Top PDF PENGARUH PERLAKUAN ANEALING TERHADAP KEKERASAN LAS DAN STRUKTUR MIKRO STAINLESS STEEL J304

PENGARUH PERLAKUAN ANEALING TERHADAP KEKERASAN LAS DAN STRUKTUR MIKRO STAINLESS STEEL J304

PENGARUH PERLAKUAN ANEALING TERHADAP KEKERASAN LAS DAN STRUKTUR MIKRO STAINLESS STEEL J304

dipakai terus oleh berbagai macam produksi, baik alat maupun industry lainnya. stainless steel di dunia seperti J201, J202, JSL AUS(J1), J304Cu dan J4 Semua jenis ini mempunyai struktur dengan kondisi yang dikuatkan pada temperature tinggi. Stainless dengan kekuatan yang tinggi, dengan keungulan yang diakui, kemampuan mengelas atau menyambung dan tahan korosi yang baik. (www.jindalstainless.com),

1 Baca lebih lajut

PENGARUH PERLAKUAN QUENCHING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA PENGELASAN BAJA STAINLESS STEEL

PENGARUH PERLAKUAN QUENCHING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA PENGELASAN BAJA STAINLESS STEEL

dipakai terus oleh berbagai macam produksi, baik alat maupun industry lainnya. stainless steel di dunia seperti J201, J202, JSL AUS(J1), J304Cu dan J4 Semua jenis ini mempunyai struktur dengan kondisi yang dikuatkan pada temperature tinggi. Stainless dengan kekuatan yang tinggi, dengan keungulan yang diakui, kemampuan mengelas atau menyambung dan tahan korosi yang baik. (www.jindalstainless.com),

1 Baca lebih lajut

Pengaruh PWHT Terhadap Struktur Mikro,Uji Kekerasan dan Ketangguhan pada Sambungan Las Tak Sejenis Austenitic Stainless Steels dan Baja Karbon

Pengaruh PWHT Terhadap Struktur Mikro,Uji Kekerasan dan Ketangguhan pada Sambungan Las Tak Sejenis Austenitic Stainless Steels dan Baja Karbon

Pengelasan logam tak sejenis baja tahan karat dan baja karbon banyak diterapkan di bidang teknik, diantaranya kereta api, otomotif, kapal dan industri lain. Permasalahan pengelasan baja tahan karat austenitik adalah penggetasan akibat endapan halus (precipitate) karbida krom (Cr 23 C 6 ) diantara batas butir austenit. Endapan ini terbentuk karena pendinginan lambat dari temperatur 900 o C sampai 450 o C. Pada sisi lain, baja karbon rendah mengalami pengerasan berlebihan pada HAZ jika laju pendinginan pengelasan tinggi, sehingga menyebabkan turunnya ketangguhan (toughness). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki sifat mekanik las tak sejenis antara baja tahan karat austenitic dan baja karbon dengan PWHT. Metode penelitian terdiri dari pengelasan logam tak sejenis antara baja tahan karat AISI304 dan baja karbon rendah menggunakan teknik las MIG dengan filler ER308, tegangan 19 volt,arus DC 100 amper dan heat input 1 kJ/mm dengan kecepatan pengelasan 2 mm/s. Setelah pengelasan dilakukan PWHT dengan temperatur 450 o C, 550 o C dan 650 o C selama 3 jam. Selanjutnya dilakukan pengujian kekerasan (microhardness), struktur mikro,ketangguhan dan SEM.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH PWHT TERHADAP STRUKTUR MIKRO,UJI KEKERASAN DAN KETANGGUHAN PADA SAMBUNGAN LAS TAK SEJENIS AUSTENITIC STAINLESS STEELS DAN BAJA KARBON

PENGARUH PWHT TERHADAP STRUKTUR MIKRO,UJI KEKERASAN DAN KETANGGUHAN PADA SAMBUNGAN LAS TAK SEJENIS AUSTENITIC STAINLESS STEELS DAN BAJA KARBON

Nilai kekerasan pada masing-masing specimen tergantung pada variasi PWHT yang diberikan seperti terlihat pada Gambar 8. Nilai kekerasan pada logam induk lebih rendah dibanding daerah HAZ, hal ini disebabkan pengaruh proses PWHT dan juga mempengaruhi bentuk struktur mikro pada daerah HAZ yang mengakibatkan perbedaan kekerasan. Hasil uji kekerasan daerah CS , daerah las dan daerah HAZ SS memperlihatkan variasi PWHT terhadap kekerasan sambungan las. Nilai kekerasan rata-rata logam induk CS Non PWHT yaitu 174 VHN, sedang pada induk CS dengan PWHT 450 o C sedikit mengalami suatu penurunan kekerasan yaitu menjadi 168 VHN sedangkan pada PWHT 650 o C yaitu 147 VHN akan tetapi pada PWHT 550 o C terjadi kenaikan menjadi 161 VHN. Pada daerah HAZ CS non PWHT sebesar 180 VHN lebih tinggi dari kekerasan logam induk (177,3 VHN), PWHT 450 o C menyebabkan penurunan kekerasan HAZ menjadi 178 VHN sedangkan pada PWHT 550 o C menjadi 174 dan PWHT 650 o C menjadi 162 VHN dimana ini ditandai dengan adanya perubahan bentuk dari butir yang semakin besar. Nilai kekerasan rata-rata logam induk SS Non PWHT sebesar 176 VHN, sedangkan pada logam induk SS dengan PWHT 450 o C terjadi kenaikan 176 VHN,pada inti SS dengan PWHT 550 o C mengalami penurunan menjadi 171 VHN, sedangkan pada inti SS dengan PWHT 650 o C sedikit mengalami kenaikan menjadi 188 VHN. Variasi kekerasan ini disebabkan karena pada batas-batas butirnya terbentuk kromium karbida yang mempunyai sifat keras dan getas. Logam las non PWHT mempunyai kekerasan rata-rata yang tinggi karena mengalami pembentukan kromium karbida akibat dari siklus thermal berupa pemanasan sampai mendekati titik cair kemudian diikuti dengan pendinginan. Dengan PWHT 650oC dan PWHT 550 o C terjadi pelarutan kembali karbon dalam austenit sehingga kekerasannya menurun, terutama pada daerah HAZ SS.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisa Pengaruh Filler Terhadap Struktur Metalografi Sambungan Las Beda Material Pada Las Titik Antara Aluminium dan Stainless Steel

Analisa Pengaruh Filler Terhadap Struktur Metalografi Sambungan Las Beda Material Pada Las Titik Antara Aluminium dan Stainless Steel

Perkembangan teknologi dalam bidang konstruksi semakin maju, baik di dalam perakitan maupun perawatan. Seiring kemajuan teknologi dalam bidang konstruksi, membuat kebutuhan pengelasan semakin dibutuhkan. Teknologi pengelasan sendiri terbagi dalam beberapa jenis, salah satunya adalah las titik. Las titik merupakan teknologi las yang banyak digunakan di dalam industri untuk menyambung dua buah material berbentuk lembaran/pelat, dan dalam penelitian ini material yang digunakan adalah aluminium dan stainless steel dengan penambahan filler campur antara aluminium dan stainless steel dengan perbandingan 80% : 20%. Dalam proses pengelasan tersebut menggunakan parameter arus 6000 A, 7000 A, 8000 A dan waktu pengelasan 0,2 detik, 0,3 detik, 0,4 detik dengan holding time 0,3 detik. Setelah proses pengelasan selesai kemudian dilakukan Pengujian foto makro dan mikro menggunakan standar ASTM E407-07. Hasil dari pengujian foto makro menunjukan bahwa arus dan waktu pengelasan berpengaruh terhadap lebar diameter logam las (nugget). Semakin besar arus dan waktu pengelasan, maka diameter logam las semakin besar. Pada hasil pengujian foto mikro terlihat bahwa daerah logam induk, HAZ, dan logam las tidak terjadi perubahan yang signifikan, tetapi hanya mengalami perubahan butiran.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGARUH PERBEDAAN MATERIAL SAMBUNGAN LAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO

PENGARUH PERBEDAAN MATERIAL SAMBUNGAN LAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO

Stainless steel adalah material dengan mutu yang sangat baik, dimana sekarang dipakai terus oleh berbagai macam produksi, baik alat maupun industry lainnya Stainless dengan kekuatan yang tinggi, dengan keungulan yang diakui, kemampuan mengelas atau menyambung dan tahan korosi yang baik. (www.jindalstainless.com),

2 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI SUDUT PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN, KEKASARAN PERMUKAAN, DAN WETTABILITY PADA STAINLESS STEEL AISI-304

PENGARUH VARIASI SUDUT PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN, KEKASARAN PERMUKAAN, DAN WETTABILITY PADA STAINLESS STEEL AISI-304

Pengukuran ini berdasarkan parameter penting dari tegangan muka dimana jumlahnya akan menentukan besar sudut yang dihasilkan. Jika dilihat pada tabel 4.3. hasil nilai rata-rata sudut contact angle raw material yaitu sebesar 50.920°, untuk sudut 30° dengan 60° meliliki besaran sudut contact angle yaitu 56.243° dengan 62.740°, kemudian untuk sudut 90° besar sudut contact angle yaitu sebesar 58.487°. Dapat di simpulkan bahwasannya semua sampel stainless steel AISI 304 tersebut memiliki karakter terhadap permukaan bersifat hidrophilic yang dikarenakan besar sudut contact angle dari tiap sampel semuanya kurang dari 90º.Itu, artinya pada material steel ball bertabrakan secara terus-menerus yang menimbulkan deformasi serta membuat material tersebut kasar dan material tersebut bersifat suka air/hydrophilic. Kemudian pada penembakan sudut 60° karakter permukaan contact angle memiliki nilai wettability tertinggi, karena pada sudut 60° nilai kekasaran permukaan sampel sangat meningkat, yang membuat nilai sudut contact angle permukaan material tersebut ikut mengalami peningkatan. Seperti pada penelitian Zamhari (2106) bahwa menunjukan nilai wettability mengalami kenaikan terus. Artinya, jika suatu sampel sudut kontak yang tejadi semakin kecil, maka semakin menurun tingkat ketahanan korosi pada permukaan sampel tersebut.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI SUDUT PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN, KEKASARAN PERMUKAAN, DAN WETTABILITY PADA STAINLESS STEEL AISI-304

PENGARUH VARIASI SUDUT PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN, KEKASARAN PERMUKAAN, DAN WETTABILITY PADA STAINLESS STEEL AISI-304

Pada (Gambar 3. a) kondisi awal permukaan plat sampel terlihat rata dan bersih serta dengan adanya goresan-goresan halus hasil dari proses pengampelasan. Kemudian pada (Gambar3.b), merupakan permukaan sampel yang telah dilakukan proses shot peening dengan sudut penyemprotan 30°, permukaan tersebut terlihat kasar tetapi memiliki pori-pori kekasarannya lebih kecil. kemudian pada (Gambar 3. c), sampel shot peening sudut 60° terlihat permukaannya paling kasar dibandingkan dengan sampel uji yang lain, jika dilihat permukaannya memiliki pori-pori yang sangat dalam, besar, dan merata. Pada (Gambar 3.d), permukaan sampel shot peening pada sudut penyemprotan 90° permukaan sampel terlihat kasar tetapi tumbukan steel ball terlihat tidak terlalu dalam yang diakibatkan oleh tumbukan yang terus-menerus membuat bukit-bukit hasil shot peening merata kembali. Jika dilihat pada gambar 3. permukaan sampel yang mempunyai tingkat kekasaran paling tinggi setelah proes perlakuan shot
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

View of PENGARUH ARUS LAS PADA PROSES LAS FCAW TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN

View of PENGARUH ARUS LAS PADA PROSES LAS FCAW TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN

The results of this study are influenced by several factors related to research including steel material. gas used in the welding process. and welding connections used. The aim of the research was to find out the factors causing the failure of the ST 37 steel welding process which one of the influences of the welding current difference on the quality of the steel welding ST 37 guessed 10 mm. The results of this study are that the magnitude of the current strength affects the failure of the process. From the test data shows the difference in microstructure and hardness value in ST 37 material 10 mm thick due to the influence of the different currents used. The conclusion is that the current strength of 280 A reduces the occurrence of failure. Welding using a current of 280 A is the most ideal current to weld metal type ST 37 because the hardness value is almost the same as the value of hardness in the parent metal without welding.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI JARAK PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, STRUKTUR MAKRO, KEKASARAN, KETEBALAN DAN KEKERASAN MENGGUNAKAN STEEL BALL 0.7 MM PADA MATERIAL STAINLESS STEEL AISI-304

PENGARUH VARIASI JARAK PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, STRUKTUR MAKRO, KEKASARAN, KETEBALAN DAN KEKERASAN MENGGUNAKAN STEEL BALL 0.7 MM PADA MATERIAL STAINLESS STEEL AISI-304

Meningkatnya nilai kekerasan pada permukaan sampel seiring dengan jarak yang diberikan saat penembakan bola-bola baja pada proses shot peening . Hal ini disebabkan karena semakin jauh jarak penembakan pengaruh gaya gravitasi bumi akan semakin besar sehingga bola-bola baja yang ditembakan akan mengalami peningkatan kecepatan, dan akibat dari peningkatan kecepatan bola-bola baja yang ditembakan kekuatan tumbuknya semakin tinggi sehingga mengakibatkan deformasi plastis pada permukaan sampel. Tumbukan inilah yang mendorong partikel permukaan terluar mendorong partikel yang lebih dalam, sehingga menyebabkan nilai kekerasan bertambah. Pada Gambar 4 juga menunjukkan nilai kekerasan optimum diperoleh pada jarak 80 mm. Sedangkan setelah jarak 80 mm peningkatan kekerasan tidak terlalu signifikan, hal ini karena setelah perlakuan shot peening sebelumnya partikel terdalam sampel sudah terjadi pemadatan. Dimana diketahui tekanan kerja shot peening konstan dan diameter bola-bola baja yang ditembakan kepermukaan spesimen sudah tidak mampu lagi menghasilkan deformasi plastis yang sama besar pada saat permukaan sebelum dilakukan perlakuan shot peening. beberapa peneliti terdahulu seperti Saputra, (2016), Setiawan (2013), Anugerah (2013), Sunardi (2013) menyimpulkan bahwa perlakuan shot peening dapat meningkatkan kekerasan permukaan pada suatu sampel.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI JARAK PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, STRUKTUR MAKRO, KEKASARAN, KETEBALAN DAN KEKERASAN MENGGUNAKAN STEEL BALL 0.7 MM PADA MATERIAL STAINLESS STEEL AISI-304

PENGARUH VARIASI JARAK PENEMBAKAN SHOT PEENING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, STRUKTUR MAKRO, KEKASARAN, KETEBALAN DAN KEKERASAN MENGGUNAKAN STEEL BALL 0.7 MM PADA MATERIAL STAINLESS STEEL AISI-304

Meningkatnya nilai kekerasan pada permukaan sampel seiring dengan jarak yang diberikan saat penembakan bola-bola baja pada proses shot peening. Hal ini disebabkan karena semakin jauh jarak penembakan pengaruh gaya gravitasi bumi akan semakin besar sehingga bola-bola baja yang ditembakan akan mengalami peningkatan kecepatan, dan akibat dari peningkatan kecepatan bola-bola baja yang ditembakan kekuatan tumbuknya semakin tinggi sehingga mengakibatkan deformasi plastis pada permukaan sampel. Tumbukan inilah yang mendorong partikel permukaan terluar mendorong partikel yang lebih dalam, sehingga menyebabkan nilai kekerasan bertambah. Pada Gambar 4.7 juga menunjukkan nilai kekerasan optimum diperoleh pada jarak 80 mm. Sedangkan setelah jarak 80 mm peningkatan kekerasan tidak terlalu signifikan, hal ini karena setelah perlakuan shot peening sebelumnya partikel terdalam sampel sudah terjadi pemadatan. Dimana diketahui tekanan kerja shot peening konstan dan diameter bola-bola baja yang ditembakan kepermukaan spesimen sudah tidak mampu lagi menghasilkan deformasi plastis yang sama besar pada saat permukaan sebelum dilakukan perlakuan shot peening. Beberapa peneliti terdahulu seperti Saputra, (2016), Setiawan (2013), Anugerah (2013), Sunardi (2013) menyimpulkan bahwa
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI ARUS LAS SMAW TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN TARIK SAMBUNGAN DISSIMILAR STAINLESS STEEL 304 DAN ST 37

PENGARUH VARIASI ARUS LAS SMAW TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN TARIK SAMBUNGAN DISSIMILAR STAINLESS STEEL 304 DAN ST 37

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi arus las SMAW (Shielded Metal Arc Welding) terhadap kekerasan dan kekuatan tarik pada sambungan stainless steel 304 dan ST 37. Penelitian ini menggunakan baja tahan karat stainless steel 304 yang disambung baja karbon rendah ST 37 dengan elektroda E 309. Variasi arus menggunakan arus 60 ampere, 70 ampere, dan 80 ampere. Setelah proses pengelasan, dilanjutkan dengan pembuatan 11 spesimen untuk pengujian tarik dengan standar JIS Z 2201 1981, 3 spesimen untuk pengujian kekerasan, dan 3 spesimen untuk pengujian struktur mikro. Setelah itu dilakukan pengujian tarik, kekerasan, dan struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah proses pengelasan kekuatan tarik hasil las dengan perlakuan pengelasan pada semua variasi arus lebih besar dari raw material ST 37 dan lebih rendah dari raw material stainless steel 304. Nilai kekuatan tarik optimal pada spesimen dengan perlakuan pengelasan terdapat pada arus 70 ampere sebesar 51,656 kg/mm2. Setiap penambahan arus menunjukkan peningkatan nilai kekerasan di daerah weld metal karena perubahan struktur mikro dendritik yang jumlahnya meningkat, akan tetapi mengalami penurunan di HAZ (Heat Affected Zone) akibat struktur mikro ferit membesar di temperatur tinggi. Nilai uji kekerasan tertinggi pada weld metal terdapat di spesimen dengan arus 80 ampere dan nilai uji kekerasan rata-rata tertinggi pada HAZ dimiliki oleh spesimen dengan variasi arus 60 ampere.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Arus Listrik terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Titik (Spot Welding) Logam Dissimilar Stainless Steel dan Baja Karbon Rendah

Pengaruh Variasi Arus Listrik terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Titik (Spot Welding) Logam Dissimilar Stainless Steel dan Baja Karbon Rendah

80 A. Waktu pengelasan yang digunakan adalah 4 detik. Spesimen uji menggunakan material stainless steel dengan ketebalan 1,2 mm dan baja karbon rendah dengan ketebalan 0,9 mm. Penelitian ini dilakukan di Politeknik Kotabaru dan Laboratorium Polteknik Negeri Malang. Penelitian yang dilakukan adalah uji tarik sesuai standar ASME (American Society of Mechanical Engineering) dan pengujian mikrostruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peningkatan arus listrik dari 60 A ke 70 A berdampak pada kenaikan kekuatan tarik. Sedangkan peningkatan arus listrik dari 70 A ke 80 A memperlihatkan penurunan kekuatan tarik. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa kondisi terbaik terjadi pada arus listrik 70 A yang memberikan kekuatan tarik sebesar 190,920 kN/mm 2 . Pengamatan struktur mikro pada sambungan las titik logam dissimilar antara stainless steel dan baja karbon rendah memiliki fusion zone yang tidak simetris. Terjadi karena adanya perbedaan konduktivitas thermal bahan logam yang digunakan. Las titik dengan variasi arus listrik 70 A menghasilkan daerah HAZ yang didominasi oleh struktur perlit dengan butiran yang lebih halus dan homogen dibandingkan specimen lainnya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGARUH PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S

PENGARUH PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S

z Dari hasil pengujian difraksi sinar – x yang ditunjukkan fasa yang terbentuk pada stainless steel dengan perlakuan normalizing pada temperatur 10500C adalah Cromium Iron Nickel Car[r]

26 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

PENDAHULUAN Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

Proses pengelasan pada sebuah sambungan baja akan menghasilkan struktur baru yang berbeda dengan struktur logam induknya, ini disebabkan oleh bergesernya struktur mikro dari logam induk akibat masukan panas dan proses pendinginan yang tidak tepat. Baja stainless steel AISI 201, termasuk dalam deretan baja paduan yang memiliki sifat unggul yaitu tahan terhadap karat, ulet dan mampu las yang sangat baik, akan tetapi beberapa sifat unggul tersebut dapat mengalami perubahan ketika terjadi proses pendinginan yang bervariasi, untuk itu diperlukan suatu kajian mengenai proses pendinginan yang tepat setelah baja tahan karat tersebut mendapat masukan panas (akibat pengelasan), dengan demikian sifat ungul yang dimiliki tidak akan berbeda jauh manakala sebelum dilakukan proses pengelasan dibanding dengan variasi pendinginan akibat proses pengelasan.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pengaruh Post Weld Heat Treatment (Pwht) – Tempering Pada Sambungan Medium Carbon Steel Np-42 Dengan Las Thermit Terhadap Nilai Kekerasan Dan Struktur Mikro

Pengaruh Post Weld Heat Treatment (Pwht) – Tempering Pada Sambungan Medium Carbon Steel Np-42 Dengan Las Thermit Terhadap Nilai Kekerasan Dan Struktur Mikro

Material baja high carbon merupakan material yang diaplikasikan pada suatu sistem yang memerlukan nilai kekerasan dan ketangguhan yang tinggi. Pada sarana transportasi kereta api, tentunya diperlukan rel baja yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan agar kenyamanan serta keselamatan penumpang selalu terjamin.Salah satu faktor yang harus diperhatikan pada rangkaian baja rel kereta api adalah pada sambungan las. Proses pengelasan yang tidak sesuai akan menyebabkan material menjadi getas akibat pemanasan dan pendinginan yang tidak terkontrol. Hal ini dapat menimbulkan retak pada sambungan tersebut yang dapat membahayakan bagi pengguna kereta api. Oleh sebab itu, diperlukan perlakuan proses Post Weld Heat Treatment (PWHT) untuk mengembalikan kondisi struktur material tersebut. Dalam penelitian post weld heat treatment – tempering ini bertujuan untuk memperbaiki struktur butir akibat adanya tegangan sisa saat pengelasan thermit, selain itu untuk meningkatkan nilai kekerasannya. Baja rel yang digunakan adalah baja NP-42 yang merupakan medium-carbon steel (0,56%C). Setelah dilakukan proses tempering, didapat nilai kekerasan yang relatif turun, sebagai akibat pemanasan ulang yang diharapkan mampu menurunkan kegetasannya tetapi masih memiliki nilai kekerasan yang tinggi sesuai dengan standar yang berlaku.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI  Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

NASKAH PUBLIKASI Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

Dari hasil uji komposisi kimia didapatkan hasil pengujian sebagai berikut : besi (Fe) = 71,2 %, mangan (Mn) = 6,71 %, Chrom (Cr) = 17 %, Nikel (Ni) = 4,61 %, untuk unsur tambahan lainnya didapatkan prosentase dalam jumlah kecil yaitu kurang dari 0,05 %, unsur unsur tersebut adalah Silisium(Si), Niobdenum (Nb) , Titanium (Ti), Phospor (P), Sulfur (S), Molibdenum (Mo), Vanadium (V), Carbon(C),Cuprum(Cu). Pada pengamatan struktur mikro pendinginan air pada daerah logam induk didapatkan bahwa struktur karbida chrom memiliki jumlah lebih banyak dan tersebar disemua bagian dibanding dengan pendinginan udara,pada daerah las pendinginan dengan air dan udara didapatkan bahwa struktur nikel dan austenite lebih dominan, sedangkan pada daerah haz baik pendinginan air dan udara struktur khrom dan karbida chrom mulai tampak.Dari uji kekerasan didapatkan bahwa harga kekerasan terendah pada daerah las dengan pendinginan udara yaitu 182,9 VHN,dan kekerasan tertinggi yaitu 241,8 VHN. Sedangkan pada uji tarik tegangan rata-rata tertinggi yaitu 70,43 kg/mm 2 pada pendinginan udara.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

TUGAS AKHIR  Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

TUGAS AKHIR Pengaruh Perlakuan Pendinginan Pada Proses Pengelasan Smaw(Shielded Metal Arc Welding) Stainless Steel Austenitik Aisi 201 Terhadap Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Tarik.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan struktur mikro dan sifat mekanis pada baja karbon AISI 201 setelah mendapat pengelasan khususnya pada daerah las, has dan logam induk. Pengelasan dilakukan dengan menggunakan proses SMAW (Shielded Metal Arc Welding ) dan dilakukan variasi pendinginan yaitu dengan udara dan air.

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan

Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan

Marternsitic stainless steels have been extensively used for turbin blade. Their properties can be improved in various ways, such as by heat treatment. This paper aims to investigate the influence of heat treatment on microstructure and corrosion resistance in martensitic stainless steel 13Cr-1Mo. Samples were austenitized at 950 ºC, 1.000 ºC, 1.050 ºC, 1.100 ºC, and tempered at 600 ºC. Austenitized sample at 1.050 ºC were subsquently tempered at 300 ºC, 400 ºC, 500 ºC, 550 ºC, 600 ºC, 650 ºC, and 700 ºC. The tests consist of metallographic observation which was conducted by using an optical microscope, and corrosion tests which were conducted by using 3,5% NaCl solution. The results show evolution of mictrostructure in martensitic stainless steel 13Cr-1Mo after heat treatment. The microstructure formed consists of tempered martensite, delta ferrite, retained austenite, and carbides. The presence of carbides can also affect corrosion resistance, which will increase along with the increase of tempering temperature due to the increased content of Cr in the carbides. The highest value corrosion resistance was obtained at austenitizing temperature of 1.050 ºC and tempering temperature of 600 ºC.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan

Pengaruh Perlakuan Panas terhadap Struktur Mikro dan

Begitupun penelitian yang telah dilakukan oleh Yusuf (2008) menyatakan bahwa bijih laterit kadar rendah atau yang disebut bijih limonit memiliki kandungan Ni 0,8%-1,5% dengan kandungan Fe 35%- 45%. Bijih tersebut dapat diolah menjadi baja dengan kandungan nikel sekitar 1,5%- 4%. Di samping kandungan Ni dan Fe, bijih laterit juga mengandung unsur lain, yaitu Cr dan Mn dimana kedua unsur tersebut akan berdampak pada sifat weldability steel serta kekerasan permukaan dan ketahanan korosi. Untuk menghasilkan suatu produk yang menuntut keuletan dan tahan terhadap gesekan perlu dilakukan pemanasan ulang atau temper. Tujuan dari proses tempering adalah untuk meningkatkan keuletan dan mengurangi kerapuhan (Haryadi 2014).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...