Top PDF Peningkatan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) menggunakan Kombinasi Metode Fermentasi, Delignifikasi dan Destilasi

Peningkatan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) menggunakan Kombinasi Metode Fermentasi, Delignifikasi dan Destilasi

Peningkatan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) menggunakan Kombinasi Metode Fermentasi, Delignifikasi dan Destilasi

Penyulingan minyak nilam tradisional dilakukan dalam kapasitas kecil dan menggunakanmetode penyulingan sederhanaberdasarkan pada perbedaan titik didih yang jauh atau salah satu komponen bersifat volatil. Proses ini menghasilkan kualitas minyak nilam kurang baik seperti bilangan asam lebih dari 8, minyak berwarna gelap, patchouli alkohol kurang dari 30%, dan kadarair tinggi.Pada penelitian ini telah dilakukan penyulingan minyak dari tanaman nilam menggunakan kombinasi metode yaitu fermentasi-delignifikasi, destilasi dan pemurnian untuk meningkatkan kualitas minyak nilam. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kombinasi proses fermentasi-delignifikasi-destilasi-adsorpsi menghasilkan kualitas minyak nilam yang lebih baik dengan kualitas bilangan asam, kandungan patchouli alkohol, kadar air dan bobot jenis berturut-turut adalah 7.48, 35.60%, 0.56%, 0.0957.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN METODE DELIGNIFIKASI DAN FERMENTASI

PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN METODE DELIGNIFIKASI DAN FERMENTASI

dan uap panas ketika proses destilasi berlangsung. Dari proses destilasi daun cengkeh hasil gabungan proses delignifikasi dan fermentasi rendemen minyak atsiri yang dihasilkan sebesar 1,3581%; indeks bias 1,5190; kelarutan dalam etanol 70% 1 : 2; bobot jenis 20 o C/20 o C 1,025; dan bau khas minyak cengkeh yang sedikit berkurang dengan warna minyak jernih kekuningan. Berdasarkan sifat fisik minyak atsiri yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri daun cengkeh ini sesuai dengan range yang ditetapkan dalam SNI 06-2387-2006. Adapun sifat fisika minyak atsiri hasil destilasi dari berbagai perlakuan awal dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

View of PENGARUH PERBANDINGAN PELARUT DAN BAHAN BAKU TERHADAP PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH) DENGAN DESTILASI – AIR MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO

View of PENGARUH PERBANDINGAN PELARUT DAN BAHAN BAKU TERHADAP PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH) DENGAN DESTILASI – AIR MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO

Bahan baku yang digunakan adalah daun nilam dan batang nilam dengan perbandingan 1 : 1 yang diperoleh dari daerah dampit, kabupaten malang. Metode yang digunakan adalah destilasi – air dan destilasi-air dengan menggunakan mikrowave. Bahan baku sebelumnya dicacah dengan ukuran antara 1 s.d 2 cm. Kondisi operasi untuk kedua metode destilasi -air adalah pada temperatur dan tekanan atmosferik serta berat daun nilam kering dan batang 100 gram. Adapun perbandingan bahan baku dan pelarut (air) 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, dan 1:5 dengan menggunakan variabel daya mikrowave 600 watt. Peralatan yang digunakan selama proses destilasi menggunakan labu leher bundar 1000 mL, adaptor dan kondensor serta corong pisah yang terbuat dari kaca. Sebelum proses destilasi-air berjalan, terlebih dahulu dilakukan maserasi (perendaman) terhadap bahan baku dan pelarut di dalam mikrowave dengan temperatur 70°C selama 60 menit. Untuk metode destilasi - air dengan pemanasan thermal dilakukan proses destilasi selama 7 jam (pengambilan destilat tiap 20 menit) sedangkan untuk metode destilasi - air dengan menggunakan mikrowave selama 180 menit (pengambilan destilat dilakukan saat jumlah destilat yang ditampung dalam corong pisah mencapai 40% dari total volume pelarut yang digunakan). Kedua Metode destilasi ini dalam istilah teknik kimia disebut juga proses leaching karena dalam metode ini terjadi proses pengambilan solute dalam padatan dengan bantuan pelarut, sehingga minyak yang terlarut dapat teruapkan bersama pelarut. Metode destilasi – air menggunakan mikrowave merupakan kombinasi antara pemanfaatan radiasi gelombang mikro dengan sistem destilasi - air. Hasil kondensasi uap yang diperoleh berupa campuran minyak nilam dan air yang dipisahkan dengan menggunakan corong pemisah dan pendinginan. Gambar rangkaian peralatan pada penelitian ini sebagaimana berikut:
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Peningkatan Mutu Minyak Nilam (Patchouli Oil) Dengan Menggunakan Metode Destilasi Fraksionasi Vakum

Peningkatan Mutu Minyak Nilam (Patchouli Oil) Dengan Menggunakan Metode Destilasi Fraksionasi Vakum

Karya tulis peningkatan mut minyak nilam ()ini akan memicu jiwa kreatif inovatif mahasiswa dalam melakukan sebuah riset khususnya riset yang menggunakan instrumen. Kondisi ini dapat menumbuhkan iklim kompetitif di kalangan mahasiswa untuk bersaing melalui pengembangan intelektualitas dan kreatifitas sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Program ini merupakan perwujudan dari Tridharma Perguruan Tinggi. Dengan program ini pula akan meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam penerapan teknologi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM.

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM.

pendingin sehingga terjadi pengembunan dan uap air yang bercampur minyak atsiri tersebut akan mencair kembali. Selanjutnya, campuran ini dialirkan ke alat pemisah untuk memisahkan minyak atsiri dan air. Konkretnya bahan yang akan disuling diletakkan di atas permukaan air dengan jarak tertentu dari atas saringan. Ketel suling diisi air sampai permukaan air tidak jauh dari saringan. Selanjutnya uap dari air dalam ketel mengalir melalui bahan yang akan disuling dan membawa minyak atsiri kedalam kondensor. Cairan hasil kondensasi yang terdiri atas campuran air dan minyak ini ditampung pada suatu tabung, selanjutnya dilakukan proses pemisahan minyak dan air. Minyak dan air dapat dipisahkan dengan membuka keran tabung. Penyulingan ini sering dilakukan petani untuk kebutuhan ekspor.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM

Sebagai komoditas ekspor, minyak nilam mempunyai prospek yang baik karena dibutuhkan secara kontinyu oleh industri parfum, kosmetika, sabun dan lain-lain. Penggunaan minyak nilam dalam industri-industri tersebut karena daya fiksasinya yang cukup tinggi terhadap pewangi lain, sehingga dapat mengikat bau wangi lebih tahan lama, sekaligus membentuk bau yang khas dalam suatu campuran (Ketaren, 1985). Menurut Guenther (1970), minyak nilam sendiri sebenarnya telah dapat disebut parfum karena baunya enak dan wangi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth) Produksi Kabupaten Buol

Analisis Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth) Produksi Kabupaten Buol

besi, yang sifat dari wadah ini mudah terdegradasi, sehingga terjadi kontaminasi dari wadah tersebut dan tidak dipengaruhi oleh banyaknya kadar logam besi dari daun nilam itu sendiri. Menurut (Setya, Budiarti, & Mahfud. 2012) proses pengambilan minyak nilam (patchouli alcohol) dari daun nilam dengan menggunakan microwave distillation, dapat mempercepat proses destilasi. Ketersediaan microwave ini cukup mudah didapatkan di masyarakat. Selain itu juga, salah satu metode yang dapat dipakai untuk memurnikan adalah kompleksometri dengan senyawa pengkelat asam sitrat. Hal ini terdengar asing bagi para petani, namun proses ini bisa disederhanakan dengan mencari bahan yang mudah dijumpai oleh masyarakat awam yakni jeruk nipis. Jeruk nipis memiliki kandungan asam sitrat yang cukup untuk digunakan sebagai senyawa pengkelat, selain itu jeruk nipis merupakan buah yang mudah diperoleh di masyarakat pada umumnya dan harganya pun relatif murah. (Septiana, Arienata, & Kumoro. 2013). Keterbatasan itulah yang mendorong dilakukannya upaya optimalisasi nilai tambah setiap komuditas pertanian khususnya produksi pengolahan minyak nilam pada tingkat petani desa. Dalam perspektif optimalisasi tersebut, peran Pemerintah sangat berpengaruh sebagai penunjang pemberdayaan dalam agroindustri pengolahan minyak nilam skala kecil dan menengah pada tingkat pedesaan. Sehingga meningkatkan kesejahteraan para petani nilam dan masyarakat sekitarnya. (Ditjenbun, 2006)
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM.

PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM.

kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. Bilangan asam adalah ukuran dari asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1N yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak (Sastrohamidjojo, 2004).
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Penetapan Kadar Minyak Atsiri kayu Manis (Cinnamomum burmanni) dengan Metode Destilasi

Penetapan Kadar Minyak Atsiri kayu Manis (Cinnamomum burmanni) dengan Metode Destilasi

Menurut Gunawan dan Mulyani (2004), sifat-sifat minyak atsiri ialah: Tersusun oleh bermacam macam komponen senyawa, Memiliki bau khas, umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Mempunyai rasa getir, kadang kadang berasa tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau dingin ketika terasa dikulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya. Dalam keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah menguap pada suhu kamar, Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid), Bersifat tidak stabil pada pengaruh lingkungan, baik berupa oksigen udara, sinar matahari dan panas, Indeks biasnya tinggi. Pada umumnya bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik dan tidak dapat bercampur dengan air, tetapi cukup larut hingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya sangat kecil, Sangat mudah larut dalam pelarut organik.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

PROFIL FERMENTASI PADA PRODUKSI MINYAK MIKROALGA MENGGUNAKAN

PROFIL FERMENTASI PADA PRODUKSI MINYAK MIKROALGA MENGGUNAKAN

Kadar lipid selama kultur ditunjukkan pada Gambar 6. Kadar lipid mengalami peningkatan dari hari ke hari dan mencapai kadar lipid tertinggi pada hari ke-11. Pencapaian kadar lipid tertinggi diperoleh bersamaan dengan kadar berat kering sel tertinggi. Hari ke-12 dan setelahnya, kadar lipid mengalami penurunan. Kadar lipid tertinggi sekitar 23% merupakan kadar yang masih lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya (Chisti,2007).

5 Baca lebih lajut

Peningkatan Kadar Patchouli Alkohol Pada Minyak Nilam Melalui Teknik Kultur Jaringan.

Peningkatan Kadar Patchouli Alkohol Pada Minyak Nilam Melalui Teknik Kultur Jaringan.

Keberhasilan dalam teknologi serta metode in-vitro terutama disebabkan oleh pengetahuan yang lebih baik tentang kebutuhan hara sel dan jaringan yang dikulturkan. Komposisi formulasi dari suatu media secara umum harus mengandung nutrien esensial makro dan mikro serta sumber tenaga dimana zat-zat tersebut bisa dicampur sendiri dari bahan dasarnya, atau diperoleh sudah dalam bentuk campuran. Biasanya ditambah zat pengatur tumbuh, seperti hormon-hormon dan zat penyangga misalnya agar. Tiap tanaman membutuhkan 6 elemen makronutrien : nitrogen, kalium, magnesium, kalsium, belerang, dan fosfor serta tujuh elemen mikro nutrien yaitu besi, mangan, seng, tembaga, boron, molibden, dan klor dalam bentuk ikatan kimia dan perbandingan yang sesuai. Banyak formulasi media yang diguna kan, diantaranya yang dikembangkan oleh Murashiege dan Skoog (MS) dan medium B5 yang dikembangkan di Prairie Regional Laboratory. Keistimewaan medium MS ini adalah kandungan nitrat, kalium dan amoniumnya yang tinggi. Baik medium MS maupun medium B5 ta mpaknya mengandung jumlah hara anorganik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam kultur.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

PENGARUH DELIGNIFIKASI MENGGUNAKAN

PENGARUH DELIGNIFIKASI MENGGUNAKAN

Juliando Saragih dilahirkan di Pematang Raya, Sumatera Utara pada tanggal 16 Juli 1988 dari ayah bernama Judiaman Saragih dan ibu yang bernama Demianna Purba. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Riwayat pendidikan penulis dimulai dari tahun 1993 di Taman Kanak-kanak Bina Insani. Pada tahun 1994 sampai tahun 2000 penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar Inpres 097800 Kampung Jawa, kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Pematang Raya dari tahun 2000 sampai tahun 2003. Tahun 2003 sampai tahun 2006 penulis menanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Pematang Raya.Tahun 2003 penulis melanjutkan pendidikan di Tingkat Persiapan Bersama Kampus Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis melanjutkan pendidikan di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB dari tahun 2004. Penulis telah melakukan praktek lapang di PT. PG. Madukismo, Bantul, Yogyakarta. Penulis mengakhiri masa studi di IPB setelah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Delignifikasi Menggunakan Phanerochaete
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Penetapan Kadar Minyak Atsiri Dan Kadar Air Pada Kayu Manis Dengan Metode Destilasi

Penetapan Kadar Minyak Atsiri Dan Kadar Air Pada Kayu Manis Dengan Metode Destilasi

Minyak atsiri terdapat pada dan diperoleh dari bagian tertentu tanaman yang mengandung minyak atsiri. Bagian ini antara lain akar, biji, buah, bunga, daun, kulit kayu, ranting dan rimpang atau akar tinggal. Bahkan ada jenis tanaman yang seluruh bagiannya mengandung minyak atsiri. Kandungan minyaknya tidak akan sama antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Misalnya kandungan kimia minyak atsiri yang terdapat pada kuntum bunga cengkih berbeda dengan pada bagian tangkai bunga maupun daun (Lutony dan Rahmayati, 2002). Aneka minyak tumbuhan yang mengandung aroma dan mudah menguap, minyak ini dikenal sebagai minyak atsiri (essensial oil), jadi ciri minyak atsiri ialah mengandung aroma dan mudah menguap. Pada kulit pohon yang mengandung aroma disamping terdapat minyak atsiri, terdapat pula getah dan damar (resin) yang dinamakan balsem. Unsur yang mengandung aroma kemungkinan terbentuk dalam hijau daun (chloroplast) unsur tersebut bersatu dalam glukosa menghasilkan glukosida yang disalurkan keseluruh tubuh tumbuhan. Tumbuhan tersebut menghasilkan zat penawar (enzim) yang menyerbu glukosida, hingga mengakibatkan terciptanya minyak atsiri (Haris, 1990).
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Akar nilam mengandung minyak dengan mutu yang terbaik, tetapi kandungan minyak hanya sedikit. Kandungan minyak yang terbanyak terdapat pada daun nilam. Oleh karena itu berhasil tidaknya penyulingan minyak nilam sangat tergantung dari mutu daunnya. Pemanenan nilam yang terlalu muda selain kadar minyaknya sedikit, kualitas minyaknya pun rendah. Sebaliknya, pemanenan nilam yang terlalu tua hingga daun nampak coklat, kandungan minyak akan menurun disebabkan sebagian minyak dalam daun telah menguap (Mangun dalam Dalimunthe, 2008).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Minyak nilam merupakan salah satu minyak atsiri yang mempunyai fungsi dan kegunaan yang luas karena wanginya yang khas maka sering digunakan sebagai parfum untuk pakaian, karpet, barang-barang tenun, industri sabun, dan kosmetik. Selain itu juga dapat digunakan sebagai bahan “fiksatif”, yaitu

3 Baca lebih lajut

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Institut Teknologi Sepuluh November Hernani dan Tri Marwati, 2006, Peningkatan Mutu Minyak Atsiri Melalui Proses Pemurnian, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor.. Mengenal Le[r]

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

37 Lampiran Gambar pekebunan nilam Gambar pengambilan nilam dilapangan Gambar daun nilam yang siap disuling Gambar kondensor tong penyuling Gambar penampung minyak Minyak yang suda[r]

2 Baca lebih lajut

Analisis Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) Produksi Kabupaten Buol

Analisis Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) Produksi Kabupaten Buol

Minyak atsiri merupakan salah satu produksi agro industri yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan. Saat ini terdapat 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan dipasar dunia dan Indonesia mempunyai 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, tetapi hanya 14 jenis yang memiliki peranan nyata sebagai komoditas ekspor (Hetik, dkk. 2013). Minyak atsiri yang disebut juga minyak esteris atau minyak terbang banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Minyak atsiri banyak digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan, sabun, pasta gigi wangi-wangi dan obat-obatan. Minyak atsiri sebagian besar diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri, salah satunya minyak nilam (pogostemon cablin benth) Patchouli ( pogostemon cablin benth ) is one of the essential oil producing plants which are quite important, known as Oil Patchouly. This oil pick strategic potential in the world market which is used as a binder fragrance in perfumes, cosmetics, pharmaceutical industry, and other industries. Buol which aims to determine the quality of patchouli oil. Samples is patchouli oil yield Buol. Parameters in meticulous ie specific gravity, refractive index, acid Numbers, Numbers Esther, and Solubility in Alcohol. The technique used is the technique of sampling area. The results showed that the Weighted Value Type 25 o C / 25°C for samples A = 0.997 to 1.000, B = 0.962 to 0.965, C = 0.995 to 0.998 D = 0.980 to 0.983, and E = 0.968 - 0.971. To value Bias Index ( nD20 ) ie sample A = 1.45505 to 1.45705, B = 1.45506 to 1.45706, C = 1.45504 to 1.45704, D = 1.45503 to 1.45703, and E = 1.45523 to 1.45723. Numbers for acid sample value A = 2.805, B = 3.366, C = 2.5245, D = 3.0855 and E = 3.6465. For esther numbers are sample values A = 15.4275, B = 5.61, C = 12.6225, D = 4.2075 and E = 19.635. And last is the determination of solubility in alcohol that sample A = 1 : 2, B = 1 : 1.7, C = 1 : 0.9, D = 1 : 1, and E = 1 : 3. These data show patchouli oil production Buol area has good quality in terms of acid value, ester number and solubility in alcohol is the average Indonesian National Standards meet the standards and ISO. While the specific gravity and refractive index still does not meet the Indonesian National Standard and ISO.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Perbedaan Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Berdasarkan Bagian Pada Tanaman

Dari hasil penelitian ini hanya uji warna, kelarutan dalam etanol 90%, bilangan asam, bilangan ester, dan putaran optik, alpha copaeneyang sudah memenuhi standar SNI 06-2385-2006.Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bagian ujung, tengah dan bawah tanaman nilam mempunyai kelebihan dan kekurangan.Untuk mendapatkan kualitas minyak yang baik adalah dengan menyuling hampir keseluruhan bagian tanaman, namun mengurangi proporsi batang agar bobot jenis minyak yang dihasilkan tidak terlalu tinggi.

2 Baca lebih lajut

Formulasi antinyamuk spray menggunakan bahan aktif minyak nilam

Formulasi antinyamuk spray menggunakan bahan aktif minyak nilam

Secara umum, formulasi insektisida tersusun atas bahan aktif (active agents), bahan pembawa (carrier), dan bahan pembantu (adjuvant) (Djojosumarto, 2008). Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan formula ini adalah minyak nilam sebagai bahan aktif insektisida (active agent), air sebagai bahan pembawa (carrier), dan bahan pembantu (adjuvant) yang terdiri dari metanol dan heksana sebagai pelarut (solvent); polysorbate 80 sebagai pembentuk emulsi (emulsifier), pembasah/perata (surfactant), dan perekat (sticker); vaseline sebagai dispersant agent, yaitu bahan pendispersi (propellant); dan defoaming agent sebagai penghambat pembentukan busa. Penelitian ini menggunakan minyak nilam hasil dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Widiahtuti pada tahun 2008. Peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatan antinyamuk spray adalah neraca analitik, gelas ukur, tabung erlenmeyer, dan pengaduk.
Baca lebih lanjut

148 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects