Top PDF Pengembangan Model Pembelajaran Kolaboratif untuk Peningkatan Hasil Belajar Gambar Teknik di Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Model Pembelajaran Kolaboratif untuk Peningkatan Hasil Belajar Gambar Teknik di Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Model Pembelajaran Kolaboratif untuk Peningkatan Hasil Belajar Gambar Teknik di Sekolah Menengah Kejuruan

Dependent diberikan model pembelajaran Kolaboratif dan Langsung. Hasil pengujian hipotesis ternyata menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin siswa field dependent yang mengikuti model pembelajaran kolaboratif dan langsung, namun demikian rerata hasil belajar siswa yang meng- ikuti ke dua model pembelajaran tersebut menunjukkan perbedaan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent lebih tinggi hasil belajarnya bila mengikuti model pembelajaran kolaboratif daripada langsung, walaupun per- bedaan ini tidak signifikan. Individu yang memiliki gaya kognitif field dependent cen- derung baik hati, ramah, dan bijaksana, sehingga lebih mampu untuk menjalin hubungan inter- personal dan lebih mudah diterima orang lain. Karakteristik seperti ini sebenarnya sangat menguntungkan ketika individu tersebut meng- ikuti model pembelajaran kolaboratif, terutama saat fase tranformasi, di mana setiap individu dituntut untuk bekerjasama saling tukar infor- masi dan saling menghargai pendapat teman- temannya dalam kelompok tersebut. Demikian juga, pada fase presentasi dalam model pembelajaran kolaboratif juga dibutuhkan sifat- sifat saling menghargai pendapat orang lain, namun demikian siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent cenderung kurang mempunyai kemampuan menganalisis, serta cenderung menerima informasi sebagaimana disajikan, menjadikan mereka kurang memiliki keterampilan merestrukturisasi kognitif.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi Bidang Kelistrikan di Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi Bidang Kelistrikan di Sekolah Menengah Kejuruan

Secara empiris gambaran tentang rendah- nya penguasaan keterampilan dunia kerja kelis- trikan dinyatakan oleh pengurus Asosiasi Pro- fesionalis Elektrikal Indonesia (APEI) (Mud- dassir, 2013), kurangnya jumlah tenaga kerja bersertifikat kelistrikan dikarenakan sistem pen- didikan yang berjalan tidak sinkron dengan ke- butuhan industri yang ada. Masalah ini berkait- an dengan pembelajaran di SMK pada kompe- tensi keahlian teknik instalasi listrik, yang ter- bagi dalam beberapa spektrum Standar Kom- petensi dan Kompetensi Dasar (SKKD). Didu- kung hasil survei awal pada SMK negeri dan swasta di Makassar, ditemukan bahwa lemah- nya sistem pembelajaran dipengaruhi oleh be- lum terciptanya link and match karena dukung- an pemerintah kurang, dan minimnya perang- kat pembelajaran yang dimiliki. Kondisi ini men- dorong pentingnya inovasi dalam sistem pem- belajaran untuk mengembangkan model pem- belajaran berbasis kompetensi dunia kerja.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengembangan Modul Teknik Budidaya Tanaman Kedelai sebagai Bahan Ajar Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Modul Teknik Budidaya Tanaman Kedelai sebagai Bahan Ajar Sekolah Menengah Kejuruan

Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh siswa. Modul disebut juga sebagai media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Karakteristik modul, anatara lain modul memungkinkan siswa belajar mandiri (self instruction), materi dikemas secara utuh (self containing material), berdiri sendiri (stand alone), modul mampu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (adaptif), dan modul mampu bersahabat dengan pemakainya (user friendly) (Parsons, 1975). Modul pembelajaran dikembangkan dengan tujuan agar mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal, mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa maupun guru/instruktur, dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti untuk meningkatkan motivasi dan gairah belajar, mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri sesuai kemampuan dan minatnya, siswa dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya. Modul dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya (Depdiknas, 2008).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengembangan Trainer Instalasi Motor Listrik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Trainer Instalasi Motor Listrik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Cikande pada program keahlian Teknik Ketenagalistrikan kelas XII Listrik 2 yang berjumlah sebanyak 25 orang siswa. Wawancara, angket dan soal dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data pada penelitian ini. Salah satu wawancara ditujukan kepada guru program keahlian Teknik ketenagalistrikan dengan tujuan mengetahui analisis permasalahan yang harus diteliti untuk mengetahui hasil analisis yang dibutuhkan. Produk yang telah dikembangkan secara tertulis diberikan penilaian kepada responden untuk menjawab sebuah pertanyaan/pernyataan mengenai informasi dengan menggunakan angket (Sugiyono, 2015). Angket yang diberikan kepada responden yaitu: dosen Pendidikan Vokasional Teknik Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan guru Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 1 Cikande sebagai ahli media pembalajaran maupun ahli materi pembelajaran.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MOBILE UNTUK PENGUASAAN GERBANG LOGIKA DASAR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MOBILE UNTUK PENGUASAAN GERBANG LOGIKA DASAR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Penelitian dilakukan oleh Ismiati Azizah (2015) dengan judul “ Pengembangan Media Pembelajaran Penerapan Konsep Dasar Listrik dan Elektronika (PKDLE) Berbasis Android untuk Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Ketenagalistrikan di SMK ” . Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan ( Research and Development ). Model yang digunakan adalah ADDIE . Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Pleret dengan subjek penelitian kelas X program keahlian Teknik Ketenagalistrikan. Tahap pengujian kelayakan produk dilakukan oleh dua ahli materi dan dua ahli media, sedangkan pada tahap evaluasi produk dilakukan penilaian oleh siswa yaitu penilaian pada uji coba kelompok kecil dan penilaian uji coba lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu: (1) hasil pengembangan didapatkan produk media pembelajaran yang terdiri atas tujuh komponen utama, yaitu halaman pembuka, home, silabus, materi, evaluasi, bantuan, dan tentang. (2) hasil penilaian kelayakan oleh ahli materi didapat rerata skor 64 sehingga masuk dalam kategori “sangat layak”, sedangkan kelayakan oleh
Baca lebih lanjut

288 Baca lebih lajut

Pengembangan Multimedia Pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Pelajaran Produksi Gambar 2d untuk Bidang Keahlian Multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Multimedia Pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Pelajaran Produksi Gambar 2d untuk Bidang Keahlian Multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan

Pembelajaran berbasis masalah (PBL) pertama kali diterapkan di Mc. Master University yang merupakan sebuah perguruan tinggi di Kanada yang berfokus pada bidang kesehatan. Model PBL adalah salah satu contoh strategi pembelajaran konstruktivistik yang menimbulkan situasi kontekstual yang signifikan di dunia nyata, dan menyediakan sumber daya bimbingan dan instruksi untuk belajar, karena mengembangkan pengetahuan konten dan keterampilan memecahkan masalah (Folashade & Akinbobola, 2009). Siswa dalam PBL memperoleh pengetahuan melalui keterlibatan langsung dengan masalah yang bersifat otentik dan menantang (Barrows et al dalam Walker et al, 2011). PBL menantang siswa untuk menjadi aktif, pebelajar mandiri, yang bekerja sama dengan sesama siswa, mereka mengambil tanggung jawab untuk proses belajar mereka, berbagi pengetahuan satu sama lain, individu merencanakan bersama kegiatan studi, dan memantau proses belajar untuk mencapai hasil (Dochy et al dalam Zwaal & Hans, 2012).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL WEBQUEST PADA MATA PELAJARAN IPS DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN ¹. Oleh

PENGEMBANGAN MODEL WEBQUEST PADA MATA PELAJARAN IPS DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN ¹. Oleh

Permasalahan utama dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ialah kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Diduga disebabkan oleh minimnya kemampuan guru untuk merancang dan mengelola pembelajaran dengan baik. Studi pendahuluan menunjukan bahwa guru kurang bisa menciptakan pembelajaran yang kolaboratif (collaboratifve learning) diantara siswa sehingga suasana kelas menjadi kaku dan monoton. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu rancangan pembelajaran inovatif yang bisa membangkitkan gairah belajar siswa untuk mengikuti pembelajaran IPS di SMK serta meningkatkan interaksi antar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran IPS. Kegiatan pembelajaran yang monoton, kurang variatif dan berpusat pada guru menyebabkan siswa pasif. Kegiatan belajar belum menyentuh afektif dan aspek lain yang mendukung proses pengembangan kemandirian dalam berfikir, bersikap dan berperilaku. Cara mengajar guru yang satu arah (teacher centered) menyebabkan penumpukan informasi dan konsep saja, yang menyebabkan siswa tidak menerapkan belajar berfikir objektif, berfikir kritis dan argumentatif.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengembangan Multimedia Pembelajaran untuk

Meningkatkan Hasil Belajar Teknik Dasar Sepakbola Siswa Sekolah Menengah

Atas (SMA)

Pengembangan Multimedia Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknik Dasar Sepakbola Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

 Disajikan peragaan teknik dari peserta didik yang teknik dasar sepakbolanya baik dan benar atau menyajikan beberapa gambar dan video klip berisi latihan teknik dasar sepakbola (mengumpan dan mengontrol bola dengan kaki bagian dalam).

110 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN COMPETENCE BASED TRANING (CBT) BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN COMPETENCE BASED TRANING (CBT) BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Perbedaan aktivitas belajar siswa antara kelas yang menerapkan model pembelajaran CBT berbasis karakter dengan kelas yang tidak menerapkan; (2) Perbedaan prestasi belajar siswa antara kelas yang menerapkan model pembelajaran CBT berbasis karakter dengan kelas yang tidak menerapkan; (3) Efektivitas model pembelajaran Competence Based Training (CBT) berbasis karakter untuk pembelajaran praktik kerja mesin di SMK, dalam meningkatkan kualitas lulusan (kompeten dan berkarakter). Metode implementasi dilaksanakan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen. Lokasi implementasi di 4 SMK bidang teknologi dan rekayasa yang berada di wilayah kota Yogyakarta, yaitu SMK N 2, SMK N 3, SMK N Piri 1, dan SMK Muh. 3 Yogyakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan angket. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil akhir yang didapatkan adalah: (1) Terdapat perbedaan aktivitas belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana aktivitas belajar pada kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol; (2) Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana prestasi belajar pada kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol; (3) Penerapan model pembelajaran CBT berbasis karakter, efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan SMK, yaitu dalam rangka membekali siswa dengan kompetensi akademik dan karakter diri yang unggul.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBANTUAN VIRTUAL LABORATORY PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBANTUAN VIRTUAL LABORATORY PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Pelaksanaan KTSP masih menemui banyak kendala terutama pada kesiapan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang dimiliki SMK. Berdasarkan pengamatan di SMK Negeri 2 Bandung, pembelajaran pada mata pelajaran produktif kompetensi keahlian teknik pemesinan secara umum menggunakan metode ceramah, demontrasi dan penugasan. Kegiatan pembelajarannya meliputi, (1) guru menyampaikan materi (2) guru melakukan demontrasi pada materi-materi praktek (3) guru memberikan tugas praktek dengan berpedoman pada gambar kerja dan (4) guru memeriksa hasil pekerjaan siswa. Prinsip pembelajaran tersebut masih menganut pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center) karena peserta didik kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya. Hal ini bertentangan dengan salah satu prinsip KTSP yaitu pembelajaran yang berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM MEMBENTUK KOMPETENSI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM MEMBENTUK KOMPETENSI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Salah satu model pembelajaran kontekstual yang dapat dipertimbangkan pada program produktif SMK yang dapat menjembatani kurangnya industri pasangan SMK yang sesuai dengan program keahliannya dengan kompetensi standar yang harus dimiliki oleh siswa SMK yang dapat dilakukan di SMK adalah model pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran inovatif yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Fokus pembelajaran terletak pada konsep dan prinsip inti dari suatu disiplin studi, melibatkan peserta didik dalam investigasi pemecahan masalah dan tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan peserta didik bekerja secara otonom membangun pengetahuan siswa dan puncaknya menghasilkan produk nyata. Peran guru pada pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai fasilitator dan pemandu dalam proses pemecahan masalah. Pembelajaran berbasis proyek dapat digunakan untuk mencapai sebuah kompetensi tertentu melalui sebuah proyek dalam jangka waktu tertentu melalui langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, pembuatan laporan, mengkomunikasikan hasil kegiatan serta evaluasi. (Kamdi, 2008).
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi Konstruktivisme untuk Peserta Didik Sekolah Menengah Kejuruan Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi Konstruktivisme untuk Peserta Didik Sekolah Menengah Kejuruan Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.

Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran matematika SMK kompetensi keahlian TKJ berorientasi konstruktivisme meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa, dan Tes Hasil Belajar. Kevalidan produk terlihat dari hasil validasi ahli yang menyatakan bahwa ketiga produk mencapai kriteria sangat valid. Kepraktisan produk terlihat dari hasil pengisian lembar penilaian guru yang menunjukkan bahwa produk telah memenuhi kriteria sangat baik; hasil pengisian lembar penilaian peserta didik menunjukkan bahwa produk mencapai kriteria baik; dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa persentase mencapai 92,19%. Hasil pengujian keefektifan menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran (berorientasi konstruktivisme dan konvensional) efektif dan perangkat pembelajaran berorientasi konstruktivisme lebih efektif daripada perangkat pembelajaran konvensional untuk materi peluang ditinjau dari aspek hasil belajar dan kepercayaan diri peserta didik. Jadi, ketiga produk yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengembangan Video Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Flipped Classroom di Sekolah Menengah Kejuruan

Pengembangan Video Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Flipped Classroom di Sekolah Menengah Kejuruan

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media berupa video pembelajaran matematika melalui model pembelajaran flipped classroom di Sekolah Menengah Kejuruan. Luaran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah berupa produk video pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Research and Development. Pada penelitian ini menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Pengembangan video pembelajaran matematika melalui model pembelajaran flipped classroom di Sekolah Menengah Kejuruan teruji valid berdasarkan ahli media sebesar 82%, oleh ahli materi sebesar 79%, dan valid oleh ahli desain pembelajaran sebesar 81%. Media video pembelajaran matematika tersebut juga praktis untuk digunakan dilihat dari respon siswa sebesar 81%. Media video pembelajaran efektif digunakan dilihat dari perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditunjukkan dengan rata-rata 82,93 pada kelas eksperimen dan 59,48 pada kelas kontrol dan diperoleh variabel keaktifan siswa berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dengan persamaan regresi Ŷ = 73,86 + 4,45 X dan pengaruhnya sebesar 43%, serta ditunjukkan dengan uji ketuntasan dengan rata-rata 96,77 artinya telah mencapai ketuntasan. Berdasarkan data tersebut media video pembeajaran matematika melalui model pembelajaran flipped classroom valid, praktis, dan efektif.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BIOS UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BIOS UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Perkembangan dalam teknologi multimedia menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seorang belajar, cara memperoleh sumber untuk belajar dan cara beradaptasi dengan materi pembelajaran. Masalah utama yang dihadapi oleh pihak sekolah dan guru adalah keterbatasan sarana prasarana, sumber daya manusia dan sumber belajar. Maka dari itu, SMK dituntut untuk memenuhi kebutuhan fasilitas praktikum yang sesuai dengan perkembangan jaman yaitu berupa media pembelajaran dengan animasi. Dewasa ini dikembangkan suatu media pembelajaran berbasis flash (animasi). Menurut Azhar Arsyad (2007) yang mengutip dari Kemp dan Dalton, mengidentifikasi beberapa manfaat media animasi dalam pembelajaran, yaitu (1) Proses pembelajaran menjadi menarik dan mudah dipahami (2) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif (3) Efisiensi dalam waktu dan tenaga (4) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Menarik karena tampilan yang ada adalah berupa tampilan gambar asli, baik 2 dimensi maupun 3 dimensi, font dan coloring yang variatif. Mudah dipahami karena media tersebut dapat meningkatkan imajinasi siswa dengan menghadirkan secara langsung proses- proses yang terjadi pada setiap materi. Dengan menggunakan program animasi ini maka akan didapat peningkatan daya serap peserta didik tentang materi yang disajikan.
Baca lebih lanjut

165 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) Tanggapan Guru Teknik Gambar Bangunan Terhadap Program Multimedia Pembelajaran Interaktif di Sekolah Menengah Kejuruan Kota Semarang.

(ABSTRAK) Tanggapan Guru Teknik Gambar Bangunan Terhadap Program Multimedia Pembelajaran Interaktif di Sekolah Menengah Kejuruan Kota Semarang.

Proses pendidikan dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu : siswa, guru dan media belajar. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang harus berjalan secara bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dalam proses belajar mengajar konstruksi kayu, siswa hendaknya berpikir aktif, kreatif dan rajin berlatih sehingga memiliki kemampuan yang baik. Seorang guru bangunan hendaknya juga terampil dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran agar proses belajar-mengajar berjalan efektif dan efisien, sehingga siswa dapat mudah memahami materi dan termotivasi untuk belajar gambar konstruksi kayu serta lebih menekuni mata pelajaran tersebut. Pada kenyataannya di SMK Kota Semarang, dalam proses belajar mengajar masih menggunakan cara konvensional yaitu dengan media papan tulis dan spidol untuk menyampaikan materi. Hal ini dipandang kurang efektif untuk menggali kemampuan dan hasil belajar siswa secara maksimal. Maka dari itu, peneliti mencoba merancang sebuah Multimedia Pembelajaran Interaktif sebagai media yang dapat digunakan guru dalam mengajar gambar bukaan kusen pada mata diklat gambar konstruksi kayu. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana tanggapan guru Teknik Gambar Bangunan terhadap program Multimedia Pembelajaran Interaktif di SMK Kota Semarang. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan guru Teknik Gambar Bangunan terhadap program Multimedia Pembelajaran Interaktif.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator and Eplaining untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator and Eplaining untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Mengacu pada serangkaian data analisis tersebut, didapati bahwa penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa menjadi lebih bersemangat dan memiliki keinginan berkompetisi dalam belajar lebih tinggi. Pada pelaksanaan siklus 1 setelah penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining dilakukan, rata-rata nilai siswa berada pada angka 80, selanjutnya pada siklus 2 terjadi peningkatan pada angka 83 dalam kategori sangat baik. Secara teoritis, temuan ini membuktikan kebenaran bahwa pembelajaran kooperatif Student Facilitator Explaining memang dapat meningkatkan kemampuan, keaktifan, dan motivasi belajar siswa. Terutama kondisi siswa yang pasif sehingga dapat menumbuhkan antusias, rasa senang, tanggung jawab yang muncul dalam individu siswa. Sehingga model ini sangat cocok dipilih guru untuk digunakan dalam pembelajaran PPKn untuk materi wawasan nusantara dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siswa dapat memiliki kompetensi atau keterampilan berbicara, pemahaman dan mengekspresikan dalam bentuk presentasi di kelas dalam keadaan senang.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNINGDAN KECERDASAN INTELEKTUALTERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BOLA BESAR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNINGDAN KECERDASAN INTELEKTUALTERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BOLA BESAR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahi pengaruh model pembelajaran dan kecerdasan Intelektual dengan motivasi belajar siswa SMK. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasy Eksperiment dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Pajajaran 2 Bandung sebanyak 40 orang. Pengolahan data menggunakan pendekatan statistika dengan teknik uji Analisis Covariansi (Ancova). Berdasarkan hasil analisis data, Pengaruh model pembelajaran terhadap motivasi belajar memiliki nilai signifikansi sebesar 0,004 dan untuk hasil uji signifikasi pengaruh kecerdasan intelektual dengan motivasi belajar sebesar 0,012. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap motivasi belajar pendidikan jasmani siswa SMK dan terdapat pengaruh kecerdasan intelektual terhadap motivasi belajar pendidikan jasmani siswa SMK . Sedangkan hasil uji signifikansi model pembelajaran dan kecerdasan intelektual secara bersama-sama dengan motivasi belajar pendidikan jasmani siswa SMK memiliki nilai signifikansi sebesar 0,003. Sehinggga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran dan kecerdasan intelektual secara bersama-sama terhadap motivasi belajar pendidikan jasmani siswa SMK .Berdasarkan hasil analisis tersebut, penulis menyarankan bagi guru agar dalam proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SMK. Peneliti merekomendasikan untuk menggunakan model pembelajaran project based learning yang terbukti berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, dan juga memperhatikan faktor-faktor lain seperti kecerdasan intelektual yang juga dapat mempengaruhi motivasi belajar belajar pendidikan jasmani.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Kontribusi Persepsi Siswa Tentang Sekolah Menengah Kejuruan dan Cara Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Hiliserangkai

Kontribusi Persepsi Siswa Tentang Sekolah Menengah Kejuruan dan Cara Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Hiliserangkai

Studi awal yang dilakukan peneliti di SMKN 1 Hiliserangkai, menunjukan beberapa indikasi positif diduga menyebabkan kurang berkualitasnya hasil belajar, yaitu: (1) menyangkut persepsi siswa terhadap SMK, (2) siswa memasuki sekolah tersebut karena mudah dijangkau, tidak membutuhkan biaya yang besar, (3) belum optimalnya pembinaan dan bimbingan karir yang dilakukan, (4) dari dialog peneliti dengan beberapa orang siswa menuturkan bahwa cara belajar mereka sangat variatif dan kurang berpola, (5) motivasi yang diberikan guru kepada siswa dirasakan belum memberi semangat maksimal serta kurang menumbuhkan kreatifitas-kreatifitas yang berguna.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMODELAN DAN ABSTRAKSI MATEMATIS SERTA MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL KOLABORATIF.

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMODELAN DAN ABSTRAKSI MATEMATIS SERTA MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL KOLABORATIF.

Analisis pencapaian dan peningkatan kemampuan pemodelan dan abstraksi matematis serta motivasi belajar siswa, juga penerapan pembelajaran kontekstual kolaboratif, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: level sekolah, pengetahuan awal matematika siswa, dan masalah yang dihadapkan pada siswa. Pada umumnya, siswa yang memiliki kemampuan tinggi biasanya masuk di sekolah yang levelnya lebih tinggi dibandingkan siswa yang mempunyai kemampuan lebih rendah, meskipun kemungkinan keberadaan di lapangan sangat relatif, tidak menutup kemungkinan terjadi sebaliknya untuk siswa dari kalangan tertentu. Tidak ada patokan yang baku, tetapi biasanya berdasarkan prestasi yang diraih siswanya dalam berbagai hal. Untuk keperluan penelitian ini level sekolah ditentukan berdasarkan peringkat nilai Ujian Nasional yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan setempat.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN COMPETENCE BASED TRANING (CBT) BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN COMPETENCE BASED TRANING (CBT) BERBASIS KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menjabarkan prosedur pelaksanaan diseminasi, dalam rangka proses sosialisasi model pembelajaran CBT berbasis karakter yang telah dihasilkan dalam penelitian tahun sebelumnya; (2) mensosialisasikan model pembelajaran CBT berbasis karakter untuk pembelajaran praktik, yang terbukti secara empiris agar dapat diterapkan dalam lingkup yang lebih luas, sekaligus mengetahui tanggapan dari peserta diseminasi.

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects