Top PDF Peningkatan Keterampilan Guru Sekolah Dasar dalam Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi melalui Pelatihan

Peningkatan Keterampilan Guru Sekolah Dasar dalam Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi melalui Pelatihan

Peningkatan Keterampilan Guru Sekolah Dasar dalam Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi melalui Pelatihan

Di dalam sektor pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) juga telah menempatkan TIK sebagai salah satu pendukung utama tersedianya layanan pendidi- kan. Penyediaan tenaga pendidik berkompeten yang merata di seluruh Indonesia telah dinyatakan sebagai salah satu tujuan strategis dalam Renstra Pendidikan Nasional 2010 – 2014. Penyediaan pendidik yang menguasai kompetensi TIK merupakan kebutuhan mende- sak demi tercapainya tujuan strategis dalam Renstra 2010 – 2014 tersebut. Guru yang kompeten dalam pemanfaatan TIK diperlukan untuk mengembangkan kompetensi personal, pedagogis, sosial, dan professional sesuai dengan Permendiknas No 16 Tahun 2007 tentang Kompetensi Guru. Saat ini merupakan bangkitnya generasi emas yang menjadi landasan untuk mencapai generasi 2045 dan siswa yang cerdas dan kompetitif menjadi human capital dalam pembangunan sosial dan ekonomi, seperti yang disampaikan dalam sambutan Menteri Pendidikan pada Hari Pendidikan Nasional
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pembuatan Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Kelas III Menggunakan Komputer Multimedia Sekolah Dasar

Pembuatan Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Kelas III Menggunakan Komputer Multimedia Sekolah Dasar

Metode pembelajaran oleh guru yaitu dengan cara menerangkan materi yang dilakukan di dalam kelas lalu siswa mempraktekkannya dengan komputer di dalam laboratorium komputer. Cara ini kurang efektif dan efisien karena siswa tidak dapat menangkap materi yang akan dipraktekkan. Kelas III Sekolah Dasar Negeri 02 Karanganyar adalah tingkatan kelas yang sudah dapat menguasai mouse dan keyboard dengan baik.Sehingga diperlukan media pembelajaran yang lebih interaktif dari media pembelajaran yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu dengan cara konvensional yang kurang efektif dan efisien.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN MEDIA INFORMASI TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH DASAR

PEMANFAATAN MEDIA INFORMASI TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH DASAR

Realita pendidikan Indonesia di atas erat kaitannya dengan berbagai aspek, seperti media pembelajaran yang digunakan (Susanti et al., 2020), metode pembelajaran (Hakim & Ritonga, 2018), (Aprianto et al., 2020), sumber belajar (Ritonga, 2017), kompetensi guru (Tisnelly et al., 2020), (Hotmaida et al., 2020). Sejalan berkembangnya pengetahuan yang diiringi kemajuan dalam bidang pendidikan, kebutuhan akan sumber daya manusia sangat mendesak. Beragam cara diupayakan pemerintah untuk menaikkan keterampilan dan kemampuan melalui bidang pendidikan. Struktur yang telah diciptakan selama beberapa tahun terakhir ini, ternyata masih belum bisa untuk mewujudkan perubahan serta menjawab kemauan nasional dan secara keseluruhan. Tindakan menyerasikan dan meningkatkan pendidikan merupakan pusat pembentukan masih menjadi permasalahan yang belum mampu dituntaskan dalam bidang pendidikan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DENGAN GENERASI Z: PELATIHAN GURU TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) OPTIMA EDUCATION

MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DENGAN GENERASI Z: PELATIHAN GURU TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) OPTIMA EDUCATION

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, penulis menyoroti interaksi antara guru dan siswa di sekolah dasar dan menengah, khususnya untuk mata pelajaran TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi). Menurut penulis, interaksi antara guru dan siswa di mata pelajaran ini menarik untuk diamati, karena siswa generasi Z adalah Digital Natives sementara guru-gurunya adalah Digital Immigrant. Prensky (2001) menjelaskan bahwa Digital Natives adalah sebutan untuk individu yang lahir saat internet dan teknologi digital lainnya merupakan hal lumrah dan tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sementara Digital Immigrant adalah sebutan untuk generasi pendahulu yang hidup di dunia analog dan kemudian merasakan peralihan menuju dunia digital. Para imigran dunia digital (guru) ini bertugas mengajarkan TIK pada penduduk asli dunia digital (siswa). Di satu sisi, kondisi para siswa yang sudah melek teknologi dan punya kemampuan belajar mandiri dari internet seharusnya memudahkan guru untuk mengajar. Akan tetapi di sisi lain, para siswa tersebut bisa saja lebih mengetahui dan menguasai perkembangan teknologi informasi daripada gurunya. Jika hal yang diajarkan di kelas ternyata sudah dikuasai oleh siswa, tentu mereka bosan dan merasa tidak belajar apa-apa. Belum lagi jika cara gurunya mengajar monoton, bersifat satu arah saja, dan materi yang diajarkan tidak dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di dunia luar. Hal ini membuat siswa generasi Z semakin tidak tertarik mengikuti mata pelajaran TIK di kelas.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN MENGGUNAKAN METODE PEMBERIAN TUGAS DI SEKOLAH DASAR NEGERI

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN MENGGUNAKAN METODE PEMBERIAN TUGAS DI SEKOLAH DASAR NEGERI

Menurut Soli Abimanyu, dkk (2016:6) kelebihan dari pengguanaan metode pemberian tugas ini adalah sebagai berikut. (1) pengetahuan yang dipelajari lebih meresap, tahan lama, dan lebih otentik. (2) melatih siswa untuk lebih inisiatif, bertanggungjawab dan berdiri sendiri. (3) tugas yabg diberikan guru dapat memperdalam, memperkaya atau memperluas wawasan siswa tentang apa yang dipelajari. (4) siswa dilatih kebiasaan mencari dan mengolah informasi sendiri. (5) metode ini apabila dilakukan dengan berbagai variasi dapat menggairahkan siswa belajar.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERTANYA INKUIRI GURU PADA PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR MELALUI KEGIATAN LESSON STUDY.

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERTANYA INKUIRI GURU PADA PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR MELALUI KEGIATAN LESSON STUDY.

Pembelajaran IPA di sekolah dasar hendaknya mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, sebaiknya pembelajaran IPA dilakukan secara inkuiri ilmiah. Salah satu permasalahan pembelajaran adalah guru masih menggunakan pertanyaan yang bersifat mengulang atau mengingat saja pada pembelajaran IPA, sehingga proses menemukan sendiri mengenai suatu konsep oleh siswa yang merupakan rohnya pembelajaran IPA tidak tergali dengan baik. Oleh karena itu, perlu pembinaan bagi guru yang secara khusus meningkatkan keterampilan bertanya dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembinaannya adalah lesson study. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang peningkatan keterampilan bertanya inkuiri guru melalui lesson study di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen (pre-experimental) dengan desain penelitian pretest-postest kelompok tunggal eksperimen dengan subyek penelitian empat orang guru yang dilaksanakan di empat sekolah yang berada di gugus “Melati” Kabupaten Indramayu. Pada tahap in-service 1, diisi dengan pemberian pelatihan dengan materi lesson study, keterampilan bertanya dasar, keterampilan bertanya lanjut dan keterampilan bertanya inkuiri. Tahap selanjutnya adalah on-service, tahap ini dilakukan dengan penerapan materi yang telah disampaikan pada tahap in-service 1, melalui implementasi lesson study, tahap berikutnya adalah tahap in-service 2, tahap ini kegiatannya diskusi antar guru. Secara garis besar permasalahan yang didiskusikan sekitar pemahaman tentang lesson study, keterampilan bertanya inkuiri guru. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner atau angket dan catatan lapangan. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman guru tentang lesson study, hal yang sama juga terjadi dengan pemahaman guru tentang bertanya inkuiri, begitu pula dengan keterampilan bertanya inkuiri guru dalam pembelajaran IPA mengalami peningkatan setelah melakukan kegiatan lesson study.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI HAMBATAN DALAM PENGUASAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI GURU KELAS IV SEKOLAH DASAR DI GUGUS VI UPTD KECAMATAN PONJONG.

IDENTIFIKASI HAMBATAN DALAM PENGUASAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI GURU KELAS IV SEKOLAH DASAR DI GUGUS VI UPTD KECAMATAN PONJONG.

Dari hasil pra survei di gugus VI UPTD Kecamatan Ponjong, peneliti mendapatan gambaran secara umum mengenai kondisi beberapa sekolah dasar di gugus VI UPTD Kecamatan Ponjong. Peneliti menemukan beberapa permasalahan diantaranya metode pembelajaran yang digunakan guru sekolah dasar selama ini sebagian besar masih monoton dengan menggunaan metode konvensional (ceramah) padahal hampir di setiap sekolah memiliki fasilitas komputer yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Bahkan di sebuah sekolah dasar di gugus VI UPTD kecamatan Ponjong telah memiliki fasilitas laboratorium komputer. Artinya fasilitas komputer yang dimiliki sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini dikarenakan belum semua guru sekolah dasar menguasai dalam mengoperasikan fasilitas tersebut. Berdasarkan data observasi awal, dari 44 guru sekolah dasar di gugus VI, 20 guru belum menguasai teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam menggunakan program Microsoft Office (Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Powerpoint, dll).
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Pola Pemanfaatan Teknologi Informasi Di Sekolah Dasar

Pola Pemanfaatan Teknologi Informasi Di Sekolah Dasar

Keterangan yang diperoleh dari wa- wancara dengan guru SD Muhammadiyah Macanan yakni, kondisi pemanfaatan di sekolah saya masih sangat minim. Belum semua guru memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Di samping itu fasili- tas yang mampu disediakan oleh sekolah juga masih terbatas (4 unit komputer) saat ini komputer baru sekedar digunakan oleh guru sebagai alat bantu untuk membuat administrasi pembelajaran, belum diguna- kan sebagai media pembelajaran di kelas. Penggunaan internet sebagai alat untuk mencari sumber-sumber penunjang pem- belajaran baru dilakukan oleh beberapa orang guru dan itupun dilakukan dengan cara mandiri (bukan fasilitas sekolah) padahal yang berusaha mengembangkan diri seperti itu adalah guru honorer pemda DIY dengan gaji di bawah 500 ribu/bulan. LCD sudah ada tetapi harus digunakan secara berbantian, karena sarana yang lain (laptop) masih terbatas dan kemampuan SDMnya juga terbatas. Saya berharap dimasa mendatang pemerintah bukan hanya menuntut guru menguasai TI dan memanfaatkan TI sebagai sumber belajar tetapi juga banyak memberikan pelatihan kepada guru bagaimana menguasai TI dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN DI SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN DI SEKOLAH DASAR

Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi/kata-kata untuk mengespresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Bahasa lisan sebagai alat komunikasi berupa simbol yang di hasilkan oleh ucap manusia. Dawson, (Tarigan 2008:5) berbicara dengan bantuan alat peraga akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik kepada pihak penyimak. Umumnya, sang anak akan mempergunakan/meniru bahasa yang di dengarnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Modul pelatihan peningkatan kompetensi berbasis kecakapan abad 21 guru sekolah dasar (SD)

Modul pelatihan peningkatan kompetensi berbasis kecakapan abad 21 guru sekolah dasar (SD)

Perbedaan antara teknik pengamatan dengan ikut serta dalam melatih empati adalah pengamatan bisa dibantu menggunakan instrumen atau teknologi, sementara ikut serta harus dilakukan secara langsung. Bentuk keikutsertaan diantaranya dengan melihat, mendengar, dan mengalami kondisi nyata yang terjadi di lapangan. Saat ikut serta, berarti kita menemukan sendiri adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan yang mungkin selama ini tidak terlihat di permukaan. Terjun langsung pada kondisi yang dialami oleh orang lain tentu akan menghasilkan data yang lebih valid dibandingkan hanya sekedar menerima informasi sekilas dari berbagai sumber.
Baca lebih lanjut

154 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI SEKOLAH DASAR  Pengelolaan Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di SD Negeri 1 Penawangan Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan.

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI SEKOLAH DASAR Pengelolaan Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di SD Negeri 1 Penawangan Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hennessy (2010) dalam makalahnya yang berjudul “Teacher Factors Influencing Classroom Use of ICT in Sub-Saharan Afrika “ Makalah ini membahas tentang kompetensi guru dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi (TIK) di sekolah dasar. Fokus pembahasan adalah pada internal yang mempengaruhi guru dalam penggunaan, teknologi di dalam kelas. Peran guru di sekolah dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi penulis menyimpulkan dengan menggambarkan sejumlah implikasi pedagogis untuk pendidikan guru awal dan pengembangan profesional akan faktor yang berkontribusi untuk menggunakan Teknologi Informasi Komunikasi berkelanjutan oleh guru-guru dapat membuat pelajaran lebih menarik, lebih menyenangkan, lebih beragam, lebih memotivasi, dan mendukung produktif belajar.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) GURU AGAMA SMA/SMK DI YOGYAKARTA

PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) GURU AGAMA SMA/SMK DI YOGYAKARTA

Keterampilan guru dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran agama Islam untuk saat ini merupakan salah satu kompetensi yang perlu dimiliki oleh guru agama Islam di sekolah/madrasah. Ketrampilan tersebut dapat membantu meningkatkan kinerja guru dalam peningkatan prestasi belajar siswa. Penguasaan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunkasi (TIK) dapat membantu guru untuk melakukan variasi metode dalam pembelajaran agama menjadi lebih menarik dan produktif. Kenyataannya, masih sedikit guru agama yang melakukan pembelajaran dengan berbasis Teknologi Informasi di madrasah, sehingga pembelajaran menjadi monoton, tidak bervariasi dan kurang menarik.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN GURU DALAM PENERAPAN PAKEM MELALUI PELATIHAN DAN BIMBINGAN KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI SAMPALI

PENINGKATAN KETERAMPILAN GURU DALAM PENERAPAN PAKEM MELALUI PELATIHAN DAN BIMBINGAN KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI SAMPALI

Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan dasar membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang tradisional (model atau metode pembelajaran yang lebih berpusat guru) ke pengembangan model atau metode yang lebih berpusat pada siswa. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara lain: (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) peserta didik adalah
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Sebagai Wujud Inovasi Sumber Belajar di Sekolah Dasar

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Sebagai Wujud Inovasi Sumber Belajar di Sekolah Dasar

Pada dunia pendidikan Indonesia, globalisasi memberi dampak keharusan perubahan pada cara mengajar guru yang dulunya bersifat tradisional berbasis paper menjadi kini berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Fungsi TIK bagi guru antara lain, pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pekerjaan administratif (Word processor & Kebutuhan Wajib Tingkat Dasar, Spreadsheet). Kedua, TIK dapat digunakan untuk membantu mengemas bahan ajar (Multimedia). Ketiga, TIK dapat digunakan untuk membantu proses manajemen pembelajaran. Keempat, TIK dapat digunakan untuk dukungan teknis dan meningkatkan pengetahuan agar dapat mewujudkan self running creation (antivirus, tools, jaringan, , internet, dll). Beberapa jenis sumber dan media pembelajaran berbasis TIK yang dapat dimanfaatkan guru di sekolah dasar, antara lain adalah Komputer atau laptop, LCD (Liquid Crystal Display), Smart Television, Jaringan Internet, E-mail (electronic mail), Presentasi Power Point, CD pembelajaran, dan Smart phone. Untuk meningkatkan kemampuan kemampuan dalam memanfaatkan TIK, guru perlu terus melatih dan mebiasakan sesering mungkin pembelajarannya berbasis pada TIK, disamping itu, guru perlu mengikuti pelatihan-pelatihan guna meningkatkan pengetahuannya di bidang TIK ini.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PELATIHAN KETERAMPILAN DASAR KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI PERANGKATDESA PURBOSARI KECAMATAN SELUMA BARAT KABUPATEN SELUMA

PELATIHAN KETERAMPILAN DASAR KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI PERANGKATDESA PURBOSARI KECAMATAN SELUMA BARAT KABUPATEN SELUMA

Bekal kemampuan menggunakan dan memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu faktor kunci untuk mengejar ketertinggalan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dari bangsa-bangsa lain. Program-program pendidikan dan latihan secara formal maupun non formal yang memberikan bekal ketrampilan dan kemampuan dalam menggunakan dan memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas kebutuhan. Jalur pendidikan formal berpotensi dan bernilai strategis untuk menyelenggarakan pendidikan dan latihan di bidang TIK yang idealnya dimulai sejak dini. Hal ini mengisyaratkan pentingnya bagi semua orang sejak dini disediakan pengalaman dalam memanfaatkan sarana teknologi informasi dan komunikasi khususnya komputer yang bermanfaat sebagai bekal kemampuan dasar dan potensi untuk belajar sepanjang hayat dan memecahkan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupannya kelak.(Ifan Wiranto, 2015)
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peningkatan keterampilan menulis narasi Bahasa Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi

Peningkatan keterampilan menulis narasi Bahasa Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi

Tahap observasi, mengembangkan ide. Siswa mengembangkan tema berdasarkan ide yang mereka miliki melalui pengalaman-pengalaman yang diketahui kemudian menyeleksi ide atau gagasan cerita mana yang sesuai untuk dikembangkan. Dalam tahap ini, siswa belum terbiasa menggunakan KBBI daring maupun luring dalam menulis narasi karena mereka tidak pernah menggunakan secara langsung aplikasi KBBI daring atau luring yang dapat diakses melalui gawai maupun komputer. Setelah itu, guru meminta siswa untuk memilih suatu topik yang bertentangan dengan situasi-situasi yang telah dideskripsikan. Siswa mengembangkan dan menyeleksi ide-ide lainnya berdasarkan penemuan yang ditemukan dalam KBBI daring atau luring. Selanjutnya, guru meminta siswa membandingkan dua objek atau konsep secara sederhana yang berfungsi untuk mengalihkan situasi suatu masalah ke dalam situasi lain dalam memperoleh ide atau gagasan baru.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

MANAJEMEN PELATIHAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI BAGI GURU

MANAJEMEN PELATIHAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI BAGI GURU

Pelaksanaan Kegiatan Siklus I adalah tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti dan kepala sekolah menyiapkan kebutuhan pelatihan yang akan dilaksanakan, yaitu peneliti dan kepala sekolah menyusun materi pelatihan penggunaan LCD proyektor untuk pembelajaran dan materi pembuatan presentasi pembelajaran menggunakan Microsoft Office Power Point, peneliti membuat soal tes yang memuat tentang materi pelatihan yang terdiri dari soal pretest dan postest, peneliti membuat lembar observasi yang akan digunakan untuk mengamati aktivitas pembelajaran selama proses pelatihan yaitu perilaku selama mengikuti pelatihan yang diamati terdiri dari aspek sikap, respon, keaktifan, dan keseriusan dan keterampilan guru dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi yang terdiri dari aspek persiapan (cara menggunakan LCD Proyektor dan komputer atau laptop), keterampilan menjelaskan (presentasi dengan materi yang akan diajarkan), dan penutup (mengajukan pertanyaan kepada peserta didik, menyimpulkan materi, dan menutup pembelajaran), dan peneliti menyiapkan daftar pertanyaan untuk mengetahui tanggapan dari guru sesuai pedoman wawancara yang dipakai peneliti yang berkaitan dengan pelatihan, media pembelajaran, dan pembelajaran yang dilakukan guru di kelas.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Peningkatan Keterampilan Komunikasi Saintifik Melalui Group Investigation (GI) pada Calon Guru Sekolah Dasar

Peningkatan Keterampilan Komunikasi Saintifik Melalui Group Investigation (GI) pada Calon Guru Sekolah Dasar

Abstrak: Perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat cepat di abad 21, mengharuskan masyarakat memiliki keterampilan komunikasi, khususnya secara tertulis. Keterampilan ini juga perlu dikuasai oleh calon guru sekolah dasar, agar mampu mengajarkan dan memberikan bekal kepada siswa dalam menghadapi perkembangan zaman. Model pembelajaran Group Investigation (GI) digunakan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi tulis mahasiswa terkait konsep IPA. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus dan 4 pertemuan, dengan subjek penelitian 39 mahasiswa PGSD. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan komunikasi tulis mahasiswa dari pratindakan, siklus I, dan siklus II. Peningkatan keterampilan komunikasi tulis mahasiswa ditunjukkan melalui hasil uji N-gain score pada pratindakan hingga siklus II sebesar 0,36 dengan kategori sedang. Indikator ketercapaian ketuntasan penelitian juga menunjukkan sebanyak 82% atau 32 mahasiswa telah mengalami peningkatan dengan nilai rerata 67,6 dan tergolong dalam kategori terampil hingga sangat terampil.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Efektivitas Pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying” untuk Meningkatkan Keterampilan Pembinaan Bullying pada Guru Sekolah Dasar

Efektivitas Pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying” untuk Meningkatkan Keterampilan Pembinaan Bullying pada Guru Sekolah Dasar

Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying” untuk meningkatkan keterampilan melakukan pembinaan terhadap peristiwa bullying pada guru sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi dengan desain one gorup pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 11 orang guru sekolah dasar di salah satu sekolah dasar di Kota Surabaya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tes pengetahuan bullying (α = 0.71) dan pedoman observasi keterampilan pembinaan pelaku dan korban bullying (%ARR = 0.89). Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah uji beda non parametrik menggunakan teknik wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata skor keterampilan pembinaan anti-bullying yang signifikan sebelum (M=6.82) dan sesudah (M=16.45) diberikan pelatihan. Nilai perbedaan dapat dilihat berdasarkan nilai z=-2.953 dan p value < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan “Care Teacher, Fight Bullying” efektif untuk meningkatkan keterampilan melakukan pembinaan terhadap peristiwa bullying pada guru sekolah dasar.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MODEL PICTURE AND PICTURE SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MENGGUNAKAN MODEL PICTURE AND PICTURE SEKOLAH DASAR

Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis puisi dengan menggunakan model picture and picture . Siswa yang diteliti adalah siswa kelas III. Pada Saat proses pengambilan data semua siswa kelas III hadir semua dengan jumlah 35 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data kemampuan guru merancang dan melaksanakan pembelajaran menulis puisi dengan menggunaan model picture and picture serta keterampilan menulis puisi dengn menggunakan model picture and picture di kelas III Sekolah Dasar Negeri 05 Nyandung Kabupaten Bengkayang. Peneliti terlebih dahulu melakukan pertemuan bersama guru kolaborator memberikan lembar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar Instrument Penilaian Kinerja Guru (IPKG), kemudian mengatur jadwal pelaksanaan penelitian yang akan dilaksanakan. Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa bahwa telah terjadi peningkatan dalam
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects