Top PDF Pengaturan Hukum Alternatif Penyelesaian Sengketa Antara Dokter Dan Pasien

Pengaturan Hukum Alternatif Penyelesaian Sengketa Antara Dokter Dan Pasien

Pengaturan Hukum Alternatif Penyelesaian Sengketa Antara Dokter Dan Pasien

alternatif untuk penyelesaian sengketa sangat diperlukan. Alternatif penyelesaian sengketa atau Alternative Dispute Resolution(ADR) dapat diartikan sebagai penyelesaian sengketa yang dilaksanakan baik oleh pihak ketiga, di luar sistem peradilan maupun di dalam sistem peradilan, namun pada umumnya lebih banyak di luar sistem peradilan. Alternatif penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu negosiasi, mediasi, konsiliasi,dan arbitrase.

2 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

KESIMPULAN DAN SARAN PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

1) menjawab rumusan masalah pertama mengenai kesulitan pasien untuk mewujudkan haknya dalam sengketa medik dengan dokter dan/atau dokter gigi serta rumah sakit disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, latar belakang pendidikan pasien, status ekonomi pasien, keterbatasan pasien maupun para penegak hukum untuk memahami dunia medis. Disisi lain, Pemerintah dalam memberikan regulasi mengenai hak-hak pasien, dokter dan/atau dokter gigi serta rumah sakit telah sesuai karena masing-masing hak telah ditetapkan melalui peraturan perundang-undangan seperti dalam Pasal 4 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 32 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, serta Pasal 52 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

PENDAHULUAN PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

Hak pasien yang kadang tidak terpenuhi dalam sengketa medik dengan dokter dan/atau dokter gigi serta Rumah Sakit sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan, seringkali mendorong pasien untuk memilih penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi. Beberapa contoh misalnya dalam kasus yang dialamin oleh pemilik The Jakarta Consulting Group, Alfonsus Budi Susanto merasa kecewa atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang menolak gugatan terhadap RS.Siloam Internasional atas dugaan terjadinya malpraktek. Penanganan kasus hingga ke ranah litigasi yang dialami Alfonsus Budi terdapat kejanggalan yang menyebabkan ia tak bisa menuntut hak nya. Secara keseluruhan pak Alfonsus Budi mengalami tiga ketidakadilan yaitu mengalami cacat , tidak mendapat pelayanan dari MKDKI (Majelis Kehormatan Dan Disiplin Kedokteran Indonesia) setelah melakukan pengaduan dan pelayanan keadilan hukum yang tidak objektif dikarenakan jadwal persidangan yang dirubah mendadak dan kuasa hukum nya yang mengundurkan diri, sehingga dalam sidang pertama di Pengadilan Negeri Jakarta ia tidak dapat memperjuangkan hak nya melalui Pengadilan (http://formatnews.com/v1/view.php?newsid=44342 , Senin 21 Oktober 2013 ).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN JASA KESEHATAN DOKTER GIGI (STUDI DI RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI METRO).

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN JASA KESEHATAN DOKTER GIGI (STUDI DI RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI METRO).

Perlindungan hukum ini diberikan oleh rumah sakit kepada pasien bahwa rumah sakit bertanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di rumah sakit termasuk kelalaian yang dilakukan dokter gigi. Apabila terjadi perselisihan antara dokter gigi dan pihak pasien akibat kesalahan dokter gigi maka pasien dapat mengadukan ke komite medik yang berada di rumah sakit. Alternatif lain bagi pasien yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran gigi, dapat dilakukan melalui dua jalur yaitu jalur etik dan jalur hukum. Namun pihak pasien biasanya menyelesaikan masalah ini melalui jalur musyawarah. Adanya Komite Medik pada Rumah Sakit Ahmad Yani yang bertugas membahas keadaan Rumah Sakit secara periodik sehingga tidak pernah terjadi kelalaian yang dilakukan dokter gigi ataupun tenaga medis lainnya yang dilakukan di rumah sakit kepada pasiennya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASN TEORI  PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASN TEORI PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

(Standar minimal pelayanan kesehatan akan dilampirkan pada Tabel 2) Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis di rumah sakit telah ditentukan standarnya melalui Keputusan Menteri Kesehatan. Belakangan ini, pasien yang mengalami kerugian dalam hal apapun ketika menerima pelayanan kesehatan dari dokter dan/atau dokter gigi serta rumah sakit sering menyalahartikan sebagai tindakan malpraktek. Malpraktek sering disalahartikan oleh masyarakat umum, bahkan kaum intelektual dan media bahwa malpraktek adalah suatu tindakan atau keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya sehingga tidak memuaskan harapan dirinya, dan diperparah dengan memburuknya keadaan pasien atau adanya gejala sisa (cacat) atau meninggal dunia yang mungkin saja terjadi kepada pasien yang bersangkutan. Perbedaan persepsi ini biasanya disebabkan ketidakmampuan pasien memahami logika medis bahwa upaya medis merupakan upaya yang penuh ketidaktentuan dan hasilnya pun tidak dapat diperhitungkan secara matematis karena sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar kontrol dokter untuk mengendalikannya (I.Nasution dalam http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/07/ gugatan-malpraktek-medik ).
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

TESIS  PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

TESIS PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

Penelitian tesis ini bertujuan untuk menjawab permasalahan mengenai dalam sengketa medik mengapa pasien sering mengalami kesulitan dalam mewujudkan haknya. Permasalahan kedua yaitu dalam penelitian tesis ini ingin menjawab manakah bentuk dan sistem penyelesaian sengketa yang lebih memberikan perlindungan kepada pasien dalam menyelesaikan sengketa medik antara pasien dengan dokter dan/atau dokter gigi serta Rumah Sakit demi mewujudkan hak pasien. Permasalahan tersebut dikaji dan diteliti dengan metode penelitian hukum normatif dan menggunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN JASA KESEHATAN DOKTER GIGI (STUDI DI RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI METRO).

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN JASA KESEHATAN DOKTER GIGI (STUDI DI RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI METRO).

Perlindungan hukum ini diberikan oleh rumah sakit kepada pasien bahwa rumah sakit bertanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di rumah sakit termasuk kelalaian yang dilakukan dokter gigi. Apabila terjadi perselisihan antara dokter gigi dan pihak pasien akibat kesalahan dokter gigi maka pasien dapat mengadukan ke komite medik yang berada di rumah sakit. Alternatif lain bagi pasien yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran gigi, dapat dilakukan melalui dua jalur yaitu jalur etik dan jalur hukum. Namun pihak pasien biasanya menyelesaikan masalah ini melalui jalur musyawarah. Adanya Komite Medik pada Rumah Sakit Ahmad Yani yang bertugas membahas keadaan Rumah Sakit secara periodik sehingga tidak pernah terjadi kelalaian yang dilakukan dokter gigi ataupun tenaga medis lainnya yang dilakukan di rumah sakit kepada pasiennya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK ANTARA PASIEN DENGAN DOKTER DAN/ATAU DOKTER GIGI SERTA RUMAH SAKIT DEMI MEWUJUDKAN HAK PASIEN.

Mediasi yang selama ini ditempuh oleh pihak-pihak yang bersengketa dalam sengketa medik masih terkurung dalam masalah yang klasik, dimana sang mediator sangat terbatas pengetahuannya dibidang hukum maupun kesehatan. Melalui penelitian yang dilakukan sebelumnya, para pihak dalam sengketa medik seharusnya memiliki wadah khusus yang memang menangani khusus masalah medik dan ditangani oleh beberapa orang yang berkompeten dan ahli dibidang hukum dan kesehatan. Mediator yang menangani para pihak yang bersengketa memang menguasai hukum kesehatan yang terdiri dari banyak disiplin diantaranya hukum kedokteran dan/atau kedokteran gigi, hukum keperawatan, hukum farmasi klinik, hukum apotik, hukum kesehatan masyarakat, hukum perobatan, hukum rumah sakit, dan hukum kesehatan lingkungan. Perlu adanya suatu wadah yang memang menangani khusus sengketa medik, sehingga kelemahan-kelemahan dalam penyelesaian sengketa melalui litigasi dan juga beberapa dalam penyelesaian sengketa non litigasi dapat teratasi sehingga pasien tidak mengalami kesulitan dalam memerjuangkan haknya dan juga dirasa adil bagi profesi dokter dan/atau dokter gigi serta instasi rumah sakit. Adapun wadah tersebut nantinya terdiri dari anggota yang memang berkopenten dibidang hukum dan kesehatan untuk bisa membantu sengketa medik yang dialami pasien dengan dokter dan/atau dokter gigi serta rumah sakit. Wadah ini nantinya diciptakan dengan mempertimbangan kondisi pasien yang dalam sengketa medik berada dalam posisi yang lemah terkait faktor kesehatan, faktor psikologis, dan faktor ekonomi.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENERAPAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DAN KONFLIK PERTANAHAN MELALUI MEDIASI UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA.

KESIMPULAN DAN SARAN PENERAPAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DAN KONFLIK PERTANAHAN MELALUI MEDIASI UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA.

ayat (1), Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 3 tahun 2006, dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No.3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan. Untuk kedepannya pengaturan hukum alternatif penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan melalui mediasi agar bisa mewujudkan kepastian hukum harus memuat tentang : a) Ketentuan umum, b) Mekanisme mediasi, c) Peran, fungsi dan kualifikasi mediator, d) Jangka waktu pelaksanaan mediasi, e) Jenis Sengketa dan Konflik yang bisa dimediasi, f) Peserta mediasi, g) Pembentukan tim penanganan sengketa dan konflik pertanahan, h) Formalisasi kesepakatan, i) Format administratif, j) Biaya proses mediasi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UU301999

ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UU301999

perdagangan baik nasional maupun internasional serta perkembangan hukum pada umumnya, maka peraturan yang terdapat dalam Reglemen Acara Perdata (Regelement of de Rechtvodering) yang dipakai sebagai pedoman arbitrase sudah tidak sesuai lagi sehingga perlu disesuaikan karena pengaturan dagang yang bersifat internasional sudah merupakan kebutuhan conditio sine qua non sedangkan hal tersebut tidak diatur dalam reglement Acara Perdata (reglement op de Rechtvodering). Bertolak dari kondisi ini, perubahan yang mendasar terhadap Reglement Acara Perdata (Reglement op de rechtvodering) baik secara filosofis maupun substantif sudah saatnya dilaksanakan.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Makalah Hukum Penyelesaian Sengketa Perd

Makalah Hukum Penyelesaian Sengketa Perd

Ada beberapa poin penting dalam PERMA No. 1 Tahun 2016 yang berbeda dengan Perma No. 1 Tahun 2008. Misalnya, jangka waktu penyelesaian mediasi lebih singkat dari 40 hari menjadi 30 hari terhitung. Kedua, kewajiban para pihak menghadiri pertemuan mediasi dengan atau tanpa kuasa hukum, kecuali ada alasan sah. Hal terpenting adanya itikad baik dan akibat hukum (sanksi) para pihak yang tidak beritikad baik dalam proses mediasi. Perma No. 1 Tahun 2016 juga mengenal kesepakatan sebagian pihak (partial settlement) yang terlibat dalam sengketa atau kesepakatan sebagian objek sengketanya. Berbeda dengan Perma sebelumnya apabila hanya sebagian pihak yang bersepakat atau tidak hadir mediasi dianggap dead lock (gagal). Tetapi, Perma yang baru kesepakatan sebagian pihak tetap diakui, misalnya penggugat hanya sepakat sebagian para tergugat atau sebagian objek sengketanya. 20
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERANAN ARBITRASE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DAGANG | SANDI | Legal Opinion 8388 27552 1 PB

TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERANAN ARBITRASE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DAGANG | SANDI | Legal Opinion 8388 27552 1 PB

para pihak yang berperkara dalam proses arbitarse tidak jauh berbeda dengan sengketa perdata pada umumnya di pengadilan negeri. Yang berbeda adalah istilah penyebutan para pihak yang berpekara. Dalam hukum perdata disebut penggugat dan tergugat, maka dalam arbitrase penyebutan para pihak telah dibakukan dan standard yaitu Calimant untuk yang membuat tuntutan dan yang dituntut disebut Respondent. Untuk mengadakan arbitrase di BANI, prosedurnya hampir sama dengan pendaftaran gugatan di Pengadilan Negeri. Berikut adalah tahapan ringkas dalam mengadakan arbitrase di BANI: 8
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Model Alternatif Penyelesaian Sengketa B

Model Alternatif Penyelesaian Sengketa B

telah lama ada dan dipraktikkan sebagai suatu alternatif lembaga Penyelesaian Sengketa di luar peradilan negara. Peradilan Adat laut bersumberkan hukum adat laut sebagai suatu norma. Norma tersebut merupakan rangkaian filsafat hidup berupa ukuran nilai baik atau buruk, diterima sukarela atau tanpa sengaja membentuk pola penyelesaian sengketa, disusun dan dibangun dari nilai, kaidah, dan norma yang disepakati, diyakini kebenarannya sehingga dijadikan standar bersenyawa melekat tidak dapat dipisahkan dari sistem masyarakatnya. Komunitas persekutuan masyarakat hukum adat laut dipimpin oleh Panglima Laôt yang bertahan sampai dengan sekarang bahkan diatur melalui peraturan perundang-undangan. Di Indonesia, model penyelesaian berbasis peradilan adat laut sebagai alternatif penyelesaian sengketa di luar peradilan Negara ditemukan juga di daerah Maluku Tengah, Haruku-Lease, Saparua. Model penyelesaian sengketa bernama “Hukum Sasi Laut” merupakan pranata sistem eksploitasi sumber daya wilayah laut. Lembaga yang sama ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dikenal dengan awig-awig. Model-model penyelesaian alternatif sengketa (APS) berbasis peradilan adat laut menciptakan situasi sosial ekonomi berkeadilan, tidak menggunakan kekerasan dengan nilai-nilai pengakuan peran masyarakat pada proses pengambilan keputusan, demokrasi dan pluralisme. Diskursus model peradilan adat laut apakah mampu bertahan, adaptif dengan perkembangan global atau tergerus oleh proses individualisasi yang mempengaruhi pola pikir masyarakatnya sehingga berpengaruh pada model penyelesaian alternatif yang dipilih.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MEDIASI SEBAGAI PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA ANTARA PT ALAM SUTERA REALTY Tbk. DENGAN WARGA BANJAR (DUSUN) SUKA DUKA GIRI DHARMA, DESA UNGASAN, KABUPATEN BADUNG.

MEDIASI SEBAGAI PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA ANTARA PT ALAM SUTERA REALTY Tbk. DENGAN WARGA BANJAR (DUSUN) SUKA DUKA GIRI DHARMA, DESA UNGASAN, KABUPATEN BADUNG.

Peraturan perundang-undangan pada masa Belanda juga mengatur penyelesaian sengketa melalui upaya damai di luar pengadilan. Upaya tersebut dikenal dengan arbitrase. Ketentuan mengenai hal ini diatur dalam Pasal 615-651 Rv (Reglement op de Rechtsvordering, Staatsblad, 1874: 52), atau Pasal 377 HIR (Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblad 1941: 44), atau Pasal 154 R.Bg (Rechtsreglement Buitengewesten, Staatsblad, 1927: 227), atau Pasal 31 Rv (Reglement op de Rechtsvordering, Staatsblad, 1874: 52). Ketentuan dari pasal-pasal ini antara lain berbunyi: jika orang bangsa bumiputra dan orang Timur Asing hendak menyuruh memutuskan perselisihannya oleh juru pemisah, maka dalm hal ini mereka wajib menurut peraturan mengadili perkara bagi bangsa Eropa. 16
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan

Pemberian fasilitas penyelesaian pengaduan yang dilaksanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 merupakan upaya mempertemukan Konsumen dan Pelaku Usaha Jasa Keuangan untuk mengkaji ulang permasalahan secara mendasar dalam rangka memperoleh kesepakatan penyelesaian.

19 Baca lebih lajut

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan

Dalam hal pengaduan Konsumen terkait transaksi atau kegiatan melibatkan pegawai Pelaku Usaha Jasa Keuangan yang memiliki kewenangan untuk menangani pengaduan atau pegawai Pelaku Usaha Jasa Keuangan yang menyelesaikan pengaduan tersebut, maka penanganan dan penyelesaian pengaduan wajib dilakukan oleh pegawai lain.

19 Baca lebih lajut

TATA CARA EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NAS (1)

TATA CARA EKSEKUSI PUTUSAN ARBITRASE NAS (1)

Metode yang dipakai dalam penelitian menggunakan metode kualitatif, yaitu suatu metode yang menekankan proses pemahaman peneliti atas perumusan masalah untuk mengkonstruksi sebuah gejala hukum yang kompleks dan holistik. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang di dukung oleh data primer. Data sekunder yang digunakan dengan melakukan studi pustaka terhadap buku-buku maupun makalah yang berhubungan dengan proses penyelesaian sengketa alternatif melalui arbitrase. Buku-buku atau makalah tersebut dapat diperoleh dengan membeli buku, meminjam di perpustakaan dan download lewat internet. Data primer berupa informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan pejabat BANI dan pejabat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Permasalahan akan dianalisis dengan menggunakan asas- asas hukum, peraturan perundang-undangan, dan pendapat para ahli.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

MODEL ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA D

MODEL ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA D

Dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, hak ingkar diatur dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 26. Terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tugasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil keputusan. Tuntutan ingkar terhadap seorang arbiter dapat pula dilaksanakan apabila terbukti adanya hubungan kekeluargaan, keuangan atau pekerjaan dengan salah satu pihak atau kuasanya. Permasalahan berkaitan dengan hak ingkar pada dasarnya adalah bahwa Hak ingkar bisa dijadikan sebagai sarana bagi pihak yang beritikad buruk untuk menunda putusan. Dengan demikian, seyogyanya peluang hak ingkar ini dipersempit dengan menegaskan bahwa hak ingkar dapat dilakukan jika memang sudah terbukti bahwa arbiriter berada dalam posisi yang tidak netral.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan 1

peraturan otoritas jasa keuangan tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan 1

(3) Dalam hal penyelesaian sengketa tidak dilakukan melalui lembaga alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Konsumen dapat menyampaikan permohonan kepada Otoritas Jasa Keuangan untuk memfasilitasi penyelesaian pengaduan Konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Pelaku Usaha Jasa Keuangan.

19 Baca lebih lajut

PENUTUP PENERAPAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM.

PENUTUP PENERAPAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM.

keputusan badan penyelesaian sengketa konsumen dan keputusan badan penyelesaian sengketa konsumen bersifat final dan mengikat. Penyelesaian sengketa konsumen melalui cara arbitrase, para pihak menentukan arbiter yang berasal dari unsur pengusaha, konsumen, dan pemerintah yang akan menjadi majelis arbiter dan memeriksa sengketa konsumen. Majelis arbiter memeriksa sengketa konsumen dan hasil penyelesaian sengketa konsumen dibuat dalam bentuk putusan majelis arbiter. Putusan arbiter dapat didaftarkan ke pengadilan untuk dilaksanakan putusan arbiter. Selain itu, para pihak dapat mengajukan keberatan terhadap putusan majelis arbiter.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...