Top PDF Peran UNESCO dalam Perlindungan Angkor Wat Sebagai Warisan Budaya Dunia Tahun 2009-2013.

Peran UNESCO dalam Perlindungan Angkor Wat Sebagai Warisan Budaya Dunia Tahun 2009-2013.

Peran UNESCO dalam Perlindungan Angkor Wat Sebagai Warisan Budaya Dunia Tahun 2009-2013.

Tulisan Somuncu & Yigit (2010) menggunakan konsep Warisan Budaya Dunia dan monitoring. Penelitian penulis juga menggunakan konsep yang sama yaitu Warisan Budaya Dunia namun penulis juga menggunakan konsep lainnya yaitu Organisasi Internasional dengan melihat pada perlindungan, identifikasi, rehabilitasi hingga konservasi. Penelitian penulis lebih mengkhususkan pada peran UNESCO dalam perlindungan Warisan Budaya Dunia sedangkan dalam tulisan Somuncu & Yigit (2010) lebih memfokuskan pada peran UNESCO dalam memonitor dan memberikan acuan dalam manajemen perlindungan melalui Convention Text 1972. Peran UNESCO dalam Somuncu & Yigit (2010) kurang dijelaskan secara detail dalam merencanakan manajemen perlindungan Warisan Budaya Dunia dan hanya memaparkan UNESCO sebagai sebuah organisasi yang bertugas untuk memasukkan sebuah situs sebagai Warisan Budaya Dunia. Tulisan Somuncu & Yigit (2010) memberikan kontribusi dalam penelitian penulis karena memaparkan pentingnya Warisan Budaya Dunia untuk melakukan manajemen perlindungan untuk melindungi status sebagai Warisan Budaya Dunia.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Saat ini tercatat sangat banyak warisan budaya di beberapa negara yang terancam rusak bahan sudah rusak ataupun sudah hilang yang diakibatkan kurangnya perawatan dan perhatian khusus dari pemerintah negara tersebut ataupun disebabkan karena peperangan baik itu merupakan warisan budaya yang merupakan kategori warisan alam maupun cagar alam atau situs. Untuk mendapat pengakuan dunia atas warisan budaya nasional suatu negara, maka negara tersebut haruslah mengikuti tahapan dan format yang ditentukan UNESCO. Tahap pertama, cabang budaya tersebut harus terdaftar sebagai warisan budaya nasional. Setelah itu, baru bisa masuk ke tahap berikutnya untuk mendapat pengakuan dunia. Setelah pencatatan sebagai warisan budaya nasional, kemudian akan usulkan kepada warisan budaya dunia 9 . UNESCO telah menerbitkan empat konvensi, yaitu konvensi tahun 1972 mengenai perlindungan warisan dunia, konvensi tahun 2001 mengenai perlindungan benda warisan budaya bawah air, konvensi tahun 2003 mengenai perlindungan warisan budaya takbenda, dan terakhir konvensi tahun 2005 mengenai proteksi dan promosi keanekaragaman ekspresi budaya. Dari keempat konvensi tersebut, Indonesia telah meratifikasi konvensi tahun 1972 dan konvensi 2003 dan menyusul konvensi tahun 2005 10 . Dengan suatu negara meratifikasi konvensi tersebut maka suatu negara harus menjaga seluruh warisan budaya yang terdaftar di negaranya agar tidak mendapatkan sanksi dari pihak UNESCO dan dunia.
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Bangunan cagar budaya sendiri sudah menjadi perhatian sejak masa yunani kuno tepat nya pada 400 tahun sebelum Masehi. Hal tersebut terlihat dari perbedaan pandangan para pakar mada masa itu yaitu antara Xenophon dan Polybius. Xenophon memiliki pandangan bahwa baik orang maupun property yang berada dari sebuah kota yang dikuasai saat perang adalah milik pihak yang menaklukkan kota tersebut. 48 Berarti menurut pandangan Xenophon penakluk sebuah kota tidak memberikan penghormatan yang lebih kepada benda-benda dengan nilai kebudayaan atau keindahan yang tinggi ataupun benda-benda yang memiliki fungsi yang penting dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

warisan dunia UNESCO yang berada di wilayah teritorian Kamboja, yaitu AngkorWat. Angkor Wat sendiri telah dihapus dari daftar situs warisan dunia yang berbahaya setelah mendapatkan perbaikan dalam pengelolaan dan konservasi dari pihak UNESCO. Meskipun sudah dinyatakan lepas dari status bahaya oleh UNESCO, tetapi Angkor wat tetap saja di perebutkan oleh Thailand dan Kamboja sampai sekarang. Hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada tekstur bangunan dari angkorwat karena sering kali terjadi baku tembak antara tentara kedua negara tersebut. Sementara itu menurut konvensi Den Haag tahun 1954 setiap negara yang termasuk dalam konvensi tersebut bertanggung jawab untuk menjaga, merawat dan melestarikan setiap benda budaya yang berada diwilayah teritorialnya sendiri.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan perlindungan cagar budaya telah diatur dalam konvensi DenHaag 1954, Konvensi mengenai Bangunan Kebudayaan yang menjadi Warisan Dunia tahun 1972. Selanjutnya, kedudukan UNESCO sebagai organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayan internasional adalah sebagai pembuat kriteria cagar budaya yang dapat dikatakan warisan dunia juga sebagai organisasi yang melindungi cagar budaya tersebut. UNESCO juga sudah mengeluarkan peraturan- peraturan hukum yang mengatur perlindungan cagar budaya. Adapun yang menjadi saran yaitu, hendaknya pemerintah suatu negara membentuk suatu undang-undang atau peraturan-peraturan khusus yang mengatur mengenai perlindungan cagar budaya, karena sesungguhnya, perlindungan hukum terhadap cagar budaya, merupakan tanggung jawab pemerintah suatu negara.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan perlindungan cagar budaya telah diatur dalam konvensi DenHaag 1954, Konvensi mengenai Bangunan Kebudayaan yang menjadi Warisan Dunia tahun 1972. Selanjutnya, kedudukan UNESCO sebagai organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayan internasional adalah sebagai pembuat kriteria cagar budaya yang dapat dikatakan warisan dunia juga sebagai organisasi yang melindungi cagar budaya tersebut. UNESCO juga sudah mengeluarkan peraturan- peraturan hukum yang mengatur perlindungan cagar budaya. Adapun yang menjadi saran yaitu, hendaknya pemerintah suatu negara membentuk suatu undang-undang atau peraturan-peraturan khusus yang mengatur mengenai perlindungan cagar budaya, karena sesungguhnya, perlindungan hukum terhadap cagar budaya, merupakan tanggung jawab pemerintah suatu negara.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perlindungan Warisan Budaya Daerah Menur

Perlindungan Warisan Budaya Daerah Menur

Untuk objek yang belum dinyatakan sebagai cagar budaya, undang-undang juga melindungi “Objek Yang Diduga Sebagai Cagar Budaya” dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan layaknya cagar budaya. Pendugaan ini dilakukan oleh Tenaga Ahli, bukan oleh Tim Ahli. Tenaga Ahli adalah orang-orang tertentu seperti arkeologi, antropologi, geologi, sejarah, atau kesenian yang diberi sertifikat oleh negara menjadi ahli setelah melalui pegujian. Pengaturannya akan dilakukan dalam Peraturan Pemerintah yang tengah dipersiapkan. Maksud dari pelindungan terhadap “Objek Yang Diduga Sebagai Cagar Budaya” ini adalah supaya kemungkinan untuk menjadi cagar budaya dapat dipertahankan sampai dengan keluarnya penetapan oleh kepala daerah.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

DISPORAPAR PROV JATENG 1.17.1.9.21.7

DISPORAPAR PROV JATENG 1.17.1.9.21.7

Jumlah warisan budaya dunia nasional yang ditetapkan dan dikelola secara terpadu 6 Buah Jumlah warisan budaya dunia nasional yang ditetapkan dan dikelola secara terpadu 6 Buah Jumlah[r]

18 Baca lebih lajut

Tautan Politik antara Pengrajin Batik Pa

Tautan Politik antara Pengrajin Batik Pa

Perhatian terhadapi komunitas pembatik secara sosial-politik justru ditentukan oleh pe- ristiwa lain, bukan sebagai akibat dari status mereka sebagai kelas pekerja. Dalam kasus komunitas batik di Bantul, peristiwa non-politis adalah bencana gempa 2006 yang meluluh- lantakkan kawasan ini. Pengakuan Mbak Aminah dari kelompok Sekar Nitik meng- ungkapkan bahwa perhatian pengrajin batik sa- ngat tinggi setelah terjadinya gempa tahun 2006. Pasca-gempa, perhatian dari pemerintah ke kelompok Sekar Nitik ditunjukkan dengan kehadiran Ibu Ida Idham Samawi, istri bupati Bantul saat itu. Dia datang berkunjung atas undangan Bapak Daud Wirjo, seorang pedagang batik yang bersinggungan dengan komunitas itu. Dalam kunjungan tersebut, istri Bupati menawarkan pinjaman modal sebesar 40 juta rupiah kepada kelompok Sekar Nitik. Namun, kelompok itu memutuskan untuk tidak mene- rima bantuan. Mereka menilai bantuan itu akan membebani pengrajin batik di kemudian hari, karena adanya kewajiban untuk mengembali- kan. Bantuan juga datang dari Paguyuban Pe- cinta Batik Sekar Jagad yang dipelopori Ibu Larasati Suliantoro dengan usaha membangkit- kan batik sebagai salah satu terapi bagi pe- rempuan korban gempa.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Festival Wayang Indonesia Sebagai Upaya Membentuk Citra Total E&P Indonesie.

Festival Wayang Indonesia Sebagai Upaya Membentuk Citra Total E&P Indonesie.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kegiatan Festival Wayang Indonesia, citra TOTAL E&P INDONESIE yang ingin dipandang sebagai perusahaan minyak dan gas asing yang peduli terhadap pelestarian budaya Indonesia telah tercapai di mata stakeholders. Latar belakang Festival Wayang Indonesia didasari oleh keputusan UNESCO yang menyatakan bahwa wayang merupakan warisan dunia, realita bahwa eksistensi wayang di Indonesia memudar, belum adanya perusahaan minyak dan gas asing yang mempromosikan budaya Indonesia, dan ingin membentuk citra TOTAL E&P INDONESIE. Pemahaman yang dihasilkan, Festival Wayang Indonesia merupakan bentuk upaya pelestarian budaya Indonesia, yang memberikan manfaat bagi seniman wayang di Indonesia dan juga bagi TOTAL E&P INDONESIE dalam membentuk citranya di mata stakeholder. Aktivitas komunikasi yang terjadi dalam Festival Wayang Indonesia ini menghasilkan pola komunikasi sirkular.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Byōdōin Temple – The Amida (Buddhist)

Byōdōin Temple – The Amida (Buddhist)

 Selama perioda Muromachi (1333-1568)  pengaruh budaya dari Cina menjadi kuat. Para biarawan Cina dan Jepang secara periodik saling berkunjung ke masing-masing negara sama halnya dengan Korea. Para biarawan ini memberi pelayanan baik sebagai pemimpin relijius maupun sebagai penasihat budaya Cina bagi anggota istana Jepang dan samurai = aristocratic Japanese warrior : an aristocratic Japanese warrior of a class that dominated the military aristocracy between the 11th and the 19th centuries.

5 Baca lebih lajut

Byōdōin Temple – The Amida (Buddhist)

Byōdōin Temple – The Amida (Buddhist)

Kyōto pertama kali dijadikan tempat tinggal pada abad 7 oleh para imigran penenun sutera dari Korea. Tahun 794 pemerintahan kekaisaran Jepang memindahkan ibukotanya dari Nagaoka (tahun 784 berhasil menjadikan Nara sebagai ibukota) ke Kyōto untuk melepaskan diri dari dominasi pemuka agama Buddha dalam kancah pengadilan. Perpindahan tersebut bersamaan dengan abad klasik Jepang  perioda Heian (794-1185).

5 Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - ANALISIS STRATEGI PEMASARAN BATIK AL-WARITS BANGKALAN MADURA - Perbanas Institutional Repository

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - ANALISIS STRATEGI PEMASARAN BATIK AL-WARITS BANGKALAN MADURA - Perbanas Institutional Repository

Sehubungan dengan hal tersebut pelaksanaan pemasaran modern dewasa ini mempunyai peranan yang sangat besar sebagai penunjang langsung terhadap peningkatan laba dan persaingan perusahaan, perusahaan perlu mengenal kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dengan menggunakan analisis swot sehingga perusahaan dalam persaingan akan sangat membantu dalam mengenali diri, serta memanfaatkan setiap peluang yang ada dan menghindari atau meminimalkan kekurangan, dimana peran strategi pemasaran merupakan upaya mencari posisi pemasaran yang menguntungkan dalam suatu industri atau arena fundamental persaingan berlangsung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Tantangan dalam Melestarikan Sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Bali.

Tantangan dalam Melestarikan Sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Bali.

Pemeliharaan jaringan dan bangunan irigasi dilakukan oleh pemerintah dan partisipasi masyarakat petani para naggota subak. Semasa berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006 yang merupakan turunan dari Undang Undang 7 tahun 2004 tetntang Sumber Daya Air yang telah dicabut pada Februari 2015, menjelaskan tentang wewenangan dan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan ketentuan : Daerah Irigasi dengan luas diatas 3000 ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, Daerah Irigasi antara 1000 ha – 3000 ha kewenangan Pemerintah Provinsi dan Daerah Irigasi lebih kecil dari 1000 ha sepenuhnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten, sedangkan jika berada pada lintas kabupaten maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi. Jaringan tersier sepenuhnya merupakan tanggung jawab organisasi petani (P3A) dalam hal ini adalah masyarakat petani (Wahyudi, dkk, 2015). Pada masa berlakunya PP tersebut operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi subak, terutama yang mempunyai tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota cukup berat, karena luas irigasi subak sebagian besar kurang dari 1000 hektar, sementara kemampuan pemerintah untuk menyediakan biaya pemeliharaan sangat kecil. Selanjutnya Wahyudi dkk (2015) menguraikan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Pengoperasian dan pemeliharaan Jaringan Irigasi, partisipasi Pemerintah meliputi: pemeliharaan rutin dengan merawat seluruh bangunan irigasi guna mempertahankan kondisi sarana dan prasarana Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus berkelanjutan tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti, serta pemeliharaan berkala adalah kegiatan merawat dan memperbaiki sarana dan prasarana jaringan irigasi yang dilaksanakan secara berkala dan telah direncanakan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TRADISI PEMBACAAN BABAD CIREBON: TINJAUAN FUNGSI WILLIAM R. BASCOM

TRADISI PEMBACAAN BABAD CIREBON: TINJAUAN FUNGSI WILLIAM R. BASCOM

Mengenai kurangnya kepedulian masyarakat Cirebon terhadap sastra dan budaya di daerahnya sendiri diperkuat oleh pernyataan Basyari, peneliti kebudayaan Cirebon (2016) dalam seminar nasional yang berjudul “Transformasi Nilai Sosial Budaya dalam Kurikulum dan Pembelajaran.” Ia mengungkapkan bahwa dari penelitian yang telah dilakukannya diketahui bahwa kepedulian dan minat masyarakat terhadap budaya lokal Cirebon makin berkurang. Begitu pun dengan cerita babad Cirebon dan tradisi pembacaannya yang jarang sekali diketahui oleh masyarakat, khususnya kawula muda karena bahasanya yang sulit dipahami oleh mereka. Selain itu, hal tersebut diduga karena maraknya acara-acara di televisi yang mengusung tema modern dan arus modernisasi yang terjadi di Cirebon. Di sisi lain, orang tua, guru, dan sekolah pun kurang mengenalkan cerita dan budaya lokalkepada generasi muda.
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

Tantangan Dalam Melestarikan Sistem Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Di Bali.

Tantangan Dalam Melestarikan Sistem Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Di Bali.

Regulasi atau peraturan yang mengatur subak secara internal disebut awig awig. Awig-awig adalah peraturan yang mengatur berbagai kegiatan, organisasi, hak dan kewajiban anggota para subak tersebut. Awig awig dapat diperluas dan ditambahkan dengan aturan tambahan , disebut pasuara (aturan tambahan. Pasuara biasanya dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan yang mungkin terjadi untuk memenuhi tuntutan para petani sebagai anggota subak. Sebagai aturan, awig awig terdiri dari Bab disebut Sarga dan Bagian disebut Palet, dan Pasal disebut Pawos. Cakupan Awig Awig dari Subak meliputi: nama dan tempat, prinsip-prinsip dasar, aturan keanggotaan, aturan aspek keagamaan, aturan aspek irigasi (persubakan), pengaturan denda,perubahan awig awig dan bab penutup. Awig awig biasanya dijelaskan dan ditulis dalam bahasa dan huruf Bali , meskipun belakangan ada evolusi awig awig ditulis dalam huruf Bali dan huruf Latin dan disahkan oleh Unsur Pemerintah sebagai Pembina Subak di tingkat Pemerintah kabupaten/Kota. Awig awig dapat ditambah dengan aturan tambahan yang disebut pasuara, sebagai tambahan aturan dalam menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. Tidak semua awig awig subak dibuat secara tertulis dan disahkan oleh pihak berwenang, sebagian subak mencatat awig-awig secara sederhana atau bahkan tidak tertulis, namun demikian awig-awig subak sesalu dihormati dan diikuti oleh para anggota subak (Norken dkk, 2015). Selain awig-awig yang mengatur secara internal, pemerintah juga mengeluarkan peraturan berkaitan dengan subak berupa Peraturan Daerah (Perda), seperti: Peraturan Daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/1972 tentang Irigasi Daerah Provinsi Bali yang kemudian diperbaharui melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2012 tentang Subak. Ditingkat nasional lembaga subak juga mendapat pengakuan melalui Peraturan Pemerintah (PP) 20 tahun 2006 tentang Irigasi yang saat ini sudah tidak berlaku dan belum mempunyai pengganti. Sementara di tingkat internasional, UNESCO mengakui subak sebagai salah satu Situs Warisan dunia pada 29 Juni tahun 2012. Dengan demikian subak sudah bukan saja milik masyarakat Bali, namun juga mendapat pengakuan luas baik secara nasional maupun internasional.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan Warisan Budaya Dunia (WBD) harus sesuai dengan prinsip Tri Hita Karana. Prinsip ini juga menjadi pedoman dalam menentukan visi pengelolaan WBD Catur Angga Batukaru dalam rangka melestarikan subak sebagai manifestasi nilai luar biasa dan universal Tri Hita Karana. Adapun visi yang teridentifikasi melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:

1 Baca lebih lajut

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JATILUWIH, POTENSI WARISAN BUDAYA DUNIA.

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JATILUWIH, POTENSI WARISAN BUDAYA DUNIA.

2) Model manajemen berbasis masyarakat dan budaya lokal yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam pengelolaan Subak Jatiluwih adalah yang manajemen yang berlandaskan para filsafat Tri Hita Karana serta konsep-konsep yang sejalan dengan filsafat tersebut dan merupakan kearifan lokal masyarakat Bali. Pada intinya konsep-konsep tersebut menekankan betapa pentingnya keharmonisan dalam hubungan manusia – Tuhan, manusia-manusia, dan manusia-lingkungan alam. Selain itu konsep-konsep tersebut menekankan pentingnya kebenaran (dharma) untuk menuntun langkah mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan, namun tetap dengan sikap yang luwes sesuai dengan konteks waktu dan ruang. Hal ini perlu dijadikan acuan utama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembangunan Subak Jatiluwih guna mencapai tujuan penetapan subak tersebut sebagai warisan budaya dunia.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...