lebih rendah dibandingkan benda uji gradasi RAP tanpa ekstraksi, tapi relatif lebih aman dari resiko terjadinya kerusakan- kerusakan akibat pemakaian aspal yang berlebihan (bleeding, keriting, sungkur, dll). Pemanfaatan material RAP sebagai bahan campuran aspal beton campuran dingin memakai aspal emulsi pada rehabilitasi dan pemeliharaan jalan cukup layak dan memenuhi syarat dengan catatan perlu beberapa koreksi pada JMF agar didapat hasil yang optimum.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN PVC PADA BETON ASPAL  PENGARUH PENAMBAHAN PVC PADA BETON ASPAL.

PENGARUH PENAMBAHAN PVC PADA BETON ASPAL PENGARUH PENAMBAHAN PVC PADA BETON ASPAL.

Pada penelitian ini meninjau pengaruh penambahan PVC pada campuran beton aspal terhadap karakteristik Marshall yang meliputi density , Void Filled With Asphalt (VFWA), Void In The Mix (VITM), stabilitas, flow , dan Marshall Quotient (QM). Penelitian ini menggunakan metode Marshall dengan variasi kadar PVC adalah 0%, 4%, 8%, dan 12% dengan variasi kadar aspal yang digunakan adalah 5%, 5.5%, 6%, 6.5%, dan 7%, setiap campuran dibuat ganda / duplo.

12 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN "LIMBAH KARET BAN LUAR" TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPIS ASPAL BETON (LASTON)

PENGARUH PENAMBAHAN "LIMBAH KARET BAN LUAR" TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPIS ASPAL BETON (LASTON)

1. Tugas akhir ini dengan judul: PENGARUH PENAMBAHAN “ LIMBAH KARET BAN LUAR ” TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPIS ASPAL BETON (LASTON )adalah hasil karya saya, dan dalam naskah tugas akhir ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain unruk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain baik sebagian atau keseluruhan, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

INFRASTRUKTUR PENGARUH PENAMBAHAN POLIMER ELASTOMER TERHADAP INDEKS PENETRASI ASPAL YANG MENGANDUNG ASPAL DAUR ULANG

INFRASTRUKTUR PENGARUH PENAMBAHAN POLIMER ELASTOMER TERHADAP INDEKS PENETRASI ASPAL YANG MENGANDUNG ASPAL DAUR ULANG

ABSTRAK Nilai Indeks Penetrasi (PI) pada aspal, menunjukkan ketahanan aspal tersebut terhadap perubahan temperatur. Penggunaan perkerasan daur ulang (RAP) dalam hal ini aspal daur ulang, tentunya akan menurunkan tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur. Makin rendah tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur, maka makin buruk mutu dari aspal tersebut. Untuk itulah diperlukan modifikasi terhadap aspal daur ulang sehingga dapat memperbaiki tingkat kepekaannya terhadap perubahan temperatur. Dalam penelitian ini digunakan modifikasi aspal dengan tambahan polimer elastomer yaitu polimer Styrene-Butadiene-Styrene (SBS) dengan persentase 2,5% dan 5% terhadap berat aspal. Dan bitumen daur ulang yang digunakan sebesar 30% dan 40% terhadap berat aspal. Dalam menentukan nilai Indeks Penetrasi digunakan berdasarkan persamaan Pfeiffer dan Van Doormall, yang merupakan hubungan antara nilai penetrasi dan titik lembek aspal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai indeks penetrasi tertinggi diberikan oleh campuran dengan kandungan RAP 0% dan SBS 5% yaitu sebesar -0,040. Dari hasil analisa terlihat bahwa penambahan polimer SBS dapat meningkatkan nilai indeks penetrasi (PI) yang berarti dapat menaikkan tingkat ketahanan aspal terhadap perubahan temperatur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN 'LIMBAH KARET BAN DALAM' TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) (Studi Penelitian)

PENGARUH PENAMBAHAN 'LIMBAH KARET BAN DALAM' TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) (Studi Penelitian)

Universitas Muhammadiyah Malang Dengan ini menyatakan dengan sebenar–benarnya bahwa; 1. Tugas akhir ini dengan judul : PENGARUH PENAMBAHN “LIMBAH KARET BAN DALAM“ TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) adalah hasil karya saya, dan dalam naskah tugas akhir ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain unruk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain baik sebagian atau keseluruhan, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

DAMPAK PENAMBAHAN POLIMER TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL

DAMPAK PENAMBAHAN POLIMER TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL

Syntetic Rubber Latex atau getah karet buatan, merupakan salah satu polimer organik yang memperlihatkan resiliensi (daya pegas) atau kemampuan meregang dan kembali ke keadaan semula dengan cepat Bahan ini terdispersi dengan stabil dalam suatu surfaktan yang mengandung air, berwarna putih seperti susu. Pada saat mengering patikelnya bersatu membentuk lapisan film yang berlanjut. Polimer organik adalah suatu bahan yang terdiri atas molekul raksasa yang dibentuk oleh sekumpulan molekul sederhana yang dikenal sebagai monomer dari hasil uji pada campuran panas (hot mix) dengan mencampurkan aspal sebanyak 6.5 % dari berat campuran dan agregat yang telah dipanaskan dalam tempat pemanas, diaduk pada suhu 140⁰ C dan dicampur polimer, lalu dicetak pada suhu 120⁰ C. Persentase polimer yang dimasukkan adalah 10, 15 dan 20 % dari berat aspal. Dari hasil uji marshall menunjukkan semakin tinggi polimer ditambahkan dampaknya adalah nilai flow semakin tinggi, sedangkan nilai stabilitas dan nilai marshall quotient nya semakin rendah..
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN SULFUR PADA MATERIAL BETON ASPAL DAUR ULANG TERHADAP KARAKTERISTIK STABILITAS CAMPURAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PENAMBAHAN SULFUR PADA MATERIAL BETON ASPAL DAUR ULANG TERHADAP KARAKTERISTIK STABILITAS CAMPURAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Dalam dunia konstruksi jalan dikenal beberapa konstruksi jalan. Salah satunya adalah perkersan lentur. Perkerasan lentur merupakan konstruksi yang berbahan utama agregat kasar, agregat halus dan aspal sebagai bahan pengikat. Pada proses pencampuran aspal secara konvensional pada umumnya dikenal Hot Mix Asphalt yang membutuhkan pemanasan yang tinggi agar didapat campuran yang homogen kemudian dihamparkan ke lapangan. Konstruksi perkerasan lentur banyak digunakan karena nyaman dilewati oleh pengendara dan kemudahan dalam proses pembuatan. Tetapi masa layanan, kinerja perkersan jalan akan mengalami penurunan. Pemeliharaan dan rehabilitasi diperlukan untuk meningkatkan layanan. Sepanjang periode pemeliharaan jalan overlay menyebabkan elevasi muka jalan terus bertambah. Cara lain untuk menghemat bahan dan tetap mempertahankan elewasi muka jalan adalah dengan metode daur ulang. Metode daur ulang sangat potensial untuk diterapkan pada kegiatan perbaikan dan pemeliharaan jalan khususnya. Teknik daur ulang ini dilakukan dengan cara menggunakan mesin penggaruk/pengupas lapis permukaan jalan (cold milling) dengan ketebalan tertentu, mengemburkan dan menghamparkannya di atas jalan lama tanpa menambah lapis permukaanya dan dapat meningkatkan nilai struktural jalan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK KAYU JATI TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL PORUS

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK KAYU JATI TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL PORUS

Aspal merupakan material yang digunakan pada pekerjaan perkerasan lentur jalan. Genangan air yang sering terjadi terutama setelah hujan bisa menjadi masalah terhadap ketahanan aspal. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mencegah permasalahan ini adalah penggunaan aspal porus untuk digunakan dalam pekerjaan perkerasan jalan. Aspal porus adalah campuran yang memiliki gradasi agregat kasar lebih banyak dibandingkan dengan agregat halus. Penelitian ini membahas mengenai pengaruh penambahan serbuk kayu jati terhadap nilai Marshall yang ada pada campuran aspal porus. Penggunaan serbuk kayu jati ini juga dapat mengurangi jumlah limbah serbuk kayu yang ada. Variasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah variasi kadar serbuk kayu jati dan variasi suhu perendaman. Variasi kadar serbuk kayu jati sebesar 4%, 5% dan 6% sedangkan variasi suhu perendaman 45ºC, 60ºC dan 75ºC. Jumlah benda uji untuk mencari KAO yang dibuat sebanyak 9 buah benda uji. Benda uji Marshall Immersion sebanyak 9 buah benda uji. Penelitian ini menggunakan metode analisis ANOVA Dua Arah. Hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak ada pengaruh dari penambahan serbuk kayu jati terhadap nilai Marshall pada campuran aspal porus.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisa Karakteristik Campuran Aspal Beton Dengan Filler Yang Berbeda Terhadap Nilai Marshall

Analisa Karakteristik Campuran Aspal Beton Dengan Filler Yang Berbeda Terhadap Nilai Marshall

Kondisi lapis permukaan suatu ruas jalan dengan menggunakan perkerasan lentur memiliki masalah dalam kerusakanya, yang penyebab utamanya berhubungan dengan kualitas bahan pendukungnya antara lain aspal dan agregat. Kerusakan akan cepat terjadi jika perkerasan tersebut mengalami pembebanan secara berlebihan dan pengaruh lingkungan, salah satunya temperatur yang relatif tinggi. Salah satu cara dalam mengatasi kerusakan jalan yang terjadi lebih awal adalah dengan memperbaiki kinerja campuran yaitu memodifikasi dengan cara menggunakan bahan tambah. Dengan nilai penetrasi yang rendah dan temperatur di Indonesia yang cukup tinggi absuton cocok digunakan sebagai bahan tambah. Penelitian sebelumnya menunjukkan dengan penambahan absuton butir dalam campuran mempunyai kecendrungan memperbaiki kinerja lapis perkerasan jalan terhadap pembebanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola hubungan variasi campuran dengan filler batu kapur dengan filler semen portland untuk mengetahui kadar aspal optimum terhadap nilai karakteristik marshall. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilakukan di laboratorium dengan aspal beton campuran filler yang berbeda dengan masing masing 5%,5,5%,6,%,6,5 dan 7%. Benda uji masing masing 20 buah. Pengujian menggunakan marshall test dengan hasil campuran filler semen lah yang lebih baik untuk aspal ketimbang filler batu kapur.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

VARIASI KOMPOSISI GRADASI BATUAN TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL DENGAN UJI MARSHALL

VARIASI KOMPOSISI GRADASI BATUAN TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL DENGAN UJI MARSHALL

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Menurunnya nilai stabilitas, disebabkan dengan semakin bertambahnya jumlah mastik dan turunnya nilai viskositas akibat bertambahnya ukuran butiran agregat kasar, yang pada awalnya turut membantu menaikkan stabilitas, tetapi karena mastiknya terus bertambah dan mulai berlebih, hal ini akan mengakibatkan ikatan antar butiran menjadi lemah, akhirnya menurunkan nilai stabilitas. Sehingga kemampuan agregat untuk menahan beban deformasi yang diberikan berkurang Nilai stabilitas tertinggi pada komposisi V dengan nilai 1764,548 Kg dan batas spesifikasi untuk beton aspal sebesar minimal 800 kg. Marshal Quintent terhadap variasi komposisi agregat kasar nilai Marshall Quotient bertambah akibat adanya penambahan jumlah agregat kasar yaitu pada komposisi I, II, III dan V hal ini mengindikasikan aspal yang melekat dan terabsorsi kedalam agregat mampu memperkuat campuran sehingga tahan terhadap beban deformasi. Pada komposisi agregat kasar IV dan VI nilai Marshall Quotient turun ini disebabkan oleh aspal tidak dapat lagi melekat dipermukaan agregat secara maksimal sehingga kemampuan untuk melawan beban deformasi semakin berkurang. Spesifikasi Density untuk aspal beton 1.8 – 5 Kg/mm.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...