Top PDF Pengetahuan gizi seimbang calon pengantin di beberapa kantor urusan agama (KUA) Jakarta Barat

Pengetahuan gizi seimbang calon pengantin di beberapa kantor urusan agama (KUA) Jakarta Barat

Pengetahuan gizi seimbang calon pengantin di beberapa kantor urusan agama (KUA) Jakarta Barat

Calon pengantin (catin) perlu memahami Pedoman Gizi Seimbang. Pengaruh kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), tidak hanya terhadap perkembangan fisik, tetapi juga terhadap perkembangan kognitif yang nantinya berpengaruh terhadap kecerdasan dan ketangkasan berpikir serta produktivitas kerja. Kekurangan gizi pada masa ini juga dikaitkan dengan risiko terjadinya penyakit kronis pada usia dewasa, yaitu penyakit jantung, hipertensi, stroke dan diabetes. Agar tidak terjadi masalah kurang gizi pada 1000 HPK, maka calon pengantin perlu menerapkan pedoman gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Tujun dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pengetahuan gizi seimbang pada calon pengantin berdasarkan status sosial yang berbeda. Penelitian dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kebon Jeruk dan Palmerah, Jakarta Barat pada bulan Agustus-Oktober 2018 dengan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 56 calon pengantin laki-laki dan 56 calon pengantin wanita. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar calon pengantin memiliki pengetahuan gizi seimbang yang kurang dengan skor rata-rata 47.589±13.882 pada catin laki-laki dan 48.482±14.614 pada catin wanita. Hasil uji t test independen menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan gizi catin berdasarkan tingkat pendidikan dan pendapatan (p ≤ 0.05). Namun tidak terdapat perbedaan pengetahuan gizi catin berdasarkan jenis kelamin (p > 0.05). Terdapat perbedaan pengetahuan mengenai gizi seimbang berdasarkan tingkat pendidikan dan pendapatan pada calon pengantin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kebon Jeruk dan Palmerah, Jakarta Barat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAB III. KURSUS CALON PENGANTIN A. Gambaran Umum Kantor Urusan Agama. 1. Profil Surabaya Barat KUA Kecamatan Benowo

BAB III. KURSUS CALON PENGANTIN A. Gambaran Umum Kantor Urusan Agama. 1. Profil Surabaya Barat KUA Kecamatan Benowo

Sehingga Pemerintah Kementerian Agama mengeluarkan peraturan untuk mengadakan Kursus Calon Pengantin. Pasangan Calon Pengantin sebelum ke jenjang pernikahan mengikuti Kursus Calon Pengantin dengan materi dasar pengetahuan dan ketrampilan seputar kehidupan berumah tangga. KUA sebagai penyelenggara memasukkan Kursus Calon Pengantin sebagai salah satu syarat prosedur pendaftaran pernikahan. Hanya saja semua KUA Surabaya tidak mendapatkan anggaran dari DIPA, yang mana anggaran DIPA ini jadikan satu di Kementerian Agama. Maka Kursus Calon Pengantin juga dilaksanakan di Kementerian Agama satu tahun sekali, terkadang juga Kementerian Agama membatasi peserta Calon Pengantin untuk dikirim ke Kementerian mengingat keterbatasan dana tersebut.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN A. Penegasan Judul - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

1 BAB I PENDAHULUAN A. Penegasan Judul - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

Masih dalam peraturan tersebut diatas, fungsi yang ketiga dari KUA terutama dalam hal pelaksanaan pencatatan nikah, sesuai peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, nomor d j. 11/491 tahun 2009 tentang kursus calon pengantin Bab 1 pasal 1 ayat 2 dan 3 tentang Kursus Calon Pengantin yang selanjutnya disebut dengan Suscatin adalah pemberian bekal pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam waktu singkat kepada catin tentang kehidupan rumah tangga/keluarga, dan Keluarga sakinah adalah keluarga yang didasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara serasi dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara internal keluarga dan lingkungannya, mampu memahami, mengamalkan dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlaqul karimah.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB IV PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

BAB IV PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

Tujuan Suscatin yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam, menunjukkan bahwa KUA Sukarame tidak terlibat dalam penetapan tujuan. Penetapan tujuan tersebut bermakna tujuan ditetapkan dengan sistem sentralisasi, artinya KUA Sukarame hanya melaksanakan tujuan yang ditetapkan oleh Kemenag RI. Padahal secara teori penetapan tujuan dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh petugas Suscatin, BP.4, P3N, Penyuluh agama dan semua pemangku kepentingan. Dengan demikian tujuan yang dibuat Dirjen Bimas Islam belum memenuhi keinginan dan kebutuhan Kantor Urusan Agama Sukarame.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

SISTEM INFORMASI KANTOR URUSAN AGAMA KUA

SISTEM INFORMASI KANTOR URUSAN AGAMA KUA

Cerai menurut istilah syariat Islam ialah melepaskan atau membatalkan ikatan pernikahan dengan lafadz tertentu yang mengandung arti menceraikan. Talak merupakan jalan keluar terakhir dalam suatu ikatan pernikahan antara suami isteri jika mereka tidak terdapat lagi kecocokan dalam membina rumah tangga. Cerai dapat dilakukan di Pengadilan Agama setempat.

10 Baca lebih lajut

BAB III KUA SUKARAME BANDAR LAMPUNG - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

BAB III KUA SUKARAME BANDAR LAMPUNG - PERENCANAAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN KURSUS CALON PENGANTIN (SUSCATIN) DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN SUKARAME BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

Bukan hanya isteri saja yang ingin menjadi baik, namun seorang suamipun ingin menjadi suami yang baik bagi keluarganya dalam membina rumah tangga. Menjadi suami yang baik adalah sebagai berikut: 1) Memimpin rumah tangga menururt petunjuk Allah dan RasulNya, 2) Membina anak-anak dan isteri menjadi insan yang beribadah, 3) Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya, 4) Menganggap isteri itu yang paling akrab, 5) Menuntujukan kasih sayang dengan meringankan beban isteri sekalipun menolong urusan dapur, 6) Berlaku jujur, jangan kejam, dan sewenang-wenang , jangan pula bersikap memperbudak isteri, 7) Jangan berlaku dan berbuat serong, jangan berjudi jangan pula mabuk-mabukkan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYULUHAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA VIDEO, POSTER DAN PERMAINAN KWARTET GIZI TERHADAP PENGETAHUAN  Pengaruh Penyuluhan Gizi Seimbang Dengan Media Video, Poster Dan Permainan Kwartet Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi Dan Status Gizi Siswa Di Sekola

PENGARUH PENYULUHAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA VIDEO, POSTER DAN PERMAINAN KWARTET GIZI TERHADAP PENGETAHUAN Pengaruh Penyuluhan Gizi Seimbang Dengan Media Video, Poster Dan Permainan Kwartet Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi Dan Status Gizi Siswa Di Sekola

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Penyuluhan Gizi Seimbang dengan Media Video, Poster dan Permainan Kwartet Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi dan Status Gizi Siswa di Sekolah Dasar Negeri Karangasem III Kota Surakarta” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh ijasah S1 Gizi.

18 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN GIZI DENGAN METODE DONGENG TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG GIZI SEIMBANG  EFEKTIVITAS PENDIDIKAN GIZI DENGAN METODE DONGENG TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG GIZI SEIMBANG DI SDN 3 MAKAMHAJI KARTASURA.

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN GIZI DENGAN METODE DONGENG TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG GIZI SEIMBANG EFEKTIVITAS PENDIDIKAN GIZI DENGAN METODE DONGENG TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG GIZI SEIMBANG DI SDN 3 MAKAMHAJI KARTASURA.

a. Guru hendaknya selalu berusaha mengajar dengan metode yang bervariasi sehingga membuat siswa lebih nyaman dan tertarik untuk memperhatikan. b. Guru diharapkan lebih meningkatkan lagi pengenalan anak terhadap pengetahuan tentang pedoman umum gizi seimbang saat ini, yang sudah berubah menjadi 10 pesan gizi seimbang. Selain itu, diharapkan untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

14 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYULUHAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA VIDEO, POSTER DAN PERMAINAN KWARTET GIZI TERHADAP PENGETAHUAN  Pengaruh Penyuluhan Gizi Seimbang Dengan Media Video, Poster Dan Permainan Kwartet Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi Dan Status Gizi Siswa Di Sekola

PENGARUH PENYULUHAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA VIDEO, POSTER DAN PERMAINAN KWARTET GIZI TERHADAP PENGETAHUAN Pengaruh Penyuluhan Gizi Seimbang Dengan Media Video, Poster Dan Permainan Kwartet Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi Dan Status Gizi Siswa Di Sekola

Anak sekolah dasar merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap ketidakcukupan gizi, sehingga anak sekolah harus dipantau agar ketidakcukupan gizi bisa dihindari (Sediaoetama, 2000). Lebih dari sepertiga (36.1%) anak usia sekolah di Indonesia menderita Gizi kurang (LIPI, 2004). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013, menunjukan bahwa secara nasional prevalensi kurus pada anak umur 5-12 tahun adalah 11,2 persen, terdiri dari 4 persen sangat kurus dan 7,2 persen kurus. Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang memiliki prevalensi sangat kurus yang tergolong tinggi secara nasional yaitu sebesar 5 persen. Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan september 2014 terdapat 3 sekolah dasar (SD) masuk dalam persentase tertinggi sebagai anak gizi kurang dari 26 sekolah dasar yang ada di wilayah UPT Puskesmas Pajang Surakarta, yaitu SD Sayangan (15,38%), SD Negeri Kabangan (25%) dan SD Negeri Karangasem III (28,13%). SD Negeri Karangasem III berada diposisi pertama sebagai sekolah yang memiliki presentase tertinggi anak gizi kurang.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Gambaran Persepsi Petugas Puskesmas Dan Petugas Kantor Urusan Agama (Kua) Dalam Pelaksanaan Program Imunisasi Tetanus Toxoid (Tt) Pada Calon Pengantin Wanita Di Kota Tangerang Selatan Tahun 2011

Gambaran Persepsi Petugas Puskesmas Dan Petugas Kantor Urusan Agama (Kua) Dalam Pelaksanaan Program Imunisasi Tetanus Toxoid (Tt) Pada Calon Pengantin Wanita Di Kota Tangerang Selatan Tahun 2011

Para petugas kesehatan dan petugas KUA umumnya mengetahui tentang pengertian, manfaat, sasaran dan jadwal pelaksanaan program imunisasi TT bagi calon pengantin wanita. Sedangkan menurut para calon pengantin manfaat dari program ini belum mengetahui dengan jelas. Hal tersebut membuktikan belum efektifnya penyampaian informasi yang dilakukan oleh para petugas. Petugas kesehatan (petugas puskesmas) sudah melaksanakan pemberian imunisasi TT, hanya saja sosialisasi program ini masih kurang efektif dikarenakan media sosialisasi yang kurang dimanfaatkan dan waktu untuk penyuluhan saat penataran calon pengantin di KUA yang relatif singkat sehingga informasi yang diberikan masih kurang efektif tersampaikan. Hambatan dalam program ini lebih banyak berasal dari diri calon pengantin diantaranya karena kurangnya pengetahuan, takut untuk disuntik dan masih adanya issue negatif tentang imunisasi TT bagi calon pengantin.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERANAN PENYULUH AGAMA DALAM MEMBERIKAN BIMBINGAN TERHADAP CALON MEMPELAI DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR

PERANAN PENYULUH AGAMA DALAM MEMBERIKAN BIMBINGAN TERHADAP CALON MEMPELAI DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR

2. Upaya penyuluh agama Islam dalam memberikan bimbingan terhadap calon mempelai di Kantor Urusan Agama Kecamatan Tamalate, merupakan peranan agama yang menjadi sangat penting dalam ajaran agama, yang tidak cukup hanya diketahui dan dipahami akan tetapi harus dapat dihayati dan diamalkan oleh setiap calon pengantin agar terciptanya kebahagiaan hidup dalam keluarga. Dengan demikian dapat mencerminkan suatu kehidupan yang penuh dengan ketentraman, keamanan dan kedamaian yang dijiwai oleh ajaran dan tuntunan agama. Upaya pemberian bantuan kepada para calon pasangan suami-istri, agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri dengan norma agama, serta berperan aktif dalam memcapai kehidupan keluarga bahagia di Dunia dan di Akhirat.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Pencatatan pernikahan beda agama di Kantor Urusan Agama (KUA) (studi kasus kantor urusan Agama (KUA) Kec. Cilandak)

Pencatatan pernikahan beda agama di Kantor Urusan Agama (KUA) (studi kasus kantor urusan Agama (KUA) Kec. Cilandak)

Mengenai Kitab-kitab rujukan bagi Peradilan Agama pada dasarnya adalah sangat beragam, akan tetapi pada tahun 1958 telah dikeluarkan Surat Edaran Biro Peradilan Agama No. B/1/735 tanggal 18 Februari 1958 yang merupakan tindak lanjut dari peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama atau Mahkamah Syari’âh di luar Jawa dan Madura. Dalam huruf B Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa untuk mendapatkan kesatuan hukum yang memeriksa dan memutus perkara maka para Hakim Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah dianjurkan agar mempergunakan sebagai pedoman kitab-kitab seperti Al Bayjuri, Fathul Muîn dengan syarahnya, Syarqawî ’alâ al Tahrirî, Qulyûbî atau Muhallî, Fathul Wahhâb dengan syarahnya, Tuhfah, Targhîb al Musytaq, Qawânîn al Syar’iyah Lissayyid Usman bin Yahya, Qawânîn al Syar’iyah Lisayyid Sadaqah Dakhlan, Syamsuri lil Farâid, Bughyah al Mustarsyidîn, Al Fiqh ‘alâ Madzâhib al ’Arba’ah, Mughni al Muhtâj. Materi tersebut kelihatannya memang masih belum memadai, sehingga sering kali dikeluarkan instruksi maupun surat edaran untuk menyeragamkan penyelesaian perkara kasus demi kasus. 7
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posbindu dalam Pengukuran Tinggi Badan Prediksi Lansia, Penyuluhan Gizi Seimbang dan Hipertensi Studi di Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat

Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posbindu dalam Pengukuran Tinggi Badan Prediksi Lansia, Penyuluhan Gizi Seimbang dan Hipertensi Studi di Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat

merupakan teknologi terbaru di Indonesia dalam menilai status gizi lansia yang sudah tidak dapat diukur TBnya secara tegak. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi dan uji coba aplikasi teknologi ini di masyarakat melalui kegiatan pelatihan keterampilan penggunaannya dan pendampingan teknis penerapannya di lapangan. Untuk langkah awal sosialisasi telah dilakukan di Kecamatan Grogol Petamburan mewakili wilayah Jakarta Barat dan selanjutnya akan diikuti oleh 4 wilayah lain di Kota Jakarta. Kecamatan ini dipilih sebagai lokasi pertama untuk kegiatan pengabdian masyarakat ini karena memiliki jumlah lansia cukup besar yaitu 36.365 orang dan 21.620 jiwa lansia binaan. Sementara cakupan pelayanan lansia di tempat ini menempati urutan terendah (29%) dibandingkan 7 kecamatan lainnya. 6 Padahal standard pelayanan minimal (SPM) adalah 55% sehingga perlu dilakukan upaya peningkatan pelayanan optimal lansia. Salah satunya melalui peningkatan keterampilan dan pengetahuan petugas puskesmas dan kader posyandu lansia dalam melaksanakan program lansia yang salah satu item kegiatannya adalah me- lakukan penilaian status gizi (PSG) lansia. Kecamatan ini memiliki beberapa masalah gizi lansia seperti gizi kurang (5%), gizi lebih (6%), anemia (0,3%), hipertensi dan diabetes. 7
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Dengan Indek Masa Tubuh Pada Mahasiswa

Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Dengan Indek Masa Tubuh Pada Mahasiswa

Gizi seimbang merupakan susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan. Indek masa tubuh merupakan salah satu metode pengukuran status gizi dengan antropometri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi seimbang dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) pada Mahasiswa Semester II. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 59 orang. Hasil penilitian menunjukkan 58,4% responden berpengetahuan baik dan 74,3% dengan Indek Masa Tubuh (IMT) normal. Hasil uji statistik Chi Square, menunjukan nilai p 0.189, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang gizi seimbang dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) pada mahasiswa sememester II di Akademi Kebidanan Panca Bhakti Pontianak tahun 2017, sehingga didapatkan juga bahwa mahasiswa yang tinggal di asrama maupun di luar asrama tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan dan Indek Masa Tubuh (IMT). Ada pun saran bagi mahasiswa yang tinggal di asrama diharapkan untuk tetap memperhatikan pola makan serta kandungan gizi dalam makanannya dan bagi mahasiswa di luar asrama untuk lebih mengoptimalkan asupan makanan serta pemilihan bahan makanan dalam mengolah makanannya dan gaya hidup baik untuk menuju status gizi normal yang lebih optimal.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TINGKAT PENGETAHUAN ATLET TINJU PERTINA MEDAN TENTANG GIZI SEIMBANG.

TINGKAT PENGETAHUAN ATLET TINJU PERTINA MEDAN TENTANG GIZI SEIMBANG.

Dari hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan mengenai tingkat pengetahuan atlet tinju Pertina Medan tentang gizi seimbang, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan atlet tinju Pertina Medan tentang gizi seimbang adalah 22,92% dengan kategori “Sangat Kurang”.

15 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG  Hubungan Asupan Zat Gizi Makro Dan Pengetahuan Gizi Seimbang Dengan Status Gizi Siswa-Siswi Di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG Hubungan Asupan Zat Gizi Makro Dan Pengetahuan Gizi Seimbang Dengan Status Gizi Siswa-Siswi Di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.

Metode : Penelitian ini dilakukan dengan metode survey dan desain cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah remaja yang berumur 14-17 tahun sebanyak 139 siswa. Data yang diteliti adalah jumlah persentase asupan zat gizi yang dibandingkan dengan AKG, data pengetahuan gizi seimbang dan status gizi yang dihitung dengan menggunakan rumus IMT. Data diperoleh dari metode observasi, recall 3x24 jam, kuesioner dan pengukuran antropometri. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan korelasi Rank Spearman.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

RPS PENGANTIN BARAT RPS PENGANTIN BARAT

RPS PENGANTIN BARAT RPS PENGANTIN BARAT

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini mengkaji tentang tata rias pengantin barat meliputi : sejarah pengantin gaun panjang, perkembangan pengantin barat dari masa ke masa, perkembangan pengantin barat di Indonsia, dan akulturasi budaya yang mempengaruhinya, upacara pengantin barat, busana pengantin, hand bouque, slayer, rias wajah pengantin, rias rambut pengantin dan perhiasan atau asesoris pengantin barat. Melalui kegiatan praktik kerja mahasiswa akan belajar merias pengantin barat dengan kearifan lokal budaya Indonesia, dengan berbagai karakteristiknya sehingga kelak dapat menjadi seorang perias pengantin barat yang handal, cekatan, dan memiliki selera estetika yang tinggi, serta memilki kepribadian yang baik dan luwes sebagai seorang perias pengantin barat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS KOMIK KONSELING GIZI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KEBIASAAN PEMENUHAN GIZI SEIMBANG PADA REMAJA PUTRI.

EFEKTIVITAS KOMIK KONSELING GIZI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KEBIASAAN PEMENUHAN GIZI SEIMBANG PADA REMAJA PUTRI.

Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui efektivitas komik konseling gizi terhadap pengetahuan gizi seimbang remaja putri. (2) mengetahui efektivitas komik konseling gizi terhadap kebiasaan pemenuhan gizi seimbang remaja putri.

1 Baca lebih lajut

Peningkatan Pengetahuan Calon Pengantin Melalui Konseling ASI Eksklusif di Aceh Besar

Peningkatan Pengetahuan Calon Pengantin Melalui Konseling ASI Eksklusif di Aceh Besar

Calon pengantin wanita, setelah menikah akan mengikuti proses menyusui dan pemberian ASI, dan diharapkan berdampak positif bagi bayi nantinya. Aceh dikenal sebagai provinsi yang kental akan tradisi dan budaya, dan sudah umumnya akad pernikahan dilakukan pada tempat tinggal calon pengantin perempuan. Pengetahuan calon pengantin tentang ASI eksklusif baik sebelum diberikan konseling maupun setelahnya dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil penelitian (Tabel 2), tergambarkan bahwa sebelum dilakukan konseling diketahui rata-rata pengetahuan calon pengantin tentang ASI eksklusif yaitu 25,7 dengan deviasi 4,86 selain itu terlihat juga bahwa paling rendah skor pengetahuan 16 dan paling tinggi yaitu 34. Selanjutnya setelah dilakukan konseling menggunakan media leaflet ternyata terjadi peningkatan rerata pegetahuan yaitu 31,9 dengan deviasi 4,13. Juga terjadi perubahan dengan skor terendah 20 dan tertinggi skor pengetahuan calon pengantin yaitu 40. Berdasarkan tingkatannya, jika sebelum diberikan konseling tentang ASI eksklusif, pengetahuan calon pengantin tentang ASI eksklusif di atas rerata hanya sebesar 53,3%, selanjutnya setelah diberikan konseling maka pengetahuan calon pengantin tentang ASI eksklusif lebih meningkat menjadi sebesar 60,0%. Secara deskriptif, hal ini berarti paling tidak konseling yang diberikan dapat merubah pemahaman calon pengantin tentang ASI eksklusif kearah yang lebih baik. Peningkatan pengetahuan umumnya pada calon pengantin yang berpendidikan SMA serta berusia antara 19-25 tahun.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Edukasi Bagi Calon Pengantin Tentang Anemia Gizi dan Kurang Energi Kronik di Kota Parepare

Edukasi Bagi Calon Pengantin Tentang Anemia Gizi dan Kurang Energi Kronik di Kota Parepare

Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi tentang pencegahan anemia gizi dan KEK pada ibu hamil di kota Parepare. Proses kegiatan ini meliputi; 1). Sosialisasi dan bina suasana, 2). Pelatihan komunikator lokal, dan 3). Edukasi tentang pencegahan ane- mia gizi dan KEK pada ibu hamil yang dilakukan oleh kader posyandu dan atau tokoh masyarakat kepada calon pengantin dalam acara Mappacci. Kegiatan ini menghasilkan; 1). Komitmen dari kepala KUA dari 4 kecamatan, kader posyandu, bidang gizi dan promosi kesehatan dinkes kota Parepare untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, 2). Terlatihnya 10 orang komunikator lokal yang terdiri dari unsur kader posyandu dan tokoh masyarakat di kecamatan Bacukiki Barat, dan 3). Proses edukasi oleh komu- nikator lokal kepada calon pengantin dalam acara Mappacci. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian ini, diharapkan komu- nikator lokal akan terus memberikan informasi yang berkelanjutan kepada calon pengantin pada acara Mappacci di kota Parepare yang dilengkapi dengan booklet saku edukasi. Pihak KUA dan Dinas Kesehatan kota Parepare agar dapat menyebar- luaskan hasil kegiatan ini sehingga seluruh kecamatan yang ada di kota Parepare terpapar tentang pencegahan anemia gizi dan KEK pada ibu hamil yang telah dimulai di kecamatan Bacukiki Barat.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects