Top PDF Pergeseran Kekuasaan Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945

Pergeseran Kekuasaan Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945

Pergeseran Kekuasaan Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945

Pemisahan kekuasaan, karena itu dapat dipahami sebagai doktrin konstitusional atau doktrin pemerintahan yang terbatas yang membagi kekuasaan pemerintahan ke dalam cabang kekuasaun legislatif, eksekutif dan yudisial. Tugas kekuasaan legislatif adalah membuat hukum, kekuasaan eksekutif bertugas menjalankan hukum dan kekuasaan yudisial bertugas menafsirkan hukurn. Terkait erat dan tidak dapat dipisahkan dengan pengertian ini adalah checks and balances, yang mengatakan bahwa masing-masing cabang pemerintahan membagi tindakan-tindakannya. Ini berarti, kekuasaan dan fungsi dari masing-masing cabang adalah terpisah dan dijalankan oleh orang yang berbeda, tidak ada agen tunggal yang dapat menjalankan otoritas yang penuh karena masing- masing bergantung satu sama lain. Kekuasaan yang terbagi semacam inilah yang mencegah absolutisme (sebagaimana dalam kekuasaan monarki atau diktator ketika semua cabang terpusat pada otoritas tunggal), atau mencegah korupsi kekuasaan yang timbul karena kemungkinan kekuasaan tanpa pengawasan. Bagaimana memahami rationale dan doktrin pemisahan kekuasaan yang pada esensinya merupakan doktrin konstitusionalisme atau doktrin pemerintahan yang terbatas (limited government) ini? Kontrol atau dorongan publik hampir tidak mungkin jika kekuasaan negara berada pada satu atau sejumlah kecil orang. Kontrol dan pengaruh yang efektif atas kekuasaan negara hanya mungkin terjadi melalui kekuasaan negara sendiri. Jadi, masyarakat yang bebas harus membagi kekuasan diantara otoritas yang berbeda dan berdiri sendiri. Kebebasan individu akan terjaga jika warga negara dapat saling mengawasi satu sama lain, dan jika konsentrasi atau
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KEWENANGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA DALAM MEMUTUS DAN MENAFSIRKAN UUD SETELAH AMANDEMEN KEEMPAT UNDANG-UNDANG DASAR 1945

KEWENANGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA DALAM MEMUTUS DAN MENAFSIRKAN UUD SETELAH AMANDEMEN KEEMPAT UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Perwakilan Daerah (DPD) 7 . Cabang kekuasaan kehakiman, terdapat empat perubahan penting. Pertama, apabila sebelum perubahan UUD 1945 jaminan kekuasaan kehakiman yang merdeka hanya terdapat dalam penjelasannya maka setelah perubahan UUD 1945 jaminan tersebut secara eksplisit disebut dalam batang tubuh. Kedua, Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman tidak lagi menjadi satu-satunya pelaku kekuasaan kehakiman atau (judicial power) karena disampingnya ada Mahkamah Konstitusi yang juga berfungsi sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Ketiga, adanya lembaga baru yang bersifat mandiri dalam struktur kekuasaan kehakiman yaitu Komisi Yudisial yang berwewenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta prilaku hakim. Keempat adanya wewenang kekuasaan dalam hal ini dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi untuk melakukan pengujian undang- undang terhadap UUD, memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan UUD, memutuskan pembubaran partai politik dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 8
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

LEMBAGA NEGARA PASCA PERUBAHAN UUD 1945

LEMBAGA NEGARA PASCA PERUBAHAN UUD 1945

Berdasarkan ketentuan tersebut, Mahkamah Konstitusi adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman selain Mahkamah Konstitusi. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi adalah suatu lembaga peradilan, sebagai cabang kekuasaan yudikatif, yang mengadili perkara-perkara tertentu yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan UUD 1945. Sesuai ketentuan Pasal 24C Ayat (1) UUD 1945, Mahkamah Konstitusi mempunyai wewenang (a) Menguji undang-undang terhadap UUD; (b) Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar; (c) Memutus pembubaran partai politik; (d) Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum; dan (e) Memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wapres telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya,
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Kata kunci: pemisahan kekuasaan, amandemen, UUD 1945

Kata kunci: pemisahan kekuasaan, amandemen, UUD 1945

Beralih kepada komposisi ketatanegaraan saat ini, meskipun banyak yang mengaplikasikan konsep Trias Politica kedalam sistem kenegaraannya tetapi dalam perjalanannya terdapat model-model dan varian-varian yang baru dalam tataran praktek. Fenomena ini terjadi berkaitan dengan faktor-faktor kekinian yang mendasarinya, dan hal ini pun dialami oleh bangsa Indonesia. Kendatipun Amerika yang dikenal sebagai negara paling demokratis dan yang benar-benar menjalankan teori Montequie, tetapi saat ini mulai terjadi pergeseran fungsi dan kekuasaan yang meskipun sifatnya hanya pada tataran praktis, namun hal tersebut membuktikan bahwa model-model sistem ketatanegaraan saat ini sudah mulai muncul. Model ini bisa kita dapatkan antara lain dalam konstitusi Amerika yang memberikan hak Veto kepada Presiden untuk tidak mengundangkan RUU yang sudah disetujui oleh Senat dan DPR (House of representative), namun hak veto ini tentu saja dibatasi oleh konstitusi agar tidak menjadi sewenang-wenang, dan ketentuan inilah yang kemudian dikenal sebagai Check and Balance, yang dimaksudkan untuk mengontrol dan mengendalikan kewenangan antar lembaga. Halnya hak veto tersebut jika Presiden tidak mencapai kata sepakat dengan Senat maupun DPR, maka RUU tersebut dapat dibahas kembali untuk dikaji ulang terhadap hal- hal yang dianggap janggal dari pihak eksekutif, namun kendatipun telah diadakan sidang lanjutan dan Presiden tetap tidak menyetujui, maka konstitusi mengatur bahwa Senat dan DPR dapat mencabut veto tersebut dengan suara dua pertiga dari
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kewenangan Lembaga-lembaga Negara dalam Memutus dan Menafsirkan UUD Setelah Amandemen Keempat Undang-undang Dasar 1945

Kewenangan Lembaga-lembaga Negara dalam Memutus dan Menafsirkan UUD Setelah Amandemen Keempat Undang-undang Dasar 1945

Perwakilan Daerah (DPD) 7 . Cabang kekuasaan kehakiman, terdapat empat perubahan penting. Pertama, apabila sebelum perubahan UUD 1945 jaminan kekuasaan kehakiman yang merdeka hanya terdapat dalam penjelasannya maka setelah perubahan UUD 1945 jaminan tersebut secara eksplisit disebut dalam batang tubuh. Kedua, Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman tidak lagi menjadi satu-satunya pelaku kekuasaan kehakiman atau (judicial power) karena disampingnya ada Mahkamah Konstitusi yang juga berfungsi sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Ketiga, adanya lembaga baru yang bersifat mandiri dalam struktur kekuasaan kehakiman yaitu Komisi Yudisial yang berwewenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta prilaku hakim. Keempat adanya wewenang kekuasaan dalam hal ini dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi untuk melakukan pengujian undang- undang terhadap UUD, memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan UUD, memutuskan pembubaran partai politik dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 8
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA NEGARA  PASCA PERUBAHAN UUD 1945

HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA NEGARA PASCA PERUBAHAN UUD 1945

UUD 1945 adalah konstitusi negara Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan seluruh rakyat Indonesia. Keberlakuan UUD 1945 berlandaskan pada legitimasi kedaulatan rakyat sehingga UUD 1945 merupakan hukum tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, hasil-hasil perubahan UUD 1945 berimplikasi terhadap seluruh lapangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi perubahan tersebut meliputi hampir keseluruhan materi UUD 1945. Jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, maka setelah empat kali mengalami perubahan materi muatan UUD 1945 mencakup 199 butir ketentuan.[1]UUD 1945 memuat baik cita-cita, dasar-dasar, serta prinsip-prinsip penyelenggaraan negara. Cita-cita pembentukan negara kita kenal dengan istilah tujuan nasional yang tertuang dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945, yaitu (a) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (b) memajukan kesejahteraan umum; (c) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (d) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, UUD 1945 telah memberikan kerangka susunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Norma-norma dalam UUD 1945 tidak hanya mengatur kehidupan politik tetapi juga kehidupan ekonomi dan sosial. Hal itu karena para pendiri bangsa menghendaki bahwa rakyat Indonesia berdaulat secara penuh, bukan hanya kedaulatan politik. Maka UUD 1945 merupakan konstitusi politik, konstitusi ekonomi, konstitusi budaya, dan konstitusi sosial yang harus menjadi acuan dan landasan secara politik, ekonomi, dan sosial, baik oleh negara (state), masyarakat (civil society), ataupun pasar (market). Keseluruhan kesepakatan yang menjadi materi konstitusi pada intinya me-nyang-kut prinsip pengaturan dan pembatasan kekuasaan negara guna mewujudkan tujuan nasional. Karena itu, menurut William G. Andrews, ?Under consti-tutionalism, two types of limitations impinge on govern-ment. Power proscribe and procedures prescribed?[2]. Konstitu-sio-nalisme mengatur dua hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama , hubungan antara pemerintahan dengan warga negara; dan Kedua , hubungan antara lem-baga pemerintahan yang satu dengan lembaga pemerintahan yang lain. Karena itu, biasanya, isi konstitusi dimak-sudkan untuk mengatur mengenai tiga hal penting, yaitu: (a) me-nen--tukan pembatasan kekuasaan organ-organ negara, (b) meng-atur hubungan antara lembaga-lembaga negara yang satu dengan yang lain, dan (c) mengatur hubungan kekuasaan antara lembaga-lembaga negara dengan warga
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

Dengan demikian, antara Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi merupakan dua lembaga negara yang sejajar dan keduanya adalah pelaku kekuaasaan kehakiman di Indonesia namun berbeda dari segi yuridiksi dan kompetensinya. Sampai saat ini, MK telah melaksanakan dari empat wewenang yang ada pada dirinya, yaitu menguji Undang-undang terhadap UUD (yudicial review), memutus perselisihan hasil pemilu, dan memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang diatur oleh UUD. Sedangkan satu wewenang MK belum dilaksanakan karena memang sampai saat ini belum ada permohonan mengenai hal itu yang masuk ke MK, yaitu memutus pembubaran partai politik. Seiring dengan itu sampai saat ini kewajiban MK juga belum dilaksanakan karena sampai saat ini belum ada permohonan dari DPR yang berisi pendapat lembaga legislatif terkait dengan impeachment presiden dan/atau wakil presiden 16 .
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN UU BIDANG POLITIK PASCA AMANDEMEN UUD 1945

PERKEMBANGAN UU BIDANG POLITIK PASCA AMANDEMEN UUD 1945

Partai lokal dikhawatirkan akan membuat jumlah partai akan lebih besar lagi. Akan tetapi sebenarnya tidak menjadi masalah karena partai lokal hanya ada di daerah-daerah tertentu (bisa hanya pada satu propinsi atau bahkan satu kabupaten atau kota tertentu). Partai lokal ini mungkin hanya berambisi untuk menduduki lembaga-lembaga legislatif pada tingkat lokal pula karena memang belum mampu untuk mencapai kursi di DPR. Partai lokal ini diperkirakan akan mampu menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan daerah lebih baik. Tentu saja tidak perlu ada kekhawatiran bahwa partai lokal akan memperbesar bahaya separatisme. Justru dengan banyak saluran bagi rakyat di daerah untuk menyampaikan aspirasi mereka, kecenderungan untuk munculnya gerakan separatis dapat diredam. Sebagai contoh. dengan adanya partai lokal. GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dapat menjadi gerakan parlementer yang bertujuan memajukan rakyat Aceh Nanggroe Darussalam dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN, TUGAS DAN WEWENANG MPR DALAM SISTEM KELEMBAGAAN NEGARA INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

KEDUDUKAN, TUGAS DAN WEWENANG MPR DALAM SISTEM KELEMBAGAAN NEGARA INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

Merumuskan rancangan konstitusi tentu merupakan pekerjaan asing bagi mereka. Sulit mencari untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali diantara mereka yang berpengalaman dalam merancang suatu sistem kekuasaan negara, susunan badan-badan negara, dasar ideologi negara, hak asasi manusia sebagaimana umumnya sebuah konstitusi. Dengan demikian, mudah diduga para anggota BPUPKI akan terinspirasi, terpengaruh atau bahkan mengadopsi langsung gagasan atau praktek bernegara yang pernah atau sedang berlaku dari bangsa lain yang dirumuskan dalam konstitusinya 65 . Dan tujuan legal dari konstitusi bukan hanya suatu pemerintahan perwakilan yang terbatas. Tetapi juga yang bersifat umum dengan pelaksanaan pengadilan kebebasan individu, seperti apa yang kita sebut pemerintahan berdasarkan hukum (hal ini diungkapkan oleh Montesquieu) 66 . Dan para founding fathers kemudian membuat beberapa lembaga negara yang fungsinya mengawasi lembaga negara yang lain.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

LEMBAGA LEMBAGA NEGARA MENURUT UUD 1945

LEMBAGA LEMBAGA NEGARA MENURUT UUD 1945

Dalam UUD 1945 MPR merupakan salah satu lembaga Negara (sebelum Amandemen dikenal dengan istilah lembaga tertinggi Negara). Anggota MPR yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD menunjukan bahwa MPR masih dipandang sebagai lembaga perwakilan rakyat karena keanggotaannya dipilih dalam pemilihan umum. Unsur anggota DPR untuk mencerminkan prinsip demokrasi politik sedangkan unsur anggota DPD untuk mencerminkan prinsip keterwakilan daerah agar kepentingan daerah tidak terabaikan. Dengan adanya perubahan kedudukan MPR, maka pemahaman wujud kedaulatan rakyat tercermin dalam tiga cabang kekuasaan yaitu lembaga perwakilan, Presiden, dan pemegang kekuasaan kehakiman.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Lembaga lembaga Negara Menurut UUD 1945

Lembaga lembaga Negara Menurut UUD 1945

Menurut sistem pemerintahan negara berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen 2002, presiden dipilih oleh rakyat secara langsung. Dengan demikian, presiden memiliki legitimasi (pengesahan) yang lebih kuat karena didukung secara langsung oleh rakyat. Terjadi pula pergeseran kekuasaan pemerintahan negara yakni kekuasaan presiden ini tidak lagi di bawah MPR melainkan setingkat dengan MPR. Namun, presiden bukan berarti diktator, sebab jika presiden melanggar undang-undang, dalam melaksanakan tugasnya, maka MPR dapat memberhentikan presiden dalam masa jabatannya.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945 - Repository IPDN

LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945 - Repository IPDN

Kekuasaan kehakiman yang mandiri diangkat dari penjelasan menjadi materi Batang Tubuh UUD 1945. Hal ini lebih menguatkan konsep negara hukum Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, untuk memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka, sesuai dengan tuntutan reformasi di bidang hukum telah dilakukan perubahan terhadap UU No.14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman dengan UU No. 35 Tahun 1999 tentang perubahan atas UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan telah dicabut dengan UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Melalui perubahan tersebut telah diletakan kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan baik yang menyangkut teknis yudisial maupun urusan organisasi, administrasi, dan finansial berada di bawah satu atap di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Hal ini dianggap penting dalam rangka perwujudan kekuasaan kehakiman yang menjamin tegaknya negara hukum yang di dukung oleh sistem kekuasaan kehakiman yang independen dan impartial.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

Hubungan yang bersifat Fungsional • Hubungan antara DPR/DPD dengan Presiden dalam membuat UU dan APBN, juga untuk menyampaikan usul, pendapat, serta imunitas • Hubungan antara DPR de[r]

35 Baca lebih lajut

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945

kebebasan dan kemandirian BPK, suatu hal yang mutlak ada untuk sebuah lembaga negara yang melaksanakan tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Hasil kerja BPK diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD serta ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan atau badan sesuai dengan UU. Untuk memperkuat jangkauan wilayah pemeriksaan, BPK memiliki

33 Baca lebih lajut

Implikasi Amandemen UUD 1945 Terhadap Pergeseran Kekuasaan Kehakiman

Implikasi Amandemen UUD 1945 Terhadap Pergeseran Kekuasaan Kehakiman

kedudukan hukum dan pemegang kekuasaan kehakiman menjadi lebih kuat. Perubahan lainnya yang sangat fantastik adalah semakin diperkuatnya reformasi yudisial dengan memasukkan secara eksplisit prinsip independensi Kehakiman kedalam Ketentuan UUD 1945 khususnya pada perubahan ketiga, yang sebelumnya hanya tercantum dalam Penjelasan UUD 1945 sebelum perubahan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 24 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Kekuasaan Kehakiman merupakan Kekuasaan yang Merdeka Untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan Keadilan” 37 . Lembaga Mahkamah Agung merupakan lembaga tertinggi yang membawahi empat lengkungan peradilan lainnya, yakni peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara, dan Peradilan Militer. Meskipun secara administratif dan latar belakang sejarahnya, peradilan umum berada dibawah Departemen Kehakiman, Peradilan Agama berada dibawah Departemen Agama, Peradilan Militer berada dibawah pengendalian Organisasi Militer. Hal itu mencerminkan bahwa Mahkamah Agung adalah puncak perjuangan Keadilan bagi setiap warga negara 38 . Pada Pasal 24A ayat (1,, 3 dan 4) hasil perubahan secara tegas merinci kewenangan, mekanisme pengangkatan Hakim Agung dan struktur Kepemimpinan dalam lembaga Mahkamah Agung, yang sebelumnya tidak disebut secara tegas 39 . menurut Jimly Asshiddiqie, disamping itu dapat pula diatur mengenai kewenangan Mahkamah Agung untuk memberikan pendapat hukum atas permintaan Presiden ataupun lembaga tinggi Negara lainnya. Hal ini dianggap perlu, agar Mahkamah Agung benar – benar dapat berfungsi sebagai rumah keadilan bagi siapa saja dan lembaga mana saja yang memerlukan pendapat hukum mengenai suatu masalah yang dihadapi 40 . Pasca Perubahan Konstitusi, potensi
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN  1945

LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN 1945

UUD 19452. Undang-Undang Dasar 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden). Sistem yang dianut UUD 1945 adalah executive heavy yakni kekuasaan dominan berada di tangan Presiden dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazim disebut hak prerogatif (antara lain: memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasan membentuk Undang-undang.3. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu ?luwes? dan ?fleksibel? sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran (multitafsir), misalnya Pasal 7 UUD 1945 (sebelum di amandemen).4. UUD 1945 terlalu banyak memberi kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan Undang-undang. Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai kehendaknya dalam Undang-undang.5. Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggaraan negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia dan otonomi daerah. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya praktek penyelengaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, antara lain sebagai berikut: a) Tidak adanya check and balances antar lembaga negara dan kekuasaan terpusat pada presiden; b) Infra struktur yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi masyarakat; c) Pemilihan Umum (Pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi formal karena seluruh proses tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh pemerintah; d) Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 tidak tercapai, justru yang berkembang adalah sistem monopoli dan oligopoly.UUD 1945 merupakan landasan dasar Nasional dan landasan dasar Internasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dapat mempertahankan kemerdekaan dan persatuan Indonesia sampai saat ini. Dalam sistem ketatanegaraan RI , DPR
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Sistem Pemerintahan Indonesia Pra Dan Pasca Amandemen Uud 1945.

Sistem Pemerintahan Indonesia Pra Dan Pasca Amandemen Uud 1945.

Menurut Padmo Wahyono yang dikutip oleh Bintan R. Saragih 22 , ketujuh unsur di atas (dalam sistem pemerintahan menurut UUD 1945) membentuk satu sistem pemerintahan negara atau bentuk pemerintah (Ilmu Negara). Sistem pemerintahan negara yang lazim dikenal di dalam Hukum Tata Negara ialah sistem presiden (siil) dan sistem- parlemen (ter). Namun dengan adanya perbedaan prinsipil dengan kedua klise ilmiah tersebut, maka menurut Padmo Wahyono berdasarkan teori bernegara bangsa Indonesia dapat dikatakan bahwa sistem pemerintahan negara Indonesia ialah sistem-MPR. Sistem- MPR, berporoskan MPR sebagai negara tertinggi, di mana apabila dikaji dengan analisis- analisis klasik maka:
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Reformulasi Kewenangan Mpr Pasca Amandemen UUD Nri 1945

Reformulasi Kewenangan Mpr Pasca Amandemen UUD Nri 1945

VHEHOXPQ\D +DVLO GDUL UHYLHZ WHUVHEXW MHODV EDKZD GDUL .HWHWDSDQ 0356 GDQ 035 KDQ\D \DQJ EHUODNX GDQ WLGDN EHUODNX ODJL $GD NHWHWDSDQ \DQJ GLQ\DWDNDQ WHWDS EHUODNX GHQJDQ NHWHQWXDQ GDQ N[r]

8 Baca lebih lajut

UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN DAN SETELAH A

UUD 1945 SEBELUM AMANDEMEN DAN SETELAH A

3. Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.***)

21 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...