Top PDF PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

Berdasarkan hal tersebut, maka lebih lanjutnya Izin Tinggal dapat diberikan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi, Kantor Imigrasi, dan Kementerian Luar Negeri. Izin Tinggal yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi adalah melekat atau menyatu secara fungsional dengan Tanda Masuk. Izin Tinggal yang diberikan di Kantor Imigrasi adalah dalam hal perpanjangan Izin Tinggal kunjungan, Izin Tinggal terbatas untuk pertama kali dan perpanjangannya kecuali bagi Orang Asing yang akan melakukan pekerjaan singkat, pemberian Izin Tinggal Tetap dan perpanjangannya, dan Izin Tinggal melalui proses alih status Keimigrasian. Adapun Izin Tinggal yang diberikan di Kementerian Luar Negeri berkenaan dengan kunjungan dan penempatan Orang Asing di Wilayah Indonesia dalam rangka tugas diplomatik ataupun tugas yang bukan bersifat diplomatik.
Baca lebih lanjut

180 Baca lebih lajut

Kebijakan Selektif (Selective Policy) Masuknya Orang Asing ke Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian

Kebijakan Selektif (Selective Policy) Masuknya Orang Asing ke Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian

Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan, baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik, dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. Keberhasilan dan penyelenggaraan, sangat ditentukan oleh kualitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan, seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. Oleh karena itu, upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang, organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat, tepat, berhasil guna dan berdaya guna.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

DINAS PMD, P3A,KB KAB.SIDOARJO

DINAS PMD, P3A,KB KAB.SIDOARJO

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Kepala Desa wajib : menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran kepada Bupati, menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada Bupati, memberikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran; dan memberikan dan/atau menyebarkan informasi penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada masyarakat Desa setiap akhir tahun anggaran.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENEGAKAN HUKUM UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN OLEH PPNS KEIMIGRASIAN TERHADAP WARGA NEGARA ASING YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL ( Studi Kasus Di Wilayah Hukum Kantor Imigrasi Kelas I Padang ) - Repositori

PENEGAKAN HUKUM UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN OLEH PPNS KEIMIGRASIAN TERHADAP WARGA NEGARA ASING YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL ( Studi Kasus Di Wilayah Hukum Kantor Imigrasi Kelas I Padang ) - Repositori

PENEGAKAN HUKUM UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN OLEH PPNS KEIMIGRASIAN TERHADAP WARGA NEGARA ASING YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL Stud[r]

1 Baca lebih lajut

02fe2 RAPERDA PEMERINTAH DESA DAN BPD

02fe2 RAPERDA PEMERINTAH DESA DAN BPD

Terkait dengan hal tersebut diatas, maka Pemerintah Kabupaten Belitung juga perlu melakukan penyesuaian dan membuat aturan turunan dalam bentuk Peraturan Daerah dengan membentuk Peraturan Daerah tentang Pemerintah Desa dan BPD untuk menyesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 83 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 Tahun 2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

SK KEPALA DESA PAMAKAYO

SK KEPALA DESA PAMAKAYO

b. Bahwa sehubungan dengan telah ditetapkan Undang- undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan atas Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, maka Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 16 tahun 2016 tentang Organisasi Pemerintahan Desa dan Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 16 Tahun 2006 tentang Perangkat Desa perlu disesuaikan. c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Indonesian Immigration Terms And Their Translations In English.

Indonesian Immigration Terms And Their Translations In English.

Dewasa ini, penerjemahan menjadi hal yang penting dalam komunikasi masyarakat Hal ini dikarenakan oleh perpindahan orang masuk dan keluar dari dan menuju Negara satu ke Negara lainnya. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia dimana orang dari berbagai Negara dating ke Indonesia tidak hanya semata-mata untuk berwisata tetapi juga untuk tujuan lainnya seperti menanamkan modal, bekerja, belajar bahkan menghabiskan masa pensiunnya. Oleh karena itu, Penerjemahan Undang-Undang Imigrasi Indonesia harus diperhitungkan sehingga peraturannya dapat lebih mudah terbaca dan dipahami oleh orang-orang tersebut. Adapun tujuan dari Penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi terjemahan Terminologi Keimigrasian ke dalam Bahasa Inggris dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian; (2) menjelaskan teknik-teknik penerjemahan yang diaplikasikan oleh penerjemah; (3) menganalisa kesepadanan terjemahan terminologi Keimigrasian Indonesia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEIMIGRASIAN (Studi Putusan No. 310/Pid.Sus/2013/PN.Kld)

ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEIMIGRASIAN (Studi Putusan No. 310/Pid.Sus/2013/PN.Kld)

Imigran adalah orang yang melakukan perpindahan dari satu negara ke negara lain yang bukan negaranya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, imigran adalah orang yang datang dari negara lain dan tinggal menetap di suatu negara. 43 Dahulu istilah imigran tidak terbatas pada manusia sebagai pelakunya, namun juga dapat digunakan pada hewan dan benda-benda yang dibawa pindah melintasi perbatasan suatu negara. Awalnya perpindahan penduduk ini terjadi disebabkan oleh peperangan dan bencana alam, sehingga para penduduk mencari wilayah lain yang lebih aman. Kemudian istilah imigran dipersempit terbatas pada manusia saja setelah negara-negara mengalami perkembangan yang secara otomatis juga menciptakan undang-undang dan peraturan. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian menyebutkan bahwa untuk menetap di wilayah Indonesia diperlukan adanya Izin Tinggal Tetap yang diberikan kepada warga
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

PENGAWASAN KEIMIGRASIAN TERHADAP ORANG ASING DALAM RANGKA PENDEPORTASIAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN (STUDI DI KANTOR IMIGRASI KELAS I POLONIA MEDAN) TESIS

PENGAWASAN KEIMIGRASIAN TERHADAP ORANG ASING DALAM RANGKA PENDEPORTASIAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN (STUDI DI KANTOR IMIGRASI KELAS I POLONIA MEDAN) TESIS

The immigration controlling constitues controlling foreigners which includes observing and controlling all their activities since they plan to come to the country, their stay in the country until they leave Indonesia as it is stipulated in Article 66, Paragraph 2 of Law No. 6/2011 on Immigration.

14 Baca lebih lajut

PP 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

PP 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Peraturan Pemerintah ini merupakan pengaturan lebih lanjut ketentuan Pasal 31 ayat (3), Pasal 40 ayat (4), Pasal 47 ayat (6), Pasal 50 ayat (2), Pasal 53 ayat (4), Pasal 66 ayat (5), Pasal 75 ayat (3), Pasal 77 ayat (3), dan Pasal 118 ayat (6) serta ketentuan lainnya dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dalam rangka mengoptimalkan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa. Dengan demikian, lingkup pengaturan Peraturan Pemerintah ini ialah penataan Desa, kewenangan Desa, Pemerintahan Desa, tata cara penyusunan peraturan di Desa, keuangan dan kekayaan Desa, pembangunan Desa dan pembangunan kawasan perdesaan, badan usaha milik Desa, kerja sama Desa, lembaga kemasyarakatan Desa dan lembaga adat Desa, serta pembinaan dan pengawasan Desa oleh camat atau sebutan lain.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

PENUTUP  PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DI PROPINSI BALI.

PENUTUP PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DI PROPINSI BALI.

1. Bahwa pelaksanaan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan izin tinggal di propinsi Bali menurut Undang-Undang Nomor 6 tahun 2011 Tetang Keimigrasian sudah berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku, tetapi masih ada kendala yang dihadapi oleh petugas imigrasi. Aparat penegak hukum yaitu petugas imigrasi di propinsi Bali harus lebih memahami tentang peraturan hukum imigrasi, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan benar. Selain itu petugas imigrasi harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat memudahkan tugas mereka dalam pelaksanaan penegakan kedaulatan atas wilayah Indonesia. Tidak kalah pentingnya peran serta masyarakat dalam rangka menjaga ketertiban kehidupan berbangsa dan bernegara munuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

Kepentingan nasional adalah kepentingan seluruh rakyat Indonesia sehingga pengawasan terhadap Orang Asing memerlukan juga partisipasi masyarakat untuk melaporkan Orang Asing yang diketahui atau diduga berada di Wilayah Indonesia secara tidak sah atau menyalahgunakan perizinan di bidang Keimigrasian. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Berdasarkan kebijakan selektif (selective policy) yang menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia, diatur masuknya Orang Asing ke dalam Wilayah Indonesia, demikian pula bagi Orang Asing yang memperoleh Izin Tinggal di Wilayah Indonesia harus sesuai dengan maksud dan tujuannya berada di Indonesia. Berdasarkan kebijakan dimaksud serta dalam rangka melindungi kepentingan nasional, hanya Orang Asing yang memberikan manfaat serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum diperbolehkan masuk dan berada di Wilayah Indonesia. Terhadap warga negara Indonesia berlaku prinsip bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk keluar atau masuk Wilayah Indonesia. Namun, berdasarkan alasan tertentu dan untuk jangka waktu tertentu warga negara Indonesia dapat dicegah keluar dari Wilayah Indonesia.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DI PROPINSI BALI.

PENDAHULUAN PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN TINGGAL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DI PROPINSI BALI.

Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. Sebagai sebuah subsistem hukum, hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 1 . Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. Di samping tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional, sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional, seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM), diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330, serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Tinjauan Hukum Hak Asasi Manusia Dalam Penerapan Deportasi Bagi Tenaga Kerja Asing di Bali.

Tinjauan Hukum Hak Asasi Manusia Dalam Penerapan Deportasi Bagi Tenaga Kerja Asing di Bali.

Dalam kaitannya dengan tindakan deportasi bagi tenaga asing tersebut, perlu kiranya diketahui mengenai makna dari deportasi itu sendiri. Deportasi merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu deportation , yang memiliki sejumlah padanan kata yaitu expulsion dan exile. Istilah ini seringkali didengar oleh masyarakat karena pemberitaan media berkaitan dengan proses penegakan hukum terhadap para WNA yang melanggar ijin tinggal. Istilah deportasi juga kerap diasosiasikan sebagai tindakan pengusiran terhadap orang asing dari wilayah Indonesia. Dalam konteks hukum nasional, pengaturan mengenai deportasi dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Keimigrasian) yang mendefinisikan deportasi sebagai tindakan paksa mengeluarkan Orang Asing dari Wilayah Indonesia. 9 Selanjutnya, Pasal 75 Undang-Undang Keimigrasian Deportasi juga menentukan bahwa deportasi merupakan salah satu bentuk Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap Orang Asing yang berada di Wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan yang dapat dilakukan oleh Pejabat Imigrasi berdasarkan kewenangan yang dimilikinya.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Tinjauan Hukum Hak Asasi Manusia Dalam Penerapan Deportasi Bagi Tenaga Kerja Asing di Bali.

Tinjauan Hukum Hak Asasi Manusia Dalam Penerapan Deportasi Bagi Tenaga Kerja Asing di Bali.

Dalam kaitannya dengan tindakan deportasi bagi tenaga asing tersebut, perlu kiranya diketahui mengenai makna dari deportasi itu sendiri. Deportasi merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu deportation, yang memiliki sejumlah padanan kata yaitu expulsion dan exile. Istilah ini seringkali didengar oleh masyarakat karena pemberitaan media berkaitan dengan proses penegakan hukum terhadap para WNA yang melanggar ijin tinggal. Istilah deportasi juga kerap diasosiasikan sebagai tindakan pengusiran terhadap orang asing dari wilayah Indonesia. Dalam konteks hukum nasional, pengaturan mengenai deportasi dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Keimigrasian) yang mendefinisikan deportasi sebagai tindakan paksa mengeluarkan Orang Asing dari Wilayah Indonesia. 9 Selanjutnya, Pasal 75 Undang-Undang Keimigrasian Deportasi juga menentukan bahwa deportasi merupakan salah satu bentuk Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap Orang Asing yang berada di Wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan yang dapat dilakukan oleh Pejabat Imigrasi berdasarkan kewenangan yang dimilikinya.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

uu no 06tahun 2011 ttg keimigrasian

uu no 06tahun 2011 ttg keimigrasian

Dampak era globalisasi telah memengaruhi system perekonomian negara Republik Indonesia dan untuk mengantisipasinya diperlukan perubahan peraturan perundang- undangan, baik di bidang ekonomi, industri, perdagangan, transportasi. transportasi, ketenagakerjaan, maupun peraturan di bidang lalu lintas orang dan barang. Perubahan tersebut diperlukan untuk meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia internasional yang mempunyai dampak sangat besar terhadap pelaksanaan fungsi dan tugas Keimigrasian. Penyederhanaan prosedur Keimigrasian bagi para investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia perlu dilakukan, antara lain kemudahan pemberian Izin Tinggal Tetap bagi para penanam modal yang telah memenuhi syarat tertentu. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta iklim investasi yang menyenangkan dan hal itu akan lebih menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN DANA DESA YANG BERSUMBER DARI APBN TAHUN ANGGARAN 2015 (Studi di Desa Sapugara-Bree Kec. Brang Rea Kab. Sumbawa Barat)

PENGELOLAAN DANA DESA YANG BERSUMBER DARI APBN TAHUN ANGGARAN 2015 (Studi di Desa Sapugara-Bree Kec. Brang Rea Kab. Sumbawa Barat)

Undang-Undang Desa juga memberi jaminan yang lebih pasti bahwa setiap desa akan menerima dana dari pemerintah melalui anggaran negara dan daerah yang jumlahnya berlipat, jauh diatas jumlah yang selama ini tersedia dalam anggaran desa. Kebijakan ini memiliki konsekuensi terhadap proses pengelolaannya yang seharusnya dilaksanakan secara profesional, efektif dan efisien, serta akuntabel yang didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen publik yang baik agar terhindarkan dari resiko terjadinya penyimpangan, penyelewengan dan korupsi.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMBERIAN BEBAS VISA KEPADA 45 NEGARA BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN.

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMBERIAN BEBAS VISA KEPADA 45 NEGARA BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN.

Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...