Top PDF Perlindungan Hukum Bagi Saksi Pengungkap Fakta (Whistleblower) Dalam Perkara Pidana (Analisis Yuridis Terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban)

Perlindungan Hukum Bagi Saksi Pengungkap  Fakta (Whistleblower) Dalam Perkara Pidana (Analisis Yuridis Terhadap Undang-Undang  No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan  Saksi Dan Korban)

Perlindungan Hukum Bagi Saksi Pengungkap Fakta (Whistleblower) Dalam Perkara Pidana (Analisis Yuridis Terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban)

Berbagai perundang-undangan nasional mengatur peran serta masyarakat (publik) dalam proses penegakan hukum dengan cara melaporkannya kepada aparat penegak hukum atau menjadi saksi dalam suatu proses persidangan dan hal ini tentu membutuhkan kebranian dan keteguhan hati agar suatu kebenaran dapat terungkap. Namun suasana yang kontradiksi terjadi bahwa para pengungkap fakta (whistleblower) yakni saksi, pelapor atau korban tersebut mendapat serangan balik dari pihak yang dilaporkan bahkan yang lebih ironis terjadi, para pengungkap fakta (whistleblower) ini akhirnya menjadi tersangka atau terdakwa. Perlindungan bagi saksi penguingkap fakta (whistleblower)merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang sekaligus sebagai jaminan penghormatan dan perlindungan hak-hak asasi manusia. Jaminan perlindungan kepada para pengungkap fakta (whistleblower ) baik kepada saksi atau pelapor dan korban sebagai bagian dari warga Negara wajib diberikan oleh Negara sebagaimana diatur dalam. Konvenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenan on Civil and Political Right) tahun 1966 yang telah diratifikasi oleh Negara Republlik Indonesia dan konsekuensinya beberapa ketentuan dalam system peradilan pidana harus mengalami perubahan. Salah satu bentuk perubahan itu antara lain dengan disahkannya oleh legislasi pusat Undang- Undang RI No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban pada tanggal 11 Agustus 2006. Diberlakukannya undang-undang ini sebagai ketentuan khusus (lex specialis) mengenai perlindugnan bagi para pengungkap fakta (whistleblowers), diharapkan mampu menciptakan keseimbangan untuk menutupi kekurangan didalam system hukum kita berkaitan dengan terabaikannya elemen saksi dan korban dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang RI No. 8 tahun 1981). KUHAP sebagai hasil karya agung bangsa Indonesia itu lebih cenderung mengatur hak-hak tersangka atau terdakwa.
Baca lebih lanjut

184 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI PELAKU YANG BEKERJASAMA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI PELAKU YANG BEKERJASAMA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Pengungkapan terhadap tindak pidana korupsi dewasa ini memiliki terobosan baru yaitu dengan hadirnya saksi pelaku yang bekerjasama. saksi pelaku yang bekerjasama ini membantu para aparat penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana korupsi secara efektif bahkan efisien. Namun sebagai kapasitasnya sebagai saksi, pelapor sekaligus pelaku, memiliki risiko terhadap adanya ancaman dari para pelaku lainnya. Di samping itu, peraturan perundang-undangan yang ada yaitu salah satunya Undang- Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban ternyata belum secara maksimal memberikan dasar pengaturan bagi perlindungan terhadap saksi pelaku yang bekerjasama. Tujuan penelitian penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui, dan memahami perlindungan terhadap Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborator) dalam perkara tindak pidana korupsi dan kendala-kendala yang dihadapinya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Perlindungan Saksi dan Korban sebagai institusi yang memberikan jaminan perlindungan dan hak-hak Saksi dan Korban diharapkan dapat membantu proses pemulihan peradilan pidana di negara ini yang salah satunya oleh kejahatan-kejahatan sistemik yang sulit dibuktikan yang dikarenakan aparat penegak hukum tidak dapat menghadirkan Saksi atau kesaksian yang diberikan tidak objektif karena adanya ancaman dan tekanan terhadap Saksi atau Korban baik secara fisik maupun psikis. Dalam Pasal 4 Undang-Undang No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyebutkan bahwa tujuan dari perlindungan Saksi dan Korban yakni untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana. Undang-undang ini juga telah memiliki peraturan pelaksana yakniPP No 44 Tahun 2008 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada Saksi dan Korban.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

PENUTUP PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

1. Bentuk perlindungan hukum terhadap Saksi dalam proses peradilan pidana setelah berlakunya Undang-Undang No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yakni dalam prakteknya tetap mengacu pada ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2006 sebagai berikut:

8 Baca lebih lajut

UNDANG-UNDANG NO 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

UNDANG-UNDANG NO 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Pelapor yang demikian itu harus diberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai atas laporannya, sehingga ia tidak merasa terancam atau terintimidasi baik hak maupun jiwanya. Dengan jaminan perlindungan hukum dan keamanan tersebut, diharapkan tercipta suatu keadaan yang memungkinkan masyarakat tidak lagi merasa takut untuk melaporkan suatu tindak pidana yang diketahuinya kepada penegak hukum, karena khawatir atau takut jiwanya terancam oleh pihak tertentu.

14 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAPOR TINDAK PIDANA DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAPOR TINDAK PIDANA DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Contoh tersebut terjadi pada pengungkapan keterangan Susno Duadji. Sebagai mantan pejabat yang langsung menyidik kasus mafia majak tersebut, dia mengetahui detail tentang kasus penyelewengan pajak oleh Gayus Tambunan. Belum lagi tuntas penanganan kasus-kasus yang diungkapkannya, beliau sendiri sudah diberondong oleh 2 (dua) kasus dengan status tersangka pada Oktober 2010 lalu dan harus mendekam di Mako Brimob Kelapa Dua. Terlepas dari terbukti atau tidak kasus yang disangkakan kepadanya, namun logika terbalik dengan mendahulukan proses hukum terhadap Susno Duadji dan tidak pada kasus yang diungkap beliau, semakin mengukuhkan adanya dugaan kriminalisasi dan retaliasi (balas dendam) terhadap whistle blower. 2 Tak hanya itu, permohonan uji matriil terhadap pasal 10 (2) Undang-undang No. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, yang diajukan oleh Susno Duadji kepada Makamah Konstitusi pada tanggal 3 september 2010, ditolak seluruhnya oleh Makamah Konstitusi karena Mahkamah menilai permohonan pemohon tidak terbukti dan beralasan hukum. 3
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

JURNAL ILMIAH TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI MAHKOTA DALAM PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA KORUPSI Progran Studi Ilmu Hukum

JURNAL ILMIAH TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI MAHKOTA DALAM PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA KORUPSI Progran Studi Ilmu Hukum

Melihat dari Undang-Undang No. 13 tahun 2006 yang telah diubah menjadi Undanga-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagai aturan utama dalam pemberian perlindungan hukum terhadap saksi dan korban dalam suatu tindak pidana, bahwa tidak menyebutkan saksi mahkota (koorn getuide) sebagai subyek pemberian perlindungan hukum didalamnya namun status saksi mahkota (koorn getuide) dapat dipersamakan dengan status saksi pelaku (justice collaborator) yang diatur dalam undang-undang ini yang memperoleh perlindungan hukum berupa, Penghargaan atas kesaksian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: Keringanan penjatuhan pidana; atau Pembebasan bersyarat, remisi tambahan, dan hak narapidana lain sesuai dengan ketentuan peraturan Perundang-undangan bagi saksi pelaku (justice collaborator) yang berstatus narapidana
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

FUNGSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM KASUS PELANGGARAN HAM DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

FUNGSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) DALAM KASUS PELANGGARAN HAM DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fungsi LPSK yang tersebar dalam Undang-Undang No. 13 Tahoo 2006, yaitu, menerima permohonan saksi dan korban untuk perlindungan (pasal 29), memberikan keputusan pemberian perlindungan saksi dan korban (pasal 29), memberikan perlindungan saksi dan korban ( pasal I), mengajukan ke pengadilan (berdasarkan keinginan korban) berupa hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat dan hak atas restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana (pasal 7), menerima permintaan tertulis dari korban atau pun orang yang mewakili korban untuk bantuan (pasal 33 dan 34). . Bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh LPSK yang tertuang pada Undang- Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban adalah menerima permohonan saksi dan korban untuk perlindungan (pasal 29).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pengungkap Fakta (Whistle Blower) Dalam Perkara Pidana Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pengungkap Fakta (Whistle Blower) Dalam Perkara Pidana Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Hukum dalam tujuannya meliputi 4 (empat) nilai yakni, kepastian, kegunaan, kebahagiaan dan keadilan, perlindungan hukum bagi saksi atau dengan kata lain dasar atau konsep menjadi pembenar saksi perlu dilindungi, bepijak pada upaya mencari kebenaran materil dan perlindungan hak asasi manusia. Proses pembuktian kejahatan (tindak pidana) oleh aparat penegak hukum wajib dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku, artinya pembuktian kesalahan/kejahatan yang dilakukan seorang pelaku kejahatan dengan berdasarkan alat bukti. Terbukti tidaknya seorang pelaku yang diduga melakukan tindak pidana adalah hasil pengelutan atau pertarungan kekuatan alat bukti semata-mata, jadi bukan berdasarkan opini atau asumsi.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

ANALISIS TERHADAP HAK SAKSI DAN KORBAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

ANALISIS TERHADAP HAK SAKSI DAN KORBAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Perlindungan Saksi dan Korban yaitu menyangkut faktor hukum yaitu undang- undangnya sendiri hal ini berhubungan dengan UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban mengenai hal sifat dari LPSK yang secara tersirat menyatakan bahwa LPSK adalah lembaga yang bersifat pasif yang terdapat dalam Pasal 29 ayat (1). Faktor penegak hukumnya sendiri hal ini berkaitan dengan aparat penegak hukum baik itu polisi, jaksa, ataupun hakim yang masih sering mengabaikan hak – hak dari saksi dan korban. Faktor masyarakat berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat yang belum memahami betapa pentingnya perlindungan bagi saksi dan korban yang terakhir adalah faktor sarana dan fasilitas yang tidak memadai yang berkaitan dengan keberadaan LPSK yang hanya ada di Jakarta saja serta tidak terlaksananya dengan baik penggantian biaya transportasi bagi saksi dan korban dikarenakan belum teralisasinya dana dari pemerintah dikarenakan belum adanya undangundang yang mengatur tentang hal tersebut.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Sebuah Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban yang berlaku efektif, yang dibentuk atas dasar upaya tulus untuk mengatasi permasalahan seperti pelanggaran HAM, adalah satu bagian integral dalam rangka menjaga berfungsinya sistem peradilan pidana terpadu. Setelah melewati proses negosisasi bertahun-tahun, akhirnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (selanjutnya disebut Menurut Pasal 1 butir ke 26 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP) yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan saksi pelapor merupakan elemen penting dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, umumnya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesempatan, kewenangan ataupun sarana yang dimungkinkan oleh jabatan yang diperolehnya. Dengan demikian pada sebagian Sebagaimana dapat dilihat dalam kisah tentang seorang yang bernama Endin melaporkan perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh beberapa orang hakim. Kemudian, hakim tersebut melakukan ”serangan balik” dengan mengadukan Endin telah melakukan tindak pidana pencemaran nama baik. Sang hakim bebas dari hukuman, sementara sang pelapor dihukum pengadilan karena terbukti melakukan tindak pidana yang dituduhkan. Demikianlah kisah tragis sang pelapor yang memberikan pesan negatif bagi penegakan hukum di Indonesia. Tidak banyak orang yang bersedia mengambil risiko untuk melaporkan suatu tindak pidana jika dirinya, keluarganya dan harta bendanya tidak mendapat perlindungan dari ancaman yang mungkin timbul karena laporan yang dilakukannya. Begitu juga dengan saksi, jika tidak mendapat perlindungan yang memadai, akan enggan memberikan keterangan sesuai dengan fakta yang dialami, dilihat dan dirasakannya sendiri.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI TINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 JO UU RI NO. 31 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI TINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 JO UU RI NO. 31 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Syukur Alhamdullilah kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis berjudul “Perlindungan hukum bagi saksi dalam perkara pidana ditinjau dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban”.

18 Baca lebih lajut

ANALISIS TERHADAP HAK SAKSI DAN KORBAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

ANALISIS TERHADAP HAK SAKSI DAN KORBAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh penulis serta berdasarkan hasil dari wawancara dari para responden, maka dapat dikatakan bahwa pelaksanaan hak – hak saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana belum sepenuhnya terlaksana oleh aparat penegak hukum baik itu dari pihak Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sendiri. Adapun hak yang belum bisa terlaksanakan dengan baik adalah hak saksi ataupun korban untuk mendapatkan biaya penggantian transportasi hal ini terjadi karena belum adanya undangundang yang mengatur mengenai hal tersebut sehingga menghambat penggantian biaya transportasi tersebut. Adapun fakor – faktor yang menghambat pelaksanaan hak – hak saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana yaitu faktor dari UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban itu sendiri dimana dalam undangundang tersebut terdapat tata cara atau prosedur bagi seorang saksi ataupun korban yang ingin dilindungi oleh LPSK sangat rumit dan harus melewati prosedur yang sangat panjang, selain itu faktor lain yang menghambat adalah aparat penegak hukumnya sendiri yang sering tidak memperdulikan hak – hak saksi dan korban, selain itu tingkat pengetahuan saksi dan korban mengenai hukum masih sangat kurang lalu faktor anggaran dari pemerintah yang tidak memberikan alokasi dana yang cukup untuk pelaksanaan pemberian hak – hak bagi saksi dan korban dan juga mengenai LPSK sendiri yang hanya ada di Ibu Kota Negara sehingga membuat masyarakat juga banyak yang tidak mengetahui bahwa telah ada lembaga yang bertanggungjawab dalam pemberian hak – hak saksi dan korban hal ini juga masih kurangnya sosialisasi dari pihak penegak hukum khususnya dari LPSK nya sendiri kepada masyarakat khususnya yang berada di luar Jakarta.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) asas perlindungan hukum terhadap saksi pelapor tindak pidana korupsi dikaitkan dengan UU Perlindungan Saksi dan Korban adalah penghargaan atas harkat dan martabat manusia, yaitu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya di seluruh alam semesta, dimana Harkat dan Martabat Manusia (HMM) yang mengandung butir-butir bahwa manusia adalah makhluk yang terindah dalam bentuk dan pencitraannya; makhluk yang tertinggi derajatnya; makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa; khalifah dimuka bumi; dan pemilik Hak-hak Asasi Manusia (HAM). (2) Kebijakan pengaturan hukum mengenai perlindungan hukum terhadap saksi pelapor tindak pidana korupsi dikaitkan dengan UU Perlindungan Saksi dan Korban merupakan elemen penting dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, umumnya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesempatan, kewenangan ataupun sarana yang dimungkinkan oleh jabatan yang diperolehnya. (3) Pengaturan mengenai saksi pelapor dapat dilihat dalam Pasal 10 UU Perlindungan Saksi dan Korban. Hambatan yuridis dalam perlindungan hukum terhadap saksi pelapor tindak pidana korupsi dikaitkan dengan UU Perlindungan Saksi dan Korban adalah sebagai berikut: peraturan yang tidak memadai, pelapor hanya sebatas mendapatkan perlindungan secara hukum, saksi yang juga tersangka lain.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PENGUNGKAP FAKTA (WHISTLE BLOWER) DALAM PERKARA PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN | ISMAIL | Legal Opinion 5960 19841 1 PB

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PENGUNGKAP FAKTA (WHISTLE BLOWER) DALAM PERKARA PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN | ISMAIL | Legal Opinion 5960 19841 1 PB

Dasar pertimbangan perlunya Undang- Undang Nomor 13 tahun 2006 ini dapat diihat pada dasar menimbang dari Undang-Undang ini, yang antara lain menyebutkan: penegak hukum sering mengalami kesukaran dalam mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku karena tidak dapat menghadirkan saksi dan/atau korban disebabkan karena adanya ancaman, baik fisik maupun psikis dari pihak tertentu. Setiap orang yang mengancam baik fisik maupun psikis dapat dipidana sesuai dengan Pasal 37 sampai dengan Pasal 43 BAB V menganai Ketentuan Pidana.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kebijakan Legislatif Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Pelapor Tindak Pidana Dan Saksi Pelaku Yang Bekerjasama

Kebijakan Legislatif Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Pelapor Tindak Pidana Dan Saksi Pelaku Yang Bekerjasama

“Peran whistle blower di Indonesia perlu terus didorong, disosialisasikan, dan diterapkan, baik diperusahaan, lembaga pemerintah, dam isntitusi publik lain. Bagaimana peran whistle blower di Indonesia dibangun dan dikembangkan memang membutuhkan waktu dan sebuah proses. Namun praktik pelaporan dan perlindungan terhadap whistle blower bukan tanpa tantangan. Di tengah minimnya perlindungan hukum Indonesia, seorang whistle blower dapat terancam karena laporan atau kesaksiannya atas dugaan pelanggaran dan kejahatan yang terjadi. Pihak-pihak yang merasa dirugikan kemungkinan besar akan memberikan perlawanan untuk mencegah whistle blower memberikan laporan atau kesaksian. Bahkan tak menutup kemungkinan mereka yang merasa dirugikan dapat mengancam dan melakukan pembalasan dendam. Untuk itu, agar praktik pelaporan dan pengungkapan fakta oleh whistle blower dapat berjalan lebih efektif, dibutuhkan perubahan pengaturan di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Selain itu, SEMA Nomor 4 Tahun 2011 penting untuk diterapkan oleh semua hakim dalam memutus perkara dan se lalu dimonitor pelaksanaannya”.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP WHISTLE-BLOWER DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP WHISTLE-BLOWER DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Di sisi lain, Agus Condro Prayitno ini juga sebagai Whistle-Blower pada kasus korupsi tersebut, yakni Agus Condro Prayitno adalah seorang terdakwa sekaligus sebagai pelapor sehingga perkara korupsi penerimanTC BII oleh anggota komisi IX DPR-RI periode tahun 1999-2004 dapat terungkap, oleh karena itu, Majelis Hakim seharusnya mempertimbangkan posisi Agus Condro Prayitno sebagai orang yang berkontribusi dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus korupsi tersebut. Agus Condro Prayitno pun seharusnya mendapatkan hak-haknya sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Contoh kasus tersebut menunjukkan betapa pentingnya memahami dan melindungi Whistle-Blower dalam upaya pengungkapan skandal-skandal yang merugikan kepentingan publik. Persoalan mendasar di Indonesia adalah pemahaman sekaligus prosedur perlindungan terhadap Whistle-Blower yang sangat terbatas 15 .
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Studi Perbandingan Hukum Mengenai Perlindungan Saksi Berdasar Undang Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dengan Undcp Witness Protection Bill 2000

Studi Perbandingan Hukum Mengenai Perlindungan Saksi Berdasar Undang Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dengan Undcp Witness Protection Bill 2000

Berdasarkan pembahasan dihasilkan 2 (dua) simpulan, yaitu pertama Persamaan subyek yang dilindungi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 dan Witness Protection Bill 2000 sama-sama melindungi saksi sebagai subyek yang di lindungi oleh kedua undang-undang tersebut, persamaan hak saksi yang ada dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dengan Witness Protection Bill 2000, persamaan kewajiban saksi dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 kesamaan dalam hal program perlindungan saksi dengan Witness Protection Bill 2000 Pasal 11 ayat (1) Pasal 30 ayat (1). Adapun perbedaan kewajiban saksi dalam Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 30 ayat (2) poin 1-3 mengatur tentang kesediaan saksi atau korban untuk korban untuk memberikan kesaksian dalam proses peradilan namun dalam Witness Protection Bill 2000 Pasal 11 ayat (3)–(5) mengatur tentang tidak berlakunya bagi pengungkapan atau komunikasi. Kedua, Kelebihan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 lembaga yang bertanggungjawab menangani pemberian perlindungan terhadap saksi/korban, hak-hak yang dapat diberikan kepada Saksi/Korban, mekanisme pemberian perlindungan terhadap saksi/korban. Kelemahan UNDCP Model Witness Protection Bill 2000 hanya mengatur saksi sebagai obyek yang dilindungi sedangkan korban dan saksi pelapor tidak dilindungi. Kelemahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 antara lain definisi saksi kurang memadai dan masih dibebani oleh konsep KUHAP sehingga menutup kemungkinan perlindungan terhadap whistleblower.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

EKSISTENSI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

EKSISTENSI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

152 – 153) diperlukan suatu pendekatan pragmatis. Terkait dengan itu perlu mengabstraksi kenyataan dan bangunan model untuk mengatasi perilaku anti-sosial. Model dimaksud adalah model yang memiliki kegunaan sebagai indeks dari pilihan nilai masa kini tentang bagaimana suatu sistem diimplementasikan; model yang terbentuk dari usaha untuk membedakan secara tajam hukum dalam buku teks dan menjelaskan seakurat mungkin apa yang sedang terjadi dalam kehidupan nyata dari proses hukum pidana; dan model yang dapat digunakan untuk mengenali secara eksplisit pilihan nilai eksplisit atau implisit yang melandasi rincian suatu proses penegakan hukum pidana. Dikatakan lebih lanjut bahwa untuk itu model yang diperlukan adalah model atau model-model normatif (normative models). Ditegaskan pula bahwa dua model yang merupakan antinomi normatif dari jiwa hukum pidana (at the heart ofthe crimlnal law) tersebut adalah the due process model dan the crime control model.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...