Top PDF PENGARUH STIMULAN ETEFON TERHADAP PRODUKSI DAN FISIOLOGI LATEKS BERBAGAI KLON IRR

PENGARUH STIMULAN ETEFON TERHADAP PRODUKSI DAN FISIOLOGI LATEKS BERBAGAI KLON IRR

PENGARUH STIMULAN ETEFON TERHADAP PRODUKSI DAN FISIOLOGI LATEKS BERBAGAI KLON IRR

Mekanisme kerja stimulan telah banyak dipelajari di antaranya dapat meningkatkan lamanya aliran lateks dan metabolisme sel lateks (Gohet et al., 2008; Tungngoen et al., 2009; Lacote et al., 2010; Krishnakumar et al., 2011). Stimulan mempengaruhi kadar sukrosa dan fosfat anorganik (Pi) dalam lateks (Nguyen et al., 2016). Hubungan antara frekuensi stimulan dengan kadar sukrosa lateks mempunyai pola hiperbolik, artinya dengan peningkatan frekuensi stimulan akan meningkatkan konsumsi sukrosa lateks. Sebaliknya kadar Pi lateks mempunyai hubungan parabolik, yaitu pada kondisi telah mencapai level maksimum, peningkatan frekuensi stimulan tidak diikuti dengan peningkatan Pi lateks (Gohet, Regis, Franck, Thierry, & Antoine, 2011). Disamping efek positif, stimulan etefon juga dapat memberikan efek negatif jika dalam aplikasinya berlebihan. Hasil penelitian Herlinawati dan Kuswanhadi (2013) serta Putranto et al. (2015) menyatakan bahwa aplikasi etefon yang berlebihan meningkatkan risiko KAS.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Woelan , S., Suhendry, I., Aidi-Daslin, Anas, A., Suwarto, H. Munthe, dan Sumarmadji. 2004. Seleksi dan uji adaptasi klon seri IRR berproduksi lateks-kayu tinggi pada beberapa tipe curah hujan dan tanah. Laporan akhir PAATP. Pusat Penelitian Karet. 90p.

12 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Umur Tanaman menentukan efektivitas penggunaan stimulan gas etilen. Tanaman yang masih muda umumnya kurang efektif apabila digunakan stimulan gas etilen. Pengaruh penggunaan stimulan terhadap peningkatan tanaman muda hanya sekitar 10%. Disamping itu, tanaman yang masih muda relative kurang tahan terhadap stimulant gas etilen, sehingga setelah 3 – 5 tahun penggunaan stimulant gas etilen kekeringan alur sadap (KAS) dapat mencapai 5 kali lipat. Dengan demikian aplikasi stimulant sebaiknya diberikan pada tanaman berumur sekitar 15 tahun (Karyudi, 2006).

8 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Hasil penelitian menunujukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dari jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil antara klon PB 260 dan BPM 1 baik pada kulit pulihan maupun kulit perawan. Tetapi diperoleh kesimpulan khusus kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1. Hasil penelitian respons fisiologi dan produksi akibat perlakuan sistem sadap pada dua klon diperoleh bahwa kadar sukrosa lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan klon PB 260. Kadar sukrosa yang tinggi untuk klon BPM 1 menggunakan sistem sadap S/4 d3 ET/15d di bulan lembab, S/2U d ETG/9d (bulan basah) dan S/2U d3ETG/18d (bulan kering). Kadar FA lebih tinggi pada klon BPM 1 dibulan basah (S/2d3ETG/9d). dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan kering (S/2U d3ETG/18d) dan lembab (S/2U d3 ETG/9d) FA PB 260 lebih tinggi. Kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 di bulan basah dan kering (S/2U d3 ETG/9d) dibandingkan BPM 1. Pada bulan lembab perubahan sistem sadap dan stimulan tidak mempengaruhi kadar tiol pada klon PB 260. Kadar Karet Kering di bulan kering (S/4d3ETG/9d) dan lembab (S/2d3ET/15d) klon BPM 1 lebih tunggi dibandingkan PB 260. Kecuali di bulan basah PB 260 lebih tinggi dari BPM 1 (S/2 d3 ETG/9d). Indeks penyumbatan pada klon BPM 1 lebih rendah di bulan basah (S/2U d3 ET/15d), kering (S/4U d3 ETG/9d) dan lembab (S/4 d3 ETG/18d) dibandingkan klon PB 260. Produksi lateks dan indeks produksi pada klon BPM 1 lebih tinggi di bulan lembab dengan sistem sadap S/2U d3ETG/27d dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan basah dan kering (S/2U d3ET/15d) produksi dan indeks produksi tertinggi pada PB 260. Sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d pada klon PB260 pada bulan basah dapat meningkatkan hasil 135,51%. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada klon BPM 1 dapat meningkatkan hasil 39,52% pada bulan kering dan 185,67% pada bulan lembab. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada BPM 1 dapat meningkatkan hasil karet sampai 185.67% pada bulan lembab, sedangkan untuk klon PB 260 sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d dapat meningkatkan hasil 135,51% pada bulan basah. Selama satu tahun pengujian pemberian semua perlakuan stimulan pada klon
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Namun untuk stabilitas produktivitas dalam jangka waktu yang panjang, suatu kebun perlu pengaturan komposisi klon karena setiap klon mempunyai karakteristik yang berbeda, baik pola gugur daunnya, ketahanan terhadap suatu jenis penyakit, maupun terhadap angin. Ketidak seimbangan komposisi klon dalam kebun, selain mengakibatkan ketidak stabilan produktivitas tahunan, juga akan berisiko tinggi terhadap penurunan hasil akibat gangguan angin, penyakit, atau gugur daun yang serempak. Berdasarkan pola produktivitas lateks dan kayu, pengaturan komposisi klon dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

rendahnya aliran lateks bergantung pada jenis klon, panjang irisan sadap, interval penyadapan dan pemberian stimulan. Semakin pendek irisan, tekanan aliran lateks makin tinggi karena semakin pendek irisan gangguan terhadap angkutan asimilat semakin kecil (Suhermanto dan Sumarmadji, 2005). Hal sama juga dinyatakan Sumarmadji (2005) bahwa panjang irisan S/3U d2.ET.2.5% lebih baik dari kontrol S/2 d2 tanpa stimulan. Pada bagian lain, Sumarmadji et al .,(2009) menyatakan tidak didapati perbedaan yang nyata antara irisan Sc20U d3 ET2.5%.Pa0.5.18/y (2w) dan S/4U d3 ET2.5%Pa0.5.18/y (2w) dengan sistem S/2 d3.ET2.5%.Ga1.0 9/y (m). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Woelan et al ., (2012) pada klon IRR 202, 208, 210 dan 220 yang tergolong sebagai klon QS respons terhadap interval penyadapan rendah, sedangkan klon IRR 213 dan 214 sebagai klon SS respon terhadap interval penyadapan tinggi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi di bawah bidang sadap. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, stimulan ekstrak 50 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 100 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 150 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 200 g kulit buah pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi di bawah bidang sadap. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, stimulan ekstrak 50 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 100 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 150 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 200 g kulit buah pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi di bawah bidang sadap. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, stimulan ekstrak 50 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 100 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 150 g kulit buah pisang, stimulan ekstrak 200 g kulit buah pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

dan kayu (Aidi dan Daslin, 2014). Namun saat ini klon PB 260 dan IRR 118 dari Balai Penelitian Karet Sungei Putih masih menjadi primadona permintaan bibit klon karet bagi sebagian besar perkebunan karet di Indonesia. Rouf, et al (2015) menyatakan penerapan teknologi penyadapan melalui penggunaan stimulan telah banyak dilakukan pada perkebunan karet. Ada dua jenis stimulan yang dapat dipilih, yaitu stimulan cair atau gas. namun menurut Setiawan dan Andoko (2008) dalam Sinamo, et al. (2015) menyatakan bahwa aplikasi stimulan pada tanaman karet, tidak semua memberikan respon yang diharapkan, bila dengan pemberian stimulan kadar karet kering lebih kecil dari 30% artinya, respon terhadap stimulan kurang berarti. Hal ini tergantung pada masing-masing klon karet dan umumnya tanaman karet yang dapat dipacu produksinya dengan stimulan jika berumur lebih dari 15 tahun atau 10 tahun.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Etilen selain berperan dalam pematangan buah, etilen juga mempunyai pengaruh pada sistem tanaman lainnya. Pada sistem cabang, etilen dapat menyebabkan terjadinya pengerutan, menghambat kecepatan pertumbuhan, mempercepat penguningan pada daun dan menyebabkan kelayuan. Pada sistem akar, etilen dapat menyebabkan akar menjadi terpilin (terputar), menghambat kecepatan pertumbuhan akar, memperbanyak tumbuhnya rambut-rambut akar dan dapat menyebabkan kelayuan. Pada sistem bunga, etilen dapat mempercepat proses pemekaran kuncup, akan tetapi kuncup yang telah mekar itu akan cepat menjadi layu, misalnya pada bunga mawar (Kurniawan, 2008).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

3. Denah percobaan lokasi Kebun Sungei Putih, PT. Perkebunan Nusantara III di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut dan jenis tanah Ultisol……………………………………………………………... 121 4. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadap pada bulan Basah……………………………..…… 122 5. Kecepatan Aliran Lateks Lateks klon BPM1 dengan perlakuan sistem sadapi pada bulan Kering………………………………… 123
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24

PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24

Stimulan yang berbahan aktif etefon dalam tanaman karet akan terhidrolisis menjadi etilen, asam hidroklorit, dan asam fosfat. Setelah etefon diaplikasikan pada alur sadap, etefon tersebut terhidrolisis menjadi etilen. Efektivitas etefon dapat dideteksi dalam waktu 5 sampai 6 jam setelah aplikasi. Oleh karena stimulan dengan bahan aktif etefon berpengaruh tidak langsung, peningkatan produksi hanya mencapai kurang dari 50% (Yew, 1998). Sebaliknya stimulan dengan bahan aktif gas etilen diserap langsung oleh tanaman karet dengan jumlah yang lebih banyak (Gomez, 1983). Karyudi et al. (2006) menyatakan bahwa penggunaan stimulan gas etilen dapat meningkatkan produktivitas rata-rata sekitar 75 - 100% diatas sistem sadap konvensional yang dikombinasikan dengan stimulan etefon.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan penyakit kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit dikonsumsi oleh petani rakyat, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada beberapa klon tanaman karet terhadap pemberian berbagai sumber hormon etilen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama, waktu aplikasi kedua, waktu aplikasi ketiga, dan waktu aplikasi keempat, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118, klon PB 260, klon klon IRR 42, klon IRR 39 dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, etephon ethrel, etephon SP1, ekstrak kulit pisang, dan ekstrak kulit nenas. Pengamatan parameter adalah volume lateks, kadar padatan total, dan total produksi.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Seleksi Progeni F1 Hasil Persilangan 2009 Berdasarkan Karakteristik Produksi Dan Fisiologi Pada Tanaman Karet (Hevea Brassiliensis Muell. Arg.)

Seleksi Progeni F1 Hasil Persilangan 2009 Berdasarkan Karakteristik Produksi Dan Fisiologi Pada Tanaman Karet (Hevea Brassiliensis Muell. Arg.)

Beberapa klon karet unggul baru hasil seleksi Indonesia dilepas dengan menggunakan nama IRR (Indonesia Rubber Research) dengan beberapa seri, antara lain seri 100, 200, dan 300. Dari hasil pengujian telah dilakukan rata-rata hasil karet kering klon unggul tersebut mencapai 50gram/pohon/sadap. Dengan asumsi 1 ha terdapat 400 pohon, dengan jumlah hari sadap per tahun 100 hari,

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...