Top PDF Pengawasan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Pengawasan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Pengawasan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

ketersediaan sumber daya manusia, anggaran, dan saran pendukung lainnya yang memada b. Pelaksanaan Dalam pelaksanaan pemeriksaan, BPK dapat memanfaatkan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah. Dengan demikian, luas pemeriksaan yang akan dilakukan dapat disesuaikan dan difokuskan pada bidang- bidang yang secara potensial berdampak pada kewajaran laporan keuangan serta tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan negara. Untuk itu, aparat pengawasan intern pemerintah wajib menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada BPK dan juga dalam pelaksanaan tugasnya BPK diberi kewenangan untuk meminta dokumen yang wajib disampaiakan oleh pejabat atau pihak lain yang berkaitan dengan pelaksaan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, mengakses semua data yang disimpan diberbagai media, aset, lokasi, dan segala jenis barang dan dokumen dalam penguasaan atau kendali dari entitas yang menjadi obyek pemeriksaan atau entitas lain yang dipandang perlu dalam pelaksaan tugas pemeriksaan, melakukan penyegelan tempat penyimpanan uang, barang, dan dokumen pengelolaan keuangan negara, meminta keterangan kepada seseorang dalam hal ini BPK dapat melakukan pemanggilan kepada seseorang tersebut, dan memotret, merekam dan/atau mengambil sampel sebagai alat bantu pemeriksaan.
Show more

90 Read more

TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH -

TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH -

JudHl Skripsi : TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO.. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN[r]

67 Read more

TINJAUAN PUSTAKA. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. menyebutkan bahwa otonomi daerah merupakan daerah otonom untuk

TINJAUAN PUSTAKA. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. menyebutkan bahwa otonomi daerah merupakan daerah otonom untuk

Adapun tujuan pemberitauan otonom kepada daerah tertentu adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan yang mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Pemberian kewenangan otonom daerah didasarkan pada asas disentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan otonomi yang luas adalah keleluasan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan di semua bidang pemerintahan kecuali di bidang politik luar negri,
Show more

26 Read more

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (STUDI PERBANDINGAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH).

PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (STUDI PERBANDINGAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH).

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengamanatkan diselenggarakannya otonomi seluas-luasnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Untuk itu perlu ada pengaturan secara adil dan selaras mengenai hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, dan antar pemerintahan daerah. Ketentuan ini dibuktikan dalam Pasal 18A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi : 1
Show more

13 Read more

PENDAHULUAN. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah

PENDAHULUAN. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program satuan kerja perangkat daerah, lintas satuan kerja perangkat daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif;
Show more

20 Read more

I. PENDAHULUAN. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah

I. PENDAHULUAN. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah melahirkan paradigma baru dalam pelaksanaan otonomi daerah yang meletakkan otonomi penuh, luas dan bertanggung jawab pada daerah kabupaten dan kota. Lahirnya Undang-undang ini juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kebijakan daerah tidak lagi bersifat menerima dari pemerintah pusat, namun pemerintah daerah harus mengambil inisiatif dalam merumuskan kebijakan daerah yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan masyarakat setempat agar setiap kebijakan yang di buat oleh pemerintah daerah dapat berjalan dengan efesien dan efektif demi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
Show more

9 Read more

Efektivitas Pelaksanaan Otonomi Daerah Pada Kabupaten Tapanuli Selatan Ditinjau Dari Undang-Undang No. 32 Tahun 2004.

Efektivitas Pelaksanaan Otonomi Daerah Pada Kabupaten Tapanuli Selatan Ditinjau Dari Undang-Undang No. 32 Tahun 2004.

pengguna berbagai kegiatan kemasyarakatan daripada menjadi pengelola atau pengurus. Mereka hadir dalam rapat-rapat yang diselenggarakan di lingkungannya akan tetapi kurang peduli terhadap proses pengambilan keputusan yang terjadi Dari data yang diperoleh dilapangan juga dapat dianalisis secara dominan masyarakat Tapanuli Selatan belum berani mengeksiskan diri ke dalam dunia politik. Hal ini tergambar dari jawaban responden (Tabel III.27) dimana mayoritas responden tidak mengikuti parpol manapun. Masyarakat baru mulai secara praktis memasuki dunia politik pada saat hari pelaksanaan pemilu yaitu dengan terdaftarnya mereka menjadi pemilih dan memberikan suara pada pelaksanaan pemilu tersebut. Ini dapat dilihat pada Tabel III.26. dimana 73 (73%) responden mengikuti pemilihan kepala daerah pada tahun 2005 lalu. Tingkat perhatian individu anggota masyarakat terhadap berbagai proses politik cenderung berbeda pada tingkat pemerintahan yang berbeda. Berdasarkan tingkat pendapatan, kelompok masyarakat kelas bawah cenderung menaruh perhatian pada proses-proses pemilihan kepala desa/lurah, anggota BPD, dan pemilihan presiden/wapres.
Show more

97 Read more

Pengawasan Pemerintah terhadap Produk Hukum Daerah (Peraturan Daerah) melalui Mekanisme Pembatalan Peraturan Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Pengawasan Pemerintah terhadap Produk Hukum Daerah (Peraturan Daerah) melalui Mekanisme Pembatalan Peraturan Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan non-hukum, penulis menemukan beberapa hal yang perlu dikaji. Dalam penelitian ini penulis menemukan beberapa hal terkait dengan praktek pembatalan perda yang dilakukan oleh pemerintah. Dalam penelitian ini ditemukan ketidaksesuaian dan ketidak konsistenan pemerintah dalam melakukan pembatalan perda. Selama ini pelaksanaan pembatalan perda ternyata tidak sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di dalam pasal 145 UU Nomor 32 Tahun 2004 menetapkan kewenangan pembatalan perda ada di tangan Presiden dengan instrumen perpresnya. Kemudian pada pasal 185 UU Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan Mendagri memiliki kewenangan untuk membatalkan perda juga, tetapi kewenangan pembatalan yang dimiliki oleh Mendagri di sini terbatas hanya pada perda APBD, pajak, retribusi dan RTRW. Pasal 185 ini kemudian dijabarkan lebih lanjut pada Permendagri No. 53 Tahun 2007 yang mana menyatakan dengan tegas instrumen hukum yang digunakan Mendagri untuk membatalkan perda adalah Permendagri untuk perda pemprov dan pergub untuk perda Kabupaten/Kota yang kewenangan pembatalannya dilakukan secara berjenjang oleh Mendagri dan Gubernur. Jadi jelaslan pembidangan kewenangan dan instrumen hukum dalam pembatalan perda ini. Tetapi dalam praktek ditemukan ketidaksesuaian dan ketidakkonsistenan pemerintah dalam melakukan pembatalan perda dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dalam praktek pembatalan perda selama ini dilakukan sepenuhnya oleh Mendagri. Mendagri telah melampaui kewenangan yang telah diberikan Undang- undang karena telsh mengambil alih kewenangan pembatalan perda secara keseluruhan
Show more

12 Read more

Prof. Dr. Syamsuddin Haris, M.Si. PELAKSANAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Prof. Dr. Syamsuddin Haris, M.Si. PELAKSANAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Dalam kaitan tersebut buku yang ditulis oleh para peneliti Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR Republik Indonesia ini berusaha memotret praktik dan implementasi desentralisasi kewenangan dan atau urusan pemerintahan sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan mengambil kasus Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Sulawesi Utara, para penulis membahas dan menyoroti antara lain, kewenangan gubernur dalam sengketa daerah, persoalan pegawai daerah, masalah urusan dan perizinan pertambangan yang menjadi kewenangan daerah, masalah implementasi asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan, dan implementasi urusan pembiayaan pemerintahan di daerah. Seperti bisa diduga, tidak semua urusan yang diserahkan kepada daerah tersebut “tanpa masalah”. Studi ini justru membenarkan sinyalemen bahwa kebijakan luhur otonomi daerah belum benar-benar dinikmati oleh masyarakat daerah sebagai pemberi mandate politik melalui pemilu dan pilkada. Barangkali disinilah letak urgensi peninjauan kembali dan atau revisi UU No. 32 Tahun 2004 agar ke depan agenda desentralisasi dan otonomi daerah bermuara pada peningkatan kesejahteraan dan pelayanan publik bagi masyarakat di daerah.
Show more

10 Read more

I. PENDAHULUAN. Lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

I. PENDAHULUAN. Lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah telah memberikan keleluasaan/kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah dan memperoleh sumber-sumber pembiayaan pembangunan yang dikelola sendiri secara adil dan proposional. Berlakunya undang-undang tersebut, memberikan harapan baru bagi daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam upaya membiayai pelaksanaan pembangunan daerah, yang nantinya secara bertahap dapat mengandalkan sumber pembiayaan pembangunan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebagaimana kita ketahui sampai dengan saat ini, sebagian besar daerah masih sangat mengandalkan sumber pembiayaan dari Pemerintah Pusat.
Show more

7 Read more

BAB I PENDAHULUAN. dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka

BAB I PENDAHULUAN. dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka

Pengesahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 sebagai pengganti dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka sistem pemerintahan yang awalnya tersentralisasi pada pemerintah pusat secara bertahap diserahkan kepada pemerintah daerah, agar menunjang pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia yang mendorong terciptanya pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan akuntabel. Begitu juga dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, membawa konsekuensi bagi pemerintah daerah untuk melakukan manajemen pemerintahannya, khususnya dalam hal keuangan pada masing-masing daerah. Sistem ini nantinya akan dapat mewujudkan pengelolaan keuangan yang tertib dan taat pada peraturan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah kepada masyarakat.
Show more

15 Read more

Memahami Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Memahami Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

ABSTRAK Pemberlakuan dua paket UU Otonomi Daerah, yakni UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebenarnya dapat dikatakan telah menggeser bentuk negara kesatuan ke arah bentuk negara yang bersifat kuasi federasi. Hal ini karena substansi kedua UU tersebut yang tidak lagi menempatkan hubungan antarlevel pemerintahan secara hirarkhis namun lebih ke arah hubungan kerja. Namun demikian, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dicermati dalam implementasi kedua UU ini, antara lain menyangkut belum tersedianya sejumlah peraturan pelaksananya; perubahan struktur dan fungsi lembaga-lembaga pemerintah daerah; dan pola hubungan internal dan eksternal pemerintah dengan masyarakat dan dunia usaha. Antisipasi terhadap permasalahan yang mungkin timbul sebagai akibat penerapan kedua UU ini akan membantu tercapainya visi demokratisasi dan pelayanan publik yang terkandung dalam kedua UU tersebut.
Show more

8 Read more

Revitalisasi Kecamatan sebagai Perangkat Daerah dalam Rangka Pembaharuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Revitalisasi Kecamatan sebagai Perangkat Daerah dalam Rangka Pembaharuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Tesis ini membahas masalah Revitalisasi Kecamatan Sebagai Perangkat Daerah Dalam Rangka Pembaharuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah daerah. Dari hasil penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif diperoleh kesimpulan bahwa : 1. Pengaturan Kecamatan sebagai perangkat daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah adalah dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Kecamatan dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Selain tugas dimaksud camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan. Camat dalam menjalankan tugas-tugasnya dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada camat. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. 2. Pengaturan revitalisasi kecamatan sebagai perangkat daerah dalam rangka revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, tentunya harus parallel dengan isue-isue strategis perubahan substansi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian, Peran Camat tidak hanya menghubungkan kepentingan Bupati kepada Pemerintah Desa, namun juga sebaliknya, menghubungkan Pemerintah Desa dengan pemerintah Kabupaten. Selanjutnya direkomendasikan, dalam menormatifkan Kedudukan, Wewenang, Tugas, Fungsi, dan Tanggung Jawab Kecamatan sebagai perangkat Daerah ke dalam Pasal Undang-Undang haruslah jelas, tegas dan pasti agar tidak dapat ditafsirkan secara ganda atau multi tafsir sesuai asas legalitas. Undang-Undang sebaiknya memberikan kewenangan bersifat atributif kepada Camat, tanpa adanya wewenang delegatif dari Bupati/Walikota kepada Camat.
Show more

20 Read more

MEKANISME EKSEKUTIF REVIEW PERATURAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

MEKANISME EKSEKUTIF REVIEW PERATURAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah 6 . Peraturan Daerah merupakan instrumen penyelenggara pemerintahan daerah. Kewenangan membuat Peraturan Daerah, merupakan wujud nyata pelaksanaan hak otonomi yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Sejak tahun 1945 hingga sekarang ini, telah berlaku beberapa undang-undang yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan menetapkan Peraturan Daerah sebagai salah satu instrumen yuridisnya. Kedudukan dan fungsi Peraturan Daerah berbeda antara satu dengan yang lainnya sejalan dengan sistem ketatanegaraan yang termuat dalam UUD dan Undang-Undang pemerintahan daerahnya. Perbedaan tersebut juga terjadi pada penataan materi muatan yang disebabkan karena luas sempitnya urusan yang ada pada pemerintahan daerah. Demikian juga terhadap mekanisme pembentukan dan pengawasan terhadap pembentukan dan pelaksanaan Peraturan Daerah mengalami perubahan seiring dengan perubanhan pola hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Setiap perancang Peraturan Daerah, terlebih dahulu harus
Show more

21 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999) merupakan sebagai titik awal adanya otonomi daerah. Kedua landasan tersebut merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan pemerintah pusat dalam upaya meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat serta telah membuka jalan bagi pelaksanaan reformasi sektor publik di Indonesia. Kebijakan tentang otonomi daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang dikukuhkan dengan Undang-Undang telah membawa konsekuensi tersendiri bagi daerah untuk bisa melaksanakan pembangunan disegala bidang, dengan harapan dapat dilaksanakan secara mandiri oleh daerah (Sumarmi, 2010).
Show more

12 Read more

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah dilakukan lebih awal dari ketentuan Undang- Undang ini karena terdapat beberapa kepala daerah yang dipenjabatkan lebih dari satu kali. Karenanya diperlukan penetapan kepala daerah definitif melalui pemilihan langsung. Dalam menetapkan daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung dilakukan dengan terlebih dahulu Komisi Independen Pemilihan dan DPRD Kabupaten/Kota berkonsultasi dengan Penguasa Darurat Sipil Pusat melalui Penguasa Darurat Sipil Daerah dan aparat keamanan setempat. Untuk pelaksanaan pemilihan kepala daerah, maka sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dibentuk Komisi Independen Pemilihan dengan 9 (sembilan) orang anggota. Anggota Komisi Independen Pemilihan dari unsur KPU diisi oleh ketua dan anggota KPUD provinsi. Hal ini dimaksudkan, karena pada saat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 diundangkan belum ada ketentuan tentang KPUD yang bersifat tetap dan independen sesuai dengan konstitusi.
Show more

62 Read more

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung dilakukan dengan terlebih dahulu Komisi Independen Pemilihan dan DPRD Kabupaten/Kota berkonsultasi dengan Penguasa Darurat Sipil Pusat melalui Penguasa Darurat Sipil Daerah dan aparat keamanan setempat. Untuk pelaksanaan pemihan kepala daerah, maka sesuai Undang-Undang Nomer 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dibentuk Komisi Independen Pemilihan dengan 9 (sembilan) orang anggota. Anggota Komisi Independen Pemilihan dari unsur KPU diisi oleh ketua dan anggota KPUD provinsi. Hal ini dimaksudkan, karena pada saat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 diundangkan belum ada ketentuan tentang KPUD yang bersifat tetap dan independen sesuai dengan konstitusi.
Show more

78 Read more

PELAKSANAAN DAN PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 (Tinjauan Teoritis)

PELAKSANAAN DAN PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 (Tinjauan Teoritis)

UU Nomor 22/1999 dan UU no.25/1999 merupakan titik awal terpenting dari sejarah sitem desentralisasi di Indonesia, dimana kedua undangundang tersebut mengatur tentang pemerintahan daerah dan perimbangan keuangan pusat sebagai suatu control atas undang-undang terdahulu yaitu UU No.5 /1974 yang sudah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerrintahan dan perkembangan keadaan. Jadi kedua undang-undang diatas merupakan skema terwujudnya otonomi daerah yang diharapkan dapat diterapkan mulai tahun 2001 guna dapat menciptakan pola hubungan yang demokratis antara pusat dan daerah. Seiring berjalannya waktu Undang-Undang No.22/1999 dirasa kurang sesuai lagi dengan perkembangan jaman dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah maka digantilah dengan aturan baru yaitu Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Diharapkan dari undang-undang ini pemerintah daerah lebih mampu melaksanakan pebangunan, pemberdayaan dan pelayanan yang lebih prima. Prakarsa dan inovasi kreatifvitas daerah akan terpacu karena telah diberikan kewenangan untuk mengurusi daerahnya. Sementara disisi lain pemerintah pusat akan dapat lebih fokus berkonsentrasi dalam perumusan kebijakan makro yang lebih strategis serta lebih punya waktu untuk memplajari,memahami, merespon berbagai permasalahan global.
Show more

5 Read more

Kewenangan Pemerintahan Daerah Otonom Dalam Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Bidang Pendidikan Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Kewenangan Pemerintahan Daerah Otonom Dalam Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Bidang Pendidikan Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, Pasal 7 ayat (1) urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten kota, berkaitan dengan pelayanan dasar. Ayat (2) urusan wajib meliputi: a. Pendidikan; b. Kesehatan; c. Lingkungan hidup; d. Pekerjaan umum; e. Penataan ruang; f. Perencanaan pembangunan; g. Perumahan; h. Kepemudaan dan olahraga; i. Penanaman modal; j. Koperasi dan usaha kecil dan menengah; k. Kependudukan dan catatan sipil; l. Ketenagakerjaan; m. Ketahanan pangan; n. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; o. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera; p. Perhubungan; q. Komunikasi dan informasi; r. Pertanahan; s. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; t. Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian; u. Pemberdayaan masyarajat dan desa; v. Sosial; w. Kebudayaan; x. Statistik; y. Kearsipan; dan z. Perpustakaan.
Show more

10 Read more

Pengawasan Peraturan Daerah Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Pengawasan Peraturan Daerah Pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Pada UU Pemda 1999, pengawasan terhadap perda hanya dilakukan dengan cara represif, atau dengan dak mengenal pengawasan preven f. Hal itu selaras dengan semangat mengurangi kekuasaan dari pemerintah pusat, tetapi juga dak menghilangkan esensi dari konsep negara kesatuan. Hasilnya, sejak UU Pemda 1999 disahkan jumlah perda yang diterbitkan melonjak tajam. Sampai pertengahan 2002, jumlah perda yang dihasilkan 368 kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai sekitar 6.000 perda. Sejumlah 645 perda diantaranya dibatalkan oleh pemerintah dalam kurun waktu 3 tahun, yaitu tahun 1999 hingga 2002. Hal tersebut menjadi salah satu evaluasi dalam mengubah mekanisme pengawasan UU Pemda 1999. Pada UU penggan nya, yaitu UU Pemda 2004, pengawasan preven f kembali diatur khusus untuk beberapa jenis perda saja, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR). Sedangkan, pengawasan represif dilakukan terhadap seluruh perda yang dibentuk oleh pemerintah daerah.
Show more

18 Read more

Show all 10000 documents...

Related subjects