Top PDF Pengaruh Temperatur terhadap Persentase Yield pada Proses Perengkahan Katalitik Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Cair

Pengaruh Temperatur terhadap Persentase Yield pada Proses Perengkahan Katalitik Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Cair

Pengaruh Temperatur terhadap Persentase Yield pada Proses Perengkahan Katalitik Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Cair

produk dan karakteristik produk yang dihasilkan dari proses perengkahan katalitik sampah plastik polystyrene menggunakan katalis Aluminium Oksida. Proses perengkahan katalitik dilakukan didalam reaktor jenis fixed bed, dimana proses berlangsung pada suhu 150 o C, 200 o C, 250 o C dan 300 o C dengan waktu perengkahan 60 menit dan berat katalis 6% dari berat styrofoam yaitu 250 gram. Dari hasil penelitian diperoleh persentase yield cairan tertinggi sebesar 17,0% pada temperatur 250 o C, sedangkan karakteristik bahan bakar cair yang mendekati karakteristik gasoline yaitu pada temperature 250 o C, lama waktu perengkahan 60 menit dan berat katalis 6%, dimana masing-masing diperoleh nilai densitas sebesar 0.763 g/mL, specific gravity sebesar 0.778 dan o API gravity sebesar 50.2. Untuk bahan bakar cair yang diperoleh dari hasil perengkahan polystyrene pada suhu 150 o C, 200 o C dan 300 o C masih berada dalam rentang toleransi karakteristik bensin. Bahan bakar cair yang dihasilkan dari proses perengkahan katalitik dianalisa menggunakan alat GC-MS, dimana hasil analisa menunjukkan bahwa bahan bakar cair tersebut termasuk kedalam fraksi bensin.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Beberapa permasalahan besar yang muncul di beberapa negara akibat peningkatan jumlah penduduk yaitu peningkatan volume sampah dan peningkatan konsumsi energi. Penanggulangan sampah plastik dengan landfill dan insinerasi masih meninggalkan efek samping lain seperti polutan. Cadangan sumber energi tidak terbarukan juga sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses pirolisis atau cracking sampah plastik dapat menjadi solusi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh suhu proses pirolisis dan jumlah katalis silika gel terhadap yield dan kualitas bahan bakar cair yang dihasilkan dari Plastik Bekas Kemasan Gelas (PBKG) jenis Polipropilena (PP). Suhu proses divariasikan yang dimulai dari suhu 200 °C, 250 °C, 300 °C, dan 350 °C. Rasio jumlah bahan baku : jumlah katalis divariasikan dari 10 : 0 (tanpa katalis), 10 : 1, 10 :1,5; 10 : 2, 10 : 2,5, dan 10 : 3. Pirolisis dilakukan selama 2 jam. Rangkaian alat pirolisis terdiri dari reaktor pirolisis, burner / kompor, dan kondensor. Analisis yang dilakukan yaitu analisis densitas / specific gravity / API gravity, viskositas kinematis, karakterisasi GC-MS dan FTIR, dan heating value. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan suhu proses dapat menaikkan yield bahan bakar cair, namun suhu yang sangat tinggi dapat menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis juga dapat menambah yield bahan bakar cair namun dalam jumlah yang banyak akan menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis silika gel memproduksi fraksi bahan bakar C 8 – C 21
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI MINYAK DENGAN PROSES PIROLISIS.

PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI MINYAK DENGAN PROSES PIROLISIS.

