Top PDF Peningkatan Kemandirian Anak melalui Metode Pembiasaan Usia 4- 5 Tahun di Taman Kanak Kanak Mujahidin I

Peningkatan Kemandirian Anak melalui Metode Pembiasaan Usia 4- 5 Tahun di Taman Kanak Kanak Mujahidin I

Peningkatan Kemandirian Anak melalui Metode Pembiasaan Usia 4- 5 Tahun di Taman Kanak Kanak Mujahidin I

Abstrak: Pendidikan anak usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa ini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Proses pembiasaan dalam pendidikan merupakan hal yang penting terutama bagi anak-anak usia dini. Anak-anak belum menyadari apa yang disebut baik dan tidak baik dalam arti susila. Ingatan anak-anak belum kuat, perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang terbaru dan disukainya. Dalam kondisi ini mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan pola pikir tertentu. Berdasarkan pengamatan peneliti yang juga guru pada kelas tersebut, terdapat 21 anak dari 25 anak (84%) mengalami kesulitan dalam menyimpan sepatu di tempatnya, terdapat 18 anak dari 25 anak (72%) mengalami kesulitan dalam membuka bekal sendiri, terdapat 15 anak dari 25 anak (60%) yang mengalami kesulitan dalam mengembalikan mainan pada tempatnya setelah di gunakan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

A. Latar belakang - PENGARUH METODE STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TAMAN KANAK – KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK - Repository UM Pontianak

A. Latar belakang - PENGARUH METODE STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TAMAN KANAK – KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK - Repository UM Pontianak

Metode tanya jawab ini memang sangat efektif bagi guru TK islamiyah. Contoh pembelajaran tanya jawab yaitu guru memeberikan pertanyaan kepada anak tentang bentuk – bentuk perilaku yang baik yang menunjukan bagian dari perilaku prososial pada saat melakukan pembelajaran. Tetapi, kenyataannya dilapangan metode ini tidak berhasil untuk meningkatkan perilaku prososial anak dikarenakan anak merasa bosan. Oleh karena itu peneliti ingin menerapkan metode storytelling untuk meningkatkan perilaku prososial anak.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH METODE STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TAMAN KANAK – KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK - Repository UM Pontianak

PENGARUH METODE STORYTELLING TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TAMAN KANAK – KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK - Repository UM Pontianak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anak-anak yang perilaku prososialnya masih kurang baik. Hal ini dikarenakan guru di sekolah mengajarkan perilaku prososial hanya menggunakan penejlasan secara lisan atau metode tanya jawab saja, sehingga menyebabkan anak tidak mengerti dan merasa bosan dengan penjelasan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan metode storytelling yang digunakan berpengaruh untuk meningkatkan perilaku prososial anak. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah anak laki – laki dan anak perempuan. Teknik pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian, data pre-test dan post-test dilakukan dengan perhitungan uji-t dengan hasil t-hitung sebesar -11,393 dan t-tabel sebesar -2,119. Berdasarkan hipotesisi jelas bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel ini berarti terdapat pengaruh metode storytelling terhadap peningkatan perilaku prososial anak usia 4-5 tahun.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI METODE ROLE PLAYING DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK SKRIPSI

PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI METODE ROLE PLAYING DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAMIYAH PONTIANAK SKRIPSI

puluh anak keterampilan sosial meningkat. Persentase kenaikan tertinggi dalam keterampilan sosial yang dicapai oleh Yz subjek, di 96,6% . metode bermain bermain peran pada pembelajaran yang diterapkan oleh guru mempunyai langkah: (1) mengusulkan dan membahas situasi; (2) menyiapkan sebuah Roleplaying; (3) bermain; (4) mengungkapkan pengalaman;. Tujuan dari penelitian ini telah dicapai dengan maksimal sesuai diharapkan .

14 Baca lebih lajut

Peningkatan keterampilan menggunting melalui metode demonstrasi pada anak usia 4-5 Tahun di Kelompok Bermain/Taman Kanak-Kanak Aisyiyah 2 Candi Sidoarjo.

Peningkatan keterampilan menggunting melalui metode demonstrasi pada anak usia 4-5 Tahun di Kelompok Bermain/Taman Kanak-Kanak Aisyiyah 2 Candi Sidoarjo.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti di KB/TK Aisyiyah 2 Candi ditemukan adanya permasalahan dalam keterampilan menggunting anak usia 4-5 tahun atau Kelompok A belum berkembang dengan baik yang ditandai dengan belum terampilnya anak saat menggunting. Dari 17 anak tercatat 7 anak yang cara memegang gunting sudah benar dan rapi dalam menggunting sesuai pola, 4 anak yang mengguntingnya cepat selesai tetapi hasilnya kurang rapi dan asal-asalan, 3 anak yang mengerjakannya masih perlu bimbingan guru, serta ada 2 anak yang tidak mau mengerjakan sama sekali. 3 Selain dari hasil observasi peneliti juga mendapatkan data melalui wawancara dengan guru kelas kelompok A (Usman bin Affan) mengenai anak yang dapat menggunting di kelompok A, kemudian guru kelas menjawab bahwa yang dapat menggunting ada 7 anak dan rata-rata anak tersebut sudah pernah masuk Playgroup. Selain dari observasi dan wawancara peneliti juga mengambil data dari hasil karya anak,, dari hasil karya anak peneliti dapat melihat bahwa keterampilan menggunting di kelompok A masih perlu ditingkatkan.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Peningkatan Perilaku Disiplin Anak Melalui Metode Pembiasaan di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Insan Kamil kelompok B1 usia 5-6 tahun

Peningkatan Perilaku Disiplin Anak Melalui Metode Pembiasaan di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Insan Kamil kelompok B1 usia 5-6 tahun

Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus II berlangsung, maka peneliti bersama observer melakukan diskusi tentang proses kegiatan yang telah dilakukan. Dari pertemuan itu diperoleh kesimpulan tentang beberapa hal pelaksanaan siklus II. Pada siklus II terjadi perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan anak kelompok B. Anak-anak sudah banyak yang hadir tepat waktu di sekolah. Namun hanya sebagian kecil yang tidak hadir tepat waktu. Mereka juga sudah mulai menerapkan kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah makan. Pada saat sebelum dan sesudah makan, anak juga sudah menerapkan kebiasaan mencuci tangan. Hal tersebut menunjukkan indikator keberhasilan guru dalam menerapkan pembiasaan pada anak. Meskipun begitu, anak tetap perlu didampingi dan diarahkan agar kebiasaan-kebiasaan disiplin dapat selalu diterapkan secara terus menerus hingga akhirnya tidak perlu mendapatkan teguran lagi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Implementasi Metode Bercerita Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Percaya Diri Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak

Implementasi Metode Bercerita Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Percaya Diri Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut(1) Perencanaan pembelajaran metode bercerita dalam peningkatan percaya diri anak. Menganalisis kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran guru membuat RKH (Rencana Kegiatan Harian) yang terdapat kurikulum 2013, (2) Menerapkan metode bercerita dengan menggunakan media agar anak mudah untuk mengerti isi cerita yang diceritakan dan merangsang anak untuk menyampaikan pikiran, gagasan, ide untuk mengungkapkan perasaanya secara langsung,(3) Evaluasi pembelajaran metode bercerita yang dilakukan dengan cara evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan dengan cara melihat langsung aktivitas anak melalui lembar obesrvasi. Sedangkan evaluasi hasil dilakukan dalam bentuk catatan dan penilaian perkembangan anak,(4) Percaya diri dapat dikembangkan melalui pembelajaran dan metode-metode dengan menggunakan metode bercerita yang disiapakan oleh guru dan media. Dengan menggunakan metode ini Rasa percaya diri anak berkembang lebih baik
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peningkatan Perilaku Sopan Santun pada Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak PGRI Ketapang

Peningkatan Perilaku Sopan Santun pada Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak PGRI Ketapang

Pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan perilaku sopan santun melalui metode bermain peran. Suyono, (2011: 55) Untuk memulai suatu proses pembelajaran guru dapat melakukan lima langkah mengajar dengan urutan anatar lain: 1) Persiapan: Pada langkah persiapan ini guru membawa anak untuk berusaha mengingat kembali apa yang telah dilakukan atau dialami sebelumnya tentang hal-hal yang akan dipelajari. 2) Penyajian: Guru menyajikan dengan cara menunjukkan fakta, gejala atau mendemonstrasikan suatu proses tertentu. 3) Perbandingan: Berdasarkan fakta, gejala atau apa yang disajikan dalam demonstrasi, anak diajak untuk membuat perbandingan melihat kesamaan dan perbedaan kemudian menghubungkannya dengan pengalaman yang diperoleh pada masa lampau. 4) Penyimpulan: Berdasarkan hasil dari proses perbandingan peserta didik diajak untuk mencari rumusan kesimpulan dehingga menemukan konsep prinsip-prinsip tertentu. 5) Penerapan: Konsep dan prinsip yang telah ditemukan dijadikan dasar untuk memecahkan masalah yang terkait dengan apa yang dipelajari, terutama diambil dari masalah nyata yang muncul dalam situasi kehidupan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Keterampilan Motorik Halus Melalui Pembelajaran Melipat Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Taman Kanak-kanak Torsina 1

Keterampilan Motorik Halus Melalui Pembelajaran Melipat Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Taman Kanak-kanak Torsina 1

pada anak, seperti: belum dapat mengkoordinasikan mata dantangan untuk melakukangerakan melipat kertas, belum dapat melakukan gerakan manipulatifuntuk menghasilkan suatubentuk lipatan dengan menggunakan media, belum dapat mengekspresikan diri dengan berkarya seni melipat menggunakan media, hal ini dikarenakan anak masih terpaku pada contoh yang diberikan guru. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah anak yang berjumlah 15 anak. Hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa: 1) Perencanaan pembelajaran antara lain:menentukan bahan pelajaran, mengorganisasikan materi media, merencanakan skenario kegiatan pembelajaran, menercanakan penelolaan kelas,merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian. 2) Pelaksanaan pembelajaranyakni: melakukan pembelajaran, mengelola interaksi kelas, mendemonstrasikan kemampuan dalam membuat topi, d) melaksanaka penilaian proses dan hasil belajar. 3) Peningkatan motorik halus pada Anak yakni:mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan melipat media,melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk lipatan dengan menggunakan media, mengekspresikan diri dengan berkarya seni melipat menggunakan media.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Peningkatan Perkembangan Moral melalui Bercerita pada Usia 5–6 Tahun di Taman Kanak-kanak Haruniyah

Peningkatan Perkembangan Moral melalui Bercerita pada Usia 5–6 Tahun di Taman Kanak-kanak Haruniyah

Hasil pengamatan sementara di TK Islam Haruniyah dalam pengembangan moral anak didiknya melalui metode bercerita masih relatif rendah. Minimnya pembelajaran yang bisa menggali moralitas anak dalam mengembangkan sikap berbuat baik berdampak pada anak kurang mampu untuk membedakan perbuatan yang benar dan salah. Selain hal tersebut, pola asuh juga menjadi faktor mendesak terhadap pembentukan moral pada diri anak. Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru yang masuk pada kelas tersebut, terdapat 17 orang anak 70,83% yang masih sulit berperilaku hormat, 16 orang anak 66,67% masih suka bertindak kasar, 15 anak 62,50% masih sulit mengucapkan terima kasih, dan 16 anak 66,67 % yang masih sulit meminta dan memberi maaf. Identifikasi masalah yang dapat diuraikan sebagai berikut : 1 . Kurangnya perilaku baik anak, terutama pada perilaku moral yang masih perlu ditingkatkan dan dikembangkan seperti perilaku hormat, tidak bertindak kasar, mengucapkan terima kasih dan perilaku mengucapkan maaf. 2 . Guru kurang memiliki pengetahuan yang baik tentang perkembangan moral anak. 3 . Guru kurang memahami pelaksanaan pembelajaran yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak. 4 . Minimnya guru menggunakan metode bercerita sebagai proses belajar bagi anak . Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, maka dalam penelitian PDVDODK XPXPQ\D DGDODK ³$SDNDK PHODOXL EHUFHULWD GDSDW PHQLQJNDWNDQ perkembangan moral anak pada usia 5-6 tahun di TK Islam Haruniyah Pontianak Timur?.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemberian Motivasi Belajar Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Taman Kanak-kanak Mujahidin II Pontianak Timur

Pemberian Motivasi Belajar Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Taman Kanak-kanak Mujahidin II Pontianak Timur

Oleh karena penelitian ini bermaksud untuk menganalisis tentang pemberian motivasi belajar pada anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-Kanak Mujahidin II Pontianak Timur. Maka metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menjelaskan secara apa adanya tentang keadaan subjek atau objek penelitian, dengan alasan bahwa permasalahan yang diteliti adalah peristiwa yang sedang terjadi berdasarkan fakta yang tampak. Pendekatan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif, hal ini disebabkan karena peneliti ingin mendeskripsikan secara jelas dan rinci tentang pemberian motivasi belajar serta mendapatkan data yang mendalam yang menjadi fokus penelitian. Menurut Miles (dalam Prastowo ³3HQHOLWLDQ NXDOLWDWLI SDGD GDVDUQ\D PHUXSDNDQ VXDWX SURVHV SHQ\HOLGLNDQ \DQJ PLULS GHQJDQ SHNHUMDDQ GHWHNWLI´
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Menanamkan Sopan Santun Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Bhayangkari 2

Menanamkan Sopan Santun Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Bhayangkari 2

Pelaksanaan pembelajaran dalam menanamkan perilaku sopan santun melalui penerapan metode bercerita pada anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak- Kanak Bhayangkari 2 Mempawah Hilir. Masitoh dkk (2006) mengemukakan bahwa skenario pembelajaran metode bermain peran/ dramatisasi adalah sebagai berikut. 1) Tahap Persiapan antara lain: a) Guru menata lingkungan main sebagai pijakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak. b) Guru menyambut kedatangan anak dan mempersilahkan untuk bermain bebas dulu. c) Semua anak mengikuti main pembukaan dengan bimbingan guru. d) Guru memberi waktu pada anak untuk ke kamar mandi dan minum secara bergiliran/ pembiasaan antri. 2) Tahap Pembukaan: a) Anak-anak masuk ke kelas dan duduk dengan membentuk setengah lingkaran. b) Guru memberikan sebuah cerita yang telah disiapkan sebelumnya kepada anak. c) Guru memberikan motivasi kepada anak- anak agar senang untuk mau memerankan cerita yang telah disampaikan. d) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memerankan setiap tokoh yang ada dalam cerita. e) Jika melalui cara di atas, guru dapat memilih beberapa anak untuk memerankan setiap tokoh yang ada dalam cerita. f) Guru menyiapkan dialog yang ada dalam cerita.3) Tahap Inti, a) Guru membimbing dan mendengarkan anak- anak yang akan memerankan tokoh yang ada dalam cerita. b) Anak-anak yang telah dipilih, memerankan tokoh masing-masing sesuai dengan yang ada dalam cerita. c) Guru memberikan motivasi kepada anak-anak agar senang melakukan perannya. d) Sementara anak-anak yang ada di depan kelas memerankan tokoh, anak-anak lainnya mengamati berlangsungnya kegiatan bermain peran. e) Guru memberikan pujian kepada anak-anak yang telah melakukan peran. 4) Tahap Penutup, a) Guru duduk bersama anak dengan membentuk setengah lingkaran untuk memberikan pijakan pengalaman setelah melaksanakan kegiatan. b) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan atau menceritakan kembali kegiatan yang sudah dilakukan. c) Guru memberi dorongan kepada anak- anak dengan pujian atau cara penguatan lainnya. d) Guru bersama anak mengulas kegiatan dalam suasana tenang dan nyaman.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Peningkatan Perilaku Saling Menyayangi pada Anak Usia 4-5 Tahun di Taman Kanak-kanak

Peningkatan Perilaku Saling Menyayangi pada Anak Usia 4-5 Tahun di Taman Kanak-kanak

merupakan suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budanyanya. Berkaitan dengan hal tersebut untuk memberikan pemahaman akan kasih sayang dengan tidak membedakan etnis kepada anak, guru memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter pada anak. Guru harus dapat mensiasati pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran untuk meningkatkan perilaku saling menyayangi antara etnis. Metode bercerita merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat membentuk cara berpikir anak tentang kasih sayang dalam perbedaan etnis. Dalam pelaksanaannya cerita yang disampaikan kepada anak dibuat sesuai dengan tema dan sub tema yang akan dibahas dengan mengaitkan perilaku saling menyayangi antar etnis. Pada penyampaian cerita, guru menyampaikan cerita yang dapat membentuk suatu pola pemikiran yang melandasi perubahan perilaku pada diri anak ke arah yang lebih baik. Dari permasalahan yang telah dikemukakan, peneliti tertarik untuk untuk meneliti tentang pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk “Meningkatkan Perilaku Saling Menyayangi Antara Etnis Melalui Metode Bercerita Pada Anak Usia 4-5 Tahun di Taman Kanak-Kanak Bruder Dahlia Pontianak”. Manusia merupakan makhluk etis atau makhluk yang mampu memahami kaidah-kaidah moral dan mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam bertutur kata, bersikap, dan berperilaku. Kemampuan seperti di atas bukan merupakan kemampuan bawaan melainkan harus diperoleh melalui proses belajar. Anak dapat mengalami perkembangan moral jika dirinya mendapatkan pengalamanan bekenaan dengan moralitas. Perkembangan moral anak ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma, dan etika yang berlaku (Slamet Suyanto, 2005: 67). Mengingat moralitas merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia maka manusia sejak dini harus mendapatkan pengaruh yang positif untuk menstimulasi perkembangan moralnya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Sikap Cinta Lingkungan Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Rahadi Usman

Sikap Cinta Lingkungan Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Rahadi Usman

endidikan Anak Usia Dini memiliki peran yang sangat penting di masa kanak- kanak. Menyadari akan pentingnya hal tersebut, maka memberikan layanan pendidikan sejak dini sangat diperlukan. Alam merupakan literatur yang penting untuk mengembangkan kemampuan anak, karena melalui penggunaan alam anak akan lebih mudah untuk memahami sehingga akan memberikan pesan moral kepada anak dalam mencintai lingkungan kususnya dalam mencintai tumbuh- tumbuhan. Dengan terlibatnya anak secara aktif dalam pengenalan tumbuh- tumbuhan, maka secara otomatis anak akan belajar bepikir tentang manfaat tumbuh-tumbuhan tersebut. Suatu cara yang dapat mengenalkan tumbuh- tumbuhan kepada anak dengan mengajak anak untuk memelihara tanaman yang terdapat dilingkungan, dengan cara memberikan pupuk, menyiram tanaman dan menjaga kesuburan tanaman dengan cara tidak memetik daun sembarangan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

STUDI KASUS KETERAMPILAN DASAR AKADEMIK ANAK USIA 4 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK

STUDI KASUS KETERAMPILAN DASAR AKADEMIK ANAK USIA 4 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK

Penelitian ini dilakukan untuk melihat keterampilan dasar akademik yang dimiliki oleh anak yang mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kasus yaitu metode riset yang menggunakan sumber data yang sebanyak mungkin bisa digunakan untuk menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek mengenai individu secara sistematis. Subjek penelitian adalah seorang anak berusia 4 tahun yang mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak. Informan peneliti adalah ibu dan guru subjek, serta tugas-tugas yang telah dilakukan subjek. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami hambatan dalam keterampilan dasar akademik. Keterampilan dasar akademik yang dimiliki anak, diharapkan dapat diasah secara optimal saat anak mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak untuk menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengelolaan Pendidikan Karakter Religius Melalui Metode Pembiasaan di Taman Kanak-Kanak

Pengelolaan Pendidikan Karakter Religius Melalui Metode Pembiasaan di Taman Kanak-Kanak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan Pendidikan Karakter Religius Melalui Metode Pembiasaan di TK Ibu Hj. Euis Siti Ruyanah di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa pengelolaan di sekolah ini terdiri dari empat tahap diantaranya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Dalam penerapan Metode Pembiasaan, kegiatan pendidikan karakter Religius diantaranya: Pertama, Pada pagi hari membaca iqra sebelum masuk kelas,; Kedua, sebelum belajar membaca do’a,; Ketiga, membaca shalawat bani hasyim,; Keempat, setelah belajar membaca do’a. Ada dua faktor yang mempengaruhi dalam pengelolaan pendidikan Karakter Religius Melalui Metode Pembiasaan di TK Ibu Euis Siti RuyanaH Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, yakni faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung diantaranya: Pertama, kerjasama antara pendidik dengan orangtua, Kedua, sarana dan prasarana yang memadai, Ketiga, semangat belajar dari anak, Keempat, peran dan ikut serta dari masyarakat. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat adalah kondisi kepala sekolah yang kurang sehat, pekerjaan orangtua yang beragam, dan SDM yang belum memenuhi standar kelulusan pendidikan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Strategi Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal pada Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak

Strategi Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal pada Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak

Berdasarkan hasil observasi dan catatan lapangan serta dokumentasi yang dilakukan selama delapan hari di Taman Kanak-kanak Pertiwi Disbun Kecamatan Pontianak Tenggara dari awal sampai akhir pembelajaran, telihat bahwa strategi yang dilakukan guru dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal pada aspek kejasama adalah guru mengajarkan kepada anak untuk tidak berkelahi saat bermain bersama agar anak selalu memiliki kekompakan saat bermain sehingga terjalin kerjasama yang baik, mengajarkan kepada anak untuk saling bersahabat satu sama lain supaya anak dapat bermain bersama, guru juga meminta anak untuk bermain bersama seperti bermain balok, bermain melempar bola yang bertujuan agar terjalin kerjasama yang baik pada anak sejak dini, ketika anak menyelesaikan tugas kelompok guru memberikan batasan waktu supaya dapat terlihat kerjasama yang baik saat anak mengerjakan tugas kelompok. Guru juga meminta anak bersama-sama membuat barisan ketika sedang antri cuci tangan karena hal ini dapat melatih kerjasama yang baik pada anak apakah anak tersebut memiliki kerjasama yang baik saat sedang berbaris selain itu juga dapat melatih disiplin anak, guru meminta anak bersama-sama membuat barisan ketika sedang antri menyimpan sepatu ke rak sepatu. Selanjutnya guru mengajak anak bersama- sama membereskan alat permainan dan mengajak anak bersama-sama memungut mainan yang terjatuh ketika selesai bermain serta mengajak anak bergotong- royong mengangkat mainan yang telah disimpan di dalam keranjang ketempat penyimpanannya. Guru membuat permainan yang di mainkan oleh 2 orang anak atau lebih, membagi anak dalam beberapa kelompok untuk menyelesaikan tugas dan memberikan semangat kepada anak saat menyelesaikan tugas kelompok serta memberikan batasan waktu, mengajak anak bersama-sama menyimpan mainan kedalam tempat yang telah disediakan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pembelajaran Pengembangan Perilaku Moral Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak

Pembelajaran Pengembangan Perilaku Moral Anak Usia 5-6 Tahun di Taman Kanak-kanak

5 secara bersamaan, mengulang kalimat yang lebih kompleks, memahami aturan dalam suatu permainan. Mengungkapkan bahasa seperti: menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keterangan), memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain, melanjutkan bagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan. Keaksaraan seperti: menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal, mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada disekitarnya, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama, memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf, membaca nama sendiri, menuliskan nama sendiri. Sosial emosional seperti: bersikap kooperatif dengan teman, menunjukan sikap toleran, mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang-sedih- antusias dsb), mengenal tata karma dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial budaya setempat, memahami peraturan dan disiplin, menunjukan rasa empati, memiliki sikap gigih (tidak mudah menyerah), bangga terhadap hasil karya sendiri, menghargai keunggulan orang lain.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK

2 sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan anak didik. Jika dianalisis, kita akan menemukan satu kata kunci yang juga merupakan suatu kebutuhan dalam tujuan tersebut yaitu kata daya cipta atau dengan istilah lain kreativitas. Salah satu tujuan program taman kanak-kanak adalah meningkatkan daya cipta atau kreativitas. Sedangkan menurut Mulyasa (2012: 6), menyatakan, “ PAUD berfungsi untuk mengembangkan berbagai potensi anak secara optimal, sesuai dengan kemampuan bawaannya, potensi tersebut meliputi ranah kognitif, kreativitas, bahasa, jasmani (motorik kasar dan halus), spiritual, sosial, dan emosi”. Supriadi, (dalam Yeni Rahcmawati dan Eus Kurniati, 2010:13). menyatakan bahwa, “k reativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Kreativitas adalah kemampuan seseorang menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda dari yang apa telah ada. Kemampuan ini dapat dimiliki seseorang jika ia memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi kreatif yang dimilikinya”. Mengembangkan kreativitas anak memerlukan peran penting pendidik. Guru adalah komponen penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Sidjabat (2012: 178) “selain membentuk watak atau kara kter anak yang merupakan tugas dan panggilan sekolah, guru juga berperan sebagai pendidik, kesehatan jasmani, iman, akhlak mulia, kecerdasan, kecakapan, kreativitas, kemandirian tidak terpisahkan satu sama lain menjadi kebutuhan anak didik ” . Hal tersebut sependapat dengan pernyataan Mulyasa (dalam Asmani, 2011:71) menyatakan bahwa, fungsi guru itu multifungsi, ia tidak hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaru, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pebangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan kulminator”.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Menggambar Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Al-hikmah Tayan Hilir

Peningkatan Kemampuan Menggambar Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-kanak Al-hikmah Tayan Hilir

Perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru sesuai dengan teori yang dikemukakan di atas, dalam hal ini 1) Guru menetapkan tujuan pembelajaran terhadap kemampuan menggambar melalui kegiatan karya wisata 2) Guru mempersiapkan berbagai alat atau bahan yang diperlukan. 3) Guru mempersiapkan tempat yakni ruangan kelas, 4) Guru mengatur ketersediaan media dengan jumlah anak yang ada, 5) Guru mempertimbangkan apakah dilaksanakan sekaligus (serentak seluruh anak atau secara bergiliran, 6) Guru memperhatikan masalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang merugikan, 7) Guru memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan anak, yang termasuk dilarang atau membahayakan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects