Top PDF Bab 8 Pengolahan dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Produk Kosmetik

Bab 8 Pengolahan dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Produk Kosmetik

Bab 8 Pengolahan dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Produk Kosmetik

Salah satu bahan nabati yang dapat digunakan untuk membuat produk kosmetik adalah bengkuang. Bengkuang adalah umbi berwarna putih dengan bentuk seperti gasing, merupakan tanaman yang berasal dari daerah tropis Amerika dan termasuk suku Fabacea atau polong-polongan. Selain bisa digunakan debagai bahan kudapan, bengkuang juga bermanfaat bagi kecantikan khususnya kulit. Bengkuang dikenal bisa membersihkan dan memutihkan kulit dan menghilangkan bintik-bintik hitam pada wajah. Buah ini sangat baik bagi kulit karena mengandung vitamin B1, vitamin C, pachyrhizon, fosfor, dan kalium.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Silabus prakarya dan kewirausahaan sma (2)

Silabus prakarya dan kewirausahaan sma (2)

Sikap 15% -Mandiri -Disiplin -Tanggung jawab 3.7 Memahami proses produksi pengolahan bahan pangan nabati dan hewani menjadi produk pembersih di wilayah setempat melalui pengamatan dar[r]

589 Baca lebih lajut

Prakarya dan Kewirausahaan SMA Kelas XI. Bab 4. Pengolahan Dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Makanan Khas Daerah   Database www.dadangjsn.com

Prakarya dan Kewirausahaan SMA Kelas XI. Bab 4. Pengolahan Dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Makanan Khas Daerah Database www.dadangjsn.com

Dalam melakukan usaha, ada dua kemungkinan, yaitu kegagalan dan keberhasilan. Setiap orang pada umumnya tidak mau menerima kegagalan. Hanya sedikit orang yang mau memahami bahwa sesungguhnya kegagalan itu hanya sementara saja karena kegagalan merupakan awal dari keberhasilan. Jika seseorang mempunyai mental dan pribadi wirausaha, dia tidak akan putus asa jika mengalami kegagalan. Ia akan berusaha bangkit lagi sampai ia berhasil memperoleh apa yang menjadi harapannya. Biasanya setelah mengalami kegagalan sekali, ia gunakan pengalaman dan tidak akan mengulangi kegagalan serupa. Adapun hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan usaha adalah sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Buku Guru Kelas 11 Prakarya dan Kewirausahaan

Buku Guru Kelas 11 Prakarya dan Kewirausahaan

Peta konsep atau peta materi adalah sebuah rancangan cakupan materi pokok yang merupakan penjabaran dari kompetensi dari pembahasan pokok pikiran yang terkandung dalam buku untuk aspek pengolahan. Pokok pikiran ini merupakan KI-KD yang tercantum dalam Kurikulum 2013 sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pokok pikiran pada bagian ini adalah pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah. Pembahasan pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah adalah: A. Perencanaan Usaha Makanan Khas Daerah, B. Penerapan Sistem Produksi Makanan Khas Daerah Berdasarkan Daya Dukung Daerah, C. Menghitung Titik Impas (Break Even Point) Makanan Khas Daerah, D. Promosi Produk Hasil Usaha Makanan Khas Daerah, dan E. Laporan kegiatan Usaha Makanan Khas Daerah. Guru dapat menyampaikan apa, mengapa, dan bagaimana tentang makanan khas daerah yang ada di daerah setempat dan di nusantara sebagai kekayaan budaya bangsa. Kompetensi akhir yang diharapkan pada bab ini adalah peserta didik dapat melakukan kegiatan berwirausaha dengan makanan khas daerah sebagai objek peluang usahanya.
Baca lebih lanjut

426 Baca lebih lajut

Bab 4 Pengolahan dan Wirausaha Pengawetan Bahan nabati dan Hewani

Bab 4 Pengolahan dan Wirausaha Pengawetan Bahan nabati dan Hewani

Kekayaan alam Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang hidup tersebar di seluruh negeri. Setiap daerah memiliki sumber pangan yang khas, yang dapat dimanfaatkan selain untuk kebutuhan sehari-hari juga dapat diolah menjadi produk pangan olahan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Bahan pangan nabati dan hewani yang belum diolah memiliki daya tahan yang terbatas. Setelah diawetkan, bahan pangan akan memiliki memiliki daya tahan yang lebih lama sehingga memung- kinkan untuk didistribusikan ke luar daerah bahkan hingga ke luar negeri. Selama manusia masih membutuhkan makan dan minum, kebutuhan akan bahan pangan tidak pernah akan berhenti. Artinya peluang untuk wirausaha di bidang pengawetan pangan pun selalu terbuka. Kreativitas dan inovasi untuk wirausaha di bidang pangan sangat terbuka lebar, banyak hal bisa dilakukan, sejalan dengan keinginan manusia yang tanpa batas dan selalu mengharapkan pembaruan. Wirausaha juga tidak mengenal usia, jika ada yang bertanya kapan seseorang sebaiknya memulai wirausaha, maka jawabnya adalah: sekarang.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Buku Guru • Prakarya dan Kewirausahaan • Kelas XI SMAMASMKMAK

Buku Guru • Prakarya dan Kewirausahaan • Kelas XI SMAMASMKMAK

Peta konsep atau peta materi adalah sebuah rancangan cakupan materi pokok yang merupakan penjabaran dari kompetensi dari pembahasan pokok pikiran yang terkandung dalam buku untuk aspek pengolahan. Pokok pikiran ini merupakan KI-KD yang tercantum dalam Kurikulum 2013 sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pokok pikiran pada bagian ini adalah pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah. Pembahasan pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah adalah: A. Perencanaan Usaha Makanan Khas Daerah, B. Penerapan Sistem Produksi Makanan Khas Daerah Berdasarkan Daya Dukung Daerah, C. Menghitung Titik Impas (Break Even Point) Makanan Khas Daerah, D. Promosi Produk Hasil Usaha Makanan Khas Daerah, dan E. Laporan kegiatan Usaha Makanan Khas Daerah. Guru dapat menyampaikan apa, mengapa, dan bagaimana tentang makanan khas daerah yang ada di daerah setempat dan di nusantara sebagai kekayaan budaya bangsa. Kompetensi akhir yang diharapkan pada bab ini adalah peserta didik dapat melakukan kegiatan berwirausaha dengan makanan khas daerah sebagai objek peluang usahanya.
Baca lebih lanjut

425 Baca lebih lajut

Prakarya dan Kewirausahaan SMA Kelas XI. Bab 4. Pengolahan dan Wirausaha Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani   Database www.dadangjsn.com

Prakarya dan Kewirausahaan SMA Kelas XI. Bab 4. Pengolahan dan Wirausaha Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani Database www.dadangjsn.com

Kekayaan alam Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang hidup tersebar di seluruh negeri. Setiap daerah memiliki sumber pangan yang khas, yang dapat dimanfaatkan selain untuk kebutuhan sehari-hari juga dapat diolah menjadi produk pangan olahan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Bahan pangan nabati dan hewani yang belum diolah memiliki daya tahan yang terbatas. Setelah diawetkan, bahan pangan akan memiliki memiliki daya tahan yang lebih lama sehingga memung- kinkan untuk didistribusikan ke luar daerah bahkan hingga ke luar negeri. Selama manusia masih membutuhkan makan dan minum, kebutuhan akan bahan pangan tidak pernah akan berhenti. Artinya peluang untuk wirausaha di bidang pengawetan pangan pun selalu terbuka. Kreativitas dan inovasi untuk wirausaha di bidang pangan sangat terbuka lebar, banyak hal bisa dilakukan, sejalan dengan keinginan manusia yang tanpa batas dan selalu mengharapkan pembaruan. Wirausaha juga tidak mengenal usia, jika ada yang bertanya kapan seseorang sebaiknya memulai wirausaha, maka jawabnya adalah: sekarang.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Kelas XI PRAKARYA BG

Kelas XI PRAKARYA BG

Peta konsep atau peta materi adalah sebuah rancangan cakupan materi pokok yang merupakan penjabaran dari kompetensi dari pembahasan pokok pikiran yang terkandung dalam buku untuk aspek pengolahan. Pokok pikiran ini merupakan KI-KD yang tercantum dalam Kurikulum 2013 sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pokok pikiran pada bagian ini adalah pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah. Pembahasan pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah adalah: A. Perencanaan Usaha Makanan Khas Daerah, B. Penerapan Sistem Produksi Makanan Khas Daerah Berdasarkan Daya Dukung Daerah, C. Menghitung Titik Impas (Break Even Point) Makanan Khas Daerah, D. Promosi Produk Hasil Usaha Makanan Khas Daerah, dan E. Laporan kegiatan Usaha Makanan Khas Daerah. Guru dapat menyampaikan apa, mengapa, dan bagaimana tentang makanan khas daerah yang ada di daerah setempat dan di nusantara sebagai kekayaan budaya bangsa. Kompetensi akhir yang diharapkan pada bab ini adalah peserta didik dapat melakukan kegiatan berwirausaha dengan makanan khas daerah sebagai objek peluang usahanya.
Baca lebih lanjut

424 Baca lebih lajut

BAB I PENGAWETAN BAHAN NABATI DAN HEWANI

BAB I PENGAWETAN BAHAN NABATI DAN HEWANI

Ikan merupakan salah satu jenis bahan pangan yang memiliki kandungan gizi tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat sebagai salah satu sumber protein hewani. Namun pemanfaatan ikan dalam bentuk segar memiliki keterbatasan, yaitu umur simpan yang relatif pendek. Ikan sangat mudah mengalami kerusakan, baik berupa kerusakan fisikawi, kimiawi, maupun mikrobiologis. Hal ini disebabkan karena ikan memiliki kadar air tinggi, pH netral, dan kandungan gizi yang lengkap (khususnya protein) sehingga sangat disukai oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembangbiak. Aktivitas mikroorganisme, terutama dari golongan bakteri akan menyebabkan kebusukan sehingga kualitas produk ini akan mengalami penurunan, baik dari segi mutu maupun penerimaan konsumen. Salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan dan meningkatkan keawetan ikan adalah pengolahan menjadi ikan asin melalui kombinasi proses penggaraman dan pengeringan. Penggaraman dan pengeringan merupakan metode pengawetan tradisional yang telah banyak diterapkan oleh nelayan di wilayah pesisir pantai sejak dulu.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Bab 4 Pengolahan Dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Makanan Khas Daerah

Bab 4 Pengolahan Dan Kewirausahaan Bahan Nabati dan Hewani Menjadi Makanan Khas Daerah

Bahan pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penting. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, industri pangan pun makin meningkat. Tidak heran jika industri pangan, terutama industri berskala kecil makin bermunculan untuk memenuhi permintaan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan industri pangan, kita harus mengetahui tentang bahan pangan tersebut. Umumnya, bahan pangan berasal dari dua sumber, yaitu bahan pangan nabati dan bahan pangan hewani. Bahan pangan nabati adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti: sayur- sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, dan serealia. Bahan pangan hewani adalah bahan makanan yang berasal dari hewan, seperti: telur ,ayam, daging, ikan, dan susu.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

prawira kurtilas xi bukuguru rev2017 terampilmatematika blogspot com

prawira kurtilas xi bukuguru rev2017 terampilmatematika blogspot com

Peta konsep atau peta materi adalah sebuah rancangan cakupan materi pokok yang merupakan penjabaran dari kompetensi dari pembahasan pokok pikiran yang terkandung dalam buku untuk aspek pengolahan. Pokok pikiran ini merupakan KI-KD yang tercantum dalam Kurikulum 2013 sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pokok pikiran pada bagian ini adalah pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah. Pembahasan pengolahan dan kewirausahaan bahan nabati dan hewani menjadi makanan khas daerah adalah: A. Perencanaan Usaha Makanan Khas Daerah, B. Penerapan Sistem Produksi Makanan Khas Daerah Berdasarkan Daya Dukung Daerah, C. Menghitung Titik Impas (Break Even Point) Makanan Khas Daerah, D. Promosi Produk Hasil Usaha Makanan Khas Daerah, dan E. Laporan kegiatan Usaha Makanan Khas Daerah. Guru dapat menyampaikan apa, mengapa, dan bagaimana tentang makanan khas daerah yang ada di daerah setempat dan di nusantara sebagai kekayaan budaya bangsa. Kompetensi akhir yang diharapkan pada bab ini adalah peserta didik dapat melakukan kegiatan berwirausaha dengan makanan khas daerah sebagai objek peluang usahanya.
Baca lebih lanjut

426 Baca lebih lajut

Bab 8 Pengolahan dan Wirausaha Produk Pembersih dari Bahan Nabati dan Hewani

Bab 8 Pengolahan dan Wirausaha Produk Pembersih dari Bahan Nabati dan Hewani

Proses pengolahan produk pembersih adalah proses kimia yang terjadi pada bahan-bahan pembentuknya. Sabun merupakan hasil reaksi kimia dari pencampuran minyak dan larutan alkali dari basa yang dilarutkan ke dalam air murni. Pembuatan sabun dapat dibagi menjadi proses dingin (cold process), proses panas (hot process), larut-tuang (melt and pour), dan Rebatching/Triple milled. Larut-tuang adalah proses pembuatan sabun adalah dengan melarut- kan bahan sabun dasar (yang sudah jadi), menambahkan esense pewangi dan warna serta penghias lain seperti kelopak bunga mawar, parutan kelapa yang sudah dikeringkan dan lain-lain. Perbedaan proses dingin dan proses panas adalah pada proses pencampuran larutan NaOH atau KOH (alkalin) dengan minyak. Pencampuran tersebut dapat dilakukan dengan atau tanpa pemana- san. Rebatcing adalah membuat sabun mulai dari proses pencampuran minyak dengan alkali hingga pewarnaan, pemberian pengharum, dan bahan lainnya. Proses pengolahan dengan bahan kimia membutuhkan ketepatan pengukuran material/bahan yang akan digunakan, ketepatan penggunaan alat, dan harus menggunakan pelindung untuk memastikan tubuh kita aman dari kemung- kinan terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh bahan dan reaksi kimia yang terjadi.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

PKBM Prakarya dan Kewirausahaan 10 01

PKBM Prakarya dan Kewirausahaan 10 01

- Mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani - Memahami proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani di wilaya[r]

59 Baca lebih lajut

PKBM Prakarya dan Kewirausahaan 10

PKBM Prakarya dan Kewirausahaan 10

- Mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan dalam mendukung proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani - Memahami proses produksi pengawetan bahan nabati dan hewani di wilaya[r]

59 Baca lebih lajut

BAHAN PEMBERSIH BERBAHAN DASAR NABATI DAN HEWANI

BAHAN PEMBERSIH BERBAHAN DASAR NABATI DAN HEWANI

Tulang dapat digunakan sebagai sumber bahan dalam proses pembuatan gelatin. Gelatin adalah produk yang sangat umum digunakan pada produk pangan, obat, dan produk pembersih wajah. Gelatin merupakan protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen dari bagian tulang atau kulit binatang. Penggunaan istilah gelatin dapat dipastikan merupakan produk turunan hewani, sedangkan jika berasal dari tumbuhan atau bahan lainnya biasanya disebut khusus dengan substitusi gelatin. Fungsi gelatin ada beraneka, seperti pengemulsi, pembentuk busa, penstabil, dan lain sebagainya. Fungsi gelatin yang luas dan dapat diaplikasikan pada berbagai jenis produk pangan, obat-obatan, dan produk pembersih menyebabkan perlunya kewaspadaan terhadap kehalalan dari berbagai produk olahan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Buku Prakarya Kelas X Semester 1

Buku Prakarya Kelas X Semester 1

Budidaya berpangkal pada cultivation, yaitu suatu kerja yang berusaha untuk menambah, menumbuhkan, dan mewujudkan benda ataupun makhluk agar lebih besar (tumbuh), dan berkembang (banyak). Kinerja ini membutuhkan perasaan seolah dirinya (pembudidaya) hidup, tumbuh, dan berkembang. Prinsip pembi- naan rasa dalam kinerja budidaya ini akan memberikan hidup pada tumbuhan atau hewan, namun dalam bekerja dibutuhkan sistem yang berjalan rutinitas, seperti kebiasaan hidup orang: makan, minum, dan bergerak. Maka, seorang pem- budidaya harus memahami kartakter tumbuhan atau hewan yang di’budi- daya’kan. Konsep cultivation tampak pada penyatuan diri dengan alam dan pema- haman tumbuhan atau binatang. Pemikiran echosystem menjadi langkah yang selalu dipikirkan keseimbangan hidupnya. Manfaat edukatif budidaya ini adalah pembinaan perasaan, pembinaan kemampuan memahami pertumbuhan dan menyatukan dengan alam (echosystem) menjadi anak dan tenaga kerja yang berpikir sistematis, namun manusiawi dan penuh kesabaran. Hasil budidaya tidak akan dapat dipetik dalam waktu singkat melainkan membutuhkan waktu dan harus diawasi dengan penuh kesabaran. Bahan dan perlengkapan teknologi budi- daya sebenarnya dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari yang variatif karena setiap daerah mempunyai potensi kearifan yang berbeda. Budidaya telah dilaku- kan oleh pendahulu bangsa ini dengan teknologi tradisi, namun telah menunjuk- kan konsep budidaya yang memperhitungkan musim, tetapi belum mempunyai standar ketepatan dengan suasana/iklim cuaca maupun ekonomi yang sedang berkembang. Maka, pembelajaran prakarya-budidaya diharapkan mampu mene- mukan ide pengembangan berbasis bahan tradisi dengan memperhitungkan kebelanjutan materi atau bahan tersebut.
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Kelas10 prakarya dan kewirausahaan buku siswa 1646

Kelas10 prakarya dan kewirausahaan buku siswa 1646

Wirausaha, menurut asal katanya terdiri atas kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Pengertian wirausaha, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun kegiatan untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya. Pelaku wirausaha, dikenal juga dengan sebutan wirausahawan atau entrepreneur, adalah seseorang yang memiliki kualitas jiwa kepemimpinan dan inovator pemikiran dalam melakukan usaha. Entrepreneur dapat diartikan juga sebagai seseorang yang mampu mewujudkan ide ke dalam sebuah inovasi yang sukses. Kewirausahaan, atau entrepreneurship memiliki pengetian yang lebih luas lagi. Kewirausahaan, seperti tercantum dalam lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995, adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Entrepreneurship adalah sikap dan perilaku yang melibatkan keberanian mengambil risiko, kemampuan berpikir
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

RPP PRAKARYA PENGOLAHAN KELAS XI KD 2

RPP PRAKARYA PENGOLAHAN KELAS XI KD 2

Melalui praktik siswa dapat menggunakan perangkat untuk melakukan proses produksi desain dan pengemasan hasil pengolahan dari bahan nabati dan hewani, menyajikan hasil proses produksi brupa desain dan pengemasan dari hasil pengolahan bahan nabati dan hewani, membuat produk dan pengemasan hasil proses produksi pengolahan dari bahan nabati dan hewani, membuat laporan tertulis, mempresentasikan hasil prakrik dan bekerja dengan teliti, jujur, dan penuh tanggung jawab. Selama proses pembelajaran dilakuan penilaian proses pada aktivitas di kelas dan hasil tugas mandiri.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Bahan Bahan Nabati dan hewani

Bahan Bahan Nabati dan hewani

Bahan pangan merupakan semua jenis bahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan yang bersifat aman, memiliki palatabilitas dan menyehatkan bagi manusia. Namun, walaupun sifat dasar dari pangan itu baik, jika penanganannya kurang baik maka akan menyebabkan terjadinya suatu penyimpangan yang mungkin dapat membahayakan bagi yang

4 Baca lebih lajut

12 NASKAH KEWIRAUSAHAAN 21062015 new.pdf

12 NASKAH KEWIRAUSAHAAN 21062015 new.pdf

@2015, Dit. Pembinaan SMA 2 Berkaitan dengan ketercapaian tujuan pendidikan nasional, terutama yang mengarah pada pembentukan karakter yang terkait dengan pembentukan sikap dan perilaku wirausaha, dalam pengelolaan pendidikan diharapkan mampu menemukan strategi pengelolaan pendidikan yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan output pendidikan yang berkualitas baik dilihat dari kualitas akademik maupun non akademik. Kualitas akademik yang dimaksud adalah kualitas peserta didik yang terkait dengan bidang ilmu, sedangkan kualitas non akademik berkaitan dengan kemandirian untuk mampu bekerja di kantor dan membuka usaha/lapangan kerja sendiri. Dengan kata lain lulusan pendidikan diharapkan memiliki karakter dan perilaku kewirausahaan yang tinggi.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...