Top PDF STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

(Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo) Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi yang ditandai dengan adanya demam dan nyeri bagian abdomen. Infeksi demam tifoid ditularkan melalui rute faecal oral. Infeksi demam tifoid dapat terjadi karena kurangnya akses air bersih dan lingkungan yang memadai sehingga menyebabkan terjadinya komplikasi dan menimbulkan kematian. Manifestasi klinis dari demam tifoid ditandai dengan demam, mual dan muntah dan infeksi. Penatalaksanaan terapi demam tifoid yaitu dengan tirah baring, terapi cairan, terapi simtomatik, terapi pencegahan dan terapi antibiotik.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFOTAXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFOTAXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

iv KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFOTAXIME PADA PASIEN DEMAM TIFOID (Penelitian Dilakukan di RSUD Sidoarjo) ” ini dapat diselesaikan dengan baik oleh penulis, untuk memenuhi persyaratan gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Ilmu Kesehatan, Progam Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Penggunaan Antibiotik untuk Pengobatan Demam Tifoid pada Pasien Anak

Studi Deskriptif Penggunaan Antibiotik untuk Pengobatan Demam Tifoid pada Pasien Anak

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi systemik akut yang muncul di negara-negara berkembang dengan tingkat sanitasi yang rendah. Menurut WHO, demam tifoid terjadi se- kitar 15 juta kasus/tahun di dunia dan Indonesia merupakan Negara dengan angka kejadian demam tifoid yang tinggi yaitu sekitar 900.000 kasus/tahun disertai 20.000 kematian/ta- hun. Mengetahui penggunaan obatan tibiotik dan mengetahui tingkat kerasionalan penggu- naan obatantibiotik pada demam tifoid pasien anak. Rancangan penelitian yang digunakan dengan metode deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dengan melihat rekam medis pasien anak yang didiagnosa demam tifoid. Hasil penelitian ini Penelitian terhadap karakteristik kerasionalan berdasarkan tepat pasien sebanyak 17 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 17 pasien (100%), tepat obat sebayak 15 pasien (88,2%), tepat dosis sebanyak 16 pasien (94,1%), tepat cara dan lama pemberian sebanyak 17 pasien (100%) dan waspada terhadap efek sebanyak 17 pasien (100%). Berdasarkan penelitian tentang Study deskriptif penggunaan antibiotik pada demam tifoid pada pasien anak secara keseluruhan hampir dinyatakan rasional dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Di Instalasi Rawat Inap Rsau Adi Soemarmo.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Di Instalasi Rawat Inap Rsau Adi Soemarmo.

iv KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT Maha Pengasih dan Maha penyayang, yang senantiasa memberikan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid Anak di Instalasi Rawat Inap RSAU Adi Soemarmo ”, sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) pada Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

12 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dewasa Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dewasa Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

Penatalaksanaan terapi demam tifoid adalah dengan diberikan antibiotik dan keberhasilan terapi demam tifoid tergantung pada ketepatan penggunaan antibiotik. Antibiotik untuk demam tifoid yang ideal harus tersedia dalam bentuk oral dan intravena untuk orang dewasa dan anak-anak, dapat menurunkan suhu tubuh hingga normal dan perbaikan klinis dalam 3-7 hari, hasil negatif pada kultur darah dan feses selama dan setelah pengobatan, mencegah kekambuhan setelah pengobatan dilakukan, dan meminimalkan efek samping yang ditimbulkan. Kloramfenikol dipilih sebagai obat pilihan untuk pengobatan demam tifoid sejak tahun 1948, namun prevalensi resistensi terhadap kloramfenikol pada tahun 2002-2004 di Asia Selatan 23% dan lebih dari 80% di Vietnam dan Indonesia (Butler, 2011).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dewasa Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dewasa Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Pada Tahun 2014.

“ Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dewasa Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Pada Tahun 2014” yang disusun untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karenanya penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

11 Baca lebih lajut

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Ciprofloxacin pada Penderita Demam tifoid

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Ciprofloxacin pada Penderita Demam tifoid

Penyakit demam tifoid (Typhoid fever) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Pengobatan terhadap penyakit demam tifoid terus berkembang. Antibiotik golongan fluoroquinolone (ciprofloxacin, ofloxacin, dan pefloxacin) merupakan terapi yang efektif untuk demam tifoid yang disebabkan isolate tidak resistensi terhadap fluoroquinolone dengan angka kesembuhan klinis sebesar 98%, waktu penurunan demam 4 hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui usia, jenis kelamin, dosis, lama pemberian, frekuensi pemberian dan interaksi obat lainnya. Penelitian ini adalah penelitian deskritif berupa studi penggunaan obat dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik di Instalasi Penyakit Dalam RSUD Kayuagung dan RSMH Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November – Desember 2014 dan dilakukan di Instalasi Rawat Inap Bagian Penyakit Dalam RSUD Kayuagung dan RSMH Palembang. Terdapat 7 pasien demam tifoid di RSMH Palembang dan 23 pasien di RSUD Kayuagung yang diterapi dengan ciprofloxacin. Usia 20–40 tahun merupakan kelompok usia dengan frekuensi tertinggi 19 orang (63,3%). Penderita laki-laki 15 orang (50%) dan perempuan 15 orang (50%). Dosis 500 mg adalah dosis terbanyak yang diberikan dengan frekuensi pemberian 2x sehari dan lama pemakaian selama 14 hari. Terdapat sebanyak 26 (86.6%) pemakaian bersifat antagonis. Hasil rekam medik yang diteliti telah tepat indikasi, dosis, dan frekuensi pemberian. Tetapi masih ada interaksi obat antara obat satu dengan yang lainnya, serta pemberian obat yang over prescribing.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK  PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP   Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Di RSI Muhammadiyah Kendal Tahun 2009 dan 2010 Menggunakan Metode ATC/DDD.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Di RSI Muhammadiyah Kendal Tahun 2009 dan 2010 Menggunakan Metode ATC/DDD.

Penyakit infeksi dan penggunaan antibiotik merupakan dua masalah yang banyak dihadapi oleh negara berkembang dan jumlah penderita masih menduduki peringkat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotik dan perbandingan penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid rawat inap di RSI Muhammadiyah Kendal tahun 2009 dan 2010 berdasarkan unit pengukuran ATC/DDD.

14 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD   KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr. R. SOETRASNO REMBANG TAHUN 2010.

KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr. R. SOETRASNO REMBANG TAHUN 2010.

Penggunaan antibiotik pada penyakit demam tifoid harus sesuai dengan standar terapi, karena penggunaan antibiotik yang kurang tepat dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan antibiotik pada penyakit demam tifoid di instalasi rawat inap RSUD dr. R. Soetrasno Rembang tahun 2010.

17 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RSAU ADI SOEMARMO  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Di Instalasi Rawat Inap Rsau Adi Soemarmo.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RSAU ADI SOEMARMO Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Di Instalasi Rawat Inap Rsau Adi Soemarmo.

Demam tifoid merupakan penyakit endemis yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang menginfeksi saluran pencernaan sehingga mengakibatkan peradangan pada bagian usus halus dan lumen usus. Di Indonesia, kasus demam tifoid paling banyak terjadi pada anak usia 3-19 tahun. Secara umum gejala klinis yang dirasakan diantaranya yaitu panas tinggi, mual, muntah, dan nyeri abdomen. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik yang diberikan kepada penderita demam tifoid anak di Instalasi Rawat Inap RSAU Adi Soemarmo sesuai dengan Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia (2009) dan Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (2014) dengan melihat ketepatan indikasi, ketepatan pasien, ketepatan obat, dan ketepatan dosis.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN  ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP   Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Kata kunci : Demam tifoid, Antibiotik, Anak, Evaluasi ABSTRACT Typhoid fever is still a disease that insidennya high numbers in developing countries such as Indonesia. The prevalence of typhoid fever is most widely found in the age group of the school at the age of 5 – 14 years. The use of antibiotic in children different from adults due to differences in organ function metabolize drugs but very little research that discusses the safety of drug use in children. The main objective of this research is to know the rationality usage of antibiotics which includes right indications, right patient, right drug, as well as right dose. Research conducted using this type of research is non-experimental descriptive retrospective basis with the analysis and retrieval of data by purposive sampling. Data taken at patients suffering from typhoid fever in installation of inpatient RSUD Dr. Sayidiman Magetan aged 0-15 years old. Samples researched as much as 44 cases from a total of 160 cases of medical record Data and analyzed according to the concept of right indication, right patient, right drug, and right dosage compared to SPM at the RSUD Dr. Sayidiman Magetan. The results of this research show some of the most used antibiotics is chloramphenicol, namely of 23 cases (52,27%), Cefotaxime by as much as 10 cases (sefiksim%) and 22,72, cefpirome, as well as the respective cefriaxone 1 case (2.27%). From the results of research for percentage values obtained by right indication of 97.72%, right drug 56,82% , right patient 27,27%, but not all cover right dose aspect.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP   Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

“Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014”. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat mencapai gelar S1 pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Keberhasilan dalam pembuatan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, doa dan dukungan dari semua pihak, maka dengan penuh kerendahan hati penulis menhaturkan terima kasih kepada :

11 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN  DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RS “X”   Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2011.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RS “X” Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2011.

Penelitian sebelumnya di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta tahun 2009 menunjukkan bahwa antibiotik yang paling sering digunakan dari 95 pasien demam tifoid adalah sefotaksim 49,47%. Penggunaan antibiotik yang sudah sesuai dengan standar terapi dari segi ketepatan indikasinya sebanyak 100%, tepat pasien 98,95%, tepat obat 96,84%, dan tepat dosis sebanyak 82,10% (Safitri, 2009). Penelitian lain di Instalasi Rawat Inap RSUD Pambalah Batung Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan tahun 2009, antibiotik yang banyak digunakan seftriakson 95% dan sefotaksim 8% dari 109 peresepan. Kesesuaian dengan standar terapi dari segi tepat indikasi sebanyak 100%, tepat obat 97,25%, tepat pasien 88% dan tepat dosis sebanyak 9,17%
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK  Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2010”, yang disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata I (SI) Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

18 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID  Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 31 Desember 2015.

EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 31 Desember 2015.

v KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT Maha Pengasih dan Maha penyayang, yang senantiasa memberikan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Evaluasi penggunaan dan efektifitas antibiotik pada pasien demam tifoid di instalasi rawat inap RSUD Sukoharjo pada periode 1 Oktober – 31 Desember 2015 ”, sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) pada Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penggunaan Antibiotik pada Terapi Demam Tifoid Anak di RSAB Harapan Kita

Penggunaan Antibiotik pada Terapi Demam Tifoid Anak di RSAB Harapan Kita

Komplikasi terjadi pada 7 dari 31 pasien demam tifoid pada penelitian kami, terdiri dari pneumonia 3 dari 31 pasien dan perdarahan saluran cerna 4 dari 31 pasien. Secara keseluruhan sekitar 10% – 15 % pasien demam tifoid akan mengalami infeksi yang berat. Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut adalah lama sakit sebelum terapi antibiotik, pilihan antibiotik, strain bakteri yang virulen, jumlah inokulasi, riwayat vaksinasi anti-tifus sebelumnya atau kondisi imunokompromais. Komplikasi yang tersering adalah perdarahan saluran cerna, perforasi intestinal dan tifoid ensefalopati. Perdarahan saluran cerna terjadi sekitar 10% – 20 % dari kasus tifoid, disebabkan oleh erosi dari Peyer’s patch dan mengenai pembuluh darah intestinal, dengan gejala klinis occult blood atau melena. Pada anak, lebih sering terjadi komplikasi pneumonia dibandingkan usia dewasa. 2
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP Dr. SOERADJI  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2011.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP Dr. SOERADJI Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2011.

tifoid di instalasi rawat inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2011…………………………………………………………...20 Tabel 3. Karakteristik pasien demam tifoid berdasarkan umur, jenis kelamin dan penyakit penyerta di instalasi rawat inap RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2011……………………………………...21 Tabel 4. Ketidaktepatan penggunaan obat pada pasien demam tifoid di instalasi

13 Baca lebih lajut

 EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP  Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 3

EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 3

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang menyerang usus halus dengan gejala demam selama satu minggu atau lebih yang disertai gangguan pada saluran pencernaan. Demam tifoid dapat diterapi menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional memberikan dampak efektif dari segi biaya, peningkatan efek klinis, meminimalkan toksisitas obat dan meminimalkan terjadinya resistensi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi serta menilai efektifitas penggunaan antibiotik yang diberikan kepada penderita demam tifoid di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo pada periode 1 Oktober – 31 Desember 2015. Penelitian ini dilakukan dengan metode noneksperimental dengan pengambilan data retrospektif dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai adanya ketepatan pemberian antibiotik pada pasien demam tifoid dengan melihat Clinical Pathways RSUD Sukoharjo (2015) untuk melihat ketepatan indikasi, ketepatan pasien, ketepatan obat, dan ketepatan dosis serta menilai efektifitas pemberian antibiotik. Hasil dari penelitian ini antibiotik yang digunakan Cefotaxime (50%), Ceftriaxone (15%), Cefazoline (10%), Ceftazidime, Ciprofloxacin dan Azithromicin masing-masing (2,5%) serta antibiotik kombinasi (12,5%). Tingkat ketepatan indikasi dan pasien adalah 100%, kesesuaian tepat obat 75%, serta kesesuaian tepat dosis 35%. Penilaian efektifitas penggunaan antibiotik didapatkan hasil 100%
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID   Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

iv KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT Maha Pengasih dan Maha penyayang, yang senantiasa memberikan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderit a Demam Tifoid Di RSUD Sukoharjo 2016” . Skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Cost Effectiveness Analysis Penggunaan Antibiotik Ampicillin dan Ceftriakson pada pasien demam tifoid di RSUD Kota Kediri

Cost Effectiveness Analysis Penggunaan Antibiotik Ampicillin dan Ceftriakson pada pasien demam tifoid di RSUD Kota Kediri

Tabel diatas yang menunjukkan nilai ICER dari perbandingan seftriakson dengan levofloxacin tablet. Dari nilai ICER tersebut menunjukkan bahwa ketika Seftriakson menginginkan untuk mendapatkan peningkatan efektivitas yang setara seperti Levofloxacin tablet, maka perlu menambahkan biaya sebesar 2.101.833 per peningkatan satu unit efektivitas. Nilai ICER yang dihasilkan dari perbandingan ini sesuai dengan rumus perhitungan ICER dalam Kemenkes, (2013) mengenai pedoman farmakoekonomi. Berdasarkan besaran nilai ICER yang dihasilkan, penambahan biaya yang harus dikeluarkan pengguna seftriakson agar didapatkan efektifitas yang setara dengan levofloxacin tablet sangatlah besar sehingga akan menambah beban biaya bagi pasien maupun penyelenggara jaminan. Oleh karena itu, secara perbandingan biaya-efektivitas, maka lebih disrankan menggunakan terapi antibiotik yang memiliki biaya yang lebih tinggi (selisih 100.888) namun memiliki
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...