Top PDF PERAN BANK JANGKAR DALAM ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

PERAN BANK JANGKAR DALAM ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

PERAN BANK JANGKAR DALAM ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

Bank Indonesia ditengarai sebagai salah satu penyebab terjadinya krisis moneter di Indonesia (Oppusunggu, 1998:191). Hal itu dikarenakan BI adalah Bank Sentral dmerupakan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas kebijakan moneter. Kebijakan moneter yang ditetapkan tentunya akan berjalan pada sistem perbankan dan sistem perbankan tentunya tidak dapat dipisahkan dari perbankan itu sendiri.

11 Baca lebih lajut

PERAN BANK INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PERBANKAN

PERAN BANK INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PERBANKAN

lompok besar, yaitu tindak pidana berkaitan dengan perizinan; tindak pidana berkaitan de- ngan kegiatan usaha; tindak pidana berkaitan dengan rahasia bank; tindak pidana berkaitan dengan pengawasan bank oleh Bank Indonesia; dan tindak pidana berkaitan dengan pihak tera- filiasi. Sedangkan tindak pidana atau kejaha- tan perbankan yang terjadi dalam praktik per- bankan, meliputi perkreditan, misalnya pembe- rian kredit kepada debitur fiktif atau topengan; pendanaan, misalnya penggunaan dana bank untuk kepentingan keluarga komisaris bank; re- kayasa laporan, misalnya melakukan window dressing atas laporan keuangan bank; penyalah- gunaan wewenang; tidak melakukan pencatat- an, misalnya bank tidak mencatat dana nasabah dalam pembukuan bank; mark-up, misalnya mark-up pembelian gedung untuk setoran tam- bahan modal pemilik; dan penggelapan, terha- dap agunan milik debitur.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN ARSITEKTUR PERBANKAN DI INDONESIA ppt

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN ARSITEKTUR PERBANKAN DI INDONESIA ppt

Praktek perbankan yang berkembang antara lain adalah menerima simpanan dari masyarakat dan menyalurkan pada kalangan bisnis. Pihak bank mendapat penghasilan dari menarik biaya dari jasa penyimpan uang masyarakat dan mulai bermunculan bank-bank swasta.

19 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KESEHATAN BANK MELALUI MERGER DIHUBUNGKAN DENGAN PERATURAN BANK INDONESIA TENTANG JUMLAH MODAL INTI MINIMUM BANK UMUM DAN ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA.

PENINGKATAN KESEHATAN BANK MELALUI MERGER DIHUBUNGKAN DENGAN PERATURAN BANK INDONESIA TENTANG JUMLAH MODAL INTI MINIMUM BANK UMUM DAN ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA.

Untuk meningkatkan kualitas bank-bank nasional supaya dapat bersaing dengan bank-bank yang berskala internasional, maka Bank Indonesia (BI) membentuk Arsitektur Perbankan Indonesia (API) sebagai program penguatan struktur perbankan nasional. Pada pilar satu API dipersyaratkan bahwa seluruh bank umum harus memenuhi Modal inti minimum Rp 100. milyar pada akhir tahun 2010. Namun pada kenyataannya bank sulit melakukan penambahan modal sebagai upaya dalam memenuhi jumlah modal inti minimum. Pada pemenuhan permodalan tersebut, bank melakukan merger dalam upaya pemenuhan jumlah inti minimum bank umum dan API. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, memahami, dan menganalisis mengenai upaya peningkatan kesehatan bank melalui merger sebagai upaya pemenuhan Jumlah Modal Inti Minimum serta akibat hukum jika Bank hasil merger tidak dapat memenuhi Jumlah Modal Inti Minimum Bank Umum dihubungkan dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dalam rangka peningkatan kesehatan Bank.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SWASTA NASIONAL SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SWASTA NASIONAL SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA

Bank merupakan salah satu sektor perekonomian terpenting di dunia. Melalui industri perbankan sebagai pusat pereko- nomian di suatu negara menjadikan peran dan fungsi perbankan menjadi salah satu tolak ukur dalam pengambilan kebijakan di negara yang bersangkutan. Industri per- bankan di negara Indonesia sendiri telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak tahun awal didirikannya, tidak hanya berkembang naik disaat puncak kejayaannya bahkan pernah mengalami penurunan dikala terjadi pergolakan yang menyebabkan imbasnya terhadap dunia perbankan itu sen- diri dan perekonomian global. Salah satunya akibat krisis moneter yang pernah terjadi dihampir seluruh negara termasuk Indonesia salah satunya. Krisis keuangan merupakan implikasi yang sangat krusial diantara semua sektor regulasi keeuangan, diantaranya peraturan pengawasan perbankan dan masalah kepailitan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS STRUKTUR PASAR PERBANKAN DAN STABILITAS PERBANKAN DI INDONESIA (Sebelum dan Setelah Kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia)

ANALISIS STRUKTUR PASAR PERBANKAN DAN STABILITAS PERBANKAN DI INDONESIA (Sebelum dan Setelah Kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia)

Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa Bank Umum Swasta Nasional (Devisa dan Non Devisa) memegang pangsa pasar terbesar sejak 1995. Meskipun mengalami penurunan pangsa pasar yang signifikan di tahun 1998 akibat krisis ekonomi yang terjadi. Di tahun 1998, Bank Umum Swasta Nasional mengalami penurunan pangsa pasar sebesar 4,95% dari 44,62% menjadi 39,67%. Di tahun yang sama pasar dikuasai oleh Bank Persero dengan peningkatan pangsa pasar dari 40,53% di tahun 1997 menjadi 45,28% di tahun 1998. Peningkatan pangsa pasar juga terjadi di Bank Asing dan Campuran yaitu sebesar 0,84%. Namun di tahun 2002, Bank Umum Swasta Nasional kembali bangkit dengan meningkatkan kembali pangsa pasarnya. Di tahun 2003 Bank Umum Swasta Nasional kembali mampu menguasai pasar industri perbankan Indonesia dan terus mengalami pertumbuhan yang stabil hingga saat ini. Sebaliknya, penurunan pangsa pasar justru terjadi pada Bank Persero sejak tahun 2010 hingga tahun 2012. Sejak tahun 2000 Bank Persero mengalami penurunan yang berfluktuasi dan terus berlangsung hingga tahun 2009 sebelum mengalami penurunan yang berkelanjutan di tahun 2010. Sama halnya dengan Bank Persero, Bank Asing dan Campuran juga mengalami penurunan pangsa pasar bahkan sejak tahun 2001. Pada tahun 2001 pelemahan posisi Rupiah telah mengakibatkan daya beli masyarakat menurun serta angka pengagguran yang membengkak. Kondisi ini semakin diperburuk dengan iklim politik dan keamanan Indonesia yang tidak stabil. Berbeda dengan Bank Persero serta Bank Asing dan Campuran, BPD justru terus mengalami peningkatan pangsa pasar sejak tahun 2000 hingga tahun 2012.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Analisis Struktur Pasar Perbankan Dan Stabilitas Perbankan Di Indonesia (Sebelum dan Setelah Kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia)

Analisis Struktur Pasar Perbankan Dan Stabilitas Perbankan Di Indonesia (Sebelum dan Setelah Kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia)

atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai struktur pasar dan stabilitas perbankan di Indonesia sebelum maupun setelah penetapan Kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang merupakan kebijakan konsolidasi dan menjadi kerangka dasar perbankan Indonesia Penelitian ini membatasi penelitian terhadap pengaruh variabel yang mencerminkan kondisi pasar, kondisi internal bank, dan kondisi makroekonomi. Kondisi pasar tercermin dari Hirschman-Herfindahl Index (HHI) yang mengukur konsentrasi pasar, kondisi internal bank menggunakan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), serta kondisi makroekonomi menggunakan variabel inflasi. Sedangkan untuk melihat perbedaan sebelum dan setelah kebijakan API digunakan variabel dummy, dalam periode tahun 2001-2014, dengan sampel yaitu bank dengan pangsa pasar dan total aset terbesar pada Agustus 2015 yaitu PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Pan Indonesia Bank Tbk, serta PT Bank Permata Tbk.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Surat Pengantar Lomba AKT

Surat Pengantar Lomba AKT

Pada tahun 2013, program studi (prodi) Akuntansi - FEB UKSW kembali menyelenggarakan Satya Wacana’s Accounting Competition (SWAN). Tahun ini SWAN akan dilaksanakan bersama dengan seminar mengenai “Peran Perbankan dan Sektor Bisnis Dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” dengan pembicara dari Bank Indonesia, Praktisi Bisnis dan Dr. Roos Kities Andadari, SE, MBA Staf Pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW . Kegiatan tersebut rencananya akan kami selenggarakan:

2 Baca lebih lajut

Perbankan sejarah bank di indonesia

Perbankan sejarah bank di indonesia

Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Keesokan harinya, pada 18 Agustus 1945 telah disusun Undang-Undang Dasar 1945. Dalam penjelasan UUD 1945 Bab VIII pasal 23 Hal Keuangan yang menyatakan cita-cita membentuk bank sentral dengan nama Bank Indonesia untuk memperkuat adanya kesatuan wilayah dan kesatuan ekonomi-moneter. Sementara itu dengan membonceng tentara Sekutu, Belanda kembali mencoba menduduki wilayah yang pernah dijajahnya. Maka dalam wilayah Indonesia terdapat dua pemerintahan yaitu: pemerintahan Republik Indonesia dan pemerintahan Belanda atau Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Selanjutnya NICA membuka akses kantor-kantor pusat Bank Jepang di Jakarta dan menugaskan DJB menjadi bank sirkulasi mengambil alih peran Nanpo Kaihatsu Ginko. Tidak lama kemudian DJB berhasil membuka sembilan cabangnya di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh NICA. Pembukaan cabang-cabang DJB terus berlanjut seiring dengan dua agresi militer yang dilancarkan Belanda kepada Indonesia. Sementara itu di wilayah yang dikuasai oleh Republik Indonesia, dibentuk Jajasan Poesat Bank Indonesia (Yayasan Bank Indonesia) yang kemudian melebur dalam Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2/1946. Namun demikian situasi perang kemerdekaan dan terbatasnya pengakuan dunia sangat menghambat peran BNI sebagai bank sirkulasi. Namun demikian pada 30 Oktober 1946, pemerintah dapat menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai uang pertama Republik Indonesia. Periode ini ditutup dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 yang memutuskan DJB sebagai bank sirkulasi untuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Bank Negara Indonesia sebagai bank pembangunan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PERANAN BANK INDONESIA DAN KEBIJAKANNYA DALAM PEMBEKUAN KEGIATAN USAHA SUATU BANK MENURUT UNDANG-UNDANG BANK INDONESIA.

PENDAHULUAN PERANAN BANK INDONESIA DAN KEBIJAKANNYA DALAM PEMBEKUAN KEGIATAN USAHA SUATU BANK MENURUT UNDANG-UNDANG BANK INDONESIA.

Pembekuan terhadap bank yang dinilai tidak sehat menurut kriteria Bank Indonesia merupakan salah satu bentuk kebijakan dari Bank Indonesia dalam dunia perbankan di Indonesia. Keberadaan bank dalam kehidupan masyarakat memiliki peran yang cukup penting karena lembaga perbankan khususnya Bank Umum, merupakan intisari dari sistem keuangan setiap negara. Bank merupakan lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perusahaan, lembaga pemerintah, swasta maupun perorangan dalam menyimpan dananya, melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan. Bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. 3 Kehadiran bank dirasakan semakin penting di tengah masyarakat, hal ini semakin tampak jika diperhatikan dari fenomena transaksi bisnis yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya di kalangan pebisnis dalam dekade terakhir ini.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN ARSITEKTUR PERBANKAN DI INDONESIA

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN ARSITEKTUR PERBANKAN DI INDONESIA

Pada zaman Babilonia praktek perbankan didominasi dengan transaksi peminjaman emas dan perak pada pedagang yang membutuhkan, dengan tingkat bunga 20% per bulan dan bank tersebut adalah Temples of Babylon. Praktik perbankan Yunani yang berkembang antara lain adalah menerima simpanan dari masyarakat dan menyalurkan pada kalangan bisnis. Pihak bank mendapat penghasilan dari menarik biaya dari jasa penyimpan uang masyarakat dan mulai bermunculan bank-bank swasta. Sedangkan pada masa Romawi praktik perbankan meliputi: praktik tukar-menukar uang, menerima deposito, memberi kredit dan melakukan transfer dana.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENUTUP  INDEPENDENSI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DALAM MELAKSANAKAN MEDIASI.

PENUTUP INDEPENDENSI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DALAM MELAKSANAKAN MEDIASI.

Jurnal Hadad Muliana, Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah dalam Arsitektur Perbankan Indonesia, Jurnal 2007 Bank Indonesia, “Mediasi Pebankan”,Pertemuan Bank Indonesia dengan Forum [r]

6 Baca lebih lajut

BANK SYARIAH NEGARA DAN MASLAHAT UMMAT (1)

BANK SYARIAH NEGARA DAN MASLAHAT UMMAT (1)

Implementasi peran pemerintah dalam maslahat ummat pada situasi dan kondisi bank syariah saat ini adalah membentuk Bank Syariah Negara yang dapat dijadikan lokomotif Indonesia untuk menjadi pusat peradaban Islam dan financial hub bagi keuangan syariah. Saat ini masyarakat telah berperan aktif melalui organisasi, media, aktifitas bisnis, dll, yang berkontribusi terhadap eksitensi perbankan syariah nasional (society driven). Namun demikian, sesuai dengan teori Ibnu Khaldun tersebut di atas. tanpa adanya dukungan dan peran pemerintah secara aktif untuk mewujudkan bank syariah negara (government driven), tentunya pertumbuhan dan perkembangan syariah di Indonesia akan berjalan lambat dan tertinggal dengan negara lain yang memiliki populasi muslim yang lebih rendah dibandingkan Indonesia. Pentingnya peran pemerintah dalam kemaslahatan juga tertuang dalam QS An Nisa, 59: ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ”
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KEWENANGAN BANK INDONESIA SETELAH DISAHKAN UNDANG- UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN.

KEWENANGAN BANK INDONESIA SETELAH DISAHKAN UNDANG- UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN.

Hasil penelitian yang di dapat adalah bahwa kewenangan Bank Indonesia dalam hal pengawasan perbankan yang beralih hanya berkaitan dengan aspek mikroprudensial saja yang meliputi penetapkan peraturan, memberikan, dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank, melaksanakan pengawasan bank, dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan ketentuan perundang-udangan sesuai dengan isi ketentuan pasal 24 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009. Adapun akibat dari adanya peralihan kewenangan ini maka peran Bank Indonesia di masa mendatang berkaitan dengan aspek makroprudensial meliputi kebijakan moneter dan sistem pembayaran yang menjadikan Bank Indonesia sebagai surveillance baik kepada bank dan non bank, pemeriksaan kepada bank dalam rangka makroprudensial, mengawal berfungsinya intermediasi secara efisien, serta berkoordinasi dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

this  file 809 1514 1 SM

this file 809 1514 1 SM

Pertama , Akad. Dalam Bank Syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi , karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, sehingga memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti; Kedua , Lembaga Penyelesaian Sengketa. Jika terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dengan nasabah, kedua belah pihak tidak menyelesaikan di peradilan negeri, tetapi sesuai tata cara hukum materi syariah dikenal dengan Badan Arbitrasi Muamalah Indonesia; Ketiga , Dewan Pengawas Syariah (DPS) . Unsur yang membedakan adalah keharusan adanya DPS yang betugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya sesuai dengan garis-garis syariah; Keempat , Bisnis dan Usaha yang Dibiayai. Dalam Bank Syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah, karena itu Bank Syariah tidak mungkin membiayai usaha yang terkandung di dalamnya hal-hal yang diharamkan; Kelima ,
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Bank Operation 1.ppt (533Kb)

Bank Operation 1.ppt (533Kb)

Paket 1 Juni 1983 merupakan salah satu tonggak penting yang mengubah arah perbankan nasional yang tadinya belum mengikuti mekanisme pasar, atau dengan kata lain, mulai diterapkannya equal treatment antara bank pemerintah dengan bank swasta.

36 Baca lebih lajut

silabus blkl p akt 2014

silabus blkl p akt 2014

1. Matakuliah ini merupakan matakuliah yang membahas konsep dasar lembaga keuangan secara universal, serta lembaga keuangan (bank dan lembaga keuangan lainnya) secara spesifik di Indonesia. Pembahasan meliputi konsep dasar lembaga keuangan, dunia perbankan di Indonesia (Sistem Perbankan dan Lembaga Keuangan di Indonesia , Otoritas Moneter, Kesehatan dan Rahasia Bank, Jenis Bank, Aktivitas Bank, Bank Berdasarkan Prinsip Syariah), dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (Leasing, Modal Ventura, Anjak Piutang, Kartu Plastik, Pegadaian, Dana Pensiun, Asuransi, Pasar Modal, Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing). Setelah mengikuti matakuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep dasar lembaga keuangan secara universal, serta lembaga keuangan secara spesifik di Indonesia.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN ARSITEKTUR DAN PERAN ARSITEK INDONESIA

PENDIDIKAN ARSITEKTUR DAN PERAN ARSITEK INDONESIA

Udo Kulterman menyarikan semua itu dengan tanda Tanya besar, mempermasalahkan apakah konsep dengan pemahaman tentang pendidikan arsitektur dewasa ini sudah cukup memadai dan masih gayu[r]

1 Baca lebih lajut

INISIASI 7 Tuton ISIP4112 Pengantar Ilmu

INISIASI 7 Tuton ISIP4112 Pengantar Ilmu

Setiap negara hanya memiliki satu Bank Sentral. Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan Undang-undang No. 3 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, memberikan status dan kedudukan kepada Bank Indonesia sebagai suatu lembaga negara yang independen dan bebas dari campur tangan Pemerintah ataupun pihak lainnya. Dalam kapasitasnya sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung 2 aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap mata uang negara lain.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...