Top PDF Pengaruh Ratio Jantan Dan Betina Terhadap Fertilitas Dan Daya Tetas Telur Ayam Kampung

Pengaruh Ratio  Jantan Dan Betina  Terhadap Fertilitas Dan Daya Tetas Telur Ayam Kampung

Pengaruh Ratio Jantan Dan Betina Terhadap Fertilitas Dan Daya Tetas Telur Ayam Kampung

Perkembangan ternak ayam dapat meningkat pesat,apabila penyediaan bibit bisa berjalan dengan baik,diikuti dengan pengelolaan,pemberian makan,pemuliaan serta pencegahan penyakit secara teratur. Sejauh ini belum diketahui perbandingan jantan dan betina secara tepat,terutama oleh masyarakat pedesaan sehingga sering terjadi kegagalan penetasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jantan dan betina terhadap fertilitas, daya tetas telur dan bobot tetas telur ayam kampung. Percobaan yang dilalukukan menggunakan 8 ekor pejantan dan 60 ekor betina sebagai tetua, dan dibagi menjadi empat perlakuan dan dua ulangan dengan perbandingan jantan dan betina yaitu A (1:5); B(1:7); C(1:9); D(1:11), Dilanjutkan penetasan telur sebanyak 120 butir dengan tiap perlakuan 15 butir. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam Rancangan Acak Lengkap (RAL), Apabila antar perlakuan menunjukan perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa fertilitas tertinggi terdapat pada kelompok B (96,66) dan terendah pada kelompok D (56,66). Daya tetas tertinggi terdapat pada kelompok B (96,66) dan terendah pada kelompok D (56,66). Bobot tetas tertinggi terdapat pada kelompok B(23,18) dan terendah pada kelompok D (21,33). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ferlititas,daya tetas telur jauh lebih baik pada kelompok B dan bobot tetas telur ayam kampung jauh lebih baik pada kelompok B.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Umur Telur Tetas Persilangan Itik Tegal dan Mojosari dengan Penetasan Kombinasi terhadap Fertilitas dan Daya

Pengaruh Umur Telur Tetas Persilangan Itik Tegal dan Mojosari dengan Penetasan Kombinasi terhadap Fertilitas dan Daya

tetas telur itik pada umur telur tetas 3, 5, dan 7 hari berkisar antara 47,2 dan 87,4%. Penyebab terjadinya perbedaan hasil ini diduga karena perbedaan metode yang digunakan, umur telur tetas, suhu, dan kelembapan yang digunakan selama proses penetasan. Selanjutnya jika dibandingkan dengan hasil penelitian Meliyati (2013) bahwa daya tetas telur itik mojosari pada umur 1, 4, dan 7 hari berkisar antara 68,89% dan 74,70%. Hasil penelitian ini memiliki daya tetas yang lebih tinggi. Hal ini diduga karena adanya perbedaan sex ratio, suhu, dan kelembaban pada saat telur di mesin tetas. Pada penelitian Meliyati (2013) , sex ratio yang digunakan adalah 1:23 sedangkan pada penelitian ini sex ratio yang di gunakan adalah 1:12. Seperti yang dikemukakan oleh Jull (1982) bahwa daya tetas dipengaruhi oleh ransum, perbandingan jantan dan betina, umur induk, silang dalam, kematian embrio, dan intensitas produksi telur.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Fertilitas, Susut Tetas, Daya Tetas Dan Bobot Tetas Telur Ayam Arab

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Fertilitas, Susut Tetas, Daya Tetas Dan Bobot Tetas Telur Ayam Arab

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu telur ayam arab yang berasal dari induk ayam berumur ± 11 bulan dengan sex ratio 1:8 dan dipelihara secara intensif. Jumlah telur yang digunakan pada penelitian sebanyak 162 butir dengan rata-rata bobot awal telur berkisar antara 41,18± 2,18 g/butir dengan koefesien keragaman sebesar ± 5,31%. Ransum yang diberikan terdiri atas dedak 30%, konsentrat 30%, dan jagung 40%. Kandungan nutrisi ransum untuk bahan kering sebesar 74,27 %; protein kasar 17,94 %; serat kasar 8,20 %; lemak 7,17 %; dan abu 8,26 %. Desinfektan rodalon untuk membersihkan telur tetas; alkohol untuk fumigasi mesin tetas; air untuk mengatur kelembapan di dalam mesin tetas.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Imbangan Jantan Dan Betina Pada Itik Sikumbang Janti Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Bobot Tetas Dan Daya Hidup

Imbangan Jantan Dan Betina Pada Itik Sikumbang Janti Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Bobot Tetas Dan Daya Hidup

Kaharudin, D. 1989. “Pengaruh Bobot Telur Tetas terhadap Bobot Tetas, Daya Tetas, Pertambahan Berat Badan dan Angka Kematian Sampai Umur 4 Minggu Pada Puyuh Telur (Coturnix-coturnix Japonica)”. Laporan Penelitian. Universitas Bengkulu.

5 Baca lebih lajut

Daya Tetas Dan Lama Menetas Telur Ayam Tolaki Pada Mesin Tetas Dengan Sumber Panas Yang Berbeda

Daya Tetas Dan Lama Menetas Telur Ayam Tolaki Pada Mesin Tetas Dengan Sumber Panas Yang Berbeda

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tetas dan lama menetas telur ayam tolaki pada mesin tetas dengan sumber panas yang berbeda. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan di kandang pembibitan Fakultas Peternakan UHO. Ayam tolaki yang digunakan terdiri atas 5 ekor jantan dan 15 ekor betina umur sekitar 20 bulan. Perkawinan ayam dilakukan dengan cara IB. Parameter yang diamati adalah: fertilitas, daya hidup embrio, daya tetas, bobot tetas dan lama menetas. Hasil penelitian menujukkan: (1) rataan fertilitas telur ayam tolaki pada mesin tetas PL adalah 58,57% dan mesin tetas PLM adalah 46,88%, namun kedua mesin tetas secara statistik tidak berbeda nyata, (2) rataan DHE pada mesin tetas PL adalah 96,67% dan mesin tetas PLM adalah 89,58%, (3) rataan daya tetas pada mesin tetas PL adalah 45,61% dan mesin tetas PLM adalah 64,81%, (4) rataan bobot tetas, pada mesin tetas PL adalah 26,47 g, sedangkan mesin tetas PLM 26,96 g, dan (5) lama menetas telur pada mesin tetas PL adalah 21.05 hari dan PLM adalah 21,09 hari. Secara statistik, penggunaan mesin tetas dengan sumber panas berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati.Mesin tetas dengan sumber panas berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap fertilitas, DHE, daya tetas, bobot tetas dan lama menetas telur ayam tolaki. Untuk meningkatkan daya tetas direkomendasikan menggunakan mesin tetas dengan sumber panas kombinasi listrik dan lampu minyak.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH UMUR TELUR TETAS ITIK MOJOSARI DENGAN PENETASAN KOMBINASI TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS

PENGARUH UMUR TELUR TETAS ITIK MOJOSARI DENGAN PENETASAN KOMBINASI TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS

Penetasan secara alami dapat dilakukan dengan bantuan itik Manila (entok) atau ayam Kampung. Keuntungan cara alami ini yaitu mudah dilakukan petani kecil, daya tetas cukup tinggi, tidak memerlukan pengawasan yang intensif seperti pengaturan suhu, kelembapan, dan pemutaran telur sedangkan kerugiannya yaitu kapasitas yang sangat terbatas, memerlukan biaya untuk memelihara entok, dan resiko kematian entok akibat terlalu lama menetaskan atau penyakit lainnya (Setioko, 1998). Penetasan pada entok sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas memiliki keuntungan yaitu tingkat keberhasilan penetasan berkisar 80--90 % (Suharno dan Amri, 2002).
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

PENGARUH PERENDAMAN TELUR TETAS ITIK LOKAL DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT KAYU AKASIA ( Acacia Mangium ) SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS DAN MORTALITAS

PENGARUH PERENDAMAN TELUR TETAS ITIK LOKAL DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT KAYU AKASIA ( Acacia Mangium ) SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS DAN MORTALITAS

Wicaksono, D., T. Kurtini, K. Nova. 2013. Perbandingan fertilitas serta susut, daya dan bobot tetas ayam kampung pada penetasan kombinasi. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

5 Baca lebih lajut

Perbandingan Fase Produksi Telur Kalkun Terhadap Fertilitas, Susut Tetas, Daya Tetas, Dan Bobot Tetas

Perbandingan Fase Produksi Telur Kalkun Terhadap Fertilitas, Susut Tetas, Daya Tetas, Dan Bobot Tetas

