Top PDF STUDI PENGGUNAAN AMLODIPIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN AMLODIPIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN AMLODIPIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

Syukur Alhamdulillah dan terimakasih penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ― STUDI PENGGUNAAN AMLODIPIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo) ‖ untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.

27 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA)

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA)

Bisoprolol merupakan kardioselektif antagonis adrenergik-β1. Aktivitas reseptor-β1 yang terletak di jantung tersebut apabila dengan epinefrin akan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah sehingga menyebabkan jantung mengkonsumsi lebih banyak oksigen. Mekanisme kerja bisoprolol dengan penurunan curah jantung, penghambatan pelepasan renin oleh ginjal, dan berkurangnya aliran tonis simpatik dari pusat vasomotor di otak. Pemberian bisoprolol oral dengan dosis rendah pada pasien dengan NSTEMI dalam waktu 4 jam pemberian dapat melindungi dan mengurangi Major Adverse Cardiovascular
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan mengambil data Rekam Medik Kesehatan (RMK) pasien IMA periode Januari 2013-Desember 2013 Hasil dan Kesimpulan: Dari 30 pasien IMA yang mendapatkan terapi bisoprolol tunggal adalah sebanyak 7% dan bisoprolol yang dikombinasi dengan antihipertensi lain sebanyak 93%. Bisoprolol digunakan secara peroral dengan frekuensi penggunaan satu kali sehari. Sedangkan dosis oral bisoprolol yang digunakan adalah dosis titrasi 1,25mg-5mg dengan frekuensi satu kali sehari sesuai dengan kondisi hemodinamika pasien yang dapat dimonitoring pada tekanan darah dan heart rate pasien
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ASPIRIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ASPIRIN PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Penelitian pada pasien IMA dilakukan secara deskriptif dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medik kesehatan (RMK). Kriteria inklusi meliputi pasien dengan diagnosa IMA yang memperoleh terapi aspirin di Instalasi Rawat Inap RSUD Sidoarjo pada periode 1 Januari 2016 sampai 31 Juni 2016. Hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh sebanyak 62 data RMK, dimana terdapat 47 pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi dan 15 pasien yang tidak mendapatkan terapi aspirin. Diperoleh data demografi pasien berdasarkan jenis kelamin yaitu laki- laki sebanyak 37 pasien (79%) dan perempuan sebanyak 10 pasien (21%). Kemudian data demografi berdasarkan usia, diperoleh kelompok usia terbanyak yang mengalami IMA adalah pada rentang usia 51 – 60 tahun (47%). Selain itu, faktor risiko IMA meliputi diabetes mellitus sebanyak 28 pasien (38%), hipertensi sebanyak 12 pasien (17%) dan merokok sebanyak 5 pasien (7%). Klasifikasi kelas pasien IMA yang terbanyak adalah STEMI sebanyak 45 pasien (96%) dan NSTEMI sebanyak 2 pasien (4%).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN KAPTOPRIL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN KAPTOPRIL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Ventrikel kiri akan mengalami serangkaian perubahan bentuk, ukuran, dan ketebalan baik didaerah infark atau non infark setelah terjadinya IMA. Proses ini disebut sebagai remodeling ventrikel dan mengawali perkembangan gagal jantung kongestif yang terbukti secara klinis dalam beberapa bulan atau tahun setelah infark. Kriteria diagnosis IMA tergantung pada hasil pemeriksaaan yang signifikan setidaknnya dua sampai tiga pemeriksaan yaitu berupa gejala dan riwayat, perubahan EKG, dan perubahan serum cardiac marker yang progresif.Diagnosis cepat yaitu mengidentifikasi pasien yang datang dengan riwayat nyeri dada yang parah berlangsung selama ±20 menit, nyeri menjalar ke leher, rahang bawah, atau lengan kiri. Beberapa pasien juga menunjukkan tanda- tanda fisik yaitu aktivasi sistem saraf otonom (pucat, berkeringat) dan hipotensi.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Antikoagulan direkomendasikan diberikan pada semua pasien STEMI, terlepas dari strategi pengobatan awal, selain antiplatelet. Dimana diantaranya yang termasuk dalam golongan ini yang dipilih seperti UFH, enoxaparin, fondaparinux dan bivalirudin. Jika strategi konservatif awal direncanakan (ada angiografi koroner atau revaskularisasi), dianjurkan enoxaparin, UFH, atau fondaparinux dosis rendah. Terapi dilanjutkan selama 48 jam untuk UFH hingga pasien dipulangkan dari rumah sakit (atau 8 hari) begitu juga untuk enoxaparin atau fondaparinux dan hingga akhir PCI atau prosedur angiogarfi (atau hingga 72 jam setelah PCI) untuk bivalirudin. Dosis UFH adalah 60 Unit/kg dengan IV bolus (maksimum 4000 unit), diikuti dengan infus IV kontinyu 12 Unit/kg/jam (maksimum 1000 U/jam). Titrasi dosis untuk mempertahankan aPTT antara 1,5 dan 2 kali kontrol. Dosis Enoxaparin 1 mg/kg secara subkutan setiap 12 jam. Bivalirudin diberikan 0,1 mg/kg loading dose, diikuti 0,25 mg/kg per jam hanya pada pasien yang dipantau dengan strategi awal invasif. Fondafurinux diberikan sehari sekali secara subkutan dengna dosis 2,5 mg, dilanjutkan selama rawat inap atau sampai pemberian pemberian PCI (Zafari, 2017; Dipiro et al., 2015).
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

MANAJEMEN KEGAWATDARURATAN INFARK MIOKARD AKUT

MANAJEMEN KEGAWATDARURATAN INFARK MIOKARD AKUT

dilakukan karena hal tersebut sebagai pertolongan pertama. Kematian penderita Infark Miokard Akut atau IMA STEMI sebagian besar diakibatkan adanya fibrilasi ventrikel mendadak. Tatalaksana di rumah sakit dilakukan di Instalasi Gawat Darurat dan juga ICCU. Tujuan tatalaksana di Instalasi Gawat Darurat adalah untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dada, mengidentifikasi cepat penderita Infark Miokard Akut atau IMA yang merupakan kandidat terapi reperfusi segera, triase untuk menentukan ruangan yang tepat di rumah sakit, dan juga menghindari pasien STEMI untuk pulang cepat. Jika penderita Infark Miokard Akut atau IMA sedang berada di ruang ICCU maka yang perlu diperhatikan diantaranya adalah pasien harus istirahat pada 12 jam pertama. Pasien harus puasa atau hanya minum cair dengan mulut dalam 4-12 jam karena beresiko untuk muntah dan aspirasi segera setelah infark miokard, pasien memerlukan sedasi selama perawatan untuk mempertahankan peride inaktivitas dengan penenang dan juga dianjurkan penggunaan kursi komod di samping tempat tidur, diet tinggi serat dan penggunaan pencahar ringan secara rutin untuk pasien yang mengalami konstipasi yang diakibatkan oleh istirahat di tempat tidur dan efek penggunaan narkotik untuk menghilangkan rasa nyeri (Farissa dkk,2012).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ASETOSAL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ASETOSAL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Manifestasi klinik yang biasa terjadi pada IMA meliputi nyeri dada substernal disertai dipsnea, diaphoresis dan nausea. Rasa nyeri digambarkan dengan perasaan seperti terhimpit, tertekan, sesak, terjepit atau perasaan yang berat. Perasaan bisa menjalar dengan rasa nyeri pada salah satu atau kedua bahu dan tangan atau ke leher, rahang atau area interskapular. Rasa nyeri yang di derita pasien terkadang juga dapat berupa rasa nyeri yang tidak khas atau rasa nyerinya pada daerah yang tidak khas seperti pada lambung atau belakang leher. Hanya 20 % pasien yang menggambarkan rasa nyerinya seperti sesak, terhimpit atau terjepit (Nuovo, 2005).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT (ISDN) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT (ISDN) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

11 sebagai penyebab kematian, dan pada tahun 1986 berubah menjadi urutan ke- 3. Persentase kematian akibat penyakit kardiovaskular di tahun 1998 adalah 24,4% dan diperkirakan 30% dari semua penyebab kematian di seluruh dunia adalah penyakit jantung koroner, khususnya IMA (Sulastomo, 2010). Laporan Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2010 menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah sebanyak 96.957 kasus dan sebanyak 1.847 (2%) kasus merupakan kasus infark miokard akut. Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian, dan selama periode tahun 2005 sampai tahun 2010 telah terjadi kematian sebanyak 2.941 kasus dan sebanyak 414 kasus (14%) diantaranya disebabkan oleh infark miokard akut (Dinkes Kota Semarang, 2010). Kasus penyakit jantung di RSUD ’45 Kuningan pada tahun 2014 dengan CFR (Case Fatality Rate) tertinggi terjadi pada penyakit Infark Miokard Akut dengan presentasi CFR sebanyak (15 %) dari 132 kasus dan terdapat 20 kasus kematian (RSUD Kabupaten Kuningan, 2014).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN KLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN KLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

vii ABSTRAK Pola penggunaan klopidogrel sebagai antiplatelet pada pasien infark miokard akut merupakan terapi lanjutan yang bertujuan untuk revaskularisasi koroner atau melancarkan aliran darah arteri koroner yang tersumbat. Berdasarkan studi CAPRIE, CURE, dan COMMIT menunjukkan pemberian klopidogrel dengan loading dose 300 mg serta dosis pemeliharaan 75 mg/hari dalam jangka panjang lebih efektif dalam menurunkan kejadian stroke iskemik, infark miokard dan kematian akibat penyakit vaskular jika dibandingkan dengan penggunaan aspirin. Dengan dilaksanakannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisa menganalisa pola terapi obat-obat pada pasien IMA, khususnya terapi klopidogrel terkait dengan kesesuaian dosis, rute, interaksi, dan efek samping terhadap outcome terapi pada pasien IMA.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT

(Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang)

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang)

Tujuan utama tatalaksana IMA adalah diagnose cepat, menghilangkan nyeri dada , penilaian dan implementasi strategi reperfusi yang mungkin dilakukan, pemberian antitrombotik dan terapi antiplatelet, pemberian obat penunjang dan tatalaksana komplikasi IMA. Tatalaksana umum yang harus diberikan adalah oksigen yang dapat diberikan selama 6 jam pertama. Kemudian terapi farmakologi yang diberikan pada pasien yang didiagnosa IMA yaitu antitrombotik yang terdiri atas antiplatelet, fibrinolitik, antikoagulan, β-Bloker, nitrat, CCB (Calcium Chanel Blocker), statin dan ACE I(Angiotensin Converting Enzim Inhibitor) (Setiati, 2014).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Gambaran Homosistein pada Pasien Infark Miokard Akut di RSUP Dr. M. Djamil Padang

Gambaran Homosistein pada Pasien Infark Miokard Akut di RSUP Dr. M. Djamil Padang

Berbagai faktor risiko baru telah banyak diteliti, termasuk kadar homosistein total dalam darah. Hiperhomosisteinemia terbukti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara independen. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran homosistein pada pasien infark miokard akut di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap 24 orang pasien IMA yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi serta melakukan pemeriksaan darah di Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2016 hingga Agustus 2017. Pemeriksaan kadar homosistein dilakukan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dengan metode ELISA. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Subjek penelitian terdiri dari 17 orang laki-laki (70,8%) dan 7 orang perempuan (29,2%). Rerata umur subjek penelitian adalah 56,75(9,34) tahun. Faktor risiko tradisional tertinggi adalah merokok (41,7%). Rerata kadar homosistein subjek penelitian adalah 25,5(13) µmol/L. Kadar homosistein terbanyak pada pasien IMA adalah hiperhomosisteinemia ringan (54,2%). Kadar homosistein serum pasien IMA di atas batas nilai normal dengan yang terbanyak adalah hiperhomosisteinemia ringan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN KLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT di RSUD SIDOARJO

STUDI PENGGUNAAN KLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT di RSUD SIDOARJO

Infark miokard akut adalah penyakit jantung yang terjadi karena kematian jaringan otot jantung atau nekrosis yang di awali dengan iskemik. Infark miokard merupakan salah satu dari penyakit jantung koroner. Karena terjadinya obstruksi pada pembuluh darah yang disebabkan oleh plak aterosklerosis. Penyakit jantung koroner biasanya berhubungan dengan plak yang stabil maupun tidak stabil. Dimana plak yang tidak stabil ditandai dengan terjadinya peradangan pada pembuluh darah vaskuler dilokasi plak berada. Ditempat tersebut kemungkinan terjadi ruptur, pecahan atau hancurnya plak trombosis atau platelet yang dapat terakumulasi pada bagian plak yang aktif dan menghalangi aliran darah sehingga terjadi obstruksi yang menyebabkan angina tidak stabil. Pecahnya atau ruptur plak pada pembuluh darah biasanya menyebabkan iskemik yang berujung pada terjadinya infark miokard akut (Mendis et al., 2011).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT (ISDN) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RSUD SIDOARJO

STUDI PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT (ISDN) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RSUD SIDOARJO

iv KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul STUDI PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT (ISDN) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RSUD SIDOARJO untuk memenuhi satu persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.

23 Baca lebih lajut

SKRIPSI VENNA AMELIA STUDI PENGGUNAAN ISOSORBIDE DINITRAT PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RS DR. ETTY ASHARTO BATU

SKRIPSI VENNA AMELIA STUDI PENGGUNAAN ISOSORBIDE DINITRAT PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RS DR. ETTY ASHARTO BATU

Alhamdulillah, Puji Syukur yang teramat dalam saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Segala, hidayat dan taufiq-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudu[r]

24 Baca lebih lajut

SKRIPSI LAILIATUL MUNFARIDA STUDI PENGGUNAAN CLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RS DR. ETTY ASHARTO BATU PROGRAM STUDI FARMASI

SKRIPSI LAILIATUL MUNFARIDA STUDI PENGGUNAAN CLOPIDOGREL PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RS DR. ETTY ASHARTO BATU PROGRAM STUDI FARMASI

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan berkah, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “STUDI PENGG[r]

21 Baca lebih lajut

HUBUNGAN HELICOBACTER PYLORI DENGAN FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL KIRI PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT

HUBUNGAN HELICOBACTER PYLORI DENGAN FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL KIRI PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT

Semoga buku monograf ini dapat membantu dokter dan perawat dalam studi mereka. Tidak lupa, penulis sampaikan banyak terima kasih kepada tim yang terlibat aktif dalam pembuatan monograf ini. Kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan buku ini sangat diperlukan. Akhirnya penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya, terutama dapat memberi kontribusi bagi perkembangan dunia kedokteran.

8 Baca lebih lajut

Perbedaan Profil Lipid Pada Pasien Infark Miokard Akut Dan Penyakit Jantung Non Infark Miokard Akut

Perbedaan Profil Lipid Pada Pasien Infark Miokard Akut Dan Penyakit Jantung Non Infark Miokard Akut

Berdasarkan hasil analisis didapat bahwa tidak terdapat perbedaan nilai HDL rendah pada pasien infark miokard akut dan penyakit jantung non infark miokard akut dengan nilai p = 1,000; OR = 1,000 dan 95% CI = 0,399 – 2,506. Namun rerata HDL pada pasien IMA (35,53 mg/dL) dan bukan IMA (38.40 mg/dL) pada penelitian ini termasuk dalam kategori HDL rendah karena kurang dari 40 mg/dL. Shirafkan et al. 18 dan Nigam et al. 17 menunjukkan bahwa terjadi penurunan secara signifikan pada kolesterol HDL pasien infark miokard akut. Hasil antara pasien IMA dengan pasien bukan IMA yang hampir serupa ini dikarenakan karakter kasus dan kontrol sama-sama penyakit jantung. Kasus dan kontrol dengan karakter yang serupa tersebut kemungkinan mempunyai faktor perancu yang sama diantaranya penyakit penyerta yang mempengaruhi profil lipid dan kemungkinan pemberian obat anti dislipidemia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

INFARK MIOKARD AKUT | Karya Tulis Ilmiah INFARK MIOKARD AKUT

INFARK MIOKARD AKUT | Karya Tulis Ilmiah INFARK MIOKARD AKUT

Infark miokard merupakan salah satu diagnosa yang paling umum pada pasien yang dirawat di rumah sakit di negara- negara barat. Di Amerika Serikat, kurang lebih 1,5 juta infark miokard terjadi setiap tahunnya. Mortalitas karena infark akut kurang lebih 30 persen, dengan lebih separuh dari kematian terjadi sebelum pasien / penderita masuk rumah sakit. Meskipun harapan hidup sesudah perawatan di rumah sakit telah meningkat selama dua dekade terakhir, tambahan 5 ? 10 persen pasien yang selamat meninggal pada tahun pertama sesudah infark miokard dan jumlah infark miokard setiap tahun di Amerika Serikat sebagian besar tetap tidak berubah sejak awal tahun 1970-an. Resiko mortalitas berlebihan dan infark miokard non fatal rekuren menetap pada pasien yang sembuh. D. FAKTOR RISIKO
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

INFARK MIOKARD AKUT | Karya Tulis Ilmiah INFARK MIOKARD AKUT

INFARK MIOKARD AKUT | Karya Tulis Ilmiah INFARK MIOKARD AKUT

jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadp oksigen dan nutrien. (Diane C. Baughman dan Jo Ann C. Hockley, 2000) Suatu keadaan patofisiologi adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Braundwald ) B. ETIOLOGI Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh : ? Kelainan otot jantung Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup ateriosklerosis koroner, hiprtensi arterial, dan penyakit degeneratif atau inflamasi. ? Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpuikan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitaas menurun. ? Hipertensi sistemik atau pulmonal ( peningkatan afterload ) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mngakibatkan hipertrofi serabut otot jantung ? Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun. ? Penyakit jantung lain Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang ssecara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katup semiluner), ketidak mampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade, perikardium, perikarditif konstriktif, atau stenosis AV), peningkatan mendadak afteer load. ? Faktor sistemik Terdapat sejumlah besar faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects