Top PDF STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Feng, Wuwei., Belagaje, Samir R., Neurol, Semin., 2013. Recent Advances in Stroke Recovery and Rehabilitation. Medscape Journal Vol. 33(5), pp: 498-506. Furie , Karen L., Kasner, Scott E., Adams, Robert J., Albers, Gregory W., Bush, Ruth L., Fagan, Susan C.,Halperin, jonathan L., Johnston, S Claiborne., Katzan, Irene., Keman, Walter N., Mitchell, Pamela H., Oybiagele, Bruce., Palesch, Yuko Y, Sacco, Ralph L., Schamm, Lee H., Sylvia, Wassertheil-Smoller., Turan, Tanya N., and Wentworth, Deidre. 2011. Guidelines for the Prevention of Stroke in Patients With Stroke or Transient Ischemic Attack: A Guideline for Healthcare Professionals From the American Heart Association/American Stroke Association. AHA Journal, Vol:42, pp:227-276.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN PIRASETAM  PADA PASIEN STROKE ISKEMIK

 (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN PIRASETAM PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi faktor r risiko utama a dari penyebab terjadinya stroke e iskemik, baik k tekanan sistolik k maupun tekanan diastoliknya yang t tinggi. Semakin n tinggi tekanan n darah seseorang, maka semakin besar risiko o untuk terkena a stroke. Hal ini disebabkan oleh hipertensi dapat menipiskan dinding pembuluh darah dan merusak bagian dalam pembuluh darah yang mendorong terbentuknya plak aterosklerosis sehingga memudahkan terjadinya penyumbatan atau pendarahan otak (Kabi, 2015). Ada beberapa cara untuk mengontrol tekanan darah yaitu dengan rutin kontrol ke dokter keluarga, pemeriksaan tensi secara mandiri di rumah dengan tensi meter elektrik, serta menjaga pola konsumsi, kontrol terhadap stress dan olah raga teratur. Namun n seiring dengan n perkembangan teknologi i yang sangat pesat i terutama teknologi komunikasi di Indonesia (Putri, 2015).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN AMLODIPINE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN AMLODIPINE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Terapi utama untuk pasien dengan stroke iskemik meliputi neuroprotektor, antiplatelet, antikoagulan dan antitrombolitik. Terapi untuk menurunkan tekanan darah di rekomendasikan setelah periode akut (pada 7 hari pertama). Penurunan tekanan darah pada pasien stroke iskemik berpotensi menurunkan resiko terjadinya edema otak, resiko hemoragik dan kerusakan vascular lebih lanjut. CCB (Calcium Channels Blocker) atau antagonis kalsium bekerja dengan mengikat kanal L-type dan dengan menghalangi masuknya Ca 2+ ke dalam sel, menyebabkan terjadinya relaksasi pada arteriol otot polos dan mengurangi resistensi perifer dan menyebabkan penurunan tekanan darah. Amlodipine merupakan CCB yang paling sering diresepkan karena memiliki waktu paruh yang panjang, bioavaibilitas tinggi dan lama kerja obat yang panjang yang memungkinkan untuk dosis pemberian sekali dalam sehari. Selain itu amlodipine dapat meningkatkan produksi asam nitrat endotel, menghambat poliferasi sel otot polos dan aktivitas antioksidan yang tidak dimiliki oleh obat-obat golongan CCB lainnya. Amlodipine juga terbukti dapat mengurangi stroke fatal maupun non fatal.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Efektivitas Penggunaan Captopril Dalam Penanganan Hipertensi Pada Pasien Stroke Iskemik Di Instalasi Rawat Inap Rsup Sanglah Denpasar

Efektivitas Penggunaan Captopril Dalam Penanganan Hipertensi Pada Pasien Stroke Iskemik Di Instalasi Rawat Inap Rsup Sanglah Denpasar

Terdapat 2 pasien yang mendapatkan dosis terkecil yaitu 3 x 6,25 mg. Regimen dosis captopril 6,25 mg yang diberikan setiap 8 jam direkomendasikan dalam guidelines stroke dari perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia tahun 2004. Alasan pemilihan regimen ini pada pasien pertama kemungkinan karena tekanan darah saat dimulainya terapi tidak terlalu tinggi yaitu hanya 145/60 mmHg, meskipun pasien tercatat memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Sedangkan tekanan darah awal pasien kedua adalah 160/100 mmHg namun tidak ada riwayat hipertensi sehingga dipilih regimen dosis captopril terkecil untuk terapi awal. Selain itu, pasien ini berusia 69 tahun dimana Sweetman (2009) menyatakan bahwa dosis awal 6,25 mg dapat direkomendasikan jika captopril diberikan dalam kombinasi dengan diuretik atau diberikan pada pasien usia lanjut. Namun perlu juga dilihat kemungkinan adanya indikasi lain dari terapi regimen captopril 3 x 6,25 mg yang datanya tidak tercantum dalam rekam medis pasien seperti riwayat penyakit jantung. Beberapa sumber menyatakan bahwa regimen captopril 3 x 6,25 mg diindikasikan untuk terapi gagal jantung dan disfungsi ventrikel kiri setelah infark miokardium (Remme dan Swedberg, 2001; Anonim b, 2013).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Profil Penggunaan Terapi Pencegahan Sekunder Pada Pasien Stroke Iskemik

Profil Penggunaan Terapi Pencegahan Sekunder Pada Pasien Stroke Iskemik

RS. Dr. H. Chasan Bosoerie Ternate tahun 2011 sebanyak 68 pasien dari 268 merupakan pasien stroke iskemik yang berulang. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka diperlukan penelitian profil penggunaan terapi pencegahan sekunder pada pasien stroke iskemik, berapa persen pasien stroke iskemik yang sudah melewati masa akut atau sudah mengalami perbaikan setelah masa akutnya mendapatkan terapi pencegahan sekunder yaitu terapai antiplatelet, terapi antihipertensi, dan terapi antidislipidemia. Empat jenis antiplatelet yang sudah disetujui FDA untuk mencegah vascular events pada pasien stroke atau TIA adalah aspirin, triklopidin, clopidogrel dan kombinasi aspirin/dipyridamole. Obat-obatan ini telah terbukti menurunkan resiko stroke berulang, infark miokard atau kematian lebih dari 20% (Lambert, 2011). Terapi antihipertensi direkomendasikan untuk mencegah stroke berulang dan mencegah kejadian penyakit vaskuler yang lain pada pasien yang mengalami stroke iskemik atau TIA dan diberikan setelah fase akut stroke, baik yang sebelum stroke atau TIA dengan atau tanpa riwayat hipertensi (Sacco et al., 2006). Terapi statin direkomendasikan untuk mengurangi resiko stroke dan cardiovascular events pada pasien dengan stroke iskemik atau TIA yang mempunyai aterosklerosis, dengan LDL ≥ 100 mg/dl (2,59 mmol/L) dan pasien dengan atau tanpa Coronary Heart Disease /CHD (Lambert, 2011).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Di RumahSakit Muhammadiyah Lamongan)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Di RumahSakit Muhammadiyah Lamongan)

Eksperimental dan data klinis juga memberikan beberapa bukti bahwa statin memiliki efek pada saraf setelah iskemia serebral akut. Pada penelitian yang dilakukan Jalin et al., (2015) dengan judul Simvastatin Reduces Lipopolysaccharides-accelarated CerebralIschemic Injury via Inhibition of Nuclear Factor-kappa B Activity, dikatakan bahwa simvastatin memiliki aktivitas anti-inflamasi termasuk menekan ekspresi iNOS, COX-2 dan IL- 1 . Selanjutnya, simvastatin menghambat translokasi nuklir NF- κB dengan mengurangi degradasi lκB. Berdasarkan temuan ini, simvastatin pretreatment bermanfaat dalam meningkatkan prognosis dan hasil infeksi sebelumnya atau peradangan terkait stroke.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

TERAPI PENGGUNAAN OBAT STROKE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA

TERAPI PENGGUNAAN OBAT STROKE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA

Berdasarkan tabel diatas, di ketahui bahwa pasien laki-laki (59,09%) lebih banyak dibandingkan pasien perempuan (40,91%%). Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin menjadi faktor resiko terjadinya stroke iskemik terutama pada laki-laki. Hasil yang sama dengan penelitian ini ditunjukkan oleh penelitian Ali (2009) dimana prevalensi stroke iskemik pada laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan karena laki-laki tidak memiliki hormon yang dapat meningkatkan kadar HDL darah sedangkan perempuan memiliki hormon estrogen yang dapat meningkatkan kadar HDL dalam darah yang dapat mencegah terjadinya atherosklerosis akibat terbentuknya plak-plak pada pembuluh darah sehingga laki-laki lebih berisiko mengalami stroke iskemik dibandingkan dengan perempuan tetapi ketika hormon estrogen tersebut produksinya berkurang atau bahkan tidak di produksi lagi maka risiko perempuan terserang stroke iskemik sama dengan laki- laki untuk terkena serangan stroke iskemik dan penyakit jantung (Heart and Stroke Foundation, 2010). Selain itu, tingginya angka kejadian stroke iskemik pada laki-laki kemungkinan dipengaruhi oleh faktor gaya hidup antara lain seperti merokok, minum- minuman beralkohol dan stress.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Prediktor Stroke Iskemik pada pasien dengan pusing

Prediktor Stroke Iskemik pada pasien dengan pusing

Setelah penyesuaian, terdapat 3 karakteristik demografi dan 12 karakteristik klinis yang masih tersisa di model regresi. Hasil ini ditunjukkan pada gambar 2. Gejala saat masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan keseimbangan, hipertensi esensial, DM, hiperkolesterolemia, fibrilasi atrium, penggunaan rokok, ras afrika amerika secara positif berkaitan dengan odd yang ada pada penegakkan diagnosis AIS. Gejala dengan keluhan vertigo, riwayat anemia, penyakit arteri koroner, asma, gangguan depresi, gangguan panik dan anxietas, jenis kelamin perempuan, usia >81 tahun, ras yang lain secara negatif berkaitan dengan perolehan odd untuk didiagnosis dengan AIS.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo)

Tujuan terapi stroke iskemik yang spesifik adalah memulihkan aliran darah dan meningkatkan kelangsungan hidup sel-sel dari jaringan sel saraf setelah cedera serta mengurangi angka kematian akibat stroke. Terapi utama pada pasien stroke iskemik adalah antiplatelet, antikoagulan, neuroprotektan, antidislipidemia dan antihipertensi. Neuroprotektan merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk mengurangi kerusakan sel karena aliran darah yang memasok oksigen dan nutrisi terhambat. Neuroprotektan yang sering digunakan untuk terapi stroke iskemik adalah sitikolin dan pirasetam. Peran sitikolin sebagai neuroprotektan adalah memperbaiki membran sel dengan cara menambah sintesis phosphatidylcholine serta meningkatkan sintesis asetilkolin, sedangkan pirasetam berperan dalam memperbaiki fluiditas membran sel.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN SITIKOLIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN SITIKOLIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo)

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis tidak terlepas dari peranan beberapa pembimbing dan juga bantuan dari seluruh pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

19 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK  

(Penelitian Dilakukan di RSUD Dr Abdoer Rahem Situbondo)

STUDI PENGGUNAAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr Abdoer Rahem Situbondo)

Fibrat adalah agonis dari PPAR-a. Melalui reseptor ini, fibrat menurunkan regulasi gen apoC-III serta meningkatkan regulasi gen apoA-I dan A-II. Berkurangnya sintesis apoC-III menyebabkan peningkatan katabolisme TG oleh lipoprotein lipase, berkurangnya pembentukan kolesterol VLDL, dan meningkatnya pembersihan kilomikron. Peningkatan regulasi apoA-I dan apoA-II menyebabkan meningkatnya konsentrasi kolesterol HDL. Sebuah analisis meta menunjukkan bahwa fibrat bermanfaat menurunkan kejadian kardiovaskular terutama jika diberikan pada pasien dengan konsentrasi TG di atas 200 mg/dL. Terapi kombinasi fibrat (fenofibrat) dengan statin pada pasien DM tidak lebih baik dari terapi statin saja dalam menurunkan laju kejadian kardiovaskular kecuali jika konsentrasi TG lebih dari 200 mg/dL, konsentrasi kolesterol LDL=84 mg/dL, dan konsentrasi kolesterol HDL =34 mg/dL.45 Penelitian ini memperkuat pendapat bahwa terapi penurunan konsentrasi TG ditujukan hanya pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi yang konsentrasi kolesterol LDL-nya telah mencapai target dengan terapi statin dan konsentrasi TG-nya masih di atas 200 mg/dL. kolelitiasis. Risiko miopati lebih besar pada pasien dengan gagal ginjal kronik dan bervariasi menurut jenis fibrat. Gemfibrozil lebih berisiko menyebabkan miopati dibandingkan fenofibrat jika dikombinasikan dengan statin. Jika fibrat diberikan bersama statin maka sebaiknya waktu pemberiannya dipisah untuk mengurangi konsentrasi dosis puncak, misalnya: fibrat pada pagi dan statin pada sore hari. Dosis fenofibrat adalah 200 mg/hari, dengan dosis maksimal 200 mg/hari. Dosis gemfibrozil adalah 600 mg diberikan 2 kali sehari, dengan dosis maksimal 1200 mg/hari.46 23 (PERKI, 2013).
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN NEUROPROTEKTAN PADA PENGOBATAN STROKE ISKEMIK DI RSUD SIDOARJO

STUDI PENGGUNAAN NEUROPROTEKTAN PADA PENGOBATAN STROKE ISKEMIK DI RSUD SIDOARJO

Stroke iskemik memiliki angka kejadian yang paling besar yaitu mencapai 88% dari seluruh kasus stroke. Salah satu terapi obat yang digunakan adalah neuroprotektan yang berfungsi untuk mempertahankan fungsi jaringan, dengan menurunkan aktivitas metabolisme dan kebutuhan sel-sel neuron. Neuroprotektan yang sering digunakan adalah pirasetam dan sitikolin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan neuroprotektan pada stroke iskemik untuk mengurangi angka kejadian stroke, angka kematian dan kecacatan pada RSUD Kabupaten Sidoarjo dan pola terapi yang meliputi dosis, interval, frekuensi serta lama pemberiannya. Dalam penelitian ini menggunakan metode retrospektif dengan menggunakan data RMK (Rekam Medik Kesehatan) atau HMR (Health Medical Record) pasien stroke iskemik di RSUD Kabupaten Sidoarjo. Hasil yang didapatkan bahwa penggunaan neuroprotektan sebanyak 53 pasien dari 97 populasi. Terapi obat yang diberikan sitikolin (81,48%) dan pirasetam (12,96%) dengan rute pemberian intravena. Dosis terbanyak dalam pengobatan pasien stroke iskemik menggunakan sitikolin 3x500mg selama 7 hari perawatan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO

Gagal jantung adalah kedaan di mana jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme dalam tubuh. Gagal jantung merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Salah satu penyebab Gagal Jantung adalah hipertensi. Sindroma klinis pasien gagal jantung yaitu nafas pendek, retensi cairan dan gangguan struktur atau fungsi jantung saat istirahat. Captopril diberikan pada pasien gagal jantung untuk menghambat perubahan dari angiotensin I menjadi angiotensin II, sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan sekresi aldosteron. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola penggunaan captopril pada Gagal Jantung dalam menurunkan angka kematian pasien di RSUD Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif pada pasien gagal jantung periode oktober 2015 sampai dengan desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan captopril secara tunggal tidak didapatkan melainkan kombinasi, kombinasi 2 obat 10 pasien (40%), kombinasi 3 obat 12 pasien (48%), kombinasi 4 obat 3 pasien (12%).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO

Gagal jantung adalah kedaan di mana jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme dalam tubuh. Gagal jantung merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Salah satu penyebab Gagal Jantung adalah hipertensi. Sindroma klinis pasien gagal jantung yaitu nafas pendek, retensi cairan dan gangguan struktur atau fungsi jantung saat istirahat. Captopril diberikan pada pasien gagal jantung untuk menghambat perubahan dari angiotensin I menjadi angiotensin II, sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan sekresi aldosteron. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola penggunaan captopril pada Gagal Jantung dalam menurunkan angka kematian pasien di RSUD Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif pada pasien gagal jantung periode oktober 2015 sampai dengan desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan captopril secara tunggal tidak didapatkan melainkan kombinasi, kombinasi 2 obat 10 pasien (40%), kombinasi 3 obat 12 pasien (48%), kombinasi 4 obat 3 pasien (12%).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PROFIL PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD SALATIGA

PROFIL PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD SALATIGA

www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/info datin-jantung.pdf. Putri, M. N., Mutiawati, E. and Mahdani, W. (2017) ‗Hubungan Derajat Stroke Terhadap Status Kognitif Pada Pasien Stroke Iskemik Di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Umum Daerah dr . Zainoel Abidin Banda Aceh Relationship Degree Stroke on The Cognitive Status Patients Ischemic Stroke‘, Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2, pp. 61–67.

35 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

Hasil penelitian dengan metode retrospektif dari data Rekam Medik Kesehatan pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap RSU Dr. Saiful Anwar Malang periode Oktober 2012 – Desember 2012 diperoleh 50 RMK pasien dengan diagnosis stroke iskemik. Dari 50 RMK yang diteliti, terdapat 48 RMK yang masuk dalam kriteria inklusi, 6 diantaranya meninggal dunia dan 2 RMK dieksklusikan dikarenakan data yang tidak lengkap. Dengan data jenis demografi jenis kelamin pasien yaitu 50% pria dan 50% wanita dimana jumlah terbanyak adalah rentang usia 51 – 55 tahun sebanyak 33,33%, sedangkan berdasarkan status pasien, secara keseluruhan jumlah terbanyak adalah pasien dengan status umum yaitu sebanyak 56,25%. Pengamatan pada faktor resiko didapatkan data bahwa pada jumlah terbanyak adalah hipertensi sebanyak 91,67% , kemudian disusul oleh diabetes melitus 41,67% dan dislipidemia 2,08%. Sedangkan pengamatan faktor resiko berdasarkan gaya hidup di dapatkan bahwa konsumsi tinggi lemak + garam + kopi merupakan faktor resiko terbesar pasien, dengan persentase sebesar 35,42%.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIPLATELET PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN ANTIPLATELET PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo)

Terapi antiplatelet diperlukan dalam meningkatkan mobilitas dan perbaikan kondisi pasien dimana antiplatelet tersebut yang akan memperlancar aliran darah menuju otak dan memperbaiki asupan kebutuhan pasien stroke. Pengobatan lini pertama khusus pada stroke iskemik adalah pengobatan antiplatelet ataupun antikoagulan. Antiplatelet yang sering digunakan pada penderita stroke iskemik adalah aspirin dan klopidogrel. Antiplatelet tersebut bekerja dengan tujuan menghilangkan atau mengurangi pembekuan yang terdapat pada saluran pembuluh di otak dimana penyumbatan tersebut menyebabkan terjadinya stroke. Aspirin bekerja dengan menghambat sintesis tromboksan di dalam trombosit yang bekerja secara irreversibel sehingga menyebabkan penurunan agregrasi trombosit (Kumar and Clark, 2012). Pada pasien TIA pengobatan dengan antiplatelet dapat mencegah timbulnya kembali gangguan TIA tersebut. Dengan hal tersebut maka kematian akibat TIA atau stroke akibat penyumbatan pembuluh darah dapat ditekan (Wang et al., 2013).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Dilakukan Di Instalasi Rawat RSUD Sidoarjo)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Dilakukan Di Instalasi Rawat RSUD Sidoarjo)

Puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT atas karunia rahmat dan hidayah- NYA, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat RSUD Sidoarjo).

15 Baca lebih lajut

SKRIPSI DINDA MUJI NURHANDINI. STUDI PENGGUNAAN CITICOLINE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

SKRIPSI DINDA MUJI NURHANDINI. STUDI PENGGUNAAN CITICOLINE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian dilakukan di RSUD Sidoarjo)

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari pembimbing dan bantuan dari seluruh pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :

21 Baca lebih lajut

GAMBARAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

GAMBARAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Dinata, Cintya Agreayu, Yuliarni Safrita, and Susila Sastri. “Artikel Penelitian Gambaran Faktor Risiko Dan Tipe Stroke Pada Pasien Rawat Inap Di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012.” 2.2 (2013): 57–61. Print.

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects