Top PDF Peran Keluarga Terhadap Fungsi Kognitif Lansia Di Desa Pandian Kabupaten Sumenep

Peran Keluarga Terhadap Fungsi Kognitif Lansia Di Desa Pandian Kabupaten Sumenep

Peran Keluarga Terhadap Fungsi Kognitif Lansia Di Desa Pandian Kabupaten Sumenep

Kognitif menunjukkan kemampuan otak seseorang dalam mempersepsikan dan kemampuan berhitung, bahasa, informasi, memori, dan pemecahan masalah. Gangguan kognitif jangka panjang mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Fungsi kognitif seseorang dipengaruhi adanya permasalahan sistem saraf pusat meliputi kekurangan oksigen di otak, aging, alzeimer dan kekurangan nutrisi. Lansia seringkali menghadapi gangguan fungus kognitif diantaranya gangguan orientasi waktu dan ruang, serta kesulitan menerima hal/ide baru. Jika hal ini tidak ditindak lanjuti, maka akan terjadi gangguan fungsi kognitif bagi lansia. Selain itu juga tidak dapat mengidentifikasi lansia yang berisiko mengalami gangguan fungsi kognitif tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Fungsi Kognitif Lansia yang Beraktivitas Kognitif  secara Rutin dan Tidak Rutin

Fungsi Kognitif Lansia yang Beraktivitas Kognitif secara Rutin dan Tidak Rutin

ada perbedaan fungsi bahasa, khususnya verbal fluency, dan juga fungsi memori pada lansia berdasarkan partner tinggalnya. Pada penelitian ini juga terlihat bahwa partisipan yang rutin melakukan aktivitas kognitif lebih banyak tinggal dengan keluarga inti, seperti orang tua kandung dan anak kandung, serta keluarga bukan inti, seperti sepupu, paman, bibi, atau ipar. Sedangkan partisipan yang tidak rutin beraktivitas kognitif lebih banyak tinggal di panti dan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang terdekat, figur signifi- kan, seperti keluarga, ada kemungkinan memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Di Indonesia, peran keluarga merupakan hal yang penting. Saat seorang lansia sudah tidak bekerja, mereka cenderung akan bergantung pada anak atau anggota keluarga lainnya (Schroder-Butterfill & Fithry, 2014). Sistem kekerabatan yang kental di Indonesia juga dapat menye- babkan ketergantungan lansia kepada anggota keluarga atau kerabat terdekat.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA WANITA DI POSYANDU LANSIA DESA KEMUKUS KECAMATAN GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN - Elib Repository

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA WANITA DI POSYANDU LANSIA DESA KEMUKUS KECAMATAN GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN - Elib Repository

Peningkatan populasi lansia ini dapat menyebabkan permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan perkembangan kehidupan lansia salah satunya adalah proses menua, baik secara fisik, mental maupun psikososial. Semakin lanjut usia seseorang, maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. Mengantisipasi kondisi ini pengkajian masalah-masalah usia lanjut perlu ditingkatkan, termasuk aspek keperawatannya agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan serta untuk menjamin tercapainya usia lanjut yang bahagia, berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat di Indonesia (Tamher & Noorkasiani, 2009).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA DESA SIDARUM KECAMATAN SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN - Elib Repository

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA DESA SIDARUM KECAMATAN SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN - Elib Repository

Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu yang tidak dapat dihindari seiring bertambahnya usia seseorang dan memang termasuk sebagai salah satu proses degeneratif. Berdasarkan data Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention U.S . (2011) tercatat 10 juta keluarga yang melakukan perawatan sukarela terhadap individu dengan cognitive impairment, masalah memori maupun kelainan seperti Alzheimer disease dan berbagai tipe demensia, dan pada 2009 diperkirakan 12.5 miliar jam kerja produktif dihabiskan untuk perawatan individu dengan cognitive impairment yang setara nilainya dengan $144 miliar (Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention U.S., 2011).
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Gambaran Faktor-Faktor Ketidak Hadiran Lansia Pada Posyandu Lansia Di Desa Rubaru Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep

Gambaran Faktor-Faktor Ketidak Hadiran Lansia Pada Posyandu Lansia Di Desa Rubaru Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep

Faktor - faktor yang mempengaruhi kunjungan lansia ke posyandu menurut Depkes RI (2001) yaitu ada factor internal dan eksternal, factor internal diantaranya pendidikan, pengetahuan, sikap, pekerjaan, dan peran serta keluarga, serta sosila budaya. Dari factor eksternal diantaranya peran petugas, peran serta masyarakan dan peraan kader. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan maupun kesejahteraasn social dimasyarakan diharapkan terciptanya lansia mandiri dalam proses penuaan. Proses penuaan hendaknya diiringi dengan kemampuan, dan kesadaran lansia dalam menampilkan peranan untuk terlibat secara aktif dalam pemanfaatan posyandu. Pemanfaatan posyandu lansia dipengaruhi antara, pengetahuan, sikap, tindakan partisipasi lansia, jarak rumah dengan posyandu, pengalaman pemanfaatan pelayanan, biaya yang dikeluarkan dan efektifitas pelayanan yang diberikan di posyandu lansia (Sudaryanto, 2008).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Gaya Hidup Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia di Dusun Gunung Desa Batu Belah Barat Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep

Hubungan Gaya Hidup Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia di Dusun Gunung Desa Batu Belah Barat Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep

Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agustiana (2014) bahwa terdapat hubungan gaya hidup dengan fungsi kognitif pada lansia di Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan dengan nilai yang signifikan yaitu p value = 0,000. Gaya hidup yang diteliti adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi, kebiasaan merokok, olahraga dan aktivitas fisik serta kebutuhan istirahat dan tidur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Eliopoulus (2005) yang menyatakan bahwa fungsi kognitif dikemudian hari sangat ditentukan oleh pengalaman hidup, status kesehatan, dan gaya hidup seseorang.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Fungsi Kognitif Pada Populasi Lansia.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Fungsi Kognitif Pada Populasi Lansia.

Insidensi dari Mild Cognitive Impairment (MCI) atau penurunan kognitif ringan pada lansia semakin meningkat dari 7% hingga 18%. Orang – orang dewasa tua yang mengalami penurunan kognitif ringan, memiliki risiko 14% lebih tinggi terkena dementia (Chertkow, 2007). Oleh karena itu, fungsi kognitif pada lansia tetap perlu dipertahankan agar terhindar dari penyakit – penyakit degeneratif seperti dementia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengidentifikasi dan mengendalikan faktor – faktor yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Durasi Membaca Al-Qur’an dengan Fungsi Kognitif  pada Lansia

Durasi Membaca Al-Qur’an dengan Fungsi Kognitif pada Lansia

jadinya gangguan pada system syaraf pusat seperti berkurangnya masa otak dan ber- kurangnya aliran darah ke otak yang menyebabkan perubahan jumlah neurotrans- mitter di otak. Berkurangnya fungsi kognitif pada lansia dapat diatasi dengan rutin membaca Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an dapat memberikan ketenangan bagi pembacanya, selain itu Al-Qur’an memiliki tiga trema dengan nama Islam, Kesetia- an, dan Ketaqwaan yang dapat digunakan untuk mengontrol emosi, dan memberi- kan ketenangan jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan hu- bungan durasi membaca Al-Qur`an dengan fungsi kognitif pada lansia di Posyandu Lansia. Penelitian ini menggunakan metode korelasi cross sectional. Penelitian ini menggunakan pengambilan sampel purposive sampling, dengan jumlah responden 96 lansia. Pengambilan data menggunakan kuesioner mini mental state examination. Analisis data menggunakan spearman rank test dengan nilai signifikansi p<0.005. Test bivariate menunjukan hasil adanya hubungan antara durasi membaca Al- Qur`an dengan penurunan fungsi kognitif pada lansia dengan p value= 0.001. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara durasi membaca Al-Qur`an dengan penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perbedaan Fungsi Kognitif Pada Lansia Hipertensi Dengan Dan Tanpa Diabetes Mellitus

Perbedaan Fungsi Kognitif Pada Lansia Hipertensi Dengan Dan Tanpa Diabetes Mellitus

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis juga berterima kasih kepada dr. Charles Limantoro, Sp.PD-KKV, FINASIM dan dr. Yosef Purwoko, M.Kes., Sp.PD selaku dosen pembimbing karya tulis ilmiah, dr. Andreas Arie Setiawan, Sp.PD-KKV selaku ketua penguji, dr. Sefri Noventi Sofia, Sp.JP., FIHA selaku penguji, serta keluarga dan teman-teman yang senantiasa memberikan doa dan dukungan sehingga penulisan hasil karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan.

10 Baca lebih lajut

Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Fungsi Kognitif pada Populasi Lansia

Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Fungsi Kognitif pada Populasi Lansia

Pada penelitian ini, pengukuran fungsi kognitif dilakukan dengan Mini Mental State Examination (MMSE). Kuesioner yang terdiri dari 30 poin dalam 11 pertanyaan ini digunakan untuk skrining gangguan kognitif, dengan durasi pemeriksaannya sekitar 5-10 menit. Penilaiannya menggunakan single cut off, yaitu fungsi kognitif terganggu jika skor < 24 dan normal jika skor ≥ 24. Penilaian variabel usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan dilakukan dengan wawancara biasa dan observasi, sedangkan penilaian variabel aktivitas fisik, aktivitas kognitif dan interaksi sosial menggunakan Index Social Disengagement. Pengisian kuesioner yang terdiri dari 38 poin ini dilakukan dengan wawancara, dan memerlukan waktu 10- 15 menit. Variabel usia digolongkan menjadi usia lanjut (60 – 74 tahun) dan usia lanjut tua (75 – 90 tahun). Variabel jenis kelamin digolongkan menjadi laki – laki dan perempuan. Variabel tingkat pendidikan digolongkan menjadi tingkat pendidikan dasar (SD/SMP), menengah (SMP), dan tinggi (diploma, sarjana, magister, spesialis). Variabel aktivitas fisik, aktivitas kognitif dan interaksi sosial digolongkan menjadi baik dan buruk sesuai dengan penilaian pada Index Social Disengagement.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA

HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA

memiliki faktor risiko potensial pada penurunan kognitif, meskipun literatur yang ada masih jarang dan tidak konsisten. Ditambah lagi, banyak studi penelitian meneliti mengenai lingkar perut sebagai prediktor gangguan fungsi kognitif pada beberapa penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Diduga lingkar perut yang tinggi berhubungan dengan kemampuan kecepatan psikomotor, fungsi eksekutif, dan atensi yang menurun baik dengan atau tanpa penyakit diabetes pada orang dewasa. (18)

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA (Di Dukuh Kebunturi Desa Katur Gayam Bojonegoro) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA (Di Dukuh Kebunturi Desa Katur Gayam Bojonegoro) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

Menurut peneliti responden yang memiliki fungsi kognitif yang buruk dipengaruhi status pendidikannya, dimana lansia pada jaman dahulu minat untuk bersekolah masih sangat rendah sehingga banyak lansia tidak memiliki banyak kemampuan untuk berfikir dalam materi ataupun tugas-tugas. hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mongisidi (2012) dengan judul profil penurunan fungsi kognitif pada lansia menyatakan bahwa faktor pendidikan sangat berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada lansia dikarenakan lansia pada jaman dahulu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sekolah sampai kejenjang yang lebih tinggi.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDIAN, SUMENEP: Relationships Between Family Support With Anxiety Of Pregnant Women Primigravida Trimester III In Puskesmas Pandian, Sumenep

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDIAN, SUMENEP: Relationships Between Family Support With Anxiety Of Pregnant Women Primigravida Trimester III In Puskesmas Pandian, Sumenep

Dukungan keluarga dapat menyebabkan adanya ketenangan batin dan perasaan senang dalam ibu hamil. Peran utaman keluarga yaitu memberikan dorongan terhadap ibu hamil yang memasuki usia rawan untuk mengalami kecemasan menjelang proses persalinan. Keluarga yang dimaksudkan meliputi suami, keluarga atau saudara lain, orang tua dan mertua. Dukungan keluarga berperan untuk memprediksi status emosional ibu pada masa nifas bahkan dapat memicu produksi ASI. Ibu hamil yang mendapatkan dukungan keluarga lebih siap menghadapi masa nifas dimana mereka berubah peran menjadi seorang ibu dengan rasa nyaman dan tenang (Susilowati, 2012). Penelitian Mahmudah (2010) menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap kecemasan ibu hamil trimester III. Dukungan keluarga yang tinggi disebabkan karena adanya dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasional, dan dukungan penilaian yang baik oleh keluarga kepada ibu hamil mampu menumbuhkan hubungan yang baik antara keluarga dan ibu hamil untuk mencegah kecemasan yang timbul akibat perubahan yang mempengaruhi kondisi psikologisnya. Ibu hamil yang mendapat dukungan keluarga yang tinggi tidak akan mudah menilai situasi dengan kecemasan karena ia sadar bahwa ada keluarga yang mendukung dan mendengarkan curahan hatinya (Aprianawati dan Indah, 2014). Penelitian Reta (2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil dalam menghadapi proses kelahiran anak pertama pada triwulan ketiga.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KELUARGA DAN FUNGSI dan peran

KELUARGA DAN FUNGSI dan peran

Isitilah keluarga inti dikembangkan oleh dunia barat untuk membedakan kelompok keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anaknya, biasanya ayah, ibu, dan anak, dari apa yang dikenal keluarga besar (extended family). Menurut kamus Merriam-Webster, istilah ini muncul pada tahun 1947 dan karenanya masih relatif baru, meskipun struktur keluarganya tidak.

4 Baca lebih lajut

Fungsi dan Peran Keluarga

Fungsi dan Peran Keluarga

Struktur/Pola keluarga  Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah  Matrilineal :[r]

5 Baca lebih lajut

PERSEPSI LANSIA TERHADAP PERAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA LANSIA



Di Posyandu Lansia Dusun Asem Kandang Desa Prajegan Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo

PERSEPSI LANSIA TERHADAP PERAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA LANSIA Di Posyandu Lansia Dusun Asem Kandang Desa Prajegan Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo

Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu (Mubarak, 2012). Peran adalah respon terhadap stimulus sosial yang telah terkondisikan (Azwar, 2008). Maurice Duverger (2010) berpendapat bahwa istilah “peran” dipilih secara baik karena dia menyatakan bahwa setiap orang adalah pelaku didalam masyarakat dimana dia hidup.

26 Baca lebih lajut

PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP PERUBAHAN DAYA INGAT (FUNGSI KOGNITIF) PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA KENANGA KABUPATEN BANTUL

PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP PERUBAHAN DAYA INGAT (FUNGSI KOGNITIF) PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA KENANGA KABUPATEN BANTUL

Proporsi lansia di Indonesia telah mencapai 8,03 persen dari keseluruhan penduduk. Tiga provinsi dengan proporsi lansia terbesar adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (13,05 persen), Jawa Tengah (11,11 persen), Jawa Timur (10,96 persen), dan Bali (10,05 persen). (Badan Pusat Satistik, 2015, hlm 4). Meningkatnya populasi usia lanjut di Indonesia, membuat berbagai masalah kesehatan dan penyakit yang khas terdapat pada usia lanjut ikut meningkat. Salah satu masalah yang akan banyak dihadapi adalah gangguan kognitif yang bermanifestasi secara akut berupa konfusio dan kronis berupa demensia (Boedhi Darmojo dan M. Hadi, 2010, hlm 35). Demensia merupakan penyakit penuaan yang paling sering terjadi. Saat ini di seluruh dunia sekitar 47,5 juta orang menderita penyakit tersebut dan setiap tahun meningkat 7,7 juta orang (Langa,2015, hlm 1).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Sejarah peran Nyai Aqidah Usymuni sebagai da'i dan pemimpin Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Terate Pandian Sumenep (1985-2019)

Sejarah peran Nyai Aqidah Usymuni sebagai da'i dan pemimpin Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Terate Pandian Sumenep (1985-2019)

minjerial dan professional dengan kepemimpinan dibantu oleh para snatri senior. Kemudian peran Nyai Aqidah Usymuni, ia mengembangkan pendidikan di pesantrennya bukan hanya pendidikan agama saja akan tetapi pendidikan umum. Kemudian pada tahun 1989 berkembang baik dari pendidikan agama maupun umum, yang awalnya pendiidkan non formal berkembang menjadi pendiidkan formal, dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi. Selain berperan dalam mengembangkan pesantren, Nyai Aqidah Usymuni juga berperan dalam kegiatan dakwah yang disebut dengan kompolan atau pengajian, yakni kompolan tahlilan, kompolan hajjiyen bebini‟, pengajain fatayat dan muslimat NU. Selain itu ia juga melakukan dakwah kompolan pada shalawat Nariyah, kompolan tadarus al- Qur‟an, kompolan bellesen, pengajian ikatan alumni pesantren, dan pengajian ikatan alumni STITA. Sedangkan strategi kepemimpinan dan dakwahnya Nyai Aqidah Usymuni, bersifat fleksibel. Ia mengembangkan di pondok pesantren sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi pesantren yang di pimpinnya. Demikian pula dalam melakukan dakwah ia menggunakan strategi sesuai dengan kondisi yang ada,. Pada awalnya ia terjun langsung baik dalam memimpin
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA SENAM KESEGARAN JASMANI LANSIA DENGAN FUNGSI KOGNITIF DAN KESEIMBANGAN TUBUH DI POSYANDU LANSIA DESA DAUH PURI KAUH DENPASAR

HUBUNGAN ANTARA SENAM KESEGARAN JASMANI LANSIA DENGAN FUNGSI KOGNITIF DAN KESEIMBANGAN TUBUH DI POSYANDU LANSIA DESA DAUH PURI KAUH DENPASAR

Sebagai landasan dan rujukan dalam penelitian, akan dikemukakan beberapa konsep, teori hasil penelitian terdahulu, serta kerangka teori yang terkait dengan penelitian ini. Lanjut usia atau lansia merupakan kelompok manusia yang memasuki tahap akhir kehidupannya. Pada kelompok lanjut usia ini terjadi proses penuaan yaitu suatu proses yang ditandai dengan gagalnya mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan yang sering didapat berupa menurunnya kemampuan hidup serta meningkatnya kepekaan individu (Turana dkk, 2013). Lanjut usaia merupakan proses akhir kehidupan dan ditandai dengan adanya gangguan adaptasi terhadap tekanan lingkungan sekitarnya dan bukan suatu penyakit. Proses menua dimulai dari sejak lahir dan terjadi terus menerus secara alamiah dan dialami oleh semua makhluk hidup (Wahyudi, 2000).
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA SENAM KESEGARAN JASMANI LANSIA DENGAN FUNGSI KOGNITIF DAN KESEIMBANGAN TUBUH DI POSYANDU LANSIA DESA DAUH PURI KAUH DENPASAR

HUBUNGAN ANTARA SENAM KESEGARAN JASMANI LANSIA DENGAN FUNGSI KOGNITIF DAN KESEIMBANGAN TUBUH DI POSYANDU LANSIA DESA DAUH PURI KAUH DENPASAR

PROGRAM STUDY : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat ( MIKM) Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya ilmiah tesis saya yang berjudul Hubungan Antara Senam Kesegaran Jasmani Lansia dengan Fungsi Kognitif dan Keseimbangan Tubuh di Posyandu Lansia Desa Dauh Puri Kauh Denpasar ini benar benar hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari didapatkan bukti bahwa Tesis ini adalah hasil jiplakan , maka saya bersedia menerima sangsi sesuai Peraturan Mendiknas RI No.17 Tahun 2010.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects