Top PDF Penyakit Jantung Hipertensi 2.PDF

Penyakit Jantung Hipertensi 2.PDF

Penyakit Jantung Hipertensi 2.PDF

Disfungsi diastolik umumnya terjadi pada seseorang dengan hipertensi. Disfungsi diastolik biasanya, namun tidak tanpa kecuali, disertai dengan HVK. Sebagai tambahan, selain peningkatan afterload, faktor-faktor lain yang ikut berperan dalam proses terjadinya disfungsi diastolik adalah penyakit arteri koroner, penuaan, disfungsi sistolik, dan abnormalitas struktur seperti fibrosis dan HVK. Disfungsi sistolik yang asimtomatik biasanya juga terjadi. Pada bagian akhir penyakit, HVK gagal mengkompensasi dengan meningkatkan cardiac output dalam menghadapi peningkatan tekanan darah, kemudian ventrikel kiri mulai berdilatasi untuk mempertahankan cardiac output. Saat penyakit ini memasuki tahap akhir, fungsi sistolik ventrikel kiri menurun. Hal ini menyebabkan peningkatan lebih jauh pada aktivasi neurohormonal dan sistem renin-angiotensin, yang menyebabkan peningkatan retensi garam dan cairan serta meningkatkan vasokontriksi perifer. Apoptosis, atau program kematian sel, distimulasi oleh hipertrofi miosit dan ketidakseimbangan antara stimulan dan penghambat, disadari sebagai pemegang peran pentingdalam transisi dari tahap kompensata menjadi dekompensata. Pasien menjadi simptomatik selama tahap asimtomatik dari disfungsi sistolik atau diastolik ventrikel kiri, menerima perubahan pada kondisi afterload atau terhadap kehadiran gangguan lain bagi miokard (contoh: iskemia, infark). Peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba dapat menyebabkan edema paru akut tanpa perlu perubahan pada fraksi ejeksi ventrikel kiri. Secara umum, perkembangan dilatasi atau disfungsi ventrikel kiri yang asimtomatik maupun yang simtomatik melambangkan kemunduran yang cepat pad status klinis dan menandakan peningkatan risiko kematian. Sebagai tambahan, selain disfungsi ventrikel kiri, penebalan dan disfungsi diastolik ventrikel kanan juga terjadi sebagai hasil dari penebalan septum dan disfungsi ventrikel kiri.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERBEDAAN RATA-RATA TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG  Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di Rs

PERBEDAAN RATA-RATA TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di Rs

Dari penelitian ini didapatkan bahwa dari 50 sampel terdapat lebih banyak penderita dengan hipertensi dan usia >65 tahun. Seiring bertambahnya usia dan terjadinya penyempitan struktur pembuluh arteri karena pembentukan aterosklerosis, terjadi pula penurunan secara bertahap pada kekompakan struktur arteri. Sebagai tambahan, terjadi pula peningkatan amplitudo dan kecepatan dari gelombang datang, sehingga ejeksi ventrikel kiri lebih terpengaruh gelombang datang saat periode sistolik dibandingkan saat diastolik, dan lebih lanjut terjadi peningkatan tekanan darah sistolik aorta dan penambahan pada afterload. Pemberian stroke volume dan frekuensi ejeksi yang sama, peningkatan kekakuan sentral dan refleksi gelombang yang lebih awal akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah sistolik arteri brachialis, tekanan darah diastolik yang rendah dan PP yang lebih besar (Franklin, et al., 2001).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jantung 2.1.1. Anatomi Jantung - Prevalensi Penyakit Jantung Hipertensi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Yang Dirawat Di Unit Rawat Kardiovaskular RSUP H.Adam Malik Pada Tahun 2011

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jantung 2.1.1. Anatomi Jantung - Prevalensi Penyakit Jantung Hipertensi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Yang Dirawat Di Unit Rawat Kardiovaskular RSUP H.Adam Malik Pada Tahun 2011

Dalam Cardiovascular Health, Nutrition and Physical Activity Section (2003), prosedur pengukuran tekanan darah adalah sebagai berikut: (1) Memeriksa kelengkapan alat, meletakkan manometer menghadap ke arah pemeriksa, lalu memilih ukuran cuff yang sesuai. (2) mempalpasi lokasi arteri brakialis, lalu melilitkan bagian bladder cuff di medial lengan atas, tepat di atas arteri brakialis, bagian bawah cuff berada 2,5 cm di atas fosa antekubiti, sejajar dengan jantung. Lengan pasien diletakkan di atas meja, diposisikan sedikit fleksi dengan bagian palmar menghadap ke atas. (3) Untuk estimasi tekanan sistol, pemeriksa memompa cuff sampai pulsasi arteri radialis menghilang. Kemudian cuff dikempiskan secara perlahan sampai pulsasi kembali dirasakan. Kemudian, menunggu 15 – 30 detik sebelum dilakukan pengukuran selanjutnya. (4) Menghitung maximum inflation level (MIL) dengan menambahkan estimasi tekanan sistol dengan 30 mmHg. (5) Memasang stetoskop dan meletakkan bell atau diafragma stetoskop di atas arteri brakialis. (6) Memompa cuff sampai level yang telah ditentukan pada poin 4. (7) Mengempiskan cuff secara perlahan dengan kecepatan 2 mmHg per detik. Ketika suara pertama kali terdengar, angka yang ditunjukkan sfigmomanometer adalah tekanan sistol. Sedangkan angka yang ditunjukkan ketika suara menghilang sempurna adalah tekanan diastol. (8) Mengempiskan cuff secara cepat dan sempurna, lalu mendokumentasikan hasil pengukuran tekanan darah.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN  Perbedaan Kadar Trigliserida Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di RSUD Dr. Moe

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN Perbedaan Kadar Trigliserida Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di RSUD Dr. Moe

Penelitian menunjukan bahwa dari 70 sampel lebih banyak yang terdiagnosis hipertensi.Orang dengan diabetes lebih rentan mengidap hipertensi daripada yang tanpa diabetes (Sowers and Sowers, 2001).Hipertensi yang bersamaan dengan diabetes sering berhubungan dengan abnormalitas koagulasi sekaligus gangguan lipid.Orang dengan diabetes dan hipertensi, atau orang dengan gangguan toleransi glukosa dan hipertensi menunjukkan sebuah karakteristik dislipidemia yaitu rendah HDL, tinggi LDL, Trigliserida dan kolesterol total (Sowers and Sowers, 2001). Keadaan dislipidemia juga dijumpai pada subjek penelitian ini, dimana terdapat rerata kadar LDL, trigliserida dan kolesterol total yang tinggi serta HDL yang rendah pada penderita DM tipe 2 dengan PJK.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA    Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

DAFTAR PUSTAKA Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

Grundy,M.S.,Cleeman I.J.,Merz C.N.B et al.,. 2004. NCEP Report: Implications of Recent Clinical Trials for the national Cholesterol Education Program Adult Treament Panel III Guidelines.pp. 227-34. Diakses : 18 Maret 2011 dari http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/cholesterol/atp3upd04.pdf.

6 Baca lebih lajut

Riwayat penyakit lainnya, seperti diabetes, hipertensi, jantung, batuk lama, asma, dan alergi disangkal oleh Os.

Riwayat penyakit lainnya, seperti diabetes, hipertensi, jantung, batuk lama, asma, dan alergi disangkal oleh Os.

Cor : Ictus cordis tidak terlihat, Ictus cordis teraba di ics 4 linea midclavicularis kiri, kuat angkat. Batas kanan jantung di ics 4 linea sternalis kanan. Batas atas jantung di ics 2 linea sternalis kiri. Batas pinggang jantung di ics 3 linea parasternalis kiri. Batas kiri jantung di ics 5 linea axilaris anterior kiri. BJ I dan II murni reguler, murmur (-), gallop (-).

7 Baca lebih lajut

Hubungan Kadar Kolesterol Total Dan Hipertensi Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner DI RSUD dr. Soedarso Pontianak

Hubungan Kadar Kolesterol Total Dan Hipertensi Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner DI RSUD dr. Soedarso Pontianak

Penyakit jantung koroner mengalami pen- ingkatan setiap tahunnya. Data dari WHO (World Health Organization) tahun 2013 menun- jukkan bahwa sebanyak 17.3 juta orang men- inggal dunia. Di Indonesia tahun 2013 menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) diagnosis dokter penyakit jantung koroner tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%), di Su- lawesi Tengah (3,8%), Sulawesi Selatan (2,9%) dan di Kalimantan Barat (0,9%). Data Kalim- antan Barat khususnya di RSUD dr.Soedarso Pontianak menunjukkan terjadi peningkatan pada pasien rawat jalan di poli jantung. Tahun 2013 didapatkan sebanyak 139 pasien penyakit jantung koroner dan pada tahun 2014 sebanyak 173 pasien dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 19,65%. (Anonim, 2014)
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Penyakit Jantung Koroner dengan Tingkat Hipertensi di RSUP H.ADAM MALIK Juni – Desember 2010

Hubungan Penyakit Jantung Koroner dengan Tingkat Hipertensi di RSUP H.ADAM MALIK Juni – Desember 2010

Analisis hubungan variabel kejadian Penyakit Jantung Koroner dengan tingkat Hipertensi menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara kejadian Penyakit Jantung Koroner dengan riwayat Hipertensi (p = 0,0001 < p = 0,1) dengan CI (Confidence Interval) 90%. Pada tabel 5.5 dapat dilihat bahwa dari 24 (31.6%) orang pasien Penyakit Jantung Koroner, semuanya memiliki Hipertensi pada semua kategori Hipertensi, Pra hipertensi 4 (5.2%) orang, Hipertensi derajat 1, 12 (16%) orang, dan Hipertensi derajat 2, 8 (10.5%). Sesuai dengan Stratifikasi risiko untuk prognosis dari Hipertensi dimana kelompok 2-4 mempunyai risiko terbesar sekitar 10 tahun mendatang 15- 30% untuk menderita PJK (WHO-ISH 1999), dalam Rilantono 1996 di jelaskan pada pemeriksaan ekokardiografi adanya tanda-tanda iskemia seperti hipokinesis pada stadium lanjut pada Hipertensi
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

HUBUNGAN RIWAYAT HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (Studi Pada Pasien Klinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soekardjo) Tahun 2016

HUBUNGAN RIWAYAT HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (Studi Pada Pasien Klinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soekardjo) Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa responden yang paling lama menderita penyakit jantung koroner adalah 10 tahun, responden yang paling sebentar menderita penyakit jantung koroner yaitu 1 tahun dan rata-rata lama responden menderita PJK yaitu 4 tahun 9 bulan 2 hari.

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

PENDAHULUAN Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

Diabetes, meskipun merupakan faktor risiko independen untuk PJK, juga berkaitan dengan adanya abnormalitas metabolisme lipid, obesitas, hipertensi sistemik, dan peningkatan trombogenesis (Gray et al., 2003). Salah satu faktor risiko yang fundamental pada kejadian PJK adalah kolesterol dan lemak dalam darah (Soeharto, 2004 & Jamal, 2004). Penelitian membuktikan bahwa kenaikan kolesterol plasma merupakan faktor risiko penting untuk berkembangnya PJK. Kadar kolesterol total >6,5 mmol/L (>251 mg/dl) melipatgandakan risiko PJK yang mematikan, >7,8 mmol/L (>286 mg/dl) meningkatkan risiko sampai empat kali lipat. Penurunan kadar kolesterol total sebesar 20% akan menurunkan risiko koroner sebesar 10% (Davey, 2008). Hampir pada semua kasus PJK didapatkan plak aterosklerosis pada dinding arteri akibat substansi ini (Santoso & Setiawan, 2005).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Prevalensi Penyakit Jantung Hipertensi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Yang Dirawat Di Unit Rawat Kardiovaskular RSUP H.Adam Malik Pada Tahun 2011

Prevalensi Penyakit Jantung Hipertensi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Yang Dirawat Di Unit Rawat Kardiovaskular RSUP H.Adam Malik Pada Tahun 2011

Dalam Cardiovascular Health, Nutrition and Physical Activity Section (2003), prosedur pengukuran tekanan darah adalah sebagai berikut: (1) Memeriksa kelengkapan alat, meletakkan manometer menghadap ke arah pemeriksa, lalu memilih ukuran cuff yang sesuai. (2) mempalpasi lokasi arteri brakialis, lalu melilitkan bagian bladder cuff di medial lengan atas, tepat di atas arteri brakialis, bagian bawah cuff berada 2,5 cm di atas fosa antekubiti, sejajar dengan jantung. Lengan pasien diletakkan di atas meja, diposisikan sedikit fleksi dengan bagian palmar menghadap ke atas. (3) Untuk estimasi tekanan sistol, pemeriksa memompa cuff sampai pulsasi arteri radialis menghilang. Kemudian cuff dikempiskan secara perlahan sampai pulsasi kembali dirasakan. Kemudian, menunggu 15 – 30 detik sebelum dilakukan pengukuran selanjutnya. (4) Menghitung maximum inflation level (MIL) dengan menambahkan estimasi tekanan sistol dengan 30 mmHg. (5) Memasang stetoskop dan meletakkan bell atau diafragma stetoskop di atas arteri brakialis. (6) Memompa cuff sampai level yang telah ditentukan pada poin 4. (7) Mengempiskan cuff secara perlahan dengan kecepatan 2 mmHg per detik. Ketika suara pertama kali terdengar, angka yang ditunjukkan sfigmomanometer adalah tekanan sistol. Sedangkan angka yang ditunjukkan ketika suara menghilang sempurna adalah tekanan diastol. (8) Mengempiskan cuff secara cepat dan sempurna, lalu mendokumentasikan hasil pengukuran tekanan darah.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PROPORSI KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG  KORONER PADA PRIA DAN WANITA PENDERITA HIPERTENSI  PERBANDINGAN PROPORSI KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PRIA DAN WANITA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA.

PERBANDINGAN PROPORSI KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PRIA DAN WANITA PENDERITA HIPERTENSI PERBANDINGAN PROPORSI KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PRIA DAN WANITA PENDERITA HIPERTENSI DI RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA.

Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah menurut JNC7........................................ 8 Tabel 2. Rekomendasi pemantauan pasien pada berbagai stage hipertensi... 15 Tabel 3. Klasifikasi beratnya nyeri pada penyakit kardiovaskular................ 22 Tabel 4. Tiga kelas utama ACS..................................................................... 24 Tabel 5. Efek estrogen pada aterosklerosis.................................................... 26 Tabel 6. Distribusi subjek penelitian berdasarkan faktor risiko lain

14 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KADAR LDL PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN TANPA  Perbedaan Kadar LDL Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di RSUD Dr. Moewardi.

PERBEDAAN KADAR LDL PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN TANPA Perbedaan Kadar LDL Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner Di RSUD Dr. Moewardi.

Kelebihan penelitian ini yaitu dilakukan pada subjek yang lebih sempit yaitu penderita DM tipe 2 dengan usia ≥45 tahun sedangkan penel itian sebelumnya (Pena et al ., 2012) subjek yang dipilih adalah penderita DM tipe 2 usia ≥18 tahun . Selain itu, kriteria eksklusi lebih ketat yaitu mengeluarkan sampel yang memiliki komorbid penyakit ginjal, tiroid, dan hati sedangkan penelitian sebelumnya hanya mengeluarkan sampel yang sedang hamil. Penelitian ini juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain adanya beberapa variabel luar yang tidak dikendalikan yaitu riwayat keluarga, hipertensi, merokok, obesitas, dan aktivitas fisik. Hal ini dikarenakan keterbatasan data pada rekam medis. Kelemahan lain dari penelitian ini adalah tidak bisa diketahui hubungan sebab akibat secara jelas dikarenakan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Sildenafil Sebagai Pilihan Terapi Hipertensi Pulmonal Pascabedah Jantung Koreksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Sildenafil Sebagai Pilihan Terapi Hipertensi Pulmonal Pascabedah Jantung Koreksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Pada perawatan hari pertama pascabedah, pasien mendapat terapi inhalasi NO 10 ppm yang dinaikkan bertahap sampai 20 ppm, dikombinasikan dengan inhalasi iloprost 2 μg setiap dua jam. Pada perawatan pascabedah hari ke-3, pasien menunjukkan perbaikan klinis sehingga inhalasi NO dihentikan dan diberikan sildenafil 4x1,5 mg per oral dengan kombinasi inhalasi iloprost 2 μg setiap enam jam. Selama perawatan, pasien mengalami beberapa episode perburukan klinis yang ditandai dengan perburukan perfusi berulang, perdarahan saluran cerna, dan ventilator-associated pneumonia. Pasien mendapat pengobatan suportif serta pemberian antibiotik yang sesuai, menunjukkan respons yang baik terhadap terapi, dan perbaikan keadaan umum sehingga dipulangkan pada hari ke- 23 pascabedah. Dosis sildenafil diturunkan bertahap dalam kurun waktu enam bulan. Ekokardiografi terakhir menunjukkan insufisiensi trikuspid ringan dengan pressure gradient 25 mmHg.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENYAKIT KATUP JANTUNG DAN HIPERTENSI.

PENYAKIT KATUP JANTUNG DAN HIPERTENSI.

Dasar diagnosis ditegakkan berdasarkan keluhan pasien dispnoe saat beraktivitas ringan, lemah dan cepat lelah, palpitasi, riwayat hipertensi 2 tahun yang lalu dan nyeri sendiri yang berpindah saat umur muda. Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD 200/130 mmHg, JVP 5 + 2 cm H2O, tanda bendungan paru positif pada pemeriksaan jantung di temukan bising sistolik grade IV di apeks, blowing, high pitch, thrill sistolik positif, LVH dan RVH. Pemeriksaan abdomen ditemukan hepatomegali. Ekstremitas edema. EKG menunjukkan LVH dan atrium fibrilasi. Rontgen thorak menunjukkan LVH dan RVH. Echocardiografi menunjukkan MR dan MS. Konsul mata menunjukkan fundus aterosklerotik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MAKALAH PENYAKIT TROPIK PENYAKIT JANTUNG KORONER

MAKALAH PENYAKIT TROPIK PENYAKIT JANTUNG KORONER

mengalami aterosklerotik. Menaikkan aliran darah kolateral, dan menghambat agregasi trombosit. Bila serangan angina tidak respons dengan nitrat jangka pendek, maka harus diwaspadai adanya infark miokard. Efek samping obat adalah sakit kepala, dan flushing. ? Penyekat ? juga merupakan obat standar. Penyekat ? menghambat efek katekolamin pada sirkulasi dan reseptor ?-1 yang dapat menyebabkan penurunan konsumsi oksigen miokard. Pemberian penyekat ? dilakukan dengan target denyut jantung 50-60 per menit. Kontraindikasi terpenting pemberian penyekat ? adalah riwayat asma bronkial, serta disfungsi bilik kiri akut. ? Antagonis kalsium mempunyai efek vasodilatasi. Antagonis kalsium dapat mengurangi keluhan pada pasien yang telah mendapat nitrat atau penyekat ?; selain itu berguna pula pada pasien yang mempunyai kontraindikasi penggunaan penyekat ?. Antagonis kalsium tidak disarankan bila terdapat penurunan fungsi bilik kiri atau gangguan konduksi atrioventrikel. Rekomendasi pengobatan untuk memperbaiki prognosis pasien dengan angina stabil menurut ESC 2006 sbb.: 1. Pemberian Aspirin 75 mg per hari pada semua pasien tanpa kontraindikasi yang spesifik (cth. Perdarahan lambung yang aktif, alergi aspirin, atau riwayat intoleransi aspirin) (level evidence A). 2. Pengobatan statin untuk semua pasien dengan penyakit jantung koroner (level evidence A). 3. Pemberian ACE inhibitor pada pasien dengan indikasi pemberian ACE inhibitor, seperti hipertensi, disfungsi ventrikel kiri, riwayat miokard infark dengan disfungsi ventrikel kiri, atau diabetes (level evidence A). 4. Pemberian Beta-blocker secara oral pada pasien gagal jantung atau yang pernah mendapat infark miokard (level evidence A). Revaskularisasi Miokard Ada dua cara revaskularisasi yang telah terbukti baik pada PJK stabil yang disebabkan aterosklerotik koroner yaitu tindakan revaskularisasi pembedahan, bedah pintas koroner (coronary artery bypass surgery = CABG), dan tindakan intervensi perkutan (percutneous coronary intervention = PCI). Akhir-akhir ini kedua cara tersebut telah mengalami kemajuan pesat yaitu diperkenalkannya tindakan, off pump surgery dengan invasif minimal dan drug eluting stent (DES). Tujuan revaskularisasi adalah meningkatkan survival ataupun mencegah infark ataupun untuk menghilangkan gejala. Tindakan mana yang dipilih, tergantung pada risiko dan keluhan pasien. Tindakan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN EKSKRESI ALBUMINURIA DENGAN PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI DI BLU RSUP ipi107434

HUBUNGAN EKSKRESI ALBUMINURIA DENGAN PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI DI BLU RSUP ipi107434

Dalam tabel 5, menunjukkan bahwa 13 sampel PJH dengan derajat ringan memiliki kadar albumin urin negatif dan 7 sampel memiliki kadar albumin urin positif, sedangkan sampel PJH dengan derajat berat yang memiliki kadar albumin negatif adalah 3 sampel dan yang positif 17 sampel. Nilai p=0,001 menunjukkan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan/bermakna antara ekskresi albumin urin dengan penyakit jantung hipertensi. Nilai prediksi OR pada CI 95% (2,27-48,75) ialah 10,52 artinya jika dilakukan penelitian selanjutnya bisa ditemukan bahwa penderita penyakit jantung hipertensi berisiko meningkatkan kadar albumin dalam urin sebesar 10,52 kali apabila variabel lain dikontrol. Nilai rasio prevalensi pada penelitian ini sebesar 4,33.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL

PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL

prognosisnya biasanya baik. Penanganan paliatif pada kasus cacat ventrikel yang sedang dan parah dapat dilakukan tanpa pirau (bypass) dengan menggunakan pita untuk menyempitkan arteri pulmoner utama. Teknik ini untuk membuat stenosis pulmonik supravalvular dan meningkatkan tekanan sistolik ventrikel kanan, sehingga akan mengurangi besarnya pintas darah dari kiri ke kanan. Prosedur ini direkomendasikan pada anjing dan kucing yang menunjukkan tanda-tanda kardiomegali yang berkembang dengan cepat dan tanda-tanda gagal jantung kongestif akan terjadi. Kemungkinan lain yang dapat dipertimbangkan adalah dengan mengurangi tahanan arteri sistemik dan besarnya pintas darah dari kiri ke kanan (misalnya dengan menggunakan vasodilator seperti hydralazine).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Penyakit Katup Jantung

Penyakit Katup Jantung

Stenosis mitralis stadium akhir berkaitan dengan gagal jantung kanan yang disertai pembesaran vena sistemik, hepatomegali, edema perifer, dan asites. Gagal jantung kanan dan dilatasi ventrikel dapat menimbulkan regurgitasi trikuspidalis fungsional. Namun stenosis mitralis tidak perlu dibiarkan berlanjut sampai stadium ini. Begitu gejala timbul, penyakit ini dapat ditangani secara medis, dan bila perlu dengan koreksi pembedahan.

17 Baca lebih lajut

Penyakit Jantung Rheumatik

Penyakit Jantung Rheumatik

4. Pasien dengan penyakit katup rheumatik membutuhkan rujukan tepat waktu untuk intervensi operasi saat kriteria klinis atau echocardiographic terpenuhi. Manajemen RHD pada kehamilan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit katup, dan teratur ditindaklanjuti dan evaluasi adalah wajib untuk tujuan ini. 5. Pencegahan primer demam rheumatik terdiri dari efektif pengobatan grup A streptokokus faringitis beta-hemolitik, dengan tujuan mencegah serangan pertama . 6. Pencegahan sekunder demam rheumatik didefinisikan sebagai teratur pemberian antibiotik (biasanya penisilin benzatin G diberikan intramuskuler) pada pasien dengan riwayat
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects