Top PDF Penyesuaian diri orang tua dan pola asuh pada remaja indigo

Penyesuaian diri orang tua dan pola asuh pada remaja indigo

Penyesuaian diri orang tua dan pola asuh pada remaja indigo

Anak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan mengirim atau menerima informasi tanpa menggunakan kelima panca indera/SensoryPerception (penglihatan, penciuman, peraba, perasa, pendengaran). Anak indigo mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang lain yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa yang tidak dimiliki anak yang lain yaitu kemampuan indra ke-enam yang di miliki oleh anak indigo serta anak indigo menunjukan ketidakmampuan adaptasi dengan lingkungan hidupnya. Kebanyakan perilaku anak Indigo sulit untuk dipahami sehingga orang-orang yang berinteraksi dengan mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan guna mencapai keseimbangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran penyesuaian orangtua terhadap remaja indigo dan pola asuh yang diterapkannya.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN DIRI DAN POLA ASUH ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL.

PENYESUAIAN DIRI DAN POLA ASUH ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa orang tua mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan anak yang mengalami retardasi mental. Orang tua sebagai orang terdekat dalam kehidupan anak dapat membantu anak retardasi mental dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sikap yang penuh cinta kasih dan penerimaan terhadap apapun keadaan anak merupakan hal yang dibutuhkan oleh anak. Permasalahan-permasalahan ini menarik untuk diteliti lebih dalam. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini diajukan pertanyaan: “Bagaimanakah dinamika psikologis penyesuaian diri dan pola asuh diterapkan orang tua yang memiliki anak retardasi mental?”.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA

HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA

Ketika remaja mempersepsikan pola asuh dengan disiplin yang tegas namun penuh kehangatan dan pengertian, tidak pernah memberi hukuman fisik, komunikasi yang dilakukan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak maka remaja telah mempersepsikan pola asuh yang diterimanya adalah jenis pola asuh demokratis. Dalam hal ini remaja akan menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa serta memiliki penyesuaian diri yang baik. Ketika remaja mempersepsikan pola asuh yang diterimanya sebagai pola asuh demokratis, remaja memiliki kemampuan untuk mengembangkan sikap kerjasama dan lebih terlibat banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan orang tuanya.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Perbedaan Penyesuaian Sosial Remaja Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

17 Baca lebih lajut

Hubungan persepsi terhadap pola asuh demokratis orang tua dan penyesuaian diri pada remaja..

Hubungan persepsi terhadap pola asuh demokratis orang tua dan penyesuaian diri pada remaja..

Ketika remaja mempersepsikan pola asuh dengan disiplin yang tegas namun penuh kehangatan dan pengertian, tidak pernah memberi hukuman fisik, komunikasi yang dilakukan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak maka remaja telah mempersepsikan pola asuh yang diterimanya adalah jenis pola asuh demokratis. Dalam hal ini remaja akan menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa serta memiliki penyesuaian diri yang baik. Ketika remaja mempersepsikan pola asuh yang diterimanya sebagai pola asuh demokratis, remaja memiliki kemampuan untuk mengembangkan sikap kerjasama dan lebih terlibat banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan orang tuanya.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Pola Asuh Orang Tua 1.1 Pengertian pola asuh orang tua - Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Pada Remaja Di Sma Dharma Pancasila Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Pola Asuh Orang Tua 1.1 Pengertian pola asuh orang tua - Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Pada Remaja Di Sma Dharma Pancasila Medan

Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya antara lain, anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain, anak didik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam melakukan interaksi sosial saling memberi dan menerima, anak dituntut untuk memahami orang lain sebagaimana dalam lingkungan keluarga, lingkungan sosial juga dituntut menciptakan iklim kehidupan sekolah yang kondusif bagi pekembangan sosial remaja. Sekolah merupakan salah satu lingkungan tempat remaja hidup dalam kesehariannya. Sebagaimana keluarga, sekolah juga memiliki potensi memudahkan atau menghambat bagi perkembangan hubungan sosial remaja sebaliknya, sekolah yang iklim kehidupannya bagus dapat mempelancar atau bahkan memacu perkembangan hubungan sosial remaja. c. Lingkungan Masyarakat
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Empati Pada Remaja

Hubungan Antara Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Empati Pada Remaja

Remaja sebagai warga masyarakat harus mengadakan penyesuaian diri, walau pada saat mereka berada dalam masa negatif. Dalam penyesuaian diri dipengaruhi oleh sifat yang mereka miliki. Menurut Rumini dan Sundari (2004), menyebutkan remaja sering memiliki citra diri yang lebih tinggi atau rendah dari semestinya. Remaja telah mengerti baik buruk, benar salah, yang diperoleh dari agama dan lingkungan sosialnya. Karakteristik penyesuaian diri sangat ditentukan oleh proses terjadinya penyesuaian diri. Selama proses, terkadang menghadapi rintangan baik dari dalam diri sendiri atau dari luar dirinya. Meskipun ada rintangan, ada individu yang dapat melaksanakan penyesuaian diri secara positif namun adapula yang sebaliknya. Hasil dari penyesuaian diri inilah yang nantinya akan menentukan seorang remaja akan memiliki empati yang baik atau hanya sekedarnya saja.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PERBEDAAN RESILIENSI PADA REMAJA AWAL DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

PERBEDAAN RESILIENSI PADA REMAJA AWAL DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

Orangtua dalam keluarga sebagai pimpinan keluarga sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar kepribadian anak, karena orangtua merupakan pendidik, pembimbing, dan pelindung bagi anak-anaknya. Keberhasilan remaja dalam membentuk tingkah laku secara tepat di masyarakat adalah ditentukan oleh peranan lingkungan. Keluarga khususnya orang tua dalam mengarahkan serta mengembangkan kemampuan anak membentuk tingkah lakunya. Mengenai hal ini Hurlock (1999; Aswar, 2004) mengemukakan bahwa pengertian mengenai nilai-nilai tingkah laku serta kemampuan anak untuk membentuk tingkah laku yang dikembangkan di dalam lingkungan. Keluarga akan menentukan sejauh mana keberhasilan anak dalam membentuk penyesuaian di masyarakat pada masa-masa selanjutnya.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Pola Asuh Orang Tua  Dengan Masalah Mental Emosional Remaja

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Masalah Mental Emosional Remaja

Masalah mental emosional pada remaja dipengaruhi oleh interaksi antara faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko meliputi faktor individu, keluarga, sekolah, peristiwa hidup, dan faktor sosial. Faktor protektif meliputi karakter / watak yang positif, lingkungan keluarga yang suportif, lingkungan sosial yang berfungsi sebagai sistem pendukung untuk memperkuat upaya penyesuaian diri remaja, keterampilan sosial yang baik, serta tingkat intelektual yang baik (Wiguna, 2010). Salah satu faktor yang turut berperan dalam perkembangan mental emosional pada remaja adalah keluarga. Keluarga memberikan dasar pembentukan kepribadian, tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi mental emosional remaja dilingkungan keluarga adalah pola asuh orang tua, kondisi keluarga, moral dalam keluarga, dan hubungan dengan saudara kandung. Faktor dalam keluarga yang mempunyai peran penting untuk dapat mewujudkan keluarga yang sejahtera dan mencegah masalah mental emosional adalah penerapan pola asuh orang tua (Sipahutar, 2009).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Daftar Pustaka  Hubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Komunikasi Interpersonal Antara Remaja Dan Orang Tua.

Daftar Pustaka Hubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Komunikasi Interpersonal Antara Remaja Dan Orang Tua.

Candra, F.A.T. 2008. Hubungan Antara Penerimaan Diri Remaja Terhadap Penampilan Fisik dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal. Skripsi . (Tidak Diterbitkan). Surakarta : Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

4 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Komunikasi Interpersonal Antara Remaja Dan Orang Tua.

PENDAHULUAN Hubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dengan Komunikasi Interpersonal Antara Remaja Dan Orang Tua.

Pada saat ini sering dijumpai masalah remaja, seperti hubungan atau ikatan kekeluargaan yang kurang harmonis, orang tua yang sibuk dengan urusan mereka, kekurangan gizi, ketidaksiapan orangtua, perubahan biopsikososial, industrialisasi serta kurangnya sarana bagi remaja untuk melakukan aktivitas. Soedjatmiko (2009) menuturkan sebenarnya hanya sebagian kecil remaja yang memiliki masalah, tapi remaja-remaja ini bisa mempengaruhi remaja lain yang memiliki niat dan tekad yang kurang kuat. Hal ini disebabkan pada masa remaja, tekanan dan dorongan dari teman sebaya (peer group) akan lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh orangtua atau sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi dan dialog yang terbuka antara orangtua dan anak sehingga dapat meminimalisir masalah remaja sekaligus melakukan komunikasi yang ideal antara orang tua dan anak.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN

POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN

Pola asuh orang tua merupakan interaksi anak dengan orang tua mendidik, membimbing, dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma- norma yang ada dalam masyarakat. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional remaja di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 14. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif corelasi dengan menggunakan metode cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (Hubungan pola asuh orang tua) dengan variabel terikat (perkembangan emosional). Populasi dari penelitian ini berjumlah 296 orang. Pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan teknik random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh orang tua adalah otoriter (63,3%) dan mayoritas perkembangan emosional remaja adalah baik (61,7%), dan dari hasil uji chi-square didapatkan p. vallue = 0,02. Hal ini berarti pola asuh orang tua berhubungan dengan perkembangan emosional remaja. Penelitian ini menyarankan agar orang tua harus mampu menyesuaikan tindakan dan pola asuh yang baik agar perkembangan emosional remaja semakin baik.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Ke

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Ke

Siswa SMA Negeri Sumpiuh berasal dari latar belakang kelarga yang berbeda. Ada yang berasal dari keluarga pegawai negeri, pegawai swasta, TNI, petani, buruh tani, buruh pabrik dan dari keluarga dengan latar belakang pekerjaan musiman. Dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda tersebut telah membentuk pola asuh orang tua yang berbeda-beda di dalam keluarga. Pada penelitian ini, penulis melihat secara kenyataan di lapangan bahwa kemampuan siswa antara yang satu dengan lainnya berbeda-beda, siswa yang satu memiliki tipe belajar A sedangkan lainnya memiliki tipe belajar B dan seterusnya. Setiap remaja yang tercatat sebagai siswa memiliki gaya dan tipe belajar yang berbeda dengan teman-temannya hal ini disebabkan oleh karena siswa memiliki potensi yang berbeda-beda dengan siswa yang lain. Seorang Guru di SMA Negeri Sumpiuh menggambarkan siswa yang kurang memiliki kemandirian dalam belajar terlihat ketika dalam mengikuti proses belajar mengajar bersikap pasif, tidak berani bertanya apabila menghadapi kesulitan, dlam ulngan mempunyai kesukaan untuk mencontek pekerjaan teman atau mencontek dari lembaran-lembaran yang telah dipersiapkan dari rumah dan kurang berfikir kritis.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH OTORITER ORANG TUA DAN JENIS KELAMIN  Perilaku Bullying Pada Remaja Ditinjau Dari Pola Asuh Otoriter Orang Tua Dan Jenis Kelamin.

PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH OTORITER ORANG TUA DAN JENIS KELAMIN Perilaku Bullying Pada Remaja Ditinjau Dari Pola Asuh Otoriter Orang Tua Dan Jenis Kelamin.

hubungan positif antara pola asuh otoriter orangtua dengan perilaku bullying pada remaja. Variabel perilaku bullying dan pola asuh otoriter orangtua termasuk dalam kategori rendah. Selain itu dari hasil pengujian independent sampel t-test diperoleh nilai uji-t sebesar t = 2,822 dengan taraf sig 0,006= (p<0,05) yang berarti ada perbedaan perilaku bullying pada remaja putra dan remaja putri. Dalam penelitian ini remaja putra lebih sering melakukan perilaku bullying dibandingkan remaja putri.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

GAMBARAN POLA ASUH ORANG TUA PADA REMAJA YANG MELAKUKAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA

GAMBARAN POLA ASUH ORANG TUA PADA REMAJA YANG MELAKUKAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Orang tua memiliki peran vital terhadap proses perkembangan anak. Kohn (dalam Santrock, 2011) mengatakan bahwa pola asuh orang tua merupakan cara orang tua membentuk kepribadian dan mengkontrol perilaku anak yang ditunjukan melalui sikap-sikap yang diberikan oleh anak. Sikap-sikap tersebut antara lain bagaimana cara orang tua menunjukkan respon, penerimaan, aturan, tuntutan, hukuman, dukungan dan kasih sayang. Menurut Baumrind (dalam Santrock, 2011) terdapat tiga jenis pola pengasuhan orang tua terhadap anak yaitu: Pola asuh otoritarian merupakan jenis pola asuh dimana orang tua menerapkan peraturan yang harus dilakukan oleh anak dan mungkin memberikan hukuman yang keras. Pola asuh permisif merupakan pola asuh dimana orang tua selalu memberikan apa yang diinginkan oleh anak tanpa memberikan kontrol dan aturan yang jelas. Pola asuh otoritatif lebih membuka kesempatan kepada anak untuk mandiri namun masih memberikan kontrol serta aturan terhadap anak.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua Otoriter Dengan Agresivitas Pada Remaja

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua Otoriter Dengan Agresivitas Pada Remaja

Kekerasan pada anak kerap terjadi dalam masyarakat. Sering muncul berita penganiayaan orang tua terhadap anaknya. Orang tua berlaku kasar dan memberikan hukuman fisik dengan maksud untuk memberikan pelajaran pada anak-anak mereka. Semua orang memahami bahwa terkadang sebagai orang tua merasakan jengkel, kecewa, bahkan marah terhadap anak. Terkadang anak-anak memang sulit diatur, suka berbuat sesuka hati, mengotori rumah tanpa henti, prestasi di sekolah kurang bagus, bermain, bahkan mungkin berkelahi, ada yang mulai belajar bohong, kamar tidurnya berantakan, dan sebagainya. Ditambah dengan beban pekerjaan dan urusan- urusan lain yang berat, semua perilaku anak itu kadang membuat orang tua tidak tahan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Tipe Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Perilaku Remaja Akhir.

Hubungan Antara Tipe Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Perilaku Remaja Akhir.

Pola asuh authoritative, pada tipe ini orang tua menerapkan kontrol serta diikuti dengan kehangatan. Meskipun kontrol yang diberikan kuat tetapi disertai juga dengan dukungan emosi yang tinggi. Pola asuh lainnya, yaitu pola asuh authoritarian dimana pada pola asuh ini orang tua menetapkan kontrol yang tinggi dan kehangatan yang rendah. Orang tua lebih banyak menentukan dan mengawasi terhadap apa yang dilakukan oleh remaja, namun komunikasi yang dilakukan cenderung bersifat satu arah yaitu dari orang tua kepada remaja. Sementara pada pola asuh permissive, adanya kehangatan yang tinggi namun kontrol yang rendah. Dalam hal ini orang tua membebaskan remaja untuk melakukan apa saja tanpa pengawasan, orang tua senantiasa mendukung dan memenuhi permintaan remaja. Tipe pola asuh yang terakhir yaitu uninvolved, menetapkan kontrol rendah dan kehangatan yang rendah. Orang tua tidak pernah menuntut dan cenderung menunjukkan perilaku penolakan kepada remaja. (Maccoby, 1980).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pola Asuh 1.1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua - Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Sosialisasi Remaja di SMA Negeri 15 Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pola Asuh 1.1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua - Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Sosialisasi Remaja di SMA Negeri 15 Medan

Keremajaan memiliki sifat yang selalu maju, maka kelompok sebaya pun mulai akan berkurang. Ada dua faktor penyebabnya. Pertama, sebagian besar remaja ingin menjadi individu yang berdiri di atas kaki sendiri dan ingin dikenal sebagai individu yang mandiri. Upaya bagi penemuan identitas diri yang tadi sudah dibahas melemahkan pengaruh kelompok sebaya pada remaja. Faktor kedua timbul dari akibat pemilihan sahabat. Remaja tidak lagi berminat dalam berbagai kegiatan besar seperti pada waktu berada pada masa kanak- kanak. Pada masa remaja ada kecenderungan untuk mengurangi jumlah teman meskipun sebagian besar remaja menginginkan menjadi anggota kelompok sosial yang lebih besar dalam kegiatan-kegiatan sosial. Karena kegiatan sosial kurang berarti dibandingkan dengan persahabatan pribadi yang lebih erat, maka pengaruh kelompok sosial yang besar menjadi kurang menonjol dibandingkan pengaruh teman-teman.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT SIBLING RIVALRY PADA REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA.

PERBEDAAN TINGKAT SIBLING RIVALRY PADA REMAJA DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA.

pengasuhan. Barang kali prediksi yang paling kuat dari hubungan saudara yang kurang baik adalah perbedaan perlakuan orang tua pada anak seperti adanya satu anak yang mendapat perhataian dan kasih sayang yang lebih serta mendapat disiplin yang lemah dan lain sebagainya disbanding saudara kandung lainnya (Duun, Furman & Lathier, dalam Vasta, 2004). Selain itu menurut Kowal & Kramer (dalam Vasta, 2004), tidak hanya perbedaan perlakuan saja yang penting dari timbulnya sibling rivalry namun juga interpretasi anak terhadap perlakuan orang tua. Hal tersebut memang mungkin terjadi karena pada dasarnya interpretasi seseorang akan berbeda sesuai dengan presepsi masing-masing individu sehingga walaupun orang tua sebenarnya tidak memberikan perlakuan yang berbeda namun karena ia merasa kurang puas atas perlakuan orang tua maka timbullah rasa iri, cemburu bahkan dengki pada saudara kandungya.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

Perbedaan Kepercayaan Diri Remaja Akhir Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua

Perbedaan Kepercayaan Diri Remaja Akhir Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua

Idrus dan Anas (2008) menyatakan seseorang yang merasa memiliki sikap percaya diri yang tinggi biasanya memiliki sikap optimis dan selalu yakin apa yang ia lakukan akan sesuai dengan tujuan yang diharapkannya, sebaliknya dengan seseorang yang memiliki rasa percaya diri yang rendah akan mengalami konflik maupun hambatan dalam mencapai suatu tujuan yang ia harapkan. Fenomena perkembangan jaman yang sekarang, banyak ditemukan remaja yang mengalami krisis terhadap kepercayaan diri hal ini dapat menjadikan problem yang cukup serius dikalangan remaja. Remaja identik dengan berbagai permasalahan yang komplek pada dirinya seperti pertumbuhan dari segi fisik dan emosional hal ini dapat menyebabkan banyak dari remaja yang tidak mampu mengatasi masalah krisis kurang percaya diri ini dapat dan mengalami hambatan dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...