Top PDF Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Pemanenan Hasil Hutan Kayu dan Getah Pinus

Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Pemanenan Hasil Hutan Kayu dan Getah Pinus

Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Pemanenan Hasil Hutan Kayu dan Getah Pinus

Ibu rumah tangga kerap kali berkontribusi dalam sistem perekonomian keluarga. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan hasil hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran ibu rumah tangga dalam pemanenan hasil hutan kayu dan getah pinus, serta mengetahui curahan waktu kerja yang dilakukan dan kontribusi pendapatan yang dihasilkan oleh ibu rumah tangga dalam melakukan kegiatan tersebut. Proses pengambilan data dilakukan secara langsung dengan menggunakan teknik wawancara kepada 27 sampel yang dipilih secara purposive sampling. Data hasil wawancara selanjutnya diolah kemudian di analisis dengan mengunakan metode deskriptif pada tujuan pertama serta metode deskriptif kuantitatif pada tujuan kedua dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ibu rumah tangga dalam pemanenan hasil hutan kayu dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan arang, dengan rata-rata curahan waktu kerja 43% dan kontribusi pendapatan sebesar 42,5%. Sedangkan pada proses pemanenan getah pinus ibu rumah tangga berperan sebagai pengumpul getah pinus dengan rata-rata curahan waktu kerja 48% dan kontribusi terhadap pendapatan sebesar 26%.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Karakteristik Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga Penyadap Getah Pinus di Desa Somagede, Kebumen, Jawa Tengah

Karakteristik Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga Penyadap Getah Pinus di Desa Somagede, Kebumen, Jawa Tengah

Pada mulanya penanaman pinus di lahan hutan, terutama jenis Pinus merkusii Jungh et.de.Vries, bertujuan untuk mempercepat reboisasi dan rehabilitasi lahan kosong dalam kawasan hutan (Jariah, 1998). Secara teknis penanaman, pemilihan ini cukup tepat karena pinus merupakan jenis pionir yang mampu bertahan hidup dan pertumbuhannya sangat cepat (fast growing species) dan mampu tumbuh pada kondisi sulit. Selain hasil kayu, pinus menghasilkan getah untuk diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Prospek ekonomi pinus cukup baik karena pinus dapat dipergunakan sebagai bahan baku industri kayu lapis, kertas, korek api, dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Dampak Perubahan Pemanfaatan Hutan Lindung di RPH Mangunan terhadap Pendapatan Penyadap Getah Pinus

Dampak Perubahan Pemanfaatan Hutan Lindung di RPH Mangunan terhadap Pendapatan Penyadap Getah Pinus

H utan memainkan peran penting bagi penghidupan untuk masyarakat lokal di sebagian besar negara berkembang. Rumah tangga di pedesaan di negara-negara berkembang memanfaatkan hasil pangan, bahan bakar, pakan ternak, bahan bangunan, obat-obatan dan produk lain dari hutan dan lingkungan alami lainnya untuk memenuhi kebutuhan subsisten dan memperoleh pendapatan tunai (Angelsen et al. 2014; Byron & Arnold 1999; FAO 2008; Kaimowitz 2003; Sunderlin et al. 2005; World Bank 2004). Lebih dari 350 juta jiwa penduduk dunia yang hidup di sekitar hutan menyandarkan kebutuhan subssiten dan memperoleh pendapatannya dari sumber daya hutan (Chao 2012; Bank Dunia 2016; Langat et al. 2016). Diperkirakan bahwa 20-25 penduduk pedesaan di negara berkembang, sumber pendapatannya diperoleh dari sumberdaya lingkungan, termasuk sumberdaya hutan, dan sumberdaya ini bertindak sebagai jaring pengaman selama periode krisis atau selama terjadi paceklik di pedesaan (Shackleton & Shackleton 2004; 2006)
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peran Pelayanan Pastoral bagi Ibu yang Mengalami Kekerasan  Dalam Rumah Tangga

Peran Pelayanan Pastoral bagi Ibu yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Faktor-faktor yang memicu terjadi- nya kekerasan dalam rumah tangga adalah salah satu merasa paling dominan atau pun superior dalam keluarga. Laki-laki/ suami dalam keluarga dianggap lebih kuat dan memiliki otoritas yang tinggi dibanding perempuan. Situasi ini dipengaruhi peran gender, di mana laki-laki yang bersifat maskulin dianggap gagah, kuat, berani dan karakter perempuan feminin yang dianggap lemah, lembut dan penurut, sehingga mempengaruhi laki-laki untuk bertindak semena-mena terhadap perempuan. 6 W. Ngir berpendapat bahwa faktor yang me- micu kekerasan dalam rumah tangga adalah (1) Faktor psikologis, yaitu kurang men- dapatkan dukungan emosional seperti kasih sayang dari salah satu pihak baik istri maupun suami. Apabila suami atau pun istri tidak mendapatkan kasih sayang dalam rumah tangga cenderung akan mengaki- batkan timbulnya kekerasan dalam rumah tangga; (2) Faktor ekonomi, yang mana pengeluaran dan pendapatan tidak seim- bang dalam rumah tangga, dan kemudian sebagai pelampiasannya adalah tindakan 6 Suryati, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Parapat: KSPPM, 2013), 1.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PEMANENAN GETAH PINUS MENGGUNAKAN TIGA CARA PENYADAPAN (Harvesting of Pine Resin Using Three Tapping Techniques)

PEMANENAN GETAH PINUS MENGGUNAKAN TIGA CARA PENYADAPAN (Harvesting of Pine Resin Using Three Tapping Techniques)

Kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa alat kedukul yang digunakan mempunyai ukuran “pisau” (bagian tajam) yang lebih lebar (± 10 cm) dan berbentuk cekung ke dalam sehingga bekas luka yang dibuat juga akan lebih lebar dan dalam. Selain itu luka sadap yang dibuat secara manual/dengan tenaga manusia akan menghasilkan “bentuk” luka sadapan yang bervariasi tergantung kebiasaan penyadap. Variasi luka sadap yang dihasilkan bukan hanya terjadi antar penyadap tetapi juga dalam satu hamparan pohon pinus yang dikerjakan oleh satu penyadap pun akan menghasilkan ukuran luka sadapan yang relatif berbeda. Sebenarnya alat kedukul sudah disediakan oleh Perum Perhutani dengan ukuran tertentu (6 cm) untuk mencegah luka sadap yang dihasilkan tidak terlalu lebar dan dalam, namun penyadap sering menggantinya dengan alat kedukul yang mereka buat sendiri tentu dengan ukuran yang lebih besar dan sudah tidak sesuai lagi dengan yang disediakan Perum Perhutani. Bukan berarti pihak Perhutani tutup mata, namun jika dilarang atau dibiarkan saja tetap akan merugikan Perhutani.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peran Ibu dalam Menanamkan Budaya Baca di Lingkungan Rumah Tangga

Peran Ibu dalam Menanamkan Budaya Baca di Lingkungan Rumah Tangga

Kembali ke peran Ibu di rumah tangga, marilah pada kesempatan hari Ibu ini kita berdayakan Ibu-ibu disekitar kita. Jika ibu dapat mendidik anak-anaknya dengan baik saya percaya bahwa generasi bangsa Indonesia kedepan akan lebih baik. Karena itu berilah Ibu- ibu itu bahan untuk memberi teladan yang baik-baik kepada anaknya melalui dongeng- dongeng yang dapat mengantarkan anaknya tertidur dengan mimpi- mimpi indah. Selamat Hari Ibu.

6 Baca lebih lajut

91231 ID peran ganda ibu rumah tangga dalam menin

91231 ID peran ganda ibu rumah tangga dalam menin

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya (Mongid, 1995:2). Dalam kehidupan berkeluarga, setiap anggota keluarga mempunyai hak dan kewajiban, serta peran masing-masing. Peran bapak sangat besar dan penting dalam kehidupan suatu keluarga. Bapak memang bukan yang melahirkan anak, tetapi peranan bapak dalam tugas perkembangan anak sangat dibutuhkan. Kewajiban bapak selain untuk menafkahi ekonomi keluarga, juga diharapkan menjadi teman dan guru yang baik untuk anak dan istrinya. Bapak sebagai kepala keluarga bertanggung jawab penuh pada keadaan keluarganya. Bapak harus memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, meliputi aspek papan, sandang, dan pangan, serta kesejahteraan keluarganya. Seorang ibu mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan suatu keluarga, baik peranannya bagi suami maupun anaknya (Pujosuwarno, 1994:44). Di dalam kehidupan rumah tangga, seorang ibu berkewajiban untuk melayani suami dan anaknya dalam semua aspek yang ada dalam kehidupan keluarganya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Limbah Kayu Pemanenan di Hutan Alam dan Hutan Tanaman

Potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Limbah Kayu Pemanenan di Hutan Alam dan Hutan Tanaman

Dengan kata lain, pemanfaatan hutan secara efisien atau pengurangan limbah kayu di petak tebang sulit diharapkan akan terwujud jika tidak dibarengi oleh pemberian insentif dan disinsentif atas pemanfaatan hutannya. Namun demikian, K arsenty (2010) menyatakan bahwa potensi instrumen fiskal dalam mendorong SFM tidak boleh terlalu ditekankan, tetapi pengaruhnya kemungkinan bisa saja ada jika pengenaan pungutan tidak di lakukan secara sendiri tetapi sebagai an tambahan dalam seperangkat tindakan dan kebijakan publi k. Sedangkan Soedomo (2005) menyatakan bahwa rendahnya pungutan yang ditetapkan pemerintah sebagai kesalahan struktural yang sebenarnya merupakan penyebab primer kerusakan hutan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Lacak Balak untuk Verifikasi Uji Legalitas Kayu pada Pemanenan Kayu Hutan Alam

Lacak Balak untuk Verifikasi Uji Legalitas Kayu pada Pemanenan Kayu Hutan Alam

Pemanenan kayu atau juga sering dikenal pembalakan merupakan kegiatan penting dalam rangkaian pengelolaan hutan alam produksi lestari. Hal ini disebabkan kegiatan pemanenan kayu sangat menentukan volume, kualitas dan menjamin asal usul kayu dari pohon ditebang juga kelestarian hutan. Apalagi bila dikaitkan dengan persyaratan pasar dunia yang menerapkan kebijakan produk kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara lestari dan legal berarti kayu yang dihasilkan dari proses pemanenan hasil hutan harus dapat dibuktikan asal usulnya. Oleh karena itu, produk kayu dari pengelolaan hutan di Indonesia harus dipersiapkan ke arah sertifikasi (Yunanto, 2010). Dengan demikian, perencanaan operasional pemanenan kayu harus dapat menggambarkan secara akurat posisi dari setiap pohon yang akan ditebang dan pelaksanaan pemanenaan kayu mengikuti kaidah pembalakan berdampak rendah ( Reduced Impact Logging/RIL).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Ibu Rumah Tangga

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Ibu Rumah Tangga

Karena setiap peubah independen (status ekonomi, pengetahuan dan persepsi) terdiri dari dua kategori) dan kota tempat tinggal terdiri dari tiga kategori, maka model regresi tersebut dapat dibentuk menjadi beberapa model sesuai dengan kategori peubah independen yang akan dibandingkan. Sebagai contoh, model untuk melihat bagaimana penerimaan PRG ibu rumah tangga yang mempunyai status ekonomi tidak miskin (1), berpengetahuan baik (1), berpersepsi benar (1) dan bertempat tinggal di Surabaya (1) adalah :

27 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis Semai dan Pancang di Hutan Alam Tropika   Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu

Komposisi Jenis Semai dan Pancang di Hutan Alam Tropika Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu

Perubahan peringkat INP pada sistem silvikultur TPTI tidak mencolok penurunan jumlah individu dalam satu jenis dan hilangnya jenis dalam satu petak tidak banyak, hal ini disebabkan pohon- pohon ditebang berdiameter besar (>60 cm) dan dengan intensitas pemanenan kayu 6 pohon per hektar dan 5,3 pohon per hektar. Berbeda dengan sistem silvikultur Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI) dan Tebang habis dengan Permudaan Buatan (THPB) yang bersifat monocyclic (siklus tunggal) dan intensitas penebangan sangat besar menyebabkan pengurangan jumlah jenis besar bahkan terjadi pergantian jenis dengan cara permudaan buatan (Sularso, 1996).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Konsep Diri Ibu Rumah Tangga Studi Komparatif Konsep Diri Antara Ibu Rumah Tangga Tidak Berwirausaha Dan Ibu Rumah Tangga Berwirausaha Maleber Utara.

Konsep Diri Ibu Rumah Tangga Studi Komparatif Konsep Diri Antara Ibu Rumah Tangga Tidak Berwirausaha Dan Ibu Rumah Tangga Berwirausaha Maleber Utara.

Hal menarik lainnya yang peneliti temukan ketika mewawancarai enam ibu rumah tangga yang tidak berwirausaha ini adalah, ada satu ibu yang merasa bahwa dia dapat tetap merasa senang dan tenang meskipun gaji suaminya dikatakan tidak mencukupi sampai akhir bulan. Ibu tersebut (inisial AN) berkata kendati suaminya tidak memiliki penghasilan yang besar, dirinya tidak takut akan masa depan anaknya karena ibu AN merasa hal tersebut sudah biasa dirasakan ketika beliau masih kecil. Pengalaman itu yang membuat ibu AN berpikir kalau orang tuanya dulu mampu membiayainya meskipun hidup berkekurangan, ibu AN dan suaminya juga pasti mampu melakukan hal yang sama sebagai orang tua.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Kontribusi Penyadapan Getah Pinus (Pinus merkusii) Terhadap Tingkat Pendapatan Penyadap

Kontribusi Penyadapan Getah Pinus (Pinus merkusii) Terhadap Tingkat Pendapatan Penyadap

Pinus merupakan jenis tanaman kehutanan dominan yang terdapat di kawasan DTA Danau Toba. Pinus bukan saja ditanam di kawasan hutan lindung namun juga merupakan salah satu jenis tanaman yang ditanam di lahan-lahan masyarakat (hutan rakyat). Sampai dengan beberapa tahun yang lalu, Pinus dari hutan rakyat dapat ditebang dan diperjualbelikan secara bebas. Namun kemudian pemerintah melarang penebangan kayu pinus dari hutan rakyat, kecuali untuk kebutuhan pribadi pemiliknya. Sebagai akibatnya masyarakat tidak dapat memperoleh penghasilan dari kayu Pinus dan minat masyarakat untuk menanami lahannya dengan jenis pepohonan terutama Pinus menjadi turun. Selama ini masyarakat hanya memanfaatkan Pinus sebagai sumber kayu baik untuk bahan bangunan maupun untuk meubel dan kerajinan lainnya. Padahal Pinus juga dapat disadap untuk diambil getahnya tanpa harus menebang pohonnya. Penyadapan getah Pinus baru dilakukan di kawasan hutan negara yang dilakukan oleh perusahaan swasta (Sundawati dan Alfonsus, 2008).
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI PENDAPATAN DARI PENYADAPAN GETAH PINUS (Pinus merkusii) TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP (Studi Kasus Di Jorong Talago Gunuang Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar).

KONTRIBUSI PENDAPATAN DARI PENYADAPAN GETAH PINUS (Pinus merkusii) TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP (Studi Kasus Di Jorong Talago Gunuang Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar).

KONTRIBUSI PENDAPATAN DARI PENYADAPAN GETAH PINUS Pinus merkusii TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP Studi Kasus Di Jorong Talago Gunuang Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Em[r]

3 Baca lebih lajut

Model Simulasi  Kandungan Karbon Akibat Pemanenan Kayu  Di Hutan Alam Tropika

Model Simulasi Kandungan Karbon Akibat Pemanenan Kayu Di Hutan Alam Tropika

Potensi karbon dalam tegakan hasil simulasi diperoleh melalui pembuatan model persamaan hubungan antara jumlah karbon dalam tegakan dengan besarnya fotosintesis, respirasi, pemanenan kayu dan tegakan yang mati serta akar di bawah permukaan tanah. Jumlah potensi karbon dari awal simulasi didasarkan atas data potensi karbon di hutan primer dari hasil penelitian untuk tegakan (Junaedi, 2007); lantai hutan dan serasah (Onrizal, 2004); dan untuk di dalam tanah berdasarkan hasil publikasi Murdiarso dan Baharsjah (2001). Data kandungan karbon atmosfer dimodifikasi berdasarkan penelitian Giffort (1993).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Studi Faktor Pemanfaatan dan Limbah Pemanenan Kayu di Hutan Alam Papua Barat

Studi Faktor Pemanfaatan dan Limbah Pemanenan Kayu di Hutan Alam Papua Barat

Pemanenan kayu mempunyai peranan penting dalam menentukan kualitas produksi kayu bulat. Dua hal penting dalam proses pemanenan kayu adalah faktor pemanfaatan dan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran, bentuk, dan kondisi limbah pemanenan serta menghitung besarnya faktor pemanfatan kayu dan faktor residu akibat pemanenan kayu. Penelitian dilakukan di dua areal pengusahaan hutan alam di Kabupaten Wasior dan Nabire, Provinsi Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemanfaatan kayu pada IUPHHK-HA yang menerapkan teknik Reduced Impact Logging (RIL) cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan IUPHHK-HA yang pemanenan kayunya masih dilakukan secara konvensional. Faktor pemanfaatan kayu berkisar antara 86,2 – 87,8% dengan rata-rata 86,9%, dan faktor residu berkisar 12,3 – 13,8% atau rata-rata 13,1%. Besarnya volume kayu yang dimanfaatkan rata-rata 4,578 m 3 /pohon dari potensi batang bebas cabang sebesar 5,293 m 3 /pohon. Volume limbah berkisar antara 0,548 – 0,664 m 3 /pohon atau rata-rata 0,564 m 3 /pohon. Secara umum, sebagian besar limbah penebangan berupa kayu yang cacat (65,1%), pecah (23,3%), dan paling rendah adalah limbah yang kondisinya masih baik (11,6%).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Dampak Bantuan Langsung Tunai dan Investasi Sumberdaya Manusia terhadap Ekonomi Rumah Tangga Sekitar Hutan Pinus di Desa Samagede

Dampak Bantuan Langsung Tunai dan Investasi Sumberdaya Manusia terhadap Ekonomi Rumah Tangga Sekitar Hutan Pinus di Desa Samagede

Kemiskinan merupakan salah satu penyakit pembangunan dan ancaman bagi kelangsungan hutan. Upaya pengentasan kemiskinan selalu menjadi salah satu program pemerintah dari masa ke masa. Pemberian BLT secara langsung ke masyarakat miskin pada awalnya ditujukan untuk mengurangi dampak dari kebijakan peningkatan harga bahan bakar minyak. Selain itu, bantuan pendidikan (kebijakan pembebasan biaya pendidikan pada tingkat tertentu, pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Murid (BKM)), dan biaya pengobatan gratis pada masyarakat miskin (Jamkeskin) merupakan salah satu bentuk investasi sumberdaya manusia. Investasi sumberdaya manusia merupakan seluruh kegiatan yang mempengaruhi pendapatan maupun konsumsi di masa yang akan datang. Investasi sumberdaya manusia (antara lain pendidikan dan kesehatan) akan meningkatkan produktivitas, nilai tambah, pendapatan dan konsumsi. Kebijakan tersebut akan berdampak pada prilaku pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Kelayakan Pengusahaan Getah Pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat

Analisis Kelayakan Pengusahaan Getah Pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat

penyadapan getah pinus dengan menggunakan metode koakan berurutan adalah 6 x 10 x 1,5 cm maka penyadapan di HPGW dapat dikatakan telah layak dan sesuai dengan standar penyadapan getah pinus yang ada, karena hal tersebut dapat terlihat juga dari nilai rataan dalam tabel diatas yang tidak terlalu besar variasi nilai setiap data yang ada. Adapun angka terendah dan angka tertinggi yang di tunjukan oleh tabel 1 dimana angka terendah panjang, lebar dan kedalaman berurutan adalah 12,4 x 4,6 x 1,7 cm, keadaan dilapangan pohon dengan ukuran sadap seperti panjang sadapan sebesar 12,4 cm atau lebar sadapan sebesar 4,6 cm atau kedalaman sadapan sebesar 1,7 cm adalah pohon yang baru mulai di sadap oleh penyadap sedangkan angka tertinggi panjang, lebar dan kedalaman berurutan adalah 191,9 x 13,2 x 10,5 cm, keadaan pohon dilapangan pohon dengan ukuran sadap seperti panjang sadap sebesar 119,9 cm dan kedalaman 10,5 cm adalah termasuk dalam salah satu pohon yang sudah lama disadap oleh penyadap HPGW dan ukuran dimensi panjang dan kedalaman yang termasuk kedalam angka ukuran tertinggi berada dalam 1 pohon. Oleh karena itu, adapun panjang sadapan yang mencapai angka tertinggi pada ukuran panjang sadapan yaitu sebesar 191,9 cm dan menunjukan nilai standar deviasi dan keragaman yang tinggi, ini disebabkan oleh, perpanjangan sadapan yang dilakukan oleh penyadap yang masih terus melakukan perpanjangan sadapan dalam satu pohon.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

ANALISIS KELAYAKAN USAHA INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU DARI EKOSISTEM MANGROVE DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

ANALISIS KELAYAKAN USAHA INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU DARI EKOSISTEM MANGROVE DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Aneka produk dan jasa dari hutan mangrove telah banyak dirasakan manfaatnya oleh manusia. Produk dan jasa tersebut dapat berasal dari komponen biotik maupun abiotik. Produk-produk yang dapat dihasilkan berupa kayu dan bukan kayu. Produk kayu dimanfaatkan sebagai kayu konstruksi ringan, bagan pembuat perahu, jembatan, tiang pancang, kayu bakar, arang, penyamak kulit, tanin, dan pulp. Hasil hutan bukan kayu antara lain adalah kerupuk jeruju, manisan api-api dan propagul, keripik api-api, dodol sonneratia, madu lebah, buah/propagul sebagai sumber bibit, daunan sebagai sumber pakan ternak, terasi, udang, bandeng, kerang-kerangan, aneka kerajinan kulit kerang, ikan belanak, dan lain sebagainya (Kustanti, 2011).
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...