Top PDF PERGESERAN WARNA LOKAL MINANGKABAU DALAM NOVEL-NOVEL INDONESIA : Sebelum dan Sesudah Perang.

MILITER DALAM NOVEL NOVEL INDONESIA

MILITER DALAM NOVEL NOVEL INDONESIA

Pada zaman pendudukan Jepang ini peranan Balai Pustaka masih besar. Namun, sensor redaktur sudah tidak bersifat kolonial lagi, terbukti dari terbitnya novel-novel yang “melawan Belanda” (Sumardjo, 1999:119). Jepang ingin merebut simpati Indonesia dengan menempatkan diri sebagai pahlawan yang membantu mengusir Belanda. Pemerintah Jepang mendirikan satu lembaga yang disebut Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidoso untuk menghimpun tenaga sastrawan dan seniman, agar mereka dapat dimanfaatkan bagi kepentingan perang Asia Timur Raya. Lembaga ini melaksanakan sensor keras terhadap penerbitan, menghasilkan karya sastra yang sejalan dengan “pesanan” pemerintah, sehingga dalam berbagai karya sastrawan yang dihasilkan, unsur propaganda tidak dapat dielakkan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

warna lokal jawa dalam novel indonesia periode 1980 1995

warna lokal jawa dalam novel indonesia periode 1980 1995

Perkembangan karya sastra masih menyediakan tempat bagi karya yang mengungkapkan warna lokal di dalam- nya. Misalnya, kumpulan cerpen Raudal Tanjung Banua yang berjudul “Parang Tak Berulu” yang menawarkan rep - resentasi dunia perempuan di tengah masyarakat Minangkabau, atau “Ru - mah Kawin”karya Nur Zen Hae yang berlatar kultur masyarakat Betawi, juga karya-karya Taufik Ikram Jamil yang mengungkapkan persoalan masyarakat Melayu-Riau (Murniah, 2006). Para sas- trawan perlu menggali potensi lokal, baik bahasa, mitos, maupun sejarah lokal se- bagai sumber penciptaan karya sastra di tengah-tengah arus globalisasi sekarang ini. Ada beberapa pengarang yang di dalam cerita-ceritanya tanpa memberi ke- terangan maksud kata-katanya memakai kata-kata Jawa, baik sebagai alat pemberi warna lokal maupun karena tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia (Sastrowardoyo, 2000:839).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

Di Indonesia banyak muncul karya sastra dari berbagai daerah yang menunjukkan kekhasan warna lokal. Karya sastra seperti ini pada umumnya ditulis oleh pengarang yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Korie Layun Rampan dalam Upacara (1978) menunjukkan kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak. Warna lokal Minangkabau dapat disebut antara lain adalah, novel Tidak Menyerah (1962) karya Motinggo Busje, Hati Nurani Manusia (1965) karya Idrus, cerita drama karya Wisran Hadi yang berjudul Puti Bungsu (1978), Dan Perang pun Usai (1979) karya Ismail Marahimin, dan Warisan (1981) karya Chairul Harun yang menunjukkan kehidupan sosial budaya masyarakat Minangkabau (Kusmarwanti, 2001:1).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Warna Lokal dalam Novel Isinga Karya Dorothea Rosa Herliany dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA

Warna Lokal dalam Novel Isinga Karya Dorothea Rosa Herliany dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA

The purpose of this study is to describe local color in Isinga, a novel by Dorothea Rosa Herliany which is expected to be used as a literary learning material. Qualitative descriptive method is used in this research. Results of local color includes the physical environment and socio-cultural elements. The physical environment of Flora and Fauna typical of Papua is pig, cenderawasih birds, kangoroo, red pandan fruits, soang trees, orchid and aloe. The social element of social class includes: seaside communities and tribal communities; social dynamics includes: social deviations (theft and murder), social mobility (Meage becomes leader of Farandus), social group includes: Aitubu community and Hobone Community, and People of Yebikon; social institutions: police and soldiers. Cultural elements of language includes: word in Papua language (fili, hunuke, ka, kamehe, kitorang, etc) and sentence in Papua language (Akahi paekehi yae ewelende, wali onomi honomi eungekende, hamang nenaeisele emei roibuyae helemende, etc), knowledge sytem includes: about the way of life under Megafu Highlands; social organization: leadership in a village, cooperation; life equipment system and technology: production tool (kamehe, wood and stone, fili), weapon (bow and arrow), container (pumpkin bag), food (betatas, hunted animals from jungle), clothes (noken, loincloth, colorful beads, necklace, pig tooth, ear accessories, sheath, armor), haven: (humia, yowi), transportation vehicles (boat); religious system: belief system (belief in ancestral spirit), system of religious ceremonies (thanksgiving ceremonies, wit ceremonies or initiation, muruwal ceremonies, first menstruation ceremonies, piece ceremonies, marriage ceremonies), people who embrace religion (christianity that was brought by Pastor Ruben); art: instrumental sound art (tifa), dance (hunuke); livelihood system (farm, fishing, hunt, trade).
Baca lebih lanjut

200 Baca lebih lajut

MODERNISASI DALAM NOVEL BELENGGU KARYA A

MODERNISASI DALAM NOVEL BELENGGU KARYA A

Menurut Lombard, berbagai paham Barat yang mulai berkenalan dengan berbagai generasi terutama kaum intelektual Indonesia yang sebenarnya menunjukkan gejala runtuhnya “asas keselarasan yang dahulu mempersatukan manusia dan lingkungannya” seperti tergambar dalam pandangan-dunia Timur pada umumnya.

11 Baca lebih lajut

PANDANGAN DUNIA ORANG SUNDA DALAM TIGA N

PANDANGAN DUNIA ORANG SUNDA DALAM TIGA N

Abstrak: Penelitian ini membahas pandangan dunia orang Sunda yang terdapat dalam tiga novel Indonesia tentang Perang Bubat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan struktural. Melalui analisis terhadap alur dan pengaluran, penokohan, latar, serta sudut pandang, penulis menggali pandangan dunia orang Sunda yang hadir dalam ketiga novel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ketiga novel tersebut, para tokohnya memperlihatkan pola tindak, pola tutur, dan pola pikir yang mengarah pada pandangan dunianya tentang kepemimpinan dan harga diri; perempuan dan arti cinta, kepasrahan, serta kebahagiaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh para tokoh setelah melalui berbagai peristiwa yang kemudian mengubah jalan hidup mereka karena terjadi konflik dalam Perang Bubat. Kata kunci: pandangan dunia, novel, orang Sunda, Perang Bubat
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Di Kaki Bukit Cibalak – Ahmad Tohari

Di Kaki Bukit Cibalak – Ahmad Tohari

Tidak akan terlambat bila kau hendak menempuh jalan hidup baru, apalagi bila kau yakin bahwa dengan cara itu mungkin keadaanmu akan jadi lebih baik.” “Tegasnya, Ayah ingin agar aku bera[r]

71 Baca lebih lajut

Pramoedya Ananta Toer – Mangir__-KPG_(Kepustakaan_Populer_Gramedia)(2000)

Pramoedya Ananta Toer – Mangir__-KPG_(Kepustakaan_Populer_Gramedia)(2000)

Sebab lain mengapa sampai begitu lama peristiwa permusuhan ini tidak dituliskan tentunya karena Mataram terlalu sibuk dengan peperangan-peperangan untuk merebut kekuasaan tllnggal. Dan sebab lain pula yang boleh jadi dipergunakan sebagai alas an ialah karen a Mataram nampaknya malu menderita kekalahan perang melawan balatentara Mangir, balatentara orang desa. Di samping itu untuk memenangkannya Mataram tanpa reserve telah melaksa­ nakan pikiran-pikiran �umenggung Mandaraka alias Juru Martani, seorang Machiavellis sebelum Niccolo Machiavelli dikenal oleh dunia. Jalan-jalan kotor yang telah ditempuh tentu tidak akan menguntungkan bila ditulis, dan dengan kelicikan saja Mataram berhasil me nang perang mengalahkan Mangir, suatu kemenangan yang tidak merupakan karangan bunga.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Pramoedya Ananta Toer Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer Gadis Pantai

Gadis Pantai mulai terbiasa pada kehidupan yang diperlengkap alat-alat begitu banyak dan menggampangkan kerja. Ia mulai terbiasa dengar suara pemuda-pemuda yang bicara dalam bahasa Belanda setelah meninggalkan surau di sebelah kiri rumah utama. Suara-suara mereka yang menerobosi dinding kamarnya memberitakan pada banyak hal yang tak pernah diketahui sebelumnya. Salah seorang kerabat baru saja pulang dari negeri Belanda, tidak membawa ijasah, tapi seorang noni Belanda; sebuah kapal perang sedang berlabuh kira-kira 7 km dari pantai; tebing pantai di utara Lasem gugur; dan banjir besar terjadi: tiga buah perahu bajak telah mendarat di sebuah dusun dekat kampung halamannya, membinasakan lebih sepersepuluh penduduknya dan
Baca lebih lanjut

206 Baca lebih lajut

Sekumputan Kortkutur Keadaon dan Manuslanya

Sekumputan Kortkutur Keadaon dan Manuslanya

"Lihat Fitri, kaum nasionalis seluruhnya terusir dari daratan riongkok," Namun mengacarai cerita tentang ilhamnya "Kaum komunis menang gelanggang.Juga di Eropa Timur." "ltu aku juga tah[r]

108 Baca lebih lajut

Pramoedya Ananta Toer – Bukan_Pasar_Malam-Yayasan_Kebudayaan_Sadar(1964)

Pramoedya Ananta Toer – Bukan_Pasar_Malam-Yayasan_Kebudayaan_Sadar(1964)

• s�kit dengan tak membawa es, karnl merasa sebagal manusia berdosa jang diseret kedepan ha�im, Daam seminggu itu pula banjak orang berk�ia pada kaml : , nMengapa ajahmu tak kaubawa '[r]

53 Baca lebih lajut

LAKI-LAKI MINANGKABAU YANG TERPINGGIRKAN ANTARA REALITAS DAN IMAGINASI (NOVEL).

LAKI-LAKI MINANGKABAU YANG TERPINGGIRKAN ANTARA REALITAS DAN IMAGINASI (NOVEL).

LAKI-LAKI MINANGKABAU YANG TERPINGGIRKAN ANTARA REALITAS DAN IMAGINASI NOVEL Oleh Armini Arbain, Fitri Wahyuni No.[r]

1 Baca lebih lajut

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LINTANG KARYA NANA RINA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA (SUATU TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA)

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LINTANG KARYA NANA RINA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA (SUATU TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA)

Novel Lintang karya Nana Rina dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA dengan pertimbangan bahwa dalam novel ini memiliki tiga aspek penting dalam memilih bahan pembelajaran sastra. Tiga aspek dalam memilih bahan pembelajaran sastra tersebut, yaitu da ri sudut (bahasa), segi kematan gan jiwa (psikologi), dan sudut latar belakang kebudayaan para siswa (Moody via Rahmanto, 1988: 27). Bahasa yang digunakan dalam novel harus ada pada taraf kemampuan bahasa siswa, bahasa yang sulit dimengerti maupun penggunaan bahasa yang terlalu mudah dimengerti tidak akan menarik bagi siswa. Nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam sebuah novel yang dijadikan sebagai bahan ajar harus dapat menjadi contoh bagi siswa dalam kehidupannya. Tahap perkembangan psikologi siswa perlu diperhatikan karena berkaitan dengan minat dan keengganan siswa. Berkaitan dengan latar belakang budaya, siswa akan lebih mudah tertarik dengan latar belakang budayanya.
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

this PDF file NOVEL MEGAMENDUNG KEMBAR KARYA RETNI S.B. SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS : ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA | Liliyani | BASASTRA 1 SM

this PDF file NOVEL MEGAMENDUNG KEMBAR KARYA RETNI S.B. SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS : ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA | Liliyani | BASASTRA 1 SM

Abstract: This aims of this research are to explains and describe: (1) the structure of Megamendung Kembar (MK) novel,(2) socio-cultural background she wrote MK novel, (3) social aspect in novel,(4) novel material quality, and (5) implementation of MK novel as teaching material of Indonesian language in high school. This research is a qualitative research using qualitative descriptive method and using approach of literary sociology. Data sources used were document and informant. The results of the research are:(1) the structure was found in MK novel by Retni SB are: theme, character in story, plot, point of view, message, and language style, (2) the author’s motivation to introduc e his local culture was the background of MK novel, (3) the social culture in the novel is about social life and social procedures in the villages of Cirebon and Cirebon batik culture as a livelihood for the people in the villages especially in Kampung Trusmi and Kampung Kalitengah, (4) the result assessment of the material component of MK novelmeets the criteria of material worthiness in accordance with Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Buku Yang Digunakan Oleh Satuan Pendidikan, and (5)the novel is relevant if used as a teaching material in the class XII SMA on basic competencies (KD) 3.7Menilai isi dua buku fiksi (kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi) dan satu buku pengayaan (nonfiksi) yang dibaca, with learning materials about the message and the values of education that are in the novel. Both basic competencies (KD) can be taught by using Jigsaw method on KD 3.7 and CIRC method on KD 4.7. This novel can be used as teaching material of Indonesian language because there is learning material written in syllabus that is material about education values and message in novel.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Terjemahan Unsur Subjek Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan Terapannya dalam Pengajaran Translation

Terjemahan Unsur Subjek Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan Terapannya dalam Pengajaran Translation

Subjek The sight of him waiting there dalam kalaimat sumber data 0088 merupakan frasa nomina yang mempunyai urutan kata pewatas depan artikel the, kata inti nomina sight dan pewatas belakang of him waiting there. Frasa nomina yang diterjemahkan ke frasa verba dalam kalimat di atas mengalami pergeseran struktur karena berubah jenis frasa dan tata letak kata berubah karena perbedaan sistem antara keduanya. Di samping terjadi pergeseran struktur, kata inti yang berupa nomina sight diterjemahkan ke verba melihat (terjadi pergeseran kategori). Frasa verba dalam terjemahan bahasa Indonesia Melihatnya berdiri menunggu di sana merupakan subjek kalimat dengan predikat membuat. Oleh karena itu, terjadi pergeseran struktur frasa nomina ke frasa verba tanpa membedakan fungsinya sebagai subjek. Di samping itu, tidak mengubah isi kalimat dan terjemahan tetap akurat.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BENTUK INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL SANG PEMIMPI  KARYA ANDREA HIRATA DAN NOVEL RANAH 3 WARNA   Bentuk Intertekstual Antara Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Dan Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi.

BENTUK INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA DAN NOVEL RANAH 3 WARNA Bentuk Intertekstual Antara Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Dan Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi.

Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi merupakan contoh novel yang mempunyai persamaan dan perbedaan. Kedua novel ini diangkat dari tema yang sama, yaitu perjuangan meraih cita-cita. Kedua novel berlatarbelakang sosial masyarakat yang kurang mampu. Cerita dalam novel tersebut menjadi menarik berkat kepiawaian pengarangnya. Penggambaran alur cerita dalam kedua novel ini begitu hidup. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan sosial kedua pengarang yang sama-sama berasal dari Sumatra, Hirata berasal dari Balitong, dan Fuadi berasal dari Bayur dengan tingkat sosial yang sama-sama yaitu dari keluarga miskin.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BENTUK INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL SANG PEMIMPI  KARYA ANDREA HIRATA DAN NOVEL RANAH 3 WARNA   Bentuk Intertekstual Antara Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Dan Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi.

BENTUK INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA DAN NOVEL RANAH 3 WARNA Bentuk Intertekstual Antara Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Dan Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi.

Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan latar belakang sosial dan biografi pengarang novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna. (2) Mendeskripsikan struktur pembangun novel Sang Pemimpi dan novel Ranah 3 Warna. (3) Mendeskripsikan bentuk intertekstual yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna. (4) Mendeskripsikan implementasi novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna terhadap kondisi remaja saat ini. Metode penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa kata-kata, kalimat, dan wacana dalam jalinan peristiwa yang terdapat pada novel Sang Pemimpi dan novel Ranah 3 Warna. Sumber data dalam penelitian ini yaitu novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata penerbit Bentang tahun 2008 dan novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi penerbit PT. Gramedia tahun 2011. Teknik pengumpulan data adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan: (1) Terdapat kesamaan latar belakang sosial pada novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna, yaitu: sosial kemasyarakata, budaya, adat istiadat, moral. (2) Struktur yang terjalin dalam novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna mempunyai aspek-aspek yang saling berkaitan dan menguatkan satu dengan yang lainnya, secara padu membangun peristiwa dan makna cerita novel. (3) Bentuk intertekstual novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna, meliputi: (a) Aspek instrinsik, Kesamaan tema kedua novel, yaitu impian dan cita-cita harus tetap dibela walaupun hidup penuh keterbatasan; Alur tunggal, yaitu merantau dalam mencapai impian dan cita-cita; Intertekstualitas tokoh pada kedua novel yaitu tokoh Ikal dan Alif seorang pandai dan cerdas, dengan kepintarannya kedua tokoh memperjuangkan cita-cita dan impiannya tanpa pantang menyerah; Kedua novel memiliki latar yang sama, Sumatra – Jawa – Luar negeri, namun pada novel Ranah 3 Warna terjadi perluasan latar di luar negeri seperti Yordan dan Kanada; Persamaan sudut pandang, yaitu menggunakan kata ganti orang pertama dan orang ketiga. (b) Dalam Aspek ekstrinsik, kedua novel memiliki kesamaan dalam unsur ekstrinsik yaitu sikap, keyakinan, pandangan hidup dan psikologi. (4) Implementasi novel Sang Pemimpi dan Ranah 3 Warna terhadap kondisi remaja saat ini, meliputi: (a) Kurangnya antusias remaja terhadap cita-cita dan impian dalam hidupnya, (b) Kurangnya usaha remaja dalam mempertahankan cita-cita dan impian. (c) Remaja telah kehilangan aspek moral, seperti aspek sikap, keyakinan, pandangan hidup dan psikologi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

MELACAK JEJAK KESADARAN FEMINISME DAN MA

MELACAK JEJAK KESADARAN FEMINISME DAN MA

Kesadaran feminisme dalam novel Bumi Manusia tampak pada keberanian tokoh Sanikem (Nyai Onsosoroh) untuk melakukan perlawanan terhadap kedua orang tuanya yang telah menjualnnya kepada Tuan Malema, sehingga dirinya yang masih belia harus menjadi seorang nyai. Sanikem telah dijual oleh ayahnya sendiri kepada Tuan Besar Kuasa, atasnya di Pabrik Gula Tulangan Sidoarjo yang bernama Herman Mellema. Sang ayah menyerahkan anak perempuannya kepada atasannya agar mendapatkan jabatan sebagai seorang kasir (juru bayar) di perusahaan. Menyadari bahwa dirinya telah dijual oleh ayahnya sendiri, maka Sanikem kemudian mengambil sikap untuk mau menghormati dan mengakui kedua orang tuanya lagi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Konflik batin tokoh utama dalam novel Lintang karya Nana Rina dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA : suatu tinjauan psikologi sastra.

Konflik batin tokoh utama dalam novel Lintang karya Nana Rina dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA : suatu tinjauan psikologi sastra.

Based on the data analysis, it could be concluded that the main character of this novel was Lintang, while the additional figures related to the main character’s inner conflict were Eyang Sulastri (Grandma Sulastri), Bapak (Father – Totok Wibowo), Ibu (Mother – Roro Satiti), Aji Prayogo, Wiwoho Anggit, Utari, Doktor Anggoro, and Katriningsih. The inner conflict experienced by the main character in his life was becaus e her parents were strict, her parents seldom read Koran and performed prayers , she was in between two choices – love and dream, and she felt guilty for her adultery. Lintang unusual utterances and behavior were her reactions to express her fear, disappointment, and the fact of being forced. The main character’s inner conflict ended when she got her husband’s attention and affection back.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...