Top PDF Pengembangan Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Virus KHV (Koi Herpesvirus) Menggunakan Isolat Lokal

Pengembangan Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Virus KHV (Koi Herpesvirus) Menggunakan Isolat Lokal

Pengembangan Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Virus KHV (Koi Herpesvirus) Menggunakan Isolat Lokal

Roitt (2003) memaparkan bahwa kekebalan berperantara sel (seluler) melibatkan limfosit Tc yang dihasilkan di kelenjar timus yang bekerjasama dengan NK (natural killer= non specific cytitoxic cells/NCC) dalam menghancurkan sel yang mengalami kelainan. Ruang lingkup sel NK ini terbatas sehingga perlu bantuan antibodi untuk mengahancurkan sel yang terinfeksi parasit intraseluler yaitu virus. Antibodi menyelimuti sel yang terinfeksi virus sementara NK yang memiliki reseptor khusus terhadap antibodi berikatan dengan antibodi. Antibodi akan membawa sel NK mendekat ke sel sasaran dengan membentuk suatu jembatan. Sel NK yang diaktifkan oleh kompleks antigen-antibodi mampu membunuh sel terinfeksi melalui mekanisme ekstraseluler. Pembunuhan sel ini bersifat non-spesifik. Pembunuhan sel terinfeksi virus yang bersifat spesifik dilakukan oleh sel Tc. Sel ini berhubungan dengan sel target dengan bantuan molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas I. Melalui pengenalan terhadap antigen permukaan ini maka sel-sel sitotoksik datang untuk membuat kontak yang lebih intim dengan sel target. Sel sitotoksik juga melepaskan Ә -interferon yang membantu memperkecil peluang penyebaran virus ke sel-sel yang lainnya yang berdekatan. Sel sitotoksik melakukan pembumihangusan sel target sehingga penyebaran virus dapat dihentikan.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Efikasi Vaksin Dna Khv Gp 11 Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio Haematopterus) Skala Laboratorium

Efikasi Vaksin Dna Khv Gp 11 Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio Haematopterus) Skala Laboratorium

Koi herpesvirus (KHV) merupakan salah satu patogen penting bagi ikan mas dan ikan koi. Penyakit tersebut sebelumnya dikenal sebagai carp intersititial nephritis and gill necrosis (CNGV) di Israel, dan kemudian menyebar luas ke berbagai belahan dunia. Penyakit ini bersifat sangat virulen dan telah menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dalam industri budidaya baik pada budidaya ikan koi maupun ikan mas sehingga memberikan dampak sosial yang signifikan di beberapa negara di seluruh dunia. KHV di Indonesia pertama kali terjadi pada awal Maret 2002 kemudian dengan cepat menyebar dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada industri budidaya. Beberapa upaya penanggulangan penyakit KHV terus dilakukan, salah satunya adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan menggunakan vaksin DNA. Pengembangan aplikasi vaksin DNA terhadap infeksi KHV masih terus dilakukan, salah satunya dengan menggunakan vaksin DNA KHV GP-11. GP-11 merupakan ORF 81 virus KHV yang memiliki sifat imunogenik. Vaksin DNA KHV GP-11 merupakan vaksin DNA penyandi glikoprotein dari KHV yang diapit oleh promoter berupa keratin ikan flounder Jepang. Oleh karena itu penelitian mengenai aplikasi vaksin DNA KHV GP-11 perlu dilakukan untuk menguji efikasi dari vaksin tersebut sebagai upaya dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan koi (C. carpio haematopterus) akibat infeksi koi herpesvirus (KHV).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Pengembangan Vaksin DNA dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza

Pengembangan Vaksin DNA dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza

Kelebihan vaksin DNA dibandingkan dengan vaksin inaktif (konvensiaonal) adalah dapat menginduksi respon kebal Cell Mediated Immmunity (CMI) yang berperan dalam mengontrol infeksi viral, berbeda dengan vaksin inaktif yang menginduksi respon humoral. Preparasi vaksin tidak memerlukan inokulasi virus yang bersifat infeksius, sehingga pembuatan vaksin DNA lebih aman dan sederhana dibandingkan vaksin inaktif. Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam 3 tahap penelitian yang berlangsung selama 3 tahun. Tahap pertama adalah membuat konstruksi DNA plasmid pCR-HA, tahap berikutnya dilakukan konstruksi DNA plasmid yang menyandi DNA-HA (pVak-HA) sebagai bakal vaksin Avian Influenza yang akan diuji baik secara in vitro maupun in vivo. . Selanjutnya dilakukan transformasi pada E coli untuk perbanyakan plasmid rekombinan. Beberapa kegiatan pada tahap pertama ini adalah isolasi dan inokulasi pada Telur Embryo Tertunas (TAB), dilanjutkan dengan identifikasi virus menggunakan teknik uji Aglutinasi cepat dan RT-PCR. Full-length gen-HA diamplifikasi dengan teknik PCR dan dimasukkan ke dalam vektor plasmid-TA. Hasil seleksi plasmid rekombinan diverifikasi untuk mengetahui keberhasilan reaksi ligasi dengan teknik PCR, dilanjutkan dengan reaksi sekuensing untuk mengetahui susunan basanya. Sebanyak 7 isolat telah diperoleh dari wabah Avian Influenza di Sukabumi dan 1 isolat berasal dari Cirebon yang merupakan koleksi tahun 2006.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Persistensi vaksin DNA penyandi glikoprotein 25 yang diberikan melalui pakan buatan pada ikan mas (Cyprinus carpio)

Persistensi vaksin DNA penyandi glikoprotein 25 yang diberikan melalui pakan buatan pada ikan mas (Cyprinus carpio)

Koi Herpes Virus (KHV) adalah patogen virus utama yang menginfeksi ikan mas dan koi. Serangan penyakit KHV mewabah di hampir seluruh sentra budidaya ikan mas di Indonesia dan dapat menyebabkan kematian massal. Metode vaksinasi DNA merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi serangan KHV. Pemberian vaksin umumnya dilakukan dengan cara injeksi. Pada penelitian ini dilakukan uji persistensi vaksin DNA (pMBa- GP25) yang diberikan melalui pakan buatan dan persistensinya pada beberapa jaringan ikan dianalisis menggunakan metode PCR dengan primer spesifik gen GP25. Bakteri Escherichia coli DH5α yang mengandung vaksin DNA pMBa- GP25 dikultur pada empat media perlakuan yaitu 2xYT, LB polipepton, LB tripton dan TSB. Kepadatan bakteri hasil kultur dihitung menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 580 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media kultur cair yang efisien untuk pertumbuhan bakteri adalah media LB tripton. Selanjutnya, DNA GP25 dapat terdeteksi di ginjal dan limpa ikan yang diberi pakan buatan mengandung vaksin DNA GP25. Pemberian pakan bervaksin 2 kali seminggu menunjukkan persistensi DNA di ginjal dan limfa adalah tertinggi. Dosis vaksin DNA yang dapat terdeteksi adalah 7,56 ng (dengan jumlah copy DNA yaitu 1,598 x 10 10 ).
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

(B. Pertanian) Eksplorasi Isolat-Isolat Citrus Tristeza Virus sebagai Dasar Pengembangan Vaksin Hidup untuk Mengimbas Kekebalan Tanaman Jeruk terhadap Penyakit Tristeza.

(B. Pertanian) Eksplorasi Isolat-Isolat Citrus Tristeza Virus sebagai Dasar Pengembangan Vaksin Hidup untuk Mengimbas Kekebalan Tanaman Jeruk terhadap Penyakit Tristeza.

Di beberapa negara penyakit triztesa sudah berhasil dikendalikan dengan metode preimunisasi, yaitu mengimbas ketahanan tanaman jeruk terhadap infeksi strain ganas dengan strain protektif. Strain protektif merupakan strain lemah yang bisa diperoleh dari strain kuat yang dilemahkan atau eksplorasi langsung dari alam. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati tertinggi di dunia (negara dengan megabiodiversitas) yang hampir belum tersentuh tangan untuk dimanfaatkan. Diperkirakan terdapat banyak strain-strain CTV di alam yang dapat dikembangkan sebagai vaksin (protektif strain CTV) untuk melindungi tanaman jeruk dari infeksi strain ganas.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Uji keamanan lingkungan vaksin DNA anti-KHV: uji in vivo dengan bakteri Aeromonas hydrophila pada periode interaksi berbeda

Uji keamanan lingkungan vaksin DNA anti-KHV: uji in vivo dengan bakteri Aeromonas hydrophila pada periode interaksi berbeda

Peluang integrasi dan uptake plasmid pada kenyataannya sangat kecil. Plasmid vaksin yang disuntikkan akan mengalami beberapa proses sebelum akhirnya bertahan di dalam tubuh organisme target. Proses tersebut antara lain (i) plasmid di-uptake oleh sel di lokasi penyuntikan, (ii) plasmid tetap berada di luar sel yang berada di lokasi penyuntikan, (iii) plasmid mengalami degradasi oleh enzim endonuklease, (iv) plasmid terdistribusi melalui darah, sel, dan limfoid pada beragam jaringan (Gillund et al. 2008; Dolter et al. 2011). Sebagian besar plasmid (sekitar 95-99%) akan didegradasi dalam rentang waktu 90 menit pascavaksinasi (Barry et al. 1999). Namun demikian, sisa plasmid vaksin yang tersisa tetap bisa memberikan efek imunitas yang diharapkan (Gillund et al. 2008). Sementara itu menurut Nuryati et al . (2010) keberadaan plasmid vaksin DNA anti-KHV masih dapat diidentifikasi sampai dengan hari ke-14 pascainjeksi. Hal ini terjadi karena sifat promotor yang digunakan yaitu β-aktin aktif di semua jaringan. Hal serupa didukung juga oleh Dolter et al. (2011) yang menyampaikan hasil bahwa residu plasmid vaksin pada hari ke-60 pascavaksinasi sudah tidak ditemukan lagi. Selain itu, mekanisme masuknya plasmid ke dalam bakteri umumnya terjadi dengan proses konjugasi yang melibatkan dua sel bakteri hidup. Pada kenyataannya, vaksin DNA anti-KHV yang diinjeksikan adalah plasmid murni yang tidak disisipkanke dalam sel bakteri hidup. Oleh karena itu, diduga vaksin DNA anti-KHV menggunakan pemurnian plasmid sangat aman untuk diaplikasikan di lapangan ditinjau dari aspek keamanan lingkungan dan perlindungan keragaman genetika alam.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Analysis of Genotype and Phylogenetic of Koi Herpesvirus (KHV) on Carp (Cyprinus carpio) in Lombok Island of West Nusa Tenggara Province Based on Thymidine Kinase Sequence

Analysis of Genotype and Phylogenetic of Koi Herpesvirus (KHV) on Carp (Cyprinus carpio) in Lombok Island of West Nusa Tenggara Province Based on Thymidine Kinase Sequence

The presence of the virus within the host cell can determinated through the appearance of clinical symptoms or abnormalities in the infect- ed host organ. According to the visual observa- tion of KHV-infected fishes show the increasing of respiratory disorder frequency behavior, swim- ming toward the water surface, or gathering at the water surface, and weak movement. Obser- vation of the external disorder of some infected fishes show the presence of bleeding and wound on the fish’s body, erosion of t he gill, color of the gill and pale body and excessive mucus secretion (Fig. 1 and 2).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Potensi Ekstrak Bawang Putih Allium Sativum Untuk Menginaktifasi Koi Herpesvirus (Khv) Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Potensi Ekstrak Bawang Putih Allium Sativum Untuk Menginaktifasi Koi Herpesvirus (Khv) Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Salah satu cara untuk mengobati dan mencegah infeksi penyakit adalah dengan menggunakan bahan-bahan alami. Para pembudidaya ikan mas dan koi sudah mulai menggunakan bahan-bahan alami seperti ekstrak bawang putih, ekstrak mengkudu (pace) dan cacahan buah maja untuk melawan KHV, meskipun penggunaannya belum dikaji ataupun diteliti dari segi ilmiah. Keberhasilan yang diperoleh cukup variatif, meskipun beberapa pembudidaya cukup puas dengan upaya tersebut. Dengan demikian diperlukan informasi tentang potensi bahan alami tersebut, termasuk ekstrak bawang putih untuk menginaktifasi KHV pada ikan mas.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EKSPLORASI ISOLAT-ISOLAT CITRUS TRISTEZA VIRUS SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN VAKSIN HIDUP UNTUK MENGIMBAS KEKEBALAN TANAMAN JERUK TERHADAP PENYAKIT TRISTEZA.

EKSPLORASI ISOLAT-ISOLAT CITRUS TRISTEZA VIRUS SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN VAKSIN HIDUP UNTUK MENGIMBAS KEKEBALAN TANAMAN JERUK TERHADAP PENYAKIT TRISTEZA.

Jeruk merupakan jenis buah-buahan terpenting di Indonesia setelah pisang. Produksi nasional jeruk di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand, Filipina dan Malaysia. Namun demkian sejak 10 tahun terakhir kemampuan produksi jeruk nasional terancam oleh penyakit tristeza, suatu penyakit terpenting pada tanaman jeruk yang disebabkan oleh citrus tristeza virus (CTV). Di Indonesia penyakit tristeza ditemukan di pusat-pusat produksi jeruk nasional. Sampai sekarang belum ditemukan metode pengendalian yang efektif serta ramah lingkungan terhadap penyakit tristeza tersebut.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Deteksi Transmisi Vaksin Dna Anti-Khv Pada Bakteri Di Media Budidaya Ikan Mas

Deteksi Transmisi Vaksin Dna Anti-Khv Pada Bakteri Di Media Budidaya Ikan Mas

KHV merupakan penyakit menular yang menyerang ikan mas dalam berbagai stadia, dapat mengakibatkan kematian 80-100%. Salah satu cara penanggulangan serangan KHV adalah dengan penggunaan vaksin DNA. Vaksin DNA merupakan produk rekayasa genetika yang dikhawatirkan dapat melakukan transmisi pada bakteri di perairan dan mempengaruhi keragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi transmisi vaksin DNA anti-KHV ke bakteri di air pemeliharaan ikan mas. Vaksinasi dilakukan menggunakan metode perendaman, dan pemberian melalui pakan. Bakteri dari air vaksinasi melalui perendaman dan akuarium pemeliharaan ikan mas diisolasi pada 6 jam, hari ke-4, dan hari ke-7 pascavaksinasi, sedangkan bakteri dari kolam diisolasi setelah 6 jam, hari ke-4 dan hari ke-7 ikan dipelihara di kolam. Bakteri tersebut disebar sebanyak 50 µL pada media kultur mengandung ampisilin (50 µg/µL). Bakteri yang tumbuh pada media TSA yang mengandung ampisilin sebanyak 103 bakteri dan yang teridentifikasi hingga tingkat spesies dengan menggunakank kit API ada 11 bakteri, yakni 2 Aeromonas hydrophila, 4 Bacillus cereus, 2 B. subtilis, 2 Staphylococcus auricularis dan 1 Enterobacter sakazakii. Keberadaan vaksin DNA dalam bakteri diuji menggunakan metode cracking, dan PCR. Hasil cracking menunjukkan tidak adanya bakteri yang mengandung vaksin DNA anti- KHV. Analisis bakteri dengan metode PCR menunjukkan bahwa bakteri tidak dapat meng-uptake atau mengambil vaksin DNA anti-KHV dari lingkungan, sehingga dapat disimpulkan bahwa vaksin DNA anti-KHV tidak ditransmisikan ke bakteri media pemeliharaan ikan mas.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Uji Potensi Dan Efikasi Vaksin Inaktif Terhadap Khv Dengan Penambahan Adjuvan Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio)

Uji Potensi Dan Efikasi Vaksin Inaktif Terhadap Khv Dengan Penambahan Adjuvan Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio)

Koi Herpesvirus (KHV) adalah virus ganas yang menginfeksi ikan mas dan koi pada semua ukuran dan dapat menyebabkan kematian hingga 95%. Wabah KHV pertama kali dilaporkan terjadi di Israel dan Amerika Serikat pada tahun 1998. Penyakit KHV terjadi di Indonesia dilaporkan pertama kali pada bulan April 2002. KHV dapat menyerang berbagai stadia ikan dan menyebabkan mortalitas yang lebih tinggi pada benih dibandingkan ikan dewasa. Ikan yang terinfeksi KHV berwarna putih pucat dan terdapat nekrosis pada filamen insang, mata yang abnormal, produksi lendir yang berlebih, bintik pucat yang kasar pada kulit. Ikan sering berenang ke permukaan dan menunjukkan stress pernapasan, lesu, memisahkan diri pada inlet dan sisi kolam, hilangnya keseimbangan dan disorientasi renang. Pada beberapa kasus wabah KHV, beberapa ikan yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Deteksi dan Keragaman Molekuler Virus Newcastle Disease yang Bersirkulasi di Beberapa Wilayah Aceh

Deteksi dan Keragaman Molekuler Virus Newcastle Disease yang Bersirkulasi di Beberapa Wilayah Aceh

Teknik molekuler untuk mendiagnosa Virus Newcastle Disease dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) telah dikembangkan oleh Kary B. Mullis tahun 1985 dan menjadi teknik yang revolusioner. Pada awal perkembangannya metode PCR hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA, namun kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk melakukan kuantitasi molekul mRNA. Saat ini metode PCR telah banyak digunakan untuk berbagai macam manipulasi dan analisis genetik. Metode ini juga sering digunakan untuk memisahkan gen-gen berkopi tunggal dari sekelompok sekuen genom. Dengan menggunakan metode PCR, dapat diperoleh pelipatgandaan suatu fragmen DNA (110 bp, 5×10 9 mol) sebesar 200.000 kali setelah dilakukan 20 siklus reaksi selama 220 menit. Hal ini menunjukkan bahwa pelipatgandaan suatu fragmen DNA dapat dilakukan secara cepat. Kelebihan lain reaksi ini adalah dapat dilakukan menggunakan komponen dalam jumlah sangat sedikit, hanya sekitar 5 µg DNA template, oligonukleotida yang diperlukan hanya sekitar 1 µM dan reaksi ini bisa dilakukan dalam volume 50-100 µl (Kary et al. 1987).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Preparasi dan aplikasi vaksin polivalen avian Influenza h5n1 pada unggas menggunakan prinsip Antibodi-anti-idiotipe: efikasi vaksin terhadap Berbagai strain virus ai h5n1 indonesia

Preparasi dan aplikasi vaksin polivalen avian Influenza h5n1 pada unggas menggunakan prinsip Antibodi-anti-idiotipe: efikasi vaksin terhadap Berbagai strain virus ai h5n1 indonesia

Virus AI dapat dipetakan ke dalam 3 kelompok yakni: 1) Legok, 2) Subang-Konawe dan 3) Sukabumi. Secara komersial telah dibuat vaksin bi- atau polivalen yang mengandung virus AI H5N1 strain 2004-2009. Penelitian ini bertujuan untuk membuat vaksin bayangan cermin terhadap 3 jenis antigen H5 dalam PV-3 (PT. Medion Bandung) menggunakan prinsip antibodi-anti idiotipe, karakterisasinya dan efikasinya. Untuk tujuan tersebut maka marmot disuntik 2 kali (priming dan booster yang dilakukan 1 minggu setelah penyuntikan pertama) dengan vaksin komesial PV-3 yang mengandung 3 strain virus termaksud. Antibodi marmot (Ab1) 0.2 ml (2.4 mg protein/ml) yang mengandung anibodi spesifik terhadap 3 strain virus AI H5N1 2004-2009 tersebut disuntikkan (2X) ke kelinci secara intra vena dengan interval penyuntikan 1 minggu. Antibodi kelinci (Ab2) adalah bayangan cermin epitop antigen virus yang terkandung dalam PV-3. Ab2 ini selanjutnya digunakan untuk menginduksi antibodi spesifik pada ayam, yang memiliki daya netralisasi terhadap virus AI H5N1 strain Legok 2004 dan strain Sukabumi 2009 pada uji hambat aglutinasi (HI test). Antigen tiruan (antibodi-anti- idiotipe) yang dibuat dalam penelitian ini memiliki antigenisitas yang nyata lebih rendah dibandingkan dengan virus aslinya, khususnya virus AI strain Legok 2004 (2 9-10 ), meskipun masih mampu menimbulkan antibodi spesifik pada level protektif (2 3 ). Antigen tiruan ini mampu merangsang respon imun spesifik terhadap variasi antigen H5 dan peningkatan antigenisitas bisa diusahakan dengan melibatkan teknologi adjuvan dan imunostimulan dalam preparasi vaksinnya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN VITAMIN C (ASCORBIC ACID) PADA PAKAN KOMERSIAL UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPESVIRUS (KHV) PADA IKAN MAS, Cyprinus carpio

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN VITAMIN C (ASCORBIC ACID) PADA PAKAN KOMERSIAL UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT KOI HERPESVIRUS (KHV) PADA IKAN MAS, Cyprinus carpio

Perbedaan level protektif terhadap infeksi KHV pada ikan mas merupakan signal bahwa pada jumlah tertentu atau optimum vitamin C dapat memberikan manfaat yang maksimal, dan nilai tersebut secara eksperimental diperoleh pada penambahan vitamin C sebanyak 750 mg/kg pakan. Berdasarkan nilai diferensial leukosit, pemberian imunostimulan pada dosis yang lebih tinggi tidak memberikan efek simultan terhadap peningkatan kekebalan non- spesifik. Hal ini sering terjadi dalam aplikasi imunologi, di mana pemberian antigen dalam Tabel 1. Rataan persen sintasan ikan mas uji pasca uji tantang dengan koi herpes virus
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ANALISIS FILOGENETIK DAN PREDIKSI EPITOP IMUNOGEN GEN PENGKODE PROTEIN FUSION VIRUS NEWCASTLE DISEASE ISOLAT BLITAR PENELITIAN EKSPLORATIF LABORATORIS Repository - UNAIR REPOSITORY

ANALISIS FILOGENETIK DAN PREDIKSI EPITOP IMUNOGEN GEN PENGKODE PROTEIN FUSION VIRUS NEWCASTLE DISEASE ISOLAT BLITAR PENELITIAN EKSPLORATIF LABORATORIS Repository - UNAIR REPOSITORY

Sampel berupa organ paru, proventrikulus dan feses ayam yang terinfeksi virus ND dari peternakan di Blitar yang kemudian dilakukan isolasi pada telur ayam berembrio (TAB) dan identifikasi terhadap virus ND dengan uji hemaglutinasi (HA) yang dikonfirmasi denghan uji hambatan hemaglutinasi (HI) menggunakan anti serum ND, kemudian dilakukan isolasi RNA dengan menggunakan kit Qiagen, setelah itu dilakukan pemeriksaan reverse transcriptase-PCR (RT-PCR) menggunakan sepasang primer forward dan reverse dengan target 699 bp. Hasil positif dari pemeriksaan PCR selanjutnya disekuensing sehingga diketahui sekuen nukleotida kemudian di alignment menggunakan program GENETYX ver 10. Analisis prediksi epitop sel B pada protein F menggunakan software online IEDB.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

TAP.COM -   PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN ... 11950 34959 1 PB

TAP.COM - PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN ... 11950 34959 1 PB

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa inang alternatif yang dikohabitasi yaitu ikan mujair (Tilapia mosambica), ikan tawes (Punt- ius javanicus), bawal (Colossoma spp), gurame (Osphronemus gouramy), mas koki (Carassius auratus) dan komet (Carassius carpio) tidak menunjukkan adanya tanda-tanda klinis terse- rang dan secara PCR tidak terinfeksi KHV. Se- dangkan ikan mas dan koi yang dikohabitasi de- ngan ikan mas terinfeksi KHV tidak ada peru- bahan patologi, tetapi dengan pemeriksaan PCR menunjukkan terinfeksi KHV. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena ikan tersebut memiliki daya tahan tubuh yang kuat atau ikan-ikan ter- sebut telah terpapar KHV sehingga ikan terse- but lebih tahan terhadap serangan KHV. Bebe- rapa ikan koi mempunyai kekebalan alami ter- hadap virus tersebut dan tidak terpengaruh oleh ikan sekitar.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Genetic variation and pathological changes of Koi Herpesvirus (KHV) Infection of Cyprinus carpio

Genetic variation and pathological changes of Koi Herpesvirus (KHV) Infection of Cyprinus carpio

menghasilkan profil yang identik dari ketiga strain tersebut. Genom strain KHV memiliki pengulangan langsung (direct repeat) sebesar 22 kbp pada tiap tiap terminal (22,437 bp untuk varian 1, 22,469 bp untuk varian 2 dan 22,485 bp untuk varian 3). Genom-genom varian tersebut memiliki tingkat kesamaan yang cukup tinggi pada level sekuen. Sebagai contoh, substitusi nukleotida tunggal (tidak termasuk duplikat terminal pengulangan/terminal repeat) varian 1 berbeda dengan varian 2 dan 3 pada loki 181 dari 217 loki. Hal tersebut berarti terdapat perbedaan pada setiap rata rata 1,5 kbp. Disisi lain, dari sebanyak 36 nonconserved loki, varian 3 berbeda dengan varian 1 dan 2 pada 32 loki dan varian 2 berbeda dengan varian 1 dan 3 pada 4 loki. Selain tinjauan pada genom dan loki tersebut, ketiga strain KHV menunjukkan perbedaan pada open reading frame atau dikenal sebagai ORF. Kejadian tersebut diduga karena adanya insersi dan delesi yang terjadi pada satu atau dua strain menyebabkan kerusakan pada titik pengkodean (coding region).
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Genetic variation and pathological changes of Koi Herpesvirus (KHV) Infection of Cyprinus carpio

Genetic variation and pathological changes of Koi Herpesvirus (KHV) Infection of Cyprinus carpio

Serangan KHV di Indonesia pertama kalinya terjadi pada bulan Maret tahun 2002 di Blitar Jawa Timur. Wabah terjadi pada ikan koi yang baru datang dari Surabaya. Ikan koi ini diimpor ke Surabaya dari Cina melalui Hongkong pada bulan Desember 2001 Januari 2002. Wabah terjadi setelah hujan deras dengan total kematian mencapai 80 95%. Ikan yang sakit memperlihatkan gejala klinis berupa lepuh pada kulit. Oleh karena itu penyakit ini mula-mula dikenal sebagai penyakit melepuh. Meskipun ada gejala kerusakan insang pada ikan yang terkena wabah, tetapi gejala ini belum banyak diperhatikan. Blitar dikenal sebagai sentra produksi ikan koi, dengan lebih dari 5000 petani ikan koi. Koi dari Blitar termasuk yang sakit selanjutnya menyebar ke berbagai daerah termasuk ke Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta yang merupakan pangsa pasar utama (Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, 2002; Sunarto et ➛ ➜ . , 2004; Taukhid et al., 2004).
Baca lebih lanjut

274 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...