Fertilitas yang tidak berbeda ini disebabkan oleh kemampuan sistem reproduksi induk kalkun pada fase produksi pertama dan kedua (induk umur 7 dan 14 bulan) masih relatif sama. Hal ini juga ditunjang oleh sex ratio induk betina dan jantan yang sama yaitu 4:1, umur umur tetas 4 hari, dan ransum yang digunakan sama sehingga berakibat pada fertilitas yang relatif sama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suprijatna, et al., (2008) bahwa faktor yang menentukan fertilitas antara lain yaitu sex ratio, lama penyimpanan telur, manajemen pemeliharaan, pakan, dan musim.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PERBEDAAN BOBOT BADAN INDUK TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM KEDU JENGGER MERAH DAN JENGGER HITAM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PERBEDAAN BOBOT BADAN INDUK TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM KEDU JENGGER MERAH DAN JENGGER HITAM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Ayam Kedu merupakan plasma nutfah yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan. Ciri – ciri ayam Kedu antara lain, warna bulu hitam, putih dan lurik, badan besar, warna paruh hitam, warna jengger merah dan hitam (Untari et al., 2013). Ayam Kedu mempunyai keunggulan secara genetik, yaitu pertumbuhan dan produksi telur yang tinggi dibandingkan dengan ayam lokal lainnya. Peraturan Menteri Pertanian (2006) menyatakan bahwa kemampuan produksi telur ayam Kedu adalah 215 butir/tahun, ayam Merawang 190 butir/tahun, ayam Sentul 150 butir/tahun, ayam Pelung 144 butir/tahun dan ayam kampung 112 butir/tahun.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH DOSIS VITAMIN B KOMPLEKS SEBAGAI BAHAN PENYEMPROTAN TELUR ITIK TEGAL TERHADAP FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN KEMATIAN EMBRIO

PENGARUH DOSIS VITAMIN B KOMPLEKS SEBAGAI BAHAN PENYEMPROTAN TELUR ITIK TEGAL TERHADAP FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN KEMATIAN EMBRIO

Fertilitas dapat diartikan sebagai presentase telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang dieramkan tanpa memperhatikan telur dapat atau tidak menetas. Telur tetas itik yang fertil dihasilkan melalui proses dari perkawinan antara itik jantan dengan itik betina dan memiliki benih embrio. Menurut Suryana (2011), rata-rata fertilitas telur tertinggi dengan sex ratio (1:10) menunjukkan nilai sebesar 97,88 % dibandingkan dengan sex ratio (1:28) dengan nilai 50,21%. Semakin tinggi angka yang diperoleh maka semakin baik pula kemungkinan daya tetasnya.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Pengaruh Kualitas Fisik (Bobot dan Bentuk) Telur Itik Super Peking Putih (Sp2-f1) terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas

Pengaruh Kualitas Fisik (Bobot dan Bentuk) Telur Itik Super Peking Putih (Sp2-f1) terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 April – 13 Mei 2018 di unit penetasan telur UPT. Agri Science Technopark Fakultas Peternakan Universitas Islam Lamongan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas fisik (bobot dan bentuk) telur itik Super Peking Putih (SP2-F1) terhadap fertilitas, daya tetas dan bobot tetas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai informasi bagi masyarakat dan sebagai refrensi dan perbandingan pada penelitian selanjutnya.Penelitian ini menggunakan 80 butir telur itik Super Peking Putih (SP2-F1) dengan rasio induk jantan dan betina 1:5. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola tersarang (nested design) 2 x 2 dengan 4 ulangan dengan setiap ulangan terdiri dari 5 butir telur. Faktor ke 1 adalah bobot telur ( K: 54-64 gram dan B: 65-75 gram ) dan faktor ke 2 adalah bentuk telur (lonjong (L) : indeks 70-75% dan oval(O): indeks 76-80%). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi fertilitas dan daya tetas, tetapi berpengaruh terhadap bobot tetas.. Tidak terdapat interaksi antara bobot dan indeks bentuk telur terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas DOD Itik Super Peking Putih (SP2-F1). Kesimpulan dari penelitian ini ialah bobot telur tidak berpengruh nyata terhadap fertilitas dan daya tetas (P>0,05), tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap bobot tetas telur itik SP2-F1 (P<0,05). Sedangkan bentuk telur tidak berpengaruh nyata terhadap fertilitas, daya tetas maupun bobot tetas telur itik SP2-F1 (P>0,05).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E DAN LAMA PENYIMPANAN TELUR TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS BURUNG PUYUH (Coturnix- Cortunix Japonica)

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E DAN LAMA PENYIMPANAN TELUR TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS BURUNG PUYUH (Coturnix- Cortunix Japonica)

Untuk memperoleh fertilitas, daya tetas dan pertumbuhan yang baik, hal ini dapat dilakukan melalui pengaturan kandungan vitamin E pada pakan dan lama penyimpanan telur tetas, dimana vitamin E mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian vitamin E dan lama penyimpanan telur tetas terhadap fertilitas, dan daya tetas telur puyuh. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial 3x3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah level vitamin E (0mg, 50mg, 100mg) dan factor kedua adalah level lama penyimpanan telur tetas (L) (1-2 hari, 3-4 hari dan 5-6 hari). Burung puyuh dalam percobaan sebanyak 135 ekor terdiri dari 90 ekor betina dan 45 ekor jantan, yang ditempatkan pada 9 kandang percobaan setiap kandang berisi 10 ekor betina dan 5 ekor jantan. Parameter yang diamati adalah fertilitas, daya tetas dan pertumbuhan burung puyuh selama 4 minggu. Hasil penelitin menunjukkan bahwa interaksi antara vitamin E dan lama penyimpanan tidak perngaruh nyata terhadap fertilitas dan daya tetas burung puyuh. Pengaruh mendiri vitamin E berngaruh nyata terhadap fertilitas telur, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur puyuh. Pengaruh mandiri lama penyimpanan tidak berngaruh nyata terhadap fertilitas dan daya tetas telur puyuh.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PERBEDAAN BOBOT BADAN INDUK TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM KEDU JENGGER MERAH DAN JENGGER HITAM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PERBEDAAN BOBOT BADAN INDUK TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM KEDU JENGGER MERAH DAN JENGGER HITAM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

tahun) dengan 2 kategori bobot badan sedang(1,847 – 2,163 kg) dan kecil (1,069 – 1,734 kg) yang dikelompokkan per flok dengan perbandingan jantan dengan betina 1 : 5. Parameter yang diamati meliputi bobot badan induk, fertilitas dan daya tetas ayam Kedu jengger merah dan jengger hitam. Koleksi telur tetas dilakukan selama 5 hari. Lima kali penetasan dilakukan dalam penelitian ini sebagai ulangan. Data pada AKJM dianalisis dengan one wa y classification dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test , sedangkan pada AKJH dengan t- test.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Efek Lantai Kandang (Renggang Dan Rapat) Dan Imbangan Jantan-betina Terhadap Fertilitas, Daya Tetas Dan Kematian Embrio Pada Burung Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica)

Efek Lantai Kandang (Renggang Dan Rapat) Dan Imbangan Jantan-betina Terhadap Fertilitas, Daya Tetas Dan Kematian Embrio Pada Burung Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica)

Data dan hasil analisis statistik (Tabel 2) menunjukkan bahwa imbangan jantan-betina berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap fertilitas dan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya tetas dan kematian embrio. Berpengaruhnya imbangan jantan dan betina terhadap fertilitas karena semakin sempit imbangan jantan dan betina berarti kesempatan terjadi perkawinan semakin besar, sehingga angka fertilitas semakin tinggi dan sebaliknya. Nilai fertilitas tertinggi sebesar 88,67±2,83% pada imbangan 1:2. kemudian menurun secara berurutan pada imbangan 1:3, 1:4, dan 1:5 dengan nilai fertilitas terendah 72±3,77%. Penurunan nilai fertilitas yang signifikan diduga disebabkan turunnya frekuensi perkawinan akibat semakin banyak jumlah betina. Puyuh jantan tidak mampu mengawini seluruh puyuh betina, sehingga perkawinan kurang efektif. Listyowati dan Roospitasari (2009) menyatakan bila betina terlalu banyak maka dikhawatirkan banyak telur yang kosong (infertil), karena induk jantan tidak dapat mengawini seluruh induk betina. Selain itu, populasi yang terlalu banyak, tingkat stress dan daya kompetisi semakin tinggi (Anonimous, 2008). Hasil penelitian Woodard (1973) juga menunjukkan bahwa pada imbangan 1:5 mencapai fertilitas 64,95% dan 1:6 mencapai fertilitas 47,1%. Fertilitas dipengaruhi banyak faktor, imbangan jantan-betina adalah faktor yang sangat
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Sex Ratio Ayam Arab Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Dan Bobot Tetas

Pengaruh Sex Ratio Ayam Arab Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Dan Bobot Tetas

sex ratio 1:5, 1:7, dan 1:9 mempunyai kesempatan yang sama untuk mengawini ayam arab betina, akibatnya kualitas spermanya relatif sama sehingga fertilitas tidak berbeda. Menurut Rasyaf (1984), seekor pejantan mampu untuk kawin 20-- 80 kali dalam kondisi yang normal. Tiap kali kawin akan dikeluarkan sperma sebanyak 0,1 hingga 1.0 cc dengan warna putih dan cair. Tiap kandungan volume tersebut mengandung jutaan spermatozoa, tetapi sperma itu akan berkurang bila temperatur kandang tinggi. Frekuensi perkawinan yang semakin sering menyebabkan, volume semen dan jumlah sel spermanya akan berkurang sehingga akan menurunkan fertilitas.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Bobot Badan Induk Generasi Kedua terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas Ayam Kedu Jengger Merah di Satuan Kerja Maron, Temanggung

Pengaruh Bobot Badan Induk Generasi Kedua terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas Ayam Kedu Jengger Merah di Satuan Kerja Maron, Temanggung

Pengelompokan bobot badan pada induk ayam kedu dapat berpengaruh terhadap persentase fertilitasnya. Fertilitas telur ayam kampung yaitu berkisar antara 80 – 92%. Rasio jantan dan betina, ransum serta manajemen pemeliharaan ternak dapat mempengaruhi fertilitas dari telur (Septiwan, 2007). Daya tetas memiliki hubungan yang erat dengan hasil fertilitas, semakin tinggi fertilitas maka daya tetasnya juga semakin tinggi (Wicaksono et al., 2013). Seleksi pada telur serta penanganan dan penyimpanan telur menjadi faktor yang berpengaruh terhadap daya tetas (Septiwan, 2007). Bobot tetas merupakan berat DOC (Day Old Chick) saat menetas. Rata-rata bobot tetas ayam kampung yaitu sebesar 26,71 – 27,56 g/ekor, adapun faktor yang dipengaruhi oleh bobot tetas yaitu bobot telur. Bobot telur yang memiliki ukuran besar akan menetas lebih lama dibandingkan yg berukuran sedang atau berukuran lebih kecil (Wicaksono et al., 2013).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

Berkaitan dengan hal di atas agar mendapatkan bibit unggul dari hasil penetasan, maka sex ratio harus diperhatikan karena dapat menjadi salah satu penyebab kegagalan penetasan. Saat ini sex ratio jantan dan betina yang digunakan di peternak masih beragam yaitu 1:5,1:6, 1:7, 1:8,1:9. Selain itu, informasi tentang sex ratio optimal pada peternakan pembibitan ayam arab saat ini masih terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai sex ratio ayam arab dan pengaruhnya terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas, sehingga diharapkan akan meningkatkan jumlah telur yang menetas saat pengeraman menggunakan mesin tetas.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS TELUR AYAM ARAB

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS TELUR AYAM ARAB

peneropongan dengan bantuan sumber cahaya, alat ini disebut candler (Suprijatna et al., 2008). Menurut Setiadi et al. (1994), sampai saat ini belum diketahui cara yang tepat dalam usaha penetasan telur untuk menentukan tingkat daya tunas kecuali meneropong (candling). Tujuan dilakukannya peneropongan untuk mengetahui telur yang mengandung zigot (bakal anak) atau tidak (Sakti, 2000). Untuk mendapat fertilitas yang tinggi menurut (Sukardi dan Mufti, 1989) adalah jantan berbanding 8 — 10 ekor betina, maka telur yang sudah keluar dari tubuh induk sudah terjadi pembuahan, dan pada saat ditetaskan yang terjadi adalah perkembangan embrio hingga terbentuk anak ayam dan akhirnya menetas.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Pemberian Tepung Cangkang Telur Ayam Ras Dalam Ransum Terhadap Fertilitas, Daya Tetas Dan Mortalitas Burung Puyuh (Cortunix-cortunix japonica)

Pemberian Tepung Cangkang Telur Ayam Ras Dalam Ransum Terhadap Fertilitas, Daya Tetas Dan Mortalitas Burung Puyuh (Cortunix-cortunix japonica)

Mineral utama yang terlibat dalam proses metabolisme embrional yaitu Calsium. Sumber mineral ini utamanya adalah Calsium yang terdapat dalam kerabang telur. Pada telur infertil tidak terjadi peningkatan kadar Calsium selama periode penetasan. Adanya peningkatan kadar Calsium pada telur fertil yang dieramkan ini hanya mungkin diperoleh karena adanya transfer dari kerabang telur melalui membran kerabang. Apabila pakan induk defisiensi akan mineral maka berdampak pada fertilitas dari telur yang ditetaskan hal ini juga berpengaruh pada pembentukan embrio (Suprijatna et al., 2005).
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects