Top PDF Pengaruh Suplementasi Seng (Zn) Dan Zat Besi (Fe) Terhadap Kadar Hemoglobin Balita Usia 3-5 Tahun

Pengaruh Suplementasi Seng (Zn) Dan Zat Besi (Fe) Terhadap Kadar Hemoglobin Balita Usia 3-5 Tahun

Pengaruh Suplementasi Seng (Zn) Dan Zat Besi (Fe) Terhadap Kadar Hemoglobin Balita Usia 3-5 Tahun

Pada kelompok perlakuan 1 didapatkan hasil p 0,330 (lebih dari 0,05) yang dapat diintrepretasikan tidak ada pengaruh pemberian suplementasi seng terhadap kadar hemoglobin balita. Pada kelompok ini tetap ada peningkatan kadar hemoglobin namun tidak signifikan. Seng bukan merupakan bahan baku pembuatan hemoglobin seperti zat besi, sehingga tidak berkaitan langsung dalam pembentukan hemoglobin Namun dalam hal metabolisme, seng berinteraksi dengan zat besi baik secara langsung maupun tidak langsung. Albumin merupakan alat transpor utama seng. Penyerapan seng menurun bila nilai albumin darah menurun, misalnya dalam keadaan gizi kurang. Sebagian molekul seng menggunakan alat transpor transferin, yang juga merupakan alat transportasi besi. Bila perbandingan antara zat besi dan seng lebih dari 2 :1, transferin yang tersedia untuk Zn berkurang, sehingga menghambat Zn. Sebaliknya, dosis tinggi Zn menghambat penyerapan besi. 12 Oleh karena itu,
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Suplementasi Seng dan Zat Besi terhadap Tingkat Kecukupan Energi Balita Usia 3 – 5 Tahun di Kota Semarang

Pengaruh Suplementasi Seng dan Zat Besi terhadap Tingkat Kecukupan Energi Balita Usia 3 – 5 Tahun di Kota Semarang

Pola makan balita di negara berkembang terutama di Indonesia belum dapat memenuhi zat gizi yang dibutuhkan, terutama pada usia 3-5 tahun. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dari asupan makanan sehari-hari dapat dilakukan dengan pemberian suplementasi zat gizi mikro sesuai kebutuhan gizi balita berdasarkan AKG 2013 untuk balita dengan asupan seng dan zat besi yang kurang dari kebutuhan. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti ingin meneliti adanya pengaruh suplementasi seng dan zat besi terhadap tingkat kecukupan energi balita usia 3-5 tahun. Penelitian dilakukan di daerah Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang karena banyak keluarga dengan balita yang sosial ekonomi masyarakatnya menengah ke bawah, merupakan daerah yang padat penduduk dan banyak penduduknya yang sebagian besar hanya tamat SD dan SMP. Dosis suplementasi seng dan zat besi yang diberikan dalam bentuk sirup sebesar seng 10 mg/hari dan zat besi 7,5 mg/hari.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Suplementasi Seng Dan Zat Besi Terhadap Tinggi Badan Balita Usia 3-5 Tahun Di Kota Semarang

Pengaruh Suplementasi Seng Dan Zat Besi Terhadap Tinggi Badan Balita Usia 3-5 Tahun Di Kota Semarang

Suplementasi zat gizi mikro merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro pada penderita defisiensi. Hasil penelitian suplementasi kombinasi antara zat besi dan seng yang telah dilakukan di Bogor, mengungkapkan bahwa suplementasi kombinasi zat besi dan seng yang menggunakan perbandingan 1:1, secara efektif menurunkan defisiensi zat besi dan seng. Artinya, suplementasi dengan dua zat gizi mikro – dalam hal ini zat besi dan seng sekaligus dapat memperbaiki kekurangan ke dua zat gizi tersebut. 6 Penelitian mengenai pengaruh suplementasi seng dan zat besi pada balita usia 6-12 bulan di Indonesia menunjukkan suplementasi tunggal seng mempercepat pertumbuhan, suplemen tunggal zat besi mempercepat pertumbuhan serta perkembangan psikomotor, namun kombinasi antara seng dan zat besi belum menunjukkan efek yang signifikan terhadap pertumbuhan serta perkembangan psikomotor. 10 Namun, penelitian lain pada balita usia 12 - 59 bulan yang hanya diberikan suplementasi seng saja selama 4 bulan tidak menunjukkan pengaruh terhadap perubahan antropometris baik berat badan maupun tinggi badan balita. Hal tersebut kemungkinan dapat disebabkan karena ukuran sampel, pendeknya periode suplementasi, atau adanya defisiensi zat gizi selain seng, yang penting juga dalam pertumbuhan balita. 14 Penelitian lain pada balita usia 6 – 12 bulan di Bangladesh juga menunjukkan tidak adanya pengaruh suplementasi seng, zat besi, dan seng + zat besi terhadap pertumbuhan balita. Hal tersebut disebabkan karena suplementasi yang diberikan hanya 1 kali setiap minggu nya sebesar 20 mg seng dan 20 mg zat besi. 15
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Suplementasi Seng Dan Zat Besi Terhadap Berat Badan Balita Usia 3-5 Tahun Di Kota Semarang

Pengaruh Suplementasi Seng Dan Zat Besi Terhadap Berat Badan Balita Usia 3-5 Tahun Di Kota Semarang

Penelitian ini terdapat empat kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol yang diberi sirup yang tidak mengandung zat seng dan zat besi serta tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok 2 diberikan seng, kelompok 3 diberikan zat besi dan kelompok 4 diberikan kombinasi seng dan zat besi untuk melihat pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Sampel yang telah melewati tahap screening dibagi secara acak (random) dalam 4 kelompok dengan jumlah setiap kelompok 9 subjek. Penelitian ini dilakukan selama 60 hari. Populasi target penelitian ini adalah balita usia 3-5 tahun di Kota Semarang. Populasi terjangkau dalam penelitian ini yaitu balita usia 3-5 tahun di RW XI Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Kebiasaan Konsumsi Makanan Sumber Seng dan Zat Besi serta Kejadian Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 1-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Jering Kabupaten Merangin

Hubungan Kebiasaan Konsumsi Makanan Sumber Seng dan Zat Besi serta Kejadian Diare dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 1-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Jering Kabupaten Merangin

Stunting is a condition of failure to achieve physical development is measured based on height according to age. The purpose of this study was to determine the relationship of food habit consumtion of zinc and iron sources and as well as diarrhea incidence with stunting on the toddler aged 1-3 years I work of community health center of Sungai Jering, Merangin 2019 years.The study was used a Cross Sectional desigh study. This study was concucted in work area Puskesmas Sungai Jering on July 2019. The population of this study was 221 toddlers, total of sampels was 67 toddlers with the technique Proporsional Random Sampling. The data was taken using Food Frequency Questionnarie (FFQ) and interview. The data was analyzed using univariate and bivariate (Chi-Square). The result showed that 55% of toddlers not of stunting, 51,2,% of toddlers was rarely comsumtion of Zn, of 53,8% of toddlers was rarely comsumtion of Fe, and 72,5% not diarrhea. There is significant relationship between habit comsumtion of Zn and incidence of stunting (p = 1,000), there is a significant relationship between habit comsumtion of Fe and incidence of stunting (p = 0,529) and there is a significant relationship between the the incidence of diarrhea and the incidence of stunting (p =0,000 ) among toddlers. There is a significant relationship between the inciedence of diarehea with the incidence of stunting. Therefore, it is advisable in mother and toddlers so can increase the nutritional knowledge about the way of eathing that is good for toddlers and maintain the cleaniness of the food so that it can improve the nutritional status of children.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Gambaran Kadar Hemoglobin, Kadar Timbal Darah, dan Asupan Seng pada Anak Usia 9-12 Tahun

Gambaran Kadar Hemoglobin, Kadar Timbal Darah, dan Asupan Seng pada Anak Usia 9-12 Tahun

5. Rahayu Astuti, Hertanto Wahyu Subagyo,Siti Fatimah Muis. Kadar Tembaga (Cu) dan Seng (Zn) TIkus Sprague Dewley Anemia Defisiensi Besi yang Mendapat Suplementasi Tempe Terfortifikasi Zat Besi dan Vitamin A. Prosiding Seminar Nasional 2013. Menuju Masyarakat Madani dan Lestari. ISBN: 978-979-98438-8-3.

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI BESI FOLAT TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI ANEMIA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 SLEMAN

PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI BESI FOLAT TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI ANEMIA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 SLEMAN

Ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan atau menghambat absorbsi besi yaitu : (1) Tipe makanan yang dikonsumsi; (2) Interaksi antar bahan pangan; (3) Mekanisme regulasi dalam mukosa usus; (4) Bioavailabilitas (penggunaan besi yang dikonsumsi untuk fungsi metabolik); (5) Jumlah simpanan zat besi; (6) Kecepatan produksi sel darah merah (Gibney et al., 2009). Zat besi banyak terkandung dalam daging merah, telur, sayuran, dan sereal, tetapi konsentrasinya di dalam susu, buah, dan produk nabati lainnya sangat rendah. Kandungan zat besi dalam makanan sendiri tidak banyak berarti karena absorbsi zat besi bervariasi secara luas. Sumber gabungan zat besi nonheme, jumlah besi yang diabsorbsi sebagian besar bergantung pada keberadaan zat di dalam makanan yang dapat meningkatkan serta menghambat absorbsi dan pada status zat besi orang tersebut. Sebagian besar zat besi nonheme berasal dari produk nabati dan susu, serta lebih dari 85% zat besi dalam makanan merupakan jenis besi nonheme.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA VEGETARIAN USIA TAHUN DI VIHARA SEMESTA MAITREYA KOTA SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA VEGETARIAN USIA TAHUN DI VIHARA SEMESTA MAITREYA KOTA SEMARANG

Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa dari 25 orang yang memiliki asupan zat besi dengan kategori kurang dan anemia paling banyak dari jenis vegetarian vegan yaitu sebanyak 15 orang (65,2%), lacto sebanyak 5 orang (83,3%), lacto ovo 6 orang (60%), dan ovo 50% (1 orang). Asupan zat besi pada setiap jenis vegetarian berbeda, jenis vegetarian vegan asupan zat besi hanya didapatkan dari zat besi non heme sehingga rentan mengalami defisiensi zat besi. Sedangkan jenis vegetarian lain seperti lacto, lacto ovo, ovo dan pollo mendapatkan asupan tambahan zat besi yang berasal dari hewani seperti telur, ayam, keju, susu dan yoghurt. Walaupun mendapatkan asupan tambahan zat besi heme namun ada responden yang mempunyai kadar hemoglobin dibawah normal atau anemia, karena tidak semua asupan zat besi dapat diabsorpsi dengan baik. Zat besi pada telur tidak dapat diserap maksimal oleh tubuh karena adanya komponen yang menghambat penyerapan zat besi. Komponen yang menghambat penyerapan zat besi pada telur adalah phosphoprotein phosvitin, phosvitin membentuk senyawa yang tak larut dalam air. Selain telur, susu sapi dan keju mengandung zat kalsium yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Menurut Larsson dan Johanson (2002) defisiensi zat besi lebih umum terjadi pada jenis vegetarian vegan dari pada lacto ovo karena asupan zat besi yang rendah dan lebih tinggi asupan serat yang mengarah penurunan bioavailabilitas zat besi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Korelasi Pengetahuan Tentang Anemia Dan Asupan Zat Besi, Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di SMAN 4 Sumatera Barat (Keberbakatan Olahraga) Tahun 2019

Korelasi Pengetahuan Tentang Anemia Dan Asupan Zat Besi, Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di SMAN 4 Sumatera Barat (Keberbakatan Olahraga) Tahun 2019

Anemia merupakan masalah utama yang terjadi di negara Indonesia terutama anemia defisieni besi, sering terjadi pada anak usia sekolah terutama remaja putri. Anemia terjadi apabila zat gizi makro dan zat gizi mikro terutama zat besi yang kurang dikonsumsi seseorang. (5) Efek yang timbul ketika remaja putri terkena anemia yaitu menurunnya prestasi dan semangat belajar, sedangkan efek ketika kurang zat besi ini menyebabkan gejalanya yaitu pucat, lelah, lesu, menurunnya nafsu makan dan gangguan pada pertumbuhan. (5)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perbandingan Zat Besi dengan dan Tanpa Vitamin C terhadap Kadar Hemoglobin Wanita Usia Subur

Perbandingan Zat Besi dengan dan Tanpa Vitamin C terhadap Kadar Hemoglobin Wanita Usia Subur

Rerata kadar hemoglobin pada pengukuran sebelum dan sesudah pemberian zat besi dan vitamin C ada pe- ningkatan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pemberian tablet tambah darah yang berfungsi menambah kadar he- moglobin dalam tubuh dan asupan vitamin C yang diminum secara teratur setiap minggu. Pemberian tablet tambah darah dalam jangka 12 minggu dapat me- ningkatkan kadar hemoglobin darah. Penderita dengan hemoglobin rendah yang diberi suplementasi zat besi me- nunjukkan perbaikan yang bermakna terhadap pe- ningkatan kadar hemoglobin dan produktivitas kerja. 13 Penanggulangan anemia terutama pada wanita pekerja sudah dilakukan secara nasional dengan pemberian pil zat besi selama 3 bulan yang diminum setiap hari. Suplementasi zat besi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hemoglobin darah dan kesehatan wanita pekerja. Zat besi di dalam bahan makanan dapat ber- bentuk hem yang berikatan dengan protein dan terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewani. 14 Lebih dari 35% hem ini dapat diabsorpsi langsung. Bentuk lain adalah dalam bentuk nonhem yaitu senyawa besi an- organik yang kompleks yang terdapat di dalam bahan makanan yang berasal dari nabati, yang hanya dapat di- absorbsi sebanyak 5%. Pemberian zat besi secara oral dapat menimbulkan efek samping pada saluran gastro- intestinal pada sebagian orang, seperti rasa tidak enak di ulu hati, mual, muntah dan diare. Frekuensi efek sam- ping ini berkaitan langsung dengan dosis zat besi. 15 Tidak tergantung senyawa zat besi yang digunakan dan tidak satupun senyawa yang ditolelir lebih baik daripada senyawa yang lain. Zat besi yang dimakan bersama de- ngan makanan akan ditolelir lebih baik meskipun jumlah zat besi yang diserap berkurang. 16 Penyebab anemia
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Asupan Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Balita Stunting

Hubungan Asupan Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Balita Stunting

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan asupan zat besi dan kadar hemoglobin balita stunting. Hal ini sesuai dengan penelitian Zuffo, pada tahun 2016, bahwa tidak ada hubungan antara asupan zat besi dan anemia. Pada penelitian tersebut anemia terjadi karena beberapa faktor lain seperti, usia ibu lebih muda, berjenis kelamin laki-laki, tidak mendapatkan ASI eksklusif, dan konsumsi zat besi non heme lebih tinggi. 30 Tidak terdapat hubungan zat besi dan kadar hemoglobin pada penelitian ini diperkirankan karena seluruh subyek dengan asupan rendah zat besi. Selain itu, sumber asupan zat besi sebagian besar berasal dari protein nabati yang memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah, dan mengandung zat anti-gizi yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti fitat dan polifenol. Pada tahap awal, rendahnya asupan zat besi ini akan mempengaruhi cadangan zat besi tubuh, namun zat besi dalam sirkulasi dapat dipertahakan sehingga kadar hemoglobin darah normal. Hal inilah yang mungkin terjadi pada penelitian ini, dimana seluruh subyek dengan asupan rendah namun kadar hemoglobin darah normal, sehingga tidak terdapat hubungan antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin darah. Kadar hemoglobin tidak dapat menggambarkan cadangan zat besi tubuh, sebagai indikator yang paling sensitif terjadinya anemia. Penelitian lain di China menunjukkan bahwa terhambatnya pertumbuhan disertai anemia terjadi karena rendahnya asupan zat besi. Oleh karena itu, peningkatan konsumsi makanan sumber zat besi akan meningkatkan kadar hemoglobin darah. 12
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Kecukupan Asupan Zat Besi dan Kadar Timbal Darah dengan Kadar Hemoglobin Anak Jalanan Usia Kurang dari 8 Tahun di Kawasan Pasar Johar Semarang

Hubungan Kecukupan Asupan Zat Besi dan Kadar Timbal Darah dengan Kadar Hemoglobin Anak Jalanan Usia Kurang dari 8 Tahun di Kawasan Pasar Johar Semarang

Kadar timbal pada udara mempunyai pengaruh terhadap kadar timbal dalam darah seseorang yang beraktivitas tinggi di jalanan. Kelompok orang yang sering berada di jalanan seperti polisi lalu lintas, pedagang kaki lima, pengemis, dan anak jalanan mempunyai risiko yang besar terkena paparan polutan udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. 5 Anak-anak akan lebih mudah terkontaminasi dibandingkan orang dewasa karena tubuh anak mengabsorbsi lebih dari 50% timbal yang masuk dalam tubuh, sedangkan pada orang dewasa hanya 15-35%. 4 Selain itu, pada anak-anak masih memiliki kebiasaan memasukkan tangan dan mainan kedalam mulut sehingga semakin memperbesar risiko tertelannya timbal 5 . Sebuah penelitian yang dilakukan di Bandung mengenai oral habit pada 223 anak menghasilkan bahwa kebiasaan seperti menggigit kuku, meghisap jari, dan bernafas melalui mulut terjadi paling banyak pada usia hingga 8 tahun. 6
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH SUPLEMENTASI BESI DENGAN DAN TANPA VITAMIN B12 TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN INDEKS ERITROSIT PADA TENAGA KERJA WANITA ANEMIA TESIS

PENGARUH SUPLEMENTASI BESI DENGAN DAN TANPA VITAMIN B12 TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN INDEKS ERITROSIT PADA TENAGA KERJA WANITA ANEMIA TESIS

Metode: Jenis penelitian ini adalah experimental, menggunakan metode simple random sampling dengan rancangan pretest-posttest control group. Subjek penelitian adalah tenaga kerja wanita anemia usia subur di PT X Surakarta. Sebanyak 40 subjek penelitian yang terdiri dari 20 subjek kontrol dan 20 subjek perlakuan. Pengumpulan data dilakukan dengan skrining sesuai kriteria inklusi, mengisi form kesediaan mengikuti penelitian, recall 24 jam, serta pemeriksaan kadar hemoglobin dan indeks eritrosit oleh laboratorium. Data dianalisis dengan uji multivariate untuk melihat perbedaan asupan gizi antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan terhadap kadar hemoglobin dan indeks eritrosit.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN GLISIN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN WANITA HAMIL TRIMESTER KEDUA YANG MENDAPAT SUPLEMEN ZAT BESI

PENGARUH PENAMBAHAN GLISIN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN WANITA HAMIL TRIMESTER KEDUA YANG MENDAPAT SUPLEMEN ZAT BESI

Kemungkinan lain dikarenakan penggunaan preparat yang berbeda dengan penelitian terdahulu yakni ferrous sulfat dan glisin dalam bentuk murni dimana penelitian terdahulu menggunakan iron bis-glycine, suatu senyawa kelat hasil pengikatan 2 molekul glisin ke kation ferous untuk membentuk komponen cincin heterosiklik ganda. Konfigurasi ini dipercaya melindungi besi dari penghambat-penghambat makanan dan juga interaksi di usus halus sehingga memiliki bioavaibilitas yang lebih tinggi dibandingkan ferous sulfat. 10 Pada penelitian ini, pemberian ferous sulfat dan glisin secara murni dikarenakan pertimbangan biaya yang lebih terjangkau daripada pemberian iron bis-glycine. Namun efek perlindungan glisin terhadap proses penyerapan besi kemungkinan tidak didapatkan pada pemberian preparat ini sendiri-sendiri walaupun diberikan secara bersamaan. Hal ini diperkuat dengan penelitian Hallberg yang menyatakan bahwa protein kedelai non-phytate tidak berpengaruh dalam penyerapan besi, dimana glisin banyak terdapat dalam kedelai. 11 Dari pernyataan tersebut,
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI PROTEIN DAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI KECAMATAN CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI PROTEIN DAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI KECAMATAN CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian yang mempelajari hubungan antara variabel bebas (protein dan zat besi) dengan variabel terikat (kadar hemoglobin), penelitian ini dilakukan dengan cara observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Pada penelitian ini semua objek penelitian yaitu variabel bebas (protein dan zat besi) harus dilakukan penelitian pada saat yang bersamaan tetapi untuk variabel terikat (kadar hemoglobin) dilakukan pengambilan data hanya satu kali saja.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Tingkat Asupan Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di Sma Batik 1 Surakarta.

PENDAHULUAN Hubungan Tingkat Asupan Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Seng Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di Sma Batik 1 Surakarta.

Protein berperan dalam pengangkutan besi ke sumsum tulang untuk membentuk molekul hemoglobin yang baru. Zat besi merupakan unsur penting tubuh dan diperlukan untuk produksi sel darah merah. Zat besi merupakan salah satu komponen dari heme, bagian dari hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengikat oksigen dan memungkinkan sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika zat besi tidak cukup didalam tubuh, maka besi yang disimpan dalam tubuh akan digunakan. Apabila simpanan besi habis maka akan kekurangan sel darah merah dan jumlah hemoglobin di dalamnya akan berkurang sehingga mengakibatkan anemia (Proverawati, 2011).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KONSUMSI PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C DAN VITAMIN A DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA   Hubungan Konsumsi Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Vitamin A Dengan Kadar Hemoglobin Pada Wanita Usia Subur Di Kecamatan Cangkringan, Sleman.

HUBUNGAN KONSUMSI PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C DAN VITAMIN A DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA WANITA Hubungan Konsumsi Protein, Zat Besi, Vitamin C Dan Vitamin A Dengan Kadar Hemoglobin Pada Wanita Usia Subur Di Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Background: Nutrition problems such as anemia or low hemoglobin level are still concern for many experts. Low hemoglobin level is mainly caused by less consumtion of some nutrition essentially need like protein, iron vitamin C and vitamin A. Childbearing-aged women possess greater risk of suffering from anemia as they experience regularly menstrual bleedings. Based on data from Health Office of Sleman, prevalence of anemia in District of Cangkringan is still high that is 51.33%. Anemia on these women can lead to underweighted childbirth and mother’s death.

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT GIZI (PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C) DAN LAMA MENSTRUASI TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA  Hubungan Antara Asupan Zat Gizi (Protein, Zat Besi, Vitamin C) Dan Lama Menstruasi Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di SMP

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT GIZI (PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C) DAN LAMA MENSTRUASI TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA Hubungan Antara Asupan Zat Gizi (Protein, Zat Besi, Vitamin C) Dan Lama Menstruasi Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di SMP

positif, berarti terdapat hubungan positif yang sangat kuat kuat antara asupan zat besi terhadap kadar hemoglobin. Artinya semakin tinggi asupan zat besi maka akan semakin tinggi kadar hemoglobin berarti. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian Dian (2012) yang menyatakan ada hubungan yang bersifat positif antara asupan zat besi dengan status anemia. Zat besi adalah kompnen utama dalam pembentukan darah atau mensintesis hemoglobin. Kelebihan zat besi akan disimpan sebagai protein ferritin, hemosiderin di dalam hati, sumsum tulang belakang, limpa dan otot. Apabila simpanan besi cukup, maka kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang akan terpenuhi, akan tetapi bila jumlah simpanan zat besi berkurang dan jumlah zat besi yang diperoleh dari makanan rendah, maka menyebabkan ketidakseimbangan zat besi di dalam tubuh. Sehingga kadar hemoglobin menurun dibawah batas normal yang disebut anemia defisiensi zat besi (Bakta, 2006).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

EFIKASI SUPLEMENTASI TABLET BESI, VITAMIN C, PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL

EFIKASI SUPLEMENTASI TABLET BESI, VITAMIN C, PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL

Kegiatan penelitian meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Tahap persiapan mencakup penyediaan tablet Fe dan vitamin C. Vitamin C ester C dengan kandungan 500 mg digerus menjadi bubuk dan dibagi menjadi 10 kapsul sehingga setiap kapsul mengandung 50 mg vitamin C. Kemudian setiap 30 kapsul vitamin C dikemas dalam satu bungkus plastik obat. Sejumlah 30 tablet Fe juga dibungkus dalam satu bungkus plastik obat. Setiap subjek diminta persetujuannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian. Pendidikan gizi diberikan berupa penyuluhan gizi sebulan sekali mengenai anemia suplementasi tablet Fe dan vitamin C yang diberikan dengan metode ceramah dan diskusi serta pemberian leaflet. Pendidikan gizi diberikan oleh tenaga pelaksana gizi puskesmas. Pedampingan dilakukan berupa pesan singkat melalui HP setiap sore dari bidan desa kepada subjek dan suami subjek pada kelompok FCPP dan kelompok FPP. Isi pesan singkat adalah ”Ibu jangan lupa minum obat malam ini”. Evaluasi hasil penelitian dilakukan berdasarkan analisis terhadap data awal dan data akhir. Penelitian ini telah memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan mendapat persetujuan dengan Nomor: 1072/XI/SP/2016.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI DAN PENGETAHUAN TERHADAP KADAR  HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI MAN 1  Hubungan Asupan Protein, Zat Besi dan Pengetahuan terhadap Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri di MAN 1 Surakarta.

HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI DAN PENGETAHUAN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI MAN 1 Hubungan Asupan Protein, Zat Besi dan Pengetahuan terhadap Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri di MAN 1 Surakarta.

Results : The results showed that protein consumption in 35 respondents (61.4%) was categorized as high intake while iron consumption of 30 respondents (52.6%) was categorized as low intake, knowledge of 37 respondents (64.9%) had moderate knowledge and 44 respondent (77.2%) was categorized as non-anemic. There is an association of hemoglobin level to protein and iron intake with p-value of 0,035 and 0,002, respectively. No association was found between knowledge and hemoglobin level (p=0,99)

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects