Top PDF STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DENGAN HIPERTENSI (Penelitian di RSU Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DENGAN HIPERTENSI (Penelitian di RSU Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DENGAN HIPERTENSI (Penelitian di RSU Saiful Anwar Malang)

Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian observasional dengan rancangan penelitian yang bersifat deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif. Sampel penelitian adalah rekam medik dan kesehatan pasien GGK dengan hipertensi yang mendapatkan terapi antihipertensi periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011. Studi penggunaan antihipertensi pada penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis antihipertensi dan kombinasi antihipertensi, profil rute serta dosis antihipertensi pada pasien GGK dengan hipertensi yang sesuai dengan pedoman standar pengobatan GGK.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI INTRADILITIK PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI INTRADILITIK PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar ≥ 10 mmHg pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisis dikenal dengan istilah hipertensi intradialitik. Usia, riwayat hemodialisis, durasi hemodialisis, jumlah obat antihipertensi serta adanya jenis obat antihipertensi yang hilang secara intesif dan tidak intensif merupakan hal yang diindikasi sebagai faktor risiko penyebab terjadinya hipertensi intradialitik. Penelitan ini bertujuan untuk menentukan gambaran penggunaan antihipertensi dan karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami hipertensi intradialitik. Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan pada periode Juli-Agustus 2015. Subyek penelitian diperoleh sebanyak 10 pasien. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien (50%) yang mengalami kejadian hipertensi intradialitik. Karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami kejadian hipertensi intradialitik berdasarkan usia < 60 tahun (60%), riwayat hemodialisis < 12 bulan (60%), durasi hemodialisis < 3,5 jam (80%), dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2 (60%). Penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan kejadian hipertensi intradialitik adalah golongan ARB, beta bloker, diuretik dan vasodilator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi intradialitik didominasi oleh pasien dengan usia < 60 tahun, lama hemodialisis < 12 bulan, durasi hemodialisis < 3,5 jam dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2. Jenis antihipertensi yang paling sering digunakan adalah kombinasi golongan ARB dan Diuretik.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi Dengankejadian Hipertensi Intradilitik pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang

Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi Dengankejadian Hipertensi Intradilitik pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang

Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar ≥ 10 mmHg pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisis dikenal dengan istilah hipertensi intradialitik. Usia, riwayat hemodialisis, durasi hemodialisis, jumlah obat antihipertensi serta adanya jenis obat antihipertensi yang hilang secara intesif dan tidak intensif merupakan hal yang diindikasi sebagai faktor risiko penyebab terjadinya hipertensi intradialitik. Penelitan ini bertujuan untuk menentukan gambaran penggunaan antihipertensi dan karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami hipertensi intradialitik. Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan pada periode Juli-Agustus 2015. Subyek penelitian diperoleh sebanyak 10 pasien. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien (50%) yang mengalami kejadian hipertensi intradialitik. Karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami kejadian hipertensi intradialitik berdasarkan usia < 60 tahun (60%), riwayat hemodialisis < 12 bulan (60%), durasi hemodialisis < 3,5 jam (80%), dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2 (60%). Penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan kejadian hipertensi intradialitik adalah golongan ARB, beta bloker, diuretik dan vasodilator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi intradialitik didominasi oleh pasien dengan usia < 60 tahun, lama hemodialisis < 12 bulan, durasi hemodialisis < 3,5 jam dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2. Jenis antihipertensi yang paling sering digunakan adalah kombinasi golongan ARB dan Diuretik.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA   Evaluasi Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2015.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA Evaluasi Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2015.

Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2015. Data yang digunakan diperoleh dari penelusuran catatan pengobatan pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik serta menjalani hemodialisa yang terdapat dalam rekam medis di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2015. Data tersebut lalu dianalisis secara deskriptif non-eksperimental dengan mengevaluasi kerasionalan pengobatan hipertensi pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisa. Sampel pasien diambil dengan metode purposive sampling. Evaluasi pengunaan obat antihipertensi berdasarkan tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI HIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA  Evaluasi Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2015.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI HIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA Evaluasi Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hemodialisa Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2015.

iv KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr wb Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah atas segala rahmat, hidayah, dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Evaluasi Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisa pada RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2015 ” sebagai salah satu syarat mencapai Derajat Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Gambaran Profil Lipid Terhadap Derajat Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Gambaran Profil Lipid Terhadap Derajat Hipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Penyakit gagal ginjal kronis adalah suatu kondisi dimana ginjal secara bertahap dan progresif kehilangan fungsi nefronnya yang bersifat kronis dan irreversibel. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gagal ginjal kronik, salah satunya yaitu hipertensi, dimana penyebab hipertensi salah satunya yaitu peningkatan kadar profil lipid yang tidak diinginkan (kolesterol total, LDL, TG) dan penurunan kadar profil lipid yang diinginkan (HDL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil lipid pada setiap derajat hipertensi pada pasien gagal ginjal kronik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Studi Penggunaan Antihipertensi Golongan Angiotensin Receptor Blockers Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Stadium V di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya

Studi Penggunaan Antihipertensi Golongan Angiotensin Receptor Blockers Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Stadium V di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya

Jenis kelamin pasien gagal ginjal kronik stadium V dengan hipertensi yang menggunakan antihipertensi golongan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dapat dilihat pada tabel 2. Usia pasien gagal ginjal konik stadium V pada sampel penelitian ini terdistribusi pada rentang usia sekitar 31-70 tahun, yaitu usia 31-40 tahun (27%), 41-50 tahun (6%), 51-60 tahun (50%), dan 61-70 tahun (10%) (Tabel 3, Gambar 2). Tampak bahwa persentase pasien terbesar berada pada rentang usia 51-60 tahun. Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya usia, semakin berkurang pula fungsi ginjal dan berhubungan dengan penurunan kecepatan ekskresi glomerulus serta memburuknya fungsi tubulus. Penurunan fungsi ginjal dalam skala kecil merupakan proses normal bagi setiap manusia seiring bertambahnya usia, namun karena adanya beberapa faktor risiko dapat menyebabkan potensi terjadinya gagal ginjal kronik. Hal ini juga terdapat dalam literatur di mana dikatakan berdasarkan data tahun 2011, pasien gagal ginjal kronik terbanyak pada rentang usia 45-54 tahun yaitu sebanyak 27% (Indonesia Renal Registry, 2011). Menurut Mcclellan dan Flanders (2003) terbukti bahwa faktor risiko gagal ginjal salah satunya adalah usia yang lebih tua.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SKRIPSI ANNA TRESIA BR.S.DEPARI STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DENGAN HIPERTENSI

SKRIPSI ANNA TRESIA BR.S.DEPARI STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DENGAN HIPERTENSI

Progresifitas penyakit GGK dapat diatasi dengan pemberian terapi yang mengawali penyakit GGK tersebut, salah satunya adalah antihipertensi. Pengendalian tekanan darah pada pasien GGK harus cukup agresif untuk mencegah terjadinya komplikasi, disamping untuk mencegah progesifitas penyakit ginjal itu sendiri. Golongan antihipertensi untuk mengatasi GGK dengan hipertensi , yaitu ACE inhibitors, ARBs, CCBs, diuretik (diuretik loop, diuretik thiazid, dan diuretik hemat kalium), β blockers, α-1 blockers, α-2 agonist, vasodilator langsung, antagonis aldosteron, dan antagonis adrenergik. Tujuan pemberian antihipertensi pada GGK adalah menurunkan tekanan darah <130/80 mm Hg.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Gambaran Penggunaan Antihipertensi Pada PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI Rumah Sakit Umum   Pusat H. Adam Malik Medan: Permasalahan Terkait Obat

Gambaran Penggunaan Antihipertensi Pada PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan: Permasalahan Terkait Obat

Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu proses fatofisiologi dengan etiologi yang beragam yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal. Hipertensi merupakan salah satu faktor etiologi gagal ginjal. Di Indonesia pada tahun 2006 Hasil penelitian menujukkan bahwa antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah golongan diuretik yaitu sebesar 73%. Kombinasi antihipertensi yang paling sering diberikan adalah diuretik dan ACE-I yaitu sebesar 33%. Regimen dosis antihipertensi sudah sesuai dengan yang direkomendasikan untuk pasien GGK. Namun, karena pasien juga menderita penyakit penyerta lainnya, ditemukan adanya interaksi obat yang mengakibatkan hanya 14% dari pasien saat dirawat di rumah sakit yang mencapai target tekanan darah (130/80 mmHg). Interaksi yang paling sering terjadi adalah antara captopril dan diltiazem dengan obat-obat AINS.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN CEFTRIAXONE PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Malang)

STUDI PENGGUNAAN CEFTRIAXONE PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Malang)

3 Beratnya pengaruh hipertensi pada ginjal tergantung tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. Semakin tinggi tekanan darah dalam waktu lama makin berat komplikasi yang dapat ditimbulkan. Hipertensi terjadi pada sebagian besar pasien GGK dan tekanan darahnya harus diatur sesuai target untuk mencegah kerusakan organ. Target tekanan darah untuk mengurangi risiko CVD pada GGK adalah 130/80 mmHg (Baharuddin, 2011).

28 Baca lebih lajut

Hiperprolaktinemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Hiperprolaktinemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Dilaporkan Pria 47 tahun datang ke RS Adam Malik dengan keluhan sesak nafas dan pembesaran payudara. Pasien didiagnosa dengan hiperprolaktinemia dan gagal ginjal kronik. Kedua payudaranya membesar sejak 9 bulan lalu, awalnya terasa sakit jika puting susu tersentuh. Pasien sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak. Riwayat hipertensi (+) dan sudah menjalani hemodialisis reguler selama 2 tahun. Riwayat konsumsi obat-obatan, penyakit hati, sakit kepala dan mata kabur (-). Pada pemeriksaan fisik, dijumpai normoweight, tekanan darah 140/80 mmHg, nadi, frekuensi nafas dan suhu tubuh normal. Pada mata dijumpai anemis, leher TVJ R+3 cmH 2 O, mammae dijumpai membesar, konsistensi kenyal, mobile, diameter 10
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan penyakit dengan gangguan pada struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Perkembangan PGK yang progresif tanpa mendapatkan penanganan yang baik pada umumnya berakhir pada ESRD. Terapi pengganti ginjal pada pasien ESRD dapat berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Salah satu penyebab terbesar terjadinya PGK pada pasien HD yaitu hipertensi. Pemilihan terapi antihipertensi pada pasien HD sebaiknya melihat pada komorbid pasien, farmakokinetik dan efek hemodinamik.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pada Tabel 1. Menunjukan bahwa jenis penyakit penyerta yang paling banyak terjadi pada pasien gagal ginjal kronik di RSUDP NTB adalah anemia (39.53%), di di ikuti hipertensi sebanyak 3 pasien (6.98%), DM tipe 2 sebanyak 2 pasien (4.65%), dan penyakit lainya dengan jumlah pasien yang sama yaitu 1 pasien (2.33%).Tingginya penyakit penyerta anemia yang dialami pasien gagal ginjal kronik dikarenakan hampir seluruh pasien gagal ginjal kronik pada penelitian ini mendapatkan terapi hemodialisis atau pengganti ginjal. Anemia didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin (Hb) yang rendah dalam darah. (WHO,2015).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

SKRIPSI INDRI RAMDANINGSIH STUDI PENGGUNAAN NATRIUM BIKARBONAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN ASIDOSIS METABOLIK

SKRIPSI INDRI RAMDANINGSIH STUDI PENGGUNAAN NATRIUM BIKARBONAT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN ASIDOSIS METABOLIK

Gagal ginjal kronik saat ini telah menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat di dunia. Gagal ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal (Suwitra, 2009). Gagal Ginjal Kronik merupakan kerusakan ginjal selama ≥ 3 bulan, yaitu ditandai dengan kelainan struktur dan penurunan fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan GFR (Glomerular Filtration Rate) < 60ml/mnt/1,73m2 ≥ 3 bulan (Levin et al, 2008). Penyebab Gagal Ginjal Kronik di Indonesia antara lain glomerulonefritis, diabetes mellitus, obstruksi dan infeksi, dan hipertensi. Salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien gagal ginjal kronik adalah gangguan keseimbangan asam basa yaitu asidosis metabolik. Asidosis metabolik terjadi akibat penurunan fungsi ginjal. Kerusakan pada ginjal diawali oleh suatu penyakit utama yang mempengaruhi ginjal seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Kerusakan kronis pada ginjal berakibat pada rusaknya nefron secara irreversible. Nefron yang masih normal akan mengalami hipertrofi untuk mengkompensasi penurunan fungsi ginjal yang diakibatkan oleh banyaknya nefron yang rusak (Joy
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DENGAN KASUS GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

STUDI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DENGAN KASUS GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

Pada stadium 5 penggunaan jenis antibiotik cefotaxime sebanyak 28,57% dan ceftriaxone 38,10%. Penggunaan jenis antihipertensi yang diberikan pada pasien GGK adalah dari golongan ACE inhibitor, ß-adrenergik bloker (penyekat beta), antagonis/penghambat reseptor angiotensin II (ARB) dan kalsium channel bloker (antagonis kalsium). Penggunaan jenis diuretik yang diberikan pada pasien GGK hanya Furosemid (diuretik kuat) dan spironolakton diuretik hemat kalium. Dimana penggunaan furosemid (diuretik kuat) lebih besar daripada penggunaan spironolakton (diuretik hemat kalium).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Penyakit Hipertensi Disertai Gagal Ginjal Kronik (ICD I12.0) Pasien Geriatri Rawat Inap di RSUD A.W. Sjahranie Samarinda pada Tahun 2012 dan 2013 dengan Metode ATC/DDD

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Penyakit Hipertensi Disertai Gagal Ginjal Kronik (ICD I12.0) Pasien Geriatri Rawat Inap di RSUD A.W. Sjahranie Samarinda pada Tahun 2012 dan 2013 dengan Metode ATC/DDD

golongan Calcium Channel Blocker (CCB). Obat CCB digunakan pada GGK jika terapi dengan antihipertensi lini pertama tidak memberikan efek. Terdapat 2 kelas CCB yakni dihidropiridin (amlodipin dan nifedipin) dan non-dihidropiridin (verapamil, diltiazem). CCB menghambat proses berpindahnya kalsium menuju sel otot jantung dan otot polos dinding pembuluh darah, dan akan merelaksasi otot pembuluh darah dan menurunkan

10 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Kota Medan

2.5 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Tujuan dari pengobatan hipertensi pada penyakit GGK adalah untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan resiko terjadinya Cardio Vaskular Disease pada pasien hipertensi dan memperlambat progresi penyakit ginjal pada pasien dengan atau tanpa hipertensi (NKF, 2013). Berkembangnya penyakit GGK dapat diatasi dengan pengobatan hipertensi. Diuretik, β -blocker, ACE-I, dan antagonis kalsium semuanya efektif pada pasien dengan gagal ginjal dini. ACE-I memiliki manfaat tambahan berupa berkurangnya proteinuria pada pasien baik dengan penyakit diabetik maupun nondiabetik (Rubenstein, et al., 2005). Obat ini harus diberikan dengan hati – hati karena bisa menurunkan aliran darah ginjal dan memicu gagal ginjal akut, khususnya bila ada stenosis arteri renalis (Suwitra, 2006).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DIABETES MELITUS DAN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUMAH SAKIT X TAHUN 2014

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KOMPLIKASI DIABETES MELITUS DAN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUMAH SAKIT X TAHUN 2014

Sesuai dengan JNC VII tahun 2003, Journal Of Clinical Diabetes tahun 2007, dan Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach tahun 2008, bahwa drug of choice untuk terapi hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus adalah antihipertensi golongan ACEI atau ARB. Dalam tabel tersebut menunjukkan pula adanya duplikasi obat yakni captopril dan lisinopril, dimana kedua obat ini merupakan obat dalam satu golongan yaitu ACEI, memiliki mekanisme aksi yang sama, dan efek samping yang sama. Penggunaan obat dengan cara duplikasi ini dapat meningkatkan efek samping dari obat (Viktil et al, 2006), sehingga hal ini menyebabkan pengobatan tidak rasional. Namun keterbatasan dalam penelitian ini, penulis tidak mengetahui riwayat penggunan obat pasien sebelumnya, sehingga penggunaan obat tersebut mungkin telah dipertimbangkan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL  Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

5 KATA PENGANTAR Assalamu'alaikum Wr. Wb. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis diberi kemampuan dan kesempatan untuk menyusun dan menyelesaikan skripsi dengan judul “ Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Farmasi (S.Farm) pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

10 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL   Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL GINJAL Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Gangguan Ginjal di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2010.

Kriteria tepat dosis yaitu tepat dalam frekuensi pemberian, dosis yang diberikan dan jalur pemberian obat kepada pasien.Ketepatan dosis dianalisis dengan membandingkan dengan BNF dan Drug Dosing Renal Failure.Bila peresepan dosis obat antihipertensi berada pada rentang dosis minimal dan dosis per hari yang dianjurkan maka peresepan dikatakan tepat dosis. Dalam penelitian ini ditemukan 19 kasus pemberian obat dengan dosis lebih dimana kesemuanya merupakan pemberian captopril dengan dosis yang berlebihan. Pada penderita hipertensi dengan gagal ginjal yang telah menjalani hemodialisa secara rutin dosis captopril yang semestinya adalah 20-30% dari dosis normal dan obat diberikan setelah hemodialisa, namun pada penelitian ini captopril diberikan 3 kali sehari 25 mg. Sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di RSUP Dr. Sardjito oleh Woro harjaningsih dan Putu wahyu diantari pada tahun 2005 didapat kesalahan dosis pemberian ACEI pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal sebanyak 32.26%.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects