Top PDF PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, jenis tanah podsolik merah kuning, tinggi tempat 10 m diatas permukaan laut (dpl), dan curah hujan rata-rata 2267 mm/th. Penelitian dimulai Mei 2005 sampai Desember 2011, menggunakan klon IRR 39 tahun tanam 1999/2000 dengan jarak tanam 6 m x 3 m (populasi 555 pohon/ha). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan aplikasi stimulan dan dua ulangan. Pelumasan stimulan lateks dilakukan pada alur sadap (groove application = ga), yaitu dengan cara mengoles stimulan lateks sebanyak 0,5 g/p/aplikasi. Aplikasi dilakukan pada bidang sadap BO-1 pada 5 tahun pertama dan BO-2 pada periode selanjutnya setiap 15 hari sekali (2 kali per bulan) sebanyak 18 kali per tahun. Perlakuan stimulan lateks adalah sebagai berikut: (1) S/2 d3 + Ethrel 2%, (2) S/2 d4 + Ethrel 2%, (3) S/2 d3 + Ethrel 2,5%, (4) S/2 d4 + Ethrel 2,5 %, dan (5) Kontrol (tanpa perlakuan stimulan dengan sistem sadap S/2 d2. Jumlah sampel sebanyak 30 pohon untuk setiap perlakuan dan setiap ulangan, sehingga total tanaman yang digunakan adalah 300 pohon. Tanaman dipupuk secara teratur dua kali setahun sesuai anjuran Balai Penelitian Sembawa.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Hasil penelitian menunujukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dari jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil antara klon PB 260 dan BPM 1 baik pada kulit pulihan maupun kulit perawan. Tetapi diperoleh kesimpulan khusus kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1. Hasil penelitian respons fisiologi dan produksi akibat perlakuan sistem sadap pada dua klon diperoleh bahwa kadar sukrosa lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan klon PB 260. Kadar sukrosa yang tinggi untuk klon BPM 1 menggunakan sistem sadap S/4 d3 ET/15d di bulan lembab, S/2U d ETG/9d (bulan basah) dan S/2U d3ETG/18d (bulan kering). Kadar FA lebih tinggi pada klon BPM 1 dibulan basah (S/2d3ETG/9d). dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan kering (S/2U d3ETG/18d) dan lembab (S/2U d3 ETG/9d) FA PB 260 lebih tinggi. Kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 di bulan basah dan kering (S/2U d3 ETG/9d) dibandingkan BPM 1. Pada bulan lembab perubahan sistem sadap dan stimulan tidak mempengaruhi kadar tiol pada klon PB 260. Kadar Karet Kering di bulan kering (S/4d3ETG/9d) dan lembab (S/2d3ET/15d) klon BPM 1 lebih tunggi dibandingkan PB 260. Kecuali di bulan basah PB 260 lebih tinggi dari BPM 1 (S/2 d3 ETG/9d). Indeks penyumbatan pada klon BPM 1 lebih rendah di bulan basah (S/2U d3 ET/15d), kering (S/4U d3 ETG/9d) dan lembab (S/4 d3 ETG/18d) dibandingkan klon PB 260. Produksi lateks dan indeks produksi pada klon BPM 1 lebih tinggi di bulan lembab dengan sistem sadap S/2U d3ETG/27d dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan basah dan kering (S/2U d3ET/15d) produksi dan indeks produksi tertinggi pada PB 260. Sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d pada klon PB260 pada bulan basah dapat meningkatkan hasil 135,51%. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada klon BPM 1 dapat meningkatkan hasil 39,52% pada bulan kering dan 185,67% pada bulan lembab. Sistem eksploitasi S/2U d3 ETG/27d pada BPM 1 dapat meningkatkan hasil karet sampai 185.67% pada bulan lembab, sedangkan untuk klon PB 260 sistem eksploitasi S/2U d3 ET/15d dapat meningkatkan hasil 135,51% pada bulan basah. Selama satu tahun pengujian pemberian semua perlakuan stimulan pada klon
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PENGARUH STIMULAN ETEFON TERHADAP PRODUKSI DAN FISIOLOGI LATEKS BERBAGAI KLON IRR

PENGARUH STIMULAN ETEFON TERHADAP PRODUKSI DAN FISIOLOGI LATEKS BERBAGAI KLON IRR

Secara umum prinsip pemanenan tanaman karet adalah untuk mendapatkan produksi maksimal dan berkesinambungan. Artinya tanaman karet diharapkan mampu mengeluarkan lateks secara terus-menerus tanpa mengalami gangguan. Gangguan yang umum terjadi yaitu tidak keluarnya lateks saat dilakukan penyadapan yang sering disebut dengan istilah kering alur sadap (KAS). Salah satu faktor yang memicu terjadi KAS adalah penggunaan stimulan yang berlebihan. Aplikasi stimulan telah lama diterapkan pada perkebunan karet untuk mengoptimalkan keuntungan. Salah satu keuntungan penggunaan stimulan adalah penurunan frekuensi sadap sehingga dengan produktivitas yang sama, tenaga kerja lebih efisien.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24

PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24

sampai September 2011. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan sistem sadap dan empat ulangan, menggunakan klon BPM 24 tahun tanam 1997 berumur 13 tahun. Penyadapan telah dilakukan sejak 2002 dengan sistem sadap S/2 d3 ET2,5% 10/y(m). Perlakuan antara lain S/4 U d3 6d/7 ETG 40/y (w), S/4 U d3 6d/7 ETG 20/y (2w), S/4 U d3 6d/7 ETG 10/y (m), S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 40/y (w), dan S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Hasil penelitian menunjukkan dengan frekuensi stimulan gas yang tepat diharapkan produksi tanaman karet dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan tanaman. Stimulan gas dapat meningkatkan produksi sebesar 66,1-76,2% dibanding stimulan etefon S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap produksi, kondisi fisiologis, dan kesehatan tanaman, pengisian gas ke dalam aplikator dilakukan setiap 2 minggu dan panel dipindahkan setiap 3 bulan untuk menghindari menurunnya produksi akibat “kelelahan” panel sadap.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen, stimulan tersebut memiliki respon yang berbeda pada setiap klon, pemberian yang tidak optimal dapat menyebabkan penyakit kering alur sadap (KAS), dan ethrel sulit dikonsumsi oleh petani rakyat, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Penggunaan stimulan alternatif karena stimulan tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat memacu metabolisme lateks dalam peningkatan produksi pada tanaman karet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada beberapa klon tanaman karet terhadap pemberian berbagai sumber hormon etilen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama, waktu aplikasi kedua, waktu aplikasi ketiga, dan waktu aplikasi keempat, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118, klon PB 260, klon klon IRR 42, klon IRR 39 dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, etephon ethrel, etephon SP1, ekstrak kulit pisang, dan ekstrak kulit nenas. Pengamatan parameter adalah volume lateks, kadar padatan total, dan total produksi.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

KETAHANAN LAPANGAN TANAMAN KARET KLON IRR SERI 100 TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING PENYAKIT GUGUR DAUN

KETAHANAN LAPANGAN TANAMAN KARET KLON IRR SERI 100 TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING PENYAKIT GUGUR DAUN

Penggunaan klon atau varietas unggul yang resisten merupakan salah satu strategi pengendalian penyakit yang murah dan ramah lingkungan untuk mencegah epidemi dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit. Penggunaan pestisida dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan seperti menurunnya populasi organisme musuh alami (Supriadi, 2013). Di Indonesia perakitan klon karet unggul baru penghasil lateks tinggi dan tahan penyakit gugur daun, menjadi program utama dalam pemuliaan karet dengan memanfaatkan berbagai sumber genetik berupa kultivar karet tahan penyakit gugur daun sebagai tetua persilangan. Pengembangan klon karet unggul baru ke berbagai wilayah penanaman yang merupakan endemi penyakit gugur daun akan menjadi hambatan jika klon yang ditanam ternyata rentan terhadap gangguan penyakit tersebut. Perkembangan penyakit dikontrol secara genetik. Dasar genetik dari interaksi inang (klon karet) dan patogen merupakan suatu sistem keterkaitan antara respons gen terhadap patogenisitas patogen. Penyakit gugur daun utama yang selalu menyerang tanaman karet disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae dan Corynespora cassiicola. Ketiga penyakit daun tersebut merupakan penyakit penting karena dapat menyerang tanaman
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Phylogenetic Analysis of Rubber Tree Clones using AFLP (Amplified Fragment Length Polymorphism) Marker

Phylogenetic Analysis of Rubber Tree Clones using AFLP (Amplified Fragment Length Polymorphism) Marker

yang diperoleh dari primer yang digunakan dan jumlah lokus yang dihasilkan, serta rendahnya tingkat diferensiasi dalam analisis dendrogram klon karet. Dengan demikian hasil setiap kelompok klon karet kurang terpisah dengan baik. Pada penelitian ini digunakan marka AFLP (Amplified Fragment Length Polymorphism) karena memiliki tingkat pengulangan dengan derajat kekonsistenan hasil yang tinggi, dapat membedakan homozigot dan heterozigot (Wooten et al. 2009), keragaman tanaman dengan pola sidik jari DNA spesifik (Tajuddin et al. 2012) serta biaya awal (start-up cost) yang tidak begitu mahal dan tidak membutuhkan informasi sekuens awal dibanding SSR dan SNP (Jiang 2013). Marka AFLP juga telah digunakan pada tanaman karet (Nurhaimi-Haris et al. 2003; Xiao et al. 2009; Roy et al. 2012; Tang et al. 2013). Menurut Kuck et al. (2012) kelebihan dari marka AFLP dapat mendeteksi variasi dan keragaman genetik antar populasi, individu, serta spesies berdasarkan perbedaan letak basa tertentu dari marka DNA dalam genom tanaman.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

9. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan kepada Pimpinan PTPN III Sungai Putih dan Balai Penelitian Sungai Putih atas izin lokasi pengujian stimulan gas di kebun karet ADF II dan III. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada staf karyawan dan para teknisi Balai Penelitian Sungai Putih yang terlibat dalam kegiatan pengamatan dan pengambilan data selama pengujian diucapkan terimaksih dan penghargaan yang setinggi- tingginya.

18 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Karet alam merupakan salah satu komoditas perkebunan yang dapat memberikan kontribusi dalam devisa negara dari sektor non migas. Karet juga merupakan sumber penghasilan hidup bagi banyak petani. Produksi karet alam Indonesia mengalami peningkatan dari 2.990 juta ton pada tahun 2011 menjadi 3.040 juta ton pada tahun 2012 (Ditjenbun, 2012).

8 Baca lebih lajut

RESISTENSI TANAMAN KARET KLON IRR SERI 300 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA

RESISTENSI TANAMAN KARET KLON IRR SERI 300 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA

p e n u r u n a n p r o d u k s i l a t e k s p a d a perkebunan karet. Salah satu tahapan penting untuk melepaskan klon karet baru adalah mengidentifikasi karakter sekunder seperti resistensi terhadap penyakit. Pengujian resistensi klon karet IRR seri 300 dilakukan di laboratorium dan rumah kaca dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor yaitu faktor jenis (genotipe) klon (26 jenis klon) dan isolat C. cassiicola (3 isolat). Selain itu, pengamatan serangan penyakit secara langsung juga d i l a k u k a n p a d a t a n a m a n b e l u m menghasilkan di lapangan. Hasil pengujian menunjukkan semua isolat C. cassiicola berpengaruh nyata terhadap resistensi 26 klon IRR seri 300 baik di laboratorium maupun di rumah kaca. Hasil pengamatan pada tiga kegiatan menunjukkan bahwa 13 klon karet yaitu IRR 301, IRR 302, IRR 303, IRR 304, IRR 305, IRR 307, IRR 308, IRR 309, IRR 312, IRR 315, IRR 316, IRR 318, dan IRR 323 memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap penyakit gugur daun Corynespora.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN SENI TARI BERBASIS LINGKUNGAN BUDAYA : Studi Aplikatif Materi Penyadapan Seni Tradisi Daerah Setempat Oleh Siswa Kelas XI SMAN Rancakalong Kabupaten Sumedang.

PEMBELAJARAN SENI TARI BERBASIS LINGKUNGAN BUDAYA : Studi Aplikatif Materi Penyadapan Seni Tradisi Daerah Setempat Oleh Siswa Kelas XI SMAN Rancakalong Kabupaten Sumedang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mencoba memahami permasalahan, penalaran dan definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan proses dibandingkan dengan hasil akhir. Oleh karena itu, urutan kegiatan dapat berubah- ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Pendekatan kualitatif berfokus pada verifikasi dalam pembentukan sebuah teori dan definisi a priori dari konsep dasar atau hipotesis atau teori dasar yang berdasarkan pada data seutuhnya di lapangan (grounded theory). Pendekatan ini ditempuh dengan strategi analisis komparatif secara berulang-ulang untuk menemukan konsep dan hipotesis (Alwasilah, 2009:44).
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI STIMULAN TERHADAP FISIOLOGI LATEKS BEBERAPA KLON TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUELL ARG) Influence of Stimulant Concentrations on Latex Physiology of Several Rubber Clones (Hevea brasiliensis, Muell Arg)

PENGARUH KONSENTRASI STIMULAN TERHADAP FISIOLOGI LATEKS BEBERAPA KLON TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUELL ARG) Influence of Stimulant Concentrations on Latex Physiology of Several Rubber Clones (Hevea brasiliensis, Muell Arg)

Stimulant is one of means to increase latex production in rubber plant. Stimulant usage without considering the clone characteristics can lead to physiological fatigue. This study aimed at determining the effect of stimulant concentration on latex physiology in several clones. This study was carried out in. Promotion plot area (PP/ 07/03) planted in 2004 in the Experimental Garden of Sungei Putih Research Center. A Nested Design applied with the first treatment was clones (IRR 412, IRR 417, IRR 420, IRR 406, PB 260 and BPM 24). The second treatment was stimulant concentrations consisted of three levels i.e. S0 (without stimulant), S1 (ethephon 2.5%), and S2 (ethephon 5%). The results showed that increasing the stimulants concentration can increase yield, thiol content and inorganic phosphate, but decrease dry rubber content and sucrose content. Plugging index was significantly affected by stimulant concentration and interaction between clones and stimulants. Of the six clones tested, IRR 412, IRR 406, and BPM 24 had high response to stimulant, classified as responsive clones. While IRR 417, IRR 420 and PB 260 had low response, classified as less responsive clones.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet umumnya menggunakan stimulan ethrel yang memiliki kandungan hormon etilen kimiawi, sementara ethrel sulit didapat oleh petani karena harganya yang mahal, oleh sebab itu dibutuhkan perlakuan stimulan alternatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda pada klon tanaman karet metabolisme tinggi terhadap pemberian hormon etilen organik kulit pisang dalam berbagai konsentrasi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai pada bulan September 2015 hingga Februari 2016 di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Tersarang Tiga Step dengan tiga ulangan. Step pertama yaitu waktu aplikasi terdiri dari waktu aplikasi pertama dan waktu aplikasi kedua, step kedua yaitu perlakuan klon terdiri dari klon IRR 118 dan klon PB 260dan step ketiga yaitu stimulan terdiri dari tanpa stimulan, 50, 100, 150, dan 200 g stimulan etilen ekstrak kulit pisang. Pengamatan parameter adalah berat lateks, kadar padatan total dan total produksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang .

16 Baca lebih lajut

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Penggunaan stimulan yang berlebihan dapat mengakibatkan kering alur sadap (KAS) yaitu tidak mengalirnya lateks ketika dilakukan penyadapan (Tistama dan Siregar, 2005), serta mahalnya harga etephon seperti Ethrel di pasaran yaitu Rp. 355.000/gallon ( 3,785 liter) menyebabkan petani karet rakyat tidak mampu menggunakan stimulan. Menurut Sinamo et al., (2015) ekstrak kulit pisang adalah stimulan yang dapat meningkatkan produksi lateks lebih tinggi daripada perlakuan ektrak nenas dan tanpa stimulant pada penyadapan pertama, dengan volume lateks yang diperoleh stimulan ekstrak kulit pisang adalah sebesar 63.93 ml, dan kulit nenas sebesar 52.24 ml, sedangkan tanpa stimulan hanya sebesar 50.82 ml.Pemberian stimulan ekstrak kulit buah pisang nyata dalam meningkatkan produksi lateks dari pada tanpa stimulan. Stimulan alternatif dari kulit buah pisang dapat mensubstitusi etilen sintetis (kimia) dan diharapkan dapat berdampak menghindari penyakit kering alur sadap.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

a. Respon terhadap stimulan : kurang b. Ketahanan terhadap angin : sedang c. Ketahanan terhadap KAS : kurang d. Resistensi terhadap oidium : resisten e. Resistensi terhadap colletotrichum : resisten f. Resistensi terhadap corynespora : resisten

19 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Sumarmadji. 2011. Sistem Eksploitasi Tanaman berdasarkan Tipologi Klon (QS dan SS) dan Alternatif Sistem Eksploitasi lainnya (Expex-315 dan SS-CUT). Workshop Penggunaan Klon Unggul Baru dan Sistem Eksploitasi Tanaman Karet yang Tepat dalam Menghadapi Peningkatan Karet Alam Dunia. Medan 6 – 9 Desember 2011.

12 Baca lebih lajut

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas

Pemberian stimulan berpengaruh terhadap fisiologis tanaman karet antara lain: 1). membuat dinding sel elastis, 2). mempercepat dan meningkatkan aktivitas enzim dalam biosintetis lateks, dan 3). membuat daerah aliran lateks menjadi semakin cepat. Ketiga peran stimulan tersebut berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan aliran lateks sehingga lateks yang dihasilkan lebih banyak (Eschbach dan Lacrotte, 1989). Penggunaan stimulan sangat penting untuk memperpanjang lama aliran lateks pada tanaman karet. Stimulan dapat meningkatkan produksi lateks dengan cara memperlama aliran lateks, karena penyumbatan pembuluh lateks dapat ditekan (Jacob et al .,1989).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

OPTIMASI PRODUKSI KLON IRR SERI 200 DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA SISTEM SADAP DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

OPTIMASI PRODUKSI KLON IRR SERI 200 DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA SISTEM SADAP DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

Sebelum klon unggul baru direkomen- dasikan untuk ditanam secara luas, klon tersebut terlebih dahulu harus diuji melalui beberapa tahapan seleksi pemuliaan tanaman karet. Proses seleksi dalam pemuliaan karet dilakukan secara bertahap yang dimulai dengan memilih genotipe terbaik dari sumber-sumber yang ada atau menyeleksi semaian hasil persilangan di pembibitan atau di Seedling Evalution Trial (SET) kemudian klon-klon tersebut diperbanyak secara vegetatif dan kemudian dievaluasi pada beberapa tahapan berikutnya, yaitu pengujian pendahuluan, pengujian lanjutan, dan pengujian adaptasi (Ginting, 1984; Aidi-Daslin, 2004). Waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Kulit Pisang di Bawah Bidang Sadap

produksi, jarak antar waktu aplikasi metode ½S d/3 pada percobaan ini menghasilkan perbedaan yang tidak nyata antara waktu aplikasi pertama dan kedua dan dosis yang diberikan pada kedua waktu aplikasi adalah sama oleh karenanya setiap pemberian stimulan terhadap batang karet memiliki efek yang sama jika diberikan pada kurun waktu tertentu. Waktu aplikasi yang tepat pada bidang sadap memberikan peningkatan produksi lateks yang optimal. Hal ini didukung oleh Tistama (2013) yang menyatakan bahwa fungsi pemberianstimulan etilen dalam rangka meningkatkan produktifitas tanaman karet telah dilakukan secara luas di perkebunan karet sejak dekade 1970-an. Dengan pemberian waktu stimulan yang tepat, produksi tanaman karet dapat ditingkatkan, dimana etilen berperan di dalam jaringan kulit Hevea mengatur dua jalur utama peningkatan produksi lateks yaitu peningkatan sintesis karet dan memperpanjang lama aliran lateks.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...