Top PDF Perbedaan Tingkat Kecukupan Energi, Protein Dan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri Daerah Pantai Dan Daerah Pegunungan Kecamatan Sindue

Perbedaan Tingkat Kecukupan Energi, Protein Dan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri Daerah Pantai Dan Daerah Pegunungan Kecamatan Sindue

Perbedaan Tingkat Kecukupan Energi, Protein Dan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri Daerah Pantai Dan Daerah Pegunungan Kecamatan Sindue

Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berkaitan erat dengan masalah gizi yang ada di Masyarakat, dimana perbedaan daerah pantai dan pegunungan mempunyai lingkungan yang berbeda sehingga menyebabkan perbedaan komoditi, pola produksi dan beragamnya jenis serta jumlah pangan yang dihasilkan sangat mempengaruhi status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecukupan energi, protein dan status gizi anak Sekolah Dasar Negeri daerah pantai dan daerah pegunungan Kecamatan Sindue. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Jumlah populasi yaitu 69 siswa yang semuanya dijadikan responden (total sampling). Hasil uji Independent Sample t test menunjukkan terdapat perbedaan kecukupan energi anak Sekolah Dasar Negeri daerah SDQWDL GDQ GDHUDK SHJXQXQJDQ ! 7HUGDSDW SHUEHdaan kecukupan protein anak 6HNRODK 'DVDU 1HJHUL GDHUDK SDQWDL GDQ GDHUDK SHJXQXQJDQ ! XML Mann-Whitney test terdapat perbedaan status gizi anak Sekolah Dasar Negeri daerah pantai dan daerah SHJXQXQJDQ ! 'LKDUDSNDQ NHSDGD SHPHULQWDK GDHUDh setempat agar memperhatikan pemerataan sumber daya alam yang ada antara daerah pantai dan pegunungan, serta diharapkan juga kepada institusi terkait yaitu Sekolah Dasar Negeri agar memperhatikan konsumsi makanan jajanan anak selama berada di lingkungan sekolah.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Konsumsi Pangan, Status Gizi, dan Status Yodium Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pegunungan Kabupaten Cianjur

Konsumsi Pangan, Status Gizi, dan Status Yodium Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pegunungan Kabupaten Cianjur

Berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) sebagian besar (86.5%) status gizi contoh adalah normal. Kelompok pangan yang paling banyak dikonsumsi adalah serealia, yaitu beras sebesar 211 g/kap/hari, mie sebesar 34 g/kap/hari, dan lainnya sebesar 15 g/kap/hari. Kelompok pangan hewani yang paling banyak dikonsumsi adalah telur sebanyak 38.5 g/kap/hari. Rata-rata konsumsi pangan contoh untuk semua kelompok pangan (serealia, umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, dan sayur serta buah) masih di bawah anjuran PPH. Skor PPH sebesar 46.5 yang menunjukkan bahwa secara kualitas, konsumsi pangan contoh masih belum beragam. Pangan sumber yodium yang paling sering dikonsumsi contoh adalah ikan asin sebanyak 68.4% dan telur sebanyak 67.1%. Pangan goitrogenik yang paling banyak dikonsumsi contoh dalam frekuensi yang sering adalah daun singkong, yaitu sebanyak 25.8 % dan kol sebanyak 23.9%. Asupan gizi contoh masih di bawah AKG, hanya vitamin A saja yang rata-rata asupannya telah melebihi AKG. Sebagian besar contoh, baik pria maupun wanita termasuk dalam kategori defisit berat pada tingkat kecukupan energi begitu juga dengan tingkat kecukupan protein. Rata-rata status yodium contoh berada pada defisiensi tingkat ringan (median yodium urin 60.0 μg/L). Lebih dari separuh con toh masih tergolong defisiensi, sebesar 32.9% diantaranya mengalami defisiensi yodium tingkat ringan. Berdasarkan perbedaan jenis kelamin, median yodium urin contoh laki-laki (67.0 μg/L) lebih tinggi dibandingkan median yodium urin perempuan (52.5 μg/L).
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

View of Hubungan Antara Keamanan Protein, Energi, Dan Vitamin A Terhadap Status Gizi Siswa Baru Sekolah Dasar Di Pantai Lasiana Kota Kupang

View of Hubungan Antara Keamanan Protein, Energi, Dan Vitamin A Terhadap Status Gizi Siswa Baru Sekolah Dasar Di Pantai Lasiana Kota Kupang

dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya dan Kota Kupang khususnya. Mengetahui status gizi siswa baru masuk sekolah pada dasarnya merupakan bagian penting untuk mengikuti perkembangan proses belajar siswa selama menempuh pendidikan di tingkat SD. Daerah pesisir pantai cenderung identik dengan kampung nelayan dan yang diduga memiliki asupan proteinnya relatif lebih tinggi dibanding pegunungan sebab asupan protein hewani (ikan) sangat tinggi. Namun tidak sedikit juga warga kampung nelayan sangat identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Kemiskinan ini akan berimbas pada status gizi anak. Pantai Lasiana merupakan salah satu daerah pesisir yang terletak di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Berdasarkan latar belakang ini maka peneliti melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Asupan Energi Protein dan Vitamin A dengan Status Gizi Siswa Baru Masuk Sekolah Dasar di Pesisir Pantai Lasiana Kota Kupang.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan antara Keamanan Protein, Energi, dan Vitamin A terhadap Status Gizi Siswa Baru Sekolah Dasar di Pantai Lasiana Kota Kupang

Hubungan antara Keamanan Protein, Energi, dan Vitamin A terhadap Status Gizi Siswa Baru Sekolah Dasar di Pantai Lasiana Kota Kupang

dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya dan Kota Kupang khususnya. Mengetahui status gizi siswa baru masuk sekolah pada dasarnya merupakan bagian penting untuk mengikuti perkembangan proses belajar siswa selama menempuh pendidikan di tingkat SD. Daerah pesisir pantai cenderung identik dengan kampung nelayan dan yang diduga memiliki asupan proteinnya relatif lebih tinggi dibanding pegunungan sebab asupan protein hewani (ikan) sangat tinggi. Namun tidak sedikit juga warga kampung nelayan sangat identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Kemiskinan ini akan berimbas pada status gizi anak. Pantai Lasiana merupakan salah satu daerah pesisir yang terletak di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Berdasarkan latar belakang ini maka peneliti melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Asupan Energi Protein dan Vitamin A dengan Status Gizi Siswa Baru Masuk Sekolah Dasar di Pesisir Pantai Lasiana Kota Kupang.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KONSUMSI PANGAN, STATUS GIZI DAN STATUS YODIUM ANAK SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PEGUNUNGAN KABUPATEN CIANJUR FANNISA FITRIDINA

KONSUMSI PANGAN, STATUS GIZI DAN STATUS YODIUM ANAK SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PEGUNUNGAN KABUPATEN CIANJUR FANNISA FITRIDINA

Berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) sebagian besar (86.5%) status gizi contoh adalah normal. Kelompok pangan yang paling banyak dikonsumsi adalah kelompok serealia, yaitu beras sebesar 211 g/kap/hari, mie sebesar 34 g/kap/hari, dan lainnya sebesar 15 g/kap/hari. Kelompok pangan hewani yang paling banyak dikonsumsi adalah telur sebanyak 38.5 g/kap/hari. Rata-rata konsumsi pangan contoh untuk semua kelompok pangan (serealia, umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, dan sayur serta buah) masih di bawah anjuran PPH. Skor PPH sebesar 46.5 yang menunjukkan bahwa secara kualitas, konsumsi pangan contoh masih belum beragam. Pangan sumber yodium yang paling sering dikonsumsi contoh adalah ikan asin sebanyak 68.4% dan telur sebanyak 67.1%. Pangan goitrogenik yang paling banyak dikonsumsi contoh dalam frekuensi yang sering adalah daun singkong, yaitu sebanyak 25.8 % dan kol sebanyak 23.9%. Asupan gizi contoh masih di bawah AKG, hanya vitamin A saja yang rata-rata asupannya telah melebihi AKG. Sebagian besar contoh, baik pria maupun wanita termasuk dalam kategori defisit berat pada tingkat kecukupan energi begitu juga dengan tingkat kecukupan protein. Rata-rata status yodium contoh berada pada defisiensi tingkat ringan (median yodium urin 60.0 μg/L). Lebih dari separuh contoh masih tergolong defisiensi, sebesar 32.9% diantaranya mengalami defisiensi yodium tingkat ringan. Berdasarkan perbedaan jenis kelamin, median yodium urin contoh laki-laki (67.0 μg/L) lebih tinggi dibandingkan median yodium urin perempuan (52.5 μg/L).
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Pengaruh Status Gizi, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein terhadap VO2 Maks

Pengaruh Status Gizi, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein terhadap VO2 Maks

getahui pengaruh status gizi , tingkat asupan energi (TKE) dan protein (TKP) terhadap VO 2 maks. Penelitian ini merupakan observasional analitik ini dilakukan secara cross sectional pada 20 sampel yang diambil secara acak seder- hana pada 50 orang populasi. Sebagai populasi adalah mahasiswa semester III PKG PGSD Ju- rusan PJKR UNNES berusia 20-30 tahun, sehat saat penelitian dan bersedia dijadikan sampel penelitian. Status Gizi dinilai berdasarkan IMT (BB/TB2 ), TKE dan TKP dari hasil recall 24 jam sedangkan VO 2 Maks diukur dengan tes Balke lari 15 menit. Analisis univariat meng- gunakan nilai rerata IMT, TKE dan TKP serta distribusi frekuensi. Analisis bivariat dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian : rerata IMT 22,5 ± 2,9 kg/m 2 , asupan energi 1791,5 ± 428,8
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI

Penentu kebijakan (Dinas Kesehatan atau Dinas Pendidikan pada level kabupaten) agar melaksanakan monitoring pertumbuhan anak secara periodik, misalnya sekali dalam tiga bulan. Sebagai tambahan, pemeriksaan Hb pada siswa juga agar dilaksanakan secara periodik, sebagai contoh 6 bulan sekali. Pemberian makanan tambahan dan pengukuran kandungan iodium dalam garam juga diperlukan dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Kismantoro mempunyai kandungan iodium yang rendah pada tanah dan airnya. Agar dapat dilakukan penelitian selanjutnya yang menggunakan test tanpa bias budaya, seperti Culture-Free Intelligence Test (CFIT). Penilaian asupan zat gizi disarankan menggunakan metode yang menunjukkan intake masa lalu (jangka panjang) bila ingin melihat hubungannya fungsi kognitif, sebagai contoh Food Frequency (FFQ).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI, KARBOHIDRAT, DAN PROTEIN DARI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR USIA 9 12 TAHUN

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI, KARBOHIDRAT, DAN PROTEIN DARI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR USIA 9 12 TAHUN

Anak merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) yang memerlukan perhatian khusus untuk kecukupan status gizinya sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Zat gizi dari makanan merupakan sumber utama memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh kembang optimal sehingga dapat mencapai kesehatan yang paripurna (kesehatan fisik, mental, dan sosialnya) (Chaerunnisa, 2008). Indonesia dan negara berkembang lain pada umumnya masih didominasi oleh empat masalah gizi utama. Masalah tersebut adalah Kurang Energi dan Protein, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, Anemia Gizi Besi, dan Kurang Vitamin A (Kurniawan dalam Nainggolan dan Kristiani, 2006).
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Tingkat Kecukupan Energi dan Protein, Tingkat Pengetahuan Gizi, Jenis Terapi Kanker, dan Status Gizi Pasien Kanker Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Tingkat Kecukupan Energi dan Protein, Tingkat Pengetahuan Gizi, Jenis Terapi Kanker, dan Status Gizi Pasien Kanker Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Tumor diidentifikasi berdasarkan jaringan asal, tempat mereka tumbuh. Akhiran “oma” biasanya ditambahkan ke istilah jaringan untuk mengidentifikasi suatu kanker (Corwin 2001). Beberapa kategori umum kanker yaitu, karsinoma adalah kanker jaringan epitel, termasuk sel-sel kulit, testis, ovarium, kelenjar penghasil mukus, sel penghasil melanin, payudara, serviks, kolon, rektum, lambung, pankreas dan esophagus. Limfoma adalah kanker jaringan limfe yang mencakup kapiler limfe, lakteal, limpa, berbagai kelenjar limfe dan pembuluh limfe. Timus dan sumsum tulang juga dapat dipengaruhi. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limpa) dan limfoma malignum. Leukemia adalah kanker dalam darah dimana sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih abnormal yang mendesak keluar sel darah putih normal, sel darah merah dan platelet. Sarkoma adalah kanker jaringan ikat, termasuk sel-sel yang ditemukan di otot dan tulang (Escott 2008). Glioma adalah kanker sel-sel glia (penunjang) di susunan saraf pusat. Karsinoma in situ adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga dianggap lesi prainvasif (Corwin 2001).
Baca lebih lanjut

162 Baca lebih lajut

Angka kecukupan gizi 2012 energi protein (1)

Angka kecukupan gizi 2012 energi protein (1)

Data berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yg digunakan dalam perhitungan AKE dan AKP didasarkan pada median berat badan dan tinggi badan normal penduduk Indonesia menurut kelompok umur dan jenis kelamin berdasarkan data Riskesdas 2010 terhadap standar WHO. Secara umum perhitungan AKE pada anak dan dewasa didasarkan pada model persamaan estimasi energi IOM 2005 (MPEI). MPEI pada anak mempertimbangkan faktor RBNPI, umur, energi pertumbuhan dan energi cadangan. MPEI pada remaja dan dewasa mempertimbangkan faktor RBNPI, umur, energi cadangan dan aktifitas fisik. Perhitungan AKP bagi anak dan dewasa didasarkan pada kecukupan protein pada setiap kelompok umur dan jenis kelamin anjuran IOM (2005) dan WHO (2007) serta faktor koreksi mutu protein. Perhitungan AKL didasarkan pada anjuran sebaran persentase energi dari lemak (Aceptable Macronutrient Distribution Range –AMDR) dan kebutuhan asam lemak esensial bagi setiap kelompok umur dan jenis kelamin yang dianjurkan IOM (2005) dan FAO/WHO (2008). Perhitungan tambahan AKE, AKP, AKL bagi busui didasarkan pada tambahan kecukupan gizi ini untuk produksi ASI dikoreksi penurunan berat badan setelah melahirkan. Perhitungan tambahan AKE, AKP, AKL bagi bumil didasarkan pada tambahan kecukupan zat gizi ini bagi pertumbuhan perkembangan janin dan organ tubuh ibu, peningkatan cairan tubuh, dan cadangan. Perhitungan AKL didasarkan pada IOM (2005) dan FAO/WHO (2008) serta distribusi persentase energi gizi makro. Angka kecukupan serat pangan (AKS) bagi anak, remaja dan dewasa adalah 14 g serat pangan per 1000 kkal kecukupan energy (IOM 2005).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI PENGASUH DENGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI PROTEIN DAN STATUS GIZI BATITA  Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi Pengasuh dengan Tingkat Konsumsi Energi Protein dan Status Gizi Batita di Wilayah Puskesmas Undaan Kabupaten Kudus.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI PENGASUH DENGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI PROTEIN DAN STATUS GIZI BATITA Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi Pengasuh dengan Tingkat Konsumsi Energi Protein dan Status Gizi Batita di Wilayah Puskesmas Undaan Kabupaten Kudus.

Pengasuh dengan Tingkat Konsumsi Energi Protein dan Status Gizi Batita di Wilayah Puskesmas Undaan Kabupaten Kudus ”. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat bagi penulis untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Program Studi Gizi S1, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada:

18 Baca lebih lajut

SKRIPSI PERBEDAAN TINGKAT ASUPAN ENERGI, PROTEIN DAN ZAT GIZI MIKRO  Perbedaan Tingkat Asupan Energi, Protein Dan Zat Gizi Mikro (Besi, Vitamin A, Seng) Antara Anak SD Stunting Dan Non Stunting Di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

SKRIPSI PERBEDAAN TINGKAT ASUPAN ENERGI, PROTEIN DAN ZAT GIZI MIKRO Perbedaan Tingkat Asupan Energi, Protein Dan Zat Gizi Mikro (Besi, Vitamin A, Seng) Antara Anak SD Stunting Dan Non Stunting Di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

Pendahuluan: Kelompok anak usia sekolah dasar merupakan anak usia 6-12 tahun yang mempunyai pertumbuhan lambat. Asupan zat gizi yang mempengaruhi pertumbuhan anak diantaranya sumber energi, protein, Fe, Vit A dan Zn, jika tidak terpenuhi anak akan tumbuh stunting.

18 Baca lebih lajut

Kecukupan Energi Dan Protein Serta Status Gizi Siswa Smp Yang Mendapat Makan Siang Dan Tidak Mendapat Makan Siang Dari Sekolah Dengan Sisitem Fullday School

Kecukupan Energi Dan Protein Serta Status Gizi Siswa Smp Yang Mendapat Makan Siang Dan Tidak Mendapat Makan Siang Dari Sekolah Dengan Sisitem Fullday School

Namun ada juga sekolah fullday yang tidak menyediakan makan siang bagi siswanya. Salah satu sekolah fullday di kota Medan yang tidak menyediakan makan siang bagi siswanya adalah Al-Ulum Terpadu Islamic School yang terletak di Jalan Tuasan no. 35 Medan.Siswa disekolah ini biasanya memperoleh makan siang dari bekal yang dibawa dari rumah atau membeli makan siang di kantin sekolah. Makan siang yang di jual di kantin diantaranya nasi goreng, mie goreng, nasi sayur dll. Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk makan siang di sekolah ini. Sekolah hanya memberi waktu istirahat pada pukul 10.30 dan 12.00. Sekolah juga tidak melakukan pengontrolan terhadap makan siang para siswanya sehingga berpotensi siswa tidak makan siang atau hanya makan cemilan saja.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

Kecukupan Energi Dan Protein Serta Status Gizi Siswa Smp Yang Mendapat Makan Siang Dan Tidak Mendapat Makan Siang Dari Sekolah Dengan Sisitem Fullday School

Kecukupan Energi Dan Protein Serta Status Gizi Siswa Smp Yang Mendapat Makan Siang Dan Tidak Mendapat Makan Siang Dari Sekolah Dengan Sisitem Fullday School

Kebutuhan energi setiap orang berbeda-beda tergantung dari metabolisme basal, efek termogenik dan aktifitas fisik (Supariasa, 2008). Komponen terbesar dari keluaran energi harian adalah BMR atau AMB atau BMK. Metabolisme basal diartikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai proses vital ketika tubuh tengah beristirahat. Dengan kata lain, metabolisme basal merupakan jumlah minimal energi yang dikeluarkan untuk mempertahankan fungsi alat pernapasan, sirkulasi darah, peristalyik usus, tonus otot, temperatur suhu tubuh, kegiatan kelenjar, serta fungsi vegetatif lain. Angka Metabolisme Basal umumnya dinyatakan dalam satuan kilokalori untuk setiap kilogram berat badan per jam. (Arisman, 2004)
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN MAKANAN JAJANAN SEKOLAH DENGAN STATUS GIZI SISWA SDN LANGENSARI 03 UNGARAN KABUPATEN SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

HUBUNGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN MAKANAN JAJANAN SEKOLAH DENGAN STATUS GIZI SISWA SDN LANGENSARI 03 UNGARAN KABUPATEN SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

anak. Konsumsi makanan merupakan salah satu factor utama penentu status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat- zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat seoptimal mungkin. Kebutuhan zat gizi berbeda untuk tiap kelompok umur, sesuai dengan kecepatan tumbuh dan aktivitas yang dilakukan. Anak sekolah merupakan salah satu kelompok rentan gizi, yaitu kelompok masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi. Hal ini dikarenakan anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tulang, gigi, otot dan darah sehingga mereka membutuhkan lebih banyak asupan gizi daripada orang dewasa (Sulistyanto,dkk. 2010)
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN PADA BALITA DI KELURAHAN WIRUN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO.

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN PADA BALITA DI KELURAHAN WIRUN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO.

Dari uraian di atas diketahui bahwa di Indonesia masih terdapat masalah gizi baik yang terjadi pada balita maupun anak usia sekolah. Oleh karena itu kami bermaksud mengambil data di Kelurahan Wirun Kecamatan Mojolaban untuk mengetahui tingkat kecukupan energi dan protein pada balita.

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI KECAMATAN NUSALAUT KABUPATEN MALUKU TENGAH

HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI KECAMATAN NUSALAUT KABUPATEN MALUKU TENGAH

Angka kematian balita masih cukup tinggi di Indonesia, hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Kekurangan salah satu zat gizi dapat menimbulkan penyakit defisiensi. Masalah gizi merupakan refleksi dari konsumsi energi, protein dan zat-zat gizi lainnya yang diperlukan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan energi dan protein dengan status gizi balita di Kecamatan Nusalaut Kabupaten Maluku Tengah. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan Cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan pada keseluruhan populasi yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi dan jumlah sampel adalah 368 balita. Analisa data secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan secara bivariat menggunakan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan hubungan asupan energi dan asupan protein dengan status gizi indeks BB/U bermakna (p=<0,001) dan indeks TB/U bermakna (p=0,001). Namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dan asupan protein dengan status gizi indeks BB/TB. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dan asupan protein dengan status gizi indeks BB/U dan TB/U.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIS GAKI

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIS GAKI

perhitungan tersebut dengan - & 10 persen maka didapatkan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 71 orang. Pada akhir penelitian terdapat dua subyek yang & karena ketidaklengkapan data, maka analisa statistik hanya dilakukan terhadap data dari 69 subyek penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti adalah status gizi, faktor sosiodemografi (meliputi pola asuh, lama pendidikan orangtua, struktur keluarga dan jumlah anak) dan kemampuan kognitif anak sekolah dasar. Kriteria inklusi subyek:
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects