Top PDF Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pada pembiayaan murabahah, nasabah yang mengajukan permohonan harus memenuhi syarat sah perjanjian yaitu, unsur yaitu syarat subjektif harus berumur 21 tahun atau telah/pernah menikah, sehat jasmani dan rohani. Objek murabahah tersebut juga harus tertentu dan jelas dan merupakan milik yang penuh dari pihak bank. Dalam pelaksanaannya, pembelian objek murabahah tersebut dapat dilakukan oleh pembeli murabahah tersebut sebagai wakil dari pihak bank dengan akad wakalah atau perwakilan. Setelah akad wakalah dimana pembeli murabahah tersebut bertindak untuk dan atas nama bank untuk melakukan pembelian objek murabahah tersebut. Setelah akad wakalah selesai dan objek murabahah tersebut secara prinsip telah menjadi hak milik bank maka terjadi akad kedua antara bank dengan pembeli murabahah yaitu akad murabahah. Hal ini dimungkinkan dan tidak menyalahi syariah Islam karena dalam Dalam fatwa Nomor 04/ DSN-MUI/ IV/ 2000 Tanggal 1 April 2000 tentang murabahah, sebagai landasan syariah transaksi murabahah adalah sebagai berikut: pada bagian pertama angka 9 disebutkan bahwa jika bank bendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip, menjadi milik bank.
Baca lebih lanjut

143 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Berdasarkan hasil penelitian, ketentuan hukum akad pembiayaan di bank syari’ah adalah adalah perjanjian yang tidak mengandung unsur ribawi, maisir (perjudian), gharar (ketidakjelasan) dan bathil (ketidakadilan), Al-Quran Surat Al Maidah ayat 1, Hadist Nabi Muhammad SAW, dan Fatwa DSN MUI, adapun ketentuan hukum di bank konvensional mengacu pada Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang kwalitas aktiva Bank Umum, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Bentuk klausula akad pembiayaan bank syari’ah dan perjanjian kredit di bank konvensional terdapat kesamaan substansional dimana keduanya merupakan perjanjian tertulis yang sudah dibakukan, sedangkan dari isi perjanjian sama-sama memuat tentang jumlah uang, besar bunga (bank konvensional) atau porsi bagi hasil (bank syari’ah), cara pembayaran, waktu pelunasan dan agunan berupa surat-surat tanah dan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor. Perjanjian dalam pembiayaan tidaklah berbeda dengan perjanjian dalam kredit pada bank konvensional, karena sumber dari perjanjian tetap mengacu kepada KUHPerdata yang terdapat pada Buku III tentang Perikatan Pada Umumnya. Dengan demikian hubungan antara perjanjian di bank syariah dengan bank konvensional cukup erat serta tunduk pada ketentuan perundang-undangan yang sama.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Dalam akad-akad pembiayaan pada bank syariah terdapat klausul mengenai cara penyelesaian perselisihan. Pencantuman klausul ini dimaksudkan sebagai pilihan hukum terhadap lembaga penyelesaian jika terjadi perselisihan antara bank syariah dengan nasabahnya. Isi klausul tersebut pada intinya mengatur apabila terjadi perbedaan pendapat dalam memahami atau menfasirkan bagian-bagian dan isi, atau terjadi perselisihan dalam melaksanakan akad ini, maka nasabah dan bank akan berusaha untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat, serta apabila usaha menyelesaikan perbedaan pendapat atau perselisihan melalui musyawarah untuk mufakat tidak menghasilkan keputusan yang disepakati oleh kedua belah pihak, maka dengan ini nasabah dan bank sepakat untuk menunjuk dan menetapkan serta memberikan kuasa kepada Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) untuk memberikan putusannya, menurut tata cara dan prosedur berarbitrase yang ditetapkan oleh dan berlaku di badan tersebut.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Thesis/Disertasi Barus, Utary Maharani,Penerapan Hukum Perjanjian Islam Bersama-sama Dengan Hukum Perjanjian Menurut KUHPerdata Dalam Akad Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia, Pro[r]

8 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian hukum doktriner yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif maka penelitian ini menekankan pada sumber-sumber bahan sekunder, baik berupa peraturan-peraturan maupun teori-teori hukum serta dokumen lainnya yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Keseluruhan data yang diperoleh kemudian diolah, dianalisis dan ditafsirkan secara logis, sistematis dengan menggunakan metode deduktif.

2 Baca lebih lajut

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Perbandingan Perjanjian Kredit Dalam Prespektif Perjanjian Islam Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Setelah semua syarat yang diuraikan diatas telah dipenuhi oleh para pihak barulah oleh bank mempersiapkan suatu bentuk “perjanjian kredit” penyebutan dalam istilah bank konvensional dan “Aqad” dalam istilah Syari’ah.Perjanjian-perjanjian tersebut oleh pihak bank akan dituangkan dalam bentuk tertulis, kenapa harus dibuat dalam bentuk tertulis alasannya adalah untuk adanya suatu kepastian hukum dan sebagai pembuktian. Yang mana menurut pengertian yang ada pada KUHPerdata tentang pembuktian pada umumnya dalam Pasal 1865 KUHPerdata mengatakan:“Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuk-tikan adanya hak atau peristiwa tersebut”.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

Perjanjian perkawinan harus dibuat oleh orang yang cakap bertindak hukum, karena secara hukum ia akan memikul beban perkerjaan. Kecakapan ini diukur dari calon tersebut telah dewasa dan tidak berada dalam pengampuan. Mengenai kapan seseorang dewasa dapat dilihat dalam pasal 6 ayat (3) Undang-undang Perkawinan yang menyatakan untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua. Selanjutnya, dalam pasal 50 Undang-undang Perkawinan, anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan yang tidak berada dalam kekuasaan orang tua berada dalam kekuasaan wali. Untuk melangsungkan perkawinan pasangan yang belum mencapai umur 21 tahun perlu izin orang tua, hal ini berarti anak yang berada dibawah batas tersebut dianggap belum mampu bertindak hukum maka untuk membuat perjanjian perkawinan harus mendapat izin dari orang tua atau wali. 8
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

KOMPARASI PERJANJIAN KREDIT PADA BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

KOMPARASI PERJANJIAN KREDIT PADA BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

Bahwa perjanjian kredit pada bank konvensional maupun bank syariah telah memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian seperti yang termuat dalam pasal 1320 KUHPerdata. Perbedaan prinsip perjanjian kredit pada bank konvensional dan bank syariah terletak pada pengertian, sumber hukum yang digunakan, struktur perjanjiannya dan bentuk kesepakatannya. Implementasi perjanjian kredit pada bank konvensional maupun bank syariah adalah sebagai prosedur awal atau syarat bagi nasabah ketika ia mengajukan permohonan kredit atau pembiayaan dan sebagai daya ikat terhadap kedua belah pihak yang telah bersepakat melakukan transaksi kredit maupun pembiayaan. sehingga menimbulkan implikasi bahwa terjadinya hubungan hukum yaitu hak dan kewajiban bagi para pihak yang melakukan perjanjian kredit. Segala ketentuan yang berkaitan dengan operasional dan yang diberlakukan oleh masing-masing bank terhadap masyarakat selaku calon nasabah ini tetap tunduk pada KUHPerdata dan UU Perbankan.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Penyelesaian Kredit Macet Pada PT. Bpr Duta Paramarta Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Dihubungkan Dengan Undang – Undang Perbankan

Penyelesaian Kredit Macet Pada PT. Bpr Duta Paramarta Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Dihubungkan Dengan Undang – Undang Perbankan

Pada dasarnya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak mensyaratkan suatu bentuk pernyataan kehendak tertentu, tetapi memang benar, ada perjanjian- perjanjian tertentu yang mensyaratkan, agar kesepakatan itu dituangkan dalam bentuk tertentu. Untuk beberapa tindakan hukum tertentu hukum perdata (dalam arti luas) mensyaratkan perwujudan dalam bentuk suatu akta (bentuk tertulis). Akta tersebut dapat berupa akta bawah tangan maupun bentuk suatu akta otentik Suatu akta yang dibuat oleh para pihak dimaksudkan sebagai alat bukti adanya kesepakatan antara para pihak, namun di samping itu, mereka bebas untuk membuktikannya dengan bukti lain. Suatu akta selain berlaku sebagai alat bukti, akta merupakan syarat konstitutif untuk adanya perjanjian sebagaimana dimaksudkan oleh undang-undang. Sesuatu yang diisyaratkan oleh undang- undang adalah penuangan daripada perjanjian itu harus dalam wujud tertentu,
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Aspek Hukum Dalam Perjanjian Leasing Ditinjau Dari Peraturan Menteri No.84/PMK.012/2006 Dan Kaitannya  Dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Aspek Hukum Dalam Perjanjian Leasing Ditinjau Dari Peraturan Menteri No.84/PMK.012/2006 Dan Kaitannya Dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Dewasa ini, perkembangan sektor Hukum bisnis sangat cepat, hal ini membawa konsekuensi terhadap perlunya sektor Hukum di bidang ini ditelaah ulang, agar tetap up to date, sesuai dengan perkembangan masa. Dalam hal ini, jika yang mengatur perbankan dikenal dengan Hukum perbankan, atau yang mengatur perkreditan dikenal dengan Hukum perkreditan, tentunya yang mengatur bantuan finansial lewat lembaga pembiayaan dikenal juga dalam cabang Hukum bisnis yang namanya Hukum pembiayaan. Lembaga konvensional yang namanya bank, ternyata tidak cukup ampuh untuk menanggulangi berbagai keperluan dana dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena keterbatasan jangkauan penyebaran kredit oleh bank tersebut, keterbatasan sumber dana dan keharusan memberlakukan prinsip bernuansa kehati-hatian.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Berdasarkan uraian di atas, maka definisi wanprestasi adalah debitur yang tidak memenuhi atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya berdasarkan isi perjanjian yang telah ditentukan dan disepakati bersama antara pihak kreditur dengan pihak debitur, serta apabila ia telah diberikan teguran oleh pihak kreditur (Salim, 2006:98). Wujud dari debitur yang wanprestasi dapat dilihat dalam tiga wujud, wujudnya bisa berupa debitur sama sekali tidak berprestasi, yaitu debitur yang sama sekali tidak memberikan prestasi. Debitur keliru dalam berprestasi, maksudnya debitur berpikir bahwa ia telah memberikan prestasinya, tetapi pada kenyataannya yang diterima oleh kreditur lain daripada yang diperjanjikan. Hal ini termasuk juga penyerahan yang tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, dan debitur yang terlambat berprestasi, maksudnya objek prestasinya sudah benar akan tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan (Satrio, 1999:122- 133).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Akibat hukum Pasal 1266 KUHPerdata, terhadap debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian adalah, debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian dapat dinyatakan lalai dengan pernyataan lalai (ingebrekesteling) . Selanjutnya perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan oleh karena debitur yang tidak aktif dalam melaksanakan perjanjian atau debitur yang telah wanprestasi. Pembatalan harus dimintakan ke Pengadilan melalui Putusan Pengadilan, tanpa menghilangkan hak kreditur untuk menuntut ganti rugi yang diakibatkan oleh debitur.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KOMPARASI PERJANJIAN KREDIT PADA BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

KOMPARASI PERJANJIAN KREDIT PADA BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

Bahwa perjanjian kredit pada bank konvensional maupun bank syariah telah memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian seperti yang termuat dalam pasal 1320 KUHPerdata. Perbedaan prinsip perjanjian kredit pada bank konvensional dan bank syariah terletak pada pengertian, sumber hukum yang digunakan, struktur perjanjiannya dan bentuk kesepakatannya. Implementasi perjanjian kredit pada bank konvensional maupun bank syariah adalah sebagai prosedur awal atau syarat bagi nasabah ketika ia mengajukan permohonan kredit atau pembiayaan dan sebagai daya ikat terhadap kedua belah pihak yang telah bersepakat melakukan transaksi kredit maupun pembiayaan. sehingga menimbulkan implikasi bahwa terjadinya hubungan hukum yaitu hak dan kewajiban bagi para pihak yang melakukan perjanjian kredit. Segala ketentuan yang berkaitan dengan operasional dan yang diberlakukan oleh masing-masing bank terhadap masyarakat selaku calon nasabah ini tetap tunduk pada KUHPerdata dan UU Perbankan.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Perjanjian Penyelesaian Kredit Antara PT.BANK CIMB Niaga Tbk Dengan PT.Mestika Sawit Intijaya

Perjanjian Penyelesaian Kredit Antara PT.BANK CIMB Niaga Tbk Dengan PT.Mestika Sawit Intijaya

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Perjanjian Penyelesaian Pinjaman tidak diatur secara khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, namun Perjanjian Penyelesaian Pinjaman dapat dilakukan berdasarkan asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal Pasal 1319 KUH Perdata, yaitu yang berbunyi: ” Semua perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum yang termuat dalam bab ini dan bab yang lain ” . Perjanjian Penyelesaian Pinjaman dilakukan berdasarkan Pasal 1319 KUH Perdata jo Pasal 52 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/ 15 /PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum. Akibat hukum bagi para pihak terkait dengan perubahan perjanjian antara PT. Bank CIMB Niaga, Tbk. dengan PT.Mestika Sawit Intijaya adalah CIMB Niaga memiliki dapat melakukan penjualan terhadap seluruh Asset (baik yang dimiliki Mestikasawit Intijaya maupun Pemilik Aset) dimana seluruh hasil penjualan tersebut digunakan untuk pelunasan hutang Mestikasawit Intijaya kepada CIMB Niaga. Seluruh hutang Mestikasawit Intijaya akan dianggap lunas apabila seluruh Aset tersebut telah terjual kepada Pihak Ketiga dan seluruh hasil penjualannya diserahkan kepada CIMB Niaga.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM TERHADAP PERJANJIAN HUTANG MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

AKIBAT HUKUM TERHADAP PERJANJIAN HUTANG MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum, sesuai dengan pasal 1337 KUHPerdata. Jika para pihak tidak mengatur perjanjian yang mereka buat secara lengkap, maka undang- undang akan melengkapinya. Mengenai sistem terbuka dan sifat pelengkap yang dianut dalam Buku III KUHPerdata itu dari pasal 1338 ayat (1), maka semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Disamping itu perjanjian pertanggungan hutang ini bersifat accessoir. Perikatan-perikatan dalam perjanjian yang sifatnya “tambahan atau mengabdi” kepada suatu perjanjian pokok, tidak bisa melebihi perikatan-perikatan yang diterbitkan oleh perjanjian pokok itu. Sehingga perjanjian penanggungan akan lahir setelah adanya perjanjian pokoknya terlebih dahulu yaitu perjanjian hutang antara debitur dengan kreditur, begitu pula sebaliknya, jika perjanjian hutangnya gugur atau batal atau tidak jadi maka perjanjian penanggungannyapun secara otomatis juga ikut gugur, tetapi jika perjanjian penanggungannya yang gugur maka perjanjian pokoknya (hutang) belum tentu gugur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Yuridis Penyelesaian Wanprestasi Dalam Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan (Studi Kasus Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Kota Surakarta).

PENDAHULUAN Tinjauan Yuridis Penyelesaian Wanprestasi Dalam Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan (Studi Kasus Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Kota Surakarta).

Perjanjian kredit dalam KUHPerdata (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) tidak ada ketentuan yang baku tentang pengertian perjanjian kredit, perjanjian kredit ditemukan karena adanya suatu perjanjian yang berisikan suatu kredit antar pihak kreditur dengan debitur yang berbentuk akad perjanjian kredit yang dimana suatu akad perjanjian kredit tersbut saling diketahui isinya oleh kedua belah pihak dan saling sepakat atas pokok perjanjian kredit. 7 Dalam hal ini pengertian perjanjian kredit yang dikemukakan beberapa sarjana hukum berpendapat mirip dengan perjanjian pinjam uang yang diatur dalam KUHPerdata (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) Pasal 1754 yang menyatakan bahwa pinjam meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula, bahwa dari pernyataan pasal diatas bisa didefinisikan bahwa apabila debitur meminjam sejumlah uang tertentu kepada lembaga penyedia dana (kreditur) suatu saat debitur juga harus mengembalikan sejumlah dana yang di pinjam dari pihak Kreditur. 8
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

NN

NN

Utang yang terjadi karena peminjaman uang hanyalah terdiri atas jumlah uang yang disebutkan dalam perjanjian. Namun dalam perjanjian kredit dijelaskan dengan jelas bahwa perjanjian kredit dapat berdasarkan ketentuan Kitab Undang- Undang Hukum Perdata atau kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian. Dalam hal-hal ketentuan ketentuan sifatnya memaksa berlaku ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sedangkan ketentuan tidak memaksa berdasarkan kesepakatan pihak-pihak. Bentuk perjanjian kredit dalam praktik disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pihak.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

PERJANJIAN BAKU JUAL BELI PERUMAHAN DENGAN KLAUSULA EKSONERASI (Study Kasus Di Lembaga Perlindungan Konsumen Surabaya)

PERJANJIAN BAKU JUAL BELI PERUMAHAN DENGAN KLAUSULA EKSONERASI (Study Kasus Di Lembaga Perlindungan Konsumen Surabaya)

merupakan persoalan yang klasik dalam suatu sistem ekonomi, terutama pada negara-negara berkembang, karena perlindungan terhadap konsumen tidak menjadi prioritas utama dalam dunia bisnis, melainkan keuntungan yang diperoleh oleh produsen atau pelaku usaha, tidak terkecuali dalam bidang perumahan. Pada beberapa kasus yang terjadi, umumnya pihak konsumen tidak berdaya mempertahankan hak-haknya, karena tingkat kesadaran konsumen terhadap hak-haknya masih rendah. Hal tersebut disebabkan minimnya tingkat pengetahuan konsumen itu sendiri, baik terhadap aspek hukumnya yang berlaku saat ini, belum mampu secara optimal mengatasi permasalahan dalam perlindungan konsumen. Secara umum, posisi konsumen perumahan lemah dibandingkan pihak pelaku usaha, baik dari segi sosial ekonomi, pengetahuan teknis maupun dalam mengambil upaya hukum melalui institusi pengadilan, sehingga konsumen sering tidak menyadari haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha. Apabila konsumen mengetahui hal tersebut sekalipun, konsumen enggan untuk melakukan tindakan upaya hukum.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Pertanggung jawaban debitur pada perjanjian sewa menyewa mobil di rafa utama Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung

BAB I PENDAHULUAN - Pertanggung jawaban debitur pada perjanjian sewa menyewa mobil di rafa utama Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung

Penyalahgunaan mobil yang disewa selain mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan rental mobil juga mengakibatkan kerugian oleh masyarakat akibat dari ketidaktahuannya bahwa mobil yang dijadikan jaminan untuk suatu transaksi pinjam uang adalah mobil rental sehingga ketika pinjaman jatuh tempo, mobil tidak dapat ditarik karena bukan milik peminjam uang (penyewa mobil), namun milik perusahaan rental mobil. Dalam hal wanprestasi kasusnya yang terjadi di dalam perjanjian sewa menyewa di Rafa Utama rental sering terjadi wanprestasi seperti pengembalian barang yang disewa tetapi terlambat hal tersebut sering kali membuat rugi bagi pemilik usaha rental. Dalam hal ini keahlian dan pengetahuan setiap orang yang melakukan kesepakatan sangat berpengaruh, karena tidak sedikit wanprestasi yang terjadi berdampak pada penilaian masyarakat, kesalahan yang dibuat oleh seseorang sering menjadi bahan pembicaraan dikalangan masyarakat.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Pemerintah atas Keterlambatan Penyelesaian Penyediaan Barang dan Jasa di Dalam Perjanjian Borongan Kerja (Studi pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Sibolga)

Pertanggungjawaban Pemerintah atas Keterlambatan Penyelesaian Penyediaan Barang dan Jasa di Dalam Perjanjian Borongan Kerja (Studi pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Sibolga)

Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif. Normatif maksudnya penelitian hukum ini dilakukan dengan menggunakan dan mengelolah data sekunder. Adapun sifat dari penulisan skripsi ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan secara sistematis dan jelas dimana penulis akan melakukan penelitian termasuk survey ke lapangan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penulisan ini. Dipilihnya metode penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau uraian secara rinci, sistematis dan menyeluruh serta menganalisanya mengenai pelaksanaan kontrak konstruksi menurut peraturan perundang-undangan. 2. Sumber Data
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...