Top PDF Permasalahan dalam Pelaksanaan Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang

Permasalahan dalam Pelaksanaan Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang

Permasalahan dalam Pelaksanaan Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang

e. sita eksekusi diatur dalam Pasal 197 ayat (1) HIR yang menyatakan, jika pada waktu yang telah ditentukan telah lewat, debitur belum juga memenuhi keputusan atau setelah dipanggil, debitur tidak dapat menghadap, atau setelah datang menghadap dan setelah ditegur tetap tidak memenuhi kewajibannya, maka Ketua Pengadilan Negeri memberi perintah dengan surat perintah agar barang bergerak milik debitur disita. Jika barang bergerak tidak ada atau tidak cukup maka barang tetap milik debitur juga dapat disita dan dilelang sehingga dirasa cukup untuk memenuhi hutangnya. Penyitaan eksekusi dilakukan oleh panitera atau yang ditunjuk dan dibantu oleh 2 (dua) orang saksi sebagaimana diatur dalam Pasal 197 ayat (2) dan (6) HIR dan menandatangani Berita Acara Sita eksekusi. Sita dan lelang eksekusi ini dilakukan oleh Panitera bersama Juru Sita dan dibantu oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Barang-barang tergugat atau debitur yang disita harus berdasarkan informasi yang diperoleh dari kreditur, barang mana sajakah yang bisa dieksekusi. Sita eksekusi ini tidak boleh dihalang-halangi oleh pihak ketiga, apabila dihalangi maka pihak tersebut harus mengajukan perlawanan sita. Sita eksekusi dilakukan sejumlah dengan hutangnya. Jika yang disita barang tidak bergerak misalnya
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang dalam Penyelesaian Sengketa Kredit Macet Perbankan - Ubaya Repository

Pelaksanaan Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang dalam Penyelesaian Sengketa Kredit Macet Perbankan - Ubaya Repository

Pada setiap pemberian kredit oleh bank pasti akan dihadapkan pada permasalahan resiko yaitu resiko kredit bermasalah. Dengan demikian, adanya kepastian hukum merupakan suatu kondisi yang mutlak diperlukan bagi bank sebagai pelepas uang (kreditur). Grosse akta pengakuan hutang merupakan salah satu produk hukum yang diharapkan dapat memberikan suatu kepastian hukum bagi pelaku perbankan. Kedudukan grosse akta itu sendiri sebagai alternatif penyelesaian perkara secara sederhana, cepat dan murah. Tetapi dalam praktek terjadi akta pengakuan hutang tidak efektif untuk menjamin penyelesaian sengketa hutang piutang tersebut. Kekuatan eksekutorialnya dapat hilang selain karena tidak terpenuhinya syarat-syarat formil dan materiil serta adanya pendapat yang berbeda antara pengadilan, praktisi hukum, notaris dan masyarakat sehingga pelaksanaan eksekusi berdasarkan grosse akta pengakuan hutang ini seringkali mengalami hambatan. Salah satu tujuan utama dari penulisan mengenai grosse akta pengakuan hutang ini adalah untuk mengkaji kembali tentang kedudukan, kegunaan dan kemanfaatan grosse akta pengakuan hutang itu sendiri baik bagi kreditor maupun bagi masyarakat serta pelaksanaan eksekusi dari grosse akta itu sendiri.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Eksekusi Benda Jaminan Grosse Akta Pengakuan Utang

Analisis Yuridis Terhadap Eksekusi Benda Jaminan Grosse Akta Pengakuan Utang

pokok beserta bunga dengan segala sesuatunya yang disepakati sepanjang masih sesuai dengan kebijakan berlaku merupakan satu kesatuan yang tidak terpecah-pecah dengan adanya suatu pembayaran (cicilan) setiap bulannya. Jumlah utang dengan segala sesuatunya plus pembayaran angsuran bulanan tidak membuat jumlah utang debitur tidak pasti sebagaimana alasan pengadilan menolak persetujuan pelaksanaan eksekusi obyek jaminan grosse akta pengakuan utang. Sehingga alasan pengadilan dalam pemberian persetujuan eksekusi sangat mengada-ada dan politis sifatnya. Dengan alasan jumlah utang debitur tidak pasti karena ada telah terjadi pembayaran angsuran tidak membuat jumlah utang debitur tidak pasti, sebab dalam hukum jaminan (baik hak tangungan, gadai, fidusia, dan hipotik) sifat utang tidak terbagi-bagi dengan pembayaran suatu angsuran.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI BENDA JAMINAN GROSSE AKTA PENGAKUAN UTANG OKTAVIANUS WIRO / D

ANALISIS YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI BENDA JAMINAN GROSSE AKTA PENGAKUAN UTANG OKTAVIANUS WIRO / D

Berdasarkan bunyi pasal tersebut praktisi perbankan menafsirkan bahwa pemegang akta pengakuan utang dapat melakukan parate eksekusi terhadap benda jaminan manakala debiturnya wanprestasi. Namun dilain pihak lembaga peradilan berpendapat lain, bahwa titel eksekutorial grosse akta pengakuan utang tidak dapat dilakukan parate eksekusi dengan berpedoman pada Pasal 1211 KUH Perdata. Titel eksekutorial grosse akta pengakuan utang dapat dilakukan dengan berpedoman pada pasal 224 HIR/285 Rbg. Campur tangan lembaga peradilan terhadap pelaksanaan eksekusi benda jaminan grosse akta pengakuan utang dapat dilihat dalam putusan Mahkamah Agung RI No.3210 K/Pdt/1984 tanggal 30 Januari 1986 dalam perkara PT. Golden City Textile Industri Ltd vs Kantor Lelang Bandung cs., yang telah membatalkan putusan PT. Bandung dengan alasan:
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tinjauan  Yuridis  Terhadap  Grosse  Akta  Pengakuan Hutang Dalam Perjanjian  Kredit Bank Syariah

Tinjauan Yuridis Terhadap Grosse Akta Pengakuan Hutang Dalam Perjanjian Kredit Bank Syariah

harus melaului Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Untuk penyelamatan pembiayaan bermasalah yang masih memiliki prospek usaha dilakukan melalui restrukturisasi dengan memperhatikan ketentuan yang telah digariskan oleh Bank Indonesia sebagai mana yang digariskan dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor : 31 /150/KEP/DIR Tanggal 12 November 1998 tentang Restrukturisasi. Pelaksanaan eksekusi berdasarkan grosse akta pengakuan hutang oleh kreditur masih sulit dilaksanakan. Hal ini karena tidak jelasnya bentuk daripada grosse akta pengakuan hutang tersebut dan kaburnya jumlah akhir hutang debitur. Grosse akta pengakuan hutang yang dibuat oleh notaris berdasarkan permintaan bank-bank pemberi kredit belum dapat memberikan perlindungan hukum kepada bank atas tindakan wanprestasi debitur, karena di dalam grosse akta pengakuan hutang tersebut masih terdapat klausula-klasula yang bersifat perjanjian yang menimbulkan akibat hukum berupa berubah statusnya menjadi suatu akta otentik perjanjian yang tidak mempunyai kekuatan eksekutorial, sehingga eksekusinya hanya dapat dilakukan melalui gugatan perdata biasa.
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

Keberadaan Grosse Akta Dalam Pembuktian Dan Eksekusi

Keberadaan Grosse Akta Dalam Pembuktian Dan Eksekusi

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kekuatan pembuktian dari grosse akta dan bagaimana kekuatan eksekusi dari grosse akta. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, maka dapat disimpulkan: 1. Grosse akta itu kendatipun sedikit berbeda dengan aslinya sebab pada aslinya maupun minutanya tiada dijumpai kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" yang terdapat pada grosse, itu mempunyai kekuatan pembuktian yang sama dengan akta aslinya.Karena grosse akta itu mempunyai kekuatan pembuktian yang sama dengan akta aslinya, maka grosse akta itu juga merupakan bukti sempurna bagi para pihak dalam akta itu dan para ahli warisnya dan sekalian orang yang mendapat hak dari padanya. 2. Grosse akta itu mempunyai kekuatan eksekutorial. Yang dimaksud dengan kekuatan eksekutorial di sini adalah yang dapat dilaksanakan eksekusinya (lelang) tanpa lebih dulu melalui proses pengadilan-dan kekuatan hukum sama seperti putusan hakim pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Menurut Pasal 224 HIR bahwa kekuatan eksekutorial dari grosse akta hanya berlaku/dapat dilaksanakan bagi akta grosse hipotek dan akta pengakuan utang. Dengan terdapatnya kekuatan eksekutorial dari grosse akta ini, jelas akan memberi manfaat bagi para pihak yang berperkara, karena dalam pelaksanaan cara eksekusi dirasakan sangatlah efisien sesuai dengan kemajuan jaman yang membutuhkan segala sesuatu berjalan cepat dan tepat dengan hasil yang baik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hambatan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Grose Akta Di Pengadilan Negeri Medan

Hambatan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Grose Akta Di Pengadilan Negeri Medan

Dalam praktek hukum di Indonesia sering terdapat kekeliruan pembuatan dokumen grosse akta yang disebabkan kekurang pahaman dalam memahami dan menerapkan pemisahan bentuk grosse akta yang dimaksudkan dalam Pasal 224 HIR, sehingga grosse akta yang diajukan ke pengadilan merupakan grosse akta yang tidak jelas bentuknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan mengenai bentuk grosse akta agar dapat dilaksanakan eksekusi oleh Pengadilan Negeri, prosedur/tata card pelaksanaan eksekusi terhadap grosse akta, serta faktor yang menjadi kendala/hambatan yang dihadapi Pengadilan Negeri Medan dalam pelaksanaan lelang eksekusi serta cara mengatasinya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PARATE EKSEKUSI GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG | Jamaluddin | AKTUALITA 2487 7449 1 PB

PARATE EKSEKUSI GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG | Jamaluddin | AKTUALITA 2487 7449 1 PB

Kehidupan manusia tidak terlepas dari hubungan-hubungan hukum yang mempunyai akibat hukum. Untuk merealisasikan akibat hukum yang diperjanjikan kadang harus dengan suatu paksaan yang lazim disebut dengan eksekusi. Membahas kata eksekusi itu sendiri, akan terlintas suatu pengertian dari pelaksanaan putusan suatu pengadilan yang telah berkekuatan hukun tetap (inkracht van gewijsde). Pada prinsipnya pelaksanaan putusan pengadilan demikian merupakan cara pelaksanaan dan/atau pengakhiran perkara. Sebab apabila eksekusi telah dilaksanakan maka segala macam proses perkara telah selesai. Tentu hal demikian yang diharapkan semua pihak bersengketa dan mempercayakan pengadilan yang akan mengakhiri. Maka akhir semua proses perkara pengadilan adalah dilaksanakannya apa yang disebut dengan eksekusi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

DILEMATIS EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN MELALUI PARATE EXECUTIE DAN EKSEKUSI MELALUI GROSSE AKTA

DILEMATIS EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN MELALUI PARATE EXECUTIE DAN EKSEKUSI MELALUI GROSSE AKTA

kebendaan untuk melunasi hak-hak piutangnya, sejumlah utang pokok dan bunga. Akan tetapi, kemudahan yang ditawarkan oleh Undang-Undang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Permasalahan yang sering terjadi di dalam masyarakat antara lain adanya kerancuan atau dilematis antara parate executie dan eksekusi berdasarkan grosse akta. Jelas ada kekacauan antara eksekusi berdasarkan parate executie dengan eksekusi melalui Grosse akta. Eksekusi berdasarkan Grosse Akta memang harus mendapat persetujuan dari ketua pengadilan negeri yang bersangkutan lebih dahulu. Suatu grosse akta mempunyai kekuatan seperti suatu putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka eksekusinya tunduk dan patuh sebagaimana pelaksanaan suatu putusan pengadilan, yang harus dilaksanakan atas perintah ketua pengadilan negeri. Namun, jika eksekusi berdasarkan parate executie juga harus melalui persetujuan pengadilan, maka apa bedanya dengan menjual berdasarkan grosse akta, dimana letak “parate”nya dari parate executie tersebut. Meskipun banyak pertentangan pendapat tentang pelaksanaan eksekusi melalui parate executie, di dalam praktek, kemudahan dan penyederhanaan eksekusi yang ditawarkan melalui parate executie tidak bisa diperoleh karena kantor lelang tidak bersedia melakukan penjualan jika tidak diperintahkan oleh Ketua Pengadilan Negeri. Hal ini didasarkan pada Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Januari 1986 dalam perkara 3210/Pdt/1984 yang menyatakan bahwa pelaksanaan lelang pada pasal 224 HIR atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Dilematis Eksekusi Hak Tanggungan melalui Parate Executie dan Eksekusi melalui Grosse Akta

Dilematis Eksekusi Hak Tanggungan melalui Parate Executie dan Eksekusi melalui Grosse Akta

kebendaan untuk melunasi hak-hak piutangnya, sejumlah utang pokok dan bunga. Akan tetapi, kemudahan yang ditawarkan oleh Undang-Undang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Permasalahan yang sering terjadi di dalam masyarakat antara lain adanya kerancuan atau dilematis antara parate executie dan eksekusi berdasarkan grosse akta. Jelas ada kekacauan antara eksekusi berdasarkan parate executie dengan eksekusi melalui Grosse akta. Eksekusi berdasarkan Grosse Akta memang harus mendapat persetujuan dari ketua pengadilan negeri yang bersangkutan lebih dahulu. Suatu grosse akta mempunyai kekuatan seperti suatu putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka eksekusinya tunduk dan patuh sebagaimana pelaksanaan suatu putusan pengadilan, yang harus dilaksanakan atas perintah ketua pengadilan negeri. Namun, jika eksekusi berdasarkan parate executie juga harus melalui persetujuan pengadilan, maka apa bedanya dengan menjual berdasarkan grosse akta, dimana letak “parate”nya dari parate executie tersebut. Meskipun banyak pertentangan pendapat tentang pelaksanaan eksekusi melalui parate executie, di dalam praktek, kemudahan dan penyederhanaan eksekusi yang ditawarkan melalui parate executie tidak bisa diperoleh karena kantor lelang tidak bersedia melakukan penjualan jika tidak diperintahkan oleh Ketua Pengadilan Negeri. Hal ini didasarkan pada Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Januari 1986 dalam perkara 3210/Pdt/1984 yang menyatakan bahwa pelaksanaan lelang pada pasal 224 HIR atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KUASA JUAL SEBAGAI JAMINAN EKSEKUSI TERHADAP AKTA PENGAKUAN HUTANG (Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor Register 318.K/Pdt/2009 Tanggal 23 Desember 2010.

KUASA JUAL SEBAGAI JAMINAN EKSEKUSI TERHADAP AKTA PENGAKUAN HUTANG (Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor Register 318.K/Pdt/2009 Tanggal 23 Desember 2010.

Penggugat I dan Penggugat II merasa keberatan dengan adanya proses jual beli yang dilakukan oleh Tergugat I yang didasarkan pada surat kuasa menjual sebagaimana tertuang dalam Akta Nomor 11 tanggal 4 September 2003, karena pelaksanaan jual beli sebagaimana tertuang dalam Akta Jual beli Nomor 614/Grogol/ 2005 tanggal 27 Desember 2005 yang dibuat oleh Pejabat Pembuata Akta Tanah (PPAT) DK, di Sukoharjo, adalah di lakukan oleh Tergugat I secara melawan hukum yaitu melanggar Pasal 11 Akta Pengakuan Hutang Nomor 10 tanggal 04 September 2003 yang disebut oleh S, Notaris di Surakarta, dimana dalam melakukan jual beli tersebut Tergugat I (Kreditur) sama sekali tidak pernah memberitahu Penggugat I (Debitur) dan tidak pernah melakukan perhitungan dengan Penggugat I sebagaimana dimaksud oleh bunyi Pasal 11 akta tersebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI BENDA JAMINAN GROSSE AKTA PENGAKUAN UTANG | WIRO | Legal Opinion 5969 19873 1 PB

ANALISIS YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI BENDA JAMINAN GROSSE AKTA PENGAKUAN UTANG | WIRO | Legal Opinion 5969 19873 1 PB

dan lain-lain yang menimbulkan kewajiban pada debitur untuk membayar sejumlah uang tertentu sehingga menurut ketua pengadilan yang menangani permohonan eksekusi tersebut, grosse akte tersebut tidak memenuhi syarat materiil untuk dikabulkan karena isinya bukan pengakuan utang murni/sepihak 21 . Berdasarkan pendapat diatas, ternyata alasan pengadilan menolak memberikan persetujuan pelaksanaan eksekusi, sebenarnya tidak rasional menurut hukum. Mengingat dalam perjanjian utang piutang dengan suatu jaminan tertentu sebenarnya mempunyai sifat hak kebendaan yang droit de prefence. Artinya jumlah utang pokok beserta bunga dengan segala sesuatunya yang disepakati sepanjang masih sesuai dengan kebijakan berlaku merupakan satu kesatuan yang tidak terpecah-pecah dengan adanya suatu pembayaran (cicilan) setiap bulannya. Jumlah utang dengan segala sesuatunya plus pembayaran angsuran bulanan tidak membuat jumlah utang debitur tidak pasti sebagaimana alasan pengadilan menolak persetujuan pelaksanaan eksekusi obyek jaminan grosse akta pengakuan utang. Sehingga alasan pengadilan dalam pemberian persetujuan eksekusi sangat mengada-ada dan politis sifatnya. Dengan alasan jumlah utang debitur tidak pasti karena ada telah terjadi pembayaran angsuran tidak membuat jumlah utang debitur tidak pasti, sebab dalam hukum jaminan (baik hak tangungan, gadai, fidusia, dan hipotik) sifat utang tidak terbagi-bagi dengan pembayaran suatu angsuran.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Model Grosse Akta Pengakuan Hutang Dalam Perspektif Perlindungan Kreditur(Studi Kasus Pada Lembaga Keuangan Bumn / Bumd Di Kabupaten Klaten).

PENDAHULUAN Model Grosse Akta Pengakuan Hutang Dalam Perspektif Perlindungan Kreditur(Studi Kasus Pada Lembaga Keuangan Bumn / Bumd Di Kabupaten Klaten).

3. Penelitian yang dilakukan oleh Fenny Anggraeni dengan judul “Pelaksanaan Grosse Akta Pengakuan Hutang dalam Praktek Perbankan di Kota Semarang”, dalam penelitian itu dikaji tentang berhasil tidaknya eksekusi grosse akta pengakuan hutang yang jumlah hutangnya belum dapat dipastikan, pencantuman syarat bunga, denda, dan jangka waktu dalam grosse akta pengakuan hutang.

0 Baca lebih lajut

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN

Suatu grosse dari pada akta hipotek dan surat hutang yang diperbuat dihadapan Notaris di Indonesia dan yang kepalaya memakai perkataan “Atas Nama Seri Baginda Raja” berkekuatan sama dengan putusan hakim. Jika surat yang demikian itu tidak ditepati dengan jalan damai, maka perihal menjalankannya dilakukan dengan perintah dan pimpinan Ketua Pengadilan Negeri yang dalam pegangannya orang yang berhutang itu diam atau tinggal atau memilih kedudukannya yaitu secara yang dinyatakan pada pasal-pasal di atas dalam bagian ini, akan tetapi dengan pengertian bahwa paksa badan itu hanya boleh dilakukan jika sudah diizinkan dengan putusan hakim. Jika hal melakukan putusan hakim itu harus dijalankan sama sekali atau sebagaiannya di luar daerah hukum Pengadilan Negeri, yang ketuanya menyuruh melakukan itu maka diturutilah peraturan pada Pasal 195 ayat kedua dan yang berikutnya.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN.

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN.

menyelesaikan masalah tersebut dilakukan melalui proses pengadilan akan tetapi dalam proses penjualan sering menghadapi kesulitan, sebab biasanya suatu perkara yang diajukan ke pengadilan memerlukan waktu yang cukup lama serta berbelit-belit, tidak jarang pula suatu perkara diputus dalam waktu beberapa tahun lamanya, hal ini dikarenakan selain masih banyaknya perkara- perkara yang harus ditangani oleh pihak pengadilan dan belum lagi kalau suatu perkara itu sudah diputus, maka pihak yang kalah merasakan putusan itu tidak adil, sehingga pihak yang kalah itu berusaha untuk membela kepentingannya dengan meminta banding sedangkan di pihak yang menang menginginkan pelaksanaan sepenuhnya dari isi putusan yang telah dijatuhkan oleh pengadilan tersebut. Proses pengadilan yang demikian itu sangat merugikan bagi pihk yang berhak atas keputusan yang benar tersebut. Kadangkala juga terjadi suatu perkara yang nyata-nyata benar dan telah diputus oleh pengadilan, kemudian putusan itu bisa berbalik pada tingkat banding, perkara tersebut dimenangakan oleh pihak yang kalah tadi, sehingga hal demikian itu akan menimbulkan keraguan-keraguan bagi para pencari keadilan atas keputusan yang telah dijatuhkan, hal ini akan dapat mengakibatkan kurangnya kepercayaan masyarakat akan hukum oleh karena tidak terdapat kepastian dalam hukum.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN.

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN.

Grosse akta pengakuan hutang yang dibuat oleh notaris berkepala “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAAN YANG MAHA ESA” dan pada akhir katanya ditulis “DI BERIKAN SEBAGAI GROSSE PERTAMA ATAS PERMINTAAN TUAN ATAU NYONYA .....” mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan keputusan pengadilan. Grosse akta pengakuan hutang harus memenuhi salah satu syarat yaitu bahwa hutangnya debitur jumlah nominalnya harus pasti sebagaimana disebutkan dalam keputusan Mahkamah Agung Nomor 1310/K/Pdt./1985 tertanggal 30 Juli 1985. Dalam akta pengakuan hutang yang dibuat oleh notaris yang jumlah nominal utangnya tidak pasti, apabila debitur tidak memenuhi prestasinya atau telah terjadi wanprestasi dan pihak kreditur mengajukan permohonan penetapan untuk mengeksekusi barang-barang jaminan milik debitur, tidak akan diterima oleh pengadilan dengan alasan bahwa dalam utang piutang yang dimohonkan penetapan kepada ketua pengadilan negeri untuk eksekusi barang-barang jaminan jumlah nominal utangnya tidak pasti atau tidak ada kepastian, sehingga akan menimbulkan ketidakpastian hukum.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN

PERANAN GROSSE AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM EKSEKUSI JAMINAN KREDIT HARTA KEKAYAAN

Suatu grosse dari pada akta hipotek dan surat hutang yang diperbuat dihadapan Notaris di Indonesia dan yang kepalaya memakai perkataan “Atas Nama Seri Baginda Raja” berkekuatan sama dengan putusan hakim. Jika surat yang demikian itu tidak ditepati dengan jalan damai, maka perihal menjalankannya dilakukan dengan perintah dan pimpinan Ketua Pengadilan Negeri yang dalam pegangannya orang yang berhutang itu diam atau tinggal atau memilih kedudukannya yaitu secara yang dinyatakan pada pasal-pasal di atas dalam bagian ini, akan tetapi dengan pengertian bahwa paksa badan itu hanya boleh dilakukan jika sudah diizinkan dengan putusan hakim. Jika hal melakukan putusan hakim itu harus dijalankan sama sekali atau sebagaiannya di luar daerah hukum Pengadilan Negeri, yang ketuanya menyuruh melakukan itu maka diturutilah peraturan pada Pasal 195 ayat kedua dan yang berikutnya.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Kuasa Jual sebagai Jaminan Eksekusi terhadap Akta Pengakuan Hutang (Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor Register 318.k/pdt/2009 Tanggal 23 Desember 2010)

Kuasa Jual sebagai Jaminan Eksekusi terhadap Akta Pengakuan Hutang (Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor Register 318.k/pdt/2009 Tanggal 23 Desember 2010)

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Eksekusi benda jaminan melalui akta Kuasa Jual terhadap akta Pengakuan Hutang dalam putusan Mahkamah Agung tersebut tetap dapat dilaksanakan, sehingga gugatan debitur dan penjamin (pemberi kuasa) ditolak, karena gugatannya tidak jelas (obscuur liebel). Penjamin selaku pemberi kuasa dan Debitur tidak mendapatkan perlindungan hukum dari Putusan Mahkamah Agung tersebut karena hakim tidak dibenarkan memutus perkara melebihi atau yang tidak diminta oleh penggugat. Sedangkan dalam perkara tersebut penggugat tidak meminta pembatalan jual beli / Peralihan hak. Debitur dan penjamin tidak mendapat perlindungan hukum sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 4 tahun 1996 pasal 6 dan 20 tentang hak tanggungan karena Notaris tidak memberikan nasehat hukum yang benar. Berdasarkan Putusan Mahkamah tersebut diharapkan agar hakim dalam memutus perkara tidak sebatas sebagai corong undang undang yang berlaku akan tetapi harus mengikuti dan memahami nilai nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects