Top PDF Perempuan dalam Diskriminasi Etnis di Indonesia (Analisis Film Sapu Tangan Fang Yin)

Perempuan dalam Diskriminasi Etnis di Indonesia (Analisis Film Sapu Tangan Fang Yin)

Perempuan dalam Diskriminasi Etnis di Indonesia (Analisis Film Sapu Tangan Fang Yin)

Kerusuhan dan pemerkoasaan seolah menjadi dua hal yang begitu menghantui Negara Indonesia pasca runtuhnya rezim Suharto. Tidak lama setelah pengumuman pengunduran diri Presiden Suharto rakyat berpesta pora, menumpahkan rasa terpendam dalam diri yang tertahan sekian lama dengan hal-hal yang mengarah kepada anarkisme. Bahkan akhirnya pun menyasar etnis minoritas Tionghoa. Secara historis dan klasik menurut Julia Suryakusuma (2012) rasisme merupakan saluran mudah melampiaskan penyakit sosial, sedangkan seksiesme merupakan kembarannya yang buruk dan menyeramkan. Perempuan di kosntruksikan secara sosial, budaya dan ideologis sebagai lemah, dan lebih rendah. Warga Tionghoa dijadikan sasaran karena diidentifikasikan telah menerima hak istimewa ekonomi pada masa Orde Baru. Rakyat tidak mungkin menyalurkan frustasi
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB II TENTANG KONVENSI CEDAW DAN PELAKSANAAN KONVENSI CEDAW DI INDONESIA. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan

BAB II TENTANG KONVENSI CEDAW DAN PELAKSANAAN KONVENSI CEDAW DI INDONESIA. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan sejak tahun 1984 melalui UU No. 7 tahun 1984. Peratifikasian tersebut diikuti dengan reservasi terhadap pasal 29 Konvensi. Ratifikasi tersebut tentu berakibat pada terikatnya Indonesia terhadap kewajiban sebagaimana diamanatkan oleh Konvensi yaitu mengadosi seluruh strategi Konvensi, melaksanakan Rekomendasi Komite, dan terlibat secara terus menerus terhadap berbagai perkembangan dan keputusan internasional yang berhubungan dengan perempuan (seperti Beijing Plat form for Action, hasil-hasil konferensi internasional tentang kependudukan, kesehatan reproduksi, kekerasan terhadap perempuan dan sebagainya). Apakah pemerintah telah melaksanakan kewajibannya ? Ada dua periode yang menarik untuk dicermati dalam rangka pelaksanaan Konvensi. Periode pertama adalah sejak diratifikasi Konvensi Perempuan dalam UU No. 7 tahun 1984 sampai dengan tahun 1997 (sebelum kejatuhan rezim Suharto).
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Efektifitas Implementasi Konvensi Cedaw PBB  Tahun 1979 Terhadap Upaya Penghapusan Diskriminasi  Perempuan Di Indonesia

Efektifitas Implementasi Konvensi Cedaw PBB Tahun 1979 Terhadap Upaya Penghapusan Diskriminasi Perempuan Di Indonesia

Budaya patriarki yang menghegemoni dalam masyarakat Indonesia mengkonstruksi pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk domestik, perempuan sebagai konco wingking (teman belakang), perempuan sebagai makhluk nomor dua, perempuan tidak bisa menjadi pemimpin, laki-laki sebagi penerus marga, perempuan sebagai obyek (salah satu bentuk adat istiadat yang menempatkan perempuan sebagai obyek, misalnya, pemberlakuan pembayaran jujur oleh pihak mempelai laki-laki kapada pihak mempelai perempuanu. Budaya semacam ini jelas menempatkan perempuan hanya sebatas obyek/properti yang dapat diperjualbelikan), perempuan yang baik adalah perempuan yang berani ditata atau patuh, larangan terhadap perempuan untuk keluar malam karena dianggap sebagai sumber kriminalitas, penilaian kehormatan dan kesucian perempuan setipis selaput dara, dll. Selain itu, penafsiran ilmiah agama juga tidak kecil berkontribusi dalam proses pelanggengan terhadap budaya patriarkis di Indonesia, misalnya perempuan tidak boleh keluar tanpa muhrimnya, tidak memperbolehkan perempuan menjadi pemimpin atas laki-laki, pahala perempuan ditentukan oleh kepatuhannya terhadap suami, isteri dilarang menggugat cerai suami dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

Implementasi Konvensi Anti Diskriminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia

Implementasi Konvensi Anti Diskriminasi Perempuan dalam Politik Hukum Indonesia

Konstruksi hukum tindakan afirmatif di Indonesia sangat lemah dan rapuh. Kerapuhan tersebut dapat diidentifikasi dari beberapa aspek: Pertama, dari aspek materi hukum, banyak regulasi di dalam undang-undang yang konstruksi logisnya belum sepenuhnya utuh, sehingga dalam banyak hal terkesan ngoyo woro tapi juga bisa dimaknai ketidakseriusan pembelaan atas perempuan. Misalnya, kuota partisipasi politik perempuan, dimana angka 30% yang disebut dalam Paket Undang-Undang Politik melahirkan beberapa pertanyaan lanjutan: mengapa 30%? Mengapa tidak 50%? Sehingga mendorong partisipasi tinggi seperti di Swedia yang mencapai hingga angka 48% (Laporan Inter-Parliamentary Union,
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Implementasi CEDAW Tentang Penghapusan Diskriminasi Perempuan: Studi Kasus Pemilu Di Indonesia Tahun 2009 Dan 2014

Implementasi CEDAW Tentang Penghapusan Diskriminasi Perempuan: Studi Kasus Pemilu Di Indonesia Tahun 2009 Dan 2014

Perserikatan Bangsa±Bangsa (PBB) sebagai organisasi internasional mengeluarkan sebuah konvensi internasional yang menjadi instrumen untuk menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, yang dinamakan Konvensi Internasional CEDAW (Convention on Elimination of All Form of Discrimination Against Women). Sebagai salah satu negara yang meratifikasi konvensi tersebut, Indonesia, mengadopsi pasal yang ada di dalam Konvensi CEDAW menjadi UU RI No. 7 Tahun 1984. Indonesia sepakat untuk mencegah segala tindakan diskriminasi terhadap perempuan dan menjalankan seluruh kebijakan yang telah diatur didalam UU tersebut. Namun melihat realita di lapangan, jumlah partisipasi politik perempuan di Indonesia belum mendekati angka 30% sesuai dengan affirmative action yang berlaku di Indonesia. Pemilu 2009 dan 2014 menunjukkan jumlah keterwakilan perempuan di parlemen yang masih rendah. Keberhasilan dari pelaksanaan Konvensi CEDAW yang dilihat dari jumlah partisipasi politik perempuan Indonesia diukur menggunakan sebuah indikator internasional yang dinamakan GEM (Gender Empowerment Measure). Hasil dari tulisan ini membuktikan implementasi Konvensi CEDAW di bidang partisipasi politik dinilai belum efektif karena jumlah perempuan di parlemen belum seimbang dengan jumlah penduduk perempuan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Laporan Pemantauan HAM Komnas Perempuan. Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi Berlapis

Laporan Pemantauan HAM Komnas Perempuan. Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi Berlapis

Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada 20 Maret 2006, keluar SKB Nomor 143 tahun 2006 tentang penutupan sementara tempat-tempat ibadah Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Kabupaten Sukabumi yang ditandatangani Bupati Sukabumi, Kepala Kejaksaaan Negeri Cibadak, Kepala Kepolisian Resor Kota Sukabumi, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Sukabumi dan Ketua MUI Kabupaten Sukabumi. SKB dikeluarkan dengan menimbang semakin besarnya tuntutan sebagian besar masyarakat untuk dilarang dan dibubarkannya segala bentuk kegiatan Komunitas Ahmadiyah serta untuk memelihara keamanan, ketentraman, ketertiban masyarakat dan kerukunan hidup beragama di Kabupaten Sukabumi dan memperhatikan antara lain: (1) Fatwa MUI Nomor: 11/MUNAS VII/MUI/15/2005; (2) Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984 perihal Aliran Ahmadiyah dan (3) Surat Dirjen Sospol Nomor 05/IS/IX/1994 tanggal 16 September 1994 tentang pelarangan Ahmadiyah Indonesia secara nasional. SKB ini antara lain memutuskan:
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya monumental. Pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk bernama Ahmad Tohari, seorang penulis dari Banyumas. Merupakan sastrawan Indonesia yang jeli dalam mengamati fenomena-fenomena sosial budaya. Kehidupan masyarakat yang kompleks dan rumit ia tuangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa sederhana yang terkadang masih lekat dengan jawa. Lebih dari 50 skripsi dan tesis lahir dari novel ini. Selain itu novel ini telah diterjemahkan ke dalam 4 bahasa asing, yaitu bahasa, Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris, di samping dibuat pula dalam bahasa daerah Jawa. Bahkan di jurusan Sastra Asia Timur, novel ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya monumental. Pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk bernama Ahmad Tohari, seorang penulis dari Banyumas. Merupakan sastrawan Indonesia yang jeli dalam mengamati fenomena-fenomena sosial budaya. Kehidupan masyarakat yang kompleks dan rumit ia tuangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa sederhana yang terkadang masih lekat dengan jawa. Lebih dari 50 skripsi dan tesis lahir dari novel ini. Selain itu novel ini telah diterjemahkan ke dalam 4 bahasa asing, yaitu bahasa, Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris, di samping dibuat pula dalam bahasa daerah Jawa. Bahkan di jurusan Sastra Asia Timur, novel ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Opresi Berlapis Perempuan Etnis Tionghoa:  Pemerkosaan Massal Terhadap Perempuan Etnis Tionghoa dalam  Tragedi Mei 1998 di Jakarta

Opresi Berlapis Perempuan Etnis Tionghoa: Pemerkosaan Massal Terhadap Perempuan Etnis Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998 di Jakarta

Benih rasialisme di Indonesia disemai pada masa kolonialisme Belanda. Kala itu, pemerintah kolonial membagi masyarakat di Hindia Belanda menjadi tiga kelompok, yaitu Belanda atau Eropa, Timur Asing (terdiri dari masyarakat Tionghoa, Arab, dan India), dan Pribumi. Pada awal- nya kelompok pribumi ini pun terbagi-bagi lagi menjadi Melayu, Bali, Ambon, dan Jawa. Pengelompokan ini menghasilkan segregasi spasial, di mana tiap kelompok diharuskan tinggal berada dalam komunitasnya dan terpisah dari komunitas lain (Onghokham 2008). Tak hanya men- ghasilkan konsekuensi pembatasan fisik, pengelompokan ini juga men- ghasilkan konsekuensi peran yang harus dijalani oleh masing-masing kelompok. Peran dalam perdagangan internasional dijalankan oleh orang-orang Eropa, perdagangan antarpulau dijalankan oleh orang- orang Timur Asing (khususnya orang Tionghoa), dan perdagangan kecil diberikan sebagai jatah pribumi. Pembagian peran ini dimaksudkan untuk memberi keistimewaan untuk orang-orang Eropa dan meme- cah belah kekuatan ekonomi penduduk Hindia Belanda. Secara tidak langsung, pembagian peran ini berdampak pula pada pengalaman dan kelihaian berdagang orang-orang Timur Asing (Kleden 1999).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Penerimaan Penonton Terhadap Diskriminasi Etnis Tionghoa Dalam Film “Ngenest”

Penerimaan Penonton Terhadap Diskriminasi Etnis Tionghoa Dalam Film “Ngenest”

Berdasarkan realita seperti di atas tersebut juga menunjukkan bahwa di Indonesia, adanya tindakan diskriminasi akan terus membawa dampak yang besar untuk kaum minoritas.Tidak heran apabila akhirnya permasalahan mengenai Suku, Ras, dan Agama (SARA) juga menjadi ikut terbawa ke ranah industri film untuk dijadikan acuan utama dalam menyeleksi film atau cerita film yang bisa lolos sensor dalam panduan sensor film. Hal ini juga dikarenakan begitu sensitifnya bagi Indonesia, maka dalam mengangkat sebuah fenomena ke dalam layar lebar harus melewati proses seleksi terlebih dahulu karena tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada kasus pencekalan terhadap beberapa judul yang mengandung unsur SARA (³Ngenest: Menertawakan nasib, tetap saja tak mudah´ 2016, Januari)
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN SEBAGAI KORBAN KEKERASAN DAN DISKRIMINASI Oleh :

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN SEBAGAI KORBAN KEKERASAN DAN DISKRIMINASI Oleh :

dikaitkan dengan era demokrasi Indonesia saat ini, dramatisasi perjuangan perempuan dan anak guna memperoleh keadilan dalam berbagai aspek kehidupan berlangsung sangat alot dan berliku. Isu Kekerasan seksual yang sedang marak diperbincangkan di Indonesia saat ini telah menempatkan perempuan dan anak sebagai korban dalam rentang masa yang sangat lama dan cenderung menjadikan mereka sebagai pihak yang selalu disalahkan. Negara masih tampak merangkak dalam menyelenggarakan upaya perlindungan dan belum mampu menjamin seutuhnya keamanan perempuan dan anak, begitu juga produk hukum yang ada saat ini belum bisa menjawab kegelisahan mereka.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

DISKRIMINASI TOKOH PEREMPUAN ETNIS TIONGHOA DALAM NOVEL DIMSUM TERAKHIR KARYA CLARA NG.

DISKRIMINASI TOKOH PEREMPUAN ETNIS TIONGHOA DALAM NOVEL DIMSUM TERAKHIR KARYA CLARA NG.

Diskriminasi di ranah publik dapat terlihat pada saat mereka berada di luar rumah. Perlakuan yang seringkali mereka dapatkan yaitu berupa sindiran, ejekan, atau hinaan yang menyudutkan dan membuat mereka gusar karena diperlakukan demikian. Siska dan Rosi harus menerima hukuman karena memukul temannya pada saat upacara bendera. Hal itu sebenarnya mereka lakukan sebagai upaya pembelaan diri saat adik mereka, Novera, diejek dengan kata-kata “amoy” dan “bukan orang Indonesia”. Selain itu, terdapat pula ejekan tetangga tentang keturunan Tionghoa yang tak dipanggil dengan nama Cina mereka, ia beranggapan bahwa keturunan Tionghoa harus dipanggil dengan nama Cina mereka. Terdapat pula perbedaan perlakuan terhadap etnis Tionghoa yang harus selalu merayakan imlek tanpa libur, dan sikap penolakan seorang pastor untuk tanggung jawabnya terhadap bayi yang dikandung Indah dengan dalih ras yang berbeda.
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

PEREMPUAN DAN DISKRIMINASI (Studi Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan)

PEREMPUAN DAN DISKRIMINASI (Studi Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan)

Ketentuan Pasal 28 huruf H Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan “Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”.Pentingnya menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan melalui perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan juga telah diakui secara internasional. Bahkan hal itu diwujudkan dalam konvensi tersendiri, yaitu Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW). Penghapusan diskriminasi melalui pemajuan perempuan menuju kesetaraan jender bahkan dirumuskan sebagai kebutuhan dasar pemajuan hak asasi manusia dalam Millenium Development Goals (MDGs). Hal itu diwujudkan dalam delapan area upaya pencapaian MDGs yang diantaranya adalah; mempromosikan kesetaraan jender dan meningkatkan keberdayaan perempuan, dan meningkatkan kesehatan ibu. Rumusan tersebut didasari oleh kenyataan bahwa perempuan mewakili setengah dari jumlah penduduk dunia serta sekitar 70% penduduk miskin dunia adalah perempuan. 10
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

2. DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA

2. DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA

yang sebenarnya hanya melarang berdagang eceran tetapi dalam pelaksanaannya juga melarang bertempat tinggal. Etnis Tionghoa dianggap semuanya berstatus dwikewarganegaraan atau asing, sehingga oleh pihak militer mereka dipaksa meninggalkan tempat kediamannya. Bukan hanya para pedagang tetapi yang tidak berdagang pun diusir. Tindakan yang paling buruk dilakukan pihak militer di Jawa Barat di bawah pimpinan Kolonel Kosasih. Berbagai insiden menyedihkan terjadi, seperti di Cimahi pada Juli 1960, seorang perempuan Tionghoa mati tertembak, karena ia bersama keluarganya mencoba bertahan dan tidak mau meninggalkan tempat kediamannya. Insiden ini menyebabkan Presiden Soekarno mengeluarkan instruksi kepada para penguasa militer agar tidak lagi memaksa orang Tionghoa meninggalkan tempat tinggalnya. Mereka yang terusir menimbulkan masalah tempat penampungan di kota-kota besar, karena pada umumnya mereka tidak mempunyai famili yang akan menampungnya.(Setiono, 2002, hal.792-793) - Pelaksanaan PP-10 juga menimbulkan dampak yang sangat negatif bagi
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Semiotika Tentang Diskriminasi Pada Etnis Tionghoa Dalam Film “Ngenest” Karya Ernest Prakarsa

Analisis Semiotika Tentang Diskriminasi Pada Etnis Tionghoa Dalam Film “Ngenest” Karya Ernest Prakarsa

Selama rezim Orde Baru Seharto, berbagai kebijakan dan tindakan diberlakukan kepada suatu kelompok warga Indonesia, yaitu kelompok etnis Tionghoa, yang maksudnya dan manifestasinya sangat diskriminatif. Jika membicarakan mengenai diskriminasi terhadap orang etnis Tionghoa, yang oleh mereka dirasakan sebagai ketidakadilan yang sangat mendalam, kita harus konstatir bahwa diskriminasi terhadap golongan etnis Tionghoa telah terjadi sejak zaman kolonial. Seperti diuraikan secara tajam oleh Daniel Lav dalam makalah yang dipaparkan pada seminar Orang Indonesia Tionghoa: Manusia dan Kebudayaan. Di zaman kolonial orang etnis Tionghoa diisolasikan, diintimidasi sehingga diliputi rasa ketakutan., dan dengan demikian mudah diatur untuk mealakukan hal-hal yang memajukan kepentingan kolonial dan mudah pula dijadikan kambing hitam. Perlakuan demikian pada dasarnya diteruskan pada zaman merdeka.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

KH. ABDURRAHMAN WAHID, NEGARA DAN KEBIJAKAN NON-DISKRIMINASI; STUDI TERHADAP KEBIJAKAN ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA - IAIN Syekh Nurjati Cirebon

KH. ABDURRAHMAN WAHID, NEGARA DAN KEBIJAKAN NON-DISKRIMINASI; STUDI TERHADAP KEBIJAKAN ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA - IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Awalnya pada masa Orde Baru, agama Konghucu dirangkul oleh Soeharto. Pemerintahan soeharto menganggap agama sebagai suatu kekuatan untuk mencegah munculnya kembali PKI dan gerakan sayap kiri lainnya. Namun pengakuan agama-agama minoritas bertolak belakang dengan kebijakan umum Soeharto terhadap Warga Indonesia keturunan Tionghoa 3 yaitu kebijakan asimilasi yang sifatnya diskriminatif, 4 yaitu dengan dibentuknya Inpres No. 14/1966 yang berisi tentang larangan melaksanakan adat-istiadat, agama, serta kebudayaannya. Ini berarti pemerintah membatasi ruang gerak etnis Tionghoa untuk menjaga dan melestarikan kebudayaannya.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PERLAKUAN DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS RO

PERLAKUAN DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS RO

Treaty based mechanism merupakan mekanisme yang berbasis pada perjanjian internasional dimana negara peserta suatu perjanjian internasional dapat dikenakan sanksi oleh komite dalam perjanjian internasional tersebut. Sayangnya, sejumlah perjanjian pokok HAM internasional terkait diskriminasi rasial seperti ICCPR, ICESCR, dan ICERD tidak diratifikasi oleh Myanmar, sehingga mekanisme ini tidak dapat diterapkan kepada negara yang berlokasi di Asia Tenggara ini. Berdasarkan mekanisme ini, Myanmar sebagai negara pihak dalam CEDAW dan CRC dapat dikenakan sanksi dari kedua komite tersebut, namun hanya terbatas dalam isu perempuan dan anak-anak saja, jadi tidak mencakup etnik Rohingya secara keseluruhan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERLAKUAN DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS ROHINGYA OLEH MYANMAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL

PERLAKUAN DISKRIMINASI TERHADAP ETNIS ROHINGYA OLEH MYANMAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL

Treaty based mechanism merupakan mekanisme yang berbasis pada perjanjian internasional dimana negara peserta suatu perjanjian internasional dapat dikenakan sanksi oleh komite dalam perjanjian internasional tersebut. Sayangnya, sejumlah perjanjian pokok HAM internasional terkait diskriminasi rasial seperti ICCPR, ICESCR, dan ICERD tidak diratifikasi oleh Myanmar, sehingga mekanisme ini tidak dapat diterapkan kepada negara yang berlokasi di Asia Tenggara ini. Berdasarkan mekanisme ini, Myanmar sebagai negara pihak dalam CEDAW dan CRC dapat dikenakan sanksi dari kedua komite tersebut, namun hanya terbatas dalam isu perempuan dan anak-anak saja, jadi tidak mencakup etnik Rohingya secara keseluruhan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perlindungan Warga Negara Dari Diskriminasi Ras Dan Etnis

Perlindungan Warga Negara Dari Diskriminasi Ras Dan Etnis

human beings are born free and equal in dignity and rights. Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, without distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status. Indonesia gives guarantee for human rights protection by Law No.39 Year 1999 regarding Human Rights. For implementing this Law, Indonesia legislates Law No.40 Year 2008 regarding Elimination of Racial and Ethnic Discrimination.

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects