Top PDF Penggunaan Teknologi Kolam (Pond)-biofilm Untuk Mengurangi Konsentrasi Amoniak Dalam Limbah Cair Tapioka Dengan Media Biofilter Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Tempurung Kelapa

Penggunaan Teknologi Kolam (Pond)-biofilm Untuk Mengurangi Konsentrasi Amoniak Dalam Limbah Cair Tapioka Dengan Media Biofilter Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Tempurung Kelapa

Penggunaan Teknologi Kolam (Pond)-biofilm Untuk Mengurangi Konsentrasi Amoniak Dalam Limbah Cair Tapioka Dengan Media Biofilter Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Tempurung Kelapa

The pollution impact of tapioca industries are influenced for the society who are around the area of the tapioca industries. The content of pollutants, especially ammonia with high concentrations can cause environmental pollution and death of aquatic organisms because ammonia is caustic. Before being used in the tapioca wastewater treatment, honeycomb pvc pipe and coconut shell as biofilter medias are made of acclimatization during 45 days. After the acclimatization process, tapioca wastewater is replaced with new one for running process and then followed by a test phase velocity reduction rate of the compound NH3, NO2 and NO3 by biofilm layer formed during acclimatization. The results pointed a high reduction efficiency on Ammonia, Nitrite and Nitrate by 89.40%, 99.06%, 99.09% at 5 hours of time detention in the drum reactor. The efficiency of reducing the concentration of Ammonia, Nitrite, Nitrate in tapioca waste by using honeycomb pvc pipe and coconut shell as biofilter medias have fulfilled quality standards as regulated by the Central Java No.5 of 2012 amounted to 20 mg / l for ammonia, 20 mg / l for nitrite and 1 mg / l for nitrates. After treating by a pond - biofilms, tapioca waste results are14,120 mg / l, 0.328 mg / l and 0.714 mg / l.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penurunan Konsentrasi Amonia, Nitrat, Nitrit Dan Cod Dalam Limbah Cair Tahu Dengan Menggunakan Biofilm – Kolam (Pond) Media Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Tempurung Kelapa Disertai Penambahan Ecotru

Penurunan Konsentrasi Amonia, Nitrat, Nitrit Dan Cod Dalam Limbah Cair Tahu Dengan Menggunakan Biofilm – Kolam (Pond) Media Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Tempurung Kelapa Disertai Penambahan Ecotru

Dengan membandingkan penelitian sebelumnya, penelitian ini memiliki efisiensi penurunan konsentrasi nitrat pada reaktor kolam dan reaktor drum yang mencapai 84,01% dan 79,27% menunjukkan bahwa proses pengolahan limbah cair tahu dengan kolam (pond)-biofilm media biofilter pipa pvc sarang tawon dan tempurung kelapa disertai penambahan lumpur IPAL Tahu dan Ecotru. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme yang melekat pada media biofilter pipa pvc sarang tawon dan tempurung kelapa maupun mikroorganisme pertumbuhan tersuspensi mampu menurunkan konsentrasi nitrat pada kondisi anaerobik, nitrat direduksi menjadi nitrit yang selanjutnya hasil reduksi tersebut dilepaskan sebagai gas nitrogen (Herlambang dan Marsidi, 2003).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENURUNAN KONSENTRASI AMONIA, NITRAT, NITRIT DAN COD DALAM LIMBAH CAIR TAHU DENGAN MENGGUNAKAN BIOFILM KOLAM (POND)

PENURUNAN KONSENTRASI AMONIA, NITRAT, NITRIT DAN COD DALAM LIMBAH CAIR TAHU DENGAN MENGGUNAKAN BIOFILM KOLAM (POND)

Dengan membandingkan penelitian sebelumnya, penelitian ini memiliki efisiensi penurunan konsentrasi nitrat pada reaktor kolam dan reaktor drum yang mencapai 84,01% dan 79,27% menunjukkan bahwa proses pengolahan limbah cair tahu dengan kolam (pond)-biofilm media biofilter pipa pvc sarang tawon dan tempurung kelapa disertai penambahan lumpur IPAL Tahu dan Ecotru. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme yang melekat pada media biofilter pipa pvc sarang tawon dan tempurung kelapa maupun mikroorganisme pertumbuhan tersuspensi mampu menurunkan konsentrasi nitrat pada kondisi anaerobik, nitrat direduksi menjadi nitrit yang selanjutnya hasil reduksi tersebut dilepaskan sebagai gas nitrogen (Herlambang dan Marsidi, 2003).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Penurunan Konsentrasi Amoniak Dalam Limbah Cair Domestik Dengan Teknologi Kolam ( Pond ) - Biofilm Menggunakan Media Biofilter Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Bata Ringan

Penurunan Konsentrasi Amoniak Dalam Limbah Cair Domestik Dengan Teknologi Kolam ( Pond ) - Biofilm Menggunakan Media Biofilter Pipa Pvc Sarang Tawon Dan Bata Ringan

The goal to treat domestic wastewater are optimal, economical treatment, and reducing the concentration of Amoniak, nitrate and nitrite as parameters that can cause death to aquatic life. One alternative of domestic wastewater treatment is pond - biofilm technology. This research has two stages, they are acclimatization and running test for reducing compounds in Amoniak, nitrite and nitrate. Acclimatization is the effort of microorganisms to adapt to the new environment. In the process of acclimatization occurs stages of biofilm formation. Domestic wastewater discharge on acclimatization is set at 3 liters / min. The process of acclimatization runs for 45 days. After 45 days of acclimatization process is complete, domestic wastewater is replaced with new one. The calculation of the rate of reducing the compound NH 3 , NO 2 and NO 3 is conducted to test the ability of biofilms
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Tempurung

Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Tempurung

Warna. Hasil analisis statistik menunjukkan, konsentrasi asap cair berpengaruh tidak nyata terhadap warna daging. Skor warna daging tertinggi pada konsentrasi 12% yaitu 2,11 sedangkan skor terendah pada konsentrasi 0% yaitu 1,66. Rerata hasil uji sensoris terhadap daging pada berbagai konsentrasi asap cair dan lama penyimpanan di- sajikan pada Tabel 4. Warna daging berkisar antara merah agak gelap sampai merah gelap. Semakin tinggi konsentrasi asap cair maka warna daging menjadi merah agak gelap. Warna gelap yang terjadi pada produk asapan merupakan hasil reaksi non-enzimatik, melalui reaksi kondensasi antara karbonil dan dikarbonil dalam asap dengan asam- asam amino protein dan asam amino bebas dalam produk pangan. Kandungan karbonil dan dikarbonil masing-masing asap cair sangat berbeda sehingga potensi pencoklatannya pun berbeda (Darmadji, 1999). Skor warna daging selama penyimpanan hingga 4 hari yaitu 1 sampai 3,15. Skor warna daging semakin menurun seiring dengan lama penyimpanan. Semakin lama penyimpanan warna daging semakin merah gelap, disebabkan karena pertumbuhan mikroba pada daging dapat menyebabkan perubahan warna menjadi merah gelap. Perubahan warna disebabkan oleh perubahan atau destruksi pigmen daging. Mioglobin dapat dioksidasi menjadi metmioglobin yang coklat, dan dapat bercampur dengan H 2 S yang diproduksi oleh
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Efektivitas Asap Cair Dari Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Biopestisida Benih Di Gudang Penyimpanan

Efektivitas Asap Cair Dari Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Biopestisida Benih Di Gudang Penyimpanan

Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan bahan bioaktif yang spektrum aktivitasnya sempit dan mudah terdegradasi sehingga diharapkan tidak mencemari lingkungan (Soetarno, 1994). Pengendalian organisme pengganggu benih dengan menggunakan asap cair dari limbah kayu belum pernah dicoba. Asap cair merupakan hasil kondensasi asap melalui proses pirolisis kayu pada suhu sekitar 400 C (Soldera , 2008). Asap cair mengandung berbagai komponen kimia seperti fenol, aldehid, keton, asam organik, alkohol dan ester (Guillen , 2001). Senyawa fenol, asam dan alkohol dapat berperan sebagai antioksidan dan antimikroba (antibakteri dan antifungi) (Karseno , 2002). Dengan demikian asap cair berpotensi sebagai biopestida untuk menangani masalah gangguan patogen benih di gudang penyimpan. Terkait dengan segala uraian, telah dilakukan percobaan efektivitas pemanfaatan asap cair dari limbah tempurung kelapa sebagai biopestisida benih di gudang penyimpan, dengan rincian diuraikan berikut ini
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Tempurung

Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Tempurung

Penggunaan asap cair tempurung kelapa sebagai bahan desinfektan belum mampu meningkatkan daya tetas pada telur itik. Hal tersebut membawa suatu pengertian, bahwa perbedaan kondisi kerabang telur itik tetas turut berperan. Kondisi kerabang telur yang baik diperoleh dari telur yang memiliki nilai Specific Gravity diatas 1,080.Rata-rata nilai SG telur itik adalah 1,083 (Romanoff dan Romanoff, 1963).Semakin besar unggas maka telur yang dihasilkan semakin berat dan semakin tebal pula kerabang telur yang dihasilkan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Teknologi Terapan Pemanfaatan Limbah Cair Pencucian Kendaraan dengan Metode Koagulasi dan Biofilter Multimedia

Teknologi Terapan Pemanfaatan Limbah Cair Pencucian Kendaraan dengan Metode Koagulasi dan Biofilter Multimedia

molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan di tangkap akan tetapi umnya tidak stabil. Hal ini disebabkan oleh larutnya kembali ion- ion Al3+ dan juga terbentuknya garam- garam sulfat terlarut yang dihasilkan oleh hidrolisis tawas. Pada tahap selanjutnya tahap biofilter multimedia memberi andil dalam penurunanan kadar detergen limbah pencucian kendaraan yang diolah. Detergen merupakan suatu derivatik zat organik sehingga akumulasinya menyebabkan meningkatnya COD dan BOD dan angka permanganate sehingga dalam pengolahannya sangat cocok menggunakan teknik biologi, teknik pengolahan secara biologi yaitu dengan bantuan bakteri, koagulasi-flokulasi- flotasi, adsorpsi karbon aktif, dan lumpur aktif.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MEDIA BIOBALL DAN TANAMAN KAYU APU (Pistia stratiotes) SEBAGAI BIOFILTER AEROBIK PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA

PENGGUNAAN MEDIA BIOBALL DAN TANAMAN KAYU APU (Pistia stratiotes) SEBAGAI BIOFILTER AEROBIK PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA

Household liquid waste, which is the residue from the activities of soapy water or bathing water, detergent water from washing clothes, faeces, washing water from cooking utensils containing oil in the settlement. This liquid waste problem needs to get serious attention, because it has complex characteristics and can disturb the health of the environment. One of the efforts to manage the environment is the processing of household wastewater through a series of physical and biological treatments, namely the aerobic biofilter process and using plant bioindicators, namely apu wood (Pistia stratiotes) which is able to absorb various heavy metals such as Fe, Zn, Cu, Cr, and Cd. Domestic wastewater used in this study was greywater, it was from kitchen activities. The purpose of this study was to determine the efficiency of reducing BOD, TSS, and fat oil in residual waste resulting from household activities by processing aerobic biofilter using bioball media and apu wood plants. The process of this research included the process of bacterial culture (seeding) for ± 2 (two) weeks and then proceeded by replacing new waste in the reactor for 5 (five) days at the biofilter reactor in which there was a bioball media and apu wood plants with downward and upward flow using a reactor made of glass with certain dimensions with a discharge of 0.35 ml/sec. The process results in a reduction efficiency of BOD of 70.51% from an initial BOD concentration of 300 mg/L to 88.49 mg/L. The efficiency of reducing TSS was 74.97% from the initial concentration of TSS 321 mg/L to 80.33 mg/L. In addition, the efficiency of reducing fat oil was 73.20% from the initial concentration of fatty oil 300.36 mg/L to 80.51 mg/L, so it can be explained that processing with bioball and apu wood plants can reduce the parameters of BOD, TSS, and fat oil, but the value was still above the standard quality of Minister of Environment Regulation No. 68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kolam Kembang Perairan (KKP) Untuk Mengurangi Kadar Limbah Organik Cair Dari Buangan Limbah Rumah Tangga di Wilayah Bogor

Kolam Kembang Perairan (KKP) Untuk Mengurangi Kadar Limbah Organik Cair Dari Buangan Limbah Rumah Tangga di Wilayah Bogor

Kondisi tersebut tentu merugikan berbagai pihak terutama masyarakat yang hidup disekitar pinggiran sungai, karena air sungai merupakan salah satu kebutuhan paling utama untuk kehidupan selain untuk kebutuhan kebersihan mereka juga terkadang menggunakan air sungai untuk mencuci beras atau bahkan air minum sehari-sehari. Hal ini tentu saja bukan suatu hal baik, karena kesehatan orang yang mengkonsumsi air dari sungai yang tercemar tersebut akan terancam. Bukan hanya kandungan bakteri dalam air sungai yang tercemar namun juga bahaya pencemar lain seperti logam berat, ataupun bahan beracun lain. Keterangan biologis diperlukan untuk mengukur kualitas air terutama bagi air yang dipergunakan sebagai air minum serta untuk keperluan kolam renang(5).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DALAM PENGAWETAN IKAN BANDENG

PENGGUNAAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DALAM PENGAWETAN IKAN BANDENG

Masalah yang sering dihadapi oleh petani ikan bandeng adalah penanganan ikan bandeng paska panen. Produk ikan seperti ikan bandeng hanya dapat bertahan selama 24 jam saja tanpa proses pengawetan. Susunan jaringan tubuh yang longgar, kandungan air yang cukup tinggi dan kandungan nutrisi yang lengkap sebagai media pertumbuhan mikroba menyebabkan ikan bandeng mudah mengalami kerusakan (perishable food), ikan bandeng mempunyai nilai gizi yang tinggi, namun ikan bandeng juga banyak mengandung duri sehingga kurang diminati masyarakat. Selain itu ada juga ikan bandeng yang berbau tanah, akan mengurangi cita rasa ikan kendati telah dibuat dalam bentuk olahan. Ikan bandeng yang berbau tanah juga sangat tidak disukai oleh banyak kalangan sehingga penggunaannya hanya sedikit (Anonim, 2012).
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Rancang Bangun Alat Pirolisis Untuk Pembuatan Asap Cair dengan Memanfaatkan Limbah Tempurung Kelapa

Rancang Bangun Alat Pirolisis Untuk Pembuatan Asap Cair dengan Memanfaatkan Limbah Tempurung Kelapa

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan ternyata asap cair bisa digunakan sebagai bahan pengawet alami. Pelzar and Chan (1995) menyatakan senyawa yang mendukung sifat antibakteri dari asap cair adalah senyawa fenol dan asam. Senyawa fenol menghambat pertumbuhan bakteri dengan memperpanjang fase lag secara proporsional di dalam sel. Selain itu Balai Penelitian Sembawa sebagai Pusat Penelitian Karet (2002) melaporkan bahwa asap cair bisa digunakan untuk mempersingkat waktu pengolahan karet Ribbed Smoked Sheet (RSS), secara konvesional memerlukan waktu 5-6 hari dipersingkat hanya 36 jam dengan menghemat kayu bakar sebanyak 2,45 m 3 perton karet serta ramah lingkungan karena dapat mengurangi polusi udara akibat pembakaran pada pengolahan RSS secara konvensional.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Pembuatan Lem Pipa PVC dari Limbah Polystryrene.

Pembuatan Lem Pipa PVC dari Limbah Polystryrene.

Penggunaan plastik ini mengakibatkan ketergantungan masyarakat dunia, sehingga limbah dari polycarbonate lama kelamaan akan menumpuk dan mengakibatkan pencemaran lingkungan, terutama p[r]

2 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Asap Cair Limbah Tempurung Kelapa Sebagai  Alternatif Koagulan Lateks

Pemanfaatan Asap Cair Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Alternatif Koagulan Lateks

Komposisi kimia lateks sangat cocok dan baik sebagai media tumbuh mikroorganisme, sehingga apabila tidak dilakukan pengolahan yang baik setelah penyadapan maka akan dicemari berbagai mikroba dan kotoran yang berakibat pada penurunan kualitas mutu lateks. Pemberian asam seperti asap cair akan mempercepat proses koagulasi dan memperbaiki mutu karet karena kandungan senyawa asam, karbonil dan fenol yang dapat sebagai antibakteri dan antioksidan. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan Darmadji, dkk (1999) yang menyatakan bahwa pirolisis tempurung kelapa menghasilkan asap cair dengan kandungan senyawa fenol sebesar 4,13 %, karbonil 11,3 % dan asam 10,2 %. Aplikasi asap cair dalam pengolahan RSS dengan skala pabrik dapat berfungsi sebagai pembeku dan pengawet dalam pengolahan RSS.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS KONSENTRASI ASAP CAIR (LIQUID SMOKE) DARI TEMPURUNG KELAPA TERHADAP ANGKA KUMAN PADA TAHU

EFEKTIFITAS KONSENTRASI ASAP CAIR (LIQUID SMOKE) DARI TEMPURUNG KELAPA TERHADAP ANGKA KUMAN PADA TAHU

karena memiliki fungsi utama yaitu sebagai peng- hambat perkembangan bakteri. Pengawetan dengan asap cair memiliki beberapa keunggulan antara lain yaitu lebih ramah dengan lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran udara, bisa diaplikasi se- cara cepat dan mudah, tidak membutuhkan instalasi pengasapan, peralatan yang digunakan lebih seder- hana dan mudah dibersihkan, konsentrasi asap cair yang digunakan bisa disesuaikan dengan yang dike- hendaki, senyawa-senyawa penting yang bersifat vol- atil mudah dikendalikan (Amritama, 2007). Produk yang dihasilkan mempunyai kenampakan seragam, berperan dalam pembentukan senyawa sensoris ser- ta memberikan jaminan keamanan pangan (Winarno, 2010).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA IKAN SEGAR

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA IKAN SEGAR

Menurut Girard (1992), dua senyawa utama dalam asap cair yang diketahui mempunyai efek bakterisidal/ bakteriostatik adalah fenol dan asam- asam organik. Kombinasi antara komponen fungsional fenol dan asam- asam organik yang bekerja secara sinergis mencegah dan mengontrol pertumbuhan mikroba (Pszczola dan Astuti, 2000). Pada asap cair dapat mempengaruhi flavor, pH dan daya simpan produk, karbonil yang akan bereaksi dengan protein dan menghasilkan warna produk dan fenol yang merupakan sumber utama dari flavor dan menunjukkan aktivitas bakteriostatik dan antioksidan. Tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini adalah menentukan lama waktu penjemuran bahan baku untuk pembuatan asap cair yang bermutu pada ikan segar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengolahan Limbah Cair Domestik dengan Biofilter Aerob Menggunakan Media Bioball dan Tanaman Kiambang

Pengolahan Limbah Cair Domestik dengan Biofilter Aerob Menggunakan Media Bioball dan Tanaman Kiambang

Air limbah domestik (greywater) merupakan air buangan yang berasal dari kegiatan dapur, toilet, wastafel dan sebagainya yang jika langsung dibuang ke lingkungan tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu akan menyebabkan pencemaran dan dampak terhadap kehidupan di air. Salah satu upaya dalam mengelola limbah domestik yaitu dengan pengolahan biofilter aerob menggunakan media bioball dan tanaman kiambang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efisiensi penurunan BOD, minyak dan lemak pada limbah rumah makan dengan pengolahan biofilter aerob menggunakan media bioball dan tanaman kiambang. Proses penelitian ini meliputi proses pembiakan bakteri (seeding) selama 2 minggu, dilanjutkan dengan aklimatisasi selama 3 hari dengan arah aliran down flowtup flow dan dilakukan secara duplo di Laboratorium menggunakan reaktor yang terbuat dari kaca dengan dimensi tertentu, bioball dan tanaman kiambang dan debit 0,34 ml/detik menghasilkan efisiensi penurunan BOD sebesar 68,98% dari konsentrasi awal BOD 785,5 mg/l menjadi 235,29 mg/l. Sedangkan efisiensi penurunan minyak lemak sebesar 96,60% dari konsentrasi awal 5213 mg/l menjadi 177,5 mg/l. Dari hasil penelitian yang dilakukan, pengolahan dengan bioball dan tanaman kiambang mampu menurunkan parameter khususnya BOD dan minyak lemak, tetapi nilai tersebut masih diatas baku mutu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN BIOFILTER AEROB MENGGUNAKAN MEDIA BIOBALL DAN TANAMAN KIAMBANG

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN BIOFILTER AEROB MENGGUNAKAN MEDIA BIOBALL DAN TANAMAN KIAMBANG

Adanya aktivitas mikroorganisme yang tumbuh pada media bioball dalam reaktor mendegradasi sebagian besar bahan organik dalam air limbah, tentu akan mempengaruhi konsentrasi Minyak Lemak pada awal penelitian. Menurut Nababan (2008), bakteri memiliki peran yang sangat penting dalam biodegradasi limbah minyak, sehingga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri juga berdampak pada keberhasilan proses biodegradasi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses biodegradasi antara lain suhu, pH, keadaan nutrisi, dan ketersediaan O2. Sedangkan pada tanaman, akar tanaman berfungsi sebagai filtrasi dan mampu mengadsorpsi padatan tersuspensi serta tempat hidup mikroorrganisme yang mampu menghilangkan unsur hara.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kajian Penggunaan Asap Cair Tempurung Kelapa terhadap Daya Awet Bakso Ikan

Kajian Penggunaan Asap Cair Tempurung Kelapa terhadap Daya Awet Bakso Ikan

Pengujian aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa menggunakan Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa sebagai bakteri uji. Kedua jenis ini mewakili jenis bakteri Gram negatif dan Gram positif, selain ikut berperan dalam kontaminasi dan kerusakan makanan. S. aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk kokus dengan diameter 0,7-0,9 µm dan tumbuhnya secara anaerobik fakultatif. Bakteri ini memproduksi enterotoksin yang menyebabkan keracunan dan sering ditemukan pada jenis makanan yang mengandung protein tinggi seperti ikan, telur, daging dan sebagainya. Enterotoksin yang diproduksi oleh S. aureus bersifat tahan panas dan masih aktif setelah dipanaskan pada suhu 100 0 C selama 30 menit (Fardiaz 1993). S. aureus banyak mencemari pangan karena tindakan yang tidak higienis dalam penanganan pangan (Sunen 1998). Suhu optimum pertumbuhan S. aureus adalah 35-37 0 C dan dapat tumbuh pada pH 4,0-9,8 dengan pH optimum sekitar 7,0-7,8. P. aeruginosa merupakan salah satu bakteri yang sering menimbulkan kebusukan pada makanan seperti susu, daging, dan ikan. P. aeruginosa merupakan bakteri Gram negatif, bersifat aerob dan dapat tumbuh pada media sederhana, bentuk sel bervariasi dari batang, koma, dan kadang-kadang bulat (Doyle et al. 2001). P. aeruginosa mudah tumbuh dan menyebabkan kerusakan pada beragam produk pangan karena kemampuannya untuk menggunakan berbagai sumber karbon bukan karbohidrat dan komponen nitrogen sederhana sebagai sumber energi, mampu mensintesis sendiri vitamin dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya, dan tumbuh baik pada suhu dingin, serta menghasilkan senyawa-senyawa penyebab bau busuk pada pangan (Frazier & Westhoff 1988).
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Penggunaan Asap Cair dan Arang Aktif Tempurung Kelapa pada Mutu Karet Krep

Penggunaan Asap Cair dan Arang Aktif Tempurung Kelapa pada Mutu Karet Krep

Analisis nilai tengah menunjukkan bahwa nilai pH sejalan dengan penambahan dosis asap cair dan arang Aktif tempurung kelapa. Untuk memperoleh karet, partikel-partikel karet yang terdapat didalam lateks dipisahkan. Pada prinsipnya, penggumpalan terjadi akibat terganggunya faktor penunjang kestabilan sistim koloid lateks seperti penurunan pH. Penurunan pH akan menyebabkan lateks tersebut cepat menggumpal seperti yang ditulis oleh Ompusunggu (1987) dengan adanya penurunan pH maka akan mengganggu kestabilan atau kemantapan lateks sehingga mengakibatkan lateks menggumpal. Jika dibandingkan dengan kontrol menggunakan asam formiat didapatkan asap cair yang diberi arang hitam lebih unggul dalam penurunan pH. Menurut Wulandari (1999) komponen asam didalam asap cair terdiri dari berbagai unsur asam yaitu asam asetat, asam butirat, asam propinat, dan Asam isovalerat. Sedangkan asam formiat hanya memiliki satu untur asam yaitu asam semut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects