Top PDF Pengaruh Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Perawat Terhadap Penerapan Standar Prosedur Operasional (Spo) Pemasangan Infus Di RS PKU Muhammadiyah Bantul

Pengaruh Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Perawat Terhadap Penerapan Standar Prosedur Operasional (Spo) Pemasangan Infus Di RS PKU Muhammadiyah Bantul

Pengaruh Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Perawat Terhadap Penerapan Standar Prosedur Operasional (Spo) Pemasangan Infus Di RS PKU Muhammadiyah Bantul

Tindakan paling banyak untuk pemasangan infus adalah di Instalasi Gawat darurat. Tindakan pemasangan infus lebih sering dilakukan oleh perawat dan harus sesuai dengan standart prosedur operasional (SPO).Terjadinya kejadian plebitis, bengkak, dan trauma akibat pemasangan infus yang berulang- ulang adalah akibat tindakan pemasangan infus yang tidak mengutamakan patient safety. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan Standar Prosedur Operasional dalam pemasangan infus. Penelitian ini menggunakan penenlitian metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Responden dari penelitian ini adalah perawat yang bekerja di IDG RS PKU Muhammadiyah Bantul. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Alat analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariat. Hasil menunjukkan tingkat pengetahuan perawat sebagian besar dalam kategori baik (80,00%), sikap perawat sebagian besar mempunyai kategori baik (53,33%) dan penerapan SPO pemasangan infus sebagian besar mempunyai kategori telah melaksanakan (53,33%). Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Ada hubungan antara sikap dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Besanya pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan SPO sebesar 53,4% (R square) sedangkan sisanya sebesar 46,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain. Kesimpulannya terdapat pengaruh antara pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan standart prosedur operational (SPO) pemasangan infus di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Sarannya adalah Rumah Sakit hendaknya menyediakan instrumen pemasangan infus sesuai ketentuan serta memperhatikan prinsip keselamatan dan kewaspadaan dalam penerapan SPO pemasangan infus.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PENERAPAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) PEMASANGAN INFUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL | 'Aini | JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit) 967 2768 1 PB

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PENERAPAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) PEMASANGAN INFUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL | 'Aini | JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit) 967 2768 1 PB

Tindakan paling banyak untuk pemasangan infus adalah di Instalasi Gawat darurat. Tindakan pemasangan infus lebih sering dilakukan oleh perawat dan harus sesuai dengan standart prosedur operasional (SPO).Terjadinya kejadian plebitis, bengkak, dan trauma akibat pemasangan infus yang berulang- ulang adalah akibat tindakan pemasangan infus yang tidak mengutamakan patient safety. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan Standar Prosedur Operasional dalam pemasangan infus. Penelitian ini menggunakan penenlitian metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Responden dari penelitian ini adalah perawat yang bekerja di IDG RS PKU Muhammadiyah Bantul. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Alat analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariat. Hasil menunjukkan tingkat pengetahuan perawat sebagian besar dalam kategori baik (80,00%), sikap perawat sebagian besar mempunyai kategori baik (53,33%) dan penerapan SPO pemasangan infus sebagian besar mempunyai kategori telah melaksanakan (53,33%). Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Ada hubungan antara sikap dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Besanya pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan SPO sebesar 53,4% (R square) sedangkan sisanya sebesar 46,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain. Kesimpulannya terdapat pengaruh antara pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan standart prosedur operational (SPO) pemasangan infus di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Sarannya adalah Rumah Sakit hendaknya menyediakan instrumen pemasangan infus sesuai ketentuan serta memperhatikan prinsip keselamatan dan kewaspadaan dalam penerapan SPO pemasangan infus.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Kepatuhan Perawat Dalam Melaksanakan Standar Prosedur Operasional Pemasangan Kateter Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah YOGYAKARTA Unit II

Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Kepatuhan Perawat Dalam Melaksanakan Standar Prosedur Operasional Pemasangan Kateter Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah YOGYAKARTA Unit II

kateter di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II dapat disimpulkan: Perawat yang melaksanakan pemasangan kateter sesuai dengan SPO di rumah sakit sebanyak 22 perawat dengan minimal skor 24, Tidak terdapat pengaruh faktor internal (jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, lama kerja, pengetahuan, dan sikap) terhadap kepatuhan perawat dalam melaksanakan standar prosedur operasional (SPO) pemasangan kateter di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II, Tidak terdapat pengaruh faktor eksternal (lingkungan kerja, karakteristik kelompok dan beban kerja) terhadap kepatuhan perawat dalam melaksanakan standar prosedur operasional (SPO) pemasangan kateter di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan kesimpulan yang diperoleh, maka dapat diberikan saran berupa: (1) Bagi rumah sakit diharapkan perlunya sosialisasi kepada seluruh tenaga kesehatan terutama perawat tentang SPO agar pelayanan kesehatan dirumah sakit semakin meningkat. (2) Perlunya dilakukan evaluasi secara berkala terhadap SPO agar SPO yang ada dapat dipakai secara optimal. (3) Meningkatkan kepatuhan perawat terhadap SPO dengan cara pengevalusian kinerja perawat secara berkala dan rutin. (4) Penambahan jumlah SDM sehingga dapat mengurangi beban kerja pada perawat agar perawat dapat bekerja secara optimal.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EVALUASI KEPATUHAN PELAKSANAAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PEMASANGAN INFUS PADA ANAK DI RS PKU MUHAMMADIYAH UNIT II YOGYAKARTA

EVALUASI KEPATUHAN PELAKSANAAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PEMASANGAN INFUS PADA ANAK DI RS PKU MUHAMMADIYAH UNIT II YOGYAKARTA

Hal ini ditujukan untuk mengurangi tingkat kesalahan saat pemasangan infus sesuai SPO. Disamping itu, perawat secara mandiri selalu berusaha memperbaiki diri sendiri agar patuh terhadap SPO. Sesama perawat saling mengingatkan dan mengevaluasi jika ada yang bertindak tidak sesuai SPO. Semua dilakukan agar penerapan SPO semakin mendekati kesempurnaan. Hal tersebut didukung dengan kalimat : “ Iya mbak, biasanya sebulan sekali ada pelatihan buat perawat tapi kalau itu tidak diimbangi dengan kemauan diri sendiri ya sama sajambak. Yang penting dari dalam diri perawat sendiri berusaha keras untuk taat kepada SPO. Begitu sih mbak.”
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

PENGARUH STRESS KERJA DAN SIKAP PERAWAT DALAM PEMASANGAN INFUS DI UNIT GAWAT DARURAT RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

PENGARUH STRESS KERJA DAN SIKAP PERAWAT DALAM PEMASANGAN INFUS DI UNIT GAWAT DARURAT RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Standar operasional prosedur merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Adanya SPO ini perawat dapat menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas atau tim dalam organisasi atau unit, agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi, memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait, melindungi organisasi dan staf dari mal praktek atau kesalahan administrasi lainnya dan untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi. Penerapan SPO pemasangan infus tidak saja melindungi pasien tetapi juga melindungi perawat dari kesalahan ataupun keselamatannya sendiri. Apabila perawat telah memenuhi SPO pemasangan infus maka apabila terjadi kejadian diluar perkiraan maka perawat tersebut tidak begitu saja dapat disalahkan (Potter, 2005).
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Universal Precautions Dengan Penerapan Universal Precautions Pada Tindakan Pemasangan Infus

Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Universal Precautions Dengan Penerapan Universal Precautions Pada Tindakan Pemasangan Infus

Dalam menggunakan prinsip universal precautions, petugas kesehatan memberi perlakukan yang sama pada semua pasien tanpa memandang penyakit atau diagnosanya, yaitu dengan asumsi bahwa setiap pasien memiliki resiko untuk menularkan penyakit yang berbahaya. Petugas harus memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan transmisi infeksi, bersikap dan bertindak yang benar dalam melakukan setiap tindakan. Hal ini sangat perlu diperhatikan karena setiap individu yang bekerja dilingkungan rumah sakit maupun pusat pelayanan kesehatan lainnya merupakan kelompok orang yang sangat rawan untuk tertular atau menularkan infeksi (Yayasan Spiritia, 2008).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH PELATIHAN KOLABORASI PADA PERAWAT YANG MENGALAMI KONFLIK PERAN TERHADAP KEPATUHAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( PEMASANGAN INFUS ) DI RUANGAN INTERNE RSUP Dr.M.DJAMIL PADANG TAHUN 2012.

PENGARUH PELATIHAN KOLABORASI PADA PERAWAT YANG MENGALAMI KONFLIK PERAN TERHADAP KEPATUHAN DALAM PELAKSANAAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( PEMASANGAN INFUS ) DI RUANGAN INTERNE RSUP Dr.M.DJAMIL PADANG TAHUN 2012.

dilakukan oleh dua orang atau kelompok, yang mana berusaha menghalangi atau mencegah kepuasaanya dari pihak lawan. Menurut Baden Eunson dalam Wirawan (2010) terdapat beragam jenis konflik yaitu konflik vertical, konflik horisontal, konflik di antara staf lini,dan konflik peran. Kondisi yang sering terjadi dalam suatu organisasi adalah konflik peran yang berupa kesalahpahaman tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seseorang. Konflik bisa terjadi karena tidak lengkapnya uraian pekerjaan, pihak karyawan memiliki lebih dari seorang manajer, dan sistem koordinasi yang tidak jelas. Dalam kondisi seperti ini sering terjadi kebingungan untuk menentukan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu oleh perawat tersebut dan mana yang dapat dilakukan kemudian, sehingga menimbulkan konflik. Konflik yang tidak terselesaikan dapat merusak lingkungan kerja sekaligus orang-orang di dalamnya, oleh karena itu konflik harus diselesaikan dengan dilakukan upaya kolaborasi dalam penyelesaian konflik. (Wirawan, 2010; Nursalam,2011)
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT IGD TENTANG PENANGANAN PASIEN PADA CEDERA KEPALA DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT IGD TENTANG PENANGANAN PASIEN PADA CEDERA KEPALA DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Latar Belakang: Cedera Kepala (Traumatic Brain Injury) merupakan cedera akut yang terpenting pada susunan saraf pusat, selaput otak, saraf cranial termasuk fraktur tulang kepala, kerusakan jaringan lunak pada kepala dan wajah baik terjadi kerusakan primer maupun kerusakan sekunder. Cedera kepala menjadi masalah kesehatan, sosial, ekonomi yang menyebabkan kematian dan disabilitas permanen pada usia dewasa. Para ahli menyebutkan bahwa angka insiden kecelakaan jalan di Indonesia masih cukup tinggi, yakni ada 90%.Tujuanini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat IGD tentang penanganan pasien pada cedera kepala di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

ANALISIS PELAKSANAAN UNIVERSAL PRECAUTION OLEH PERAWAT DI RUANG ICU RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

ANALISIS PELAKSANAAN UNIVERSAL PRECAUTION OLEH PERAWAT DI RUANG ICU RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Berdasarkan hasil penelitian dan teori serta penelitian sebelumnya terkait dengan pelaksanaan kebersihan tangan atau hand hygiene dapat disimpulkan bahwa para perawat telah melaksanakan kebersihan cuci tangan dengan benar namun masih belum maksimal. Terdapat beberapa faktor yang membuat perawat tidak melakukan tindakan tersebut diantaranya faktor kesibukan perawat dalam menangani pasien dengan segera yang membuat perawat hanya menggunakan handscrub tanpa mencuci tangan. Adanya kesadaran penuh dari dalam diri perawat untuk menjaga kebersihan tangan sebelum menangani pasien harus ditingkatkan. Faktor kelalaian perawat tersebut dalam melakukan hand hygiene. Semua perawat telah memahami dan mengerti akan pentingnya melakukan hand hygiene namun kadang tidak mereka lakukan karena lupa. Adanya komunikasi saling mengingatkan atau menegur dan peraturan tertulis maupun tertempel di ruangan sangat dibutuhkan untuk mengingatkan kembali tugas mereka dalam mencegah terjadinya penularan infeksi maupun virus.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PENERAPAN PROSEDUR TETAP PEMASANGAN INFUS DI RUANG RAWAT INAP RSDM SURAKARTA.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PENERAPAN PROSEDUR TETAP PEMASANGAN INFUS DI RUANG RAWAT INAP RSDM SURAKARTA.

Perilaku Kepatuhan Perawat dalam Pencegahan Infeksi Luka Operasi di Ruang rawat inap RSUD dr. Moewardi Surakarta “. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam pencegahan infeksi luka operasi di ruamg rawat inap RS. Dr. Moewardi Surakarta, populasinya adalah perawat yang bekerja di ruang rawat inap RS. Dr. Moewardi Surakarta. Jenis penelitian ini ialah kuantitatif non eksperimental, penilaian faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku kepatuhan perawat pada suatu periode tertentu diukur dengan menekankan analisanya. Desain penelitian yang digunakan adalah correlational (korelasi). Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuannya
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN SIKAP PROFESIONAL DENGAN KINERJA PERAWAT DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

HUBUNGAN SIKAP PROFESIONAL DENGAN KINERJA PERAWAT DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Wynd (2008) dan Nath dkk. (2005) mengutarakan bahwa sikap tidak profesional perawat umumnya berhubungan dengan tingka t pendidikan yang rendah, usia muda, dan masa kerja yang pendek. Pada penelitian ini responden perawat yang berusia mudah persentasenya hanya mencapai 16,7% dan responden perawat yang memiliki masa kerja yang pendek persentasenya hanya mencapai 61,1%. Adap un perawat yang berpendidikan rendah (minimal) pada penelitian ini persentasenya cukup dominan yakni mencapai 88,9%. Dilihat dari persentase jawaban berdasarkan aspek-aspek sikap profesionalisme perawat dapat diketahui bahwa respon jawaban terbaik sampai terburuk ada pada (1) mengungkapkan perasaan, (2) kekerasan suara, (3) ungkapan tubuh dan (4) jarak.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN SIKAP PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

HUBUNGAN SIKAP PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Era globalisasi yang semakin berkembang seperti saat ini, turut pula meningkatkan tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan yang optimal. Baik buruknya pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya, terutama sumber daya perawat. Perawat dituntut untuk bersikap baik dan santun kepada seluruh pasien, baik itu bayi yang baru lahir sampai orang lanjut usia sekalipun. Perawat diharapkan perannya untuk selalu berada di samping tempat tidur klien, siap setiap saat ketika diperlukan, cepat tanggap terhadap berbagai keluhan, dan turut merasakan apa yang klien sedang alami (Arif & Kuswahyudi, 2008).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Penerapan Universal Precaution pada Perawat di Bangsal Rawat Inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah YOGYAKARTA

Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Penerapan Universal Precaution pada Perawat di Bangsal Rawat Inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah YOGYAKARTA

Penerapan cuci tangan pada perawat tergolong baik karna didukung oleh kesadaran perawat itu sendiri dalam melindungi diri dan pasien dari bahan infeksius serta kesadaran dalam menjalankan SOP yang benar. Ke- biasaan mencuci tangan perawat di rumah sakit, merupakan perilaku men- dasar dalam upaya pencegahan cross infection (infeksi silang). Pengetahu- an merupakan elemen yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Perawat juga harus memiliki pengetahuan tentang cuci tangan dengan benar sebagai upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sa- kit sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

GAMBARAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL CARE OLEH PERAWAT KEPADA PASIEN RAWAT INAP RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

GAMBARAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL CARE OLEH PERAWAT KEPADA PASIEN RAWAT INAP RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada komponen menemui pasien sebagai manusia dalam hal hubungan, sebanyak 80 responden (95%) adalah kurang. Dalam menciptakan hubungan yang harmonis dilakukan secara jujur dan terbuka, tidak dibuat buat. Kepercayaan antara perawat dan pasien dijalin sejak awal pasien datang ke rumah sakit yaitu dengan cara berkomunikasi dengan komunikasi terapeutik, mendorong keterlibatan atau interaksi pasien dengan keluarga atau orang terdekat, memberikan privasi dan waktu untuk menjalankan aktivitas spiritual, memberikan kesempatan pasien untuk mengukapkan perasaannya dan menyediakan perlengkapan ibadah. Namun hal tersebut adalah kompetensi keperawatan yang jarang dilaksanakan di rumah sakit. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suparmi (2007) dan Rohman (2009) yang menunjukkan bahwa aspek spiritual belum mendapat perhatian yang cukup oleh perawat, yang dibuktikan oleh hasil observsi terhadap 30 pasien, sebanyak 79% pasien menyatakan tidak mendapatkan pendampingan spiritual oleh perawat.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI - PENGARUH BERMAIN SIMBOLIK TERHADAP TINGKAT KOOPERASI ANAK USIA PRASEKOLAH (36 – 72 BULAN) PADA SAAT DILAKUKAN PEMASANGAN INFUS DI IGD RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

NASKAH PUBLIKASI - PENGARUH BERMAIN SIMBOLIK TERHADAP TINGKAT KOOPERASI ANAK USIA PRASEKOLAH (36 – 72 BULAN) PADA SAAT DILAKUKAN PEMASANGAN INFUS DI IGD RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

Pada saat dilakukan prosedur pemasangan infus, anak menunjukkan perilaku tidak mau kerjasama. Anak menangis, meronta, marah bahkan menyembunyikan anggota tubuhnya pada area yang akan dilakukan pemasangan infus. Sesuai dengan teori Hurlock ( l994 ), bahwa pada awal masa kanak-kanak, anak mengalami perkembangan emosi salah satunya adalah rasa takut. Pada awalnya sebagai reaksi takut terhadap sesuatu anak akan mengalami kepanikan kemudian anak akan berlari menjauh, menghindar, bersembunyi, menangis, meronta dan menolak dari situasi yang menakutkan. Untuk mengurangi rasa takut pada anak maka diperlukan cara atau teknik tertentu sebelum dilakukan tindakan. Berdasarkan perkembangan anak usia prasekolah yaitu dengan penanaman rasa percaya, sebab pada usia prasekolah rasa percaya diri sangat penting dan untuk bisa terbentuk adalah adanya komunikasi dengan orang lain. Bila anak bisa diajak berkomunikasi dengan baik maka akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, misalnya pada saat anak akan dilakukan prosedur tindakan petugas melakukan pendekatan dengan penuh kasih sayang, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak untuk memperkenalkan alat-alat medis yang biasa dipakai untuk melakukan tindakan. Anak diajak berkomunikasi sehingga anak bisa memahami secara langsung bahwa tindakan ini bukan menyakiti atau membuat cidera dan juga bukan suatu hukuman (Wong,2003).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects