Top PDF PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Teh merupakan minuman paling banyak dikonsumsi didunia dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Teh mengandung antioksidan yang bermanfaat dalam mencegah penyakit degeneratif seperti kanker sistem pencernaan, paru-paru, dan prostat. Teh juga mengandung zat yang tidak dikehendaki, yaitu kafein. Zat ini menimbulkan gejala insomnia, pernapasan meningkat, dan gelisah. Khasiat dan dampak berbahaya teh tergantung pada cara menyeduh teh. Semakin lama teh direndam, maka kafein dalam teh akan semakin terekstrak sehingga terjadi oksidasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar kafein dalam teh celup dengan berbagai perlakuan suhu dan waktu. Analisa kadar kafein menggunakan Spektrofotometer UVmini-1240, dengan proses ekstraksi menggunakan kloroform. Rancangan penelitian dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor yaitu; faktor 1: suhu penyeduhan 70°C (A1), 85°C (A2), 100°C (A3) dan faktor 2: waktu penyeduhan 5 menit (B1), 10 menit (B2), 15 menit (B3). Hasil penelitian menunjukkan kadar kafein tertinggi pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 10 menit yaitu, 0,124% dan kadar kafein terendah pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 15 menit, yaitu 0,001%.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TRHADAP KADAR KAFEIN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TRHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Proses kelarutan kafein diawali oleh pemecahan senyawa ikatan kompleks kafein akibat perlakuan panas, dengan semakin tinggi suhu pelarut maka proses pemecahan akan berlangsung lebih cepat. Senyawa kafein menjadi bebas dengan ukuran yang lebih kecil, mudah bergerak, mudah berdifusi melalui dinding sel, dan ikut terlarut dalam pelarut (Sivetz & Desroiser, 1979: Widyotomo, 2012). Kerusakan kafein dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah suhu tinggi (lebih dari 100°C), senyawa kimia seperti theophylline, dan bakteri seperti Rhodococus sp, Klebsiella sp, dan Pseudomonas putida L. Menurut jurnal American Chemical Society (2013) Larutan kimia seperti theophylline jika dipasangkan dengan bakteri tertentu dapat menghancurkan kafein yang terkandung dalam tanaman kopi dan teh. Penelitian lain juga melaporkan bahwa Rhodococus sp dan Klebsiella sp telah berhasil mendegradasi kandungan kafein (John, 2013) sementara bakteri Pseudomonas putida L yang diinkubasi selama 9 jam mampu menghancurkan kafein sebanyak 20% (Yano dan Mazzafera, 1999).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

BAB 1 PENDAHULUAN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Secara umum, pengklasifikasian teh didasarkan pada proses pengolahannya terdapat tiga jenis, yaitu teh hitam, teh oolong, dan teh hijau (Shahidi et al, 2009). Teh hitam adalah teh yang mengalami proses fermentasi total, yakni dibuat dengan cara memanfaatkan terjadinya oksidasi enzimatis terhadap kandungan katekin teh. Teh oolong adalah teh yang proses pengolahannya disebut semi-fermentasi. Sementara teh hijau adalah teh yang tidak mengalami proses fermentasi (Setyamidjaja, 2000). Teh hijau adalah jenis teh yang dibuat dengan cara menginaktivasi enzim oksidase dan fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar (Hartoyo, 2003). Di Indonesia sendiri ada berbagai macam teh, namun teh yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah jenis teh celup dan teh bubuk.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L) P+3 Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Katekin dan Tanin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L) P+3 Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Katekin dan Tanin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Berdasarkan tabel 4.2 pada halaman 41 didapatkan hasil yaitu kadar kafein terendah yaitu pada suhu 70 0 C selama 5 menit dan kadar tertinggi yaitu pada suhu 70 o C selama 15 menit. Hal itu tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kafein sedikit larut dalam air pada suhu kamar tetapi sangat larut dalam air panas karena suhu juga menyebabkan kelarutan bahan yang akan diekstraksi dan difusivitas akan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu sehingga diperoleh laju ekstraksi yang tinggi. Hal ini disebabkan karena terjadinya proses dekafeinasi sebelum proses ekstraksi. Dekafeinasi dapat terjadi karena karbondioksida di udara. Karbondioksida ini secara alami mampu menghilangkan kadar kafein dalam daun teh. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu kadar terendah 0,96% dan kadar tertinggi 1,05%. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) batas tolenransi maksium kadar kafein pada makanan dan minuman yatu 50 mg-200 mg.
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN LAMA WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN SENYAWA ALKALOID PADA TEH CELUP DAUN SIRSAK(Annona muricata L.) - Unika Repository

PENGARUH SUHU DAN LAMA WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN SENYAWA ALKALOID PADA TEH CELUP DAUN SIRSAK(Annona muricata L.) - Unika Repository

KANDUNGAN SENYAWA ALKALOID PADA TEH CELUP DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) ” .Laporan skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pangan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Penelitian dalam skripsi ini juga merupakan bagian dari penelitian yang berjudul Aktivitas Antioksidan dan Sifat Organoleptik Teh Daun Sirsak (Annonamuricata Linn.) Berdasarkan Variasi Lama Pengeringan.

11 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR TANIN PADA SEDUHAN TEH

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR TANIN PADA SEDUHAN TEH

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpakan Rahmat, Taufik serta Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Pengaruh Suhu Penyeduhan terhadap Kadar Tanin pada Seduhan Teh ” tepat pada waktunya. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan jenjang pendidikan Program Studi D3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

12 Baca lebih lajut

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis L) P+2 Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis L) P+2 Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Merupakan kelompok polifenol yang dapat larut dalam air dengan berat molekul 500-1000 gram/mol. Tanin mampu mengendapkan alkaloid, gelatin dan protein lainnya membentuk warna merah tua dengan kalium ferricsianida dan ammonia serta dapat diendapkan oleh garam-garam Cu, Pb dan kalium kromat, tanin diklasifikasikan atau dikelompokkan menjadi dua bagian, diantaranya: (1) Condensed Tanin merupakan golongan tanin yang dapat terkondensasi dan tidak dapat dihidrolisis kecuali dalam suasana asam. 44 Misalnya senyawa katekin dan proantocianidin. (2) Hidrolisable tanin merupakan golongan tanin yang dapat dihidrolisis dalam air seperti gallotanin. 45 Tanin memiliki berat molekul 1701,22 dapat diidentifikasi menggunakan kromatografi dengan identifikasi warna berwarna kuning kecokelatan. Tanin terasa sepat, tidak dapat mengkristal tetapi dapat mengendapkan protein larutannya. Tannin memiliki sifat sebagai senyawa pengkelat logam disebabkan karena adanya pengaruh fenolik. 46
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PENENTUAN KADAR (-)-EPIGALOKATEKIN GALAT (EGCG) DALAM PRODUK TEH HIJAU CELUP DAN PRODUK TEH HITAM CELUP PADA PENYEDUHAN BERULANG DENGAN METODE KCKT

PENENTUAN KADAR (-)-EPIGALOKATEKIN GALAT (EGCG) DALAM PRODUK TEH HIJAU CELUP DAN PRODUK TEH HITAM CELUP PADA PENYEDUHAN BERULANG DENGAN METODE KCKT

Rerata nilai persen perolehan kembali pada produk teh hitam celup adalah 91,82 ± 4,97%. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Rachman,2015) nilai persen perolehan kembali yang didapatkan pada produk teh hijau celup sebesar 84,21 ± 2,80% dan pada produk teh hitam celup sebesar 88,15 ± 3,18%. Perbedaan hasil perolehan kembali pada penelitian ini dengan penelitian sebelumnya karena sampel yang digunakan berbeda, selain itu karena terdapat perbedaan metode akurasi dimana pada penelitian yang dilakukan oleh (Rachman,2015) penentuan akurasi dilakukan dengan menggunakan 3 sampel untuk masing-masing konsentrasi, sedangkan pada penelitian ini digunakan 6 sampel untuk masing-masing konsentrasi. Perbedaan lain adalah proses ekstraksi, pada penelitian ini dengan penelitia tersebut terdapat perbedaan dalam proses ekstraksi dimana pada penelitian yang dilakukan (Rachman,2015) proses ekstraksi dilakukan penyeduhan selama 30 menit dengan suhu air sebesar 70⁰C, sedangkan pada penelitian ini waktu penyeduhan dilakukan selama 20 menit dengan suhu air yang digunakan sebesar 80⁰C, hal ini dapat menyebabkan kandungan EGCG pada seduhan teh berbeda, sehingga persen perolehan kembali EGCG yang ditambahkan juga berbeda. Menurut (Wang et al., 2005) nilai persen perolehan kembali yang dapat diterima untuk senyawa bioanalisis adalah 80-120%, sehingga pada penelitian ini telah memenuhi persyaratan akurasi bioanalisis.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Batang Teh Hijau (Camelia Sinensis L.) Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Batang Teh Hijau (Camelia Sinensis L.) Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Teh merupakan salah satu minuman yang banyak disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia setelah air putih, bahkan sebagian besar masyarakat memanfaatkan teh sebagai minuman yang menyehatkan karena mengandung antioksidan. Antioksidan dapat melindungi sel-sel dari kerusakan yang disebabkan oleh molekul tidak stabil. Penentuan suhu dan waktu optimum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan antioksidan kafein, tanin dan katekin. Dalam suatu bahan pangan diharapkan mengandung kadar kafein rendah dengan polifenol yang tinggi. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode ekstraksi yang dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil yang diperoleh yaitu kadar kafein terendah pada suhu 70 o C selama 15 menit sebesar 0,5183 %, kadar tanin tertinggi pada penyeduhan suhu 70 o C selama 5 menit yaitu 4,783 %, kadar katekin tertinggi yaitu pada suhu penyeduhan 85 o C dengan waktu penyeduhan 5 menit sebesar 1,1427 %. Sehingga diperoleh optimum pada suhu 70 o C penyeduhan 5 menit, yang memiliki aktivitas antioksidan sebesar 56,75 %.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Hijau (Camellia Sinensis) serta Proses Pencernaan In Vitro terhadap Aktivitas Inhibisi Lipase

Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Hijau (Camellia Sinensis) serta Proses Pencernaan In Vitro terhadap Aktivitas Inhibisi Lipase

Pelayuan dapat dilakukan dengan cara daun teh yang baru dipetik, ditebarkan untuk dikurangi kadar airnya hingga menjadi layu. Daun yang telah layu digoreng di atas wajan pada suhu 90 ˚C selama 8 -10 menit, kemudian didinginkan dan harus segera digulung. Penggulungan pada teh hijau bertujuan untuk membentuk mutu secara fisik, karena selama penggulungan pucuk teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Penggulungan dilakukan di atas serumbu bambu yang bawahnya telah diletakkan arang yang membara. Selama proses penggulungan, pememaran daun dan pemerasan cairan sel yang terjadi harus berlangsung secara maksimal dan menempel pada permukaan daun. Tahap selanjutnya adalah pengeringan yang dilakukan menggunakan mesin pengering yang mempunyai suhu masuk 80-100 ˚C dan suhu keluar 55 -60 ˚C selama 6-10 menit. Proses ini bertujuan mengurangi kadar air, memekatkan cairan sel daun, mengkilatkan kenampakan dan aroma, memperbaiki bentuk gulungan (Adisewodjo, 1982). Kadar air akhir yang diharapkan pada teh hijau adalah sekitar 5-8 % basis basah (Muchidin, 1994). Komposisi kimia yang terkandung dalam daun teh dapat dilihat pada Tabel 1.
Baca lebih lanjut

186 Baca lebih lajut

EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEH HIJAU DAN TEH HITAM BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN - Unika Repository

EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEH HIJAU DAN TEH HITAM BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN - Unika Repository

Salah satu minuman fungsional yang banyak dikonsumsi karena kandungan antioksidannya adalah teh. Jenis teh dapat dibedakan berdasarkan proses fermentasinya, yaitu teh hijau dan teh hitam. Teh juga dapat dibedakan lagi berdasarkan bentuknya, yaitu teh celup dan teh curah. Dalam proses penyiapannya, keduanya memerlukan proses penyeduhan yang dapat mempengaruhi warna hasil seduhan teh dan kandungan antioksidannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh durasi waktu dan suhu penyeduhan teh terhadap aktivitas antioksidan teh hijau dan teh hitam dalam bentuk curah dan celup, serta pengaruh proses penyeduhan terhadap warna teh. Adapun suhu yang digunakan untuk penyeduhan, yaitu pada suhu 90 o C dan suhu 100 o C dengan waktu penyeduhan 1 menit, 3 menit, dan 5 menit. Hasil menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dimiliki oleh teh hijau curah yang diseduh pada suhu 100 o C selama 5 menit, yaitu 97,20 ± 0,96%. Aktivitas antioksidan terendah terdapat pada teh hitam celup yang diseduh pada suhu 90 o C selama 1 menit yaitu 80,51 ± 0,74%. Berdasarkan bentuk tehnya, ternyata warna pada teh curah lebih gelap dibandingkan teh celup. Selain itu, semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu penyeduhan, maka warna teh hasil seduhan akan semakin gelap. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat direkomendasikan penyeduhan yang baik pada suhu 100 o C dengan waktu penyeduhan selama 5 menit.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KAFEIN DALAM KOPI Irma Zarwinda dan Dewi Sartika Akademi Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) YHB Aceh Email: zarwindairmayahoo.co.id Abstract - PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KAFEIN DALAM KOPI

PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KAFEIN DALAM KOPI Irma Zarwinda dan Dewi Sartika Akademi Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) YHB Aceh Email: zarwindairmayahoo.co.id Abstract - PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KAFEIN DALAM KOPI

Pada penelitian ini kopi yang digunakan jenis arabika Solong, kopi jenis tersebut banyak peminatnya. Kopi arabika memiliki rasa yang lebih nikmat dibandingkan dengan kopi lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kafein adalah suhu air atau kondisi penyeduhan dan lama penyeduhan. Semakin tinggi suhu air atau proses penyeduhan, kemampuan air dalam mengekstrak kandungan kimia yang terdapat dalam kopi akan semakin tinggi. Demikian juga halnya dengan lama penyeduhan. Lama penyeduhan akan mempengaruhi kadar bahan terlarut, intensitas warna, serta aroma. Bertambahnya lama penyeduhan maka kesempatan kontak antara air penyeduh dengan kopi semakin lama sehingga proses ekstraksi menjadi lebih sempurna. Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, suhu dan waktu sangat mempengaruhi perolehan kadar kafein baik dalam kopi maupun teh (Mulato, 2001).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PEMBUATAN TEH RENDAH KAFEIN MELALUI PROSES EKSTRAKSI DENGAN PELARUT ETIL ASETAT - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PEMBUATAN TEH RENDAH KAFEIN MELALUI PROSES EKSTRAKSI DENGAN PELARUT ETIL ASETAT - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Penelitian ini difokuskan pada pembuatan teh rendah kafein dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Secara spesifik, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu operasi terhadap penurunan kadar kafein, memperoleh kondisi optimum pada produksi teh rendah kafein, melakukan uji organoleptis untuk mengetahui aroma teh yang dihasilkan, dan menyusun persamaan model matematis ekstraksi kafein dari daun teh.

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Berat Dan Waktu Penyeduhan Terhadap Kadar Kafein Dari Bubuk Teh

Pengaruh Berat Dan Waktu Penyeduhan Terhadap Kadar Kafein Dari Bubuk Teh

penguapan menggunakan uap panas, sehingga oksidasi enzimatik terhadap katekin dapat dicegah. Teh hitam dibuat dengan cara memanfaatkan terjadinya oksidasi enzimatis terhadap kandungan katekin teh. Sementara, teh oolong dihasilkan melalui proses pemanasan yang dilakukan segera setelah proses rolling atau penggulungan daun, dengan tujuan untuk menghentikan proses fermentasi, yang memiliki karakteristik khusus dibandingkan teh hitam dan teh hijau (Arif Hartoyo, 2003)

48 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

Selain manfaat teh, ada juga zat yang terkandung dalam teh yang berakibat kurang baik untuk tubuh. Zat itu adalah kafein.Jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan beberapa gangguan, seperti insomnia, kecemasan, dan ketidakteraturan detak jantung. Kafein mudah larut dalam air panas, hampr semua sifat kafein yang terkandung didalam daun teh mudah larut, maka ketika teh diseduh selama 1-2 menit pertama semua kafein akan larut tanpa tannin. Akibat dari pembuatan teh yang singkat ini adalah, karena minuman yang telah dibuat tersebut memiliki tingakat kafein tinggi yang tidak lagi bertalian dengan tannin, maka dengan cepat kafein tersebut diserap tubuh saat teh tersebut dikonsumsi. Kafein juga memiliki rangsangan pada sistem saraf dan fungsi otak (Fulder, 2004).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

Selain penelitian yang dilakukan diatas, penentuan kadar kafein juga berpengaruh terhadap jenis pelarut atau metode instrumen yang digunakan pada pengukuran. Hasil penelitian Wulandari,dkk (2008), pada penentuan kadar kafein dalam campuran parasetamol, salisilamida dan kafein dengan metode spektroskopi UV dan pelarut etanol menunjukan terjadinya tumpang tindih (overlapping) spektra dari ketiga senyawa tersebut. Metode lain dalam penentuan kafein juga dilakukan dengan spektofotometri kromatografi cairan kinerja tinggi (HPLC) dengan pelarut timah asetat dan kloroform pada proses ekstraksinya (Panggabean, dkk., 2011). Hasil penelitian ini sangat efektif, cepat dan akurat. Akan tetapi penelitian ini mempunyai kelemahan yakni pelarut yang digunakan dapat merusak lingkungan juga membutuhkan proses ekstraksi yang lama dan biaya yang mahal.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KLORIN PADA TEH CELUP

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KLORIN PADA TEH CELUP

Alhamdulillah segala puji bagi ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan. Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian akhir Program studi D3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surabaya, tahun 2014 dengan judul penelitian “Pengaruh Suhu Penyeduhan terhadap Kadar Klorin pada Teh Celup”.

17 Baca lebih lajut

Analisis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi untuk Penetapan Kadar Asam Galat, Kafein dan Epigalokatekin Galat pada Beberapa Produk Teh Celup | Martono | Agritech 9578 17663 1 PB

Analisis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi untuk Penetapan Kadar Asam Galat, Kafein dan Epigalokatekin Galat pada Beberapa Produk Teh Celup | Martono | Agritech 9578 17663 1 PB

Metode Kromatogra fi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang cepat dan akurat untuk penetapan kadar asam galat, kafein dan epigalokatekin galat (EGCG) dengan sistem elusi fase gerak secara isokratik telah dikembangkan. Sistem KCKT terdiri atas kolom fase terbalik C18 (Eurosphere C18, 250 × 4,6 mm i.d., 5 m), fase gerak campuran asam orto-fosfat 0,1% : air : asetonitril : metanol (14 : 7 : 3 : 1 v/v/v/v) pH = 4,00 dengan kecepatan alir 1,2 mL/min serta dideteksi pada UV 280 nm. Validasi metode ini dikon fi rmasi terhadap selektivitas, linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi dan batas kuantitasi. Metode yang dikembangkan dapat memenuhi syarat-syarat validasi metode dan telah digunakan untuk menganalisis berbagai produk teh celup (teh hijau dan hitam). Pada teh hijau, hasilnya menunjukkan bahwa kandungan terbesar adalah EGCG diikuti kafein dan asam galat sedangkan pada teh hitam, EGCG tidak terkuantitasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

Jahe kering adalah jahe yang diawetkan melalui proses pengeringan baik pengeringan menggunakan tenaga surya maupun dengan pengeringan buatan. Jahe kering dalam perdagangan dapat disajikan dalam bentuk terkelupas, tanpa dikelupas dan setengah terkelupas. Di Indonesia pengelupasan kulit dilakukan dengan pisau dari bambu yang tajam ujungnya, atau digunakan sendok, setelah bersih barulah rimpang dijemur selama 5-8 hari. Kalau diinginkan jahe kupas berwarna putih maka perlu ditendam air kapur (CaO) sebanyak 20 gram/liter air, kemudian jahe dicuci lagi dengan air dan direndam 6 jam dan dilakukan penjemuran selama 5-8 hari sampai kadar air 10-12% (Anonim, 2008).
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Pengaruh Seduhan Teh Hitam (Camellia sinensis L) terhadap Waktu Reaksi Sederhana pada Pria Dewasa.

Pengaruh Seduhan Teh Hitam (Camellia sinensis L) terhadap Waktu Reaksi Sederhana pada Pria Dewasa.

Teh salah satu kandungan bioaktifnya kafein dengan kadar 2-3%, sedangkan kadar kafein dalam 150 mL teh hitam adalah 40-70 mg. Kafein sebagai perangsang SSP mempunyai efek mempercepat waktu reaksi, meningkatkan kewaspadaan, menambah konsentrasi, dan mengurangi kelelahan (Undem, 2006). Kafein yang terdapat dalam teh akan mengaktivasi pusat eksitasi di formatio reticularis, maka kewaspadaan akan meningkat. Selain itu, kafein juga menstimulasi jantung dan sistem pernafasan. Akibatnya terjadi peningkatan suplai oksigen dan aliran darah ke otak yang pada akhirnya dapat menambah kewaspadaan dan meningkatkan konsentrasi, sehingga mempengaruhi waktu reaksi (Bruneton, 1999; www.holymtn.com/tea/caffeine.htm, 2008).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...