dan stabil bila dipakai sebagai bahan bakar sintetis (Mulyadi, 2004). Rahman dkk.,(2002) dengan proses bacth menggunakan katalis zeolit melakukan fraksinasi sampah plastic jenis polipropiline konversi fraksi bensin tertinggi dicapai pada suhu 300 o C. Rodiansono dkk.,(2007) melakukan perengkahan sampah plastik jenis polipropilena dari kemasan air mineral dalam reaktor pirolisis terbuat dari stainless steel, dilakukan pada temperatur 475 o C dengan dialiri gas nitrogen (100 mL/menit). Dengan menggunakan katalis bentonite untuk aplikasi pembuatan bahan bakar sintetis dari sampah plastik juga memberikan hasil yang prospektif, yaitu pada suhu 475 o C dihasilkan produk cair 60% dan distribusi produk terbesar adalah fraksi bensin Sutarjo dkk. Dalam Mulyadi,2010 Selain itu, Budiman dan Fudiesta (2007), telah memanfaatkan arang plastik yang diaktifkan sebagai pengadsorpsi warna minyak goreng curah.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Beberapa permasalahan besar yang muncul di beberapa negara akibat peningkatan jumlah penduduk yaitu peningkatan volume sampah dan peningkatan konsumsi energi. Penanggulangan sampah plastik dengan landfill dan insinerasi masih meninggalkan efek samping lain seperti polutan. Cadangan sumber energi tidak terbarukan juga sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses pirolisis atau cracking sampah plastik dapat menjadi solusi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh suhu proses pirolisis dan jumlah katalis silika gel terhadap yield dan kualitas bahan bakar cair yang dihasilkan dari Plastik Bekas Kemasan Gelas (PBKG) jenis Polipropilena (PP). Suhu proses divariasikan yang dimulai dari suhu 200 °C, 250 °C, 300 °C, dan 350 °C. Rasio jumlah bahan baku : jumlah katalis divariasikan dari 10 : 0 (tanpa katalis), 10 : 1, 10 :1,5; 10 : 2, 10 : 2,5, dan 10 : 3. Pirolisis dilakukan selama 2 jam. Rangkaian alat pirolisis terdiri dari reaktor pirolisis, burner / kompor, dan kondensor. Analisis yang dilakukan yaitu analisis densitas / specific gravity / API gravity, viskositas kinematis, karakterisasi GC-MS dan FTIR, dan heating value. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan suhu proses dapat menaikkan yield bahan bakar cair, namun suhu yang sangat tinggi dapat menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis juga dapat menambah yield bahan bakar cair namun dalam jumlah yang banyak akan menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis silika gel memproduksi fraksi bahan bakar C 8 – C 21
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Beberapa permasalahan besar yang muncul di beberapa negara akibat peningkatan jumlah penduduk yaitu peningkatan volume sampah dan peningkatan konsumsi energi. Penanggulangan sampah plastik dengan landfill dan insinerasi masih meninggalkan efek samping lain seperti polutan. Cadangan sumber energi tidak terbarukan juga sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses pirolisis atau cracking sampah plastik dapat menjadi solusi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh suhu proses pirolisis dan jumlah katalis silika gel terhadap yield dan kualitas bahan bakar cair yang dihasilkan dari Plastik Bekas Kemasan Gelas (PBKG) jenis Polipropilena (PP). Suhu proses divariasikan yang dimulai dari suhu 200 °C, 250 °C, 300 °C, dan 350 °C. Rasio jumlah bahan baku : jumlah katalis divariasikan dari 10 : 0 (tanpa katalis), 10 : 1, 10 :1,5; 10 : 2, 10 : 2,5, dan 10 : 3. Pirolisis dilakukan selama 2 jam. Rangkaian alat pirolisis terdiri dari reaktor pirolisis, burner / kompor, dan kondensor. Analisis yang dilakukan yaitu analisis densitas / specific gravity / API gravity , viskositas kinematis, karakterisasi GC-MS dan FTIR, dan heating value . Hasil penelitian menunjukkan peningkatan suhu proses dapat menaikkan yield bahan bakar cair, namun suhu yang sangat tinggi dapat menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis juga dapat menambah yield bahan bakar cair namun dalam jumlah yang banyak akan menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis silika gel memproduksi fraksi bahan bakar C 8 – C 21
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Silika Gel terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

titik lebur (Tm), temperatur transisi (Tg) dan temperatur dekomposisi. Temperatur transisi adalah temperatur ketika plastik mengalami perengganan struktur sehingga terjadi perubahan dari kondisi kaku menjadi lebih fleksibel. Di atas titik lebur, plastik mengalami pembesaran volume sehingga molekul bergerak lebih bebas yang ditandai dengan peningkatan kelenturannya. Temperatur lebur adalah temperatur di mana plastik mulai melunak dan berubah menjadi cair. Temperatur dekomposisi merupakan batasan dari proses pencairan. Jika suhu dinaikkan di atas temperatur lebur, plastik akan mudah mengalir dan struktur akan mengalami dekomposisi. Dekomposisi terjadi karena energi termal melampaui energi yang mengikat rantai molekul. Secara umum polimer akan mengalami dekomposisi pada suhu di atas 1,5 kali dari temperatur transisinya. Data sifat termal yang penting pada proses daur ulang plastik bisa dilihat pada Tabel 2.1.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU PIROLISIS DAN JUMLAH KATALIS SILIKA GEL TERHADAP YIELD DAN KUALITAS BAHAN BAKAR CAIR DARI LIMBAH PLASTIK JENIS POLIPROPILENA SKRIPSI

PENGARUH SUHU PIROLISIS DAN JUMLAH KATALIS SILIKA GEL TERHADAP YIELD DAN KUALITAS BAHAN BAKAR CAIR DARI LIMBAH PLASTIK JENIS POLIPROPILENA SKRIPSI

Beberapa permasalahan besar yang muncul di beberapa negara akibat peningkatan jumlah penduduk yaitu peningkatan volume sampah dan peningkatan konsumsi energi. Penanggulangan sampah plastik dengan landfill dan insinerasi masih meninggalkan efek samping lain seperti polutan. Cadangan sumber energi tidak terbarukan juga sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan energi. Proses pirolisis atau cracking sampah plastik dapat menjadi solusi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh suhu proses pirolisis dan jumlah katalis silika gel terhadap yield dan kualitas bahan bakar cair yang dihasilkan dari Plastik Bekas Kemasan Gelas (PBKG) jenis Polipropilena (PP). Suhu proses divariasikan yang dimulai dari suhu 200 °C, 250 °C, 300 °C, dan 350 °C. Rasio jumlah bahan baku : jumlah katalis divariasikan dari 10 : 0 (tanpa katalis), 10 : 1, 10 :1,5; 10 : 2, 10 : 2,5, dan 10 : 3. Pirolisis dilakukan selama 2 jam. Rangkaian alat pirolisis terdiri dari reaktor pirolisis, burner / kompor, dan kondensor. Analisis yang dilakukan yaitu analisis densitas / specific gravity / API gravity, viskositas kinematis, karakterisasi GC-MS dan FTIR, dan heating value. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan suhu proses dapat menaikkan yield bahan bakar cair, namun suhu yang sangat tinggi dapat menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis juga dapat menambah yield bahan bakar cair namun dalam jumlah yang banyak akan menurunkan yield bahan bakar cair. Penambahan katalis silika gel memproduksi fraksi bahan bakar C 8 – C 21
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

STUDI AKTIVITAS DAN SELEKTIVITAS KATALIS Cu(II)/H 5 NZA DAN Co(II)/H 5 NZA PADA REAKSI PERENGKAHAN PLASTIK MENJADI SENYAWA FRAKSI BAHAN BAKAR CAIR

STUDI AKTIVITAS DAN SELEKTIVITAS KATALIS Cu(II)/H 5 NZA DAN Co(II)/H 5 NZA PADA REAKSI PERENGKAHAN PLASTIK MENJADI SENYAWA FRAKSI BAHAN BAKAR CAIR

Aktivitas dan selektivitas katalis dipelajari dalam proses perengkahan katalitik pirolat plastik pada kisaran temperatur 350 o -450 o C. Aktivitas katalis terlihat pada kemampuan masing-masing katalis untuk menghasilkan produk yang berbeda dengan perengkahan termal yang diamati berdasarkan perbedaan puncak-puncak kromatogram perengkahan termal dengan kromatogram produk hasil perengkahan katalitik. Sedangkan selektivitas terlihat pada peningkatan konsentrasi produk katalitik pada waktu retensi tertentu.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Potensi Penambahan Nilai Ekonomi pada Konversi Sampah Plastik Nonekonomis Menjadi Bahan Bakar Minyak Alternatif dengan Proses Pirolisis

Potensi Penambahan Nilai Ekonomi pada Konversi Sampah Plastik Nonekonomis Menjadi Bahan Bakar Minyak Alternatif dengan Proses Pirolisis

Sementara itu, BBM alternatif yang dihasilkan dari plastik LDPE hanya memiliki volume sebesar 151 mL sedangkan residu yang dihasilkan memiliki residu dengan massa rata-rata sebesar 306 gram. Jumlah yield asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis sangat bergantung pada jenis bahan baku yang digunakan dan juga bergantung pada sistem kondensasi yang dipakai. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Tranggono et al (1997) dalam Wijaya, dkk (2008) bahwa untuk pembentukan asap cair digunakan air sebagai medium pendingin agar proses pertukaran panas dapat terjadi dengan cepat. Proses kondensasi akan berlangsung secara optimal apabila air di dalam sistem pendingin dialirkan secara terus-menerus sehingga suhu dalam sistem tersebut tidak meningkat. Rendahnya volume minyak yang dihasilkan dari proses pirolisis terhadap plastik LDPE menunjukkan bahwa pada suhu 400 ̊C, sampah LPDE diprediksi belum mencapai titik thermal cracking optimum, yang terlihat dari massa produk pirolisis berupa residu yang terbentuk lebih besar dibandingkan massa produk pirolisis berupa minyak atau BBM alternatif. Perbedaan hasil minyak yang didapatkan untuk masing- masing jenis plastik LPDE dan PP dikarenakan dari kedua jenis plastik yang digunakan sudah memiliki karakteristik yang berbeda. Kedua jenis plastik memiliki temperature leleh yang berbeda yaitu untuk jenis plastik LDPE dan PP masing-masing memiliki temperatur leleh sebesar 330 ̊C dan 168 ̊C. Sehingga bisa disimpulkan dari hasil penelitian ini, titik embun yang lebih rendah dimiliki oleh jenis plastik LPDE dibandingkan dengan jenis plastik PP.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

limbah polipropilena menjadi bensin / solar / minyak tanah. Hal ini meningkatkan hasil minyak dan laju reaksi pirolitik. Selain itu, kualitas minyak yang dihasilkan dari katalis kaolin reaksi pirolisis polipropilena lebih baik dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pirolisis termal. Hasil minyak maksimum dalam proses katalitik adalah 87,5% dengan 3 : 1 plastik dengan umpan katalis pada 500 °C. Selain itu, dapat digunakan kembali berulang kali tanpa banyak mempengaruhi kualitas minyak. Katalis yang digunakan dapat diregenerasi dan kinerja katalis regenerasi ditemukan bahwa sama seperti yang dari kaolin segar. Kaolin alam yang tersedia berlimpah bisa menjadi katalis yang baik untuk aplikasi komersial pada degradasi polipropilena.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya sampah plastik, saat ini telah berkembang beberapa langkah yang terkait dengan manajemen pengolahan sampah plastik atau recycling sampah plastik. Beberapa contoh proses pengolahan limbah antara lain pembuatan biodegradable plastic, pembakaran, maupun pirolisis [6]. Salah satu cara untuk memanfaatkan limbah plastik tersebut adalah dengan memanfaatkannya menjadi bahan bakar cair. Hal ini dapat dilakukan karena plastik merupakan bahan yang tersusun atas monomer-monomer yang membentuk polimer. Lebih dari 70% plastik yang dihasilkan saat ini adalah polietilena (PE), polipropilena (PP), polistirena (PS), dan polivinil klorida (PVC), sehingga sebagian besar studi baru pada daur ulang limbah plastik kimia berhubungan dengan keempat polimer ini [7].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Perengkahan Sampah Plastik (HDPE, PP, PS) Menjadi Precursor Bahan Bakar dengan Variasi Perbandingan Bahan Baku/Katalis H-Zeolit

Perengkahan Sampah Plastik (HDPE, PP, PS) Menjadi Precursor Bahan Bakar dengan Variasi Perbandingan Bahan Baku/Katalis H-Zeolit

dibandingkan pada saat perbandingan bahan baku/katalis H-Zeolit 30 w/w, namun kemudian yield menurun pada saat perbandingan bahan baku/katalis H-Zeolit 50 w/w. Hal ini dapat terjadi karena pada saat pemanasan plastik PP dan PS banyak dihasilkan gas sehingga gas teroligomerisasi menjadi hidrokarbon cair sehingga produk yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Oligomerisasi adalah proses kimia yang hanya mengubah monomer sampai pada derajat polimerisasi tertentu. Namun, ketika hasil perengkahan plastik lebih banyak cairan yang keluar maka akan menyebabkan tersumbatnya pori-pori katalis sehingga mengurangi produk hidrokarbon cair.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Sintesis Bahan Bakar menggunakan Metode Konversi Katalitik dari Limbah Plastik Polipropilena - ITS Repository

Sintesis Bahan Bakar menggunakan Metode Konversi Katalitik dari Limbah Plastik Polipropilena - ITS Repository

Bensin (gasoline) merupakan salah satu jenis bahan bakar yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Produksi minyak mentah terus menerus dilakukan hingga akhirnya cadangan minyak bumi juga semakin habis. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memproduksi bahan bakar cair yang berasal dari polimer plastik. Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk sintesis bahan bakar cair yang berasal dari polimer limbah plastik menggunakan metode konversi katalitik. Katalis yang digunakan adalah material Al-MCM-41 dan limbah plastik polipropilena sebagai reaktan umpan. Variasi pada penelitian ini adalah jumlah katalis Al-MCM-41 sebesar 0%; 3,40%; 6,58%; 9,55% (b/b). Jumlah katalis mampu mempengaruhi produk bahan bakar cair yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan bakar cair yang paling mendekati karakteristik bahan bakar minyak berjenis bensin adalah bahan bakar cair berkatalis 9,55% (b/b) dengan yield fraksi bensin (C 7 -C 12 ) sebesar 77,18%. Hasil
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK MENJADI BRIKET SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF DALAM KILN DI PABRIK PT SEMEN PADANG

PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK MENJADI BRIKET SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF DALAM KILN DI PABRIK PT SEMEN PADANG

Briket merupakan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang terbuat dari batu bara, limbah organik, limbah pabrik maupun dari limbah perkotaan dengan cara mengkonversi bahan baku padat menjadi suatu bentuk hasil kompaksi yang lebih efektif, efisien dan mudah digunakan (Asip dkk, 2014). Dalam penelitian ini briket dibuat dari sampah plastik. Briket dari sampah plastik dibuat dengan menggunakan alat teknologi briket sampah plastik yang mana prinsip kerja alat ini adalah dengan pemanasan pada suhu yang sesuai dengan titik lebur plastik yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan briket plastik, kemudian dilakukan pendinginan briket yang dihasilkan dengan menggunakan air. Alat teknologi briket sampah plastik ini dirancang secara sederhana dan dibuat dengan memanfaatkan oven listrik bekas yang tidak dapat digunakan lagi. Dengan penambahan satu plat elemen pemanas pada bagian bawahnya menjadikan oven listrik berfungsi sebagai pemanas pada alat teknologi sampah plastik
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI MINYAK MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS

PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI MINYAK MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS

menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan polyaromatic hydrocarbon. Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar (pyrolitic oil), dan arang. Parameter yang berpengaruh pada kecepatan reaksi pirolisis mempunyai hubungan yang sangat kompleks, sehingga model matematis persamaan kecepatan reaksi pirolisis yang diformulasikan oleh setiap peneliti selalu menunjukkan rumusan empiris yang berbeda (Trianna dan Rochimoellah, 2002). Selain itu, plastik merupakan polimer yang berat molekulnya tidak bisa ditentukan, ataupun dihitung. Karena itu, kecepatan reaksi dekomposisi didasarkan pada perubahan massa atau fraksi massa per satuan waktu. Produk pirolisis selain dipengruhi oleh suhu dan waktu, juga oleh laju pemanasan. Rodiansono dkk.,(2007) melakukan perengkahan sampah plastik jenis polipropilena dari kemasan air mineral dalam reaktor pirolisis terbuat dari
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Briket sebagai Bahan Bakar Alternatif dalam Kiln di Pabrik PT Semen Padang

Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Briket sebagai Bahan Bakar Alternatif dalam Kiln di Pabrik PT Semen Padang

Briket merupakan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang terbuat dari batu bara, limbah organik, limbah pabrik maupun dari limbah perkotaan dengan cara mengkonversi bahan baku padat menjadi suatu bentuk hasil kompaksi yang lebih efektif, efisien dan mudah digunakan (Asip dkk, 2014). Dalam penelitian ini briket dibuat dari sampah plastik. Briket dari sampah plastik dibuat dengan menggunakan alat teknologi briket sampah plastik yang mana prinsip kerja alat ini adalah dengan pemanasan pada suhu yang sesuai dengan titik lebur plastik yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan briket plastik, kemudian dilakukan pendinginan briket yang dihasilkan dengan menggunakan air. Alat teknologi briket sampah plastik ini dirancang secara sederhana dan dibuat dengan memanfaatkan oven listrik bekas yang tidak dapat digunakan lagi. Dengan penambahan satu plat elemen pemanas pada bagian bawahnya menjadikan oven listrik berfungsi sebagai pemanas pada alat teknologi sampah plastik
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

L5.2 HASIL ANALISIS KOMPOSISI BAHAN BAKAR CAIR DENGAN KATALIS PP : KARBON AKTIF ; 10 :2 PADA SUHU 300 ºC Gambar L5.2 Hasil Analisis Kromatogram GC-MS Bahan Bakar Cair Hasil Pirolisis [r]

16 Baca lebih lajut

Perancangan Dan Uji Alat Pengolah Sampah Plastik Jenis Ldpe (Low Density Polyethylene) Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Perancangan Dan Uji Alat Pengolah Sampah Plastik Jenis Ldpe (Low Density Polyethylene) Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Bahan yang digunakan didalam penelitian ini adalah sampah plastik jenis LDPE (Low Density Polyethylene) berupa kantong kresek, plastik pembungkus daging,dan jenis plastik tipis lainnya, yang berasal dari TPA wilayah Semarang .Sebelum dipergunakan, sampah plastik dijemur terlebih dahulu pada panas matahari. Selanjutnya dipilah dari pengotor tanah lalu dipotong-potong dalam ukuran tertentu dan ditimbang.Sampah plastik yang telah dikeringkan dan dipilah dari zat pengotor, dipotong kecil-kecil . Kemudian ditimbang dengan berat awal 1000 gram. Masukkan sampah plastik kering seberat 1000 gram ke dalam reaktor. Pemanas reaktor dijalankan dan dengan variasi suhu 300 o C,500 o C,dan 700 o C. Setelah mencapai suhu yang ditentukan, maka saat itu waktu mulai dihitung dan setelah mencapai waktu satu jam, minyak hasil proses pirolisis ditimbang dan diuji hasilnya
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

Pengaruh Suhu Pirolisis dan Jumlah Katalis Karbon Aktif terhadap Yield dan Kualitas Bahan Bakar Cair dari Limbah Plastik Jenis Polipropilena

[40] Kaustav Mukherjee dan C.Thamotharan, “Performance and Emission Test of Several Blends of Waste Plastic Oil with Diesel and Ethanol on Four Stroke Twin Cylinder Diesel Engine”, Journ[r]

3 Baca lebih lajut

Metode Pyrolisis Upaya Untuk Mengkonversi Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Cair Alternatif

Metode Pyrolisis Upaya Untuk Mengkonversi Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Cair Alternatif

Tentu saja hal ini menimbulkan masalah berupa dampak limbah padat kemasan bekas, disamping itu kemasan yang dibuang tadi menimbulkan kesan kota yang kurang nyaman dan menjadikan sampah dimana-mana. Kemasan air minum tersebut terbuat dari plastik jenis polipropilen, dan polyethilene. Polipropilen merupakan suatu polimer yang larut dalam bahan kimia tertentu, seperti Sodium Hidroksida dalam berbagai konsentrasi, disamping itu kemasan plastik kalau kita kumpulkan begitu saja sulit untuk terurai , tidak seperti bahan anorganik (seperti daun , kulit buah dan lain –lain sampah rumah tangga lainnya, yang kalau dikumpulkan disuatu tempat lama-lama akan terurai dengan sendiri nya dan hancur menjadi tanah ). Karena sulitnya terurai secara alami, maka sampah plastik haruslah di hancurkan dengan cara khusus agar tidak
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects