Top PDF PENGGUNAAN JENIS OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT HATI TERHADAP PASIEN PENYAKIT HATI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

PENGGUNAAN JENIS OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT HATI TERHADAP PASIEN PENYAKIT HATI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

PENGGUNAAN JENIS OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT HATI TERHADAP PASIEN PENYAKIT HATI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

Obat penginduksi penyakit hati dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kerusakan hati dan juga merupakan penyebab utama kegagalan hati dan transplantasi hati di negara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat penginduksi penyakit hati di salah satu rumah sakit di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi observasional retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama periode November 2011 – Maret 2012. Subjek penelitian merupakan pasien rawat inap penyakit hati, berusia 18-59 tahun dan mendapat terapi pengobatan selama periode penelitian. Data hasil pengamatan ini dianalisis dan disajikan secara deskriptif. Subjek penelitian yang menggunakan obat penginduksi penyakit hati sebanyak 80%. Obat penginduksi yang paling banyak digunakan yaitu Omeprazol 20,65%, Pantoprazol 16,30% dan Asetaminofen 12,5%. Subjek penelitian yang menggunakan perlakuan khusus dalam penggunaan obat penginduksi penyakit hati yaitu sebesar 25 pasien (30,49%). Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan parameter fungsi hati yang tidak signifikan pada subjek penelitian.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Penggunaan Obat-Obatan Penginduksi Penyakit Hati terhadap Pasien Gangguan Fungsi Hati di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2013.

PENDAHULUAN Penggunaan Obat-Obatan Penginduksi Penyakit Hati terhadap Pasien Gangguan Fungsi Hati di RSUD Dr. Moewardi Tahun 2013.

dapat menyebabkan kanker hati (Lucena et al., 2008). Menurut Pauls dan Senior (2012) obat-obat seperti estrogen, androgen, chorpromazine, asam klavulanat, dan piroxicam dapat menyebabkan kolestatis. Obat lain seperti amiodaron dapat menyebabkan perlemakan hati. Sebuah penelitian di Perancis menunjukkan sekitar 13,9 kasus/100.000 populasi kejadian DILI (Drug Induce Liver Injury). Dalam sebuah penelitian akibat DILI, 4 dari 34 (11,8%) pasien dirawat di rumah sakit, dan dua orang (5,9%) meninggal (Reuben, 2010). Sebanyak 14% kasus DILI menyebabkan transplatasi hati bahkan kematian di Singapore (Wai, 2006). Tahun 2012 terdapat penelitian di salah satu rumah sakit Tasikmalaya yang menunjukan bahwa 96% pasien dengan gangguan fungsi hati masih banyak yang diberikan obat penginduksi penyakit hati diantaranya ranitidin, sefriakson, dan parasetamol (Cinthya, 2012).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT HATI PADA PASIEN RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT HATI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT HATI PADA PASIEN RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT HATI DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

Penyakit hati yang dinduksi oleh obat berpotensi toksik merusak jaringan hati, merupakan masalah kesehatan manusia yang serius. Penelitian observasional ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat penginduksi penyakit hati pada pasien rawat inap penderita penyakit hati dan dampaknya terhadap perubahan fungsi hati di salah satu rumah sakit di kota Bandung. Data dikumpulkan secara retrospektif pada periode 2010-2011 dari rekam medis pasien dengan populasi total 289 pasien, 153 pasien termasuk kriteria inklusi, 136 pasien dieksklusi, total subjek penelitian sebanyak 153 pasien, Sebanyak 123 pasien (80,4%) menggunakan obat penginduksi penyakit hati dan 30 pasien (19,6%) tidak menggunakannya. Obat penginduksi penyakit hati yang paling banyak digunakan yaitu parasetamol (22%), ranitidin (21,6%), dan pantoprazole (17,4%). Terdapat 3 pasien (2,4%) pengguna obat penginduksi penyakit hati yang mendapat perlakuan khusus dan 120 pasien (97,6%) tidak mendapatkannya. Sebagian besar pasien pengguna obat penginduksi penyakit hati mengalami penurunan parameter fungsi hati.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH DI SALAH SATU RUMAH SAKIT KOTA BANDUNG

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH DI SALAH SATU RUMAH SAKIT KOTA BANDUNG

Salah satu faktor yang dapat menurunkan angka infeksi pada pembedahan yaitu dengan pemberian antibiotikprofilaksis. Antibiotik profilaksis yang digunakan harus aman, bersifat bakterisid dan efektif melawan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik untuk profil aksis bedah yang meliputi ketepatan diagnosa, ketepatan dosis, ketepatan cara pemberian dan ketepatan waktu pemberian antibiotik. Metode penelitian ini menggunakan data retrospektif meliputi penetapan kriteria obat, penetapan criteria pasien dan penetapan standar penggunaan obat. Data yang di dapat dari rekam medis di evaluasi ketepatannya sesuai dengan kriteria penggunaan obat antibiotik yang dibuat. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah pasien dalam penelitian ini yaitu 84 pasien yang menjalani operasi dengan rincian 30 laki–laki dan 54 perempuan dan antibiotic profilaksis yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosforin generasi ketiga(90,84%) yang memiliki spektrum kerja luas yang efektif terhadap bakteri garm positif maupun gram negatif. Dari data yang di evaluasi terdapat ketidak sesuaian dalam waktu pemberian antibiotik profilaksis yaitu sebesar 4,77 %, namun untuk ketepatan diagnosis, dosis dan cara pemberian antibiotik profilaksis sudah sesuai dengan kriteria penggunaan obat antibiotik profilaksi. Penggunaan antibiotik sebagai profilaksis bedah telah sesuai dengan kriteria penggunaan antibiotik sebagai profilaksis bedah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN SEDIAAN FARMASI INTRAVENA UNTUK PENYAKIT INFEKSI PADA SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG

EVALUASI PENGGUNAAN SEDIAAN FARMASI INTRAVENA UNTUK PENYAKIT INFEKSI PADA SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG

Telah dilakukan evaluasi penggunaan sediaan farmasi intravena untuk penyakit infeksi pada salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung secara retrospektif dari bulan Oktober-Desember 2005 berdasarkan ketepatan dan kerasionalan penggunaan obat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dari hasil evaluasi ditemukan adanya kombinasi penggunaan dua jenis obat atau lebih sebesar 7,78% , dan tidak ditemukan ketidaktepatan dosis obat, duplikasi penggunaan serta interaksi dengan obat lain dari total 1170 lembar resep. Pelaksanaan penyiapan sediaan farmasi intravena sudah dilakukan dengan baik, tetapi teknik aseptis masih kurang diperhatikan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN POLA KUMAN PADA PASIEN SEPSIS DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG.

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN POLA KUMAN PADA PASIEN SEPSIS DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG.

Sepsis, respon inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi, merupakan salah satu masalah utama dalam dunia kesehatan karena terjadi peningkatan insidensi, tingginya angka kematian dan besarnya biaya pengobatan. Terapi antibiotik harus segera dimulai saat diagnosis sepsis ditegakkan dan harus diberikan secara tepat untuk menghindari resistensi, mengurangi resiko mortalitas dan menurunkan biaya perawatan, maka diperlukan suatu studi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pada pasien sepsis, yang meliputi karakteristik pasien sepsis, pola sumber infeksi, hasil biakan kuman, sensitivitas kuman, penggunaan antibiotik dan pembuatan petunjuk terapi antibiotik empiris berdasarkan kuman dan sumber infeksi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada bagian rekam medis, dengan kriteria inklusi adalah pasien yang didiagnosis sepsis, dewasa dan dirawat inap selama periode Januari 2009 – Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber infeksi terbanyak berasal dari saluran pernafasan, sedangkan kuman yang paling banyak terdeteksi adalah Escherichia coli (4,41%), Streptococcus viridans (4,41%) dan Candida sp. (4,41%); terdapat 31 jenis antibiotik yang digunakan, dimana terdapat 21 jenis antibiotik yang digunakan pada segmen terbanyak dengan tingkat resistensi yang relatif tinggi; antibiotik yang banyak digunakan adalah meropenem (14,29%), levofloxacin (14,29%) dan ceftriaxone (10,48%); petunjuk terapi antibiotik empiris dibuat berdasarkan sensitivitas kuman dan sumber infeksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

POLA PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “A” KUDUS   Jantung Koroner Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Kudus Tahun 2012.

POLA PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “A” KUDUS Jantung Koroner Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Kudus Tahun 2012.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) saat ini merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat pada pasien penyakit jantung koroner di Rumah Sakit “A” Kudus tahun 2012 berdasarkan jenis obat yang digunakan pada pasien PJK sesuai dengan rekomendasi dari Journal of American College of Cardiology. Jenis penelitian ini bersifat non eksperimental secara retrospektif dan dianalisis dengan metode deskriptif. Bahan penelitian yang digunakan adalah rekam medis. Subyek penelitian adalah pasien PJK yang dirawat inap di Rumah Sakit “A” Kudus pada tahun 2012. Data yang digunakan yaitu umur, jenis kelamin, berat badan, jenis obat yang digunakan, dosis obat, data laboratorium serta hasil pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis obat yang digunakan pada penderita PJK paling tinggi adalah golongan nitrat (ISDN), antiplatelet (aspirin dan klopidogrel), antikoagulan (warfarin dan heparin), ACE inhibitor (kaptopril, lisinopril dan ramipril), beta bloker (bisoprolol, propanolol dan atenolol), golongan statin (simvastatin, atorvastatin dan pravastatin), dan antagonis Kalsium (amlodipin dan diltiazem) sesuai dengan rekomendasi dari Journal of American College of Cardiology.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN GINJAL PADA PASIEN DENGAN KREATININ DI ATAS NORMAL DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

PENGGUNAAN KELOMPOK OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN GINJAL PADA PASIEN DENGAN KREATININ DI ATAS NORMAL DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG.

Kidney disease is a disease with quite high prevalence level in indonesia where are one of it caused by using drug induced kidney disease. Creatinine and ureum are the parameters of impaired renal function so that the creatinine amount which is above than normal amount (0,6-1,2 mg/dl) is one of the indications of impaired renal function. This research aimed to observe regarding the drugs use of the impaired renal inductor to the patient whose creatinine is above normal level in one of the hospitals in Bandung. Data is collected concurrent and processed descriptively. The research results shows, from 36 of subject on this research 100% of Patients who has impaired renal function used inductor of imparied renal drugs included : ranitidine 35%, captropil 19%, cefriaxon 12%, furosemide 9%, ciprofxoacin 7%, cefixime 6%, cefadroxil 5%, mannitol 2%, omeprazole 2%, cefotaxime 2 %, and allopurinol 1%. Patients who have impaired renal function obtained the special treatment which was the adjustment doses to impaired renal inductor drugs which need doses adjustment where are : 30 who needed of adju stment doses, and 7 who didn’t. From 30 of patient, 23 have done of adjustment doses and 7 patient didn’t. The change of kidney function of patients from 23 patient who have done of adjustment doses is 16 people having increases on creatinine clearance amount showed that renal function was not being worse, 3 people having decreases amount showed the depression of renal fuction, and 4 people only done in once examination so those case cannot be concluded regarding the change of renal function. The change of kidney function of patients from 7 patient who did not have of adjustment doses is 5 people having increases on creatinine clearance amount showed that renal function was not being worse, and 2 people only done in once examination so those case cannot be concluded regarding the change of renal function.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Empat Puskesmas Kota Medan

Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah di atas normal. Meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang adalah faktor risiko meningkatkan berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu studi menyatakan pasien yang menghentikan terapi antihipertensi kemungkinan lima kali lebih besar terkena stroke. Penyakit ini seringkali disebut Silent killer karena tidak adanya gejala dan tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital. Penyakit ini menyebabkan tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan tingginya angka kunjungan ke dokter, perawatan di rumah sakit dan penggunaan obat jangka panjang (Depkes RI, 2006).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Penggunaan Kelompok Obat Penginduksi Kerusakan Hati pada Pasien Rawat Inap Penderita Penyakit Hati di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi.

Penggunaan Kelompok Obat Penginduksi Kerusakan Hati pada Pasien Rawat Inap Penderita Penyakit Hati di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi.

Kerusakan hati oleh obat merupakan masalah kesehatan manusia yang serius. Salah satu faktor resikonya ialah adanya gangguan fungsi hati. Penelitian observasional ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat penginduksi penyakit hati pada pasien rawat inap penderita penyakit hati dan dampaknya terhadap perubahan fungsi hati di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. Data dikumpulkan secara retrospektif pada periode 2010-2011 dari rekam medis pasien dengan populasi total 122 pasien, 69 pasien (57,98%) termasuk kriteria inklusi, 53 pasien (44,53%) diekslusi, total subjek penelitian sebanyak 69 pasien (57,98%). Sebanyak 64 pasien (92,75%) menggunakan obat penginduksi kerusakan hati dan 5 pasien (7,25%) tidak menggunakannya. Obat penginduksi kerusakan hati yang paling banyak digunakan yaitu ranitidin (25,5%), parasetamol (14,5%), dan omeprazole (11,4%). Terdapat 2 pasien (3,1%) pengguna obat penginduksi kerusakan hati yang mendapat perlakuan khusus dan 62 pasien (96,9%) tidak mendapatkannya. Sejumlah 6,25% pasien penderita penyakit hati yang mendapat obat penginduksi kerusakan hati mengalami penurunan parameter klinik fungsi hati. Tingkat penggunaan obat penginduksi kerusakan hati masih tinggi pada pasien penyakit hati dan sebagian besar diberikan tanpa perlakuan khusus. Diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam untuk mengetahui penggunaan obat penginduksi kerusakan hati.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN HATI PADA PASIEN RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT HATI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA TASIKMALAYA.

PENGGUNAAN OBAT PENGINDUKSI KERUSAKAN HATI PADA PASIEN RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT HATI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA TASIKMALAYA.

Kerusakan hati oleh obat merupakan masalah kesehatan manusia yang serius. Salah satu faktor resikonya ialah adanya penyakit hati. Penelitian observasional ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat penginduksi kerusakan hati pada pasien rawat inap penderita penyakit hati dan dampaknya terhadap perubahan fungsi hati di RSUD kota Tasikmalaya. Data dikumpulkan secara restrospektif pada periode 2010-2011 dari rekam medis pasien dengan populasi total 138 pasien, 82 pasien termasuk kriteria inklusi, 30 pasien diekslusi, total subjek penelitian sebanyak 52 pasien. Sebanyak 50 pasien (96%) menggunakan obat penginduksi kerusakan hati dan 2 pasien (4%) tidak menggunakannya. Obat penginduksi kerusakan hati yang paling banyak digunakan yaitu ranitidin (31,3%), seftriakson (23,1%), dan parasetamol (16,4%). Pasien pengguna obat penginduksi kerusakan hati yang mendapat perlakuan khusus dan yang tidak mendapat perlakuan khusus sebanyak 22 orang (44%) dan 28 (56%). Hanya 31 subjek penelitian yang diketahui perubahan parameter fungsi hatinya. Sebagian besar pasien pengguna obat penginduksi kerusakan hati mengalami penurunan parameter fungsi hati. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan perubahan parameter fungsi hati pada pasien yang mendapat dan yang tidak mendapat perlakuan khusus (AST nilai P=0,686; ALT nilai P=0,410; bilirubin nilai P=0,522). Tingkat penggunaan obat penginduksi kerusakan hati masih tinggi pada pasien penyakit hati yaitu sebanyak 96% dan sebagian besar diberikan tanpa perlakuan khusus yaitu sebanyak 56%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN - Studi penggunaan ranitidin pada pasien sirosis hati rawat inap di RSUD kabupaten Sidoarjo - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN - Studi penggunaan ranitidin pada pasien sirosis hati rawat inap di RSUD kabupaten Sidoarjo - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

%) dan penggunaan ranitidin kombinasi satu paling banyak (2x50 mg) IV dengan pantoprazol (7 tpm) IV (24 %). Kombinasi satu lainnya adalah ranitidin (2x 50 mg) IV dan omeprazol (2x 40 mg) IV (7 %), dan kombinasi ranitidin (2x50mg) IV dan sukralfat (3XCI) PO (11 %). Kombinasi dua ranitidin adalah ranitidin (2x50mg) IV, omeprazole (2x40 mg) IV dan sukralfat (3XCI) PO (3 %), dan ranitidin (2x50mg) IV, omeprazole (2x40 mg) IV dan pantoprazol (7 tpm) IV (3 %), dan dan ranitidin (2x50mg) IV, sukralfat (3XCI) PO dan pantoprazol (14 tpm) IV (7 %).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

53 GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN GASTRITIS

53 GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN GASTRITIS

merokok. Bila di hubungkan dengan tingkat pekerjaan, 43% responden tersebut tidak bekerja,maka dari itu tingkat stres lebih tingi,ternyata hasil penelitian menunjukan tingkat tidak bekerja juga dapat mempengaruhi semua fikiran yang negative.Sehingga dapat disimpulkan jika faktor stres memang menjadi faktor utama atau tertinggi terjadinya kekambuhan gastritis. Selain itu faktor makanan dan obat-obat juga merupakan penyebab kemambuhan gastritis walaupun persentasenya sedang dan rendah. Sehingga untuk meminimalkan terjadinya kekambuhan gastritis di perlukan kondisi rileks dan berfikiran positif untuk menghindari stress.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Kelainan dan Penyakit pada Hati

Kelainan dan Penyakit pada Hati

Hepatitis adalah radang hati yang disebabkan oleh virus. Virus tersebut adalah virus hepatitis A dan hepatitis B. Hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis B lebih berbahaya daripada hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Hepatitis dapat dicegah dengan vaksinasi. Hepatitis dapat menular melalui darah seperti virus HIV.

5 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN GASTRITIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN GASTRITIS

akitifitas saraf simpatik yang dapat merangsang peningkatan produksi asam lambung. Peningakatan HCl ini dirangsang oleh mediator kimia yang dikeluarkan oleh neuron simpatik seperti epinefin sehingga gastritis bisa kambuh. Stres juga dipengaruhi oleh dua system saraf yaitu system saraf simpatetis dan system saraf parasimpatetis. Seseorang yang stres untuk saraf simpatetis akan terangsang akibatnya jantung berdebar lebih cepat, produksi asam naik, dan produksi hormon meningkat, sehingga tubuh akan menanggapi stress dengan mengurangi aliran darah yang mengalir keperut dan pemperlambat proses pencernaan. Pengaruh stres terhadap sistem pencernaan akan berbeda pada setiap orang. Seseorang yang terkena stress bagian tubuh yang lemah yang akan terkena dampaknya.contoh seseorang yang lemah pada daerah lambung maka penyakit gastritis akan kambuh.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pola Penggunaan Obat pada Pasien Sirosis Hati di Instalasi Rawat Inap Bangsal Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta | Virgonita | Majalah Farmaseutik 24078 47740 1 SM

Pola Penggunaan Obat pada Pasien Sirosis Hati di Instalasi Rawat Inap Bangsal Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta | Virgonita | Majalah Farmaseutik 24078 47740 1 SM

Obatobat yang harus dihindari penderita sirosis hati adalah Sedatif (benzodiazepine, opiate), obat-obat yang menginduksi gangguan elektrolit. Gangguan elektrolit antara lain hipokalemia dan hipovolemik (diuretic), obat-obat yang terkait dengan pendarahan atau perubahan fungsi platelet Gangguan hati menyebabkan penurunan atau gangguan produksi factor pembekuan darah, maka resiko pendarahan akan meningkat (obat AINS, warfarin, aspirin), obat yang mempengaruhi enzim hati dan dapat mengganggu gambaran klinis dan dapat meningkatkan resiko toksisitas dari terapi yang bersamaan (rimfamisin dapat meningkatkan hepatotoksisitas INH), obat-obat hepatotoksik ini ini dapat menyebabkan toksisitas terkait dosis dapat menyebabkan toksisitas pada dosis yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pasien yang fungsi hatinya normal. Contoh : parasetamol, isoniasid (Kenward dan Tan, 2003).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Studi penggunaan obat golongan beta bloker pada pasien sirosis hati rawat inap di RSUD Kabupaten Sidoarjo - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Studi penggunaan obat golongan beta bloker pada pasien sirosis hati rawat inap di RSUD Kabupaten Sidoarjo - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Wiranata I. M. 2016. ‘Studi Penggunaan Omeprazole Pada Pasien Sirosis Hati Dengan Hematemesis Melena Rawat Inap di RSUD Sidoarjo’. Skripsi, Sarjana Farmasi, Universitas Widya Mandala. WHO, 2013. Global health estimates summary tablets: Projections of deaths

10 Baca lebih lajut

Association of Aminotransferase Serum Levels with The Degree of Fatty Liver among Obese Adolescents

Association of Aminotransferase Serum Levels with The Degree of Fatty Liver among Obese Adolescents

Penyakit perlemakan hati non alkoholik tidak berkorelasi langsung dengan peningkatan morbiditas atau mortalitas dalam masa yang singkat, tetapi progresifitas dari keadaan ini akan meningkatkan risiko sirosis, gagal hati, dan karsinoma hepatoselular. Oleh karena itu, perlu adanya suatu deteksi penyakit perlemakan hati non alkoholik pada kelompok yang berisiko. Dua belas persen pasien non alcoholic steato hepatitis (NASH) akan berkembang menjadi sirosis dalam waktu lebih dari 8 tahun. 6,7 Di Indonesia,

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...