Top PDF PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

Berdasarkan hal diatas, maka pada penelitian ini dipilih ekstrak temulawak untuk dikembangkan menjadi tablet hisap. Tablet hisap yang dibuat menggunakan metode granulasi basah yang dalam pembuatannya selain membutuhkan bahan pengisi, juga membutuhkan bahan pengikat. Bahan pengikat menjadi bahan yang sangat penting dalam metode ini, karena berfungsi untuk menyatukan partikel bahan-bahan lain menjadi granul dan dapat meningkatkan kompaktibilitas serta kekerasan tablet. Maka pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap pengaruh kadar HPMC 2910 3 cps sebagai bahan pengikat terhadap mutu fisik tablet hisap ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Pemberian kadar bahan pengikat yang berbeda diharapkan dapat memberikan mutu fisik tablet yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar HPMC 2910 3 cps sebagai bahan pengikat yang dapat menghasilkan tablet hisap dengan mutu fisik yang memenuhi persyaratan meliputi kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur tablet.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR NATRIUM ALGINAT TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR NATRIUM ALGINAT TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

iv KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirrobbilalamin. Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga berhasil menyelesaikan skripsi ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ Pengaruh Kadar Natrium Alginat terhadap Mutu Fisik Tablet Hisap Ekstrak Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza .Roxb) dengan Basis Manitol ” .

23 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR GOM ARAB TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR GOM ARAB TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

iv KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, kelancaran serta dibukakan pikiran dalam menyelesaikan Skripsi yang berjudul “ Pengaruh Kadar Gom Arab Terhadap Mutu Fisik Tablet Hisap Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Dengan Basis Manitol”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan baik moral maupun materil serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR CMC-Na TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR CMC-Na TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

Kelebihan obat yang berasal dari tanaman yaitu dapat memberikan efek terapi dengan efek samping yang lebih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar CMC- Na 1%, 2% dan 3% dalam formulasi tablet hisap ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) yang memenuhi persyaratan mutu fisik tablet. Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah dengan berbagai konsentrasi bahan pengikat CMC- Na (0%, 1%, 2% dan 3%). Dilanjutkan dengan pemeriksaan mutu fisik granul dan mutu fisik tablet hisap ekstrak temulawak. Hasil pemeriksaan dianalisis dengan menggunakan one way anova dengan program SPSS pada tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan Tukey HSD untuk menunjukan adanya perbedaan yang bermakna pada mutu fisik tablet dari masing-masing formula terhadap peningkatan kadar bahan pengikat CMC- Na. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada waktu melarut tablet, tetapi kurang mempengaruhi kekerasan tablet dan kerapuhan tablet. Hasil menunjukkan memperlambat waktu melarut tablet tetapi tidak dapat meningkatkan kekerasan tablet dan menurunkan kerapuhan tablet hisap ekstrak temulawak. Formula terpilih adalah formula 1 dengan kadar bahan pengikat 1%.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR PVP K 30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR PVP K 30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza. Roxb) DENGAN BASIS MANITOL

Tumbuhan temulawak dengan nama latin Curcuma xanthorrhiza Roxb merupakan bahan herba yang sangat menarik untuk dikembangkan mengingat banyaknya manfaat yang ditunjukkan oleh salah satu bahan aktifnya kurkuminoid. Rimpang temulawak sering dimanfaatkan untuk pengobatan alternatif. Rimpang temulawak, mengandung 0.8-2% kurkuminoid termasuk didalamnya kurkumin dan demetoksikurkumin, 3-12% (Fleming, 2000). Telah dilaporkan bahwa bahan alam ini dikonsumsi dalam bentuk campuran senyawa diarilheptanoid, yakni kurkumin, demetoksi kurkumin dan bisdemetoksikurkumin (Cahyono et al, 2011).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS MANITOL (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS MANITOL (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

Pada zaman dahulu hingga sekarang temulawak sering disajikan secara sederhana dalam bentuk tradisional seperti yang biasa dikenal dengan sebutan jamu. Seiring dengan perkembangan teknologi penggunaan temulawak dapat dikembangkan dibuat dalam bentuk sediaan farmasi dengan bahan berkhasiat dari ekstrak maupun isolat yang berasal dari tanaman yang dapat memberikan manfaat untuk pengobatan dan aman digunakan. Kandungan utama rimpang temulawak yaitu kurkumin dapat diambil dengan menggunakan cara mengekstraksi rimpang temulawak (Ramdja et all., 2009). Ekstrak temulawak ini bersifat kental, lengket, tidak larut dalam air, dan larut dalam etanol.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK BUAH BIT (Beta vulgaris L.)

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK BUAH BIT (Beta vulgaris L.)

Buah Bit (Beta vulgaris L.) merupakan salah satu tanaman obat di Indonesia yang mengandung pigmen betalain, merupakan kelompok betasianin yang berwarna merah violet dan betaxantin yang berwarna kuning yang berkhasiat sebagai antioksidan kuat. Berdasarkan khasiat tersebut, maka pada penelitian ini dipilih ekstrak buah bit untuk dikembangkan sebagai produk sediaan tablet hisap ekstrak buah bit yang memenuhi persyaratan mutu fisik tablet hisap.

18 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS SUKROSA (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS SUKROSA (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

iv KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah dan terima kasih penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ PENGARUH KADAR PVP K30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK ( Curcuma xanthorrhiza ) DENGAN BASIS SUKROSA ” untuk memenuhi salah satu persyaratan akadem ik dalam menyelesaikan Program Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.

22 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS SORBITOL (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS SORBITOL (Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah)

v KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah dan terima kasih penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DENGAN BASIS SORBITOL(Dibuat Dengan Metode Granulasi Basah) ” untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP PERASAN RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP PERASAN RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) DENGAN BASIS MANITOL

Penelitian ini bertujuan untuk menenentukan pengaruh berbagai kadar bahan pengikat HPMC 2910 3cps dalam basis manitol terhadap mutu fisik tablet hisap perasan rimpang kencur secara granulasi basah. Granul yang dihasilkan diuji kecepatan alir, sudut diam, kandungan lengas, kadar fines, dan persen kompresibilitas. Namun, pada uji kecepatan alir dan sudut diam dilakukan lagi setelah penambahan lubrikan. Untuk uji kompaktibilitas dilakukan setelah terbentuk massa granul cetak. Pencetakkan tablet hisap dilakukan dengan kekuatan 2 ton dilanjutkan dengan pemeriksaan mutu fisik tablet meliputi kekerasan, kerapuhan dan waktu melarut tablet hisap.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica L)

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica L)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan konsentrasi HPMC 2910 3 cps sebagai bahan pengikat terhadap mutu fisik tablet ekstrak pegagan. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan berbagai konsentrasi bahan pengikat HPMC 2910 3 cps (0%, 1%, 2%, dan 3%). Kemudian dilakukan evaluasi mutu fisik tablet ekstrak pegagan, antara lain kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan pada kerapuhan dan waktu hancur tablet, tetapi untuk kekerasan tablet tidak selalu memberikan perbedaan yang bermakna. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan kekerasan, penurunan kerapuhan dan memperlambat waktu hancur tablet. Formula yang terpilih dalam penelitian ini ialah formula tanpa penambahan HPMC 2910 3 cps, karena tanpa penambahan bahan pengikat HPMC 2910 3 cps sudah memberikan kerapuhan yang memenuhi syarat dan memiliki kekerasan dan waktu hancur yang baik.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP 

MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN SAMBILOTO 

(Andrographis paniculata Ness.)

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness.)

Pemeriksaan kerapuhan tablet dilakukan dengan alat Friabilator Tester. Tablet dengan bobot kurang dari atau sama dengan 650 mg, ambil contoh dari keseluruhan tablet yang mana bobotnya akan mendekati 6,5 g. untuk tablet dengan berat lebih dari 650 mg ambil sampel sebanyak 10 tablet dari seluruh bagian tablet. Tablet harus dibersihkan terlebih dahulu dengan hati-hati sebelum dilakukan uji. Kemudian tablet sampel ditimbang secara hati-hati, dan letakkan tablet didalam drum. Putar drum sebanyak 100 kali, dan setelah itu ambil tablet. Bersihkan tablet dari debu seperti yang dilakukan sebelum uji, dan timbang kembali secara hati-hati. Umumnya uji dilakukan sekali, jika tablet mengalami retak, patah atau hancur ketika dilakukan perputaran, maka tablet sampel dinyatakan gagal dalam uji, jika hasilnya sulit diinterpretasikan atau jika bobot yang berkurang lebih besar dari nilai yang ditentukan, maka uji harus diulangi sebanyak dua kali dan ditetapkan rata-rata dari ketiga uji tersebut. Rata-rata maksimum hilangnya bobot dari sampel pada ketiga uji tersebut tidak boleh lebih dari 1,0% yang ditetapkan sebagai produk yang diterima dipasaran (USP, 2007).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 cps DALAM GRANUL MANITOL TERHADAPMUTU FISIK TABLET HISAPEKSTRAKLIDAH BUAYA (Aloe vera)

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 cps DALAM GRANUL MANITOL TERHADAPMUTU FISIK TABLET HISAPEKSTRAKLIDAH BUAYA (Aloe vera)

2 sebagai bahan tambahan pada tablet hisap harus dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obat. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kempa langsung dengan granulasi dasar manitol. Ekstrak lidah buaya memiliki kompaktibilitas yang baik dan sifat sebagai pengikat (Okorie et al., 2010) namun sifat alirnya jelek dan tidak tahan terhadap pemanasan sehingga dibuat granulasi dasar agar memperbaiki sifat dari lidah buaya tersebut. Selain itu pada metode kempa langsung resiko terjadinya kontaminasi lebih rendah karena tidak menggunakan air sehingga kemungkinan pertumbuhan mikroba sangat kecil (Kumar et al., 2013). Tablet hisap pada umumnya diformulasikan dengan ukuran diameter yang cukup besar yaitu lebih besar dari 12,55 mm, berat tablet lebih dari 700 mg, kekerasan yang tinggi yaitu lebih dari 15 kP, dan untuk melarut secara perlahan- lahan di rongga mulut dengan syarat waktu melarutnya yaitu antara kurang dari 30 menit.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK BUAH PARE (Momordica charantia) DENGAN METODE GRANULASI BASAH

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK BUAH PARE (Momordica charantia) DENGAN METODE GRANULASI BASAH

Pemanfaatan buah pare secara tradisional oleh masyarakat dalam mengobati penyakit anti diabetes. Selama ini tidak dapat menjamin keajekan khasiat, keamanan dan efektivitasnya. Sehingga sulit dipertanggung jawabkan secara medis. Pada proses pembuatan tablet dapat digunakan cara granulasi basah, mengingat ekstrak yang diperoleh masih mengandung harsa. Komponen harsa ini menyebabkan granul menjadi rapuh. Oleh karena itu perlu dikembangkan pemanfaatan buah pare ini sebagai produk fitofarmaka sehingga membentuk ekstrak yang terstandar. Pemanfaatan buah pare untuk pengobatan anti diabetes, umumnya dengan cara diblender, disaring kemudian diminum sarinya. Cara ini kurang praktis dalam memanfaatkan efek terapi dari buah pare. Selanjutnya Untuk meningkatkan kepraktisan, stabilitas, dan aseptabilitas maka dikembangkan bentuk sediaan tablet yang lebih praktis. Tablet ekstrak pare merupakan salah satu alternatif sebagai bentuk sediaan yang banyak menguntungkan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 5 cps 

TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAKBATANG BROTOWALI

(Tinospora crispaL.)

PENGARUH KADAR HPMC 2910 5 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAKBATANG BROTOWALI (Tinospora crispaL.)

Pembuatan ekstrak batang brotowali dibuat dengan menggunakan serbuk simplisia batang brotowali kemudian ditimbang sebanyak 3,3 kg dan dilakukan proses maserasi dengan pelarut etanol 96% menggunakan metode ultrasonik. Pelarut etanol digunakan dalam mengekstrak batang brotowali. Untuk setiap proses maserasi, serbuk simplisia batang brotowali ditimbang sebanyak 100 gram kemudian dilarutkan dalam 1000 ml etanol 96% (Desmiaty et al., 2014). Prosedur: pada maserasi pertama ditambahkan 400 ml etanol 96% lalu disonikasi selama 30 menit, selanjutnya dilakukan penyaringan, hasil filtrat ditampung. Pada maserasi kedua ditambahkan 300 ml etanol 96% pada residu dan disonikasi selama 30 menit, hasil filtrat ditampung. Pada maserasi ketiga ditambahkan 300 ml etanol 96% pada residu dan disonikasi selama 30 menit, selanjutnya dilakukan penyaringan dengan menggunakan saringan buchner, hasil filtrat ditampung. Hasil filtrat dari penyaringan pertama sampai penyaringan ketiga ditampung dalam 1 tempat. Kemudian hasil filtrat yang didapatkan dipekatkan dengan rotavapor pada suhu 40 0 C, proses ini bertujuan untuk menguapkan pelarut etanol yang terdapat dalam ekstrak cair sehingga akan diperoleh ekstrak yang kental. 4.4.1.3 Pemeriksaan Kualitatif Ekstrak
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS SEBAGAI PENGIKAT PADA TABLET HISAP EKSTRAK TEH HIJAU RASA JAHE (Metode Granulasi Basah

PENGARUH KADAR HPMC 2910 3 CPS SEBAGAI PENGIKAT PADA TABLET HISAP EKSTRAK TEH HIJAU RASA JAHE (Metode Granulasi Basah

Penggunaan teh hijau yang semula diolah secara sederhana dan khasiatnya dikethui secara umum telah dikembangkan. Selain sebagai minuman yang menyegarkan, teh telah lama diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh. Pada masyarakat pedesaan, seduhan teh yang kental biasa digunakan dalam usaha pertolongan awal pada penderita diare.Dalam penelitian ini ekstrak kering teh hijau diformulasikan menjadi sediaan tablet hisap ekstrak teh hijau dengan dosis 100 mg yang sangat praktis penggunaannya dan memberikan rasa yang enak sehingga digemari anak4anak dan orang dewasa. Sediaan tablet hisap yang baik harus memiliki beberapa persyaratan mutu fisik diantaranya kekerasannya > 10kg, kerapuhan < 1%, dan waktu melarut tablet 540 menit.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR METIL SELULOSA 400 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET DALAM FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK DAUN KETEPENG CINA (Cassia alata L) DENGAN BASIS MANITOL

PENGARUH KADAR METIL SELULOSA 400 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET DALAM FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK DAUN KETEPENG CINA (Cassia alata L) DENGAN BASIS MANITOL

Pada pembuatan tablet hisap, selain bahan pengisi diperlukan juga bahan pengikat. Penambahan bahan pengikat sangat penting dalam pembuatan tablet, karena bahan pengikat berfungsi untuk menyatukan partikel serbuk dalam sebuah butir granulat serta meningkatkan kekompakan dan kekerasan tablet. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah metil selulosa. Metil selulosa dengan viskositas 400 cps merupakan salah satu bahan pengikat yang sering digunakan dalam formulasi tablet. Penelitian ini menggunakan bahan pengikat Metil Selulosa 400 cps dengan kadar 1%, 2%, dan 3% dari bobot tablet dan menggunakan formula 0% sebagai kontrol yang selanjutnya dilakukan evaluasi pengaruh kadar bahan pengikat Metil Selulosa 400 cps terhadap mutu fisik tablet hisap yang terdiri dari evaluasi tingkat kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur tablet. Dosis ekstrak yang dipakai ditentukan dengan melakukan uji efektifitas terlebih dahulu dengan metode dilusi cair menggunakan bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR BAHAN PENGIKAT HPMC 2910 5 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN KATUK

(Sauropus androgynus L.)

PENGARUH KADAR BAHAN PENGIKAT HPMC 2910 5 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus L.)

Subekti, S. 2007. Komponen Sterol Dalam Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynous (L.) Merr) dan Hubungannya dengan Sistem Reproduksi Puyuh. Disertasi. Sekolah Pasca sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Suprayogi A.,2000. Studies on The Biological Effects 0f Sauropus Androgynus

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR BAHAN PENGIKAT HPMC 2910 5 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN TEMPUYUNG

(Sonchus arvensis L.)

PENGARUH KADAR BAHAN PENGIKAT HPMC 2910 5 cps TERHADAP MUTU FISIK TABLET EKSTRAK DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.)

Serbuk simplisia daun tempuyung diekstraksi dengan metode maserasi kinetika dengan cara : ditimbang serbuk simplisia sebanyak 1 kg direndam menggunakan etanol 96% masukkan dalam toples kaca 10 L. Serbuk yang telah ditambahkan dengan pelarut diaduk hingga semua serbuk simplisia terbasahi, setelah itu didiamkan selama 24 jam. Hasil rendaman disaring menggunakan corong buchner. Kemudian residu yang didapat direndam kembali dengan etanol 96%, diaduk hingga semua serbuk simplisia terbasahi dan didiamkan selama 24 jam. Hasil dari rendaman tersebut disaring menggunakan corong buchner. Selanjutnya residu yang didapat direndam kembali untuk ketiga kalinya dengan menggunakan pelarut etanol 96%, diaduk hingga semua serbuk simplisia terbasahi dan didiamkan selama 24 jam. Hasil dari rendaman disaring menggunakan corong buchner. Semua tampungan filtrat kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotavaporator pada suhu 40 o C – 50 o C (337 mBar) selama 1,5 jam. Ekstrak yang didapatkan kemudian di uapkan sampai diperoleh ekstrak dengan konsistensi kental dan bebas pelarut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK

PENGARUH KADAR PVP K-30 TERHADAP MUTU FISIK TABLET HISAP EKSTRAK TEMULAWAK

Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan ikon tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Rimpang temulawak mengandung senyawa Curcumin yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor. Berdasarkan khasiat tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengembangkan ekstrak rimpang temulawak menjadi sediaan tablet hisap yang memenuhi persyaratan farmasetik. Pembuatan tablet hisap merupakan upaya pengembangan tanaman obat agar lebih praktis dan efektif dalam penggunaannya. Tablet hisap yang dibuat menggunakan metode granulasi basah dengan penambahan PVP K30 sebagai bahan pengikat untuk meningkatkan kompaktibilitas serta kekerasan tablet. Sehingga, pada penelitian ini dilakukan pengamatan pengaruh kadar PVP K30 terhadap mutu fisik tablet hisap ekstrak rimpang temulawak. Pemberian kadar bahan pengikat yang berbeda diharapkan dapat memberikan mutu fisik tablet yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kadar PVP K-30 0%, 1%, 2%, 3% terhadap mutu fisik tablet hisap dengan basis sukrosa dan kadar PVP K-30 yang dibutuhkan untuk dapat membentuk tablet yang memenuhi persyaratan farmasetik.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects