Top PDF KAJIAN PERILAKU AGONISTIK INTRAPESIFIK KOLONI Nasutitermes matangesis (ISOPTERA : TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

KAJIAN PERILAKU AGONISTIK INTRAPESIFIK KOLONI Nasutitermes matangesis (ISOPTERA : TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

KAJIAN PERILAKU AGONISTIK INTRAPESIFIK KOLONI Nasutitermes matangesis (ISOPTERA : TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

yang sama meski rayap-rayap ini berasal dari koloni yang berbeda dan dikumpulkan dari tempat yang berjauhan adalah suatu komponen senyawa volatil yang disebut feromon. Seperti yang sudah dituliskan pada bab sebelumnya bahwa feromon adalah senyawa kimia yang dikeluarkan oleh individu satu speies serangga yang dapat mempengaruhui perilaku individu lain dari spesies yang sama. “Istilah feromon (pheromone) berasal dari bahasa Yunani, yaitu phero yang artinya pembawa dan mone sensasi. Sifat senyawa feromon adalah tidak dapat dilihat oleh mata, volatil (mudah menguap), tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

JUMLAH KASTA REPRODUKTIF Nasutitermes matangensis (Isoptera  Termitidae) DI PULAU SEBESI   LAMPUNG

JUMLAH KASTA REPRODUKTIF Nasutitermes matangensis (Isoptera Termitidae) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

Berdasarkan diagram di atas dapat di ketahui bahwa rasio jenis kelamin pada setiap koloni beragam, hal ini menimbukan berbagai dugaan yang berkembang antara lain, menurut Thorne dan Noirot, pada suatu koloni yang memproduksi laron betina lebih banyak dibandingkan laron jantan, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan kondisi koloni dimana ratu primer yang sudah mulai tidak reproduktif lagi sehingga lebih banyak memproduksi laron betina guna menggantikan ratu primer jika suwaktu-waktu mati. 62 Pada keadaan ratu yang lemah, ratu dapat mengeluarkan feromon apakah harus membentuk reproduktif suplementer. Pada kasta reproduktif suplementer sayapnya telah mengalami degenerasi sehingga hanya berupa tonjolan sayap saja atau tidak bersayap sama sekali. Kasta ini muncul apabila koloni membutuhkan penambahan kasta reproduktif (neoten). Menurut Warren , Harms, Darlington, kasta reproduktif betina itu disebut reproduktif
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

KAJIAN PERILAKU AGONISTIK INTRASPESIFIK KOLONI Nasutitermes matangensis (ISOPTERA TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

KAJIAN PERILAKU AGONISTIK INTRASPESIFIK KOLONI Nasutitermes matangensis (ISOPTERA TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG

Intraksi sesama koloni yang berbeda perilaku lain dilakukan juga dengan cara mengabaikan/menghindar, mundur atau serangan, salah satu untuk cara mempertemukan antena. Bergerak mundur merupakan jenis lain menghindar rayap tidak mundur setelah melakukan itu tetapi hanya menempatkan jarak antara dirinya dengan koloni yang lain, untuk jarak yang dicapai selama serangan dan tersentak mundur dalam kasta tertentu. Biasanya rayap saat terjadi agresi akan melakukan penyerangan atau perlawanan terhadap lawannya dengan menerjang kedepan, serangkan diarahkan ke arah perut dan dada dari lawan spesies yang berbeda.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)

feedingsedangkan melalui mulut disebut dengan stomodeal feeding. Sifat trofalaksis merupakan cara memperoleh protozoa flagellatabagi individu yang baru melakukan ganti kulit (ekdisis), karena pada saat ekdisis integumen proctodeum tanggal sehingga protozoa simbion yang diperlukan untuk mencerna selulosa ikut keluar dan diperlukan reinfeksi dengan jalan trophallaxis. Grooming adalah berkumpul dengan mengosokkan tubuh antara individu dalam sebuah koloni, dan menjilat bagian tubuhnya yang bertujuan untuk membersihkan diri dari serangan patogen. Cryptobiotic adalah menyembunyikan dan menghindar dari cahaya kecuali laron yang menyukai cahaya pada saat swarming. Rayap hidup dalam tanah dan pada saat mencari makanan dipermukaan tanah, membentuk tabung kembara dari bahan tanah atau humus. Cannibalistic yaitu perilaku memakan individu sejenis, seperti kasta prajurit yang lemah tidak dapat menjaga koloninyasecara efektif, akan dimakan oleh kasta pekerja. Demikian juga betina dan jantan baik ratu, raja maupun neoten yang tidak mampu memberikan kontribusi pada koloninya. Nekrofagi yaitu memakan kadaver sesamanya (Tarumingkeng 2004).
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

Penggunaan Berbagai Konsentrasi Khitosan Dan Fipronil Terhadap Pengendalian Hama Rayap Tanah Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera ; Termitidae) Di Laboratorium

Penggunaan Berbagai Konsentrasi Khitosan Dan Fipronil Terhadap Pengendalian Hama Rayap Tanah Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera ; Termitidae) Di Laboratorium

Rayap adalah serangga sosial yang hidup dalam suatu komunitas yang disebut koloni. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama bila tidak berada dalam koloninya. Komunitas tersebut bertumbuh efisien dengan adanya spesialisasi (kasta) dimana masing-masing kasta mempunyai bentuk dan peran yang berbeda dalam kehidupannya. Di dalam setiap koloni rayap, terdapat tiga kasta yang berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing yaitu ; kasta prajurit, kasta pekerja dan kasta reproduktif (Nandika , dkk, 2003).

47 Baca lebih lajut

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN EKOWISATA PESISIR PULAU SEBESI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN EKOWISATA PESISIR PULAU SEBESI

DPL di Pulau Sebesi dikelola berbasis masyarakat setempat dengan dukungan pemerintah daerah. Masyarakat sebagai pengelola DPL memiliki peran penting dalam pengembangan pengelolaan secara mandiri sumber daya alam. Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka mendukung pengembangan model DPL antara lain: penyuluhan masyarakat tentang lingkungan, dan penelitian guna mendukung kebijakan yang akan dipakai dalam pengembangan model DPL. Tabel 1. Permasalahan Pokok: Isu, Penyebab, Dampak dan Alternatif Penanganan

47 Baca lebih lajut

Pulau Koloni Untuk Mereka Yang Kaya

Pulau Koloni Untuk Mereka Yang Kaya

Sebenarnya, kami yang menolak ajakan Tuan untuk bermimpi ingin menanyakan hal yang jauh lebih dalam dari sekedar hitung angka di atas kertas. Kepada siapa pulau itu akan dipersembahkan, dan siapa yang menjamin bahwa kami rakyat Bali yang miskin akan diberikan hak untuk menikmati pulau tersebut tanpa harus merasa dicurigai akan merusak kenyamanan para penghuninya? Kami telah cukup belajar dari pengalaman bagaimana kami digeledah, diperiksa, dan dipantau ketika ingin menikmati kawasan pariwisata yang konon milik kami juga. Sehingga hal ini tidak sesederhana urusan kepemilikan dan luasan daratan atau hutan semata namun menyentuh ranah keadilan
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Aplikasi Campuran Serbuk Kayu Pinus Dan Fipronil Sebagai Umpan Rayap Tanah Macrotermes Gilvus (Hagen) (Isoptera: Termitidae) Di Bandung

Aplikasi Campuran Serbuk Kayu Pinus Dan Fipronil Sebagai Umpan Rayap Tanah Macrotermes Gilvus (Hagen) (Isoptera: Termitidae) Di Bandung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dalam waktu yang relatif singkat, yaitu empat puluh hari setelah pemberian umpan ternyata di lokasi penelitian tidak ada lagi ditemukan aktivitas mencari makan rayap M. gilvus. Hasil ini mirip dengan penelitian pengendalian Odontotermes formosanus Shiraki (Termitidae) menggunakan fipronil yang dilakukan oleh Huang et al. (2006) di Wuhan, China, walaupun mereka baru dapat mengendalikan rayap setelah empat bulan umpan diletakkan. Penelitian lainnya yang dilakukan dengan menggunakan umpan rayap berbahan aktif noviflumuron, suatu inhibitor sintesis kitin, berhasil mengendalikan 122 koloni berbagai rayap tanah (Termitidae) dalam waktu kurang dari satu tahun (Eger et al. 2012). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa M gilvus sebagai anggota famili Termitidae dapat juga dikendalikan dengan menggunakan umpan, walaupun cara kerja yang pasti bagaimana umpan yang mengandung fipronil ditransfer ke dalam koloni belum dapat dijelaskan, tetapi diperkirakan hal ini dilakukan dengan cara trofalaksis antara rayap kembara dengan anggota koloni lainnya. Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan konfirmasi bahwa ternyata teknologi umpan dapat juga digunakan untuk mengendalikan rayap dari famili Termitidae, seperti yang telah dilakukan oleh Huang et al. (2006) dan juga
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Evaluasi Program Mata Pencaharian Alternatif Pada Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Di Pulau Sebesi,Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Evaluasi Program Mata Pencaharian Alternatif Pada Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Di Pulau Sebesi,Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan mata pencaharian alternatif di Pulau Sebesi telah memberikan pengaruh terhadap perubahan lingkungan, dan ekonomi. Perubahan lingkungan dapat terlihat dari peningkatan persentase tutupan terumbu karang di DPL Pulau Sebesi. Secara ekonomi pelaksanaan mata pencaharian alternatif juga telah memberikan pendapatan baru bagi sebagian masyarakat Pulau. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan program mata pencaharian alternatif di Pulau Sebesi adalah partisipasi masyarakat, dukungan kebijakan dari pemerintah serta kerja keras dari pengelola kegiatan mata pencaharian alternatif. Sedangkan faktor yang mempengaruhi kegagalan kegiatan budidaya karamba jaring apung adalah penentuan lokasi yang kurang tepat dan sumberdaya manusia yang kurang memadai.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Re-Deskripsi Leucopitermes Leucops; Subulitermes-Group (Isoptera, Termitidae, Nasutitermitinae) Di Stasiun Penelitian Suaq Balimbing, Aceh Selatan

Re-Deskripsi Leucopitermes Leucops; Subulitermes-Group (Isoptera, Termitidae, Nasutitermitinae) Di Stasiun Penelitian Suaq Balimbing, Aceh Selatan

Terbit 2 kali setahun, Juni dan Desember. Elkawnie merupakan jurnal Inte- grasi keilmuan Sains dan Teknologi dengan Islam yang mencakup riset dan teknologi dalam bidang kajian Arsitektur, Biologi, Kimia, Teknik Lingkungan, Teknlogi Informasi dan Komunikasi, Teknik Fisika serta bidang sains dan teknologi lainnya. Secara khusus jurnal Elkawnie membahas perkembangan riset dan teknologi dalam memberikan kontribusi pembangunan sebagai bagian dari sumbangsih pemikiran ilmuan muslim dalam lingkup akademis.

13 Baca lebih lajut

KEBERLANJUTAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT Kasus DPL-BM Blongko-Minahasa Selatan, DPL-BM Pulau Sebesi, Lampung Selatan dan APL Pulau Harapan Kepulauan Seribu

KEBERLANJUTAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT Kasus DPL-BM Blongko-Minahasa Selatan, DPL-BM Pulau Sebesi, Lampung Selatan dan APL Pulau Harapan Kepulauan Seribu

General objective of this research was to evaluate the effectiveness of marine sanctuaries in three locations. Specifically of this research were to evaluate the sustainability of marine sanctuary, and to formulate the strategic action for developing of marine sanctuary. Research was conducted at three locations, Blongko in North Sulawesi Province, Sebesi Island in Lampung Province, and Harapan Island, in Jakarta Province. Data collection was conducted during June to December 2007. This research used quantitative analysis by applying natural resources and sustainability analysis through multi dimension scaling analysis. This research applied 32 attributes to evaluate the sustainability of marine sanctuaries in three locations. By analysis of these attributes, it founded the attribute with high sensitivity remains to quality of coral reef and fish coral (ecological and environmental dimension); contribution of income, alternative livelihood and multiplier effect of marine sanctuary (economic and social dimension); legal aspect, local regulation and internalization of the program to local development program (policy dimension); and guidelines of marine sanctuary, extension officer programs and capacity building, and participation of non government institution (institutional dimension).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Genetik Rayap Tanah Genus Coptotermes (Isoptera: Rhinotermitidae) di Pulau Jawa

Keanekaragaman Genetik Rayap Tanah Genus Coptotermes (Isoptera: Rhinotermitidae) di Pulau Jawa

Purifikasi DNA dilakukan menggunakan metode Duryadi (1993) yang dimodifikasi, yaitu 25 ekor spesimen dari kasta prajurit dalam satu koloni yang telah dibuang saluran pencernaannya digerus, kemudian diencerkan dengan menambahkan 500 µl bufer digesti (1% SDS; 50 mM Tris-HCl pH 9,0 ; 0,1 M EDTA pH 8,0; 0,2 M NaCl; 0,1 mg/ml RNAse, dan 0,5 mg/ml proteinase K) pada campuran tersebut dan dikocok hingga homogen. Larutan diinkubasi pada suhu 55 o C selama 16 jam. Sebanyak 500 µl larutan fenol ditambahkan ke

6 Baca lebih lajut

Efektifitas dan keberlanjutan pengelolaan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM) (kasus DPL-BM Blongko, Minahasa Selatan, DPL-BM Pulau Sebesi, Lampung Selatan, dan DPL-BM pulau harapan, kepulauan seribu)

Efektifitas dan keberlanjutan pengelolaan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM) (kasus DPL-BM Blongko, Minahasa Selatan, DPL-BM Pulau Sebesi, Lampung Selatan, dan DPL-BM pulau harapan, kepulauan seribu)

Tiga indikator yang menjadi penilaian terhadap sumber pendanaan adalah komitmen lembaga pemerintah untuk menyediakan pendanaan DPL, internalisasi program DPL ke dalam program pembangunan daerah, dan sumber-sumber pendanaan lainnya. Dari hasil analisis yang dilakukan, diketahui bahwa sejak Proyek Pesisir mengakhiri program fasilitasi di Pulau Sebesi, tidak ada lembaga lainnya yang memiliki komitmen untuk pendanaan program DPL ini. Meskipun beberapa tahun berjalan ada bantuan dan fasilitasi dari Yayasan Telapak, namun bantuan yang diberikan hanya berlangsung selama 1 tahun. Internalisasi program DPL ke dalam program pembangunan daerah dilakukan khususnya terkait dengan program konservasi dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Program transplantasi karang secara kontinyu diprogramkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan guna meningkatkan kualitas terumbu karang di DPL Sebesi. Sementara itu, sumber-sumber pendanaan selain yang disebutkan di atas, sumber pendanaan lain untuk pengelolaan DPL Sebesi tidak ada, sehingga dana pengelolaan DPL hanya berasal dari bantuan pemerintah dalam bentuk program.
Baca lebih lanjut

374 Baca lebih lajut

Perilaku Afiliasi dan Perilaku Agonistik Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Dewasa di Telaga Warna, Bogor Jawa Barat

Perilaku Afiliasi dan Perilaku Agonistik Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Dewasa di Telaga Warna, Bogor Jawa Barat

Penelitian ini berfokus pada perilaku afiliasi dan agonistik M. fascicularis dewasa di dalam kelompok. Perilaku afiliasi dan agonistik yang dilakukan oleh satu individu berhubungan dengan peringkat individu tersebut dalam kelompok. Untuk perilaku afiliasi, penelitian ini menunjukkan bahwa jantan dan betina peringkat atas memiliki preferensi untuk berdekatan dengan individu yang peringkatnya tidak jauh berbeda. Perilaku berdekatan lebih sering dilakukan oleh individu-individu dengan jenis kelamin berbeda. Frekuensi berdekatan antara individu berbeda jenis kelamin yang lebih tinggi memperbesar peluang untuk saling bertukar selisik. Kedekatan ini bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak akses untuk aktivitas seksual (Barrett dan Henzi 2001). Perilaku berdekatan juga sering dilakukan untuk menghalau dingin pada saat cuaca buruk. Selain itu, kehadiran pengunjung di Telaga Warna juga menyebabkan kelompok lebih waspada dan saling berdekatan untuk saling melindungi anggota kelompok.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects