Top PDF Penggunakan Metode Kooperatif Learning pada Materi ASEAN IPS Sekolah Dasar untuk Meningkatkan Hasil Belajar

Penggunakan Metode Kooperatif Learning pada Materi ASEAN IPS Sekolah Dasar untuk Meningkatkan Hasil Belajar

Penggunakan Metode Kooperatif Learning pada Materi ASEAN IPS Sekolah Dasar untuk Meningkatkan Hasil Belajar

The purpose of this Classroom Action Research (CAR) was carried out with the aim to find out the increase in social studies learning achievements of ASEAN material through the application of cooperative learning methods to class VI SDN Jatiasih Bekasi students in 2018/2019. This Classroom Action Research was carried out by applying the Jigsaw type cooperative learning model in order improve the quality of the learning process and is a concept of learning activities that help teachers in carrying out mathematics learning activities on fractions taught by trying to maximize the active role of students, especially the knowledge they have and how they are applied in everyday life. With this concept, learning outcomes are expected to be more meaningful for students. The learning process takes place naturally in the form of activities students work and experience, not transfer knowledge from teacher to student. The quality of learning is more important than learning outcomes. Classroom Action Research (CAR) is carried out in stages 2 cycles, and the results of the actions taken have been proven to be able to improve student learning outcomes / achievements in terms of classical student mastery learning in the first cycle of 53%, could increase to 74.5% in the second cycle and in terms of the average value of the evaluation results of 74.5 in the second cycle of 79.2, this means there is an increase of 22%. From the results of this class action research also showed an increase in the level of student learning activities from 3 categories Active Enough in the first cycle to 3.5 Active categories, Active categories in the second cycle to 3.8 categories Very Active means there was an increase of 28.5%.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (Tgt) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Sekolah Dasar

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (Tgt) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Sekolah Dasar

Dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas IV SDN Klantingsari I, siswa lebih cenderung dijadikan sebagai objek belajar dari pada subjek belajar. Guru hanya menerapkan sistem pembelajaran klasikal atau pembelajaran satu arah. Guru menyampaikan materi dan siswa mendengarkan serta mencatat materi yang dijelaskan oleh guru tanpa adanya interaksi yang bisa membangkitkan aktivitas siswa. Pembelajaran lebih didominasi oleh metode ceramah yang dilakukan oleh guru. Guru tidak berusaha untuk menciptakan suasana yang aktif di dalam kelas. Siswa menjadi sangat pasif, tidak berani bertanya maupun menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Setelah materi tersampaikan, guru meminta siswa untuk mengerjakan pertanyaan yang ada di buku IPS siswa masing-masing kemudian dicocokkan secara bersamaan. Guru tidak pernah mengecek kembali pemahaman dan kemampuan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penerapan Metode Small Group Discussion dengan Model Cooperative Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar

Penerapan Metode Small Group Discussion dengan Model Cooperative Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar

Dalam proses pembelajaran yang menerapkan Metode Small Group Discussion dengan Model Cooperative Learning, siswa dibelajar untuk berdiskusi dengan melakukan pengamatan, menganalisis hasil pengamatan, memaparkan hasil diskusi dan mengambil kesimpulan secara bersama dengan berdasar hasil diskusi – diskusi kelompok. Menurut Hasibun dan Moedjiono (dalam Taniredja, 2013: 23) metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan para siswa (kelompok – kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Siswa dikondisikan untuk belajar secara berkelompok dengan anggota kelompok yang heterogen. Situasi pembelajaran secara berkelompok dapat mengarahkan siswa untuk saling berbagi pengetahuan, saling membantu, dan saling bekerja sama antar anggota kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Kasmadi (dalam Taniredja, 2009:25) bahwa metode diskusi dalam pembelajaran mempunyai maksud melibatkan murid sebagai komponen sistem, menstimulasi dan memotivasi murid, melatih mereka agar kritis dalam menganalisa dan mengembangkan kemampuan bekerja sama. Siswa juga banyak diberi kesempatan untuk berani menyampaikan pendapatnya dan terbuka terhadap perbedaan pendapat yang diberikan temannya. Siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih baik mengenai materi yang diajarkan, dan lebih tertarik terhadap materi tersebut jika dilibatkan secara aktif dalam proses pengamatan. Dalam penerapan Metode Small Group Discussion dengan Model Cooperative Learning, menyimpulkan hasil diskusi – diskusi kelompok merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan. Kegiatan ini membimbing siswa untuk memperoleh pengetahuan yang tepat dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai berdasarkan hasil diskusi masing – masing kelompok.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (Nht) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Di Sekolah Dasar

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (Nht) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Di Sekolah Dasar

Kegiatan inti ialah fase 2, menyajikan informasi dan fase 3, mengorganisasi siswa ke dalam kelompok- kelompok belajar atau penomoran. Aktivitas guru pada fase 2 ialah (1) menjelaskan materi pembelajaran yang mencakup materi mengenai jual beli di sekitar rumah dan membuat pertanyaan serta menjawab pertanyaan berdasarkan teks agak panjang. Sedangkan kegiatan pada fase 3 adalah membagi siswa menjadi kelompok- kelompok kecil dan menomori masing-masing anggota. Kemudian kegiatan dilanjutkan pada fase 4, membimbing kelompok bekerja dan belajar. Kegiatan ini meliputi (1) mengajukan pertanyaan yang berupa kegiatan membagikan LKS dan menjelaskan petunjuk pengerjaan LKS, (2) berpikir bersama yang terwujud dalam aktivitas membimbing siswa untuk pelatihan dengan menggunakan LKS, serta (3) menjawab pertanyaan, yaitu menyebutkan nomor siswa untuk menyampaikan hasil diskusi. Kegiatan inti diakhiri dengan fase 5, evaluasi yang berupa memberikan evaluasi berupa lembar penilaian.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI METODE HYPNOTEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

IMPLEMENTASI METODE HYPNOTEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

Kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran IPS di Indonesia saat ini dipandang belum maksimal khususnya pada tingkat Sekolah Dasar. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Kajian Kebijakan Kurikulum IPS yang menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan pelaksanaan standar isi Mata Pelajaran IPS. Guru dalam menerapkan pembelajaran lebih menekankan pada metode yang mengaktifkan guru, kurang melibatkan peserta didik, pembelajaran yang dilakukan guru kurang kreatif, lebih banyak menggunakan metode konvensional, dan kurang mengoptimalkan media pembelajaran. Hal ini berakibat siswa menjadi kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan dapat memicu kejenuhan dalam lingkungan belajar. Pada prosesnya, pembelajaran semacam ini kurang membentuk sikap antusias pada diri siswa. Siswa cenderung bosan dan kurang memahami materi karena dalam pelaksanaannya lebih ditekankan pada aspek mendengarkan dan kurang mengaktifkan siswa. Hal tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran menyebabkan hasil belajar siswa tidak maksimal dan tidak mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Penjumlahan Pecahan Pada Siswa Di Sekolah Dasar

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Penjumlahan Pecahan Pada Siswa Di Sekolah Dasar

Abstract: Based on the observation students fourth grade showed the students who have high academic results do not have a sense of caring for friends to help each other learn the less capable, lack of student activity, both in discussions or other activities that can foster a pattern thought is active, creative, and innovative and low student motivation. Consequently students learning result become less than the maximum. In ths research, researcher offer cooperative learning model TGT type (teams, games, and tournament). This learning model consists of 7 phases with a marked presence of academic games and tournaments.The purpose that want to achieve is to describe teacher activity, students activity, and improve learning result with applying cooperative learning model TGT type (teams, games, and tournament). This research is a class action research that use quantitative descriptive method. Data on this research obtained from teacher activity and student activity observation result, learning test result of fraction summation materials. The data gathered using the instrument of observation and tests. This research consisted of 2 cycles and each cycle consisted of two meetings. The results of this research showed that by applying the cooperative learning model TGT type (teams, games, and tournament) can improve students learning result. The first cycles, classical completenessstudents learning result achieve 47,61% and increased second cycles become 83,33%. The first cycles, teacher activity achieve 58,96% and increased second cycles become 91,67%. The first cycles, classical completenessstudents learning result achieve 47,61% and increased second cycles become 83,33%. The first cycles, teacher activity achieve 58,96% and increased second cycles become 91,67%. Students activity in first cycles shows the percentage 50,08% and second cycles become 86,9%. This reseach can be conclude that application cooperative learning model TGT (teams, games, and tournament) type can improve learning result fractions summation materials. Increased activity of 32.71% of teachers, student activity by 36.82%, and 35.72% of the learning outcomes.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Discovery untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Penerapan Model Pembelajaran Discovery untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Abstrak: Penelitian ini berawal dari rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SDN Surabaya. Hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran discovery. Model Pembelajaran discovery merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap suatu konsep dalam pembelajaran melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa yang diamati oleh dua observer, untuk mengetahui hasil belajar siswa ,serta kendala-kendala yang dihadapi siswa pada saat pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery di kelas IV SDN Surabaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Surabaya dengan jumlah 36 orang siswa. Teknik pengumpulan data yang yang digunakan adalah observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa, tes untuk mengetahui hasil belajar siswa, serta wawancara untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi pada saat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model discovery dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan yang diperoleh pada tiap siklusnya. Pada siklus I, aktivitas guru mencapai 78,57%, aktivitas siswa 66,07%, dan hasil belajar siswa 63,89%. Pada siklus II, aktivitas guru mencapai 83,9%, aktivitas siswa 78,6%, dan hasil belajar siswa 77,77%. Dan pada siklus III, aktivitas guru mencapai 91,07%, aktivitas siswa 87,5%, dan hasil belajar siswa 94,44%. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS pada materi perkembangan teknologi dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Surabaya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya pada kelompok lain. Menurut Isjoni (2010) Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (studend oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain. Dalam model kooperatif Jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya pada kelompok lain.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penerapan Model Kooperatif dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar

Penerapan Model Kooperatif dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar

Dari pengamatan peneliti, di Sekolah Dasar Negeri 9 Bina Jaya, pembelajaran cenderung dengan metode ceramah sehingga konsep-konsep akademik menjadi sulit dipahami. Guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan pengajaran bermakna, model yang digunakan kurang bervariasi dan sebagainya sehingga pembelajaran kurang menarik. Pola belajarnya masih menghafal. Hal-hal seperti ini mungkin yang menyebabkan hasil belajar juga masih kurang memuaskan. Di kelas IV Sekolah Dasar Negeri 9 Bina Jaya, Melawi, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ) untuk mata pelajaran IPA tahun pelajaran 2013/2014 adalah 70, belum semua materi dapat tuntas secara klasikal.Terdorong oleh kenyataan di lapangan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penerapan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Kelas V Sekolah Dasar Negeri 021 Bunga Tanjung

Penerapan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Kelas V Sekolah Dasar Negeri 021 Bunga Tanjung

Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut bisa tercapai bila siswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya dengan hasil belajar yang baik. Hasil belajar siswa ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. M. Sobry Sutikno (2008:83) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang ada diluar siswa adalah guru profesional yang mampu mengelola pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang memberikan kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE KARYAWISATA PADA MATA PELAJARAN IPS TENTANG MACAM-MACAM SUMBER DAYA ALAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR.

PENERAPAN METODE KARYAWISATA PADA MATA PELAJARAN IPS TENTANG MACAM-MACAM SUMBER DAYA ALAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR.

kemudian identifikasi masalah. Setelah itu melakukan analisis penyebab adanya masalah yang dijadikan sebagai landasan untuk mencari alternatif suatu tindakan yang dikembangkan sebagai bentuk solusi atau pemecahan masalah. Pada observasi awal peneliti mengidentifikasi prioritas masalah yaitu dalam pembelajaran IPS khusunya materi macam – macam sumber daya alam. Hasil observasi awal diketahui bahwa aktivitas dan hasil pembelajaran masih rendah yakni dibawah KKM sebesar 6,7, atas dasar hal tersebut maka peneliti mengambil solusi untuk melakukan pembelajaran dengan menerapkan metode karyawisata.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Materi Konsep Peta pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Materi Konsep Peta pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

Abstract: This study aimed to describe the activities of the teacher , student activities , and student learning outcomes Podoroto Elementary School fourth grade I Kesamben Jombang through the implementation of inquiry learning model .This type of research is action research that consists of 3 cycles . Each cycle is carried out through four stages: planning , implementation , observation , and reflection . The subjects were all students of class IV SDN Podoroto I Kesamben Jombang . Data were obtained through observation and tests . Data resulting from the activity of the teacher and student observations analyzed in terms of percentage . Student achievement test data were analyzed based on the percentage of mastery learning individually and then classically described descriptively .The results showed an increase in the percentage of all teachers and students in the first cycle and second cycle . Teacher activity increased from 67.7 % in the first cycle to 78.7 % in the second cycle . Then in the second cycle to cycle III becomes 85.6 % . While the activities of students has increased from 69.7 % in the first cycle to 77.7 % in the second cycle and in Cycle III to 86.6 % . The results obtained studying the fourth grade students of SDN Podoroto I Kesamben Jombang has increased . For the average student scores also increased in the first cycle is 72.3 to 78.5 in Cycle II Cycle III later on became 80.3 . Mastery learning in the classical students has increased from 70 % in the first cycle to 75 % in the second cycle and the third cycle to 85 % . Based on the obtained results it can be concluded that the application of inquiry learning model can improve student learning outcomes .
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung di sekolah Dasar Negeri 35 Sulang Betung pada tahun pelajaran 2014-2015, pembelajaran matematika khususnya pada materi menyelesaikan soal dengan menggunakan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan dan penjumlahan, peneliti sebagai guru biasanya kurang menggunakan model pembelajaran tetapi lebih banyak menggunakan metode ceramah dan memberikan pemahaman yang kurang tepat yang berakibat pada hasil belajar yang kurang memuaskan atau belum memenuhi KKM yang telah ditetapkan oleh Sekolah serta siswa kurang memahami apa yang peneliti sampaikan. Hal ini terjadi karena peneliti kurang menyadari apa yang telah disampaikan dalam pembelajaran bahwa dengan menggunakan metode ceramah tidak cukup baik, karena metode ceramah hanya berfokus pada peneliti sehingga siswa lebih cenderung menerima dan tidak melakukan sendiri proses pembelajaran selain itu juga peneliti kurang memberikan kuis.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Penrapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tps (Think Pair Share) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Di Sekolah Dasar

Penrapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tps (Think Pair Share) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Di Sekolah Dasar

Dari kekurangan-kekurangan yang telah diuraikan sebelumnya maka guru melakukan perbaikan-perbaikan cara mengajar, meliputi : guru harus selalu mengingatkan siswa agar lebih tertib saat guru menjeaskan materi, guru lebih intensis dalam memancing siswa untuk aktif menjawab pertanyaan dari guru, guru harus meminta siswa untuk aktif dalam bertanya apabila ada materi yang belum dimengerti, guru menyampaikan kepada siswa supaya tidak takut dengan guru baru karena juga sama- sama guru, siswa harus lebih tertib dan tidak ramai sendiri saat guru memberikan bimbingan kelompok, guru harus terampil dalam memberikan bimbingan kepada kelompok-kelopmok saat proses pembelajaran kooperatif tipe TPS, guru harus menyeluruh dalam mengajak siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran dengan bertanya kepada satu persatu siswa. Upaya perbaikan tersebut yang direalisasikan pada kegiatan pembelajaran siklus II dan siklus III. Pada siklus II persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu 87,5% dinyatakan sangat tinggi, dan pada siklus III aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dan memperoleh skor 92,8%. Peingkatan-peningkatan ini dapat terjadi karena guru melakukan refleksi pada tiap akhir pelajaran untuk kemudian dilakukan upaya perbaikan untuk siklus-siklus berikutnya. Hal-hal yang harus dilakukan guru untuk meingkatkan aktivitas siswa yakni dengan memperbanyak interaksi guru dengan siswa dan juga siswa dengan guru selama proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Rusman (2012:144),
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penerapan Model Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Hasil Pada Sekolah Dasar

Penerapan Model Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Hasil Pada Sekolah Dasar

Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis (Trianto, 2011:44). Dalam penelitian yang dilakukan Sulistyorini (1997) model pembelajaran kooperatif dalam mata pelajaran IPA dilaporkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian Muhlasin (2013) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan objek siswa kelas VI SDN 1 Sidodadi I di Surabaya pada semester gasal 2013 mata pelajaran IPA terlihat bahwa metode ini dapat meningkatkan aktifitas kooperatif siswa dalam KBM di kelas, di mana ditunjukkan lebih dari 93,44% dari siswanya berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok tersebut, dari data observasi terhadap gurunya juga terlihat bahwa pengelolaan kelas menjadi jauh lebih baik dari minggu ke minggunya, selain itu yang paling penting adalah pencapaian hasil belajar siswa dalam menjawab kuis-kuis setelah melewati 2 siklus meningkat hingga rata-rata kelas yang didapatkan jadi 85,38% dari rata-rata kelas 65,89% sebelumnya. Sedangkan dari hasil analisa data penelitian Akhmat Mokri (2013) model pembelajaran kooperatif tipe STAD menunjukkan bahwa hasil pos-tes siswa kelas IV SDN Bibis Tandes Surabaya menyatakan bahwa 90% dari siswanya tuntas dalam pembelajaran yang diiringi peningkatan pemahaman penguasaan materi, hal ini juga didukung oleh data hasil aktivitas guru dan siswa, pengelolaan pembelajaran, terhadap model pembelajaran ini sangat baik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA.

PENERAPAN METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA.

Pada dasarnya, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya; memanfaatkan sumber daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Dengan pertimbangan bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehingga ruang lingkup pengajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah.Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik tingkat sekolah dasar. Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajiannya akan lebih luas. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN METODE GUIDED NOTE TAKING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI MASALAH SOSIAL.

PENGGUNAAN METODE GUIDED NOTE TAKING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI MASALAH SOSIAL.

Agar pembelajaran IPS di SD Negeri Paten 2 menjadi lebih aktif, menarik serta ha- sil belajar siswa meningkat maka perlu vari- asi metode pembelajaran aktif sehingga siswa lebih mendominasi dalam pembelajaran. Me- tode pembelajaran yang digunakan adalah metode Guided Note Taking yaitu dengan gu- ru memberikan bahan ajar berupa handout tetang materi masalah sosial. Kelebihan me- tode ini untuk melatih keaktifan dengan memberikan sebuah catatan terbimbing yang masih kosong dengan meminta siswa untuk melengkapi handout tersebut. Metode ini di- harapkan dapat melatih daya ingat siswa agar fokus dalam pembelajaran, aktif presentasi didepan kelas dan aktif mengemukakan pen- dapatnya. Dengan metode Guided Note Taki- ng diharapkan dapat meningkatkan hasil be- lajar siswa. Metode ini merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi Masalah Sosial pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Paten 2.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah Dasar

Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah Dasar

menarik bagi peserta didik tidak hanya memanfaatkan indera pendengar dengan menggunakan metode ceramah saja, namun sebaiknya dengan menggunakan media pembelajaran berupa alat bantu sesuai dengan materi yang sedang dipelajari agar kegiatan pembelajaran dapat mencapai tujuan yang ditentukan. Tujuan pembelajaran adalah perubahan dalam tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar sebenarnya mengandung arti interaksi dari berbagai komponen yang ada seperti guru,s murid, dan sumber atau bahan ajar serta sarana dan prasarana yang ada. Lubis (dalam Suwanan 2010:2) menyatakan bahwa “Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan kegiatan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan sumber belajar lainnya dalam satu kesatuan waktu dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan agar cara belajar IPS pada materi mengidentifikasi tokoh-tokoh sejarah pada masa kerajaan Islam menjadi pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan melalui beberapa cara salah satunya dengan media gambar, oleh karena itu, perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa upaya meningkatkan cara belajar materi mengidentifikasi tokoh-tokoh sejarah pada masa kerajaan Islam, melalui media gambar pada pembelajaran IPS.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Metode Scramble terhadap Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Metode Scramble terhadap Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, seorang guru yang profesional dituntut untuk mampu mengikuti dan menerapkan model pembelajaran yang bervariasi dan menarik sesuai dengan langkah-langkah yang telah dirancang oleh guru, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan menarik motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran yang berlangsung, dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Suatu pembelajaran yang baik adalah apabila melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Pembelajaran di Sekolah Dasar salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial. Menuru t BSNP (2006: 575), “Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.” Pada jenjang SD, mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, dan ekonomi yang dipadukan dalam bentuk unit-unit. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab dan cinta kedamaian. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar

Berdasarkan hasil observasi awal pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Pungging 3 kab mojokerto, teryata guru menyajikan materi pelajaran IPS Iebih dominan menggunakan metode ceramah, walaupun diselingi dengan metode tanya jawab tanpa menggunakan media gambar, sehingga materi yang disampaikan sulit dipahami siswa. Penerapan metode ceramah berpusat pada aktivitas guru. Penyajian materi secara verbal, dan tidak diberi kegiatan kerjasama kelompok atau diskusi kepada siswa. Akibat dari penerapan metode ceramah tanpa menggunakan media gambar aktivitas belajar siswa pasif, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, tidak ada interaksi kerjasama dan siswa cenderung bosan/jenuh sehingga siswa kurang memperhatikan penjelasan guru serta hasil belajarnya rendah dilihat dari hasil ulangan formatif dimana hanya 8 siswa mendapat nilai 70 keatas (40 %), sedangkan 12 siswa mendapat nilai 70 kebawah (60%). Dalam hal ini lebih banyak siswa yang belum mencapai KKM (KKM ditentukan nilai 70).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects