Top PDF Pengendalian Hama dengan Pengelolaan Agroekosistem dalam Kerangka Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama

Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama

Pengelolaan agroekosistem dalam pengendalian hama, merupakan salah satu metode dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang diterapkan dengan pendekatan ekologi. Penerapan metode ini dilakukan setelah dipahami faktor-faktor penyebab suatu agroekosistem menjadi rentan terhadap eksplosi hama, dan dikembangkan metode-metode yang dapat meningkatkan ketahanan agroekosistem tersebut terhadap eksplosi hama. Prinsip utama dalam pengelolaan agroekosistem untuk pengendalian hama adalah menciptakan keseimbangan antara herbivora dan musuh alaminya melalui peningkatan keragaman hayati. Peningkatan keragaman vegetasi dan penambahan biomassa, dapat meningkatkan keragam- an hayati dalam suatu agroekosistem. Peningkatan keragaman vegetasi dilakukan melalui pola tanam polikultur dengan pengaturan agronomis yang optimal. Penambahan biomassa dilakukan dengan mengaplikasikan mulsa, penambahan pupuk hijau dan pupuk kandang. Kedua metode ini ditujukan untuk mendapatkan produktivitas lahan yang optimal dan berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SOSIALISASI ANALISIS AGROEKOSISTEM DALAM PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) PADA TANAMAN JAGUNG

SOSIALISASI ANALISIS AGROEKOSISTEM DALAM PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) PADA TANAMAN JAGUNG

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, PHT tidak lagi dipandang sebagai hanya teknologi, tetapi telah menjadi suatu cara pandang (filosofi) dalam penyelesaian masalah hama di lapangan. Dalam upaya pengendalian hama harus didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan (van den Bosch and Telford, 1964; van Emden, 1989). Dalam aspek yang lebih luas, PHT merupakan bagian atau komponen dari pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriicultural development) karena konsep dan strategi pengendalian dalam program PHT sesuai dengan sifat dan ciri dari pertanian berkelanjutan Pada prinsipnya, konsep sistem pertanian berkelanjutan (sustainable agriicultural systems) adalah salah satu wujud nyata kebijaksanaan global (global wisdom) dalam mendukung pengelolaan sumberdaya pertanian dalam satu pola dan sistem yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, menjaga keseimbangan biologis, memelihara kelestarian dan bahkan memperbaiki kualitas sumberdaya alam sehingga dapat terus dimanfaatkan, dan menerapkan model pemanfaatan sumberdaya yang efisien (Suharto, 2007; Untung, 2006).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian Modern Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Tahun 2016 pros pangan jilid1

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian Modern Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Tahun 2016 pros pangan jilid1

Varietas unggul baru merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produktivitas padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya hasil tanaman maupun ketahanan terhadap cekaman abiotik dan biotik. Pengkajian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi dari empat VUB yang ditanam pada lahan sawah irigasi di Subak Tembuku, Bangli Bali tahun 2014. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 petani kooperator sebagai ulangan. Varietas Unggul Baru (VUB) yang ditanam adalah : Inpari 19, Inpari 24, Inpari 28 dan Ciherang sebagai pembanding. Penanaman dilakukan dengan inovasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah seperti : tanam bibit muda (umur 13-15 hss), tanam 1-3 bibit/lubang, pemupukan dengan urea dan ponska masing – masing 200 kg/ha, pengairan berselang dan pengelolaan hama penyakit secara terpadu. Pupuk yang digunakan adalah 200 kg/ha urea, dan 200 kg/ha phonska diberikan 3 kali yaitu 1/3 pada umur 7 – 10 HST, 1/3 pada umur 20 – 25 HST, dan 1/3 pada umur 35 – 40 HST. Parameter yang diamati: tinggi tanaman maksimum (cm), jumlah anakan produktif per rumpun (batang), panjang malai (cm), jumlah gabah isi dan gabah hampa per malai (butir), bobot 1000 butir gabah (g), dan berat gabah kering panen (GKP t/ha).Analisis data dilakukan dengan Analisis sidik ragam (analisis varian), sedangkan untuk melihat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji BNT 5%. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, hasil gabah kering panen Inpari 28 (8.30 t/ha) lebih tinggi 20.99% dan Inpari 24 (7.75 t/ha) lebih tinggi 16.03% akan tetapi hasil GKP Inpari 19 (5.94 t/ha) lebih rendah 15.48% dibandingkan dengan hasil GKP Varietas Ciherang (6.8 t/ha).Jadi Varietas Inpari 24 dan Inpari 28 yang ditanam di Subak Tembuku, Banglimenunjukkan pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang,.
Baca lebih lanjut

460 Baca lebih lajut

Pengembangan varietas dan teknologi sayuran utama dan indigenous untuk mendukung ketahanan pangan

Pengembangan varietas dan teknologi sayuran utama dan indigenous untuk mendukung ketahanan pangan

Peningkatan produksi pangan nasional salah satunya hortikultura menjadi keharusan agar dapat mengurangi ketergantungan pangan dan menstabilkan kedaulatan pangan nasional. Peningkatan produksi hortikultura dimasa depan menghadapi empat tantangan utama. yaitu: (1) peningkatan kebutuhan, (2) penurunan daya dukung lahan, (3) perubahan iklim global dan (4) rantai pasok yang panjang. Metode yang digunakan adalah pendekatan secara menyeluruh mulai dari pengembangan varietas baru, teknologi produksi lapang, teknologi pasca panen dan pengolahan hingga diseminasi ke petani dan pemasaran. Hasil yang telah dicapai adalah telah diperoleh beberapa calon varietas tomat dan cabai adaptif dataran rendah, berbagai aksesi terong dan sayuran indigenous, dosis pemupukan dan naungan untuk produksi sayuran indigenous poh-pohan, daftar berbagai OPT pada sayuran indigenous, informasi kemasan yang baik untuk transportasi dan penyimpanan cabai, informasi suhu dan waktu yang optimum untuk produksi pasta tomat kaya likopen dan telah dilakukannya kegiatan pengembangan dan diseminasi berbagai produk PKHT.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Inovasi teknologi untuk pengembangan jagung dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan energi

Inovasi teknologi untuk pengembangan jagung dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan energi

Pada tahap pertama, masalah teknis yang masih ada pada sistem penjatahan pupuk dan benih diidentifikasi sebagai dasar modifikasi desainnya. Untuk mengatasi masalah dalam sistem penjatahan benih dan pupuk, dengan beban putar penjatah pupuk sangat tinggi dan kadang-kadang macet khususnya bila digunakan pupuk TSP, maka model mekanisme penjatahan pupuk didesain ulang dan diuji efektifitas dan keseragaman penjatahan pupuknya serta kebutuhan torsi putarnya. Salah satu model metering device pupuk yang dicoba adalah tipe edge-cell dengan rotor (Gambar 1). Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut. Agar penempatan benih dan pupuk lebih efektif, maka unit penanam dan pemupuk ditata dengan posisi: hoper benih di tengah, hoper pupuk dibagi dua, yaitu hoper pupuk urea di kiri hoper benih dan hoper pupuk TSP dan KCl di sebelah kanan hoper benih. Untuk meningkatkan ketepatan penjatahan pupuk (dosis) rotor penjatah pupuk diberi tambahan silinder pengatur dosis yang dapat digeser sesuai kebutuhan (Gambar 1(a)). Roda penggerak ditingkatkan daya putarnya dengan menambah sudu- sudu pada lingkaran roda, dan pegas tambahan sehingga tekanan pada permukaan tanah meningkat. Kinerja prototype – 2 diujikan pada petak pengujian berukuran lebar 25 m, dan panjang 40 m. Jarak tanam jagung yang dicoba adalah 75 × 20 cm. Pengukuran kinerja yang dilakukan adalah (1) pengu- kuran kapasitas lapangan teoretis (KLE), kapasitas lapangan efektif (KLE), dan menghitung efisiensi lapanganya, (2) pengukuran kinerja penanaman: jumlah benih per lubang, jarak antarbenih dalam barisan tanam, kedalaman penempatan benih, keru- sakan benih, dan (3) pengukuran kinerja pemupukan: takaran pupuk yang diberikan (urea, TSP, KCl), kedalaman penempatan pupuk.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

DAMPAK IMPOR KEDELAI BERKELANJUTAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN

DAMPAK IMPOR KEDELAI BERKELANJUTAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN

Aktivitas pangan (termasuk kedelai) di Indonesia secara prinsip dijalankan berdasarkan mekanisme pasar bebas. Konsekuensinya pedagang yang menguasai cadangan paling besar dibandingkan dengan pemerintah dan rumah tangga. Dalam era globalisasi pasar bebas, arus barang akan sangat ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran masing-masing negara. Negara pengekspor yang mampu bersaing di pasar internasional adalah negara yang mampu memproduksi secara efisien. Sebaliknya negara pengimpor yang mampu bersaing untuk memperoleh barang dari pasar internasional adalah negara yang sanggup membayar lebih mahal atau minimal sama dengan harga internasional. Ini berarti bahwa untuk memperoleh barang dari pasar internasional masyarakat suatu negara harus mempunyai daya beli yang memadai. Jika daya beli masyarakat lemah maka kemampuan untuk membeli bahan pangan asal impor juga lemah, sehingga ketahanan pangan menjadi rentan (Swastika, 1997).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

REFORMASI PENGELOLAAN LAHAN KERING UNTUK MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN

REFORMASI PENGELOLAAN LAHAN KERING UNTUK MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN

Lahan kering di Indonesia yang belum diusahakan secara intensif untuk pertanian relatif cukup luas (12,90 juta ha), yang disertai indeks pertanaman yang rendah terutama di luar P. Jawa, menunjukkan bahwa sebagian lahan ini belum dikelola secara baik. Kekurangan dan kelemahan pengelolaan lahan kering di Indonesia selama ini telah mengakibatkan degradasi berbagai fungsi tanah yang berdampak semakin beratnya usaha mensejahterakan masyarakat/bangsa. Memasuki era milenium ke 3 saat ini perlu dirumuskan kembali paradigma dan konsepsi tentang pengelolaan sumberdaya alam termasuk reformasi pengelolaan lahan kering. Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor biofisik lahan kering berpotensi sedang sampai tinggi seluas 5,09 juta ha dan berpotensi rendah seluas 7,81 juta ha, dan kendala fisik lingkungan, untuk mendukung pemantapan swasembada pangan dapat ditempuh melalui program jangka pendek dan jangka panjang. Program jangka pendek adalah upaya-upaya yang terkoordinasi untuk membangun pertanian lahan kering yang produktif dengan memasyarakatkan teknologi dan inovasi baru melalui pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya lahan secara terpadu. Program jangka panjang adalah kelanjutan dan perluasan penerapan program jangka pendek secara bertahap, serta beberapa upaya lain untuk meningkatkan produksi pangan melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan kering, teknologi (pengendalian erosi tanah, pengembangan kolam penampung air, penataan distribusi air, dan sistem perbenihan) dan kelembagaan. Melalui reformasi pengelolaan lahan kering, akan diperoleh perkiraan produksi pangan sebanyak ± 11,34 juta ton padi gogo dan 6,91 juta ton kacang-kacangan per tahun. Reformasi pengelolaan lahan kering ini mutlak perlu dilaksanakan guna mendukung dan sekaligus memantapkan swasembada pangan di Indonesia sehingga tidak tergantung lagi pada pasokan impor pangan dari luar negeri.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KERANGKA KONSEPTUAL (CONCEPTUAL FRAMEWORK) UNTUK ANALISIS PERTANIAN UPLAND BERKELANJUTAN.

KERANGKA KONSEPTUAL (CONCEPTUAL FRAMEWORK) UNTUK ANALISIS PERTANIAN UPLAND BERKELANJUTAN.

Modal manusia merupakan modal dasar yang terdapat dalam diri setiap individu manusia. Modal manusia merujuk pada akses atas kecukupan gizi, kesehatan, informasi, pengetahuan dan ketrampilan (Pretty, 2003). Modal manusia yang baik sangat menunjang implementasi kebijakan dalampertanian upland. Kemauan untuk berperan sebagai pioner dalam berinovasi ditentukan oleh modal manusia yang baik (Rizov, 2001). Modal manusia yang baik juga berperan dalam meningkatkan efektivitas difusi inovasi dan program mengenai pertanian upland (Rogers, 1995). Modal manusia yang baik sangat menentukan kemampuan seseorang dalam membangun jaringan, berperan sebagai inisiator untuk setiap program rintisan. Modal manusia yang baik dapat menghasilkan sebuah keputusan yang rasional dan analitis. Terkait dengan petani upland, membangun akses terhadap penyuluhan dan pelatihan merupakan kunci keberhasilan pencanangan program pertanian upland berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

27Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian

27Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian

RINGKASAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN Formulir Halaman : 1 PEMERINTAH KOTA TANGERANG TAHUN ANGGARAN 2016 : 1.21.01.[r]

1 Baca lebih lajut

pengolahan citra penginderaan jauh untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.

pengolahan citra penginderaan jauh untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.

Indeks Vegetasi merupakan suatu ukuran yang dirancang untuk mereduksi kanal jamak menjadi kanal tunggal yang mencerminkan informasi spesifik yaitu tentang karakteristik vegetasi. Indeks vegetasi telah lama sekali digunakan untuk memonitor perubahan vegetasi temporal yang menggunakan data penginderaan jauh. Perkembangan algoritma indeks vegetasi dari nilai kecerahan didasarkan atas perubahan energi absorbsi, transmitan dan reflektan oleh vegetasi pada spektrum elektromagnetik merah dan infra merah. Beberapa penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa rasio infra merah dan merah berkorelasi kuat dengan jumlah biomas daun hijau.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

MAKALAH EKOLOGI PERTANIAN Agroekosistem Agroekosistem

MAKALAH EKOLOGI PERTANIAN Agroekosistem Agroekosistem

Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah membimbing manusia dengan petunjuk-petunjuk-Nya sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran dansunnah. Demikian juga penulis bersyukur kepada-Nya yang telah memberi kemudahan, nikmat, berkah dan iradat-Nya dalam penulisan makalah Agroekosistem yang sederhana ini hingga dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dihaturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, keluarga dan para pengikutnya sampai di hari kiamat.

18 Baca lebih lajut

Pembangunan Basis Data Sistem Lahan untuk Mendukung Pengelolaan DAS Berkelanjutan

Pembangunan Basis Data Sistem Lahan untuk Mendukung Pengelolaan DAS Berkelanjutan

Untuk meningkatkan kualitas peta sistem lahan yang mencakup aspek georeferensi, geometri, dan d a t a atribut seperti yang s a a t ini BAKOSURTANAL sedang melaksanakan pembangunan basisdata sumberdaya lahan yang berbasiskan data sistem lahan. Basisdata sistem lahan yang terbangun diharapkan lebih diakses dan dapat difungsikan sebagai data dan infromasi sumberdaya lahan yang pemanfaatannya bersifat multiguna dengan menggunakan teknologi diantaranya untuk pengelolaan DAS yang dilakukan oleh instansi-instansi terkait, seperti Dephut dan Dep PU.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN PESTISIDA HAYATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA PERTANIAN ORGANIK.

PEMANFAATAN PESTISIDA HAYATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA PERTANIAN ORGANIK.

Masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh mitra KKU adalah berupa masalah teknis dan operasional. Ada dua masalah yang berpotensi dapat menurunkan produktivitas mitra yaitu : (1) adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman organik, sedangkan metode pengendalian yang digunakan selama ini adalah menggunakan pestisida botani dan penggunaan biopestisida berbahan aktif mikroba belum intensif dilakukan, (2) lemahnya pengelolaan manajemen teknik produksi, keuangan dan rencana bisnis kedepan. Hal ini terlihat dari masih belum rapinya pengelolaan keuangan yakni menyangkut kas arus masuk dan arus keluar dan juga belum ada terlihat gambaran pengembangan kegiatan ini kedepan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan

Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan

No Kegiatan Nama Paket Jenis Volume Pagu Sumber Dana Lokasi Pekerjaan Pemilihan Penyedia Pelaksanaan Pekerjaan Keterangan U lumbung pangan masyarakat 9.. Pembangunan gedung kantor [r]

3 Baca lebih lajut

EVALUASI KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERTANIAN DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI KECAMATAN ANREAPI KABUPATEN POLEWALI MANDAR

EVALUASI KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERTANIAN DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI KECAMATAN ANREAPI KABUPATEN POLEWALI MANDAR

Benih adalah organ generatif suatu tanaman yang digunakan untuk perbanyakan tanaman. Benih merupakan tahap menentukan dalam seluruh siklus pertanian.Benih yangbaik biasanya mempunyai ciri-ciri yaitu mengkilat, permukaannya licin dan mempunyai daya kecambah yang baik. Tetapi benih yang bermutu belum tentu menunjukkan varietas yang unggul. Pemilihan bibit suatu tanaman harus bedasarkan pertimbangan kondisi lingkungan yang cocok atau media tumbuhnya Benih unggul adalah benih bermutu tinggi yang menjadi faktor penentu tinggi rendahnya produksi tanaman. Benih yang berkecambah dan berkembang menjadi tanaman kecil atau bagian tanaman yang diperbanyak secara vegetatif disebut bibit. Benih sebagai komoditi Perdagangan dan sebagai unsur baku mempunyai peranan penting dalam sarana produksi pertanian benih dapat ditanam secara peletakan pada suatu lubang tanam atau langsung ditanam ataupun secara disebar. (Sostro Sudirja, 1979).
Baca lebih lanjut

174 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects