Top PDF PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI Di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Tahun 2015

PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI Di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Tahun 2015

PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI Di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Tahun 2015

KATA PENGANTAR Puji Syukur alhamdulillah saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “ PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI”. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan guna untuk memenuhi tugas akhir Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang.

18 Baca lebih lajut

PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI STUDI KASUS

PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI STUDI KASUS

KATA PENGANTAR Puji Syukur alhamdulillah saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “ PERILAKU PASIEN DALAM MENGOBATI PENYAKIT HIPERTENSI”. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan guna untuk memenuhi tugas akhir Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang.

14 Baca lebih lajut

PERAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN DIET PADA PENDERITA HIPERTENSI ( Studi Kasus Pada Tn. A Dengan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Tahun 2015)

PERAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN DIET PADA PENDERITA HIPERTENSI ( Studi Kasus Pada Tn. A Dengan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Tahun 2015)

Stroke hal 1-19. Gunawan, Lany. (2007). Hipertensi, penyakit tekanan darah tinggi. Cetakan 8. Yogyakarta : Kanisius Hasibuan, V, T. (2011). Pengetahuan Pasien Hipertensi Tentang Nutrisi Yang Dibutuhkan Untuk Memelihara Status Kesehatan Di Poliklinik Hipertensi RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan USU. Diakses pada tanggal 6 Juni 2015 , dari Http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27564

14 Baca lebih lajut

Pengaruh Blog Edukatif Tentang Hipertensi Terhadap Pengetahuan Tentang Hipertensi dan Perilaku Diet Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta

Pengaruh Blog Edukatif Tentang Hipertensi Terhadap Pengetahuan Tentang Hipertensi dan Perilaku Diet Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta

Dalam penelitian ini menggunakan blog edukatif tentang hipertensi merupakan sebuah cara pemberian pendidikan kesehatan dengan menggunakan blog melalui media internet dan dapatdiaksesmelalui hand phone, tablet, computer maupun laptop dari alamat www.stophipertensi. blogspot.com, sehingga pemberian edukasinya fl eksibel baik ruang dan waktu. Blog edukatif berisi tentang pengertian, klasi fi kasi, factor penyebab, perjalanan penyakit, tanda dan gejala, faktor risiko, komplikasi, dan penatalaksanaan hipertensi yang ditampilkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai gambar- gambar untuk menunjang konten informasi yang disampaikan, selain itu sumber informasi diambil dari jurnal dan text book yang telah dipadukan, sehingga blog mudah dipahami dan berakurasi tinggi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Blog Edukatif Tentang Hipertensi terhadap Pengetahuan Tentang Hipertensi dan Perilaku Diet Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan YOGYAKARTA

Pengaruh Blog Edukatif Tentang Hipertensi terhadap Pengetahuan Tentang Hipertensi dan Perilaku Diet Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan YOGYAKARTA

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular pada individu yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg (Price & Wilson, 2006). Hipertensi dikenal dengan penyakit “silent killer” karena hipertensi dapat merusak atau membunuh organ- organ secara progresif dan prematur (Erkoc, Isikli, Metintas, & Kalyoncu, 2012). Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah besar diseluruh dunia karena prevalensinya yang masih tinggi dan terus meningkat. Menurut World Health Organization/WHO (2013), pada tahun 2008, diseluruh dunia, sekitar 40% dari total orang dewasa yang berusia 25 tahun ke atas telah didiagnosis hipertensi, dan diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat menjadi 60% atau sekitar 1,56 miliar orang pada tahun 2025.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perilaku Dewasa Muda Terhadap Pencegahan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2015

Perilaku Dewasa Muda Terhadap Pencegahan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2015

5% tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 6,6% tahun 2013, sedangkan berdasarkan pengukuran tekanan darah mengalami penurunan dari 26,3% tahun 2007 menjadi 24,7% tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Profil kesehatan Sumatera Utara tahun 2000 melaporkan bahwa prevalensi hipertensi di Sumatera Utara sebesar 91 per 100.000 penduduk, 8,21% pada kelompok umur di atas 60 tahun untuk penderita rawat jalan. Berdasarkan penyakit penyebab kematian pasien rawat inap di rumah sakit Provinsi Sumatera Utara, hipertensi menduduki peringkat pertama dengan proporsi kematian 27 % (1.162 orang), pada kelompok umur lebih dari 60 tahun 20,2 % (1.349 orang). Indeks Pembangunan Kesehatan Indonesia (IPKM) mencatat prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2013 mencapai 24,3%, Sumatera Utara sebanyak 23% dan Pematangsiantar 19,4%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINGGIR SLEMAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Makan pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Slem

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINGGIR SLEMAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Makan pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Slem

Tabel 2.1 menunjukkan usia responden sebagian besar dalam rentang 60- 70 tahun sebanyak 20 responden (34,5%). Sejalan dengan penelitian Tuning Suryani (2009) yang sebagian besar respondennya berusia lebih dari 61 tahun sebanyak 22 responden (50%). Suryani (2009) menungkapkan bahwa usia merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi yang tidak dapat dirubah, tetapi perilaku makan pada responden dapat dikontrol. Penting hal tersebut dilakukan pada seseorang yang berusia lebih dari 40 tahun, karena semakin bertambahnya usia, tekanan darah cenderung meningkat. Keadaan ini tidak menutup kemungkinan pada laki-laki ataupun perempuan. Namun, setelah wanita memasuki usia 50 tahun, hipertensi banyak ditemukan pada wanita.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

GAMBARAN PERILAKU PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARANGKAN II KABUPATEN KLUNGKUNG BALI 2014.

GAMBARAN PERILAKU PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARANGKAN II KABUPATEN KLUNGKUNG BALI 2014.

Dalam penelitian ini dilakukan observasi pada responden untuk mengetahui bagaimana responden melakukan kontrol terhadap tekanan darahnya setelah didiagnosis mengalami hipertensi. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional deskriptif dengan populasi penelitian adalah semua pasien hipertensi yang datang berobat dan tercatat dalam data kunjungan tahun 2014 di Puskesmas Banjarangkan II. Sampel pada penelitian ini didapat dengan menghitung jumlah sampel minimal dan dilakukan simple random sampling sehingga didapatkan 41 sampel. Data penelitian didapatkan dengan wawancara langsung pada sampel dan observasi ke lapangan. Dari wawancara dan observasi di lapangan pada 41 orang sampel didapatkan sampel yang mematuhi aturan minum obat sebanyak 87,8%, patuh terhadap aturan diet yang dianjurkan sebanyak 68,8% dan aktif berolahraga sebanyak 53,7%. Pasien yang patuh minum obat yang menunjukkan hipertensi terkontrol adalah 96,2%. Jika dilihat dari kepatuhan diet, 73,1% responden yang patuh diet menunjukkan hipertensi yang terkontrol. Pada variabel aktivitas olahraga, diperoleh hasil 69,2% yang patuh olahraga menunjukkan hipertensi yang terkontrol.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERILAKU PASIEN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN TB PARU Di Wilayah Kerja Puskesmas Arjowinangun Malang Tahun 2015

PERILAKU PASIEN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN TB PARU Di Wilayah Kerja Puskesmas Arjowinangun Malang Tahun 2015

Penyakit TB Paru sebenarnya dapat dicegah dengan cara yang dapat dilakukan, yaitu Menelan OAT secara lengkap dan teratur sampai sembuh, Pasien TB Paru harus menutup mulutnya dengan sapu tangan atau tisu pada waktu bersin dan batuk, dan mencuci tangan dengan bersih, Tidak membuang dahak di sembarang tempat, tapi dibuang pada tempat khusus dan tertutup, misalnya dengan menggunakan wadah/kaleng bertutup yang sudah diberi air sabun, Buanglah dahak ke kamar mandi atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang meliputi mamakai masker, menjemur alat tidur (seperti kasur, bantal), membuka pintu dan jendela setiap pagi agar udara dan dan sinar matahari bisa masuk sehingga sinar mata hari langsung dapat mematikan kuman TBC, makan-makanan yang bergizi, tidak merokok dan minum-minuman keras, olah raga secara teratur, mencuci pakaian hingga bersih di air yang mengalir setelah buang air besar di jamban, sebelum dan sesudah makan, beristirahat cukup, jangan tukar menukar peralatan mandi (Depkes RI, 2009).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan

Hipertensi merupakan penyakit terbesar kedua setelah penyakit jantung yang diikuti oleh penyakit stroke (Mozaffarian, Benjamin, Go, Arnett, Blaha, Cushman, et al, 2015). Laporan Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian Kesehatan RI (Riskesdas RI) tahun 2007 di dapatkan, Hipertensi merupakan urutan kedua dari sepertiga penyebab kematian yang meliputi Stroke, hipertensi dan penyakit jantung, dimana stroke menjadi penyebab kematian terbanyak yaitu 15,4%, kedua hipertensi 6,8%, penyakit jantung iskemik 5,1%, dan penyakit jantung 4,6%. Peningkatan prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara (diagnosis nakes dan minum obat hipertensi) dari 7,6 persen tahun 2007 menjadi 9,5 persen tahun 2013. Prevalensi Hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada umur ≥ 18 tahun sebesar 25,8 persen. Cakupan tenaga kesehatan hanya 36,8 persen, sebagian besar (63,2%) kasus Hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis. Sementara laporan prevalensi hipertensi Riskesdas (2007) provinsi Sumatera utara berdasarkan diagnosis oleh oleh tenaga kesehatan adalah 5,8% dan hampir sama dengan hipertensi yang berdasarkan diagnosis serta minum obat yaitu 5,9%. Prevalensi hipertensi dan stroke ditemukan pada orang yang tidak bekerja.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan

Health belief model (Becker, 1990), Health promotion model (Pender, 1987) dan Self-efficacy theory (Bandura, 1977) dan Theory of reasoned action (Ajzen dan Fishbein, 1980). Health belief model, digunakan untuk mempelajari perilaku pasien berhubungan dengan perilaku preventif dan penyakit akut serta penyakit kronis. Model ini menjelaskan tentang permasalahan terhadap program pencegahan penyakit dan penyembuhan yang memerlukan kepatuhan pasien untuk berpartisipasi dan keyakinan bahwa kesehatan sangat dihargai. Health promotion model, menjelaskan komponen dan mekanisme yang menjadi faktor penentu pada gaya hidup yang mempromosikan kesehatan. Self-efficacy theory, merupakan teori prediktif perihal suatu keyakinan bahwa seseorang dapat mengerjakan perilaku tertentu. Penggunaan teori ini pada perawat sangat relevan dalam memahami kemungkinan partisipasi dalam pengembangan program- program pendidikan. Theory of reasoned action, menjelaskan alasan pasien sebagai pembuat keputusan yang rasional yang memanfaatkan informasi apapun yang tersedia untuk mereka. Teori ini berguna untuk memprediksi perilaku kesehatan dengan niat untuk mengubah perilaku kesehatan tertentu .
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINGGIR SLEMAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINGGIR SLEMAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

Tabel 2.1 menunjukkan usia responden sebagian besar dalam rentang 60- 70 tahun sebanyak 20 responden (34,5%). Sejalan dengan penelitian Tuning Suryani (2009) yang sebagian besar respondennya berusia lebih dari 61 tahun sebanyak 22 responden (50%). Suryani (2009) menungkapkan bahwa usia merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi yang tidak dapat dirubah, tetapi perilaku makan pada responden dapat dikontrol. Penting hal tersebut dilakukan pada seseorang yang berusia lebih dari 40 tahun, karena semakin bertambahnya usia, tekanan darah cenderung meningkat. Keadaan ini tidak menutup kemungkinan pada laki-laki ataupun perempuan. Namun, setelah wanita memasuki usia 50 tahun, hipertensi banyak ditemukan pada wanita.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN DIRI TERHADAP PERILAKU SEHAT DAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA MEDAN TESIS.

PENGARUH EDUKASI MANAJEMEN DIRI TERHADAP PERILAKU SEHAT DAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA MEDAN TESIS.

Health belief model (Becker, 1990), Health promotion model (Pender, 1987) dan Self-efficacy theory (Bandura, 1977) dan Theory of reasoned action (Ajzen dan Fishbein, 1980). Health belief model, digunakan untuk mempelajari perilaku pasien berhubungan dengan perilaku preventif dan penyakit akut serta penyakit kronis. Model ini menjelaskan tentang permasalahan terhadap program pencegahan penyakit dan penyembuhan yang memerlukan kepatuhan pasien untuk berpartisipasi dan keyakinan bahwa kesehatan sangat dihargai. Health promotion model, menjelaskan komponen dan mekanisme yang menjadi faktor penentu pada gaya hidup yang mempromosikan kesehatan. Self-efficacy theory, merupakan teori prediktif perihal suatu keyakinan bahwa seseorang dapat mengerjakan perilaku tertentu. Penggunaan teori ini pada perawat sangat relevan dalam memahami kemungkinan partisipasi dalam pengembangan program- program pendidikan. Theory of reasoned action, menjelaskan alasan pasien sebagai pembuat keputusan yang rasional yang memanfaatkan informasi apapun yang tersedia untuk mereka. Teori ini berguna untuk memprediksi perilaku kesehatan dengan niat untuk mengubah perilaku kesehatan tertentu .
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

GAYA HIDUP PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WATES KABUPATEN KULON PROGO

GAYA HIDUP PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WATES KABUPATEN KULON PROGO

Penyakit hipertensi termasuk dalam kategori penyakit dengan Case Fatality Rate tertinggi setelah pneumonia yaitu 4,81% (Kemenkes, 2012). Menurut National Basic Health Survey (2013) prevalensi hipertensi di Indonesia paling tinggi pada usia lebih dari 75 tahun adalah 63,8 %. Kasus hipertensi di Provinsi DIY mencapai 35,8 % diatas rata-rata seluruh Indonesia yang mencapai 31,7% (Depkes, 2010). Prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara mengalami peningkatan mencapai 9,5% (Depkes, 2013). Laporan Survailans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas di DIY terjadi peningkatan penyakit menjadi (32.971 kasus) pada tahun 2014 dan masuk dalam urutan ketiga dari distribusi 10 besar penyakit.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan Chapter III VI

Pengaruh Edukasi Manajemen Diri Terhadap Perilaku Sehat dan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Medan Chapter III VI

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Brady et al (2013) tentang program manajemen diri penyakit kronis terhadap status kesehatan, perilaku sehat dan perawatan kesehatan didapatkan adanya peningkatan manajemen kognitif gejala setelah diberikan edukasi. Mengadopsi manfaat penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan manajemen kognitif gejala bahwa latihan relaksasi dapat mendukung penurunan gejala seperti stress, penurunan denyut jantung dan menurunkan tekanan darah (Tang, Harms & Vezeau, 2008). Relaksasi dapat membantu menurunkan kecemasan dan gejala yang menyertai saat terjadi peningkatan tekanan darah. Manfaat relaksasi bagi hipertensi yaitu membantu mengelola stres. Stres dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah jangka pendek, dan respons relaksasi menunjukkan penurunan tekanan darah dalam jangka pendek (USDH & HSNC, 2016; FCS, 2016).
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

KEJADIAN HIPERTENSI (Studi Analitik Pada Pasien Dewasa di Wilayah Kerja Puskesmas Jongaya Kota Makassar)

KEJADIAN HIPERTENSI (Studi Analitik Pada Pasien Dewasa di Wilayah Kerja Puskesmas Jongaya Kota Makassar)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tanpa gejala atau the silent disaese. Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur, aktifitas fisik, makanan asin atau garam, obesitas, keturunan atau gen dan stres dengan kejadian hipertensi. Penelitian ini menggunakan deskriptik analitik dengan pendekatan study cross sectional dengan sampel sebanyak 179 responden dengan teknik pengambilan sampel dengan secara purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah pasien yang berkunjung di Puskesmas Jongaya dengan kriteria umur 25-45 tahun. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Jongaya Kecematan Tamalate Kota Makassar pada bulan Juni-Juli 2019. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara umur P= 0,000 < α = 0,050, aktifitas fisik P= 0,003 < α = 0,050, makanan asin atau garam P= 0,008> α= 0,050, obesitas P= 0,004 < α = 0,050, keturunan atau gen P= 0,001> α= 0,050 dan stres P= 0,001> α= 0,050 dengan kejadian hipertensi. Pada penelitian ini disarankan bagi masyarakat yang terkena penyakit hipertensi untuk selalu melakukan pemeriksaan 2 kali dalam semingu, untuk melakukan olahraga, menghindari makanan berminyak atau berlemak, mengkonsumsi kadar garam yang cukup dan melakukan pola hidup sehat.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERAWATAN PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JELBUK KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERAWATAN PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JELBUK KABUPATEN JEMBER

Pasien hipertensi yang mengkonsumsi obat antihipertensi dianjurkan untuk melakukan follow up paling tidak dengan jarak sebulan sekali untuk mengontrol tekanan darah sampai tekanan darah target tercapai. Pada dibutuhkan pasien dengan kategori hipertensi derajat 2 atau jika disertai dengan komplikasi penyakit penyerta, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan yang lebih sering. Kalium serum dan kreatinin harus dipantau minimal 1 sampai 2 kali / tahun. Setelah tekanan darah mencapai target dan stabil, follow up dan pemeriksaan dapat dilakukan dalam jarak 3-6 bulan sekali. Namun apabila penderita hipertensi mempunyai penyakit penyerta seperti gagal jantung dan diabetes maka frekuensi pemeriksaan bisa menjadi lebih sering. Faktor risiko penyakit kardiovaskuler lainnya harus diobati sesuai tujuan masing- masih dan untuk mendapatkan tekanan darah sesuai target. Penggunaan aspirin dosis rendah dipertimbangkan, oleh karena peningkatan risiko stroke hemoragik pada pasien dengan hipertensi tidak terkontrol (Chobanian, et, al, 2003).
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

PENGALAMAN KEPATUHAN DIIT PADA PASIEN PENDERITA HIPERTENSI Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungkandang Malang Tahun 2015

PENGALAMAN KEPATUHAN DIIT PADA PASIEN PENDERITA HIPERTENSI Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungkandang Malang Tahun 2015

Organisasi itu mengatakan jumlah penderita penyakit ini paling banyak terdapat di Afrika, di mana hampir separuh orang dewasa mengalami hipertensi, yang terendah terdapat di Benua Amerika. WHO (2007) mengatakan tekanan darah tinggi bisa dicegah dan diobati begitu didiagnosis. Organisasi itu mendesak semua orang dewasa di seluruh dunia agar memeriksakan tekanan darah mereka, sehingga bisa mengambil langkah- langkah untuk mengatasinya. Salah satu cara untuk menangani atau mengontrol hipertensi adalah dengan diet, hipertensi merupakan penyakit yang berbahaya bagi manusia karena bila hipertensi tidak terkontrol maka dapat menimbulkan komplikasi seperti penyakit stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perilaku Dewasa Muda Terhadap Pencegahan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2015

Perilaku Dewasa Muda Terhadap Pencegahan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2015

Masa dewasa muda dimulai sekitar usia 18 sampai 22 tahun dan berakhir pada usia 35 sampai 40 tahun (Lemne, 1995). Lebih lanjut lemne (1995), menjelaskan bahwa masa dewasa muda adalah masa yang ditandai dengan adanya ketidaktergantungan secara finansial pada orang tua, serta adanya tanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan. Dewasa muda merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Individu diharapkan dapat menjalankan peran barunya sebagai suami/istri pencari nafkah, orangtua,yang disisilain dapat mengembangkan sikap, keinginan dan nilai sesuai dengan tujuan baru. Pada tahapan perkembangan ini, dewasa muda memiliki tugas utama yang harus diselesaikan seperti meninggalkan rumah, memilih dam mempearsiapkan karir, membangun hubungan dekat seperti persahabatan dan pernikahan dan memulai untuk membentuk keluarga sendiri (Atwater, 2005).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...