Top PDF STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN ACE–INHIBITOR PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN ACE–INHIBITOR PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN ACE–INHIBITOR PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

4 dengan pemberian ARB (Angiotensin Receptor Blocker) (Aaronson and Ward, 2010). Berdasarkan permasalahan dan fakta dari hasil penelitian diatas, maka akan dilakukan penelitian ini terkait dengan profil penggunaan obat golongan ACEi pada pasien dengan masalah kardiovaskular khususnya pasien gagal jantung di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang yang dipilih dengan pertimbangan bahwa rumah sakit tersebut merupakan salah satu rumah sakit umum daerah rujukan dan merupakan rumah sakit terbesar di kota Malang yang melayani seluruh kalangan masyarakat dengan jumlah pasien dan penyakit yang bervariasi. Dengan adanya penelitian di rumah sakit ini diharapkan prevalensi terjadinya gagal jantung cukup banyak, sehingga memudahkan peneliti untuk memenuhi jumlah sampel untuk dilakukan penelitian.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN KOMBINASI FUROSEMID - SPIRONOLAKTON PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN KOMBINASI FUROSEMID - SPIRONOLAKTON PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

ix lama pemakaian pada pasien gagal jantung yang dirawat di instalasi rawat inap RSU. Dr. Saiful Anwar Malang. Studi penggunaan obat pada penelitian ini akan difokuskan pada penggunaan kombinasi furosemid – spironolakton pada pasien gagal jantung. Kombinasi furosemid – spironolakton memiliki keuntungan yaitu menurunkan volume overload dengan cara meningkatkan diuresis dan penghambatan efek dari peningkatan aldosteron pada gagal jantung. Metode penelitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah merode observasional retrospektif, dengan penyajian data secara deskriptif dari data rekam medik kesehatan (RMK) pasien gagal jantung rawat inap pada periode Agustus 2011 – Januari 2012.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Tujuan terapi stroke akut, antara lain: (1) mengurangi progresifitas kerusakan neurologi dan mengurangi angka kematian; (2) mencegah komplikasi sekunder yaitu disfungsi neurologi dan imobilitas permanen; (3) mencegah stroke ulangan. Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk kejadian infark serebral dan intrakranial hemoragik. Penanganan tekanan darah adalah salah satu strategi untuk mencegah stroke dan mengurangi risiko kekambuhan pada stroke iskemik dan perdarahan. Pentalaksanaan hipertensi yang tepat pada stroke akut sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas stroke. Jika tekanan sistolik 180-230 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik 15-120 mmHg, terapi darurat harus ditunda kecuali adanya bukti perdarahan intraserebral, gagal ventrikel jantung kiri, infark miokard akut, gagal ginjal akut, edema paru, diseksi aorta, ensefalopati hipertensi dan sebagainya. Jika pengukuran tekanan darah tersebut menetap pada dua kali pengukuran selang waktu 60 menit, maka diberikan 200-300 mg labetalol 2-3 kali sehari sesuai kebutuhan. Pengobatan alternatif yang memuaskan selain labetalol adalah nifedipin oral 10 mg setiap 6 jam atau 6,25-25 kaptopril setiap 8 jam. Jika monoterapi oral tidak berhasil atau jika obat tidak dapat dberikan peroral, maka diberikan labetalol i.v. batas penurunan tekanan darah sebanyak- banyaknya sampai 20%-25% dari tekanan darah arterial rerata.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN VALSARTAN PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN VALSARTAN PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di seluruh dunia. Gagal jantung adalah epidemi di seluruh dunia yang menunjukkan peningkatan pesat selama dua dekade terakhir. Berdasarkan studi Val-HeFT , VALIANT, Val-MARC dan VALUE menunjukkan bahwa Valsartan sebagai Angiotensin II Reseptor Bloker efektif dalam mengurangi mortalitas dan morbiditas pada pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pola penggunaan obat pada pasien gagal jantung, khususnya valsartan terkait kesesuaian dosis dan rute penggunaan terhadap outcome terapi pada pasien gagal jantung di RSU Dokter Saiful Anwar Malang. Desain penelitian menggunakan menggunakan metode observasional deskriptif analitik dengan pengumpulan data menggunakan metode retrospektif. Penelitian retrospektif dilakukan dengan mengamati Rekam Medik Kesehatan pasien periode 1 Agustus 2011 – 31 Januari 2012. Dari hasil penelitian diperoleh valsartan diberikan melalui rute peroral dengan frekuensi sekali dalam sehari. Dosis valsartan yang diberikan adalah 40 mg, 80 mg, dan 160 mg dengan dosis yang paling banyak dipakai adalah 80 mg.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIDIABETES PADA PASIEN DIABETES TIPE 2 DENGAN GAGAL JANTUNG (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIDIABETES PADA PASIEN DIABETES TIPE 2 DENGAN GAGAL JANTUNG (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Berdasarkan studi lain yakni metformin therapy and outcome in patient with advanced systolic heart failure and diabetes, dikatakan bahwa pemberian obat oral antidiabetes metformin mampu memperbaiki kondisi akhir penderita gagal jantung serta menurunkan mortalitas dan angka rawat inap kembali dibandingkan dengan sulfonylurea. Studi selanjutnya mengenai keamanan pemberian metformin yakni dengan dilakukannya studi terhadap pasien gagal jantung sistolik tahap lanjut (klasifikasi New York Heart Association (NYHA) III- IV) di sebuah pusat Gagal Jantung Ahmanson-UCLA Cardiomyopathy pada 1994-2008 menunjukkan adanya peningkatan yang bermakna setelah pemantauan selama 6 bulan pada kelompok metformin, dengan perbaikan ejeksi fraksi mencapai 30+10%. Dengan menggunakan metode multivariat dengan penyesuai- an terapi menggunakan ACE Inhibitor/AR B atau β -blocker, penggunaan metformin menunjukkan kecenderungan perbaikan fungsi jantung. Mekanisme kerja metformin dalam memperbaiki fungsi jantung dan survival rate diperkirakan melalui pengaruh pada aktivitas adenosine monophosphate (AMP)-activated protein kinase, sebuah enzim yang berperan sentral dalam homeostasis energi jantung dan jaringan lainnya serta berperan pada patofisiologi kelainan kardiovaskular dan metabolik. Bukti ini menunjukkan bahwa metformin bersifat kardioprotektif tanpa dipengaruhi oleh efek antihiperglikemi. Dari studi pemberian obat oral antidiabetes metformin dapat disimpulkan bahwa pemberian obat oral antidiabetes metformin aman bagi penderita gagal jantung sistolik dibandingkan dengan kelompok non-metformin (Shah et al, 2010).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT ACE INHIBITOR PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Poliklinik Jantung dan Vaskular Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT ACE INHIBITOR PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Poliklinik Jantung dan Vaskular Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Sarjana Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

16 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN FUROSEMID PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN FUROSEMID PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang)

vi RINGKASAN Eksipien koproses adalah kombinasi dari dua atau lebih bahan pengisi yang memiliki keunggulan kinerja yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan campuran fisik dari kombinasi eksipien yang sama. Eksipien koproses umumnya digunakan sebagai bahan pembawa tablet kempa langsung. Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Terdapat berbagai macam metode pembuatan tablet, antara lain adalah metode granulasi basah, metode granulasi kering, dan kempa langsung. Kempa langsung adalah salah satu metode yang paling sering digunakan dalam industri tablet hal ini dikarenakan keuntungan utama dari kempa langsung adalah ekonomis dan membutuhkan unit operasi lebih sederhana.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN BISOPROLOL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian Dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Terapi farmakologi yang digunakan dalam pengobatan gagal jantung antara lain: Diuretik digunakan untuk mengontrol akumulasi cairan; Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) digunakan untuk memperlambat progresivitas gagal jantung (remodeling), menurunkan preload dan afterload, serta memperbaiki parameter hemodinamik; Angiotensin Receptor Blocker (ARB) sebagai alternatif pada pasien yang tidak dapat mentoleransi ACEI; Beta bloker digunakan untuk memblokir reseptor beta adrenergic akibatnya jantung berdetak lebih lambat sehingga dapat menurunkan denyut jantung dan konsumsi oksigen, serta menghambat aktivasi neurohormonal yang menyebabkan disfungsi miosit.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE INHIBITOR PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSU Dr. SAIFUL ANWAR Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE INHIBITOR PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSU Dr. SAIFUL ANWAR Malang)

Mekanisme kerja ACE inhibitor seperti captopril adalah dengan menghambat enzim pengkonversi peptidyl dipeptidase yang menghidrolik angiotensin I ke angiotensin II dan menyebabkan inaktivasi bradikinin, suatu vasodilator kuat yang bekerja dengan cara menstimulasi rilis nitric oxid dan prostasiklin. Aktifitas hipotensi captoril terjadi baik pada hambatan sistem renin angiotensin maupun efek stimulus pada system kinin-kallikrein. Mekanisme yang kedua dibuktikan bahwa angitensin reseptor bradikinin, menurunkan efek penurunan tekanan darah (Katzung, 2001).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI GOLONGAN ACE-INHIBITOR PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) (Penelitian di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)

Sementara itu, sekitar 1.3 juta sampai dengan 2.9 juta orang Kanada diperkirakan menderita gagal ginjal. Di Amerika Serikat, National Health and Nutrition Examination Survey melaporkan bahwa prevalensi untuk CKD stage 1 dan 2 sebesar 5.0% dan untuk stage 3 dan 4 sebesar 8.1% selama periode tahun 1999- 2004. Pada tahun 2008, US Centers for Disease Control and Prevention melaporkan bahwa prevalensi tersebut mengalami percepatan hingga 16.5%

20 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANALGETIK KETOROLAC PADA PASIEN FRAKTUR TERTUTUP (CLOSED FRACTURE) (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANALGETIK KETOROLAC PADA PASIEN FRAKTUR TERTUTUP (CLOSED FRACTURE) (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Dari sebuah studi yang membandingkan penggunaan NSAID golongan inhibitor COX non selektif dengan COX-2 Selektif dan steroid di katakan bahwa untuk penyembuhan patah tulang dan setelah operasi fraktur di simpulkan penggunaan COX-2 selektif lebih dianjurkan karena peradangan yang muncul pada fase awal fraktur menunjukkan peningkatan COX-2 selain itu karena efek samping COX-2 pada gastrointestinal lebih sedikit di banding inhibitor COX non selektif namun penggunaan jangka panjang COX-2 dapat mengakibatkan gangguan pada kardiovaskular sehingga obat-obat golongan COX-2 dapat digunakan dalam jangka pendek (Dimmen, 2010).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANALGESIK KETOROLAC PADA PASIEN CLOSED FRACTURE

(Penelitian Dilakukan Di Rumah Sakit Dr Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANALGESIK KETOROLAC PADA PASIEN CLOSED FRACTURE (Penelitian Dilakukan Di Rumah Sakit Dr Saiful Anwar Malang)

Karena NSAID non-selektif ini selain menginhibisi enzim COX-2 juga COX-1, maka untuk pemakaian jangka lama dapat menimbulkan efek samping berupa iritasi lambung, gangguan ginjal dan gangguan pembekuan darah. Untuk mengurangi gangguan iritasi lambung, dapat dikombinasikan dengan obat PPI (proton pump inhibitor) guna memproteksi mukosa lambung. NSAID selektif hanya menginhibisi enzim COX-2 saja, tapi tidak untuk enzim COX-1. Berfungsi meredakan nyeri dan inflamasi, tapi tidak mengganggu mukosa lambung, ginjal maupun fungsi trombosit. Walaupun begitu NSAID selektif dapat mengundang efek protrombotik, sehingga dapat memicu serangan jantung dan strok. Contoh NSAID selektif adalah Selekosib dan Parekosib. Semua analgesik non-opioid baik parasetamol, NSAID non-selektif maupun NSAID selektif bersifat "celling effect", artinya efek analgesiknya terbatas. Kenaikan dosis tidak dapat menambah analgesiknya, justru efek sampingnya yang bertambah. Selain mempunyai banyak aktivitas yang sama (Purba JS,2010).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang)

STUDI PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN GAGAL JANTUNG (Penelitian di Rumah Sakit Islam Aisyiyah Malang)

Efek samping dari obat-obat golongan ACE inhibitor adalah hipotensi, pusing, lelah, sakit kepala, mual serta batuk kering (Sweetman, 2007). Namun menurut Hamilton & Hui (2006), tidak selalu menganggap batuk kering yang terjadi pada pasien yang menerima captopril adalah akibat dari peningkatan konsentrasi bradikinin oleh ACE inhibitor, karena peningkatan keparahan batuk juga menunjukkan perburukan kondisi gagal jantung, sehingga perlu adanya penilaian yang teliti.

25 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Pemberian terapi neuroprotektan pada pasien stroke iskemik rawat inap yaitu 93,14% penggunaan sitikolin tunggal, 1,96% penggunaan pirasetam tunggal, dan 4,90% penggunaan kombinasi pirasetam-sitikolin. Penggunaan obat neuroprotektan dilakukan melalui rute iv dan juga oral dengan didominasi dosis (2x1g)/ i.v sitikolin dilanjutkan (2x1g)/p.o sebanyak 26,47%. Peran sitikolin sebagai neuroprotektan adalah memperbaiki membran sel dengan cara menambah sintesis phosphatidylcholine dan mengurangi kadar asam lemak bebas serta meningkatkan sintesis asetilkolin dan pirasetam berperan dalam memperbaiki fluiditas membran sel. Lama perawatan pasien stroke iskemik dapat dipengaruhi oleh adanya penyakit penyerta dan onset stroke iskemik yang dapat memperburuk prognosisnya. Sitikolin dan pirasetam terbukti menjadi obat neuroprotektan dengan beberapa efek yang menguntungkan pada stroke iskemik dengan profil keamanan yang sangat baik. Penggunaan dosis, rute pemberian, interval pemberian, serta lama pemberian sitikolin dan piracetam yang diberikan pada pasien stroke iskemik rawat inap di RSU Dr. Saiful Anwar sudah sesuai menurut guideline yang ada.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN OBAT NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN OBAT NEUROPROTEKTAN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Stroke adalah sebuah penyakit pada sistem saraf yang disebabkan penyumbatan atau terjadinya luka pada pembuluh darah di otak. Stroke merupakan penyebab kelumpuhan nomor satu di dunia, pembunuh nomor dua di dunia dan merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di Amerika Serikat. Stroke iskemik adalah stroke yang paling sering terjadi dengan angka kejadian 88%. Tujuan pengobatan stroke akut adalah menurukan terjadinya kerusakan saraf lebih lanjut dan menurunkan kematian dan kelumpuhan jangka panjang. Neuroprotectan adalah salah satu terapi yang dapat menurunkan kerusakan sel yang mengakibatkan gangguan pembuluh darah untuk mensuplai oksigen. Penelitian bertujuan untuk menentukan pola penggunaan neuroprotectan pada pasien dengan stroke iskemik serta memeriksa hubungan terapi neuroprotectan terkait dosis, rute pemberian, frekuensi pemberian, lama dan waktu pemberian yang dikaitkan dengan data klinik di rumah sakit Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini menggunakan pengamatan retrospektif dengan consecutive sampling method pada pasien stroke iskemik dari bulan Oktober 2012 sampai Desember 2012. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa 95 pasien (93,14%) menerima citicoline, 2 pasien (4,90%) menerima piracetam, dan 5 pasien (4,90%) menerima kombinasi citicoline dan piracetam. Neuroprotectan yang digunakan secara i.v. dan oral dengan (2x1g)/i.v. citicoline kemudian (2x1g)/p.o sebanyak 27 pasien (26,47%). Penggunaan dosis neuroprotectan, rute pemberian, interval pemberian, dan lama pemberian yang diberikan pada pasien stroke iksemik di rumah sakit Dr. Saiful Anwar sudah sesuai berdasarkan beberapa guidelines yang ada.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN GOLONGAN STATIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK (Penelitian di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang)

Hasil penelitian dengan metode retrospektif dari data Rekam Medik Kesehatan pasien stroke iskemik di instalasi rawat inap RSU Dr. Saiful Anwar Malang periode Oktober 2012 – Desember 2012 diperoleh 50 RMK pasien dengan diagnosis stroke iskemik. Dari 50 RMK yang diteliti, terdapat 48 RMK yang masuk dalam kriteria inklusi, 6 diantaranya meninggal dunia dan 2 RMK dieksklusikan dikarenakan data yang tidak lengkap. Dengan data jenis demografi jenis kelamin pasien yaitu 50% pria dan 50% wanita dimana jumlah terbanyak adalah rentang usia 51 – 55 tahun sebanyak 33,33%, sedangkan berdasarkan status pasien, secara keseluruhan jumlah terbanyak adalah pasien dengan status umum yaitu sebanyak 56,25%. Pengamatan pada faktor resiko didapatkan data bahwa pada jumlah terbanyak adalah hipertensi sebanyak 91,67% , kemudian disusul oleh diabetes melitus 41,67% dan dislipidemia 2,08%. Sedangkan pengamatan faktor resiko berdasarkan gaya hidup di dapatkan bahwa konsumsi tinggi lemak + garam + kopi merupakan faktor resiko terbesar pasien, dengan persentase sebesar 35,42%.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN PADA PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN PADA PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

18. Untuk semua pihak yang belum disebutkan namanya, penulis mohon maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semua keberhasilan ini tak luput dari bantuan, doa yang telah kalian semua berikan. Jasa dari semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini, penulis tidak mampu membalas dengan apapun. Semoga amal baik semua pihak mendapat imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kebaikan skripsi ini. Semoga penulisan ini dapat berguna bagi penelitian berikutnya, amiin.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA GOLONGAN SEFALOSPORIN PADA PASIEN RAWAT INAP PNEUMONIA (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. SAIFUL ANWAR Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA GOLONGAN SEFALOSPORIN PADA PASIEN RAWAT INAP PNEUMONIA (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. SAIFUL ANWAR Malang)

Dalam melaksanakan pengelolaan terhadap pasien dengan penyakit infeksi, terdapat suatu fenomena terjadinya resistensi bakteri yaitu suatu keadaan dimana suatu bakteri menjadi resisten terhadap satu atau beberapa antibiotik, terutama antibiotik golongan sefalosporin. hal ini merupakan akibat langsung dari penggunaan antibiotika yang kurang tepat yang kemudian bakteri yang resisten tersebut memperbanyak diri dan menyebar ketempat lain, sehingga semakin banyak penderita tertular bakteri yang resisten ini, terutama ditempat pelayanan kesehatan yang kurang higienis. Dan akibatnya akan menjadi ancaman terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan akibat kegagalan dalam pengelolaan penderita penyakit infeksi. Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri, disamping itu harus dapat diprediksi lebih jauh tentang efek samping antibiotik golongan sefalosporin sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (Worokarti, dkk, 2005).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA PADA PASIEN BPH (BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA) (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA PADA PASIEN BPH (BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA) (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

Untuk menghindari terjadinya infeksi pada tidakan operasi pasien BPH, diperlukan tindakan pencegahan, salah satunya adalah dengan pemberian terapi antibiotik profilaksis. Selain, antibiotik profilaksis terapi antibiotik juga perlu diberikan pada pasien BPH untuk pengobatan penyakit infeksi yang menyertai pada pasien BPH, seperti infeksi kandung kemih, prostatitis, urosepsis, dan sebagainya. Antibiotik yang biasa digunakan pada pasien BPH meliputi antibiotik golongan quinolon, sefalosporin, dan aminoglikosida. Antibiotik golongan aminoglikosida biasanya digunakan sebagai antibiotik alternatif pada BPH, apabila ditemukan pasien terbukti mengalami alergi terhadap antibiotik beta laktam sehingga menimbulkan reaksi yang kurang baik terhadap antibiotik golongan sefalosporin (Wolf et al, 2008). Selain itu, didukung pula dengan telah dilakukannya kultur urin dan terbukti positif mengandung bakteruria/bakteri- bakteri yang sensitif terhadap antibiotik golongan aminoglikosida.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects