Top PDF Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Melalui Penerapan Iuran Irigasi Berbasis Nilai Ekonomi Air Irigasi

Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Melalui Penerapan Iuran Irigasi Berbasis Nilai Ekonomi Air Irigasi

Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Melalui Penerapan Iuran Irigasi Berbasis Nilai Ekonomi Air Irigasi

Untuk diaplikasikan pada penentuan iuran irigasi maka pola yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut. Pertama iuran irigasi harus terdiri dari dua komponen yaitu komponen pokok dan komponen penunjang. Komponen pokok adalah unsur utama dari iuran irigasi yang besarannya mengacu pada nilai indeks tersebut di atas. Oleh karena itu besarannya bervariasi tergantung pada kelom- pok komoditas dan jadwal pengusahaannya. Komponen penunjang adalah unsur penunjang yang besarannya tetap. Besaran unsur penun- jang ini ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok petani yang tergabung dalam Per- kumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di wilayah yang bersangkutan. Fungsi unsur penunjang adalah untuk meredam perbedaan beban iuran irigasi antar musim yang terlalu tinggi; padahal ketika itu perbedaan tingkat kelangkaan air antar musim mungkin tidak terlalu besar (misalnya curah hujan sangat bersahabat). Unsur penunjang juga berfungsi untuk men- jembatani perubahan antara sistem yang lama (tidak memperhitungkan nilai kelangkaan air irigasi) dengan sistem yang baru. Perlu dicatat bahwa nilai unsur penunjang ini sebaiknya relatif kecil agar fungsi dari komponen utama untuk mendorong efisiensi penggunaan air irigasi cukup efektif.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Iuran irigasi berbasis komoditas sebagai instrumen peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi pendekatan dan analisis faktor faktor yang mempengaruhi implementasinya

Iuran irigasi berbasis komoditas sebagai instrumen peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi pendekatan dan analisis faktor faktor yang mempengaruhi implementasinya

Air adalah unsur pendukung utama dasar kehidupan. Eksistensi makhluk hidup tergantung pada sumberdaya ini sehingga peranannya sangat strategis. Secara historis, ketersediaan sumberdaya air merupakan salah satu determinan pertumbuhan ekonomi dan wilayah. Dalam konteks ini, peranan sungai sangat besar. Ketika eksploitasi sumberdaya alam belum intensif, sungai merupakan pemasok kebutuhan air paling dominan. Di masa lampau, ketika kondisi debit air sungai masih normal, cukup banyak sungai yang berfungsi pula sebagai jalur transportasi yang murah. Oleh sebab itu secara historis lokasi-lokasi pusat pertumbuhan ekonomi ataupun pusat-pusat peradaban di masa lampau seringkali berada di dekat sungai. Di era modern, meskipun konstelasi nilai dalam pembangunan peradaban mengalami perubahan, sumberdaya air masih tetap berperan besar sebagai determinan keberhasilan pembangunan ekonomi. Banyak contoh menunjukkan bahwa keberhasilan sebagian besar negara agraris menghindarkan diri dari ekskalasi kelaparan ditentukan oleh keberhasilan investasi dalam pengembangan sumberdaya air (irigasi).
Baca lebih lanjut

304 Baca lebih lajut

Estimasi Nilai Ekonomi Air Irigasi Pada Usaha Tani Padi Sawah di Daerah Irigasi Van Der Wijce, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Estimasi Nilai Ekonomi Air Irigasi Pada Usaha Tani Padi Sawah di Daerah Irigasi Van Der Wijce, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Permintaan beras terus mengalami peningkatan dengan semakin meningkatnya jumlah dan penghasilan penduduk. Namun, upaya untuk pemenuhan kebutuhan beras tersebut dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain: adanya konversi lahan pertanian ke non-pertanian, kerusakan jaringan irigasi, semakin langkanya sumberdaya air, serta kompetisi antar sektor dan antar wilayah dalam penggunaan air. Kondisi-kondisi ini mengisyaratkan perlunya peningkatan efisiensi penggunaan air dalam produksi padi. Sektor pertanian harus mampu meningkatkan produksi padi dengan lebih sedikit air. Selain itu, hingga saat ini, iuran penggunaan air irigasi (IPAIR) bagi petani pengguna air belum diimplementasikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai ekonomi air irigasi di Daerah Irigasi Van der Wijce di Yogyakarta untuk menentukan iuran layanan air secara lebih akurat, serta untuk membandingkan nilai air irigasi pada daerah hulu, tengah dan hilir Daerah Irigasi Van der Wijce. Petani di daerah hulu mampu menanam padi hingga tiga kali, sementara di bagian hilir hanya dua kali per tahun. Tingkat produktivitas padi juga berbeda diantara kedua daerah ini, dimana petani di daerah hulu menggunakan lebih banyak air dan menghasilkan output yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah hilir. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai air irigasi semestinya lebih tinggi di daerah hulu dibandingkan dengan daerah hilirnya. Pendekatan nilai sisa Wickstead digunakan dalam menentukan nilai air
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Estimasi nilai ekonomi air irigasi pada usaha tani padi sawah di daerah irigasi Van Der Wijce, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Estimasi nilai ekonomi air irigasi pada usaha tani padi sawah di daerah irigasi Van Der Wijce, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Permintaan beras terus mengalami peningkatan dengan semakin meningkatnya jumlah dan penghasilan penduduk. Namun, upaya untuk pemenuhan kebutuhan beras tersebut dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain: adanya konversi lahan pertanian ke non-pertanian, kerusakan jaringan irigasi, semakin langkanya sumberdaya air, serta kompetisi antar sektor dan antar wilayah dalam penggunaan air. Kondisi-kondisi ini mengisyaratkan perlunya peningkatan efisiensi penggunaan air dalam produksi padi. Sektor pertanian harus mampu meningkatkan produksi padi dengan lebih sedikit air. Selain itu, hingga saat ini, iuran penggunaan air irigasi (IPAIR) bagi petani pengguna air belum diimplementasikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai ekonomi air irigasi di Daerah Irigasi Van der Wijce di Yogyakarta untuk menentukan iuran layanan air secara lebih akurat, serta untuk membandingkan nilai air irigasi pada daerah hulu, tengah dan hilir Daerah Irigasi Van der Wijce. Petani di daerah hulu mampu menanam padi hingga tiga kali, sementara di bagian hilir hanya dua kali per tahun. Tingkat produktivitas padi juga berbeda diantara kedua daerah ini, dimana petani di daerah hulu menggunakan lebih banyak air dan menghasilkan output yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah hilir. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai air irigasi semestinya lebih tinggi di daerah hulu dibandingkan dengan daerah hilirnya. Pendekatan nilai sisa Wickstead digunakan dalam menentukan nilai air
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

SISTEM KENDALI PENGGUNAAN AIR IRIGASI DENGAN APLIKASI SMARTPHONE BERBASIS KELEMBABAN TANAH

SISTEM KENDALI PENGGUNAAN AIR IRIGASI DENGAN APLIKASI SMARTPHONE BERBASIS KELEMBABAN TANAH

Air merupakan faktor penting dalam kegiatan budidaya tanaman di bidang pertanian. Pemberian air yang tepat ke akar perlu diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dalam kegiatan budidaya. Air yang dapat diserap oleh akar tanaman berada diantara keadaan air kapasitas lapang dan titik layu permanen (K dan Suhardjono, 2017). Sistem pengairan di Indonesia mayoritas masih menggunakan model tradisional, sehingga efektivitas distribusi air ke dalam lahan persawahan masih rendah. Rendahnya sistem pengelolaan irigasi yang menjadi salah satu sebab tidak efisiennya irigasi dan rendahnya tingkat layanan irigasi, menyebabkan borosnya pemakaian air irigasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan para petani berlomba-lomba mendapatkan air irigasi secara berlebih (Soekrasno, 2019). Penggunaan air irigasi yang terlalu boros mengakibatkan efisiensi irigasi sangat kurang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Regulasi Pintu Air Untuk Optimasi Pengelolaan Pintu Air Irigasi Pada Daerah Irigasi Cimulu

Regulasi Pintu Air Untuk Optimasi Pengelolaan Pintu Air Irigasi Pada Daerah Irigasi Cimulu

Air merupakan sumber daya yang digunakan terus menerus untuk memenuhi kebutuhan manusia, mahluk hidup lainnya dan lingkungan.Sumber daya air yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan sistem pengelolaan air yang baik dan penggunaan air sesuai dengan kebutuhan. Peningkatan jumlah penduduk dan pengembangan pertanian mengharuskan adanya upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan air yang optimal sesuai kebutuhan khususnya dalam sistem pengairan irigasi.

9 Baca lebih lajut

OPTIMASI  ALOKASI AIR DAERAH IRIGASI COLO   Optimasi Alokasi Air Daerah Irigasi Colo.

OPTIMASI ALOKASI AIR DAERAH IRIGASI COLO Optimasi Alokasi Air Daerah Irigasi Colo.

ETc : evapotranspirasi tanaman, dalam mm/hari. ETc : kebutuhan air konsumtif, dalam mm/hari. ETo : evapotranspirasi potensial (mm/hari) ETo : evapotranspirasi, dalam mm/hari. ez : elevasi di atas aras air laut (m) f c : bagian tanah yang tertutup tanaman

16 Baca lebih lajut

Efisiensi penggunaan air tanaman padi dengan irigasi kontinyu dan berselang di Kecamatan Mijen, Semarang

Efisiensi penggunaan air tanaman padi dengan irigasi kontinyu dan berselang di Kecamatan Mijen, Semarang

berselang memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai pada irigasi berselang lebih besar daripada irigasi kontinyu. Hal tersebut dimungkinkan karena beberapa faktor, yaitu pada irigasi kontinyu dengan kondisi yang selalu tergenangi menyebabkan unsur hara tercuci (leaching) dan diduga terbuang melalui rembesan (seepage), pada irigasi berselang dapat mengaktifkan jasad renik (mikroba anaerob) yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman serta dapat mengurangi jumlah malai yang tidak menghasilkan gabah (BALITPA, 2009). Selain hal itu, kondisi sekitar tajuk pada irigasi berselang cenderung lebih kering daripada lahan irigasi kontinyu sehingga dapat diduga suhu sekitar tajuk pada irigasi berselang lebih tinggi daripada suhu sekitar tajuk pada lahan irigasi kontinyu. Hal tersebut menyebabkan nilai transpirasi pada lahan irigasi berselang lebih besar dibandingkan dengan lahan irigasi kontinyu. Transpirasi memungkinkan penyerapan nutrisi dari dalam tanah melalui akar dan didistribusikan ke seluruh bagian tanaman. Saat terjadi proses transpirasi stomata akan terbuka sehingga pada permukaan daun akan terjadi pertukaran uap air (H 2 0) dari daun ke
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Pembuatan Irigasi Air Permukaan

Pembuatan Irigasi Air Permukaan

– Website: setda.baubaukota.go.id Email: ulp@baubaukota.go.id; ulp.baubaukota@gmail.com B A U B A U PENGUMUMAN PEMENANG PEMILIHAN LANGSUNG PASCAKUALIFIKASI SISTEM GUGUR Untuk [r]

1 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN AIR IRIGASI MELALUI PEMBERDA

PENGELOLAAN AIR IRIGASI MELALUI PEMBERDA

Tanggung jawab dari segi ekonomi, merupakan pangkal modal berjalannya suatu pengelolaan air irigasi. Tanpa adanya dukungan dana yang cukup, maka sangat tidak mungkin suatu kelembagaan akan berjalan dengan baik. Segi ekonomi ini juga tentunya dapat memberikan kesejahteranaan kepada masyarakat petani yang ditunjukan dengan hasil panen yang cukup baik dan harga jual gabah yang cukup tinggi. Keberhasilan pengelolaan tersebut, akan memberikan nilai positif dari masyarakat petani untuk lebih giat lagi berperan serta dalam mendukung lancarnya kelembagaan yang dikelolanya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR (1)

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR (1)

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. Satuan CH adalah mm, inch.

20 Baca lebih lajut

Perbandingan Kualitas Air Irigasi di Per

Perbandingan Kualitas Air Irigasi di Per

Kualitas fisiko-kimia air juga dapat tercermin dari nilai Total Suspended Solids (TSS). TSS terdiri dari partikel-partikel pasir, lumpur, tanah liat dan material organik yang ikut terbawa aliran air sepanjang saluran. Nilai TSS yang tinggi dalam perairan berdampak pada kelangsungan hidup organisme perairan. Tingginya kandungan TSS dapat menghambat proses pernafasan makroinvertebrata bentos, dan pada ikan dapat mengurangi jarak pandang ikan dalam mencari mangsa [7]. Kelangsungan hidup organisme perairan juga didukung oleh kandungan karbonat (CO 3 2- ) dan bikarbonat
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Tinjauan Kebutuhan Air Irigasi Saluran Sekunder Taroang Daerah Irigasi Kelara

Tinjauan Kebutuhan Air Irigasi Saluran Sekunder Taroang Daerah Irigasi Kelara

Kebutuhan Air Irigasi (KAI) pada SS Taroang yang memiliki luas area 2.140 Ha untuk dialiri selama setahun yaitu 39,11 m3/detik. Ketersediaan air irigasi pada SS Taroang berdasarkan hasil pengukuran debit yang masuk ke saluran didapatkan debit minimum sebesar 0,12 m3/detik. Sedangkan debit maksimum yang masuk kesaluran sebesar 0,31 m3/detik. Dari hasil analisa neraca air diketahui bahwa, ketersediaan air yang masuk ke SS Taroang tidak mencukupi untuk mengairi areal irigasi seluas 2.140 Ha. Untuk menanggulangi hal tersebut maka harus mempertimbangkan 3 pilihan: 1. Luas daerah irigasi dikurangi; 2. Melakukan modifikasi dalam pola tanam; 3. Melakukan rotasi teknis golongan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Peningkatan Efisiensi Irigasi (Studi Kasus: Aset Irigasi di Kabupaten Trenggalek) - ITS Repository

Peningkatan Efisiensi Irigasi (Studi Kasus: Aset Irigasi di Kabupaten Trenggalek) - ITS Repository

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, menjelaskan bahwa inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang milik daerah. Menurut Siregar (2004) inventarisasi aset terdiri dari dua aspek yaitu inventarisasi fisik dan yuridis/legal. Aspek fisik terdiri dari bentuk, luas, lokasi, volume/jumlah, jenis, alamat dan lain-lain, sedangkan aspek yuridis adalah status penguasaan, masalah legal yang dimiliki, batas akhir penguasaan. Proses kerjanya adalah dengan melakukan pendaftaran labeling, cluster, secara administrasi sesuai dengan manajemen aset. Mardiasmo (2004) menjelaskan bahwa pemerintah daerah perlu mengetahui jumlah dan nilai kekayaan daerah yang dimilikinya, baik yang saat ini dikuasai maupun yang masih berupa potensi yang belum dikuasai atau dimanfaatkan. Untuk itu pemerintah daerah perlu melakukan identifikasi dan inventarisasi nilai dan potensi aset daerah. Kegiatan identifikasi dan inventarisasi dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang akurat, lengkap dan mutakhir mengenai kekayaan daerah yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah daerah.
Baca lebih lanjut

195 Baca lebih lajut

Studi Pola Lengkung Kebutuhan Air Untuk Irigasi Pada Daerah Irigasi Tilong

Studi Pola Lengkung Kebutuhan Air Untuk Irigasi Pada Daerah Irigasi Tilong

Besar efisiensi saluran irigasi dalam perencanaan jaringan irigasi Tilong adalah 90% untuk saluran primer, 90% untuk saluran sekunder, dan 80% untuk saluran tersier. Sehingga, efisiensi total irigasi untuk sampai tingkat bangunan pengambilan di daerah irigasi Tilong adalah 65%. Dari hasil analisis diatas, dilakukan perhitungan kebutuhan air pada petak irigasi setiap setengah bulan. Untuk analisis ini digunakan enam alternatif mulai tanam dari tiga kali musim tanam dalam setahun dengan pola Padi-Padi-Palawija.

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects